Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
75


__ADS_3

. Syifa menunduk kemudian tersenyum kearah Avril. Avril memukul pelipis Aldi dengan sedikit keras.


"Aduh... kau ini kenapa? Aku lamar malah menampar. Bukannya jawab iya." Aldi meringis sambil mengusap pelipisnya dengan kasar.


"Kau itu bercandanya kelewatan." Ucap Avril masih memasang wajah kesal.


"Hahaha sekali-sekali Avil... terlalu serius nanti cepat tua." Aldi menepuk gemas kepala Avril yang menggembungkan pipinya sebelah.


"Tapi seru juga jika dihari pernikahan kalian, Alvi datang lalu menghancurkan acaranya." Ucap Bagas menimpali sambil tertawa.


"Bisakah kita tak membahas Alvi?" Tanya Avril memalingkan wajahnya.


"Kau ini merusak suasana saja." Reno mengusap kasar wajah Bagas.


"Ya maaf." Dengan polos Bagas melirik satu persatu wajah teman-temannya.


Syifa melirik jemari Aldi yang masih mengenakan cincin pertunangan mereka. Sepertinya Aldi enggan melepaskan benda berharga itu. Meskipun selalu menggoda Avril, namun Aldi memang sudah menjaga hatinya untuk Syifa.


Siang menjelang sore, Aldi mengajak Avril untuk berbincang sebelum pulang. Sementara yang lain memilih pulang terlebih dahulu. Syifa menoleh kebelakang melihat kedekatan Aldi dan Avril yang kembali terjalin.


"Apa mereka akan kembali bersama? Lalu mengapa aku merasa tak rela? Bukankah ini yang aku harapkan dari dulu? Aldi akan menemukan kebahagiaannya lagi jika dengan Avril." Gumam Syifa yang terus berjalan mengikuti Reno. Sampai Reno terhenti, Syifa tak menyadarinya dan menabrak punggung Reno. Reno berbalik lalu menatap dalam wajah Syifa yang terlihat gugup.


"Kau melamun?" Tanya Reno. Syifa menggeleng menanggapi sambil tersenyum kearah Reno.


"Aish... Syifa.. kau cemburu pada Avil?" Cetus Bagas bertanya demikian.


"Ti-tidak Bagas... ak-aku...."


"Nahhh kan kau gugup." Ejek Bagas membuat wajah Syifa memerah.


"Haha tak apa Syifa. Jujurlah pada kita. Jangan sungkan." Bagas menepuk bahu Syifa pelan.


"Wajar saja kau merasa cemburu, karena kau mencintainya. Benar kata orang, wanita bisa memendam perasaan cintanya sampai berpuluh-puluh tahun. Tapi tak akan bisa menahan rasa cemburu meskipun hanya beberapa saat. Kau dan Aldi sudah lama menjalin hubungan. Yaa meskipun tak selama dengan Avril."


"Pada akhirnya, memang masa lalu yang akan menjadi pemenangnya kan?" Tanya Syifa langsung menanggapi sebelum Reno menghela nafasnya lagi.


"Itu pemikiran yang salah Syifa. Semua sudah digariskan jalan hidupnya. Jika mereka bersama, bukan salah orangnya. Tapi memang semesta memisahkan mereka sebelum mempersatukannya kembali. Dan menurutku, jika Aldi memilihmu juga, bukankah dia kembali pada masa lalu? Kau memutuskan hubungan secara sepihak dengannya. Sedangkan Aldi, dia tetap memakai cincin pertunangan kalian meskipun hubungan ini dianggap sudah berakhir." Syifa menunduk mendengar penuturan Reno. Memang benar apa yang dikatakan Reno. Seakan Aldi mempertahankan hubungan dengannya. Tapi melihat kedekatan Aldi dengan Avril, Syifa merasa ragu dengan pemikiran bahwa Aldi akan kembali padanya.


. Avril masih terheran mengapa Aldi memintanya untuk berbincang. Tentang apa? Mengapa harus berdua? Avril merasa tak enak hati pada Syifa yang mungkin berpikiran bahwa mereka akan kembali menjalin hubungan yang sempat berpisah karena ketidaksengajaan.


"Kita beli kopi, lalu ke danau. Kau mau?" Tanya Aldi sedikit ragu karena mengajak Avril ke tempat dimana ia tenggelam saat itu. Namun Avril mengangguk pelan tanda mengiyakan ajakan Aldi.


Keduanya bergegas pergi ke kedai kopi langganan mereka, lalu ke danau dengan masing-masing mobilnya.


Sampai di danau, Avril berjalan mendekati dermaga. Beberapa adegan terlintas dibenaknya ketika menatap ujung dermaga itu. Pertama, saat Alvi berjalan disana dengan beberapa ejekan. Kedua, saat tragedi yang menimpa dirinya.


"Jangan terlalu dekat pada air. Bahaya." Aldi menarik Avril takut jika Avril merasa tertekan karena traumanya, dan tak sengaja kembali tenggelam.


"Tidak Al... aku masih sadar." Ucap Avril dengan nada ejekan lalu tertawa kecil.


"Sebentar lagi senja, disini akan tenang bukan? Kau bisa melihat senja dan merenung sesukamu." 'Deg' Avril tersentak mendengar apa yang Aldi katakan. Itu sama dengan yang Alvi katakan dulu. Avril menatap dalam wajah Aldi hingga bayangan Alvi tersirat jelas seakan menghalangi wajah Aldi.


"Katakan apa yang ingin kau katakan Al." lirih Avril kemudian menunduk lesu.


"Avil.... aku tahu ini terdengar egois, tapi... setidaknya aku ingin mengatakannya padamu." Ucap Aldi setelah menghela nafas dalam berkali-kali.


"Ada apa Al?" Tanya Avril yang masih heran dan tak mengerti dengan apa yang Aldi katakan.


"Kita sudah lama bersama, perpisahan pun karena kesalahan pahaman, dan sekarang Syifa sudah mengembalikan bukti ikatan kami dengan tiba-tiba, lalu Alvi pun pergi tanpa memberi alasan padamu." Avril terdiam membenarkan apa yang Aldi katakan barusan.


"Avil.... bisakah kita seperti dulu?" Avril masih terdiam tak menjawab, tatapannya menjadi sayu menatap kopi ditangannya. Aroma mocachino milik Aldi membuat Avril sesak. Yang Avril rasakan sekarang ia sedang bersama dengan Alvi, bukan Aldi.


"Avil..." lirih Aldi ketika melihat Avril yang menahan agar tak menghirup aroma kopi miliknya.


"Apa yang sedang kau rencanakan tuhan? Mengapa aku tak bisa mengambil keputusan. Dengan aku dan Aldi yang sama-sama sudah tak memiliki pasangan, harusnya aku dengan mudah menerima Aldi kembali. Tapi kenapa rasanya sesak jika harus menerima Aldi namun masing-masing dari kita masih memakai cincin pertunangan dengan orang lain. Apa Alvi masih memakainya juga?" Gumam Avril terdiam mematung tak mendengar panggilan Aldi.


"Avil... kau melamun?" Tanya Aldi membuat Avril tersadar dari lamunannya.


"Eh... maaf Alvi... aku--"


"Aku Aldi Vil... bukan Alvi." Tegas Aldi dengan suara sedikit meninggi. Avril tersentak dengan mata terbelalak menatap Aldi yang terlihat tersinggung.


"Aldi maaf..." lirih Avril kemudian menunduk dan memalingkan wajahnya.


"Kau masih mencintai Alvi?" Avril terdiam tak menjawab pertanyaan Aldi.

__ADS_1


"Bahkan setelah Alvi pergi begitu saja meninggalkanmu?" Avril menoleh kasar lalu menatap Aldi tajam.


"Mengapa kau bicara seperti itu?" Tanya Avril dengan menyernyit kesal.


"Benar kan? Alvi meninggalkanmu tanpa alasan?"


"Tidak." Jawab Avril cepat. "Alvi bukan meninggalkanku tanpa alasan, dia hanya...." Avril terhenti menggantungkan ucapannya.


"Hanya apa Avil? Mengapa kau begitu membelanya? Dan mau sampai kapan kau menunggunya? Bagaimana jika Alvi tak kembali?"


"Lalu apa urusanmu jika Alvi tak kembali? Kau egois Al. Kau menginginkanku kembali, tapi kau masih memakai cincin pertunanganmu." Ucap Avril dengan nada yang kian meninggi menandakan ada kemarahan dari setiap katanya. Avril berbalik kemudian berlalu meninggalkan Aldi sendiri. Avril melajukan mobilnya dengan rasa kesal dan tak menoleh kembali pada Aldi. Aldi menghela nafas berat merasa tak seharusnya Aldi berkata seperti itu.


"Aku melukai hatimu lagi Avil." Lirih Aldi.


Waktu bergulir, kesibukan Avril menjelang kelulusannya membuat Avril selalu terlihat kelelahan. Nadia sesekali membantu Avril meskipun tengah hamil.


"### Kak... apa aku bisa melupakan Alvi?" Tanya Avril membuat Nadia menghentikan aktifitasnya.


"Mengapa bertanya padaku?"


"Lalu aku harus bertanya pada siapa?"


"Pada Alvi langsung lah."


"Ishhh kakak....." rengek Avril.


"Apa? Benarkan?"


"Itu sama saja dengan menjatuhkan harga diriku sebagai perempuan."


"Ehh siapa bilang. Kau itu sudah setengah milik Alvi. Tinggal selangkah lagi kau akan menjadi sepenuhnya milik Alvi. Wajar-wajar saja jika kau mengabari duluan. Justru itu lebih baik. Alvi akan merasa bahwa kau benar-benar merindukannya." Avril menundukan pandangannya mendengar Nadia. Avril mengambil ponselnya dengan ragu, lalu menekan nomor Alvi dan memanggilnya. Lama menunggu, namun tak ada jawaban. Avril melirik Nadia dengan rasa kecewa.


"Tidak diangkat." Ucap Avril.


"Coba sekali lagi." Avril mengangguk menuruti Nadia lagi. Dipanggil untuk yang kedua kalinya, namun tetap tak ada jawaban.


"Apa dia sesibuk itu?" Tanya Nadia yang ikut merasa kecewa.


Hari pernikahan Famela dan Deyan Avril hadiri dengan percaya diri dan hanya seorang diri tanpa kekasih. Sampai tersebar gosip bahwa Alvi dan Avril benar-benar sudah putus. Namun mereka tak pernah memperhatikan kembali cincin yang Avril pasang di kalungnya. Sengaja Avril tak dipakaikan di jari manisnya, hanya ingin menghargai keputusan Alvi yang memilih untuk pergi.


Baren ternganga menatap Avril dan bahkan hampir tak mengenalinya.


"Fam...." sapa Avril kemudian memeluk Famela yang ikut ternganga oleh penampilan Avril.


"Avril? Ini kau?" Tanya Famela seakan tak percaya.


"Hai kak... selamat ya.... akhirnya kalian menikah juga." Avril beralih menyapa Deyan yang termangu oleh kecantikan Avril. Pantas saja Alvi sampai mati-matian mengejar Avril.


"Alvi mana?" Tanya Deyan polos. Avril menarik senyumnya, dan kemudian tersenyum kembali pada Deyan.


"Alvi sedang sibuk kak. Jadi aku saja sendiri" jawab Avril dengan santai. Baren menyusul Avril ke tempat pelaminan dimana Famela dan Deyan berada.


"Kapan kau menyusul?" Tanya Deyan lagi. Meskipun Deyan mendengar rumor tentang hubungan Avril dan Alvi, tapi Deyan ingin mendengar langsung dari Avril apa yang sebenarnya.


"Belum ada rencana kak. Jika Alvi pulang, baru aku akan kembali membahasnya." Jawab Avril masih dengan santai. Baren tak habis pikir dengan Avril saat ini. Sudah jelas Alvi telah meninggalkannya, tapi Avril berkata seakan Alvi akan kembali padanya.


"Hei Fam..." sapa Reno menjabat tangan Famela dan Deyan. Begitupun Bagas yang melakukan hal yang sama.


"Hai Ren... Aldi mana?" Tanya Famela.


"Sepertinya Aldi tak bisa datang Fam. Kemarin dia meminta maaf, menjadi presdir akan membuatnya semakin sibuk." Jawab Reno.


"Lalu? Apa rencana kalian setelah lulus?" Tanya Deyan ikut serta dalam obrolan mereka.


"Kami ingin bergabung di perusahaan Aldi. Sekalian menemaninya." Imbuh Bagas.


"Hemmm dan kau Avril?" Tanya Famela menoleh kearah Avril.


"Aku.... entahlah Fam... untuk bergabung dengan kak Galih, aku rasa itu akan merepotkan. Aku masih memikirkannya." Jawab Avril gugup. Menyadari itu, Famela kemudian memeluk Avril dengan erat.


"Aku tunggu kabar bahagiamu Avril..." ucap Famela memejamkan matanya. Dirinya ikut menyaksikan betapa kesepiannya Avril setelah kepergian ibunya.


. ### Setelah Avril pulang, Nadia terbelalak ketika melihat Avril dengan penampilan yang mencolok seperti itu. Terlihat riasannya terlalu dewasa, hingga Nadia merasa bahwa Avril hanya selisih tak lebih dari satu tahu antara usianya.


"Siapa yang meriasmu?" Teriak Nadia meraih adik ipar kesayangannya.

__ADS_1


"Salon." Jawab Avril singkat.


"Kenapa lagi?"


"Aku ingin ke London kak."


"Ehhh mau apa?"


"Aku mau menanyakan kepastian pada Alvi. Dia meninggalkanku tanpa alasan, lalu tak pernah menjawab panggilan teleponku. Jika putus, ya putus saja. Jangan membuatku menunggunya tanpa arti seperti ini." Ucap Avril sedikit meninggikan suaranya. Nadia terdiam melihat Avril yang mungkin merasa depresi karena kepergian Alvi. Galih sendiri pun seperti tak ingin mencari kabar Alvi lebih lanjut dan berhubungan kontak dengan Alvi.


. Waktu telah berlalu, Avril mulai terbiasa dengan ketiadaan Alvi disisinya. Saat senang, sedih, bahkan saat Avril tengah merindukannya, kini tak ada yang menghiburnya lagi. Wisudanya pun terasa hampa tanpa Alvi disampingnya. Hubungannya dengan Aldi pun menjadi renggang sejak saat itu.


Sampai akhirnya, Nadia tengah menjalani persalinan di rumah sakit. Baren datang menemani Avril yang tak henti berdoa untuk keselamatan kakak ipar dan keponakannya.


"Bagaimana?" Tanya Noah yang menghampiri Avril. Avril hanya diam tak menjawab kemudian menatap dalam pada pintu yang masih tertutup.


"Galih masih didalam." Jawab ayah dengan tenang.


Setelah lama menunggu, Galih keluar dengan bercucuran air mata.


"Kenapa kak?" Tanya Avril dengan heran.


"Apa saat aku lahir, ayah sebahagia ini?" Tanya Galih pada Andre yang menanggapinya dengan tersenyum.


"Kau tahu jawabannya, mengapa bertanya?" Galih ikut tersenyum kemudian memeluk ayahnya dengan erat.


"Andai mama masih disini.." lirih Galih


"Sudah nak... jangan bicara seperti itu."


"Maaf ayah. Tapi Galih tak bisa menahan rindu pada mama." Galih mengusap wajahnya ketika melepas pelukan dari sang ayah.


"Ayah... saat kak Galih lahir, ayah bahagia kan? Nah.. saat kak Galih sudah besar, aku tebak pasti ayah kecewa." Cetus Avril.


"Apa maksudmu?" Tanya Galih dengan kesal menepuk dahi Avril.


"Bisa saja kan ayah kecewa punya anak seperti kak Galih." Jawab Avril dengan nada menantang.


"Mulai lagi." Bisik Reno pada Bagas.


"Siap-siap perang dunia ke lima." Bagas tak kalah berbisik. Andre mengusap kepala Avril sambil tersenyum.


"Tuhh kan pasti benar kan ayah?" Tanya Avril lagi membuat Galih semakin kesal.


"Ahahaha om... ijin bawa Avil ya om." Ucap Reno tertawa kikuk sambil menarik Avril dengan paksa.


"Hei... kalian mau bawa aku kemana?" Avril setengah berteriak dengan masih ditarik oleh Reno.


"Melindungimu dari amukan beruang kutub." Jawab Bagas.


"Hei apa maksudmu?" Galih tak kalah kesal mendengar jawaban Bagas.


"Hahaha maaf kak." Bagas melambaikan tangan sembari menjauh dari lorong ruangan persalinan.


"Aku mau melihat keponakanku..." rengek Avril.


"Keponakanmu bisa ketakutan melihatmu." Cetus Bagas.


"Kau pikir aku apa hah?"


"Ohh tidak... bukan apa-apa."


"Baren...."


"Diam." Tegas Baren membuat Avril diam dan menurut saja mengikuti kemana Baren pergi.


. Avril menatap kagum pada keponakannya yang kini menggeliat dipangkuan Nadia.


"Dia tampan sekali kak." Ucap Avril.


"Tentu saja. Siapa dulu uncle nya." Jawab Nadia.


"Uncle?" Avril menyernyit siapa yang dimaksud Nadia.


"Uncle Alvi." Cetus Nadia.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2