
. Ketika Alvi keluar dari ruangan, seketika suasana menjadi riuh. Bertanya-tanya mengapa Avril bisa melakukan kesalahan sefatal itu.
"Tenang. Semua harap tenang. Kembali bekerja.!" Tegas pak Deri.
"Baik pak." Dijawab serempak oleh bawahannya.
Dea dan Iqbal merasa ada yang salah. Setahu mereka Avril baru bertemu dengan presdir saat di kantin saja.
Apa ini hanya rencana presdir saja agar bisa mendekati Avril. Begitulah pikiran Dea dan Iqbal berkecamuk.
. Sampai di ruangan, Avril hanya mematung didekat pintu yang sudah tertutup, dan Alvi yang berhenti tepat sejajar di depan Avril.
"Mengapa kau disini?" Namun Avril diam tak menjawab.
"Aku tanya mengapa kau disini? Bukankah kau membenciku? Tapi mengapa kau berani menginjakkan kakimu di perusahaanku? Kau pikir aku tak mengenalimu? Kau merubah penampilanmu berharap aku tak tahu? Apa kau ingat Avril. Bukankah saat pertama kau mengenalku, penampilanmu seperti ini kan?." Tanya Alvi berbalik dan semakin dekat dengan Avril. Avril mundur sampai terbentur pintu karena menghindari kontak dengan Alvi. Avril menahan ngilu di kepalanya. Dengan hati-hati Alvi kembali mengusap kepala Avril seperti yang pernah dilakukannya saat itu.
"Hati-hati. Apa kau begitu takut melihatku? Atau kau benar-benar membenciku?" Avril hanya memalingkan wajahnya.
"Aku lebih suka rambutmu terurai dan poni mu kesamping seperti ini" Avril menepis tangan Alvi yang menyibakkan sedikit poninya kesamping kiri wajanya, dan kemudian sedikit bergeser menjauh.
"Jangan menyentuhku." Ucap Avril dingin.
"Apa salahnya?" Tanya Alvi.
"Kau pikir aku wanita seperti apa? Apa kau pikir aku wanita perebut suami orang? Atau wanita penggoda yang setiap kali kau mainkan saat di club?" Avril melirik sinis pada Alvi dengan kemarahan yang terus ia pendam.
"Maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu berfikir begitu." Ucap Alvi meraih tangan Avril.
"Menjauh dariku Alvi." Ucap Avril menarik tangannya dari genggaman Alvi.
"Kau kenapa Avril? Apa aku salah jika menyentuh calon istriku?"
"Aku bukan lagi calon istrimu Alvi. Kau sudah menikah dengan kak Amel. Aku tak pernah sudi menjadi yang kedua."
"Hah?"
"Jangan pura-pura Alvi."
"Mengapa kau berpikir aku sudah menikah?" Avril kemudian tersenyum sinis.
"Bukankah kau sendiri yang berkata bahwa kau sudah beristri?"
"Hah? Kapan?"
"Dasar si amnesia dadakan." Decih Avril.
"Apa? Kau memaki ku?"
"Iya. Aku memang memakimu. Bukan hanya sekarang, tapi setiap hari aku memakimu."
"Apa kau sudah puas memakiku?" Tanya Alvi dengan seringai yang seakan memojokkan Avril.
"Dan mengapa kau pulang sebelum acara pertunanganku selesai sayang?" Kembali Alvi semakin dekat pada Avril.
"Apa kau tak kuasa melihatku dengan gadis lain? Atau memang kenyataannya kau sangat mencintaiku? Iyakan?"
Avril melirik jemari Alvi dan menemukan sebuah cincin.
"Tidak. Aku tidak mencintaimu lagi. Aku pergi saat acara karena aku mengantar Demira."
"Benarkah? Lalu apa artinya cincin lamaran yang masih kau pakai pemberianku itu?" Alvi menunjuk dengan sorot mata pada kalung Avril. Avril hanya memalingkan wajahnya.
"Aku akan mengembalikkan nya padamu." Lirih Avril meraih kalungnya.
"Tak perlu. Aku senang kau masih memakainya." Ucap Alvi menahan tangan Avril dengan senyuman hangat.
Avril kembali menepis tangan Alvi dan terus menghindar.
"Apa aku seperti hantu? Kau terus menghindariku."
"Sudah kubilang aku tak ingin di sebut wanita penggoda suami orang Alvi." Jawab Avril.
"Ayolah Avril. Siapa yang sudah menikah. Sudah ku bilang hanya kau yang akan aku nikahi. Dan bukankah aku pernah berjanji padamu aku akan kembali dan tak akan menghianatimu. Apa kau tak ingat?"
"Tapi nyatanya kau sudah resmi menjadi milik kak Amel kan?"
"Apa yang kau tahu tentang hubunganku dengan Amel?" Alvi mencengkram bahu Avril dengan kuat.
"Apa perlu aku jawab?."
"Apa? Jadi benar selama ini kau menghilang dariku, dan selama berbulan-bulan kau juga tak tahu tentang apa yang terjadi padaku. Bagus. Bagus Avril. Itu menjelaskan bahwa kau sangat mencintaiku." Alvi melepaskan cengkraman nya. Kemudian menjauh, lalu berbalik dan menumpu tubuhnya dengan tangan di meja.
"Bahkan kau tak tahu aku dan Amel tak jadi bertunangan." Seketika Avril tersentak mendengar ucapan Alvi. Avril mematung tak percaya.
"Jangan becanda Alvi. Aku tak percaya lagi padamu." Ucap Avril tersenyum tak percaya.
"Menurutmu aku sedang becanda? Jika aku becanda, untuk apa aku meyakinkanmu?"
Alvi kembali menghampiri Avril lalu memeluknya.
"Sudah ku bilang. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku sungguh mencintaimu Avril. Jadi jangan pernah meninggalkanku." Alvi membenamkan wajahnya pada kepala Avril.
"Lalu? Cincin apa itu yang kau pakai?" Lirih Avril.
"Kau pikir ini cincin pertunangan siapa?"
"Alvi... aku tahu kau mencintaiku. Tapi jangan menyakiti kak Amel dengan cara seperti ini. Itu menyakitkan kau tahu?"
"Amel yang mengumumkannya. Dia yang memutuskannya sendiri. Aku hanya menjaga sesuatu yang berharga untukku saja."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sampai kak Amel membatalkan pertunangannya Alvi?"
"Apa kau benar-benar tak tahu?" Avril menggeleng.
"Tidak mungkin aku memakai dua cincin kan?" Mendengar itu, Avril membenamkan wajahnya di dekapan Alvi. Terdengar isakan dan sebuah tangan melingkar membalas pelukannya.
"Aku membencimu Alvi."
"Iya aku tau. Bencilah aku sesukamu." Alvi tertawa dengan air mata yang terus berderai.
"Memalukan. Bisa-bisanya aku menangis untuk orang yang membenciku." Ucap Alvi menyeka air matanya.
"Aku membencimu." Lirih Avril lagi.
"Kau sudah mengatakannya beberapa kali Avril. Hentikan atau hatiku akan semakin sakit."
"Hatiku lebih sakit sialan." Avril masih sedikit sesenggukan.
"Aku merindukanmu sayang." Alvi mencium rambut Avril.
"Aku membencimu."
"Hentikan itu. Atau aku akan bunuh diri melompat dari atap gedung."
"Jangan." Rengek Avril membuat Alvi tertawa bahagia.
"Kau tak ingin melepaskanku? Atau kau sangat teramat merindukanku?" Tanya Alvi pura-pura polos. Avril melepaskan pelukannya, lalu Alvi kembali tertawa melihat wajah Avril yang berantakan karena menangis.
"Apa yang membuatmu menangis sampai seperti ini sayang? Bukankah kau membenciku?"
"Justru karena aku membencimu. Kau tega menerima perjodohan setelah kau melamarku. Kau tidak menjengukku saat aku di rawat. Bahkan--"
"Sut.. jangan bicara lagi. Aku akan semakin merasa bersalah padamu."
"Kau tak tahu sehancur apa aku." Avril memukul lengan dan dada Alvi. Tidak keras, namun setidaknya kekesalannya pada Alvi sedikit berkurang.
"Aku tahu sayang."
"Hatiku sangat sakit."
"Iya aku juga tahu. Maafkan aku." Alvi membiarkan Avril terus memukulnya.
"Jadi? Apa kau memaafkanku?" Tanya Alvi ketika Avril berhenti memukulnya. Avril terdiam menunduk, lalu tiba-tiba menamparnya dengan keras. Namun Alvi hanya terdiam tak menunjukan perasaan kesal atau marah.
Ditampar seribu kali pun, Alvi rela jika itu membuat Avril memaafkannya.
"Laki-laki macam apa kau? Pertunanganmu dengan kak Amel batal, bukan berarti kau harus mengabaikannya semakin jauh. Dia butuh teman yang harusnya berada di sampingnya sekarang. Dia ingin kau yang menemaninya. Tapi kau malah? Ihhh mengapa kau begitu bodoh Alvi." Alvi tersenyum melihat kembali tingkah Avril yang menggemaskan. Saking senangnya, Alvi dengan tiba-tiba mencium Avril dan tanpa menunggu persetujuan Avril terlebih dahulu.
Avril terbelalak namun tetap membiarkan Alvi menciumnya. Lalu Alvi memeluk erat Avril seakan tak ingin lagi melepaskannya.
"Aku benar-benar merindukanmu. Jangan pernah lagi menghilang dari pandanganku."
"Kau yang meninggalkanku sialan." Avril membalas pelukan Alvi dan membenamkan wajahnya di dada Alvi.
"Kalau begitu, sesuai hukumanmu yang sudah menabrak dan menjatuhkan kopi ku, kau harus membereskan ruangan ini sampai bersih." Lanjut Alvi yang enggan melepaskan Avril dari pelukannya.
"Kau pikir aku bodoh? Ruanganmu sudah bersih. Dan lagi pula kapan aku menabrakmu? Tadi saja kau hanya melewatiku." Ucap Avril mendelik memalingkan wajahnya yang masih berada di dekapan Alvi.
"Sekarang. Bahkan kau tak ingin melepaskanku." Alvi semakin erat memeluk Avril.
"Siapa yang memeluk siapa tuan?" Dengan sengaja Avril melepaskan pelukannya dan membiarkan Alvi saja yang memeluk dirinya.
"Hei sayang. Kau curang."
"Jantungmu berdetak tuan."
"Tentu saja. Aku masih hidup."
"Tapi ini sangat keras. Seperti baru selesai berlari."
"Iya! memang."
"Sepertinya kau berlari dari kenyataan tuan." Ejek Avril kemudian mendongak dan menatap Alvi.
"Iya. Kenyataan yang kukira dia sudah pergi, tapi sekarang sudah kembali dan terlihat jelas berada didepan mataku." Ucap Alvi membalas tatapan Avril.
"Alvi...."
"Hmm?"
"Bisakah kau melepaskanku?"
"Kenapa? Aku tak ingin jika melepaskanmu, kau akan meninggalkanku lagi."
"Alvi... aku harus bekerja. Apa kata atasanku nanti."
"Aku yang punya wewenang paling atas disini? Kau mau membantah pimpinanmu?"
"Baiklah pak presdir. Aku akan membereskan ruanganmu. Jadi tolong lepaskan aku." Mohon Avril.
"Aku masih merindukanmu."
"Alvi....." kini nafas Avril terdengar kesal.
"Baiklah. Kau boleh kembali. Tapi Ray harus mengantarmu sampai ruangan itu. Aku tak ingin jika kau macam-macam pada karyawan disini.
"Macam-macam apa?"
"Kau ini cantik. Jadi bisa saja semua karyawan laki-laki mengganggumu." Kini giliran Alvi yang terdengar kesal.
__ADS_1
"Kau tak percaya padaku?"
"Tidak. Apalagi pada anak baru yang bergabung denganmu."
"Hah? Mak-maksudmu Iqbal?" Alvi menanggapi dengan mendelik.
"Ayolah Alvi... dia bukan siapa-siapa. Dia hanya rekan magangku saja."
"Siapa yang tahu? Dia sepertinya menyukaimu."
"Tapi aku tidak. Bukankah aku milikmu?"
"Ya baiklah.. silahkan pergi. Biarkan aku sendiri saja disini." Ucap Alvi seperti anak kecil yang tidak di turuti kemauannya. Merajuk dan seperti tak mempan jika di bujuk.
Avril berlalu keluar dari ruangan Alvi dan merasa bersalah ketika melihat Alvi yang seakan tak ingin dirinya pergi.
"Padahal masih satu gedung. Kenapa dia begitu posesif." Avril menghela nafas berat.
"Nona!" Avril terperanjat ketika Ray menyapanya tepat dibelakangnya.
"Ray... kau mengejutkanku." Ucap Avril dengan memukul lengan Ray.
"Nona mau kemana?" Tanya Ray.
"Aku magang disini Ray. Jadi aku harus bekerja. Bukan mengobrol dengan Alvi."
"Tapi tuan membutuhkan nona."
"Hah? Mengapa aku? Bukankah kau bisa menemaninya?"
"Saya... masih banyak pekerjaan nona. Jadi tak bisa terus bersama tuan."
"Tapi Ray.."
"Tenang saja. Deri bisa saya atur nona. Silahkan nona kembali ke ruangan."
"Apa? Aku benar-benar harus kembali lagi? Kau serius Ray?" Ray hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi pertanyaan konyol Avril.
Dengan malas, Avril kembali kedalam dan menemui Alvi lagi. Namun Avril terkejut ketika menutup pintu, Alvi sedang bersandar disamping pintu.
"Kau kembali lagi?"
"Sedang apa kau di balik pintu sialan?" Avril sedikit berteriak lalu memukul keras lengan Alvi.
"Kau ini sebenarnya sudah memaafkanku atau tidak? Mengapa kau begitu kasar padaku? Aku sudah meminta maaf." Avril tertawa melihat kekesalan Alvi.
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Avril meredakan tawanya.
"Tetaplah disini. Temani aku!" Jawab Alvi beralih menghadap Avril yang masih didepan pintu.
"Alvi... aku harus bekerja."
"Ya sudah. Sekarang bereskan ruanganku." Ucap Alvi datar dan berjalan kembali ke mejanya.
Dengan menurut, Avril memulai dengan merapikan satu persatu buku yang tersusun tak beraturan di rak.
"Kau masih menyimpan novel ini?" Tanya Avril ketika menemukan harta karunnya.
"Hemmm. Kau suka membacanya saat kesini, mana mungkin aku membuangnya." Jawab Alvi yang fokus pada beberapa dokumen didepannya.
"Kau sangat pengertian." Avril tak kalah fokus membereskan buku-buku.
. Ditengah kesibukan masing-masing, terdengar seseorang membuka pintu.
Avril melirik, ingin tahu siapa yang memasuki ruangan Alvi. Seketika wajah Avril terlihat kesal, karena yang masuk seorang karyawan wanita dengan stelan jas merah muda, dengan rok selutut dan sangat anggun. Ditangannya membawa sebuah dokumen untuk Alvi tandatangani.
Beberapa kali wanita itu melirik Avril seolah bertanya sedang apa Avril di ruang presdir. Dengan pesonanya, Devia menatap kagum dan seakan menggoda Alvi dengan wajah dan penampilannya. Namun Alvi tak meliriknya sedikitpun.
Devia tahu bahwa Alvi tidak jadi bertunangan dengan Amel, bahkan seluruh isi gedung pun mengetahui kabar itu. Mereka berfikir bahwa Alvi masih sendiri saat ini. Hubungannya dengan Avril tidak diketahui publik.
"Kerja bagus. Kau bisa kembali." Ucap Alvi menyerahkan kembali dokumen pada Devia tanpa melihat kearahnya. Alvi hanya fokus pada layar ponselnya saat ini.
"Saya permisi tuan." Ucap Devia dengan terpaksa meninggalkan ruangan presdir.
"Semakin hari, tuan Alvi semakin dingin?" Gumam Devia seraya menutup pintu.
. Alvi menghampiri Avril yang masih membereskan dan menata ulang beberapa pajangan di ruangannya. Dengan tiba-tiba, Alvi merangkul Avril dari belakang membuat Avril menghentikan aktivitasnya.
"Sepertinya ada yang sedang kesal." Ucap Alvi.
"Siapa?" Delik Avril mengelak mendapati pertanyaan itu.
"Siapa lagi kalau bukan calon istriku yang tercinta ini." Ucap Alvi kemudian memberi kecupan di pipi Avril.
"Jangan marah. Aku tak tertarik padanya." Lanjut Alvi meyakinkan.
"Jika tertarik pun tak apa. Itu menunjukan kau pria normal." Ucap Avril pelan.
"Tapi aku hanya tertarik padamu. Berarti aku tidak normal?" Tanya Alvi polos.
Avril menghela nafas berat kemudian berputar dan masih membiarkan Alvi melingkarkan tangan di pinggangnya.
Avril menepuk pipi Alvi dengan kedua tangannya, dan menatapnya dalam.
"Aku tak akan marah jika kau hanya tertarik. Tapi aku akan marah jika kau berpaling."
"Apa aku pernah berpaling darimu?" Tanya Alvi mengangkat tangannya dan menunjukan cincin tunangannya.
Avril hanya tersenyum haru.
__ADS_1
. Ditengah adegan romantisnya, ketukan pintu membuat Alvi dan Avril terkejut panik. Hampir saja ketahuan.
-bersambung