Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
50


__ADS_3

. Avril terdiam mendapati pertanyaan itu.


"Aku dan Baren sudah berteman sejak kecil Alvi...." ucap Avril.


"Lalu aku kau anggap apa?" Tanya Alvi dengan nada tinggi. Mengapa sikapnya mendadak menakutkan? Batin Avril terus bertanya-tanya.


"Kau selalu cemburu saat aku dekat dengan gadis lain. Tapi kau dengan santai nya tanpa memikirkan perasaanku, setiap saat dekat dengan mereka. Aku hargai Avril... tapi apa kau juga menghargaiku sebagai calon suamimu? Tidakkah kau menganggapku ada?" Tanya Alvi yang kini hanya terfokus pada jalanan seakan enggan menoleh pada Avril di sisinya.


"Maaf..." lirih Avril menunduk tak kuasa jika harus menatap wajah Alvi yang menakutkan. Alvi mengusap kasar wajahnya, dan tak ingin amarahnya ia lampiaskan pada Avril.


"Aku yang minta maaf Avril." Ucapnya masih dengan nada keras.


"Ma.. maaf..." ucap Alvi lagi terdengar kesal.


"Kau masih marah." Avril menunduk menggenggam tali tas selempang nya.


"Tidak Avril." Bentak nya membuat Avril tersentak.


"Maaf...." lirik Avril, namun terdengar seperti rengekan.


Beberapa kali Alvi memijit dahinya dengan keras seperti sedang frustasi, atau hilang arah.


"Aku saja yang menyetir." Ucap Avril hendak meraih tangan Alvi.


"Tak apa Avril..."


"Aku saja..."


"Ku bilang tidak." Lagi-lagi Alvi membentak Avril yang membuat Avril menciut ketakutan.


"Maaf Avril... tapi jangan memancing kekesalanku."


"Siapa yang memancing? Kau sendiri yang pemarah." Gumam Avril memalingkan wajahnya.


"Kau marah?" Tanya Alvi menoleh pada Avril.


"Tidak."


"Bohong." Avril tak menjawab lagi.


"Kan? Kau marah?" Pertanyaan Alvi yang serius namun terdengar sedang mengejek.


"Ku bilang tidak." Kini giliran Avril yang kesal. Alvi membungkam mendengar Avril yang menjawab dengan nada tinggi.


Keduanya kembali diam sampai mobil berhenti di parkiran kantor. Namun Avril merasa heran, mengapa hanya dirinya yang keluar sendirian? Alvi melirik menahan senyumnya karena terlihat jelas wajah Avril yang tengah penasaran.


Avril berlalu tanpa menoleh kembali pada mobil Alvi.


"Bagaimana jadinya jika aku benar-benar kehilanganmu?" Ucap Alvi pelan menghela nafas berat.


Dering ponselnya berbunyi tertera nama Ray disana.


"Apa Ray?"


"Tuan... ada pertemuan mendadak dari pihak perusahaan P. Dan Pak Adam meminta tuan untuk hadir." Ucap Ray tanpa basa-basi.


"Aku tidak ada perjanjian kontrak dengannya Ray."


"Mungkin baru akan membicarakannya tuan."


"Baiklah... aku akan ke ruang meeting nanti."


"Nanti?"


"Iya nanti. Sekarang aku ingin menyendiri dulu."


"Apa tuan sedang sakit?"


"Jantungku sakit Ray..."


"Jantung? Apa tuan sudah menghubungi Noah? Atau saya yang panggilkan dokter untuk tuan."


"Hei Ray.. kau berlebihan. Jantungku sakit karena berdetak terlalu keras saat dekat dengan Avril."


"Itu penyakit cinta tuan...." suara Ray terdengar lesu, karena berhasil tertipu oleh tuannya.


"Kau bisa becanda juga Ray?"


"Saya tidak becanda tuan... saya serius."


"Ya ya ya... kau selalu saja serius Ray."


"Jangan terlambat tuan... karena setelah pertemuan dengan pak Adam, tuan harus segera berangkat ke kota S. Dan tuan jangan berpura-pura lupa."


"Iya Ray... kau sangat cerewet."


"Saya hanya mengingatkan tuan..."


"Baiklah Ray... aku akan ingat. Tapi aku ingin menjahili Avril dulu."


"Baiklah tuan. Asal jangan membuat nona menangis saja."


"Kau sangat perhatian pada Avril Ray."


"Ti-tidak tuan.. sa-saya hanya me-mengingatkan tuan saja."


. Di dalam lift, Avril baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal di mobil Alvi.


"Bagaimana ini? Aku sedang malas berbicara dengannya." Gumam Avril mengetukkan kakinya membuat seisi lift menoleh kearahnya. Avril diam lalu menunduk. Melihat tatapan para karyawan itu, Avril semakin kesal.


Andaikan dirinya bertemu dengan pak Yusuf ataupun Ray. Avril menghela nafas berat membuat suasana semakin tak karuan.


"Adek kenapa?" Tanya salah satu karyawan pria.


"Ti-tidak. Mood saya sedang buruk saja." Jawab Avril tersenyum kikuk.


"Wajahmu cantik. Pasti kau bukan orang sembarangan." Ucap karyawan yang lain. Kata-katanya membuat Avril semakin kesal. Namun dengan terpaksa, Avril melemparkan senyuman agar tak menyinggung orang itu.

__ADS_1


"Kau sudah punya pacar?" Tanyanya lagi dengan sedikit mendekat. Avril menggeser dengan berniat menjauhinya.


"Hei hentikan. Jangan merayu anak magang, kau bisa dianggap pelecehan." Tegur karyawan wanita yang kini melindungi Avril.


"Aku hanya ingin berkenalan saja."


"Dari kata-kata dan nada bicaramu, kau bukan ingin sekedar berkenalan."


"Ahaha mengapa dianggap serius? Iya kan nona manis?" Avril hanya terdiam tanpa menoleh, ataupun melirik kearahnya.


"Wahhh kau sombong juga ternyata! Boleh aku tanya?" Avril kini berani menoleh dengan wajah datar.


"Berapa hargamu untuk semalam?" Tangan Avril mengepal menahan agar amarahnya tidak meluap.


"Jangan ditanggapi. Pura-pura tidak dengar saja." Bisik karyawan wanita, dan ditanggapi anggukan oleh Avril.


Ketika lift berdenting, Avril hendak mendahului orang yang tak sopan itu. Namun dirinya kalah cepat, pria itu menghadang Avril dengan tak mempedulikan orang sekitar.


"Alvi...." lirih Avril berharap Alvi tiba-tiba ada disana.


"Kau memanggil seseorang? Siapa?" Tanyanya semakin berani meraih tangan Avril.


"Mohon lepaskan tangan saya tuan." Tegas Avril memberanikan diri.


"Kau cukup sopan anak manis." Ucapnya tersenyum sinis.


"Lepaskan dia. Kau mau dipanggil pimpinan karena kasus pelecehan?" Lagi-lagi pria itu tak mendengar teguran temannya.


"Ini dikatakan pelecehan jika gadis ini menolak kan? Tapi kalian lihat, dia begitu tenang."


"Benarkah? Tapi sebaiknya jauhkan tanganmu darinya. Itupun jika kau tak ingin terkena masalah." Suara Roby mengejutkan mereka. Roby melirik Avril yang datar menatapnya. Dimata Roby, hawa tatapan Avril kini sedingin Alvi.


"Aku teman barunya, pak Roby."


"Dan aku atasannya. Aku tak suka jika bawahanku diganggu olehmu."


"Wah.... kau semakin besar kepala pak Roby. Jangan karena kau dipercaya langsung oleh tuan Alvi untuk bertanggung Jawab dengan kestabilan perusahaan saat tuan tak ada, kau jadi sombong seperti itu."


"Ku bilang jauhkan tanganmu darinya." Suara Roby kian meninggi. Karyawan yang diketahui bernama Feri itu melepaskan tangan Avril.


Avril dengan wajah tanpa ekspresinya berlalu begitu saja melewati Roby.


"Ini peringatan terakhir untukmu. Jangan pernah mengganggu Avril lagi. Jika tidak, kau berurusan denganku."


Feri merasa tertantang untuk mendekati gadis cantik bernama Avril itu.


"Jadi namanya Avril?"


"Dan ku harap, kau cukup sopan dihadapannya."


"Dia siapa? Hanya anak magang."


"Dia siapa? Selagi dia perempuan, kau harus bisa menghargainya." Feri tersenyum sinis dan terkejut saat karyawan wanita di sampingnya bertepuk tangan untuk Roby.


"Aku mendukungmu pak." Kemudian karyawan wanita itu berlalu meninggalkan mereka.


"Selamat pagi pak." Sapa mereka dengan serentak.


"Roby. Aku hanya ingin menanyakan kabarnya."


"Nyonya baik-baik saja pak. Namun ada beberapa serangga yang harus saya basmi pak." Jawab Roby dengan masih menunduk.


"Jangan membuat masalah jika kau tak ingin seperti Devia."


"Dimengerti pak."


Pak Yusuf kembali memasuki lift. Belum sempat menasehati Feri, Roby kembali menunduk dengan wajah tegang ketika mendapati Alvi yang berjalan kearahnya.


"Panggil dia. Aku ada urusan." Ucap Alvi berhenti tepat di dekat Feri.


"Dimengerti tuan." Jawab Roby kemudian berlalu ke ruangan staf dan tak lama, kembali dengan Avril di belakangnya.


Feri menyernyit bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis itu.


"Ikut ke ruanganku." Ucap Alvi dengan ekspresi datar.


"Aku ada pekerjaan. Bukankah sebentar lagi waktu kerja dimulai?" Avril tak kalah datar menatap Alvi.


"Aku tunggu di ruanganku sekarang, jika kau tak datang jangan salahkan aku jika kau menyesal." Alvi berbalik dan berlalu meninggalkan sebuah pertanyaan dibenak Avril. Apa maksudnya? Mengapa Avril harus menyesal?


"Tak apa... masih ada waktu untuk menyelesaikan laporanmu." Ucap Roby pelan ketika menoleh pada Avril.


"Ck... aku malas pak. Biarkan aku di ruangan ini saja." Jawab Avril sama-sama pelan.


"Sepertinya ada hal yang ingin tuan bicarakan dengan nona." Ucap Roby lagi dengan wajah yang semakin khawatir. Dengan terpaksa dan langkah lesu, Avril menyusul Alvi yang masih berdiri tepat di depan pintu lift.


Alvi mengeluarkan ponsel milik Avril dan disodorkan tepat di wajah Avril. Avril terbelalak dengan mata yang berbinar.


Saat Avril hendak merebutnya, Alvi menaikan tangannya hingga Avril melompat-lompat tak bisa meraih ponselnya.


"Kembalikan! Itu punyaku." Rengek Avril


"Apa seperti itu caramu meminta barangmu dikembalikan?"


"Alvi...." rengek Avril manja seolah tak mempedulikan ada karyawan yang menyaksikan mereka dan menyisakan pertanyaan bagi Feri.


"Minta dengan cara yang benar!" Avril kemudian terdiam dan hanya menghela nafas panjang, lalu melemparkan senyumnya dengan lebar.


"Tuan Alvian Revano, menantu Ayah Andre Darmawan. Aku Avril Vania, calon menantu mama Maya, meminta belas kasih tuan Alvian untuk segera memberikan ponsel milikku."


"Senyummu menakutkan." Ucap Alvi yang enggan tertawa meskipun Avril begitu menggemaskan. Wajahnya kini terlihat seolah menahan kesedihan dengan alis yang berkerut dan tatapan mata yang begitu layu.


Avril lebih tajam menatap pada mata Alvi.


"Kau bersedih?" Tanya Avril khawatir.


Alvi menurunkan tangannya lalu mendahului memasuki lift yang baru terbuka. Avril mengikutinya dari belakang dan terus memperhatikan sikap Alvi yang datar namun tidak dingin.

__ADS_1


Saat pintu lift tertutup, Alvi menatap lekat pada Avril dan dibalas lekat pula oleh Avril dengan beribu pertanyaan.


Alvi perlahan membawa Avril pada pelukannya.


"Maafkan aku. Jangan marah." Lirih Alvi.


"Tak apa... aku mengerti."


"Jangan meninggalkanku."


"Kapan aku meninggalkanmu?"


"Tapi kau selalu mendiamkanku. Dan itu sangat menyakitkan kau tahu?"


"Itu karena kau yang memulai."


"Dan karena itu juga, maafkan aku." Avril hanya tersenyum tanpa menjawab.


Sampai pintu lift sudah terbuka, Alvi enggan melepaskan Avril dari dekapannya. Karena memang Alvi sudah tahu bahwa di lantai teratas itu, jarang ada orang yang berlalu lalang.


"Kau tidak mau melepaskanku tuan?" Avril mendongak dengan mencoba kabur dari Alvi.


Alvi melepaskan Avril dan keluar dari lift, namun setelah itu, Alvi kembali memeluk Avril dari samping dan keduanya berjalan beriringan.


Alvi memejamkan matanya dengan menyandarkan kepalanya di kepala Avril.


"Kau akan pergi kan?" Tanya Avril ketika menyadari sikap Alvi yang berbeda. Jika hanya sekedar merindukan atau hanya dimanja, tidak mungkin harus sekarang. Alvi sangat menghargai waktu sibuk mereka.


"Tahu dari mana? Ray memberitahumu?" Tanya Alvi tanpa menjawab pertanyaan Avril.


"Oh..." Avril memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan Alvi.


"Jangan marah."


"Aku tidak marah Alvi... aku hanya khawatir." Avril terhenti lalu menatap Alvi dengan tersirat sebuah arti.


"Berapa lama?" Tanya Avril memaksa senyumnya.


"Sekitar 1 bulan. Itu pun jika sesuai dengan jadwal."


"Apa harus 1 bulan?"


"Setelah dari kota S, aku harus ke London dan bertemu dengan paman. Kemarin aku belum sempat berbincang dengan mereka."


"baiklah.. tapi jaga dirimu. Hatimu juga." Lirih Avril menunduk.


"Jangan bersedih, atau aku akan semakin tak tega meninggalkanmu."


"Aku tak apa Alvi... itu sudah tanggung jawabmu. Aku tak ingin menjadi egois karena menuntut di prioritaskan olehmu. Kau memiliki duniamu sendiri, dan aku akan selalu percaya padamu." Alvi tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Avril.


"Apa ini alasan mengapa tadi dia mendadak posesif?" Gumam Avril tersenyum dan menunduk.


"Kenapa tersenyum?" Alvi merasa penasaran, karena harusnya Avril merengek manja padanya agar tak pergi, tapi ini malah sebaliknya.


"Kau tidak berniat selingkuh kan?" Avril semula menyernyit, namun kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Sungguh indah pikiranmu tuan. Jangankan untuk selingkuh, ingin meluruskan otakmu saja aku sudah hampir gila."


"Jadi kau ingin bilang bahwa otakku tidak lurus?"


"Tidak... aku tidak bilang. Bukankah kau yang bilang saat itu? Kau bilang otakmu bermasalah."


"Kau pikir otakku bermasalah karena memikirkan siapa?"


"Mana aku tahu..." delik Avril melangkah menuju lift.


"Mau kemana kau?" Tanya Alvi membuat Avril terhenti dan kembali menoleh pada Alvi.


"Aku mau kerja."


"Temani aku dulu sebentar." Rengek Alvi dengan nada manja.


"Kau sudah mau berangkat kan?"


Alvi hanya mematung menatap harap pada Avril yang kini kembali menghampirinya. Avril mengecup bibir Alvi lalu memeluknya.


"Sudah? Bisakah aku kembali bekerja? Jika terlalu lama disini, aku tak yakin akan melepasmu pergi Alvi." Ucap Avril dengan tatapan semakin sayu.


"Baiklah... aku ada meeting, tak bisa mengantarmu kembali kesana." Avril menggeleng dengan senyuman terlempar meyakinkan Alvi bahwa dirinya tak masalah dengan itu.


"Tak apa... aku sudah hafal jalan." Alvi terkekeh mendengar candaan Avril.


Saat Avril hendak meninggalkannya, lagi-lagi Alvi memanggil dan dengan malas Avril pun menghampirinya.


"Apa lagi?" Tanya Avril ketika sudah berada didepan Alvi.


"Ponselmu." Avril menepuk dahinya dengan tertawa kecil sembari mengambilnya dari tangan Alvi.


'Cup' Alvi mengecup hangat dahi Avril yang tiba-tiba terdiam.


"Jaga hatimu. Jika ada sesuatu masalah yang mengganggu, tunggu aku pulang dan selesaikan dengan baik. Aku tak ingin jarak membuat kita saling mencurigai." Avril mengangguk lalu kembali melangkah menjauh dari Alvi.


Alvi menatap lesu pada Avril yang tertelan pintu lift yang tertutup.


Kemudian Alvi memasuki ruangan, dan terkejut mendapati Baren yang sedang duduk manis di sofa.


"Sedang apa kalian?" Tanya Alvi menyernyitkan dahinya.


"Bukankah kau yang bilang. Aku harus bicara langsung padamu." Jawab Reno dengan santai.


"Aku sedang sibuk."


"Bisa ku bantu?"


"Tidak terima kasih."


"Hatiku tak tenang saat melihat om Adam disini." Ucap Reno menghentikan langkah Alvi.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2