
. "Hari ini kau bisa pulang." Ucap Noah setelah selesai memeriksa kondisi Avril. Mata Avril terlihat berbinar karena setelah hampir 2 pekan dirinya dikurung diruangan yang menyesakan itu. Terlihat hanya Bagas dan Demira saja yang menemaninya. Sepeninggal Adam dan kondisi Alvi yang masih dirawat, kakak dan ayahnya semakin sibuk dan jarang menemuinya. Semua tanggung jawab kebutuhan Avril selama dirumah sakit dipercayakan pada Nadia. Itupun jika Nadia sedang baik-baik saja. Saat Nadia sedang tidak vit karena kehamilannya, Hanya Demira yang sibuk kesana kemari. Avril merasa tak enak hati jika terus merepotkan Demira. Apa lagi harusnya Demira sudah kembali ke London, namun karena kesehatan Avril dan keadaan perusahaan D pun sedikit mengalami penurunan, Demira tetap berada di Indo sedikit lebih lama.
"Mau menjenguk Alvi?" Tanya Demira yang menggandeng lengan Avril. Avril terdiam menghentikan langkahnya lalu memeluk erat Demira.
"Maafkan aku Demi... aku terus saja merepotkanmu."
"Tak apa Avil... aku ingin menepati janjiku." Demira membalas pelukan Avril tak kalah hangat.
. "Ish... Dami... bukan seperti itu." Kesal Alvi ketika Damian yang kaku dengan game ditangannya.
"Bagaimana? Aku tak bisa memainkannya sialan." Damian tak kalah kesal namun terus melanjutkan game nya.
"Kau bodoh Dami.... itu kenapa malah kesana?" Teriak Alvi lagi.
"Diam kau sialan. Ini dirumah sakit." Tegur Damian tak kalah berteriak.
"Kau juga berisik sialan."
"Kalian yang berisik." Timpal Demira ikut berteriak. Damian dan Alvi bersamaan menoleh pada Demira yang masih berada diambang pintu.
"Dia juga berisik." Bisik Alvi.
"Siapa dibelakangmu.?" Tanya Damian yang kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Katanya dia ingin menjenguk Alvi. Dia penggemarmu Al." Jawab Demira tertawa geli.
'Plak' suara tamparan terdengar membuat Demira merintih sambil menoleh kebelakang.
"Aku hanya menunggu Avril Dem..." teriak Alvi lalu ikut kembali fokus pada ponsel Damian.
"Kau dengar?" Bisik Demira yang menoleh kebelakang.
"Kak Dam... antar aku dulu. Ayo..." Demira menaikan alisnya beberapa kali memberi kode pada Damian. Damian menghela nafas sejenak lalu beranjak dari ranjang Alvi.
"Eh mau kemana kau Dam. Gamenya belum selesai." Kesal Alvi menatap sinis pada Damian.
Alvi mengerutkan dahinya kesal dan terfokus pada ponselnya seolah enggan mendongak kedepan ketika Damian meninggalkannya dan menutup pintu rapat-rapat. Alvi menyadari bahwa memang ada sesosok orang yang berjalan menghampirinya.
"Keluarlah. Sebelum aku menyuruh orang untuk menyeretmu." Namun orang itu masih terdiam seakan menantang Alvi.
"Hish... ku bilang keluar. Kau tak deng--" Alvi membisu ketika menatap wajah sang kekasih yang selama ini ia harapkan kesembuhannya. Avril menatap dengan tersenyum kemudian tertawa kecil.
"Kau sungguh membuatku takut tuan. Apa salahku sampai kau ingin memanggil orang untuk menyeretku keluar?" Tanya Avril dengan wajah manja menatap Alvi.
Mendadak Alvi menjadi membeku, ingin bicara namun tak satupun kata yang terlontar. Tangannya perlahan meraih pipi Avril lalu menggenggam tangannya dengan erat.
"Kau dari mana saja?" Tanya Alvi sedikit tersenggal marena menahan rasa sesak di tenggorokannya.
"Aku sibuk menunggumu di ruang lain." Jawab Avril sambil meraih tangan Alvi yang masih berada di pipinya.
"Maaf Avril... lagi-lagi kau yang menemuiku duluan."
"Maafkan aku..."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Jika saja aku mendengarkanmu, mungkin--"
"Sut... sudah... jangan menyalahkan diri. Aku yang kurang bertanggung jawab menjagamu. Jika memang kita bisa berandai-andai, andai saja aku tak membuatmu khawatir pada Aldi, mungkin kau juga tak akan marah padaku. Dan dengan mudah terjebak oleh hal semacam itu." Mendengar itu, Avril tersenyum dengan alis berkerut. Mengapa bisa Alvi sebaik ini. Padahal berkali-kali Avril sudah mematahkan hatinya.
"Kau mau pulang?" Tanya Alvi sedikit menyisir rambut Avril.
"Tidak... aku ingin disini dulu." Jawab Avril duduk dikursi dan menyandarkan kepalanya dilutut Alvi.
"Kau merindukanku?" Semula Alvi hanya menggoda bertanya demikian karena ingin menjahili Avril, namun diluar dugaannya, Avril bukannya menyangkal dan menggembungkan pipinya, tapi dengan tanpa bicara, Avril mengangguk lalu mendongak dan tersenyum kaku pada Alvi.
"Sejak kapan kau jujur?" Tanya Alvi terus mencoba menggoda Avril.
"Sejak aku takut kehilanganmu."
__ADS_1
"Isshhhh.... mengapa dia menjadi serius." Gumam Alvi memijit dahinya.
"Kenapa? Kau pusing?" Tanya Avril kemudian beranjak lalu meraih kepala Alvi. Dengan tiba-tiba, Alvi mencium Avril yang mendadak mematung. Kemudian keduanya terkejut karena mendengar suara pintu tertutup keras. Avril panik siapa yang melihatnya dengan Alvi.
"Mengapa kau panik sayang?" Alvi terkekeh melihat kepanikan Avril. Avril dengan kesal menepuk pipi Alvi sedikit keras.
"Mengapa kau memukulku?" Alvi mengusap kasar pipinya, walaupun Avril sendiri tahu itu tak akan sakit. Avril mendelik memangku tangan didadanya.
"Mengapa kau marah sayang?" Goda Alvi masih terkekeh. "Ini sakit tahu.... uhhh..." Alvi kembali mengusap kasar pipinya sambil melirik manja pada Avril.
"Mengapa kau menciumku tiba-tiba? Bagaimana jika ayah yang melihat? Kita bisa dinikahkan saat ini juga."
"Baguslah... bukannya lebih baik begitu?"
"Ihhhh kau yaaa....." Avril mencubit pipi Alvi dengan keras.
"Sakit Avril..... KDRT lagi."
'Bugh...' lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, Bagas terjatuh karena didorong Reno. Sontak Avril dan Alvi menoleh pada Bagas yang terbaring santai dilantai ruangan.
"Mengapa aku selalu melihat adegan itu? Sial... aku yang tak punya pasangan benar-benar iri. Avril dan Alvi, Aldi dan Syifa, terus sekarang Reno dan Dea. Lalu aku dengan siapa? Demira sudah memiliki Noah." Gumam Bagas menghela nafas berat.
"Woy Bagas." Teriak Reno menepuk keras pipi Bagas.
"Ish... apa? Sakit ini." Rajuk Bagas sambil beranjak dan mengikuti Reno menghampiri Alvi.
"Kau... dari tadi aku panggil, tapi tidak menjawab." Reno tak kalah merajuk pada Bagas. Dan dengan wajah tanpa dosanya, Reno duduk dikursi yang berada dibelakang Avril.
"Hei itu kursiku." Avril menggembungkan pipinya kesal. Reno mencubit pipi Avril dengan ekspresi gemas.
"Kau seperti anak TK." Ucap Reno.
"Ren sakit." Avril meringis kemudian meraih tangan Reno. Alvi ikut mencengkram tangan Reno dengan kuat hingga Reno terkejut lalu menoleh pada Alvi sambil melepaskannya dari pipi Avril. Aura mencekam terasa sangat menekan diruangan itu. Reno terdiam menatap Alvi yang menunduk namun penuh penekanan seolah sedang mengancamnya.
"Al... kau.."
"Jangan pernah menyentuh Avril lagi." Tegas Alvi masih enggan mengangkat kepalanya.
"Jika salah satunya tersakiti, itu bukan lagi becanda namanya."
"Tapi Al..." Reno menghela nafas panjang sejenak. "Maafkan aku Al... aku tak akan melakukan itu lagi pada Avril." Lanjut Reno lirih dan lalu menunduk.
Bagas dengan santai duduk disofa sambil memperhatikan percakapan orang-orang didepannya. Bahkan buah yang disediakan untuk Alvi, satu persatu habis dimakan oleh Bagas.
Alvi terkekeh kemudian tertawa puas melihat wajah Reno yang dipenuhi rasa bersalah.
"Kau lucu Ren..." ucap Alvi di sela tawanya.
"Tapi kau tak lucu Al." Decih Reno memalingkan wajanya dan menarik tangannya kasar.
"Maaf Ren. Tapi jujur saja aku bahagia menjahilimu."
"Bahagia kepalamu. Aku pukul bahumu itu, mati kau seketika."
"Eehhh jangan Ren. Jika aku mati, temanmu akan menjadi janda nanti." Avril terbelalak menatap Alvi yang meliriknya dengan terus tertawa.
"Tidak lucu." Ucap Avril dan Reno serentak. Melihat itu, Alvi kemudian tersenyum tipis dan tatapannya menjadi sayu.
Reno menepuk bahu Alvi yang lain dengan melempar senyum manisnya.
"Cepatlah sembuh. Lalu ajari aku dan Aldi menjadi presdir yang disegani semua orang." Reno kemudian berlalu setelah melontarkan kata-kata itu. "Ayo Gas... kita pulang." Reno menoleh pada Bagas yang masih asyik mengunyah buah-buahan untuk Alvi.
"Hei.. itu makananku. Kau menghabiskannya?" Alvi terbelalak kesal menatap Bagas yang kini beranjak dengan melemparkan senyum lebar lalu pergi dan menutup pintu rapat-rapat. Tak lama, pintu terbuka kembali dan memperlihatkan kepala Bagas saja.
"Silahkan tuan dan nona melanjutkan pacarannya." Ucap Bagas membuat Avril terbelalak. Terdengar Bagas tertawa ketika kembali menutup pintu.
"Terimakasih atas pengertiannya Bagas." Ucap Alvi pelan dan hanya bisa didengar oleh Avril.
Avril terlihat sangat fokus memperhatikan pintu yang tertutup. Tatapannya menjadi sayu, dan bibirnya mengatup menahan diri agar tidak melontarkan kata maaf secara berulang-ulang. Luka yang masih membekas di wajah Reno kembali mengingatkan Avril pada kejadian itu. Rasanya sangat sulit untuk melupakan kejadian yang menimpa mereka. Bahkan Avril masih belum menerima kenyataan bahwa ayah Aldi sudah tiada.
__ADS_1
"Aldi pasti sangat sedih. Setelah kepergian kak Amel, kini om Adam juga ikut meninggalkannya. Aku ingin sekali menemaninya. Tapi sepertinya Aldi sudah sepenuhnya menerima kehadiran Syifa. Mengapa dadaku terasa sesak? Meskipun aku sudah dengan Alvi, tapi tetap saja menyakitkan jika melihat orang yang pernah aku cintai sepenuh hati bergandengan dengan orang lain. Apalagi Syifa temanku sendiri. Apa aku akan bisa menerima kenyataan bahwa Aldi dan aku benar-benar tak berjodoh? Jika dulu ayah membantu keluarganya, apa aku dan Aldi masih bersama? Jujur saja nafasku sesak jika terus berkhayal bahwa ini tidak nyata." Gumam Avril yang tanpa sadar kini sudah memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Avril... kau baik-baik saja? Mengapa melamun?" pertanyaan Alvi menyadarkan Avril dari lamunannya.
"Apa masih sesak? Dan apa ada yang sedang kau pikirkan? Tentang apa? Kau bisa bicara padaku. Aku akan membantumu. Jangan memendamnya sendiri. Itu akan sangat menyesakkan." Ucap Alvi mengusap punggung tangan Avril dengan lembut. Avril menggeleng sembari melemparkan senyum.
"Tak apa Al... aku hanya mengingat kejadian itu saja."
"Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang pulihkan kondisimu dulu." Alvi menepuk pelan pipi Avril lalu memeluk tangan Avril dengan erat, dan tangan yang satunya menggenggam jemari Avril.
"Maafkan aku Al... harusnya aku terus memperhatikanmu, bukan malah memikirkan Aldi. Aldi sudah jelas menjadi milik Syifa. Tapi aku takut jika terlalu mencintaimu, kau juga akan berpaling dariku." Gumam Avril yang semakin erat membalas genggaman jemari Alvi. Alvi menatap pada tangan yang saling menggenggam namun pikirannya entah kemana.
"Pergilah... aku tak keberatan kau tinggalkan. Pulihkan dulu sakitmu, jika kau membutuhkanku, aku akan selalu dibelakangmu. Aku tak akan pergi." Ucap Alvi yang dirasa Avril tiba-tiba itu. Avril menyernyit mencoba menerka maksud dari perkataan Alvi.
"Nah.... sudah ku duga." Ucap Noah ketika membuka pintu dan kemudian masuk dengan seseorang dibelakangnya. Avril terkejut lalu menarik tangannya dari Alvi saat melihat wajah Galih.
"Kakak." Pekik Avril seketika mematung di tempat. Galih memangku tangan dan menghampiri Avril lalu menepuk kepalanya.
"Jika sudah disuruh pulang, harusnya kau pulang. Bukan malah menemui beruang kutub." Ucap Galih melirik sinis pada Alvi.
"Ehh aku penguin. Bukan beruang kutub." Balas Alvi tak ingin kalah.
"Penguin jadi-jadian lebih cocok denganmu."
"Daripada beruang kutub. Sudah dingin, ganas, sangar, uuhhhh takut..." Alvi bergidik ngeri tak kalah mengejek Galih.
"Haih mulai lagi." Lirih Avril menggeleng dan memijit dahinya.
Avril menghela nafas kesal saat keduanya sudah berdebat.
"Apa kalian akan seperti ini terus?" Tanya Avril melirik sinis wajah-wajah pria menyebalkan didepannya. Tak mendapat tanggapan baik dari keduanya, Avril kembali menghela nafas kesal lalu menarik tangan Galih berlalu menuju pintu.
"Ayo pulang." Ucap Avril tanpa menoleh ke belakang.
"Ehhh Avril... kecupan selamat tinggalnya mana?" Teriak Alvi membuat Galih menoleh lalu memberi ancaman pada Alvi dengan kode tangan mengepal. Alvi terkekeh mengejek Galih yang tak bisa memukulnya karena Avril.
"Noah... kapan aku pulang?" Tanya Alvi setelah pintu ditutup oleh Galih. Namun Noah malah memukul kepala Alvi dengan kesal.
"Kau gila? Kau pikir aku dokter seperti apa yang membiarkan pasiennya pulang dengan keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja."
"Kau yang gila Noah. Bukannya sembuh, kau malah membuatku semakin kesakitan... ughhhh..." Alvi dengan sengaja terus memegangi kepalanya.
"Jangan bicara kapan pulang. Lihat! Bahu mu harus masih di rawat rutin pembersihan setiap 3 hari."
"Mau sampai kapan Noah? Itu menyakitkan. Kau tidak merasakan yang aku rasakan." Rengek Alvi mengacak rambutnya.
"Justru aku tak ingin lukamu semakin parah. Ini salah satu proses penyembuhan. Bersabarlah Al."
"Iya tapi sampai kapan?"
"Sampai lukamu benar-benar tertutup dan mengering."
"Itu akan lama Noah.... aku akan mati disini karena merindukan Avril."
"Jangan berlebihan. Avril akan lebih marah jika kau pulang sekarang. Mungkin dia akan langsung melemparkan cincin pertunangan kalian ke wajahmu dengan berkata 'Al.. kita putus. Aku tak mau memiliki suami yang keras kepala sepertimu.' Ehemm kurang lebih Avril akan berbicara seperti itu." Namun Alvi terdiam menatap konyol wajah Noah yang memerankan peran Avril.
"Bukankah itu yang kau inginkan? Sebenarnya kau kan yang ingin melemparku dengan benda apapun lalu memakiku sepuasmu? Dasar dokter sialan."
"Haha kau tahu ternyata. Aku sudah lama memendam dendam ini Al. Tak ku sangka kau bisa menebak pikiranku Al... hahaha."
"Diam kau. Pergi sana... aku ingin tidur." Alvi melempar bantalnya kewajah Noah yang tengah tertawa.
"Sialan kau Alvi..... kau punya dendam apa padaku hah?" Noah hendak memukulkan bantal pada Alvi.
"Mau apa kau?"
"Mau membunuhmu." Seringai Noah tersungging di bibirnya.
"Noah" Teriak seseorang yang berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Dem--" Noah terhenti melihat Demira dengan wajah marah menghampiri lalu menampar keras pipinya.
-bersambung.