Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
07


__ADS_3

. Alvi berhenti dan menoleh pada Nadia.


"Jangan karena kau temanku, kau bisa sesukamu masuk ke ruanganku." Ucap Alvi tegas menatap dingin pada Nadia.


Avril beranjak dari duduknya, dan meletakan novel di tempat semula. Avril melewati Alvi yang berdiri di dekat pintu. Lalu ikut menoleh pada Nadia.


"Ayo kak!" Ucap Avril tak kalah dingin.


"Baiklah. Kau sendiri juga sudah tahu bagaimana keadaannya sekarang." 'Deg' Alvi tersentak mendengar Nadia, namun masih terlihat tenang.


Nadia berjalan menyusul Avril yang sudah keluar lebih dulu. Nadia terhenti tepat diantara pintu. Menoleh kembali pada Alvi yang berdiri tanpa ekspresi apapun.


"Kupikir kau mencintai Avril, ternyata anggapanku salah. Dan kupikir kau akan senang jika Avril menemuimu. Avril itu sangat naif, dia tak bisa jujur pada dirinya sendiri. Dia mengkhawatirkanmu, tapi dia selalu terlihat seolah tak peduli. Harusnya kau juga tidak bersikap seperti ini." Ucap Nadia kemudian meninggalkan Alvi. Dan mendapati Avril yang berdiri didepan lift.


Alvi keluar, menoleh dan menatap ke arah lift yang sudah tertutup. Alvi bersandar dimeja Ray.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya Ray sopan.


"Tidak Ray. Aku tidak baik-baik saja." Jawab Alvi menghela nafas panjang. "Apa aku terlalu berlebihan? Apa Avril akan marah?" Lanjutnya dengan Datar.


"S-saya tidak tahu tuan. Karena nona Avril sangat sulit di tebak." Jawab Ray tersenyum. Alvi menghela nafas berat beberapa kali lalu berjalan meninggalkan meja Ray.


"Anda mau kemana tuan? 30 menit lagi ada meeting. Mohon anda jangan kabur lagi." Ray menyusul Alvi.


"Apa yang kau bicarakan Ray? Aku hanya ingin memastikan saja, tidak ada yang mengganggu Avril." Seketika tatapan Alvi begitu tajam. Membuat Ray menunduk.


"Ma-maafkan saya tuan." Ray mengikuti Alvi dari belakang.


. Avril berjalan berdampingan dengan Nadia keluar dari lift. Avril mengumpat memaki Alvi pelan namun masih terdengar oleh Nadia. Nadia hanya tersenyum melirik Avril sambil terus menyelaraskan langkahnya agar tetap disampingnya. Karena tak fokus, Nadia menabrak karyawan yang sedang bertugas.


"Ah... maaf" Nadia mengelus lengan perempuan yang terlihat lebih tua darinya. Perempuan itu hanya tersenyum paksa menanggapi Nadia.


Avril menarik tangan Nadia yang tetap meminta maaf walau tak ditanggapi baik oleh perempuan itu.


"Avril tunggu. Aku menabraknya,!" Ucap Nadia yang terus ditarik oleh Avril.


"Sudahlah kak. Kau terlalu baik, sudah jelas dia menatapmu seperti itu. Aku tidak suka orang yang tidak menghargai orang lain sepertinya." Ucap Avril mempercepat langkahnya.


"Avril!" Panggil seseorang yang membuat Avril berhenti dan menoleh pada sumber suara. Avril mengenali siapa yang menghampirinya.


"Kak Irfan?"


"Kau sedang apa disini?" Tanya Irfan heran.


"Aku ada urusan." Jawab Avril.


"Pada siapa?" Tanyanya lagi. "Apa kau sedang mencariku?" Lanjutnya membuat Avril menatap polos pada Irfan.


"Ahahah bukan." Ucap Avril memaksakan senyumnya.


. Disisi lain, Alvi sedang menatap dari jauh karyawannya yang sedang mengobrol dengan Avril.


"Akrab sekali." Ucap Alvi datar. "Apa Irfan mengenal Avril?" Tanya Alvi pada Ray.


"Bukan hanya mengenal tuan, Irfan adalah kakak kelas nona Avril saat SMA. Dan..."


"Dan dia menyukai Avril?" Alvi dengan cepat memotong ucapan Ray.


"Benar tuan." Jawab Ray.


"Kenapa banyak sekali yang menyukainya?" Alvi berdecih kesal.


"Tidak hanya wajahnya yang rupawan, nona Avril juga seorang gadis yang baik. Siapapun pasti menyukainya tuan." Jelas Ray.


"Kau bicara seperti itu, kau juga menyukai Avril?" Alvi melirik tajam pada Ray membuat Ray terkejut lalu menundukan pandangannya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.


"Ti-tidak tuan. Bu-bukankah tuan sudah tahu jika saya sudah bertunangan?" Ucap Ray terbata.


"Ahhh iya. Aku lupa." Alvi menghela nafas lega. Begitupun Ray, secara bersamaan menghela nafas panjang.


"Sedang apa kau? Cepat uruskan dia. Jangan sampai dia berani mengganggu Avril lagi." Ucap Alvi dengan wajah serius.


"Baik tuan.." Ray berjalan menghampiri Avril.


"Mengganggu bukan kata yang tepat tuan!" Gumam Ray tersenyum paksa.


"Avril. Apa nanti malam kau ada acara?" Tanya Irfan penuh harap.


"Ahh... aku...."


"Irfan. Bukankah pekerjaanmu hari ini sangat banyak? Jika tuan melihat, bukankah kau dalam masalah?" Tanya Ray tiba-tiba muncul.


Avril menghela nafas lega.


"Bagus Ray. Kau menyelamatkanku." Gumam Avril menatap Ray.


"Itu berlaku untukmu juga Ray. Aku hanya menyapa Avril saja." Ucap Irfan kesal.


"Iya. Tapi bukankah ada waktu khusus untuk mengobrol? Dan, bukankah kau ada meeting dengan tuan siang ini?" Tanya Ray menatap datar Irfan.


"Ah Avril. Maaf aku duluan." Ucap Irfan tersenyum sebelum berlalu meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri disana.


"Ray... terimakasih. Kau datang tepat waktu." Ucap Avril menghela nafas lega. "Aku semakin menyukaimu Ray." Seketika Ray terkejut dan ketakutan.


"N-nona jangan berbicara seperti itu. Jika tuan mendengar, maka tamat sudah riwayat saya." Avril menatap aneh pada sikap Ray. Terdiam sesaat sebelum benar-benar tertawa kecil.


"Ahahah Ray.... apa yang kau bicarakan? Alvi tidak mungkin membunuhmu karena alasan konyol seperti ini."


Alvi menatap tajam pada Ray.

__ADS_1


"Kubunuh kau Ray..." Gumam Alvi menahan kesal. Ray menyentuh punuknya.


"Rasanya tiba-tiba terasa panas." Gumam Ray.


"Baiklah nona, saya pamit kembali melanjutkan pekerjaan saya. Nona Avril dan nona Nadia berhati-hatilah di jalan." Ucap Ray sopan.


Avril dan Nadia melemparkan senyuman sebelum pergi meninggalkan Ray.


Ray kembali menghampiri tuannya.


"Sudah beres tuan.... ehhhh?" Ray terkejut melihat tuannya melotot tajam ke arahnya.


"T-tuan seperti ingin membunuh saya." Ucap Ray mundur beberapa langkah.


"Aku memang ingin membunuhmu Ray.... kau lagi-lagi mendapatkan senyuman dari Avril." Alvi mengepalkan tangannya.


"M-maafkan saya tuan. Bukankah tuan yang menyuruh saya? Jika tuan sendiri yang menghampiri nona Avril, maka tuanlah yang mendapatkan senyuman nona Avril." Ucap Ray menunduk.


"Kau menyalahkanku Ray?" Alvi menatap tajam pada Ray.


"Ti-tidak tuan...." Ray menghela nafas berat.


"Sebaiknya kita kembali tuan, sebentar lagi jadwal meeting anda." Lanjut Ray.


"Aku malas Ray..." rengek Alvi. "Kau saja yang gantikan." Lanjutnya menatap harap pada Ray.


"Tidak tuan...." Ray tersenyum.


"Kau selalu saja tersenyum." Alvi memalingkan pandangannya.


. Ditengah perjalanan, dering ponsel Avril berbunyi.


"Hallo Syifa. Ada apa?" Avril menjawab Telponnya.


"Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku ceritakan." Ucap Syifa dari sebrang.


"Emmmm baiklah. Tapi aku akan mengantarkan kakakku dulu. Setelah itu, aku akan menyusulmu." Ucap Avril.


"Baiklah. Aku tunggu di cafe biasa."


"Oke..." Avril meletakan kembali ponselnya setelah mendengar tanda panggilan sudah di akhiri.


"Avril. Sejujurnya aku merasa ada yang janggal ketika mendengar nama itu." Ucap Nadia menerawang kedepan.


"Hemmm? Apa?" Avril menoleh heran pada Nadia.


"Entahlah. Aku saja tidak tahu. Mungkin hanya perasaanku saja." Jawab Nadia tersenyum.


Avril hanya mengangguk pelan menanggapi Nadia.


. Setelah mengantar Nadia kembali ke perusahaan A, Avril segera menuju ke tempat Syifa.


"Jadi, apa yang ingin kau ceritakan?" Tanya Avril tanpa basa basi.


"Aku ingin membatalkan pertunanganku." Ucap Syifa memalingkan wajahnya.


"Apa? Kenapa?" Avril sedikit berteriak namun tak terlalu keras.


"Aku rasa, dia sangat mencintai kekasihnya. Dan begitupun kekasihnya. Mereka saling mencintai. Aku tak ingin menjadi penengah diantara mereka. Aku tidak ingin di sebut sebagai orang ketiga." Ucap Syifa yang tak bisa membendung air matanya.


"Dia punya kekasih?" Avril kembali terkejut. Syifa hanya mengangguk.


"Kau sudah bertemu dengannya?" Syifa menggeleng, membuat Avril menyernyitkan dahinya.


"Jadi, bagaimana kau tahu mereka masih saling mencintai?" Tanya Avril lebih lekat menatap Syifa.


"Aku tak sengaja melihatnya sedang berdua dengan kekasihnya." Jelas Syifa.


"Kapan?" Tanya Avril penasaran.


"Beberapa hari yang lalu." Syifa menghela nafas panjang.


"Setelah kupikir-pikir, mungkin sebaiknya aku membatalkan saja pertunanganku. Aku juga tak mau jadi penghalang kebahagiaannya." Ucap Syifa lemas.


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi.... apa tidak sebaiknya kau bertemu dengan kekasihnya, lalu berbicara baik-baik padanya, apakah dia masih mencintainya atau tidak." Ucap Avril sedikit berfikir.


"Tapi aku takut jika tunanganku akan marah padaku. Beberapa waktu lalu, aku sempat bicara ingin bertemu dengan kekasihnya, namun dia menolak." Jelas Syifa.


"Hemmmm semoga saja ada jalan untuk masalah ini." Syifa mengangguk menanggapi ucapan Avril.


*Malam hari.


. Avril sibuk dengan laptop di mejanya, begitupun Galih.


"Avril... apa kau baik-baik saja?" Tanya ayah tiba-tiba.


"Apa maksud ayah? Aku sangat baik-baik saja." Ucap Avril fokus pada laptopnya.


Dering ponsel Avril berbunyi. Diliriknya nama yang tertera di layar.


Galih dengan cepat mengambil dan menjawab telponnya membuat Avril menatap konyol pada Galih.


"Hallo... siapa?" Galih melirik pada Avril.


"Maaf salah sambung." Galih tiba-tiba mematikan panggilan telponnya.


Avril merebut ponselnya dari Galih. Kemudian, ponsel Avril kembali berdering. Avril mengangkat tanpa melihat namanya.


"Hallo Aldi. Maaf tadi kakakku yang menjawab." Ucap Avril.

__ADS_1


"Aldi?" Seketika Avril tersentak, jantungnya berdebar, rasa sesal menyelimuti pikirannya ketika melihat nama dilayar ponselnya.


"Al-Alvi?" Avril terlihat gugup.


"Iya Avril. Aku Alvi. Bukan Aldi." Ucap Alvi terdengar datar.


"Maaf Alvi. Ku kira bukan kau. Karena tadi..."


"Aldi menelponmu?" Alvi memotong pembicaraan.


"Iya" lirih Avril.


"Aku mengganggumu. Maaf Avril." Alvi memutus panggilan telponnya.


Avril lemas merasa bersalah pada Alvi.


"Kenapa? Salah orang?" Lirik Galih


"Ini salahmu yang seenaknya mengambil ponselku." Ucap Avril kesal.


"Kenapa kau sekesal itu?" Avril mendelik dan berlalu ke kamarnya.


Avril membaringkan tubuhnya, menatap atap dengan tatapan kosong. Memikirkan pertanyaan Galih, "kakak benar. Mengapa aku sekesal ini?" Gumamnya melirik ponsel disampingnya.


Avril menutup matanya, dan terlelap.


. Esok harinya, Avril kembali ke perusahaan D. Avril berhenti tepat disebrang pintu masuk mobil, melihat Alvi yang berjalan menuju pintu utama, digandeng seorang gadis disampingnya.


Avril melajukan kembali mobilnya dengan cepat.


"Aku tidak kesal. Aku tidak kesal. Wajar saja. Kak Amel adalah kekasihnya." Gumam Avril.


Kemudian Avril menepikan mobilnya di taman kota.


Avril duduk di tempat dimana biasanya dia berdiam.


"Aku tidak kesal. Aku tidak memikirkannya." Lirih Avril menutup wajahnya.


"Avil?" Panggil seseorang yang berdiri didepannya. Avril mendongak, terkejut mendapati Aldian yang memiringkan badannya.


"Kau terlihat kesal. Ada apa?" Aldi duduk disamping Avril.


Entah sejak kapan Avril kembali menerima kehadirannya tanpa rasa sesak. Seakan semuanya berlalu begitu saja. Dihadapannya saat ini adalah temannya, bukan mantan kekasihnya.


Avril menghela nafas panjang sebelum benar-benar mengumpulkan tenaga untuk berbicara.


"Hei Al. Apa kakakmu dan Alvian berpacaran?" Tanya Avril menunduk, menatap sepatu yang terus diayunkannya.


"Hemmm? Kupikir kau sudah tahu yang sebenarnya." Ucap Aldi menyandarkan tubuhnya.


"Maksudmu?" Avril terlihat heran.


"Kak Amel memang mencintai Alvian dari SMP. Bahkan dia mengikuti kemanapun Alvi pergi, SMA sampai kuliah. Sehingga orang tuaku mengajak orang tua Alvi untuk menjodohkan mereka. Kak Amel langsung setuju, tapi tidak dengan Alvi. Dia sama sekali tidak mempedulikan kehadiran kak Amel dihidupnya. Tapi, karena dibutakan cinta, kak Amel mengira diamnya Alvi adalah tanda setuju. Yaa begitulah. Aku tak bisa menjelaskannya secara rinci." Aldi menoleh pada Avril.


"Begitu ya...." ucap Avril datar. "Tapi, kenapa tadi Alvi seperti nyaman-nyaman saja bersama kak Amel." Lagi-lagi Avril mengepalkan tangannya.


"Kau mau memukulku?" Tanya Aldi menatap tangan Avril.


"Tidak. Aku hanya pegal saja." Geram Avril.


Aldi tertawa melihat tingkah Avril yang kesal tak karuan.


"Kau mencintai Alvian?" Tanya Aldi menghentikan tawa nya. Avril menoleh dengan kesal.


"Tidak." Jawabnya.


"Lalu, apa kau masih mencintaiku?" Tanya Aldi tersenyum.


"Apa kau ingin dipukul?" Geram Avril mengangkat tangannya kedepan wajah Aldi.


"Ahaha aku becanda Avril." Aldi mengangkat kedua tangannya. "Tapi aku senang, meskipun jika kita tidak bersama, tapi setidaknya kita masih bisa seperti ini. Duduk berdua, mengobrol, bahkan aku bisa melihat tingkah konyolmu yang tak pernah kau tunjukan pada siapapun." Aldi menatap Avril dengan tersenyum.


"Mau diapakan juga, tetap saja yang tahu semua tentangku hanya kau saja." Ucap Avril menunduk.


"Avril. Seandainya jika aku kembali untukmu, apa kau akan menerimaku kembali?" Aldi menatap Avril penuh harap.


"Jangan becanda Al. dan jangan menanyakan sesuatu yang tak bisa aku jawab." Avril memalingkan pandangannya.


"Untuk kali ini, jujur padaku Avil." Aldi menggapai kedua pundak Avril. "Apa kau benar-benar tidak mencintai Alvi?"


"Tidak." Sorot mata Avril menatap menegaskan.


"kenapa kau kesal mengetahui bahwa Alvi dan kakakku bersama?"


"Aku tidak kesal Aldi." Ucap Avril menahan kesal.


"Lalu? Apa artinya itu yang mengalir dipipimu Avil?" Aldi semakin lekat menatap Avril.


"Aku tidak mencintainya Aldi. Aku tidak kesal. Aku tidak peduli padanya." Avril kembali memalingkan wajahnya.


"Avil..." lirih Aldi melepaskan tangannya.


"Maaf Al. Aku harus pergi, aku tak tau apa yang akan orang lain pikirkan jika melihatmu begitu dekat denganku." Avril beranjak dan berlalu tanpa menoleh kembali. Aldi menatap lekat rambut Avril yang terikat.


"Apa kau berubah karena aku? Jika iya, aku harap Alvi bisa merubahmu kembali lagi seperti dulu. Maafkan aku yang menghilangkan senyummu selama ini Avil." Gumam Aldian menatap kepergian Avril.


. Disisi lain, Alvian menepis tangan Amel, dan menatap tajam kepadanya. "Hentikan. Aku muak dengan sikapmu yang berlebihan."


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2