Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
43


__ADS_3

Avril kembali ke ruangan magangnya ketika sudah memastikan bahwa Alvi sudah tertidur.


Iqbal terus memperhatikan gerak-gerik Avril. Mengapa pak Deri sedikit bersikap berbeda setelah kembali dari ruangan direktur. Hanya Rania yang masih acuh pada Avril. Bahkan setelah peristiwa itu, Avril masih bersikap sopan pada Devia yang sekarang lebih menunjukan rasa bersalahnya daripada sikap sinisnya.


Menyadari itu, Rania mencoba bertanya tentang dirinya yang berubah sikap pada Avril. Padahal Devia dan Rania sama-sama tidak menyukai Avril.


"Apa kau sudah menemukan informasi tentang kedekatan Avril dan pak Ray?" Tanya Rania.


"Rania.. sebaiknya kau berhenti mencari tahu tentang itu. Jika tidak, kau akan mendapat masalah besar." Jawab Devia yang jelas mengutarakan sebuah ancaman.


"Kenapa? Aku hanya ingin tahu. Aku selalu penasaran siapa tunangan pak Ray. Dan melihat gelagat Avril yang sama merahasiakan hal itu, aku jadi curiga." Ujar Rania.


"Pak Ray bukan tunangan Avril." Jelas Devia.


"Dari mana kau tahu?"


"Sudahlah. Hanya itu yang bisa ku beri tahu padamu. Selebihnya aku tak bisa." Ucap Devia mencoba menghilangkan kegelisahan hatinya atas ucapan pak Yusuf dan Ray.


*flashback.


. Masih di ruang direktur, Ray mengancam kedua orang didepannya agar tidak membocorkan rahasia ini pada publik.


"Jika ada yang tahu selain kalian, kalian berdua orang pertama yang akan aku cari." Tegas Ray penuh penekanan dan kembali berlalu meninggalkan ruang direktur.


"Devia... semoga ini menjadi pelajaran untukmu. Aku melindungimu karena aku tahu kinerjamu sangat bagus. Jadi, sebisa mungkin aku akan mempertahankanmu selama tuan Alvi tidak tahu. Karena jika tuan Alvi tahu, aku tidak bisa membantumu lagi. Bisa jadi kau akan dikeluarkan dengan tidak hormat dari perusahaan ini. Kau sendiri tahu bagaimana sikap tuan Alvi." Devia mengangguk penuh penyesalan.


"Dan kau Deri. Jangan karena kau sudah tahu tentang status nona Avril, kau menambahkan ataupun mengurangi penilaian terhadap magangnya."


"baik pak"


"Kembali!" Tegas pak Yusuf yang ditanggapi anggukan oleh keduanya.


---


. "Mengapa aku sesial ini? Aku berniat menyingkirkan serangga, malah aku yang yang menjadi serangganya. Dan memang benar, nona Avril sangat baik. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku sudah mengeluarkan siapa saja yang berani berbuat kasar dan mencoba mendekati calon suaminya. Apa yang dipikirkan gadis itu? Dia terlalu baik." Gumam Devia.


. "Dea... maaf tolong gantikan aku sebentar. Aku ingin ke toilet." Ucap Avril pada Dea sembari meninggalkan komputernya.


"Baiklah.. jangan lama-lama." Dea beralih ke meja Avril.


Karena terburu-buru, Avril menabrak Ray yang kebetulan baru masuk ke ruangan.


Kejadian itu menarik perhatian semua yang berada dekat dengan pintu, termasuk Rania.


"Maaf..." ucap Avril menutup hidungnya yang ngilu karena terbentur.


"Nona baik-baik saja?" Tanya Ray pelan dengan sedikit memiringkan wajahnya.


Rania menatap tajam pada Avril.


Semenjak Avril magang, Ray sering ke ruangan itu. Begitu pikir Rania yang setiap saat mengagumi Ray.


Betapa sakitnya saat tahu bahwa Ray sudah bertunangan.


Namun selama ini tak pernah ada yang tahu siapa gadis yang menjadi pasangan Ray. Sampai akhirnya Rania menyadari sesuatu tentang Avril, yang sama-sama diketahui sudah bertunangan namun tidak mempublikasikan siapa pasangannya.


Hingga Rania berasumsi bahwa Avril dan Ray adalah pasangan.


Saat Avril kembali, dengan sengaja Rania menyenggol Avril. Alhasil sikut Avril terbentur ke meja komputer. Goresannya tak terlalu besar, namun cukup membuat Avril meringis kesakitan.


Deri yang melihat Avril sibuk mencari tissue dengan menutupi sikutnya merasa heran.


"Apa ada sesuatu?" Tanya Deri dengan sopan.


"Apa ada tissue pak?" Tanya Avril balik dengan raut wajah yang menahan ngilu.


"Nona terluka?" Tanya Deri mencoba melirik sikut Avril.


"Jangan memanggilku nona." Lirih Avril.


"Ba-baiklah maaf. Tapi bisakah saya mengecek luka anda?"


"Pak... jangan formal juga." Avril memohon dengan nafas malas.


Deri menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tertawa kikuk.


"Siapa saja? Ada yang punya tissue?" Teriak Deri berharap ada yang menanggapi.


"Saya pak." Ucap Liya sembari menyodorkan dengan sopan ke arah Deri.


"Tolong bantu Avril menyeka lukanya." Titah Deri ditanggapi anggukan oleh Liya.


Deri kembali berlalu dan meninggalkan Avril dan Liya saja.


"Kau melamun?" Tanya Liya fokus pada luka Avril.


"Mungkin iya." Jawab Avril menahan ngilu.


"Jangan diambil hati. Rania memang seperti itu pada gadis yang dekat dengan pak Ray." Ucap Liya membuat Avril berfikir ulang.


"Dia menyukai pak Ray. Sepertinya dia berfikir bahwa kau adalah tunangan pak Ray." Lanjut Liya, dan Avril hanya tertawa kecil.


"Pak Ray itu kebetulan orang terdekat tunangan saya kak. Mereka sangat dekat. Jadi, mungkin karena alasan itu juga, pak Ray dekat dengan saya." Jelas Avril dan Liya hanya manggut-manggut menanggapi Avril.


"Hemmm pantas saja. Aku juga berfikir seperti itu. Karena jika kau tunangan pak Ray, pasti kau dan pak Ray akan berpura-pura tidak kenal. Secara pertunangan pak Ray tidak dipublikasikan. Bahkan sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa gadis yang menjadi pendamping pak Ray itu."


"Aku tahu."


"Hah? Kau tahu? Siapa? Dari mana kau tahu?" Seketika wajah Avril menjadi kaku.

__ADS_1


"Mak-maksudku... aku juga tahu berita itu... tapi jika pasangannya...."


"Yahhh ku kira kau tahu." Ucap Liya malas menyela sebelum Avril menyelesaikan ucapannya. Avril hanya tertawa kikuk.


. Ketika pulang, Alvi menyuruh Avril untuk menemuinya di parkiran. Dengan cepat, sebelum ada yang melihat, Avril memasuki mobil Alvi.


Alvi memberi satu kecupan hangat di kening Avril, dan mengusap pipi Avril dengan lembut.


"Sudah sembuh?" Tanya Avril memasang wajah khawatir.


"Melihat senyummu, sakitku hilang seketika sayang." Goda Alvi menyunggingkan senyum diwajah Avril.


Ketika Avril membenahkan tasnya, Alvi terfokus pada sebuah plester yang menempel di sikut Avril.


"Kenapa ini?" Tanya Alvi meraih lengan Avril dengan hati-hati.


"Aw... jangan menyentuhnya." Rintih Avril menahan tangan Alvi yang hendak meraih lengan Avril kembali.


"Harusnya kau hati-hati. Jangan teledor. Dunia kerja sangat keras." Ucap Alvi membelai rambut Avril.


"Iya..."


"Kau lelah?" Tanya Alvi lagi dengan ditanggapi anggukan.


"Mau makan dulu sebelum pulang?"


"Makan dirumah saja."


"Baiklah."


Kemudian Alvi melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.


Siapa sangka, Devia yang diam-diam mengikuti Avril, harus menyaksikan betapa hangat dan perhatiannya Alvi pada Avril. Presdir yang selalu bersikap dingin dan datar, kini menjadi seorang yang sangat romantis didepan orang yang dicintainya. Ternyata benar kata orang. Laki-laki dingin cenderung setia. Namun modelan Alvi sangat susah ditemukan. Kebanyakan laki-laki dingin, cenderung seakan tak peduli pada orang lain. Bahkan pada pasangannya sendiri. Tapi Alvi tidak. Hanya pada orang lain saja dirinya bersikap dingin, namun pada pasangannya bisa membuat iri pasangan lain.


Devia tersenyum ketika mengingat keromantisan pasangan itu. Jangankan dihati Alvi, dimatanya saja Devia tak punya tempat. Siapa Avril sebenarnya? Mengapa seorang Alvian Revano bisa tertarik padanya?


. "Tak ada yang menyakitimu kan?" Tanya Alvi tiba-tiba membuat Avril menjadi gugup.


"Tidak... luka ini karena aku tak hati-hati."


"Besok akan aku katakan bahwa kau itu nyonya diperusahaanku. Agar tidak ada yang mengganggumu lagi. Dan aku sudah muak mendengar kau adalah tunangan Ray. Mengapa mereka berfikir begitu?"


"Tidak Alvi... jangan! biarkan semuanya berjalan seperti ini saja. Jika aku diketahui publik, harusnya aku tak magang ditempatmu. Aku magang di perusahaan A saja kalau begitu." Ucap Avril sedikit merajuk.


"Hemm... baiklah.. tapi rasanya aku sedikit gelisah." Seketika Avril mengingat pada Devia dan Rania. Avril terdiam tak menjawab.


. Sampai dirumah Avril, Avril dengan malas berjalan menuju teras.


"Jika kau berjalan seperti ini di kantorku, kau akan tertinggal jauh nyonya." Ucap Alvi yang menggendong Avril. Avril terkejut dengan cepat melingkarkan tangan di leher Alvi.


"Kau mau jantungku copot karena terkejut tuan?"


"Tapi dengan begitu kau jadi ada pekerjaan kan?" Ejek Avril tertawa kecil.


"Ohh jadi kau berani menjahiliku? Baiklah, sekalian saja aku langsung menerkammu dikamar." Alvi menyunggingkan seringai licik yang membuat Avril terbelalak.


"Alvi turunkan aku. Atau aku akan berteriak."


"Mengapa kau begitu panik nyonya? Bukankah ini yang kau inginkan?"


"Hentikan senyum menakutkanmu itu bodoh..." Avril mendorong wajah Alvi dengan setengah berteriak.


Avril tersentak lalu menarik kembali tangannya.


"Maaf.." lirih Avril.


"Haruskah aku maafkan?" Kini tatapan Alvi sangat tajam, Avril merasakan seakan menjadi gadis lain diluar sana yang selalu menadapat tatapan seperti itu.


"Tuan jangan marah.." mohon Avril.


"Tapi aku terlanjur marah." Ucap Alvi memalingkan wajahnya manja. Avril meraih wajah Alvi, lalu mengecup bibirnya hingga Alvi melirik kearah Avril.


"Sudah tak marah?" Tanya Avril tersenyum.


"Hemmm jadi kau lebih berani sekarang? Kau menggodaku? Dan dari mana kau mendapatkan cara merayu seperti itu hah?"


"Hehe... yaa dugaanku saja.." Avril memalingkan wajahnya. Alvi menurunkan Avril di sofa, lalu beranjak ke dapur. Avril terheran, namun saat hendak menyusul Alvi, Alvi melarang dan menyuruhnya duduk saja.


Tak lama, Alvi membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di meja.


"Hanya satu?" Avril menatap cangkir itu dengan ekspresi heran.


"Habiskan dulu... jika kurang, baru kau berkomentar." Ucap Alvi duduk di samping Avril.


"Eh? Ini untukku?" Tanya Avril menunjuk dirinya. Alvi mengangguk menanggapi pertanyaan Avril.


"Kau serius?" Lagi-lagi Alvi hanya mengangguk.


"Emmm harusnya aku yang membuatkannya untukmu." Rengek Avril dengan wajah kesal.


"Sudahlah... minum saja, nanti dingin." Namun Avril malah memeluk Alvi.


"Kau kenapa lagi?" Alvi terdengar menghela nafas berat.


"Kau yang kenapa? Kau sedang sakit, tapi kau malah mengantarkanku pulang, lalu sekarang kau malah repot-repot membuatkan ku minum."


"Apa yang kau katakan? Dengar sayang! Tak ada salahnya jika suami memanjakan istrinya bukan?"


"Belum jadi juga." Lirih Avril.

__ADS_1


"Hah? Apa?"


"Tidak tidak.. hehe." Avril mendongak dengan tersenyum menyebalkan dan melepas pelukannya.


"Sudah... minum teh nya.. aku sudah membuatkannya untukmu, aku akan kecewa jika kau tak meminumnya."


"Ya baiklah pak suami! Akan aku minum." Ucap Avril kemudian meraih teh didepannya, lalu meminumnya dan terdiam menatap Alvi. Alvi hanya menyernyit menebak pertanyaan yang muncul dibenak Avril yang akan dilontarkan padanya.


"Kurang manis." Ucap Avril polos. Alvi hanya tersenyum.


"Kau menjahiliku?" Tanya Avril memukul Alvi.


"Tidak. Siapa yang menjahilimu?"


"Lalu? Kenapa tehnya kurang manis?"


"Benarkah? Coba aku cicipi." Alvi merebut tehnya lalu meminum dengan menatap Avril sambil tersenyum.


"Manis. Sangat manis."


"Hei... lidahmu bermasalah tuan...." Avril merebut kembali teh miliknya, lalu dengan penasaran kembali meminumnya.


"Tuhh kan... manis dimana nya?"


"Diwajahmu." Jawab Alvi yang tak sedikitpun memalingkan pandangannya. Avril terdiam meletakkan cangkir teh, lalu membalas tatapan Alvi.


"Gombal!" Cetus Avril.


"Aku serius. Apalagi saat kau tersenyum, sepertinya gula darahku mendadak naik." Avril sontak tertawa dengan yang dikatakan Alvi.


"Baiklah tuan... lidahku yang bermasalah." Avril mengangkat kedua tangannya.


"Sepertinya begitu nyonya."


"Tapi matamu lebih bermasalah tuan."


"Iya memang! Bahkan otakku juga. Semua yang kulihat, selalu muncul wajahmu."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Noah bilang aku divonis mengidap penyakit otak." Avril tercengang, bisa ditebak kini Avril mendadak khawatir.


"Alvi jangan becanda." Bahkan kini terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku serius... Noah bilang otakku sangat kacau."


"Sejak kapan?" Wajah khawatirnya tak bisa disembunyikan lagi oleh Avril. Avril menggenggam tangan Alvi dengan niat menguatkannya.


"Sejak aku memanggilnya dengan namamu." Seketika raut wajah Avril menjadi kesal. Avril lalu memukul Alvi tanpa henti.


"Menyebalkan.... aku sudah khawatir padamu, bahkan hampir menangis. Mengapa kau begitu menyebalkan Alvi..... aku penasaran Mama Maya dulu ngidam apa saat mengandungmu? Mengapa dia punya anak yang menyebalkan sepertimu sialan...." Avril terus memukul Alvi yang tertawa karena berhasil menjahili kekasihnya itu.


"Kau lucu sayang."


"Tidak lucu brengsek."


"Ayah... tolong menantumu ini... aku disiksa anakmu..." teriak Alvi dengan masih tertawa.


"Jangan menolongnya ayah.... sekalian aku ingin membunuhnya." Avril tak kalah berteriak.


"Hei... KDRT. nanti aku mati sungguhan sayang. Hentikan.!" Ucap Alvi meraih kedua tangan Avril.


"Kau sudah siap jadi janda?" Tanya Alvi serius.


"Tidak..." rengek Avril.


"Perutku sakit."


"Rasakan."


"Kau jahat."


"Kau yang lebih jahat. Becandamu berlebihan."


"Iya maafkan aku sayang. Aku yang salah." Bujuk Alvi membelai rambut Avril.


"Jangan diulangi lagi. Aku bisa mati karena terlalu khawatir padamu." Lirih Avril masih terdengar kesal.


"Sut jangan bicara seperti itu."


Avril kembali meminum tehnya.


"Apa sekarang sudah manis?" Tanya Alvi melemparkan senyuman yang lebar.


"Pahit." Jawab Avril polos. Seketika Alvi menarik kembali senyumnya. Kini Avril yang tertawa merasa puas.


"Benarkah? Itu curang sayang." Alvi semakin mendekatkan wajahnya pada Avril. Avril kemudian menutup wajahnya dan mencoba menjauh dari wajah Alvi. Alvi meraih kedua tangan Avril yang menutupi wajahnya, lalu dengan lancang mencium bibir Avril dan seakan tak mempedulikan jika ada orang yang melihat.


Avril kemudian beranjak setelah Alvi melepaskannya.


"Ak-aku mau mandi..." ucapnya sedikit salah tingkah.


"Mau aku temani?" Avril terbelalak lalu menepuk pipi Alvi pelan.


"Tidak terima kasih." Avril berlalu menaiki tangga setengah berlari meninggalkan Alvi yang terkekeh.


"Hati-hati sayang. Nanti kakimu sakit." Teriak Alvi.


"Sayang?" Tanya Ayah dari belakang Alvi.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2