
. "Ray..." teriak Avril kembali memekik telinga Ray.
"I-iya nona..." namun terdengar dari seberang seseorang yang memanggil Avril. Avril kemudian memutus panggilannya dengan tiba-tiba.
"I-ini tuan." Ray mengembalikan ponsel milik Alvi dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa dengan wajahmu Ray?" Tanya Alvi.
"Ti-tidak tuan." Jawab Ray kembali melempar senyuman.
"Kau dijahili Avril?" Tanya Alvi lagi seraya kembali melangkah menuju lift.
"Ti-tidak juga tuan."
"Lalu?"
"Emm.. tak ada tuan."
Alvi terdiam menyadari perubahan sikap Ray dan menerka-nerka apa yang dipikirkan Ray. Sampai dimeja Ray, Alvi tak langsung masuk ke ruangan.
"Apa ada yang tuan inginkan?" Tanya Ray dengan sopan.
"Kau kenapa Ray? Kau memikirkan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Alvi kemudian bersandar pada meja Ray.
"Sa-saya sedang memikirkan tuan." Alvi menyernyit mendapati jawaban Ray.
"Aku ada di depanmu Ray. Kau sendiri tahu kondisiku. Mengapa harus dipikirkan?"
"Tapi nona..."
"Kenapa lagi dengan Avril?"
"Nona berkata tentang tanggung jawab. Apa artinya itu tuan dan nona..." Alvi tertawa menghentikan Ray bicara.
"Kau berpikir apa Ray. Sudah kubilang aku sedang menjahili Avril" Alvi tak hentinya tertawa lalu menggeleng tak percaya.
"Saya serius tuan..."
"Aku juga serius Ray." Alvi masih dengan tawanya.
"Tuan..." terdengar hembusan nafas Ray yang sedikit kesal. Alvi menghentikan tawanya dan mencoba mengendalikan dirinya.
"Ray... mengapa kau begitu mengkhawatirkanku akan hal itu. Jangankan melakukan hal seperti itu, dicium saja Avril selalu menamparku." Ucap Alvi kemudian membuka pintu dan berlalu masuk ke ruangannya.
Avril berjalan paling belakang diantara teman-temannya. Tangannya sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Vil... kau mau ikut?" Tanya Bagas yang terhenti karena Avril yang berjalan sangat lama.
"Woy Avil." Teriak Bagas membuat Avril mendongak.
"Apa Gas?"
"Kau tak mendengarku?" Avril tersenyum menanggapi pertanyaan Bagas.
"Kau mau ikut tidak?" Tanya Reno menyela Bagas yang terlihat kesal pada Avril.
"Kemana?" Tanya Avril polos.
"Ke makam om Adam. Tadi Aldi bilang bahwa dia ingin berziarah."
"Yu.. aku ikut." Avril terlihat antusias dengan wajah yang berbinar.
"Tapi... bagaimana dengan Alvi? Bukankah dia baru keluar dari rumah sakit? Kau tidak menghabiskan waktu dengannya?" Tanya Reno dengan ragu.
"Aku bisa menghabiskan waktu dengan Alvi kapan saja. Tapi aku sulit menghabiskan waktu dengan kalian jika tidak ada kegiatan-kegiatan seperti ini." Jawab Avril dengan tenang. Reno tersenyum lega mendengarnya. Meskipun dirinya sempat berpikir bahwa Aldi dan Avril akan saling membenci setelah ini. Tapi mereka dengan besar hati saling menerima satu sama lain tanpa ada dendam.
"Baiklah. Tapi setidaknya meminta izin dulu pada Alvi agar tak salah faham." Avril mengangguk menanggapi saran dari Reno.
"Kalau bisa, jangan bawa pasangan ya... aku selalu merasa tak nyaman jika kalian membawa pasangan masing-masing." Ucap Bagas memalingkan wajahnya.
"Ahaha iya Gas... kita buat ini sebagai Quality time kita saja." Reno menepuk bahu Bagas.
"Janji ya..." Bagas menatap ragu pada Reno dan Avril.
"Iya janji."
Karena kelas sudah tak efektif, siang hari pun mereka sudah pulang. Dan sesuai perjanjian, Reno menunggu Avril dan Bagas didepan gerbang.
"Kita akan bertemu dengan Aldi di makam. Dia menunggu disana." Ucap Reno setelah kedua temannya memasuki mobil. Seperti biasanya, Avril selalu duduk dibelakang sendiri dan Bagas di samping kemudi.
"Syifa tak ikut?" Tanya Avril pada Reno.
"Tak tahu.. memang tadi kau tak bertanya?" Avril menggeleng menanggapi. Selama kebersamaannya dengan Syifa, Avril memang tak membahas tentang Aldi.
__ADS_1
"Sudah... jangan ada yang membawa pasangan..." timpal Bagas memasang wajah kesal.
"Iya iya jendral jomblo yang terhormat." Ejek Reno.
"Vil... sudah bilang pada Alvi?" Tanya Reno mulai melajukan mobilnya.
"Hehe belum Ren." Jawab Avril polos.
"Wah ceroboh kau Avil. Bagaimana jika Alvi salah faham? Bukan hanya kau yang di gantung nanti, tapi aku dan Reno juga." Ucap Bagas setengah berteriak.
"Iya iya sekarang aku telpon Alvi." Avril merogoh tasnya kemudian mengambil ponsel dan menekan nama Alvi di riwayat panggilannya.
"Ada apa lagi? Apa dia rindu?" Alvi terkekeh sendiri melihat nama Avril yang memanggilnya.
"Ya sayang." Ucap Alvi tanda menjawab panggilan Avril.
"Emm Al... aku mau.." Avril ragu dan menggantungkan kata-katanya.
"Mau apa? Mau nikah?" Alvi menyela dan terdengar tertawa kecil seakan tak puas menjahili Avril.
"Ishhh bukan... aku mau minta izin akan pergi dengan Baren hari ini."
"Kemana?" Seketika Alvi menarik senyumannya dan seketika itu pula Alvi memasang wajah dingin.
"Ke makam om Adam." Jawab Avril kemudian.
"Dengan Aldi?" Avril menyadari suara Alvi terdengar sangat dingin.
"I-iya. Tap-tapi kan dengan Baren juga.." rengek Avril mencoba meluluhkan kembali hati Alvi.
"Oh.. yasudah." Ucap Alvi seakan malas melanjutkan obrolannya.
"Kau marah?" Tanya Avril dengan ragu.
"Tidak."
"Ihhh tuh kan kau marah."
"Tidak sayang." Terdengar Alvi menghela nafas panjang.
"Maaf ya..." lirih Avril menunduk merasa bersalah.
"Aku maafkan."
"Maaf sayang. Ibu dan Dina sudah memasak untukku. Tadinya aku ingin mengajakmu. Tapi jika kau sibuk tak apa."
"Setelah dari makam, aku akan ke kantormu."
"Tidak Avril. Aku sudah dijalan dan sebentar lagi sampai di rumah." Mendengar itu, Avril terdiam berpikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Membatalkan acara dengan teman-temannya, atau membiarkan Alvi begitu saja. Padahal Avril sendiri tahu Alvi pasti butuh seseorang untuk sekedar bercerita.
Tanpa disadari, panggilan terputus begitu saja karena keduanya tak ada yang berbicara.
Tak lama ponsel Reno berbunyi tanda sebuah pesan masuk.
"Ren.. ada pesan dari Dea tuh..." sindir Bagas.
"Bukan Gas... nada nya berbeda. Coba kau lihat dari siapa." Ucap Reno tanpa menoleh dan tetap fokus menyetir. Bagas membuka ponsel Reno dan melihat pesan dari Alvi.
"Jaga Avrilku." Begitu isi pesannya. Bagas tertawa sendiri membuat Reno dan Avril terheran.
"Kenapa?" Tanya Avril ikut penasaran.
"Tak apa Avil.. salah sambung. No baru." Jawab Bagas masih tak bisa menahan tawanya. Reno melirik Bagas tanda bertanya ada apa? Bagas memberi kode pada ponsel Reno kemudian melirik pada Avril. Reno hanya mendelik karena tak mengerti. Sedangkan Bagas hanya menghela nafas berat.
Sampai di pemakaman, terlihat Aldi keluar dari mobilnya dan bisa ditebak bahwa Aldi pun baru sampai.
"Al.." panggil Avril ketika keluar dari mobil.
"Di.." lanjut Reno ikut memanggil.
"Annnnnnnnnnnnnnn" ejek Bagas dengan tertawa. Aldi hanya menatap ketiga temannya dengan datar.
"Becanda." Ucap Reno menepuk bahu Aldi.
"Syifa tak ikut?" Tanya Avril yang memasang wajah heran.
"Dia ada urusan." Jawab Aldi. Avril merasa semakin lama, Aldi semakin menjaga jarak dengannya. Entah karena Aldi yang sudah menerima Syifa di hidupnya atau karena memang takut jika nanti perasaan pada Avril akan kembali. Karena siapa yang tahu dengan perasaan? Terkadang seiring berjalannya waktu dan dihabiskan bersama, perasaan itu akan hilang dengan sendirinya, atau bisa saja semakin lama bersama, justru akan semakin besar rasa cintanya. Terlepas dari keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing, tapi jika jalan awal perpisahannya adalah kesalahpahaman, rasa itu harus dengan paksa dilupakan.
"Kau sendiri? Tidak dengan Alvi?" Tanya Aldi yang berjalan berdampingan dengan Avril.
"Alvi harus istirahat. Aku takut jika mengajaknya, kondisinya akan memburuk lagi." Jawab Avril.
"Maaf ya. Karena keluargaku--"
__ADS_1
"Tidak Al... jika memang harus ada yang salah, kita semua juga bersalah." Avril menyela sebelum Aldi menyelesaikan kata-katanya.
Mereka sampai di makam Adam dan Amel. Avril dengan Bagas disampingnya, memanjatkan doa untuk Amel. Rasanya kematian Amel masih menjadi tanggungjawabnya. Bagas mengusap punggung Avril seraya melempar senyuman.
Aldi melirik datar pada Avril lalu beranjak mengajak teman-temannya untuk pulang.
Ketika di dekat mobil, Avril yang semula hendak membuka pintu mobil Reno, tangannya ditarik oleh Aldi.
"Kau pulang denganku." Ucap Aldi dengan dingin. Avril terkejut dengan sikap Aldi yang tak biasa. Bahkan auranya lebih dingin dari Alvi.
"Kau yakin?" Tanya Reno pada Aldi. Takut jika Syifa salah faham atau apapun yang membuat mereka bertengkar.
"Tak apa... aku ingin mengobrol dengan Avil saja sedikit lebih lama." Jawab Aldi dengan wajah dinginnya.
"Ohh ya sudah... kita duluan ya." Ucap Bagas ketika menutup pintu.
Reno kembali melajukan mobilnya meninggalkan Aldi dan Avril saja.
"Al..." panggil Avril.
"Kita ke taman yu. Sudah lama kita tak jalan berdua di taman." Ucap Aldi sedikit tersenyum membuat jantung Avril berdetak dengan keras. Meskipun hatinya merasa tak tenang, namun Avril tak kuasa jika menolak. Selain ingin menghibur Aldi, tak bisa dipungkiri bahwa Avril pun merindukan Aldi.
Keduanya mampir di kedai kopi favorit mereka dulu dan membeli masing-masing kesukaannya.
"Kau masih suka Latte?" Tanya Aldi memiringkan kepalanya.
"Dan kau masih suka Moccacino?" Tanya Avril tanpa menjawab pertanyaan Aldi.
"Selalu. Dan akan selalu Avil." Jawab Aldi dengan wajah serius membuat Avril terdiam.
Dilanjutkan keduanya pergi ke taman dan berjalan menyusuri jalanan kecil yang mengelilingi taman. Kini terlihat ada sebuah jarak yang tercipta diantara keduanya. Terlintas mereka mengingat momen-momen yang mereka pikir itu akan menjadi kenangan yang indah jika dikenang berdua. Siapa sangka, saat ini sangat menyesakkan bagi keduanya ketika mengingat kembali masa-masa itu.
"Tamannya sedikit berubah ya?" Tanya Aldi memecah kecanggungan.
"Karena kau pergi terlalu lama Al." Jawab Avril dengan nada pelan.
"Kau ingat tidak? Saat disini, kau selalu ingin dibelikan permen kapas. Tapi sekarang penjualnya tak ada." Aldi tertawa kecil mengingat kejadian itu. Avril hanya tersenyum tipis mencoba menghilangkan perasaan yang kini muncul kembali bersama dengan kenangan itu.
"Kita sering menghabiskan waktu disini sambil menghabiskan permen kapas milikmu." Ucap Alvi lagi sambil menunjuk bangku berwarna merah. Lagi-lagi Avril hanya tersenyum tipis menanggapi Aldi.
"Avil... jika seandainya kita masih bersama apa semua mimpi buruk ini hanya sekedar mimpi buruk?" Tanya Aldi memecah lamunan Avril.
"Al... aku ingin pulang. Aku khawatir pada Alvi." Ucap Avril seakan tak mempedulikan Aldi.
Aldi menjadi kembali dingin, sorot matanya menjadi tajam, bahkan deru nafasnya menjadi sesak.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil dan Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Al... sebaiknya kita lupakan perasaan kita. Karena semua sudah jelas, dengan jalannya seperti ini, kita memang tak di takdirkan bersama Al.." ucap Avril memberanikan diri meskipun hatinya gelisah dengan Aldi yang mungkin akan tiba-tiba marah. Namun Aldi tetap diam, hanya kecepatan mobilnya saja yang semakin bertambah cepat. Avril menyadari bahwa Aldi tengah kesal.
"Al... kau marah?" Aldi masih diam tak menjawab. Avril mulai ketakutan dengan diam Aldi. Apa lagi saat mobil dengan cepat menyalip mobil bahkan tak jarang hampir bertabrakan dari arah berlawanan.
"Al... aku takut. Hati-hati." Teriak Avril yang lagi-lagi tak ditanggapi oleh Aldi. Tubuh Avril sudah gemetar ketakutan. Nafasnya tersenggal dan tak bisa menghentikan Aldi.
Saat mobil hampir kembali menabrak mobil lain, Avril menutup matanya dengan rasa takut yang tak bisa ditepis.
"Aldi......" teriak Avril yang sudah berlinang air mata.
"Hentikan mobilnya Al. Atau kita akan mati. Hentikan kegilaanmu ini Al." Lagi-lagi Avril berteriak ketakutan.
Terlihat Aldi menyeringai menanggapi ocehan Avril.
"Aku gila? Hahah iya aku gila Avil. Aku mencintaimu dengan segenap hati, namun kenapa kau malah memilih Alvi yang jelas sudah di jodohkan dengan kakakku. Jika saja kau tak menerima Alvi, mungkin kakak dan ayahku masih ada. Ini semua gara-gara kau. Dasar wanita sial." Avril semakin menghimpit ke pintu dengan tangan mencengkram sabuk pengaman.
"Jika aku tak bisa memilikimu, maka siapapun juga tak boleh memilikimu. Karena kau kakak dan ayahku mati. Jadi sekarang mengapa kita berdua tak mati saja? Aku sudah lelah hidup seperti ini. Aku lelah Avil. Aku lelah melihatmu bahagia dengan Alvi." Kini Aldi yang berteriak frustasi. Tiba-tiba mobil terhenti ditepi jalan. Avril menoleh pada Aldi yang terlihat menahan amarah.
"Al.." lirih Avril.
"Avil... apa kau pernah sedikit saja memikirkan perasaanku? Sejujurnya aku belum mencintai Syifa sepenuhnya. Semakin aku mencoba melupakanmu dan beralih mencintai Syifa, justru bayanganmu semakin jelas muncul dibenakku Avil." Ucap Aldi semakin frustasi. Avril menunduk tak berani menyela.
"Avil... katakan padaku bahwa kau tak pernah benar-benar mencintai Alvi. Kau tak pernah serius memilihnya dan berpaling dariku kan?" Aldi meraih Avril yang mulai ketakutan karenanya.
"Tatap mataku Avil. Jujurlah kita masih punya kesempatan untuk bersama." Avril semakin gemetar, tubuhnya lemas melihat Aldi yang memperlihatkan kemarahannya. Kata-katanya masih terngiang-ngiang dan cukup untuk menyayat hatinya. Avril tak menyangka bahwa Aldi bisa memakinya seperti itu tanpa ragu.
"Avil. Jawab aku." Kembali Aldi berteriak dengan mencengkram bahu Avril dengan keras.
"Al... maafkan aku." Lirih Avril menyadarkan Aldi dari hal bodoh yang membuatnya buta dengan kenyataan. Bahkan Aldi membawa Avril dalam bahaya.
"Avil... ma-maaf." Aldi melepaskan cengkramannya lalu mengusap wajahnya kasar.
Seseorang membuka kasar pintu mobil dan meraih Avril lalu mendekapnya.
"Sudah cukup Al." Ucap Reno dengan dingin kemudian menggendong Avril yang lemas karena gemetar.
__ADS_1
-bersambung