Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
35


__ADS_3

. Alvi membuka matanya perlahan, mendapati ruangan berwarna putih dan aroma obat khas rumah sakit. Di sampingnya sudah berdiri Ray dan pak Yusuf.


Alvi mencoba bangkit dari tidurnya, dengan sigap Ray membantu Alvi bersandar.


"Tuan muda jangan memaksakan diri." Ucap Pak Yusuf sopan.


"Aku hanya pusing saja pak."


"Sebaiknya tuan muda beristirahat lebih."


"Maaf jika Alvi masih merepotkan."


"Tidak tuan. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya."


"Sebentar lagi pak Hendar akan sampai tuan." Timpal Ray.


Alvi hanya terdiam dengan raut wajah yang semakin dingin.


"Kau tahu sesuatu tentang Avril Ray?" Tanya Alvi tiba-tiba.


"Eh? Emm.. itu... sa-saya..."


"Mengapa kau tak mengatakannya?"


"Sa-saya tidak tahu harus memberitahu tuan dengan cara apa."


"Apa maksudmu?" Alvi melirik tajam mengintimidasi Ray.


"Me-mengingat tuan yang menolak membahas tentang nona, ja-jadi saya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya." Jelas Ray dengan keringat dingin di pelipisnya.


Memang benar, Alvi selalu menghindari topik pembicaraan jika menyangkut tentang Avril.


"Kau tau dimana Avril?"


"Tepat disebelah ruangan tuan." Tanpa pikir panjang, Alvi turun dari ranjang, dan mencoba melepas infusannya.


"Apa yang kau lakukan sialan?" Suara Noah tiba-tiba mengejutkannya.


"Ah.. sial. Aku ketahuan!" Umpat Alvi pada diri sendiri.


"Mau kemana kau?" Tanya Noah lagi sambil mendekati Alvi.


"Jangan bilang kau akan ke kamar sebelah? Tak akan kubiarkan Alvi. Avril harus beristirahat. Kau jangan mengganggunya." Lanjut Noah yang kini tepat dihadapan Alvi.


"Apa melihat wajahnya saja termasuk mengganggunya? Apa kau mau menyaksikan aku mati karena merindukan Avril?"


"Tak perlu berlebihan Alvi. Rindu tidak akan membuat orang mati."


"Tapi aku sudah mau mati."


"Ku bilang jangan berlebihan.! Aku serius, Avril harus banyak beristirahat. Tekanan darahnya sangat rendah. Panasnya tidak turun, dan..."


"Dan?"


"Luka di hatinya semakin parah."


"Dan harusnya kau membiarkanku menemuinya."


"Tidak Alvi."


"Kau keras kepala Noah."


"Kau yang lebih keras sialan."


Namun meski begitu, Noah tetap mengantarkan Alvi menemui Avril.


Saat memasuki ruangan, ada sebuah rasa penyesalan yang kembali menyesakkan nafasnya. Melihat Avril yang terlelap dan kondisi yang lebih parah darinya.


"Kupikir kau akan baik-baik saja tanpa aku." Ucap Alvi pelan.


Melihat Avril yang seperti ini, Alvi tak menghiraukan rasa sakit di kepalanya.


"Mengapa kau kesini?" Tanya ayah tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Ayah... maafkan aku." Ayah menyernyit, bertanya-tanya ada apa dengan Alvi. Namun ayah meraih pundak Alvi dan mengusapnya.


"Menangislah nak. Ayah mengerti perasaanmu."


"Aku terlalu tua untuk menangis ayah."


"Tapi kau masih terlalu dini untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Kita memang dipaksa kuat oleh keadaan, tapi tidak salah jika kau ingin sekedar mengeluh atau menangis karena keadaan itu sendiri." Timpal Galih yang ikut merangkul pundak Alvi.


"Maaf Galih..." Alvi semakin dalam menatap Avril yang masih terlelap.


"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu nak." Bujuk ayah.


"Aku ingin sedikit lebih lama lagi disini. Boleh kan?" Ayah terdiam, lalu tersenyum mengiyakan permintaan menantunya itu.


Alvi berjalan dan meraih dahi Avril. Panas. Bahkan lebih panas darinya. Terlihat dahi Avril menyernyit dan sedikit merasa tak nyaman.


"Inikah alasan kenapa kau tak menemuiku?" Tanya Alvi yang entah itu pada Avril atau pada diri sendiri.


"Al-vi..." gumam Avril namun masih terdengar oleh Alvi sendiri.


"Avril..." lirih Alvi kemudian menggenggam tangan Avril. Bukan karena Avril anak manja yang terus tertidur sepanjang hari, namun yang dirasakannya memang sulit untuk sekedar membuka mata. Ketika dirinya mencoba membuka mata, terlihat langit-langit ruangan seakan berputar. Avril memejamkan kembali mata sayu nya.


Avril merasa bahwa kini ada sebuah tangan yang menggenggam jemarinya. Avril memaksakan membuka mata, dirinya sangat mengenali siapa pria yang berdiri disampingnya dengan pakaian pasien.


Dengan susah payah, Avril memalingkan wajahnya kearah lain, dan menarik tangan yang digenggam Alvi.


Perlahan terdengar isak kecil, hal itu cukup untuk Alvi mengerti betapa terlukanya Avril karena dirinya.


"Kau marah?" Tanya Alvi yang tak dijawab oleh Avril.

__ADS_1


"Maaf." Lirih Alvi benar-benar tulus.


"Bisakah kalian membiarkanku tidur?" Ucap Avril pelan.


Satu persatu beranjak meninggalkan ruangan. Yang tersisa kini hanya Alvi saja yang masih tak bergeming sedikitpun.


"Kau tak dengar?" Kini suara Avril sedikit meninggi.


"Aku ingin denganmu." Ucap Alvi.


"Aku ingin sendiri."


"Tidak. Aku tahu kau ingin aku ada disini."


"Jangankan kau ada disini, mendengar namamu saja aku sudah malas." Lirih Avril kini terdengar tenang.


"Apa kau pikir aku tak mendengar saat kau memanggil namaku dalam tidurmu?" Avril terdiam dan enggan menoleh kearah Alvi.


"Katakan saja Avril.. katakan bahwa kau juga tak bisa jika tanpaku."


"Aku baik-baik saja tanpamu. Yang aku panggil tadi bukan namamu. Tapi Aldi." Tegas Avril yang tanpa diketahui Alvi, ada sebuah bulir bening yang terjatuh melewati pelipis Avril yang tak terlihat olehnya.


"Lalu apa artinya kondisimu yang seperti ini? Bukankah kau sakit karena aku?"


"Tidak. Aku sakit karena kelelahan. Ini tidak ada hubungannya denganmu."


"Ohhh... ya baiklah. Maaf jika aku merasa percaya diri dan berpikir kau sangat menginginkanku. Padahal kenyataannya kau masih mencintai Aldian." Raut wajah Alvi tak bisa dikendalikan lagi, rasa kecewanya mulai merasuki hatinya.


"Saat hari pertunanganku dengan Amel, kuharap kau datang Avril. Itupun jika kau tak mencintaiku. Tapi, jika kau mencintaiku, lebih baik katakan sekarang sebelum hari itu tiba."


Namun lagi-lagi Avril hanya terdiam. Entah jawaban apa yang bisa ditebak oleh Alvi. Alvi mendekat, lalu memberi kecupan hangat di kening Avril. Avril merasakan hembusan nafas Alvi, dan terkejut ketika setetes air ikut terjatuh di keningnya.


Tanpa berbicara, Alvi kemudian berlalu meninggalkan Avril, dan kini kepergiannya tak ditarik atau pun ditahan oleh Avril.


Avril terbangun saat pintu tertutup.


"Dia menangis? Kenapa? Apa dia begitu tulus?" Gumam Avril menatap datar pintu putih yang kini dibuka oleh Nadia.


Nadia menghampiri Avril yang menyernyit menahan sakit kepala yang membuat penglihatannya seakan-akan berputar.


"Aku mencintainya..." pecah lagi tangis Avril dipelukan Nadia.


"Sudah... aku tahu. Kita semua juga tahu." Nadia mengelus lembut rambut dan bahu Avril.


"Lalu kenapa? Apa ibu dan Aldi saja tidak cukup untuk membuatku sehancur itu?"


"Jangan bicara seperti itu. Percayalah. Kakak tahu Alvi tak akan mengkhianatimu dengan mudah."


"Tapi kenyataannya dia juga meninggalkanku."


"Sudah Avril... jangan diteruskan. Nanti kau pingsan lagi."


"Aku ingin pulang."


. Alvian hanya terdiam ketika kembali ke kamarnya, dan kini sudah ada keluarga Damian disana.


"Sangat kebetulan sekali kau sakit bersamaan dengan Avril. Bahkan kamar kalian berdampingan. Kau sudah bertemu dengannya?"


"Cih... bukan urusanmu."


"Jadi kau tak mau menemuinya? Hemmm ya sudah. Biar aku saja sendiri." Damian melangkah menuju pintu.


"Jangan pernah berani menyentuhnya."


"Hei sepupu. Mengapa kau begitu menakutkan? Kau akan menikah dengan gadis lain."


"Sudah hentikan. Kalian ini kenapa?" Demira melerai dengan penuh kesal.


"Kak Dami sebaiknya diam. Jangan memperkeruh suasana." Lanjut Demira menatap tajam mata Damian yang berlalu dibalik pintu.


Demira merasa gelisah jika Damian benar-benar mengganggu Avril.


Demira bergegas mengikuti Damian secara diam-diam.


Dibukanya pintu ruangan yang Avril tempati, tanpa suara, sehingga orang yang berada didalam seakan tak menyadari kedatangannya.


"Apa yang kau inginkan akan aku berikan dik. Asal kau tak menghalangi perjodohan Alvi."


"Kau pikir aku wanita seperti apa kak?"


"Baguslah jika kau mengerti. Katakan saja kau mau apa. Aku akan memberikannya untukmu."


"Tidak perlu."


Demira merasa geram mendengar percakapan sang kakak dan sahabatnya.


Damian berbalik dan mendapati Demira dengan sorot mata yang seakan menahan amarah. Damian melempar senyumnya pada adik tersayangnya itu, namun 'plak' tamparan keras mendarat dipipi Damian.


"Sejak kapan kau menjadi bajingan seperti ini?"


Namun sorot mata Damian menjadi sayu. Memang dirinya tak ingin jika harus berkata seperti itu pada Avril.


"Sebaiknya kau kembali saja ke London kak! Aku tak ingin melihat Avil tertekan karena dirimu." Ucap Demira berlalu menghampiri Avril. Dan Damian berlalu keluar dari ruangan.


"Maafkan kakakku. Dia memang brengsek. Kau tahu kan?" Avril mengangguk tersenyum mendengar Demira.


"Kapan kau akan kembali?" Tanya Avril saat Demira memeluknya.


"Emmmm.... 3 hari lagi. Karena ada jadwal kuliah. Jadi... maafkan aku harus meninggalkanmu lagi disaat kondisimu sedang seperti ini." Ucap Demira memasang wajah menyesal.


"Apa aku boleh ikut denganmu?" Tanya Avril membuat Demira melepas pelukannya, dan Nadia beranjak dari duduknya.


"Apa maksudnya Avril." Nadia dengan kesal menatap adik iparnya.

__ADS_1


"Kak.. kau tahu betul perasaanku." Ucap Avril memasang senyuman untuk menutupi kesedihannya.


"Hentikan senyum itu. Aku muak melihatnya Avril." Ucap Demira.


"Jadi kau ingin menghindari acara itu?" Tanya Nadia. Kembali Avril tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.


"A-aku hanya ingin liburan kak."


"Libur semestermu masih lama Avril. Jangan coba bermain-main denganku. Sebesar apapun masalah, kau harus bisa hadapi. Jangan menghindarinya seperti ini."


"Kakak mudah berbicara, karena kakak tidak mengalaminya kan?"


'Plak' panas... wajahnya berpaling secara paksa karena tamparan itu.


"Jaga bicaramu." Tegas Galih menatap tajam pada Avril. Terasa memang aura kemarahannya menjalar di seluruh ruangan. Avril mengusap pipi yang terasa panas dan sedikit perih.


"Apa kau mau bilang lagi bahwa tamparan ku tak ada apa-apanya? Kau anak ibu. Tapi kenapa sikapmu tak ada sedikitpun yang seperti ibu."


"Kau juga sama. Kau anak ayah tapi kau tak seperti ayah."


"Dari mana kau belajar menjawab seperti itu?"


"Kau yang mengajariku."


"Aku tak ingat aku pernah mengajarimu seperti itu."


"Sudah hentikan. Ada apa dengan kalian?" Nadia melerai dengan kesal.


"Avril.... jangan aneh-aneh. Aku tak suka kau seperti ini." Lanjut Nadia masih memasang wajah kesal kemudian melangkah menuju pintu.


"Mau kemana kau?" Nadia terhenti mendengar suara Galih yang begitu menekan.


"Aku mau menjenguk temanku wahai suamiku." Jawab Nadia.


"Ohh... jadi kau berani masuk kamar pria lain, sedangkan suamimu sendiri kau tinggalkan disini?" Sindir Galih dengan angkuh. Nadia hanya tertawa menanggapi sikap Galih. Nadia keluar dari ruangan dan beralih memasuki ruangan yang ditempati Alvi.


Nadia merasa canggung ketika memasuki ruangan yang masih ada orang tua Damian.


"Om, tante.." sapa Nadia menunduk sopan.


"Kamu teman Amel kan?" Tanya Salma sedikit mengingat.


"Iya tante.. saya teman Amel dan Alvi."


"Dan kebetulan dia istriku juga." Timpal Galih yang tiba-tiba sudah berada didalam ruangan.


"Hei sobat. Kupikir kau melanjutkan menangis?" Sindir Galih dengan senyum mengejek. Alvi hanya mendelik kesal.


"Mau apa kau kesini?" Tanya Alvi kembali melirik tajam pada Galih.


"Hei... apa salahnya jika aku ingin menjenguk adik iparku? Sepertinya istriku sangat mengkhawatirkanmu adik. Ah... maaf aku salah. Jadi, apa aku harus senang atau bersedih melihatmu dengan adik kesayanganku berpisah?" Galih melontarkan kekesalannya yang entah itu pada Alvi atau pada Orang tua Damian.


"Galih.! Apa yang kau bicarakan?" Bisik Nadia.


"Apa? Aku berkata yang sebenarnya kan?"


"Galih..." belum sempat melanjutkan, Galih dengan cepat menyela sebelum Hendar berbicara.


"Maaf paman. Aku sudah berbicara lancang. Apa paman marah? Ku harap tidak. Aku hanya becanda. Dan aku harap pengkhianatan Alvi pada adikku juga hanya becanda. Kau tidak benar-benar meninggalkan adikku kan?" Alvi terdiam. Sorot matanya menjadi semakin tajam, namun masih datar dan dingin.


"Galih." Nadia merasa gelisah dan tak enak hati dengan kedua orang tua Damian.


"Aku hanya becanda Nadia... lagipula Alvi tak tersinggung." Delik Galih kemudian kembali berlalu keluar dari ruangan, meninggalkan Nadia yang sangat terlihat canggung.


"Maafkan Galih. Aku.."


"Sudahlah Nad. Galih benar." Ucap Alvi melempar senyum tulusnya.


"Ah... Nadia.. tolong jaga harta karunku yang itu. Aku mempercayakannya padamu. Nanti setelah urusanku selesai, aku akan membawanya kembali." Ucap Alvi sambil mengedipkan matanya sebelah.


Semula Nadia terdiam berfikir hata karun apa yang dimaksud Alvi. Namun seketika Nadia mengerti lalu tersenyum.


"aku tak yakin kau akan membawanya lagi Al. Aku lebih yakin kalau kau akan lupa. Dan malah ada yang membawanya lebih dulu dari pada kau." Ejek Nadia yang jelas membuat kedua orang tua Damian tak mengerti.


"Hei... kau jangan seperti itu. Itu sangat berharga bagiku."


"Benarkah? Kita lihat saja nanti."


Nadia kemudian berlalu meninggalkan ruangan Alvi.


***


. Sudah dua hari, Avril masih harus berteman dengan obat dan infusan dirumah sakit. Sedangkan Alvi sudah terbebas dari siksaan Noah.


Kini Alvi berada dirumahnya, tanpa berpamitan, bahkan tanpa bertemu dengan Avril.


Keluarga Adam pun ada disana. Lagi-lagi yang menjadi topik pembicaraan adalah pertunangan Alvi dan Amel.


"Aku baru pulang. Bisakah kalian tidak membahas itu?" Alvi dengan malas berjalan menuju kamarnya.


"Ada apa denganmu? Harusnya kau mempersiapkan diri untuk acara besok malam." Ucap Hendar.


"Emangnya ada apa besok malam?" Delik Alvi dengan sorot mata yang sangat malas.


"Pertunangan kalian." Seketika Alvi terbelalak mendengar apa yang baru saja ia dengar.


"Apa maksud paman?"


"Acaranya dipercepat." Jawab Hendar singkat.


Dengan marah Alvi berlalu keluar rumah, dan melajukan mobilnya dan tak mempedulikan panggilan pamannya. Amel hanya menunduk lesu menyaksikan kepergian Alvi.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2