
. "Ternyata kau sibuk menggoda pasienmu dokter?" Alvi berjalan dan kembali duduk disamping Avril.
"Aku hanya memeriksanya." Noah mendelik kesal.
"Alasan saja."
"Apanya yang alasan?"
"Kau. Kau bilang hanya memeriksanya, tapi kau malah becanda dengannya."
"Siapa yang becanda?"
"Kau dan Avril..."
"Sudah kubilang aku hanya memeriksanya."
"Itu hanya alasanmu saja. Sebenarnya kau hanya ingin mengganggunya"
"Siapa yang---"
Brakkkkkkk... pintu dipukul keras membuat ketiga orang di dalam ruangan terkejut dan menoleh pada Galih.
"Apa kalian akan mengganggu istirahat Avril." Galih menatap tajam kedua orang didepannya.
"Galih... kau pun sama berisiknya." Nadia menenangkan.
"Mereka berisik.... bukankah Avril harus beristirahat?" Galih menoleh pada Nadia.
"Iya aku mengerti. Tapi kau tak boleh menggebrak pintu seperti itu. Ini rumah sakit, apa kau lupa?" Ucap Nadia mengusap lengan Galih.
"Aku ingin Avril beristirahat."
"Iya. Tapi Avril terkejut."
"Aku hanya mengejutkan kedua anak ini saja."
"Iya. Tapi disini ada Avril juga."
"Tapi aku tidak bermaksud mengejutkan Avril."
"Bukankah dia sama saja?" Bisik Alvi pada Noah.
"Ahh kau benar." Jawab Noah pun berbisik.
"Bahkan mereka lebih berisik." Alvi kembali berbisik.
"Iya. Jelas sekali." Jawab Noah.
"Dasar temperament"
"Ahhh lagi-lagi kau benar."
Avril kesal menatap Noah dan Alvi. Avril menyibakan selimutnya kemudian turun dan membawa kantong infusannya. Avril berjalan mendekati Galih dan hendak melewatinya meraih pintu. Alvi dan Noah hanya menatapnya heran dengan wajah polos.
"Kembali." Tegas Galih.
"Tidak." Avril tak kalah tegas.
"Kembali."
"Tidak."
"Kubilang kembali." Nada suara Galih kian meninggi.
"Kubilang juga tidak." Jawab Avril tak kalah kesal.
"Avril.. kau belum pulih."
"Kalian semua berisik. Aku ingin pulang."
"Jangan membantah."
"Aku ingin pulang."
"Bahkan dia juga sama kan?" Bisik Alvi.
"Iya. Kau benar" jawab Noah berbisik lagi.
"Memang tidak ada yang waras disini." Lanjut Noah masih berbisik pada Alvi.
"Aku mendengarmu" tegas Avril dan Galih bersamaan menoleh dan menatap tajam pada Alvi dan Noah.
"Ahaha masih ada beberapa pasien yang harus diperiksa. Jadi aku duluan... ha ha ha. Dan kau Avril. Kau bisa pulang besok pagi, sampai cairan infusanmu habis." Noah dengan cepat menutup pintu dan meninggalkan ruangan itu.
"Hei curang kau dokter sialan. Kau kabur begitu saja." Teriak Alvi. Lalu menatap Avril dan Galih bergantian.
"Aha ha ha... bu-bukankah ini sudah malam?... harusnya kau cepat mengantarkan Nadia pulang. Bi-biarkan aku yang menjaga Avril disini." Ucap Alvi terbata dan tersenyum kikuk menatap Galih.
"Tidur dimana kau?" Tanya Avril dengan wajah terkejut.
"Aku bisa seranjang denganmu kan?" Jawab Alvi polos.
"Kau mau aku bunuh sekarang?" Galih menatap Alvi dingin.
"Ahahaha aku hanya becanda."
"Lalu?" Avril menyernyitkan dahinya.
"Bukankah aku bisa tidur disana?" Alvi menunjuk sofa dibelakang Galih.
"Kau akan kedinginan jika tidur disana." Ucap Avril.
"Kau mengkhawatirkanku? Ohhh sayang... aku terharu.." Alvi berjalan mendekati Avril dengan merentangkan tangannya.
"Menjauh dariku sialan....." Avril mendorong Alvi dengan kuat.
Ditengah keributan, seseorang membuka pintu dan masuk dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Ini yang anda perlukan tuan." Ray menyodorkan sebuah kantong pada Alvi.
__ADS_1
"Ap-apa? Dia serius akan tidur disini?" Gumam Avril.
"Baiklah. Aku akan mengantarkan Nadia pulang, dan setelah itu aku akan kembali kesini. Aku tak bisa mempercayakan Avril padamu jika lama." Ucap Galih.
"Kau tenang saja. Aku tak akan menyentuh adikmu saat kau tak ada."
Galih berbalik diikuti Nadia dari belakang yang tersenyum pada Alvi sebelum benar-benar berlalu meninggalkan ruangan.
"Apa? Kak Galih benar-benar akan pergi? Apa dia serius akan meninggalkanku dan Alvi disini? Dan apa-apaan dia? Selimut? Apa dia pikir ini hotel?" Gumam Avril menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, saya permisi tuan." Ucap Ray dengan sangat sopan.
"Baiklah" Alvi mengambil kantong yang dibawa Ray.
"Ahh Ray. Besok tak perlu bekerja. Istirahatlah. Aku memberimu cuti untuk beberapa hari. Aku tahu kau lelah." Ucap Alvi membuat Ray berbalik dan tersenyum menanggapi Alvi.
"Baiklah tuan." Kemudian Ray berlalu dari balik pintu.
Avril kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Alvi duduk dan melepas jas nya. Lalu membaringkan tubuhnya, dan sesekali mengecek ponselnya.
Alvi menoleh pada Avril yang dari tadi menatapnya.
"Apa? Apa ada sesuatu diwajahku? Atau kau terpesona dengan ketampananku?"
"Dihhh...." Avril mendelik memutar bola matanya.
"Lalu? Mengapa kau menatapku seperti itu?" Avril tidak menjawab pertanyaan Alvi. Avril memejamkan matanya, menghela nafas panjang beberapa kali.
'Cup' Avril terkejut dan membuka matanya, mendapati wajah Alvi tepat datas wajahnya. Satu kecupan dikening Avril. Avril menatap mata Alvi yang kini begitu dekat dengannya.
"Tidurlah. Aku tidak akan meninggalkanmu." Alvi menyelimuti Avril sampai dadanya. Kemudian berbalik dan berjalan menuju sofa.
"Aku tak tahu apa yang kau rencanakan, tapi jika pada akhirnya kau hanya mempermainkanku, lebih baik dari sekarang kau pergi sebelum aku terlanjur mempercayai ucapanmu." Alvi berhenti mendengar apa yang Avril bicarakan.
"Sudah kuduga kau sudah menyadari perasaanku. Tapi kau selalu berpura-pura tidak peduli pada apapun tentangku. Bukankah sebenarnya kau tak ingin kehilanganku?" Avril kembali terdiam tidak menjawab.
Alvi menghela nafas panjang, kemudian kembali membaringkan tubuhnya di sofa.
"Sudahlah. Waktunya tidur. Kau harus beristirahat." Ucap Alvi memejamkan matanya.
Alvi kembali membuka matanya, menerawang jauh pada atap di atasnya.
"Tak seharusnya aku bertanya seperti itu. Sudah jelas Alvi hanya becanda. Ah sial. Apa aku berharap lebih? Tidak mungkin aku mencintainya. Tidak. Ini berbeda, perasaanku pada Alvi berbeda dengan Aldi." Gumam Avril seraya terus memaksakan memejamkan matanya. Keningnya berkerut, jelas terlihat sangat tidak nyaman.
"Jika tidak ingin tidur, jangan dipaksakan, sangat jelas kau begitu tidak nyaman." Ucap Alvi melirik pada Avril.
"Bukankah kau yang menyuruhku tidur?" Cetus Avril kembali membuka matanya.
"Dan kau menurut?" Terlihat senyum Alvi yang tersungging. "Bahkan kau memaksakan menutup matamu." Avril terkekeh menatap Avril.
"Tidak lucu Alvi." Tegas Avril menggembungkan pipinya.
"Ssshhhhh Avrillll...." geram Alvi mengusap kasar wajahnya. "Jangan bertingkah menggemaskan didepanku. Atau aku akan menciummu tanpa henti."
Avril dengan cepat menarik selimut sampai kepalanya.
Karena tak mendenar suara Alvi, Avril kembali membuka selimutnya, namun tak mendapati Alvi diruangan. Avril mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, namun tetap tak menemukan Alvi.
Tak lama, pintu kembali terbuka.
"Alvi.... jangan meninggalkanku tiba-tiba" panggil Avril. Tetapi, bagai sebuah pisau seakan menusuk dadanya, nafasnya sesak ketika mendapati siapa yang masuk.
"Aku Aldi. Apa kau sudah lupa namaku? Apa karena beberapa jam yang lalu aku bersama Syifa, kau sampai dengan mudah melupakanku." Ucap Aldi dingin dengan masih berdiri didekat pintu.
"Al-aldi bu-bukan... ak-aku pikir kau Alvi.... karena--"
"Karena kini kau sudah berpaling pada Alvi kan?" Avril benar-benar merasa sesak.
"Maaf jika kedatanganku mengganggumu dengan Alvi. Aku kesini hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." ucap Aldi berbalik meraih gagang pintu.
"Aldi..." lirih Avril.
Aldi tetap berlalu meninggalkan ruangan dan menutup pintu.
Avril tak bisa menahan air matanya dan terisak dengan keras.
"Aldi aku tidak pernah melupakanmu." Lirih Avril dengan terus mengusap air mata dipipinya.
Pintu kembali terbuka, namun Avril tidak melihat siapa yang masuk.
Seseorang itu terdengar sedikit berlari dan duduk di tepi ranjang dan meraih tangan Avril.
"Jangan pergi Al.... sedetikpun aku tidak pernah melupakanmu." Kemudian pria itu memeluk Avril dan mengusap kepalanya dengan lembut. Avril masih tak tahu pasti siapa yang berada didepannya saat ini, hatinya hanya menerka-nerka.
"Maafkan aku..." lirih Avril.
"Kau ketakutan?" Tanya Alvi lirih.
"Jangan pergi Aldi.... tetap disini setidaknya sampai Alvi kembali." Lirih Avril semakin erat memeluk pria didepannya itu. Namun Alvi semakin melepaskan tangannya. Jantungnya terdengar berdetak lebih kencang. Karena heran, Avril mendongak dan terkejut mendapati wajah Alvi.
"Al-Alvi? Kau?"
"Iya. Aku Alvi. Bukan Aldi." Ucap Alvi dingin.
Avril memukul Alvi tepat dilengannya. Alvi heran dan mengusap lengannya kasar.
"Kenapa kau memukulku?"
"Kau tadi tiba-tiba menghilang, dan sekarang kau tiba-tiba kembali."
"Apa kau tak mendengar pintu terbuka?"
"Kau pergi kemana?"
"Aku ketoilet!"
Avril terdiam mengusap pipi dan ujung matanya.
"Apa kau berhalusinasi karena ketakutan? Atau kau sangat mencintai Aldi sampai akupun kau anggap dia."
__ADS_1
Avril hanya menggeleng menanggapi.
"Tidurlah. Kali ini aku tak akan kemana-mana." Alvi beranjak, namun Avril menarik ujung lengan baju Alvi.
"Percayalah.... aku tidak akan pergi." Alvi menghela nafas panjang.
"Maaf...." lirih Avril merasa bersalah.
"Sudahlah... tidurlah agar kau cepat pulih." Alvi kembali berbaring di sofa.
Avril menatap atap dengan lekat.
"Apa Aldi akan membenciku setelah ini? Sial... situasi kebetulan apa ini?" Avril dengan paksa memejamkan matanya, dan terlelap dalam tidurnya.
Alvi mengepalkan tangannya, lalu mengusap dan menampar pipinya sendiri.
"Sadar Alvi... Avril berhak bahagia dengan pilihannya. Jangan memaksakan egomu yang ingin memiliki Avril." Gumam Alvi seraya terus mengusap kasar rambutnya.
"Aku juga tak bisa menyalahkan Aldi dalam hal ini. Pada awalnya mereka memang sudah bersama." Alvi menghela nafas panjang kemudian menoleh pada Avril yang terlelap.
Tatapannya tak berubah sejak pertama kali Alvi melihatnya. Tatapan rasa sayang dan ingin membuat Avril bahagia.
--
Pagi hari, Avril membuka matanya, sinar mentari terpancar dari jendela disampingnya. Galih membukakan tirai, dan duduk di tepi ranjang.
"Sudah baikan? Mengapa matamu sembab?" Galih mengelus rambut Avril.
"Kak Nadia tidak kesini?" Tanya Avril mengusap matanya.
"Tidak. Hari ini dia sedang sibuk dengan pekerjaannya." Jawab Galih kemudian menoleh pada Alvi yang masih nyaman terlelap.
"Apa dia akan terus tidur?" Avril menggeleng ketika menoleh pada Alvi.
"Dia tidak mengganggumu? Atau macam-macam denganmu?" Galih menoleh kembali pada Avril. Dan Avril hanya menggeleng. Namun sekilas mengingat kecupan selamat malam Alvi yang tiba-tiba. Wajahnya memerah membuat Galih menjadi khawatir lalu menyentuh dahi Avril untuk memastikan.
"Wajahmu memerah, tapi suhu tubuhmu normal. Apa kau benar baik-baik saja?" Avril mengangguk menanggapi.
"Apa semalam kau menangis?" Avril mengangguk kemudian memeluk erat Galih dan kembali terisak.
"Aldi kesini, tapi aku memanggilnya dengan nama Alvi." Lirih Avril disela isak tangisnya.
"Dan dia salah faham?" Tanya Galih dan Avril mengangguk.
"Lalu dia pergi?" Avril kembali mengangguk. Galih menghela nafas panjang.
"Aku tidak tahu situasinya, tapi aku bisa mengerti." Galih mengusap lembut kepala Avril dalam pelukannya. Rasa sayang pada adiknya benar-benar tak bisa diragukan.
Alvi membuka matanya, mendapati Avril yang tengah berpelukan dengan seorang pria. Pandangannya masih sedikit kabur.
"Aldi..." Ucap Alvi membuat kakak beradik itu menoleh.
"Sudah bangun?" Tanya Galih. Namun Alvi terus menyipitkan matanya dan memastikan bahwa pria itu benar-benar Aldi. Namun ketika jelas terlihat, Alvi menghela nafas lega dan mengusap dadanya.
"Kupikir kau Aldi. Syukurlah!"
"Apa kau membuat adikku menangis?" Alvi tercengang mendengar pertanyaan Galih.
"Hei.... bukankah Avril menangis dipelukanmu? Mengapa kau menyalahkanku?" Alvi melangkah mendekati ranjang.
"Semalam." Lanjut Galih.
"Ahhh.... maafkan aku Galih. Aku meninggalkan Avril sebentar, dan saat aku masuk adikmu sudah menangis." Alvi menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Bukankah kau bilang akan menjaga adikku?"
"Apa aku harus membawa adikmu ke toilet pria agar aku bisa menjaga adikmu sepanjang waktu?" Galih terdiam mendengar Alvi. Menoleh pada Avril yang memalingkan wajahnya. Galih kembali menghela nafas panjang.
Seorang dokter dan perawat masuk dan kembali memeriksa Avril.
"Baiklah kau bisa pulang." Ucap Noah. "Jangan lupa untuk menjauhi kucing, dan minum obat secara teratur." Noah kembali memperingatkan.
"Baiklah dokter." Jawab Avril malas.
Perawat itu perlahan melepaskan infusan Avril. Avril menutup satu matanya menahan ngilu. Perawat itu tersenyum ketika membereskan beberapa alat medisnya.
Ketika perawat itu meninggalkan ruangan, Noah masih didalam dan berbincang dengan Galih.
Alvi lebih dulu membawa barang-barang ke mobil. Dan bertemu dengan Aldi di sana.
"Alvi..." panggil Aldi
"Kau menjemput Avril?" Tanya Alvi menghampiri.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja." Jawab Aldi.
Sejenak keduanya terdiam.
"Apa kau sangat mencintai Avril?" Keduanya bertanya secara bersamaan.
"Tentu saja." Lagi-lagi menjawab bersamaan.
Keduanya saling menatap.
"Bagaimana dengan tunanganmu?" Tanya Alvi memalingkan pandangannya.
"Dan kau? Bagaimana dengan kakakku?" Tanya Aldi.
"Aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengan kakakmu." Jawab Alvi tegas.
"Baiklah. Sudah jelas kakakku saja yang berharap lebih padamu." Ucap Aldi menyandarkan tubuhnya di mobil.
"Mengapa kau menerima perjodohan itu, sudah jelas kau masih mengharapkan Avril?" Tanya Alvi menoleh pada Aldi.
"Aku berhutang budi pada ayah Syifa, diberi tawaran perjodohan sebagai balasannya, itupun jika kami menyetujuinya. Awalnya aku menolak, dan aku hendak melamar Avril saat aku kembali." Aldi menghela nafas panjang. "Tapi saat aku ingin menemuinya, aku melihatnya denganmu saat itu. Aku berfikir bahwa Avril sudah benar-benar berpaling dariku, makanya aku dengan tidak berfikir 2 kali, aku menerima perjodohan itu." Lanjut Aldi menjelaskan.
"Dan kau menyesal ketika mengetahui bahwa Avril masih menunggumu?" Tanya Alvi kemudian.
"Jika disebut menyesal, memang aku menyesal. Tapi setelah melihatmu begitu mencintainya, mungkin aku bisa perlahan melepasnya, dan mempercayakan kebahagiaannya padamu"
__ADS_1
-bersambung.