Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
71


__ADS_3

. Aldi terdiam dengan tenang seakan sudah tahu bahwa Galih atau Alvi akan menemuinya dengan marah seperti ini.


"Ada apa Galih?" Tanya Dewi menghampiri setelah mendengar ada keributan.


"Aldi hampir membawa Avril dalam bahaya tante. Dan aku tak tahu apa yang tengah dipikirkan Aldi sekarang. Tapi jika kau ingin mati, matilah sendiri." Galih menunjuk wajah Aldi dengan amarah yang meluap.


"Kak... sadar. Apa yang kakak bicarakan?" Bagas mencoba melerai amarah Galih.


"Diam kau Bagas. Bukankah kau juga melihatnya? Mobilmu tak jauh dari mobilnya kan?" Galih beralih menatap tajam pada Bagas.


"Ka-kakak tahu dari mana?" Bagas terkejut dan mendadak menciut.


"Kau pikir aku siapa?" Galih semakin dekat pada Bagas.


"A-ampun kak. Aku tidak melakukan apa-apa. Nih... Aldi yang tadi membawa Avil.. hihi" Bagas mendorong Aldi dengan tawa kikuknya.


"Kau menyalahkanku?" Aldi melirik sinis pada Bagas dibelakangnya.


"Hei itu fakta. Kau ugal-ugalan dan beberapa kali hampir tabrakan kan? Hayoo mengaku saja kau." Bagas kembali mendorong tubuh Aldi kehadapan Galih. Aldi menghela nafas panjang dengan santai.


"Maaf kak. Aku sedang kacau." Ucap Aldi pelan dengan memalingkan wajahnya.


"Jadi benar Al? Kau membawa Avril ugal-ugalan? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kalian?" Dewi meraih Aldi dengan wajah khawatir dan mata berkaca-kaca.


Semula Galih ingin melampiaskan amarahnya pada Aldi, setidaknya melancarkan satu atau dua pukulan diwajah dan perutnya. Tapi melihat Dewi yang sangat panik, Galih merasa tersentuh karena tak semua anak beruntung masih bisa dikhawatirkan oleh sosok seorang ibu. Galih membalikan badannya seakan tak kuasa menahan haru melihat Aldi dan ibunya.


"Aku peringatkan sekali lagi untuk tidak mendekati adikku. Itupun jika kau ingin keluarga dan perusahaanmu selamat." Galih berlalu dengan tanpa diketahui sebuah bulir bening menetes begitu saja dari kelopak matanya.


Nadia yang menyadari, menyernyit heran dari dalam mobil.


"Kau menangis?" Tanya Nadia ketika Galih sudah berada disampingnya. Galih kemudian memeluk Nadia dengan erat.


"Berjanjilah kau akan selalu hidup untukku dan anak kita." Ucap Galih tak bisa menahan tangisnya.


"Kau kenapa? Tadi marah-marah pada Aldi, sekarang menangis. Apa Aldi memukulmu?" Nadia menepuk punggung Galih dengan lembut.


"Aku merindukan mama."


"Aihh... anak mama ya?" Ejek Nadia mengelus kepala Galih dengan tawa kecil.


"Jangan mengejekku."


"Iya iya maaf..." Galih melepas pelukannya dan beralih kembali mengemudi, dan meninggalkan kediaman Aldi.


"Al... jangan diambil hati. Mungkin kak Galih sedang khawatir saja pada Avil." Bagas menepuk punggung Aldi dengan niat menenangkan.


"Wajar saja jika memang kak Galih membenciku Gas." Lirih Aldi dengan berlalu meninggalkan Bagas dan Dewi.


"Ma... apa aku menginap saja?" Tanya Bagas yang menatap khawatir pada Aldi.


"Terima kasih Bagas... kamu sudah banyak membantu." Dewi melempar senyum pada Bagas, kemudian ikut menoleh kearah kamar Aldi.


"Oh iya... mengenai perjodohan antara Aldi dan Syifa, apa akan dilanjutkan?"


"Entahlah Bagas. Mama tak tahu. Mama serahkan saja pada keputusan Aldi."


Seperti biasa, malamnya diruang keluarga, Avril dan Alvi sibuk dengan laptopnya masing-masing. Yang satu sibuk untuk mencari bahan skripsi, dan yang satu sibuk dengan proyek penting yang sempat dipending karena insiden kecelakaan.


"Tuan.. nona.. makanan sudah siap." Ucap Siska dengan sopan. Keduanya menoleh bersamaan pada Siska yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Baiklah." Avril beranjak dan meraih tangan Alvi kemudian menariknya menuju ruang makan.


"Sayang... aku masih sibuk." Ucap Alvi sedikit merengek.


"Makan dulu. Nanti dilanjut lagi." Avril tak ingin kalah dan masih menarik tangan Alvi. Alvi terhenti tiba-tiba membuat Avril berbalik dan wajahnya menabrak mengenai dada Alvi.


"Ehhh.... belum sah sudah menggodaku?" Bisik Alvi langsung ke telinga Avril.


"Eh... kau yang salah sialan" teriak Avril memukul lengan Alvi dengan wajah yang gugup dan memerah.


"Aduh...." Alvi meringis meraih tangannya yang dipukul Avril.


"Jangan pura-pura Alvi. Pukulanku tidak keras, dan tak akan sakit." Avril memangku tangan memalingkan wajahnya kesal.


"Hemmm benarkah? Sini aku coba." Alvi mengangkat tangannya seakan ingin memukul Avril. Avril menutup matanya dengan refleks melihat Alvi yang bersiap memukulnya. Namun Avril terkejut dan membuka matanya lebar-lebar saat Alvi mengecup keningnya dan mengelus rambutnya dengan lembut.


"Tak mungkin aku menyakiti wanita kesayanganku" ucap Alvi tersenyum begitu manis lalu beralih menarik tangan Avril. Siska mematung menyaksikan adegan romantis didepan matanya.


"Seperti sedang nonton film romantis." Gumam Siska menatap kepergian Alvi dan Avril. Hatinya mendadak berbunga-bunga terbawa perasaan romantisnya pasangan muda itu. Siska tersenyum sendiri dan masih terdiam di tempatnya. Dina menepuk pundak Siska dan berhasil mengejutkannya.


"Sedang apa Sis? Kok senyum-senyum?" Tanya Dina penuh curiga.


"Aku baper mbak."


"Baper?"


"Iya. Tadi aku lihat tuan mencium nona dengan romantis." Ucap Siska dengan ekspresi gemas sendiri. Dina berlalu meninggalkan Siska yang masih girang membayangkan Alvi dan Avril.


"Ehh mbak Dina mau kemana?" Siska berlari mengejar Dina yang menyusul Alvi dan Avril.


"Mbak Dina cemburu?" Gumam Siska masih mengikuti Dina dari belakang. Kembali Siska mendapati momen menggemaskan yang pasti membuat iri orang lain.


"Memang benar. Tuan sangat manis pada nona. Bahkan aku sendiri menampik fakta bahwa tuan begitu dingin dan kadang di anggap tak punya perasaan." Gumam Siska tersenyum tipis sambil membuatkan minuman untuk Avril.


"Kamu kenapa Sis?" Tanya bu Rumi yang heran dengan sikap Siska.

__ADS_1


"Oh.... tidak bu..." jawab Siska kembali melempar senyum.


Ketika Dina memberikan minuman untuk Alvi, Alvi dengan sengaja menyuapi Avril.


"Aku punya sendiri Al..."


"Coba yang ini." Ucap Alvi masih menggantungkan sendok berisi makanan di depan Avril. Meskipun heran karena makanannya sama saja, Avril dengan menurut melahap makanan dari Alvi. Avril semakin heran ketika Alvi mengusap bibirnya yang menurutnya tak belepotan sama sekali. Kemudian Avril menyadari maksud Alvi mendadak bersikap seperti itu. Ternyata Alvi hanya ingin menunjukan sekali lagi bahwa dirinya hanya milik Avril.


"Jadi, tanggal berapa kita menikah?" Tanya Alvi tiba-tiba membuat Avril tersedak. Alvi memberikan minumannya pada Avril yang tak henti terbatuk. Avril tahu disana ada air putih untuk sekedar meredakan batuknya. Tapi sepertinya Alvi sengaja memberikan minumannya untuk Avril.


"Nona... maaf ini minuman nona." Ucap Siska meletakkan gelas dengan jus jeruk di dekat Avril.


"Tak apa Siska..." Avril melempar senyuman pada Siska. Alvi tertawa melihat Avril yang meliriknya dengan tajam.


"Tertawa saja sepuasmu." Avril mendelik kemudian melanjutkan makannya dengan tanpa menoleh pada Alvi. Dina dan Siska kembali berlalu dengan senyum tipis melihat Avril yang berani memarahi Alvi. Mungkin memang hanya Avril satu-satunya wanita yang berani memarahi Alvi dan Alvi pun tak marah atau kesal pada Avril.


"Jadi?" Tanya Alvi lagi dengan nada ejekan.


"Diam Alvi. Aku sedang makan."


"Memang siapa bilang sedang mandi?"


"Alvi... aku tak becanda. Nanti saja membahas itu."


"Kapan?"


"Tahun depan."


"Nikahnya?"


"Membahasnya." Avril tersenyum puas melihat Alvi yang kesal karenanya.


"Aihh... masih lama Avril...."


"Lalu?"


"Besok saja."


"Apanya?"


"Nikahnya."


"Ya sudah." Alvi terdiam menatap lekat pada Avril lalu meraih tangannya.


"Kau serius?" Tanya Alvi kemudian.


"Apa?" Avril menyernyit seolah tak mengerti dengan maksud Alvi.


"Yang baru kau katakan." Alvi berdecak kesal.


"Ish... Avril... cukup becandanya." Alvi kembali mendelik dan berdecak kesal.


"Memang siapa yang becanda sayang?"


"Avril...."


"Apa lagi?" Kini senyum Avril kian mengembang melihat Alvi yang semakin kesal.


"Sudahlah lupakan." Alvi berpaling dan melepaskan genggamannya dari tangan Avril.


"Alvi.... aku memang menerimamu sebagai suamiku nanti. Tapi bukan berarti besok dengan tanpa persiapan kita akan langsung menikah. Menikah itu bukan lelucon Al... jadi kuharap kau mengerti. Lagi pula, aku sendiri sedang sibuk dengan skripsi ku." Namun Alvi enggan menoleh kembali pada Avril.


"Ihhh kau merajuk?" Ejek Avril memasang wajah menggemaskannya.


"Jangan menggodaku Avril." Alvi hanya melirik sedikit lalu kembali menoleh menghindari kontak mata dengan Avril.


"Sial. Dia benar-benar menggemaskan." Gumam Alvi kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


Avril tertawa kecil melihat tingkah Alvi yang menahan dirinya untuk tidak menoleh padanya.


"Alvi....." panggil Avril dengan manja.


"Ish.... jangan menggodaku." Alvi tetap tak memalingkan pandangannya.


"Ehhh siapa yang menggodamu sayang." Goda Avril dengan nada ejekan membuat Alvi menoleh padanya lalu mengecup bibirnya.


"Jangan menggodaku." Ucap Alvi kemudian beranjak meninggalkan Avril sendiri di meja makan. Avril menyernyit heran dengan sikap Alvi yang menurutnya mendadak aneh.


"Alvi.. habiskan makananmu." Teriak Avril saat menyadari makanan Alvi masih tersisa.


"Habiskan saja. Aku sudah kenyang." Alvi tak kalah berteriak menjawab teriakan Avril.


"Ishhhh ada apa dengan dia?" Avril ikut beranjak dan menyusul Alvi keruang tengah.


Avril berdiri didekat Alvi yang bersandar pada sofa dengan mata tertutup.


"Al.. kau kenapa?" Tanya Avril dengan gelisah membuat Alvi membuka matanya lalu menatap pada Avril tanpa merubah posisinya.


"Al.... jangan membuatku khawatir." Rengek Avril semakin panik.


"Kenapa kau begitu panik? Aku baik-baik saja."


"Tidak. Sikapmu menunjukan kau sedang tidak baik-baik saja." Ucap Avril menatap tajam pada Alvi. Alvi hanya kembali memejamkan matanya tanpa menanggapi ocehan Avril.


"Al..." Avril menepuk pipi Alvi sedikit keras.

__ADS_1


"Apa?" Alvi kembali membuka mata lalu duduk dengan sedikit menunduk dan tangan yang menopang dahinya.


"Apa ada masalah?" Tanya Avril yang duduk disamping Alvi dan meraih tangan Alvi lalu menggenggamnya. Alvi mengangguk menanggapi pertanyaan Avril.


"Masalah apa? Cerita saja."


"Kau lah masalahnya." 'Deg' jantung Avril tiba-tiba berdegup sangat keras. Beberapa saat yang lalu mereka masih becanda, mengapa sekarang Alvi berkata bahwa Avril adalah sebuah masalah.


"Bisakah kau menjauh dariku?" Avril menggeser menjauhi Alvi tanpa menanggapi pertanyaan Alvi.


"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Avril lagi.


"Tidak.." Avril terkejut dengan jawaban singkat itu. Dirinya tak melakukan kesalahan apapun tapi Alvi menganggapnya sebuah masalah.


"Kau membenciku?" Tanya Avril kini dengan nada tinggi.


"Tidak Avril.. bukan begitu."


"Lalu apa?"


"Ishhhh Avril... aku lelaki normal. Kau terus menggodaku seperti tadi, apa kau tak berpikir akan menimbulkan masalah? Aku berjanji padamu akan menjagamu dan nama baik keluargamu. Tapi tetap saja, aku yang tak tahan dengan sikapmu yang seperti tadi."


"Tapi aku tak melakukan apa-apa Al." Avril berdecak kesal sekaligus heran dengan yang Alvi katakan.


"Maaf Avril... tapi sebaiknya kau pulang." Avril beranjak dari duduknya mendengar pengusiran dari Alvi.


"Kau ini kenapa Al... kau yang memintaku menginap disini. Dan sekarang kau yang mengusirku."


"Aku tak mengusirmu... Ray akan mengantarmu pulang." Alvi ikut beranjak dan berjalan pelan menuju kamarnya.


Avril masih terdiam ditempatnya dengan menatap datar kepergian Alvi yang mengunci diri dikamar.


"Apa dia sakit?" Avril terus menerka-nerka sambil menunggu Ray menjemputnya.


"Nona..." panggil Siska yang menghampiri Avril.


"Siska... ibu mana?" Tanya Avril yang menoleh kearah dapur.


"Ibu dirumah belakang non... mau saya panggilkan?" Avril mengangguk menanggapi tawaran Siska.


Tak lama berselang setelah Siska berlalu, Siska kembali dengan bu Rumi dibelakangnya.


"Bu...." rengek Avril meraih lengan bu Rumi dengan manja.


"Ada apa?" Tanya bu Rumi dengan sedikit khawatir.


"Alvi...."


"Kalian bertengkar?" Tanya bu Rumi langsung tanpa berpikir.


"Tidak."


"Lalu?"


"Tak tahu. Aku khawatir bu. Jika dia sakit sampaikan maafku tak bisa merawatnya." Avril menatap sayu pada bu Rumi.


"Nona berbicara seakan nona akan pergi." Ucap Siska menimpali obrolan.


"Aku pulang Sis."


"Mengapa pulang nona? Bukankah nona bilang akan menginap malam ini?"


"Alvi yang menyuruhku pulang." Siska terlihat terkejut mendapati jawaban dari Avril.


"Mengapa tuan yang... ihh nona..." rengek Siska dengan berkaca-kaca.


"Jangan menangis Siska..."


"Tapi Siska masih merindukan nona."


"Aku juga masih merindukanmu." Avril memeluk Siska dengan erat.


"Kalian ini seperti akan berpisah jauh saja." Ucap bu Rumi ditanggapi senyuman oleh Avril.


Tak lama kemudian, Ray memasuki rumah dan menunduk sopan pada Avril.


"Ayo nona." Avril mengangguk kemudian mengikuti Ray dari belakang menuju mobil. Avril menoleh sejenak pada Siska dan bu Rumi yang mengantarnya sampai depan teras.


Avril kemudian menggembungkan pipinya ketika melihat Alvi melambaikan tangan dan melempar senyuman dengan bersandar diambang pintu.


"Hati-hati. Aku akan merindukanmu malam ini." Begitulah isi pesan yang Alvi kirim untuk Avril.


Avril menepuk dahinya kemudian berlari kembali kerumah. Alvi terkejut melihat Avril yang semakin dekat kearahnya.


"Jangan-- eh...." Alvi mendadak membisu saat Avril berlari melewatinya. Dilihatnya, Avril mengambil flashdisk dari laptop Alvi.


"Huh... hampir saja lupa." Avril menghela nafas lega dengan mengelus dadanya pelan. Alvi pikir, Avril kembali untuk memeluknya, tapi ternyata untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Alvi menggaruk kepalanya dengan tersenyum kikuk.


Kemudian Avril kembali melewati Alvi dengan sengaja menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya.


"Pesanku tak dibalas nona?" Teriak Alvi saat Avril hendak memasuki mobil. Avril memalingkan wajahnya dengan kasar, dan mobil melaju semakin jauh dari kediaman Alvi.


"Tuan kenapa?" Tanya bu Rumi menepis rasa penasarannya karena menyuruh Avril pulang.


"Aku ingin menjaga nama baiknya bu. Semakin dekat dengannya, aku merasa semakin tak karuan." Jawab Alvi dengan memijit dahinya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2