Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
32


__ADS_3

. "Apa maksudnya?" Avril terheran kemudian memanggil Demira untuk meminta penjelasan.


"Demi.... apa maksudmu?" Tanya Avril dengan tiba-tiba ketika panggilan sudah terhubung.


"Avil.... apa kau masih ingin berteman denganku?" Pertanyaan yang tak mungkin bisa Avril jawab. Karena tak perlu dijawab pun, Demira pasti sudah tahu jawabannya.


"Demi...."


"Jauhi Alvi, atau aku yang akan menjauhimu."


"Demi apa maksudmu?"


"Jawab saja Avil..."


"Maaf Demi. Tapi aku tak perlu menjawabnya." Avril memutus panggilannya.


Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan Demira yang mendadak seperti itu.


"Apa yang dia pikirkan? Dia tahu aku tak bisa melakukan itu." Ucap Avril menggerutu dan terus mondar-mandir tak karuan.


Avril melirik jam dinding kamarnya, kemudian menoleh keluar jendela melihat cuaca yang masih cerah.


"Senja." Lirihnya.


Avril membuka jendela, dan terlihat jelas senja yang masih berwarna jingga kekuningan. Hangat, namun hatinya kini terasa sesak.


"Alvi...." lirihnya kembali seraya masih terus menatap senja.


"Entah apa alasannya, sejak Alvi membawaku ke danau untuk menatap senja, aku mulai menyukai langit jingga itu. Benar yang dia katakan, rasanya tenang. Tapi aku pun membenci senja. Dia hanya datang memberi keindahan, namun hanya sesaat. Tapi kuharap Alvi tidak seperti senja." Gumam Avril semakin lekat menatap senja.


Disisi lain, Demira mengurung diri dikamarnya.


"Nak... bukalah... mama minta maaf." Ucap sang ibu yang mengetuk pintu kamar Demi beberapa kali, berharap sang anak mau membuka pintu dan mendengar penjelasannya.


"Aku ingin sendiri... bukankah permintaan mama sudah aku lakukan? Apa lagi yang mama ingin katakan? Apa mama juga akan menghalangi hubunganku dengan Noah? Apa mama tidak cukup jika hanya memisahkan Avil dan Alvi?"


"Buka dulu nak...."


"Aku tidak mau..." Demira hanya menundukan kepala pada lutut yang dipeluk erat. Mungkin mengirim pesan seperti itu pada Avril membuatnya merasa mulai membenci dirinya sendiri.


#beberapa jam yang lalu.


. Ketika Demira dan Noah sampai di bandara, terlihat sekilas sosok Aldian yang berlalu dibalik beberapa orang.


Namun Demira tak berfikir apapun, dan hanya menganggap bahwa itu hanya halusinasinya saja karena dirinya sudah menampar dan memukul Aldian beberapa kali.


Diperjalanan, ayah Demi meminta untuk tinggal dirumah Alvi selama mereka berada di indo. Dan hal itu sudah disetujui oleh Alvi.


"Apa?" Teriak Demira saat mendengar sang ibu menyuruhnya untuk memisahkan Alvi dari temannya.


"Tidak. Aku tidak mau. Mama tahu alasanku ke Indo hanya untuk bertemu dengan Avril dan Noah. Memang awalnya aku juga tidak percaya hubungan mereka. Tapi, melihat Alvi yang bisa menerima wanita lagi, dan Avril pun sama, lantas apa alasanku untuk memisahkan keduanya? Aku menyayangi mereka ma..." lanjut Demira tak bisa menahan air mata yang memaksa untuk keluar dari kelopak matanya.


Demira mengusap pipinya, dan menolehkan wajahnya seakan tak ingin ada yang melihat dirinya sedang menangis.


"Nak... tidak ada salahnya. Memang perjodohan mereka sudah lama direncanakan. Hanya Alvi saja yang tidak setuju, tapi Pamanmu setuju. Amel itu gadis baik. Ayolah nak. Kasihan dia. Disisa umurnya, dia hanya ingin dengan Alvi. Dan tidak mungkin juga Alvi akan menolak permintaan terakhirnya."


"aku bilang tidak! Mengapa mama tidak mengerti. Mama tahu apa tentang Alvi?"


"Jaga bicaramu Demi. Apalagi pada ibumu. Ayah tidak mengajarkanmu bersikap seperti itu." Ucap sang ayah melerai.


"Aku tidak akan berbicara seperti ini jika mama tidak menyuruhku yang tidak-tidak." Jawab Demi masih dengan nada kesal.


"Demi cukup.!" Ucap Noah dengan nada pelan namun penuh penegasan.


Setelah itu, suasana menjadi hening dan tak ada yang memulai bicara. Hingga tanpa Demira sadari, mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah yang ia rindukan pemiliknya.


"Andai saja kalian masih ada. Tante Maya." gumam Demira menatap lekat sebuah balkon diatasnya yang dipenuhi bunga anggrek.


Terlihat dari dalam, Damian berjalan menghampiri mereka.


"Kau mau kemana lagi kak? Mama dan Ayah baru sampai." Tanya Demira memasang wajah kesal.


"Menjemput Avril." Jawabnya santai.


"Apa? Apa kau gila? Apa kau mau mencari masalah dengan Alvi.?"


"Aku gila? Iya memang aku gila. Dan Alvi lebih gila dariku. Dia tidak pernah menghargai, atau setidaknya melihat sedikit saja usaha Amel."


"Apa kau berniat memisahkan Avil dan Alvi juga?"


"Aku tidak berniat memisahkan mereka. Tapi hanya mengembalikan kewarasan Alvi untuk bisa menghargai Amel."


"Kau tidak memikirkan perasaan Avil?"


"Apa kau juga tidak memikirkan perasaanku yang ikut hancur melihat Amel yang sekarat namun ia tidak bisa mewujudkan keinginan terakhirnya?" Seketika Demira terdiam. Lututnya lemas, namun dipaksa harus terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Kini terserah padamu Demi. Adegan mana yang ingin kau lihat? Perpisahan Alvi dan sahabatmu secara baik-baik, dengan kau bicara pada Avril untuk menjauhi Alvi. Atau dengan cara melihat aku yang mendekati Avril lalu membuat mereka bertengkar hebat hingga mereka berpisah dengan masing-masing menyimpan dendam."


"Apa tidak ada pilihan untuk mereka tetap bersama saja?" Tanya Demira yang menunduk dengan tangan yang mengepal menahan amarah.


"Pilihanmu hanya itu saja." Damian berlalu memasuki mobilnya, lalu pergi meninggalkan halaman rumah megah itu.


Demira masih terdiam, mematung dan terus memutar otaknya. Masih tak tega jika harus menyuruh Avril menjauhi Alvi dengan tiba-tiba, apalagi tanpa alasan.


Demira menghela nafasnya dalam-dalam, menenangkan pikirannya yang masih kacau.


Ayahnya menepuk pundak Demira sebelum berlalu dibalik pintu.


"Kupikir kalian menyayangi Avil. Ternyata kalian sama saja dengan orang tua Aldi." Ayah terhenti mendengar ocehan sang putri. Merasa tak terima ketika disamakan dengan Adam, ayah dari Aldian.


"Terserah padamu. Ayah tidak pernah memaksamu mengambil keputusan yang sulit kau ambil. Lakukanlah sesukamu." Demira tersentak mendengar ucapan yang terlontar dari ayahnya. Sudah jelas itu adalah sebuah peringatan untuk Demira. Karena baginya, kebebasan dari ayahnya tak lain sebuah bukti bahwa ayah tidak akan lagi peduli padanya.


Demira mengambil ponselnya, kemudian mengetik pesan "jauhi Alvi." Pada nama yang tertulis di kontaknya.


Namun sampai senja, pesan itu tidak dikirim. Dirinya masih takut jika Avril akan membencinya. Namun dirinya juga tak ingin jika tidak dipedulikan oleh orang tuanya.


Sampai akhirnya, pesan itu terkirim dengan tangan yang gemetar, dan air mata yang berderai begitu deras.


Noah yang masih disampingnya, menggenggam tangan Demira dengan tujuan menenangkan Demi. Demira tersenyum paksa, namun tetap saja dalam sekejap mata senyum itu hilang.


"Avil akan membenciku Noah..." seketika Tangis Demira pecah didekapan Noah.


"Tidak... aku tahu Avril bukan gadis seperti itu. Dia tidak akan membencimu. Buktinya pada Syifa saja dia tidak memendam perasaan dendam. Bukankah dia gadis yang baik?"


"Itu yang membuatku tak tega menyakitinya. Padahal dia bahagia dengan kehadiran Alvi. Tapi aku harus ikut campur untuk memisahkan mereka."


"Sudah... ini bukan salahmu." Noah mencoba menenangkan Demira, meskipun dirinya tahu akan seperti apa jika Alvi mengetahui ini. Mungkin Alvi akan melakukan hal yang gila jika benar hubungannya dengan Avril akan berakhir. Melihat kondisinya dulu saat bertengkar dengan Avril yang membuatnya sakit parah. Dan obatnya saja hanya Avril seorang. Obat darinya tidak mempan sedikitpun, termasuk cairan infus. Kini Noah hanya terdiam saja tanpa bisa memberinya kata-kata penenang lain. Karena jika Noah terlalu banyak bicara ataupun terlalu ikut campur, mungkin perasaannya pada Avril pun akan diketahui oleh Demira. Meskipun sebenarnya Demira sudah tahu kebenarannya.


Kemudian, Demira menjawab telpon dan sedikit berdebat dengan Avril. Sebisa mungkin suaranya menjadi dingin dan menunjukan bahwa dirinya seakan sedang tidak menangis.


Demira menunduk lesu ketika panggilan terputus dengan kekesalan dari Avril.


Demira berlari menuju kamarnya, lalu mengurung diri. Diikuti ibunya yang tak sengaja menyaksikan Demira yang putus asa berdebat dengan Avril, meskipun itu hanya di panggilan telpon.


#kembali ke cerita.


. Noah ikut membujuk Demira untuk keluar dari kamarnya.


"Demi... keluarlah. Aku yakin Avril tidak akan membencimu."


"Biarkan aku sendiri please!" Matanya memejam, pikirannya kacau. Bagaimanapun dia sendiri harus berbicara pada Avril.


Demira terdiam bersandar dipintu yang dikunci olehnya.


"Kalian benar-benar pergi?" Tanya Demira meskipun mustahil ada yang menjawab.


"Aku tidak pergi." Jawab Noah yang ternyata masih berada diluar pintu.


Demira tersenyum menyeka air matanya. Membuka pintu, lalu menghampiri Noah.


"Sudah kuduga. Tanpa dibujuk pun, kau pasti akan keluar sendiri." Ejek Noah dengan santai.


"Antar aku ke rumah Avil."


"Apa?"


"Kau tak dengar? Kubilang antar aku ke rumah Avil..."


"Iya aku dengar. Tapi lihat ke luar. Sebentar lagi malam Demi."


"Memangnya kenapa? Bukankah aku pergi denganmu?"


"Tidak Demi."


"Noahh...."


"Kubilang tidak."


"Noahhhh.."


"Tidak. Besok saja Demi.."


"Janji?"


"Hmmmm"


"Kau tak serius Noah.. aku benar-benar merasa bersalah pada Avil."


"Iya aku janji Demi." Ucap Noah seraya mengelus kepala Demira.


. Larut malam membuat Avril mulai merasa mengantuk. Sesaat sebelum tidur, Avril menggenggam cincin yang masih terpasang di kalungnya. Samar-samar terdengar suara mobil, Avril berfikir mungkin itu ayah yang baru datang. Avril mulai memejamkan matanya, terlelap dalam tidur dan memasuki dunia mimpinya. Yang Avril tak tahu, seseorang menghampiri dirinya yang sudah tertidur pulas, menatap, dan membenahkan selimutnya, kemudian mengecup keningnya.

__ADS_1


"Selamat malam" ucapnya kemudian melangkah kembali menjauh dari Avril, lalu menutup pintu rapat-rapat. Malam yang panjang akhirnya terlewati.


Pagi hari, Avril bangun dan mendapati matahari sudah menyilaukan matanya. Avril turun dari kamarnya hendak kedapur.


Dengan santai menguap sambil terus berjalan, namun Avril tak sadar, jika diruang tengah duduk seorang pria tak kalah santainya menatap Avril sambil tersenyum menahan tawa.


"Kau kelelahan nona?" Tanya Alvi tak kuasa jika terus manahan diri untuk tidak menegurnya. Avril dengan spontan menoleh kearah Alvi yang sama-sama masih memakai piyama.


"Sedang apa kau?" Teriak Avril berhenti ditengah-tengah tangga.


"Aku sedang duduk."


"Tidak tidak. Maksudku mengapa kau dirumahku?"


"Apa kau tidak ingat tadi malam?" Avril menyernyit mencoba mengingat kembali ada apa dengan tadi malam.


"Apa yang kau lakukan?" Avril menutupi dadanya dengan menyilangkan tangannya.


"Menurutmu?." Dengan santai Alvi bersandar di sofa menatap Avril yang mulai panik dengan menyeringai licik.


"Alvi... jangan becanda denganku." Teriak Avril yang terdengar panik.


"Aku tidak becanda."


"Ada apa pagi-pagi kau berteriak?" Ayah yang tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya.


"Ayah... Apa ayah membiarkan Alvi ke kamarku?" Karena dipikirannya, Alvi sudah melakukan yang tidak-tidak padanya.


"Kau mengganggu putriku lagi?" Kesal ayah menoleh pada Alvi.


"Tidak ayah. Aku tidak melakukan apapun." Jawab Alvi santai.


"Bohong. Kau bilang--" Avril sengaja tak melanjutkan ucapannya.


"Bilang apa?"


"Kau pikir ayah akan membiarkannya tidur dikamarmu? Dia tidur di kamar tamu. Tapi jika kalian sudah ingin satu kamar, menikah saja besok." Ucap Ayah kembali memasuki ruang kerjanya dengan menggelengkan kepala.


"Baiklah ayah. Dengan senang hati." Ucap Alvi dengan terus tertawa.


"Mengapa kau tidur dirumahku?"


"Apa salahnya? Ini rumahku juga kan?"


"Tuan Revano. Kau punya rumah sendiri."


"Ahhh rumahku sedang ada satu keluarga yang merepotkan. Jadi lebih baik aku pulang ke rumah istriku saja."


"Apa Alvi dan keluarga Demi sedang bertengkar. Tapi jika diingat lagi, tidak heran. Kemarin kak Damian memaksaku untuk pulang dengannya. Jika tidak ada Ray, pasti Alvi akan salah faham padaku." Gumam Avril.


"Ehem..." tiba-tiba saja Alvi sudah berada didepannya. Sontak Avril terkejut hendak menjauh dari Alvi namun dirinya membentur tembok.


"Aduh." Rintih Avril meraih kepalanya.


"Apa aku terlihat seperti hantu? Sampai kau ketakutan seperti ini?" Tanya Alvi ikut meraih kepala Avril dan mengusapnya lembut.


"Kau mengagetkanku Alvi..." jawab Avril sedikit kesal.


"Ya ya baiklah aku yang salah. Maafkan aku sayang." Ucapnya masih fokus pada kepala Avril.


Jantung Avril lagi-lagi tak bisa dikendalikan. Degupnya semakin kencang saat mereka begitu dekat.


Perlahan Avril melingkarkan tangannya pada Alvi.


"Kau baik-baik saja?" Alvi terheran karena Avril yang tiba-tiba memeluknya.


"Jangan pergi." Lirih Avril.


"Eh? Memangnya Kapan aku pergi?"


"Jika kau pergi, aku ikut." Rengek Avril.


"Jika aku tak pergi, apa kau akan menjamin bahwa kau juga tak pergi?" Avril terdiam, entah tak tahu harus menjawab apa, atau memang pertanyaan itu tak ada jawabannya.


"Apa aku egois?" Gumam Avril semakin erat memeluk Alvi.


"Hei... nak! Sampai kapan kau akan memelukku? Jika ada yang melihat, mereka pasti berfikir yang tidak-tidak." Avril melepas pelukannya dengan wajah yang kesal.


"Aku lapar sayang... atau kau ingin aku santap? Kau terus menggodaku. Dan kau berani memelukku tanpa izin seperti tadi." Senyum licik khas Alvi tersungging dengan wajah yang semakin mendekat pada Avril.


Avril terbelalak kemudian menjauh dari Alvi, lalu berlari mendahului ke dapur. Alvi hanya tertawa mengikuti Avril yang kini sudah meninggalkannya.


Semua pelayan di rumah Avril terlihat akrab dengan Alvi. Bahkan mereka selalu berharap Alvi dan Avril bisa menikah dalam waktu dekat.


Alvi menghampiri Avril yang sedang membawa beberapa menu untuk sarapan. Benar-benar seperti pasangan suami istri. Avril memanggil ayahnya untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Hanya dirumah Avril, Alvi bisa merasakan kehangatan keluarga.


-bersambung


__ADS_2