Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
68


__ADS_3

. "Siapa yang mengajarimu seperti itu? Jangan bodoh. Kau ini banyak tugas. Dan tubuhmu juga harus banyak istirahat. Aku ada Ray dan kakakmu yang menemani. Dan kadang anak-anak tiriku juga selalu menemuiku kesini." Ucap Alvi menepuk gemas dahi Avril. Avril menyernyit mencoba mencerna kata-kata Alvi.


"Anak tiri? Kau menikah? Dengan siapa? Kau bilang tak akan--"


"Sutttt suttttt kau ini selalu berisik." Alvi membekap mulut Avril agar terdiam.


"Aku punya banyak anak tiri. Dan sekarang anak-anak itu sudah keluar dari ruangan ini. Yang tersisa diruanganku hanya ibunya saja." Lanjut Alvi dengan datar dan kemudian mendelik ketika Avril tersenyum.


"Yaa mau bagaimana lagi. Mereka ditinggalkan oleh ayahnya, dan apalah dayaku harus mengurus mereka sendirian. Jadi aku harap kau bisa memaklumi kenakalan anak-anak ku." Avril menahan tawa mengikuti candaan Alvi.


"Hemmm kau benar. Pantas saja ibunya jadi kecil seperti ini."


"Hei... itu pembullyan. Memang kau pikir anak-anak ku setuju jika mereka punya ayah tiri yang jelek sepertimu?"


"Ohhhh jadi mereka tak merestuimu? Sungguh kasihan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kau akan bertahan hidup tanpa aku."


"Iya dan seharusnya aku dari sekarang mencari ayah tiri lagi untuk anak-anak nakalku."


"Apa? Kau mau berpaling dariku?" Teriak Alvi beranjak dari tidurnya. Avril tak kuasa menahan tawa melihat kemarahan Alvi yang tiba-tiba.


"Iya. Aku tak mau anak-anakku memiliki ayah tiri yang kasar sepertimu." Avril bersandar pada kursi dengan memangku tangan seraya memberikan tatapan menantang pada Alvi.


"Sudah Avril. Aku tak ingin becanda lagi. Kau selalu membuatku takut jika sudah membicarakan pergi atau mencari yang lain."


"Sesuai ucapanmu. Ini hanya becanda kan?"


"Tetap saja aku takut Avril. Isshh.. mengapa kau tak mengerti. Perasaanku tak pernah becanda padamu." Alvi mengacak rambutnya dengan kesal.


Avril tertawa kecil kemudian beranjak dari duduknya.


"Kau mau pergi?" Alvi menarik tangan Avril yang hendak melangkah.


"Aih... bukankah kau yang menyuruhku pulang?"


"Iya.. tapi...."


"Apa lagi?" Tanya Avril menghela nafas kesal. Alvi dengan polos menunjuk pipinya dan memberi kode.


"Mau di tampar?" Tanya Avril lagi.


"Ishhh kejam kau Avril. Cium." Cetusnya membuat Avril menggeleng kesal. Avril menepuk pipi yang di tunjuk Alvi.


"Cepat sembuh pak presdir." Ucap Avril melemparkan senyuman sebelum berlalu meninggalkan Alvi.


"Mama lihat? Avril sangat manis kan? Andai mama disini sekarang. Pasti Alvi akan bangga memperkenalkan Avril pada mama." Gumam Alvi yang ikut tersenyum menatap kepergian Avril.


. Sore hari, Avril memeluk erat Demira. Rasanya berat kembali menyaksikan Demira akan pergi jauh.


"Setelah lulus, aku akan menetap di Indo." Ucap Demira membuat Avril tersenyum bahagia.


"Benarkah?" Demira mengangguk senang menanggapi pertanyaan Avril.


"Aku akan merindukanmu Dem." Ucap Aldi menepuk dahi Demira.


"Aku juga Di... aku akan saaaangaat merindukanmu."


"Wahhh bahaya. Kata rindunya pakai perasaan." Sindir Bagas melirik sinis pada Demira.


"Ohh jelas pakai perasaan. Karena tanganku ini akan panas jika aku tak menampar Aldi." Ucap Demira dengan seringai liciknya.


"Wahhh salah apa aku Dem? Kau masih saja menyimpan dendam padaku." Aldi bergeser menjauh dari Demira.


"Hahaha aku memang dendam padamu Aldi. Tunggu saja saat aku pulang lagi nanti."


"Mau apa kau?"


"Kejutan.... kau tunggu saja."


"Ohh semoga saja setelah lulus aku tak di kota ini." Aldi berdoa menatap keatas dan mengangkat tangannya.


"Memang kau mau kemana?" Tanya Reno yang penasaran.


"Ya... kemana saja. Siapa tahu aku dan Syifa pindah dari kota ini setelah menikah." Jawab Aldi tanpa berpikir kembali. Avril tersenyum meski hatinya kini terasa berdenyut dan tersayat.


"Bahkan kau sudah punya rencana." Gumam Avril menunduk kemudian memalingkan wajahnya.


"Kak Dami..." panggil Avril. Damian menoleh dan melemparkan senyuman pada Avril.


"Aku titip Alvi. Jangan beri dia harapan jika kau tengah mencintai orang lain, lebih baik katakan dari sekarang. Jangan mengundang rasa penyesalan. Menyesal itu sakit dik." Damian menepuk kepala Avril dengan terus melemparkan senyumnya.


Avril menunduk mengerti dengan apa yang Damian katakan. Namun meskipun Avril masih menyimpan rasa untuk Aldi, kini Avril harus menghapus perasaannya pada Aldi. Mengingat dirinya sudah memiliki Alvi, dan Aldi pun sudah terang-terangan mencintai Syifa. Entah itu memang benar, atau karena Aldi melihat Avril kini bahagia dengan Alvi. Karena menghapus rasa yang tersimpan selama 5 tahun itu tak akan mudah hilang hanya dalam waktu satu tahun. Sewaktu-waktu rasa itu akan kembali muncul jika keduanya terus saling bertemu.

__ADS_1


"Aku titip Avil... jangan biarkan dia bersedih." Ucap Demira menatap harap pada Baren dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau sendiri menangis." Reno menepuk pelan pipi Demira. Pada akhirnya, perpisahan tetaplah perpisahan.


Damian dan Demira melangkah semakin menjauh dari Avril, Aldi dan Baren.


. Hari kembali berganti, Alvi sudah bosan setiap harinya ia habiskan untuk berdiam diri dikamar itu. Sampai akhirnya, setelah hampir 3 minggu berlalu, Noah melepas infusan yang terpasang di tangan Alvi.


"Akhirnya...." ucap Alvi tersenyum lega.


"Akhirnya apa?" Tanya Noah yang merasa heran.


"Akhirnya aku bisa berpacaran lagi dengan Avril hahaha.." Noah menatap konyol wajah Alvi yang terlihat begitu senang.


"Iya. Dan aku pastikan belum sehari penuh kau keluar dari sini, kau akan kembali lagi kesini. Hahahhaha" kali ini giliran Noah yang tertawa puas.


"Ehemmm... maaf dokter. Ini rumah sakit." Tegur Ray tersenyum sopan.


"Berhenti tersenyum Ray. Aku tak akan jatuh cinta padamu." Delik Noah membuat Ray menarik senyumnya.


"Maaf dokter. Saya sudah lama bertunangan." Jawab Ray kembali melemparkan senyuman.


"Aku juga sudah Ray." Timpal Alvi dengan wajah sombongnya.


"Cih.... untuk apa lama bertunangan tapi tak kunjung menikahi?" Cetus Noah merasa puas.


"Dari pada kau... tidak bertunangan, menikahi pun tak tahu kapan."


"Wah Alvi... hati-hati jika bicara. Meskipun kau sudah melamar Avril dan menjalin ikatan pertunangan, siapa yang tahu siapa jodoh Avril yang sebenarnya kan?"


"Apa maksudmu?"


"Yaa mungkin kau sendiri juga sudah tahu maksudku... bisa saja sekarang kau tunangan Avril, tapi nanti malah Reno, Bagas, atau bahkan Aldi yang menjadi suaminya." Noah tersenyum penuh kemenangan. Namun tak disangka, Alvi mencengkram kerah kemeja Noah dengan wajah penuh amarah.


"Katakan apa maksudmu sialan."


"Tuan tenang..." Ray mencoba melerai keduanya.


"Aku bisa memisahkanmu dengan Demira jika aku mau." Ucap Alvi setelah melepaskan cengkramannya dan sedikit mendorong Noah.


"Maaf Alvi." Ucap Noah dengan wajah tanpa merasa bersalah.


"Tuan... tuan harus beristirahat dulu..." Ray tanpa henti menasehati Alvi sambil terus mengikuti langkahnya.


Noah menatap nanar kepergian Alvi dan masih berdiri ditempatnya.


. Alvi menatap tajam pada jalanan didepannya dan masih mengabaikan ocehan Ray yang menasehatinya. Ray melarangnya pergi ke perusahaan tapi masih saja mengantarkannya.


"Kau ini aneh Ray. Kau melarang ku, tapi kau juga yang mengantarku."


"Jadi tuan akan pulang ke rumah?" Tanya Ray antusias.


"Tidak. Aku ingin melihat kondisi perusahaan." Jawab Alvi tak kalah santai.


"Tuan....."


"Apa lagi Ray? Jangan membujukku. Lagi pula sejak kapan kau berani menentang keputusanku?"


"Ma-maafkan saya tuan. Saya hanya khawatir pada tuan saja." Ray semakin lekat menatap kedepan dengan masih fokus mengemudi.


"Hemmm kudengar kau sempat menangis saat aku tak sadarkan diri waktu itu?" Goda Alvi tersenyum mengejek.


"Tu-tuan tahu dari mana?" Terlihat wajah Ray yang mendadak terkejut.


"Dari Nadia. Dia melihatmu menatap dari balik kaca dengan air mata yang terjatuh begitu saja." Mendengar kenyataan itu, Ray tersenyum tanpa menoleh pada Alvi.


"Saya terlalu takut kehilangan tuan. Sampai saya tak sadar menjatuhkan air mata saya."


"Tak apa Ray. Jika ingin menangis, menangis saja. Jangan karena kita laki-laki, kita menahan diri agar tak menangis. Justru itu lebih menyesakkan. Bahkan lukanya akan terasa lebih menyakitkan. Aku tahu. Kau ketakutan karena kau tak tahu siapa yang akan menjadi tempatmu untuk pulang kan?" Ray semula terdiam, lalu mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Alvi.


"Saat ini, hanya tuan tempat saya pulang. Rasanya untuk kembali ke kampung halaman, hanya akan membuat saya semakin tertekan dan terus menyalahkan diri sendiri. Ditambah saudara-saudara saya akan ikut menyalahkan saya." Ucap Ray semakin sayu.


"Aku juga berterima kasih padamu Ray. Kau sudah mau menemaniku, dan menjadi pengganti keluargaku. Mungkin aku tanpamu juga tak akan seperti ini Ray. Aku tak akan menjadi presdir yang bijak. Mungkin jika bukan kau yang mendampingiku, aku bisa saja menjadi pemimpin yang arogan dan emosional."


"Tuan terlalu memuji saya. Kita sama-sama kesepian tuan.... jadi kita saling melengkapi ruang yang kosong." Ray melemparkan senyuman dengan sesekali menoleh pada Alvi. Alvi selalu duduk di samping kemudi, karena tak seperti orang lain, Alvi tak menganggap Ray sebagai asisten ataupun sekertarisnya. Alvi menganggap Ray sebagai seorang kakak yang selalu menemani adiknya.


"Aku masih normal Ray. Apa jadinya jika Avril tahu kau bicara seperti ini? Pasti Avril berpikir aku selingkuh denganmu." Cetus Alvi dengan ekspresi datar.


"Ehh... saya juga normal tuan.. jika saya normal, mungkin saya tak akan menyukai Tania."


"Bisa jadi yang kau sukai itu Bagas kan?"

__ADS_1


"Tuan.... itu terlalu kejam."


"Ahahaha becanda Ray... upss maksudku kakak." Ray mematung mendengar sebutan itu. Ray melirik sayu pada Alvi kemudian tersenyum tipis. Apakah pantas dirinya menjadi kakak bagi orang sehebat Alvi? Begitu pikir Ray.


"Saya rasa itu terlalu berlebihan tuan. Saya tak pantas menjadi kakak untuk tuan. Saya sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan tuan."


"Ahaha jangan merendah Ray. Sudah kubilang. Justru aku yang tak ada apa-apanya jika tanpamu. Kau sudah membantuku Ray. Maaf aku belum bisa memberimu sesuatu yang berharga."


"Tuan jangan berbicara seperti itu. Saya sangat berterima kasih pada tuan atas segala yang tuan berikan. Itu sudah lebih dari berharga. Sejujurnya saya tak pantas menerima semua itu tuan."


"Tak apa Ray. Aku percaya padamu. Sikap rendah hatimu itulah yang membuatku tertarik padamu." Alvi menepuk-nepuk pundak Ray dengan tawa kecil mengiringinya.


"Saya sudah punya Tania tuan." Cetus Ray membuat Alvi memukulnya lebih keras.


"Kau pikir aku menyukaimu dalam tanda kutip Ray?" Tanya Alvi merubah dirinya menjadi mode dingin.


"Maaf tuan saya hanya becanda. Mohon tuan jangan ambil hati."


"Kau bisa becanda juga? Kupikir kau hanya bisa berdiri tegap, menunduk sopan, dan tersenyum kaku saja Ray." Ejek Alvi kembali tertawa.


"Sudah pulang?" Terlihat sebuah pesan tertera dilayar ponsel Alvi dari seseorang yang istimewa.


"Sudah" ~Alvi


"Baguslah.


Langsung istirahat.


Jangan berpergian.


Jaga kesehatanmu."~Avril


"Wahhhh dia bawel lagi." Cetus Alvi.


"Iya sayang. Aku hanya ke perusahaan sebentar. Rindu pak Yusuf." ~Alvi.


"Tuh kan.... mengapa kau keras kepala? Harusnya jangan dulu kemana-mana. Lukamu sangat parah." ~Avril.


Alvi tertawa membayangkan kekesalan Avril yang biasanya selalu menggembungkan pipinya.


"Kau pasti menggembungkan pipimu." ~Alvi


"Memang" ~Avril.


"Isshhh aku ingin menciummu." ~Alvi


"Isshhh aku juga ingin menamparmu." ~Avril


"Silahkan saja jika kau tega." ~Alvi


"Meninggalkanmu saja aku tega." ~Avril


"Ya sudah. Pergilah! Aku tak akan menghalangimu." ~Alvi


"Ahaha becanda." ~Avril.


Namun tak kunjung ada balasan dari Alvi membuat Avril gelisah. Apa bercandanya berlebihan? Avril kembali mengirim pesan namun Alvi sengaja tak membalas dengan niat menjahili Avril. Sekaligus Alvi ingin tahu bagaimana Avril jika dirinya marah. Alvi berpikir bahwa Avril akan ikut marah jika didiamkan olehnya, jadi Alvi dengan santai memejamkan matanya dan menyimpan ponselnya. Selang beberapa waktu berlalu, suara ponsel Alvi terus mengganggu telinganya. Karena kesal, Alvi meraih lalu melihat apa yang ada diponselnya itu. Seketika tersirat raut wajah Alvi berubah. Senyumnya mengembang ketika melihat puluhan pesan dari Avril. Dari menyebut namanya, Alvi tersenyum senang. Sampai Alvi menyernyitkan dahinya lalu tertawa melihat pesannya yang memanggilnya "sayang", "pak suami", "suami orang". Kemudian Alvi semakin menyernyit heran melihat panggilannya semakin aneh. Dari "pak beruang kutub", "penguin tampan", sampai "mas jodoh". Alvi tertawa terbahak-bahak betapa menggemaskannya Avril baginya. Namun Alvi masih enggan membalas pesan Avril. Sampai akhirnya, mobil terhenti di area parkir perusahaan D. Alvi turun dan disambut hangat oleh beberapa pimpinan yang sudah Ray atur untuk menjemput Alvi.


Langkah Alvi terhenti saat ponselnya berbunyi. Senyumnya kembali mengembang ketika nama Avril yang memanggilnya. Alvi kemudian memberikan ponselnya pada Ray yang terheran karenanya.


"Kenapa saya tuan?"


"Aku sedang menjahilinya." Alvi terus menyodorkan ponselnya pada Ray hingga Ray pun dengan terpaksa menuruti keinginan Alvi.


"Ha-hallo..."


"Alvi.... kenapa pesanku tidak dibalas?" Teriak Avril memekik telinga Ray hingga Ray menjauhkan ponselnya. Alvi terlihat tertawa puas melihat ekspresi Ray.


"I-ini saya nona. Ray."


"Kemana Alvi?"


"Tuan sedang...." Ray melirik Alvi dengan bingung harus menjawab apa. Alvi memberi kode bahwa dirinya tengah sibuk.


"Sedang sibuk nona." Lanjut Ray bersemangat.


"Sibuk atau lari dari tanggung jawab?" Ray terbelalak mendengar pertanyaan Avril. Apa maksudnya dengan tanggung jawab. Ray kembali menoleh pada Alvi yang tersenyum lebar kearahnya.


"Tidak mungkin" gumam Ray menerka-nerka.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2