
. Alvi menoleh pada kedua kakak beradik itu. Melemparkan senyumnya sambil memasangkan jam dipergelangan tangannya.
Avril benar-benar merasa dirinya jatuh cinta untuk ke sekian kalinya pada Alvi.
"Sudah siap?" Tanya Alvi memecah kecanggungan.
"Ahhh tentu saja pak supir." Jawab Galih kemudian berjalan menghampiri Alvi yang melirik tajam kearahnya.
"Aku tidak bertanya padamu." Ucap Alvi. "Aku bertanya pada pengantinku." Lanjutnya membuat Avril terkejut.
"Ya ya ya... terserah kau saja." Galih berlalu menuju mobilnya yang sudah dihiasi dengan bunga menandakan bahwa itu adalah mobil dari pengantin pria.
"Ternyata kau yang mengajari itu pada Avril." Ucap Alvi
"Mengajari apa?" Tanya Galih heran kemudian langkahnya terhenti tepat didepan Alvi.
"Tidak. Lupakan!" Jawab Alvi memalingkan wajahnya.
"Kau benar-benar aneh Alvi."
"Kau baru tahu?"
"Tidak. Aku hanya berpura-pura tidak tahu."
"Kau benar-benar pandai membuat orang emosi Galih."
"Ohhh tentu saja."
Keduanya saling bertatapan dengan tajam. Seperti ingin menerkam satu sama lain.
Avril yang menyaksikannya hanya menghela nafas panjang.
"Mulai lagi." Ucapnya berjalan kearah Alvi.
"Dimana ayah?" Tanya Alvi ketika Avril sudah berada dihadapannya. Sementara Galih menuju mobil pengantin yang berada disamping mobil Alvi.
"Masih bersiap." Jawab Avril terdengar kaku.
Alvi menatap Avril dengan lekat, kemudian perlahan menyunggingkan senyumnya.
"Ada apa? Apa make up ku berantakan? Atau--"
"Siapa kau? Aku tidak mengenalimu." Ucap Alvi memotong pertanyaan Avril sambil memejamkan matanya. Singkat namun cukup membuat Avril menjadi kesal.
"Tidak lucu Alvi." Avril melipatkan lengan didadanya.
Suasana menjadi hening beberapa saat.
"Andai" ucap Alvi menghela nafas berat.
"Andai?" Avril terheran.
"Andai ibuku bisa melihat dan bertemu denganmu. Mungkin bukan aku saja yang merasa senang sekarang." Kini jawaban Alvi cukup membuat Avril sesak. Dirinya pun merindukan sosok seorang ibu.
Avril hanya melemparkan senyumnya pada Alvi. Menahan agar air matanya tidak jatuh didepan Alvi.
"Apa semua sudah siap?" Tanya ayah tiba-tiba yang terdengar menghampiri Avril.
"Sudah semua ayah. Tinggal menunggu waktu berangkat saja." Jawab Alvi melirik jam di tangannya.
"Terimakasih Alvi. Kau sudah banyak membantu ayah" Ucap ayah menepuk pundak Alvi.
"Tak apa ayah. Aku senang bisa membantu ayah dalam persiapan ini."
"Apa kau melihatnya Ahmad? Putramu tumbuh menjadi pria yang baik hati sepertimu." Gumam ayah menatap dengan senyum wajah Alvi.
"Oh iya ayah. Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Alvi setelah hening beberapa saat.
"Ada apa nak?"
"Dimana Avril ayah?" Pertanyaan Alvi membuat ayah dan Avril menyernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu sialan?" Timpal Avril dengan kesal.
"Aku tidak melihat Avril..." ucap Alvi polos.
"Lalu aku disini kau anggap apa?" Nada bicara Avril kian meninggi.
"Sut!! Bidadari tidak berkata kasar kan?" Seketika wajah Avril memerah dan terdiam ketika mendengar Alvi bicara.
"Buaya memang pandai berkata manis ya tuan?" Ejek Avril mendelik dengan senyum sinisnya.
"Tidak tidak. Aku serius. Aku tidak melihat Avril. Yang aku lihat dari tadi hanya seorang bidadari. " Ucap Alvi angkuh.
"Ya ya ya... terserah dirimu saja tuan"
"Apa kalian akan terus seperti ini setelah menikah? Ayah perhatikan, kalian selalu saja bertengkar." Ucap ayah menatap Avril dan Alvi bergantian.
"Tentu saja tidak ayah... aku akan menyayangi putrimu sepenuh hati." Ucap Alvi merangkul pundak Avril.
"Kau pikir ayah akan percaya begitu saja?" Lagi-lagi ayah menarik telinga Alvi tiba-tiba.
"Baiklah baiklah ayah . Aku tidak akan menyentuh Avril. Tolong lepaskan!" Ucap Alvi melepaskan rangkulannya.
"Hei... apa kalian lupa dengan jadwalnya?" Tanya Galih yang bersandar dimobil pengantinnya.
"Masih 5 menit lagi tuan Galih Permana yang terhormat." Jawab Alvi tanpa menoleh pada Galih.
__ADS_1
Tak hanya persiapan dan acara yang dirancang secara teratur, bahkan waktu keberangkatanpun disesuaikan dengan jadwal yang ditentukan.
Alvi benar-benar teliti. Disela-sela kesibukan diperusahaannya, Alvi masih bisa mengurus semua jadwal dan persiapan acara pernikahan Galih.
Avril menatap nanar wajah Alvi yang tak sedikitpun memperlihatkan rasa lelahnya.
"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Alvi ketika menyadari bahwa Avril tak berhenti memperhatikannya.
"Apa kau tidak menuruti nasehatku?" Tanya Avril dengan nada kesal.
"Apa? Mengapa kau begitu khawatir? Aku bekerja sesuai jadwal lembur saja." Jawab Alvi.
"Benarkah?" Tanya Avril dengan wajah curiga.
"Benar sayang. Mengapa kau tidak percaya padaku?"
"Bagaimana aku akan percaya, dari tadi kau terus menahan diri untuk menguap."
"Apa bidadari bisa marah?" Goda Alvi ketika Avril mulai memperlihatkan kekesalannya.
"Aku tidak becanda Alvi..."
"Memang siapa yang sedang becanda?"
"Alvi......"
"Apa sayang?"
"Aku tidak memanggilmu."
"Terus barusan apa? Kau memanggil namaku kan?"
"Iya tapi bukan memanggilmu."
"Lalu?"
"Hei... sudah waktunya bukan?" Teriak Galih lagi seakan melerai perdebatan antara Alvi dan adiknya.
"Iya tuan... sebentar lagi. Pengantin memang tidak sabar." Cetus Alvi mendelik setelah melirik Galih.
"Sialan kau." Galih tak kalah kesal mendelik kearah Alvi.
"Kau tenang saja Galih. Upss maksudku kakak ipar. Kita tidak akan terlambat. Semuanya sudah aku atur. Termasuk jalan yang akan kau lalui." Ucap Alvi menegaskan.
Lagi-lagi Galih mendelik malas.
"Adik kakak sama saja." Alvi menatap dalam mata Avril yang kini terlihat menawan.
"Sial." Cetus Alvi kembali memalingkan pandangannya.
"Apa lagi?" Lirik Avril dengan sinis.
"Mengapa kau menyalahkanku" kembali Avril berpaling dengan wajah yang memerah.
"Sudah waktunya tuan..." teriak Alvi seakan mengabaikan kekesalan Avril. "Kita akan sampai dalam 10 menit. Aku akan mengikutimu, jadi kau jangan khawatir."
Galih memasuki mobil tanpa berbicara apapun.
Seperti ucapannya, Alvi mengikuti mobil Galih dari belakang bak pengawal dengan Avril disampingnya. Namun Avril terkejut ketika keluar dari gerbang rumahnya. Semua yang berjejer rapi adalah mobil kepolisian. Avril menoleh kemudian menatap Alvi penuh keheraran. Batinnya bertanya mengapa bisa ayah Reno mengawal langsung anak dari orang yang dibencinya.
Dan apakah ayahnya dan keluarga Reno sudah baikan.
"Jangan menatapku seperti itu. Jika aku gugup dan salah tingkah, apa kau mau bertanggungjawab kalau mobil ini tidak stabil? Dan apa kau juga akan bertanggungjawab atas kematianku? Dan apa kau sudah siap menjadi janda jika aku mati?"
"Apa yang kau bicarakan sialan." Avril menari telinga Alvi dengan keras.
"Aw adududuhhh.... lepaskan Avril.. nanti aku beneran menabrak mobil kakakmu." Avril melepaskan telinga Alvi, lalu berpaling menatap kesisi lain.
"Jangan marah. Jika kau terus marah, orang tidak akan percaya bahwa aku dan kau adalah sepasang kekasih." Rayu Alvi sembari mengusap telinganya.
Dalam diamnya, Avril merasa bersalah dan keterlaluan pada Alvi. Rasanya ingin bersikap lembut seperti sikapnya pada Aldi, namun Avril menyadari bahwa perasaan itu terhalang oleh egonya yang tinggi. Dan hatinya merasa menyenangkan jika Alvi memohon untuk dimaafkan padahal sudah jelas Avril yang selalu bersalah.
"Ma-maaf." Lirih Avril tanpa menoleh sedikitpun.
"Hmmm? Kau berkata sesuatu?" Tanya Alvi menoleh pada Avril.
"Tidak... aku tidak berkata apa-apa." Jawab Avril mengelak.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Alvi dengan nada cemas dan penuh penasaran.
"Ah.. yaaa aku merasa aneh. Mengapa bisa ayah Reno--"
"Aku yang memintanya."
"Apa?" Avril terkejut heran ketika Alvi memotong pertanyaannya dengan jawaban singkat itu.
"Iya. Kau tak percaya?"
"Jelas aku tak percaya Alvi. Kau tahu? Ayah Reno sangat membenci ayahku."
"Aku tahu. Dan itu kenapa aku memintanya mengawal kakakmu secara langsung olehnya. Jika tidak oleh ayah Reno langsung, para reporter akan mendapat kesempatan untuk menyiarkan acara kakakmu" Jelas Alvi.
"Tapi mengapa bisa?"
"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Alvian Revano sayang?"
"Hmmm yayayaya kau memang yang terhebat Alvi." Ucap Avril santai namun dengan nada ejekan.
__ADS_1
"Mungkin membuatmu melupakan Aldi, itu yang tak bisa kulakukan." Lanjut Alvi mengetukan jarinya ke stir.
"Sudahlah. Mengapa kau membahas itu lagi."
"Baiklah maafkan aku sayang." Ucap Alvi menepuk kepala Avril pelan seraya tersenyum padanya.
"Aku serius Alvi. Mengapa kau bisa membuat Ayah Reno menyetujui keinginanmu."
"Tentu saja Avril... aku memintanya atas nama perusahaanku, bukan perusahaan A ataupun pihak Galih dan Ayahmu. Aku memintanya sebagai Alvian Revano, presdir dari perusahaan D."
"Tapi..."
"Sudahlah. Kita akan segera sampai, dan temanmu sudah menunggu disana."
"Tapi Bagas bilang-"
"Apa dipikiranmu hanya ada Bagas?
"Eh? Lalu siapa?"
"Aku juga tak tahu." Alvi tertawa lepas melihat ekspresi Avril.
Galih turun dengan gagah, diikuti Ayah dan Avril yang menyusul bersama dengan Alvi.
Semua mata kembali tertuju pada Avril.
Sambil berjalan mengiringi kakaknya, Avril melemparkan senyum manisnya kepada para nyonya yang sedari tadi berkata bahwa Avril adalah calon menantunya.
Alvi kini terlihat sebagai pimpinan perusahaan D. Yang jelas terlihat sangat dingin, sorot mata yang tajam, dan tidak mempedulikan sekitar.
Siapa yang tahu, hatinya terus memaki para pria yang menyapa Avril.
"Apa mereka tidak melihatku? Harusnya mereka tahu bahwa Avril itu milikku. Mengapa mereka terus menggoda Avril. Dan Avril juga, mengapa dia begitu ramah hari ini. Bahkan dia jarang tersenyum seperti itu padaku." Gumam Alvi mengepalkan tangannya.
Avril tersentak ketika melewati salah satu tamu undangan. Matanya terbelalak ketika pandangannya bertemu. Jika tidak mengingat karena upacara pernikahan kakaknya, mungkin Avril akan berlari dari sana dan memeluk sahabat yang sangat dirindukannya, Demira. Demira melambaikan tangannya dan melemparkan senyum manis yang terlihat masih sama ketika SMA dulu. Meskipun kini garis wajahnya sedikit berubah, namun mata bulat dan lesung pipi yang menjadi ciri khasnya yang membuat Avril langsung mengenali Demira.
Avril tak sabar dengan acara resepsi ini, dirinya ingin segera menemui Demira.
Namun kerinduannya pada Demira bisa dikendalikannya ketika melihat betapa manis kakak iparnya yang mengenakan gaun pengantin.
Avril melirik Galih dan menahan senyumnya ketika mendapati Galih yang tak berkedip menatap Nadia.
Beberapa kali Alvi berdecih menunjukan ketidaknyamanannya karena ada beberapa reporter yang menyorot kearahnya.
Bak seorang pengawal, Alvi berdiri dibelakang Galih yang kini sudah duduk berdampingan dengan Nadia.
"Kau bisa gugup juga tuan es batu." Gumam Alvi tersenyum tipis.
Bukan hanya Galih yang terlihat gugup disana, Avril pun beberapa kali menghela nafas panjang saat menatap Galih dan Nadia yang bergantian menandatangani surat nikah mereka. Sesekali Avril tersenyum lalu melirik Alvi yang terus menatapnya tanpa berpaling sedikitpun. Avril memalingkan pandangannya kearah lain, dan kembali terkejut ketika mendapati Aldi yang sedang menatapnya dengan tajam seperti yang dilakukan Alvi.
Avril kembali memalingkan pandangannya kearah Alvi lalu menatapnya dengan panik dan gugup.
Avril tertegun ketika sang kakak dengan tegas mengucap ijab qabulnya. Kini kakak laki-lakinya sudah sah menjadi seorang suami dari kakak iparnya.
"Kini kau tak sepenuhnya milikku lagi kak." Gumam Avril yang sangat menusuk hatinya. Dibalik kebahagiaan seorang adik perempuan, ada hati yang patah ketika kakak laki-lakinya menikah. Memang benar, saat dulu kakaknya yang selalu menyempatkan waktu, mungkin kali ini tak ada lagi. Saat kakaknya sedang luang, mungkin sekarang ada orang lain yang pertama kali diajak pergi sebelum mengajak adiknya. Dan jika ayah tak ada, mungkin tak selamanya kakaknyapun selalu ada dan menggantikan posisi ayah.
Dibalik bahagianya, ada rasa sesal yang terus menyesakkan dadanya.
Tak sadar, kini air matanya berderai. Entah itu air mata haru, atau air mata kesedihan. Yang pasti Avril akan merasa kesepian setelah ini.
Setelah akad dilakukan, kini para tamu undangan satu persatu memberikan ucapan selamat.
Disaat itu pula, Avril mencari keberadaan Demira dan Alvi yang tiba-tiba menghilang.
"Sudahlah. Lupakan dulu Alvi. Sekarang hanya mencari Demira." Gumam Avril dengan wajah yang riang. Namun senyum itu hilang seketika, saat melihat Demira bersama Aldi dan Reno. Entah kenapa semenjak Aldi mengakui Syifa sebagai tunangannya, Avril selalu merasa kesal ketika melihat Aldi.
Demira kemudian melirik kearah Avril lalu melambaikan tangannya tanda bahwa Avril harus menghampirinya.
Setelah Avril berada dihadapan Demira, dengan cepat Demira memeluk erat Avril dengan diiringi tangisan kecil.
"Aku merindukanmu." Lirih Demira membuat tangisan Avril pecah seketika. Keduanya berpelukan melepas rindu yang telah lama mereka pendam.
Reno tersenyum penuh arti ketika menatap kedua sahabatnya yang sejak lama berpisah.
"Sampai kapan kau disini?" Tanya Avril melepas pelukannya.
"Hanya satu minggu. Aku hanya memenuhi undangan kakakmu, dan kebetulan calonku juga disini." Avril ternganga heran sekaligus senang ketika mendengar jawaban Demira.
"Kau akan menikah?" Tanya Avril menatap Demi kemudian menoleh pada Reno.
"Tidak.. masih lama. Aku baru beberapa bulan saja menjalani hubungan dengannya." Lanjut Demira
"Apa aku mengenalnya?"
"Emmm mungkin."
"Mengapa kau tak yakin?"
"Jelas aku tak yakin Avil. Kau ini wanita yang setia. Kau sudah punya Aldi, jadi tidak mungkin kau akan memalingkan pandanganmu pada laik-laki lain. Benarkan Aldi?" Demira menoleh pada Aldi yang mematung mendapati pertanyaan darinya.
"Y-ya.. k-kau benar." Jawab Aldi gugup melemparkan senyum kaku pada Demi kemudian menoleh pada Avril.
Keduanya seakan membisu tentang kenyataan bahwa Avril dan Aldi kini sudah tak lagi bersama.
"Ayolah Aldi... mengapa masih gugup? Dan kapan kalian akan menikah?" Tanya Demira cukup membuat Aldi dan Avril terdiam membisu.
"Kita..." rasanya sulit untuk Avril menjawab pertanyaan Demira.
__ADS_1
-bersambung.