Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
78


__ADS_3

. Avril meraih lengan Alvi lalu membenamkan wajahnya.


"Aku tak seharusnya berbicara seperti itu padamu. Kau pasti terluka." Tangis Avril semakin keras saat mendengar ucapan Alvi. Jelas Avril merasa terluka dengan apa yang tadi Alvi katakan dengan sadar. Rasanya makian itu seakan menembus jantung Avril seketika. Bagaimana bisa Alvi dengan mudah melontarkan kata yang Avril pikir tak akan pernah Alvi katakan seumur hidupnya.


"Kau pergi tanpa kabar, dan sekarang pulang dengan memaki ku seperti itu. Kau pikir aku tak terluka? Aku sudah setia menunggumu pulang. Aku sudah menolak semua orang yang datang melamarku. Apa itu tak cukup mengembalikan kepercayaanmu padaku? Kenapa hanya dengan melihat Reifan kau langsung memakiku?."


"Sudah Avril... jangan diteruskan. Maafkan aku. Sungguh maafkan aku." Alvi melepas pelukan Avril lalu meraih kedua tangan Avril dan mencium, lalu mendekapnya.


"Kau boleh menamparku, kau boleh menyakitiku, kau boleh memaki ku, asal kau memaafkanku. Apa jadinya aku tanpamu Avril... aku hidup karenamu. Aku pergi untukmu, dan aku datang hanya padamu. Maafkan karena hatiku yang rapuh dan menganggap kau mengkhianatiku." Ucap Alvi semakin lirih.


"Alvi... kau tak tahu betapa tertekannya aku tanpamu. Disaat Syifa pergi, aku hanya berharap kau ada di sampingku untuk sekedar menenangkan tangisku."


"Hari ini dan seterusnya, aku akan bersamamu Avril.. aku tak akan meninggalkanmu lagi."


"Kau selalu saja berjanji tapi tak pernah menepati."


"Kali ini aku sungguh-sungguh. Aku tak ingin menyesal karena salah faham. Jadi aku ingin mendengarkan alasanmu dan semua apa yang kau alami selama aku pergi. Aku akan dengarkan." Ucap Alvi meyakinkan.


"Janji?" Avril menatap harap pada Alvi yang menurutnya belum bisa dipercaya.


"Aku janji. Aku tak akan menyela, dan aku tak akan memalingkan pandanganku saat kau bercerita." Lagi, Alvi meyakinkan Avril.


Dengan masih menenangkan diri, Avril mencoba kembali mengungkit kesalah fahamannya dengan Aldi dulu. Alvi menunduk karena sudah tega membuat Avril menderita karena mencarinya.


Lalu Avril kembali menangis saat menceritakan tentang kepergian Syifa. Yang mengharuskan Avril menjadi ibu pengganti untuk Reifan. Karena ketika hak asuh berada di tangan keluarga Syifa, Reifan sulit ditenangkan. Setiap malam menangis dan seakan tak mendapatkan tempat ternyaman untuknya. Sempat Reifan sakit karena kurang asupan dan dengan berat hati, hak asuh diberikan pada Aldi. Aldi yang tak tahu bagaimana cara merawat bayi, sangat kesulitan meskipun Dewi selalu menemaninya dan ikut menenangkan Reifan. Avril yang merasa kasihan pada Dewi yang tak henti mengurus Reifan siang dan malam, dengan hati yang tulus Avril membantu mengurus Reifan sampai saat ini. Tak jarang orang menggosipkan Avril sudah menikah dengan Aldi. Karena memang Reifan yang sulit di jauhkan dengan Avril membuat keduanya menjadi dekat kembali.


Namun Aldi sering dengan terang-terangan mengabaikan Reifan karena depresi atas kepergian Syifa. Setiap memandangi poto Syifa, Aldi selalu menangis dalam diam. Menyalahkan takdir, dan merasa semua tak adil.


Itulah kenapa Avril memilih bergabung di perusahaan Aldi, selain untuk menemani Aldi yang mungkin depresi, tapi untuk terus berkumpul dengan teman-teman masa kecilnya.


"Aku juga minta maaf karena tak mengungkapkan alasanku pergi dari kota ini." Ucap Alvi setelah mengetahui cerita Avril.


"Aku tak ada pilihan lain untuk menyelamatkan perusahaanku yang hampir mengalami kebangkrutan karena kerugian besar saat aku kecelakaan bersamamu." Lanjut Alvi dengan tatapan sendu.


"Kenapa kau tak meminta kak Galih untuk membantumu Al? Kenapa kau memilih pergi sedangkan disini ada tempat untukmu berbagi kesedihan dan membantumu dalam keadaan terpuruk."


"Jujur memang sempat aku berpikir untuk meminta bantuan kakakmu, namun karena aku yang dibutakan oleh cemburu, aku memilih meninggalkan semuanya dan mengatasinya sendiri."


"Kau bodoh Alvi. Mengapa kau begitu bodoh? Kau punya aku yang akan mendukungmu, dan ada ayahku juga yang selalu membantumu. Tapi kau memilih mengatasi masalahmu sendiri. Ihhhh kenapa kau masih bodoh....." rengek Avril sambil memukul lengan Alvi dengan kesal.


"Maaf." Lirih Alvi menunduk lesu.


"Tapi aku senang kau baik-baik saja." Avril segera memeluk Alvi dengan erat. Dari pertama bertemu, Avril sangat ingin memeluk Alvi seperti ini. Namun saat ini saja, dirinya baru bisa melepas kerinduan pada sang kekasih.


"Avril... aku akan menepati salah satu janjiku padamu." Ucap Alvi melepas pelukan Avril.


"Yang mana?" Avril menyernyit seraya mengingat sesuatu yang mungkin akan terlintas dibenaknya.


"Aku akan menikahimu. Kau mau?"


"Bukankah kau sudah mendapatkan jawabannya? Mengapa masih bertanya?" Alvi tersenyum mendengar apa yang baru saja Avril katakan.


"Apa kau begitu merindukanku sampai kau memelukku sangat erat seperti ini?" Tanya Alvi yang tak kalah erat memeluk Avril dan seakan enggan untuk melepaskannya lagi.


"Diam.. aku masih marah padamu." Ucap Avril membenamkan wajahnya pada Alvi.


"Aih... harusnya aku yang marah padamu. Kau yang berselingkuh." Goda Alvi.


"Kau menuduhku? Yasudah besok aku menikah saja dengan Aldi." Cetus Avril.


"Ohhh jadi mau menikah dengan Aldi?"


"Hehe becanda...."


"Ayo pulang. Aku ingin bertemu dengan ayah." Ucap Alvi perlahan melepaskan dekapannya dari Avril. Avril mengangguk lalu mengikuti langkah Alvi menuju mobil.


"Kau tidak bawa mobil?" Avril menggeleng menanggapi.


. Sampai di rumah, terlihat Reifan berlari diikuti Ravendra dari belakang.


"Mommy...." teriak Reifan lalu 'bugh' Reifan terjatuh di teras lalu menangis dengan keras.


"Mommy....." teriaknya lagi membuat Avril berlari setelah turun dari mobil.


Melihat Avril, Ravendra terdiam lalu matanya ikut berkaca-kaca. Avril meraih Reifan dengan wajah panik lalu menoleh pada Ravendra yang bersiap akan menangis.


"Eifan jatuh sendiri. Aunty jangan marah. Raven tidak buat Eifan jatuh.." ucap Ravendra disela tangisnya yang tersedu-sedu. Alvi meraih Ravendra lalu ikut menenangkannya.


"Sudah.... Raven jangan menangis... aunty tidak marah. Bukan salah Raven Eifan terjatuh. Sudah ya..." ucap Alvi mengusap lembut kepala dan punggung Ravendra.


"Om tahu nama Raven?" Tanya Ravendra dengan polos sambil mengusap wajahnya.


"Kan Raven sendiri yang nyebut." Ucap Avril menggendong Reifan.


"Ohh.. iya aunty." Ucapnya membuat Alvi gemas. Ingin sekali Alvi menggigit pipi Ravendra yang chubby dan sikapnya yang polos dan menggemaskan. Sangat berbeda dengan ayahnya yang dingin, jahat dan arogan. Alvi tersenyum membayangkan wajah Galih yang jauh dari kata menggemaskan.

__ADS_1


"Mommy... jangan pelgi.... Eifan mau mommy..." rengek Reifan yang masih sesenggukan.


"Mommy disini sayang. Sudah jangan menangis ya..." Avril mengusap wajah Reifan lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kandung.


Alvi tertegun melihat betapa sayangnya Avril pada Reifan.


"Daddy?" Reifan menatap harap pada mata Avril.


"Daddy kerja sayang." Jawab Avril.


"Itu?" Reifan menunjuk Alvi seolah penasaran siapa Alvi.


"Itu ayah." Ucap Avril membuat Alvi mematung. Karena baginya kata ayah tidak sembarang anak bisa memanggilnya.


"Avril..." lirih Alvi seakan tak nyaman dengan panggilan itu.


"Ayah..." panggil Reifan dengan mata berbinar. Alvi tertegun melihat Avril yang begitu bahagia melihat Reifan langsung mengakuinya sebagai ayah.


"Eh.. ada tamu." Ucap Nadia yang baru keluar menyusul Ravendra.


"Bunda... Eifan jatuh." Ucap Ravendra kembali berkaca-kaca.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Nadia meraih putra kecilnya itu.


"Takut aunty marah.." jawabnya kemudian menangis pelan.


"Avril.... kau memarahinya lagi?" Nadia beralih menatap pada Avril.


"Eh... tidak. Aku tidak memarahinya." Ucap Avril mengelak sambil masih menenangkan Reifan.


"Ishhh itulah akibatnya jika kau terlalu keras pada Raven." Nadia menatap sendu wajah Avril.


"Maaf." Ucap Avril tak kalah sendu.


"Kapan kau pulang?" Tanya Nadia menoleh pada Alvi didekatnya.


"Kemarin." Jawab Alvi singkat.


"Ohh maaf aku lupa. Aldi sudah memberitahuku." Nadia menepuk dahinya pelan sambil melemparkan senyuman pada Alvi.


"Aldi?" Alvi menyernyit dengan yang dikatakan Alvi.


"Iya Aldi. Dia kemarin pulang mengantarkan Avril yang menangis. Dan Aldi bilang bahwa kau salah paham pada Avril karena berpikir Reifan adalah anaknya dengan Aldi." Ucap Nadia menatap konyol pada Alvi yang terlihat salah tingkah.


Ditengah perbincangan mereka, terlihat beberapa mobil memasuki pekarangan rumah Avril.


"Avil.." panggil Aldi dengan wajah khawatir.


"Ishhhh kau ini selalu saja membuat kita khawatir." Ucap Reno yang sama-sama berjalan dengan ekspresi khawatir.


"Ada apa dengan wajah kalian?" Tanya Avril polos. Bagas sedikit cepat menghampiri Avril.


"Kau pikir kita kesini karena apa hah? Kau tiba-tiba menghilang dari perusahaan D, tapi tidak kembali ke perusahaan P. Tahunya kau sudah pulang." Teriak Bagas memekik telinga yang mendengar.


"Kata siapa aku menghilang?" Tanya Avril lagi masih dengan ekspresi polos.


"Dia." Bagas menunjuk Alvi dengan suara tinggi.


"Kau berani meninggikan suaramu padaku?" Alvi menatap tajam pada Bagas


"Ehehe becanda. Ampun Al." Bagas mengangkat tangannya lalu sedikit menjauh.


"Ishhhh kalau tahu kau dirumah, aku tak akan pulang." Ucap Aldi menggeleng kesal.


"Maaf Al." Lirih Avril.


"Daddy...." panggil Reifan


"Apa sayang?" Aldi mendekat lalu meraih pipi Reifan.


"Mommy sayang Daddy." Sontak semua terbelalak mendengar Reifan. Reno dan Bagas mencoba menahan tawa melihat Alvi yang lebih terkejut. Avril menggeleng pada Alvi lalu menatap tajam pada Baren.


"Anak kecil tak pernah berbohong." Sindir Reno berlalu melangkah kearah mobil.


"Al...." panggil Avril seolah ingin menjelaskan sesuatu.


"Apa sayang?" Tanya Alvi dengan melemparkan senyum namun tatapan yang mengandung arti ancaman.


"Ishhhh Reifan masih kecil. Dia hanya berpikir aku ibu kandungnya." Delik Avril merasa kesal sendiri.


"Lalu?" Tanya Alvi masih dengan senyuman yang sama.


"Eifan jangan seperti itu. Atau mommy marah." Ucap Avril yang beralih menatap tajam pada Reifan.


Reifan seketika memasang wajah sedihnya dan perlahan terisak kembali ketika melihat raut wajah marah Avril.

__ADS_1


"Daddy.... mau daddy.... tak mau mommy...." teriak Reifan merentangkan tangannya pada Aldi. Dan berhasil memecah tawa Avril.


"Sudah... mommy hanya becanda." Ucap Avril kembali menenangkan tangis Reifan.


"Mommy marah..." rengek Reifan dengan polos dan masih tersedu-sedu.


"Tidak sayang. Mommy tak marah. Ayah yang marah." Seketika Reifan menoleh pada Alvi yang menatapnya dengan datar.


"Ayah marah? Eifan maaf ayah." Alvi tertegun mendengar Reifan meminta maaf. Reifan merentangkan tangannya pada Alvi membuat semua merasa heran. Biasanya Reifan akan ketakutan dengan orang yang baru ia temui. Alvi dengan ragu membawa Reifan dalam pangkuannya.


"Ayah! Eifan sayang." Ucapnya lagi memeluk leher Alvi dengan erat. Avril merasa terharu dengan pemandangan yang kini tengah ia saksikan.


"Apa seperti ini rasanya memiliki seorang anak?" Gumam Alvi kemudian menoleh pada Avril.


"Ayo buat anak." Cetus Alvi membuat semua yang mendengarnya terbelalak. Lalu 'plak' suara tamparan yang sangat merdu mendarat di pipi Alvi.


"Ishhhh kau kasar sekali." Alvi mengusap pipinya yang mulai terasa panas.


"Mommy jangan pukul ayah.... ayah sakit?" Reifan ikut mengusap pipi Alvi dengan lembut.


"Tak apa sayang." Ucap Alvi melemparkan senyum pada Reifan.


"Bunda...... takut aunty...." rengek Ravendra kemudian memeluk Nadia dengan erat.


"Tak apa sayang." Nadia mencoba menenangkan Ravendra yang ketakutan melihat Avril.


"Ada apa? Kenapa Raven berteriak?" Tanya Galih yang keluar rumah dengan memasang wajah kesal.


"Pantas saja. Ternyata ada hantu penguin." Ucap Galih melirik sinis pada Alvi.


"Diam kau beruang kutub." Balas Alvi tak ingin kalah.


"Kenapa malah berkumpul disini?" Tanya Galih lagi.


"Tak apa kak." Jawab Avril seraya tersenyum.


"Ayah... tadi Eifan jatuh." Ucap Ravendra kembali mengadu.


"Aduh.... mana yang sakit nak? Sini om gendong." Ucap Galih dengan cepat meraih Reifan dari Alvi. Ya begitulah Galih... tak pernah membeda-bedakan siapa anak kandung dan anak orang lain. Selain karena Avril yang merawat Reifan, dirinya juga merasa sangat menyayangi Reifan seperti pada Ravendra. Galih membawa Reifan masuk, sedangkan Aldi dan Baren kembali ke perusahaan.


"Kau tak akan masuk kerja?" Tanya Aldi sebelum memasuki mobil.


"Aku cuti saja. Boleh?" Aldi mengangguk menanggapi.


Malam tiba, Reifan mulai terlelap tidur dipangkuan Avril. Aldi menghampiri Avril dan duduk disampingnya.


"Sudahlah Avil... mulai sekarang kau fokus saja pada hidupmu. Reifan biar aku saja yang mengurus." Ucap Aldi.


"Al... Reifan itu masih membutuhkan sosok ibu, dan aku tak keberatan menjadi ibu pengganti untuknya."


"Tapi kau dan Alvi akan menikah bukan?"


"Lalu kenapa? Alvi juga tak keberatan."


"Tapi aku yang keberatan. Aku takut jika Rei akan lebih dekat dengan Alvi daripada aku." Kini terlihat raut wajah sedih Aldi tersirat.


"Lalu? Apa maumu? Kau mau memisahkan Rei denganku?"


"Tidak... bukan maksudku begitu.."


"Al... aku menyayangi putramu. Aku merawatnya dari bayi. Kau pikir aku akan memberikannya begitu saja?"


"Avil... aku ayahnya. Sudah sepenuhnya aku berhak atas tanggung jawab untuk merawatnya."


"Tapi kau sibuk Al."


"Kau juga sibuk Avil... kau bekerja denganku"


"Aku akan berhenti Al. Aku akan fokus merawat Reifan."


"Avil.. jangan egois."


"Kau yang egois Al. Mengapa kau tak mengerti."


"Aku egois? Aku ayah kandungnya Vil... wajar saja aku meminta Reifan bersamaku."


"Lalu aku tak wajar? Begitu?" Suara Avril kian meninggi membuat Reifan kembali terbangun menatap Avril.


"Mommy?"


"Sudah... maafkan mommy. Kamu terkejut ya?" Avril kembali menenangkan Reifan.


"Sudahlah Al.. aku tak ingin berdebat." Avril beranjak hendak berlalu.


"Mengapa kalian tak menikah saja." Ucap Alvi dari arah ruang kerja, menghentikan langkah Avril.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2