Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
34


__ADS_3

. Alvi merasa kesabarannya sudah mulai mencapai batas.


Avril berhenti dari tangisnya, dirinya enggan menoleh atau setidaknya melirik pada Alvi.


Avril tahu betul bahwa Alvi tak salah. Seperti halnya Aldi, Alvi pun berada diposisi yang sama. Tidak, jelas Alvi sangat menolak. Dan jika memang terjadi pun ikatan kedua keluarga itu, Alvi mungkin akan menunjukan ketidaksukaannya.


Alvi beranjak perlahan melepaskan tangannya dari Avril. Namun Avril menarik ujung lengan kemejanya, seperti tak ingin membiarkan Alvi pergi. Alvi menoleh kembali pada Avril yang masih menunduk.


"Jadi? Sebenarnya apa maumu?" Tanya Alvi yang bingung dengan sikap Avril.


"Aku membencimu." Lirih Avril yang jelas sekali menunjukan kekesalannya, meskipun dengan suara pelan.


"Bukankah kau yang memintaku pergi?"


"Apa itu artinya aku merelakanmu pergi?" Pecah sudah! Avril menoleh kasar menatap Alvi dengan memperlihatkan kemarahannya.


"Kau bilang kau tak sama seperti Aldi. Kau bilang tak akan meninggalkanku. Kau sama saja. Jika akhirnya kau pun akan meninggalkanku, mengapa selama ini kau terus meyakinkanku untuk mempercayaimu? Apa ini caramu? Kepingan perasaanku masih berantakan setelah Aldi meniggalkanku. Kau datang membantu menata kembali kepingan itu, tapi kau sendiri juga yang membuatnya semakin berantakan."


"Avril... aku tidak akan meninggalkanmu."


"Sudahlah Alvi. Tak perlu bicara lagi. Aku sudah tak ingin mendengar apapun darimu. Karena pada akhirnya kau akan meninggalkanku juga. Pergilah! Aku sudah membencimu sekarang."


"Semudah itu kau membenciku?" Avril tak menjawab pertanyaan dari Alvi.


"Baiklah. Jika kau membenciku dan sudah tak percaya padaku. Maka buktikan Avril. Kau tak boleh menangis jika saat aku mati atau menikah dengan gadis lain. Tapi kau harus ingat baik-baik, aku akan kembali padamu dan membuktikan bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatimu sampai kapanpun. Aku akan tetap pada keputusanku." Alvi melangkah menatap dan berhadapan dengan Demira.


"Seperti ini yang ingin kau saksikan? Setelah ini, apa ada lagi penderitaan yang ingin keluargamu berikan padaku? Mengapa kalian bersikeras menyuruhku menerima perjodohannya? Padahal kalian sendiri sudah tahu hanya Avril yang aku mau." Demira mematung membiarkan Alvi begitu saja melewatinya.


"Satu lagi Demi. Jaga Avrilku dan jangan biarkan dia menolong orang yang akhirnya merebut kebahagiaannya." Demira menyernyit tak mengerti dengan apa yang Alvi katakan. Alvi berlalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Avril.


Demira meraih Avril yang masih terduduk diam ditempatnya.


Saat Demira meraih tangan Avril, seketika Avril terlelap dipangkuannya.


"Avil..." lirih Demira kemudian terisak yang sudah tahu betul jika Avril akan tak sadarkan diri jika menangis terlalu lama. Reno meraih dan membawa Avril memasuki rumah.


Ayah terkejut ketika mendapati putrinya yang digendong Reno.


"Ada apa Reno? Dimana Alvi? Mengapa Avril bersamamu?"


"Avril pingsan ayah." Ucap Demira ragu.


Reno menidurkan Avril di sofa ruang tengah. Lalu Demira menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi begitu?" Ayah mengangguk pelan tanda mengerti dengan situasinya.


"Reno. Aku masih tak mengerti dengan yang dikatakan Alvi." Ucap Demira.


"Yang mana?" Tanya Reno mencoba mengingat apa saja dikatakan Alvi sebelum pergi.


"Siapa yang sudah Avril tolong? Menolong orang yang akhirnya merebut kebahagiaannya?" Reno mengerti dengan maksud kata-kata itu.


"Jelas saja. Avril hampir mati karena tenggelam. Jika tidak ada Aldi, aku juga tak tahu apa sekarang ini, aku masih bisa melihat Avril atau tidak"


"Maksudmu?"


"Avril menolong Amel saat Amel akan terjatuh ke danau. Avril menukar dirinya dan tenggelam."


"Ba-bagaimana bisa dia? Avil kan sangat takut pada air? Bahkan ini alasan kenapa dirumah ini tidak ada sebuah kolam apapun."


"Aku tak tahu Demi. Tapi seperti itulah kejadiannya. Dan sekarang aku benar-benar sudah membenci Aldi. Dia hanya memikirkan kakaknya saja. Dia tidak sedikitpun memikirkan nyawa Avril yang sempat hampir hilang karena menolong Amel, dan Avril mengubur perasaannya sendiri karena dikhianati olehnya." Reno berdecih kesal mengingat wajah Aldian yang muncul dikepalanya.


Dirasanya kini Aldian sudah tak bisa dipercaya lagi.


"Maafkan aku ayah. Maafkan keluargaku juga." Lirih Demira sadar akan penyesalannya.


"Mau bagaimana lagi nak. Ayah mengerti. Dan ayah harap Avril juga bisa menerimanya." Ucap ayah seraya mengelus kepala Avril yang masih belum sadar.


. 3 hari telah berlalu, namun sejak hari itu Alvi tak pernah kembali ke rumahnya. Ray terlihat sudah lelah membujuk Alvi untuk pulang malam ini. Tapi Alvi bersikeras untuk tidur diperusahaannya.


Untuk kesekian kalinya, Ray menemani Alvi diruangannya. Karena khawatir jika terjadi sesuatu pada tuannya.


Dan ini sudah kesekian kalinya juga Ray menyuruh Alvi untuk makan. Namun Alvi selalu menolak dan lebih sering mengurung dirinya dikamar yang berada di belakang meja kerjanya.


"Sampai kapan tuan akan seperti ini?" Guman Ray ketika Alvi menutup rapat pintu kamarnya.


Ray menghela nafas berat dan duduk di sofa. Sesekali Ray mengecek daftar untuk jadwal Alvi.


"Apa tuan yakin dengan keputusannya?" Kembali Ray berperang dengan pikirannya, bertanya-tanya namun tak mendapatkan jawaban. Ray tahu persis bahwa Alvi tidak pernah menyetujuinya, dan itulah alasan mengapa Alvi lebih memilih untuk tidak pulang kerumahnya.


Siang tadi, Hendar menemui Alvi dan membahas pertunangan keponakannya itu, tak butuh waktu lama untuk membujuk, Alvi menyetujui perjodohan itu secara tiba-tiba membuat Ray tercengang tak percaya. Mengingat bagaimana Alvi mencintai Avril.


Tidak, Alvi tidak menyetujuinya, Alvi hanya menjawab 'terserah' saja pada Hendar.

__ADS_1


"Tuan Galih pun menutupi kabar Nona Avril. Selama 3 hari ini, aku hanya mendapat kabar bahwa Nona Avril tidak masuk kuliah. Apa aku masih pantas menjadi asistennya jika hal seperti ini saja, aku tak bisa mengatasinya? Tuan..." gumam Ray menoleh dan menatap pada pintu kamar Alvi.


. Keesokan harinya, Ray memutuskan untuk kerumah Avril saat jam istirahat. Sesampainya disana, bibi memberitahu bahwa Avril dan keluarga sedang berada dirumah sakit.


"Siapa yang sakit bi?" Tanya Ray.


"Itu...." bibi merasa ragu karena tahu Ray adalah asisten Alvi.


"Katakan saja bi..." ucap Ray meyakinkan bibi bahwa tidak akan ada masalah jika bibi memberitahu sesuatu.


"Nona Avril sakit keras sejak 2 hari yang lalu. Suhu tubuhnya tidak menurun padahal tuan Noah sudah memberinya obat penurun panas. Bahkan nona Avril hanya berbaring saja di tempat tidur." Jelas bibi.


"Nona sakit apa bi?" Tanya Ray penuh khawatir.


"Sakitnya hanya demam, tapi tekanan darahnya sangat rendah, sampai nona tak bisa untuk sekedar duduk. Kepalanya selalu pusing. Begitu yang selalu dikatakan nona saat saya merawatnya."


"Terimakasih bi. Kalau begitu saya akan ke rumah sakit." Ucap Ray sopan.


Kemudian Ray melaju menuju rumah sakit. Saat hendak menanyakan nama Avril, Ray melihat Noah dan menghampirinya.


"Apa Alvi menyuruhmu?"


"Tidak tuan. Saya pergi atas inisiatif saya sendiri." Jawab Ray dengan datar.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia masih berdiam diri di kamar itu?"


"Iya tuan."


"Cih.. jika dia terus seperti itu, aku pastikan dia akan menyusul Avril kesini." Noah memijit dahinya.


Kemudian Noah membawa Ray ke ruang inap Avril. Disana ada banyak orang yang tak lain, Nadia, ayah, Galih, Reno, Bagas, dan Demira.


Ray menatap nanar wajah Avril yang sangat pucat dan terlihat seperti mayat namun masih bernafas dalam tidurnya.


"Dia baik-baik saja Ray?" Tanya Ayah yang ditanggapi diam oleh Ray.


"Saya tidak tahu apakah tuan Alvi baik-baik saja atau tidak." Jawabnya setelah beberapa kali menghela nafas panjang.


"Aku akan kesana sore ini Ray." Nadia berinisiatif menemui Alvi sore ini. Dan membuat janji lebih dulu dengan Ray. Untuk mengantisipasi jika dirinya diusir oleh security yang berada di pintu masuk.


"Tuan tidak menerima perjodohan itu, tapi beliau juga tidak menolak. Saya merasa ada yang aneh dengan keputusannya." Ucap Ray membuat Reno berdiri dari duduknya.


"Aku akan kesana." Cetusnya pada Ray.


"Aku juga. Alvi temanku juga kan? Yaa... meskipun dia selalu mengajakku bertengkar." Timpal Bagas santai. Ray tersenyum mengangguk, lalu berpamitan untuk kembali ke perusahaan. Ray berlalu diikuti Bagas dan Reno.


"Aku belum pernah ke perusahaan D sebelumnya." Ucap Bagas seraya membayangkan seperti apa perusaan ternama itu.


Ray hanya tersenyum tak menjawab.


. Sampai di perusahaan, pekerjaan sudah menanti Ray dimejanya.


"Silahkan tuan menemui tuan Alvi." Ray membukakan pintu untuk Baren.


Saat masuk, Baren dikejutkan dengan sorot mata Alvi yang lebih tajam dari biasanya.


"Dari mana kau menemukan mereka Ray?" Teriak Alvi sebelum Ray menutup pintu.


"Di pinggir jalan tuan." jawab Ray.


"Kau kacau sekali Alvi." Ucap Reno berjalan kearah meja Alvi.


"Ray berbohong. Dia bilang kau baik-baik saja." Ucap Bagas duduk berhadapan dengan Alvi.


"Ini jam kerjaku." Ucap Alvi membuka lembaran demi lembaran sebuah berkas ditangannya.


Baren menatap nanar wajah Alvi yang terlihat lesu. Mata tajamnya kini terlihat teduh.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Bagas yang khawatir pada kondisi Alvi.


"Aku tak lapar." Jawab Alvi mendadak menjadi dingin.


"Berapa hari kau tak makan?" Tanya Reno menilik wajah Alvi yang jika dilihat dengan seksama sangat terlihat pucat. Alvi tak menjawab, hanya melirik kearah Reno lalu kembali fokus pada berkasnya.


Suasana mendadak canggung, dan hening.


. "Jadi? Apa kau benar-benar akan dijodohkan dengan Amel?" Tanya Reno menundukan pandangannya, seakan menghindari kontak mata dengan Alvi.


"Sudah jelas bukan." Jawab Alvi santai seperti tak ada beban pikiran.


"Apanya yang jelas?" Bagas menyernyit heran, dan mencerna apa yang baru saja Alvi katakan.


"Lupakan." Ucap Alvi kemudian.

__ADS_1


"Bahkan dia tidak menemuiku sama sekali. Padahal aku yakin dia tahu aku tak pulang ke rumah 4 hari ini." Gumam Alvi sedikit mencengkram kertas ditangannya.


Baren menghela nafas panjang menyikapi Alvi yang terlihat sibuk, ah bukan, tapi mencoba menyibukan diri.


"Baiklah. Aku dan Bagas hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja." Ucap Reno beranjak dari duduknya.


"Aih... kalian hanya mampir sebentar?" Alvi meletakkan berkas itu di mejanya. Menatap bergantian pada Baren, seakan berkata 'jangan dulu pergi. Temani aku disini lebih lama lagi.'


"Kau kesepian?" Tanya Bagas yang masih duduk.


"Tidak juga. Tapi bukankah ini pertama kali kalian kesini? Mengapa terburu-buru?"


"Tidak Alvi. Aku harus menjemput ibuku, dan setelah itu kembali ke rumah sakit." Ucap Reno melirik jam tangannya.


Alvi menyernyit mencoba menebak siapa yang sedang sakit.


"Ahh kau benar Reno. Aku akan duluan ke rumah sakit." Bagas ikut beranjak menyusul Reno yang sudah berada didekat pintu.


"Jaga kesehatanmu Alvi. Jangan bersikap keras kepala seperti Avril." Ucap Reno sebelum menutup pintunya.


Alvi merasa sesak pada pernafasannya ketika mendengar nama Avril. Jujur saja, dirinya sangat merindukan Avril saat ini. Tapi dengan kenyataan Avril yang tak menemui, atau bahkan mencari kabarnya, Alvi mulai ragu dengan perasaan Avril padanya. Dan lebih yakin bahwa Avril benar-benar sudah tak ingin lagi berhubungan dengannya.


****


. Ray memasuki ruangan Alvi.


"Tuan...."


"Ada apa Ray? Kau ingin meminta cuti?" Tanya Alvi yang tetap fokus pada sebuah dokumen.


"Ti-tidak tuan..."


"Lalu?"


"Sa-saya hanya ingin bertanya."


"Kapan gajimu naik?"


"Bukan tuan..."


"Jadi?"


"Apakah tuan yakin akan bertunangan dengan nona Amel?" Alvi tidak menjawab seakan tak mendengar pertanyaan Ray.


"Ap-apakah tuan tidak ingin menemui nona Avril?" Lanjut Ray dengan ragu bertanya meski tahu Alvi akan sedikit marah.


"Apa kau tidak salah bertanya? Bahkan kau menyaksikan sendiri. Saat aku tak pulang selama 4 hari ini, Avril tidak sekalipun menemuiku. Apa kau tahu Ray? Sebelum itu, dia yang berkata bahwa dia membenciku. Jadi mungkin ini cukup memperjelas bahwa aku tak harus mengharapkan Avril lagi." Tegas Alvi yang menahan kesal.


"Tapi tuan..."


"Apa lagi Ray? Sudahlah. Aku sedang pusing, lebih baik kau ambilkan aku obat."


"Baik tuan."


Ray berlalu menghela nafas panjang.


"Bagaimana caranya memberitahu tuan tentang kondisi nona Avril." Gumam Ray meninggalkan ruangan Alvi.


. Sesuai janji, Nadia menemui Alvi di jam yang sudah disepakati dengan Ray.


Nadia memasuki ruangan Alvi, dan mendapati Alvi yang sedang terbaring di sofa.


"Kau sedang tidur?" Alvi melirik kearah sumber suara.


"Ada apa? Jangan bilang kau mengkhawatirkanku juga." Ucap Alvi kemudian terbangun dan duduk bersandar, terlihat jelas sedang menahan rasa sakit di kepalanya.


"Memang iya. Dan ada satu hal yang ingin aku pastikan." Nadia duduk diseberang Alvi.


"Apa?" Alvi memejamkan matanya


"Kau yakin akan meninggalkan Avril?"


"Bukan aku yang meninggalkannya."


"Dan kau akan bilang dia yang memintamu untuk meninggalkannya? Begitu? Dan kau menurut?"


"Kenapa kau Nadia?"


"Aku kenapa? Yaahhh tadinya aku khawatir pada kondisimu yang tak pulang selama 4 hari. Tapi begitu melihatnya secara langsung, aku simpulkan kau cukup baik-baik saja setelah meninggalkan adikku dan membuatnya sakit parah." Ucap Nadia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Alvi.


Alvi membuka matanya lebar-lebar. Mencerna ucapan Nadia yang tiba-tiba membuat jantung dan kepalanya sakit secara bersamaan.


"Apa maksudmu Nadia?" Pertanyaan itu cukup membuat Nadia berhenti sebelum membuka pintu.

__ADS_1


"Kau tak tahu? Apa Ray tidak memberitahumu?" Alvi bangkit hendak menyusul Nadia, namun sakit kepalanya cukup membuatnya tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.


-bersambung


__ADS_2