Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
23


__ADS_3

. Alvi menatap Aldi yang benar-benar berlutut hanya untuk memintanya menerima perjodohan yang sudah lama tidak disetujuinya.


"Bangunlah. Kau jangan merendahkan dirimu seperti itu."


"Tidak Alvi. Sebelum kau menerimanya, aku tidak akan bangun." Jawab Aldi yang tetap dengan pendiriannya.


"Haihhh sudahlah jangan berlebihan." Alvi meraih lengan Aldi dan membantu Aldi berdiri.


"Bicaralah. Aku akan mendengarkanmu." Ucap Alvi yang menahan diri. Sebenarnya dirinya risih mendengar nama Amel terus menerus, namun melihat Aldi yang begitu keras membujuknya, pasti itu bukan masalah kecil.


"Kakakku sekarat." Alvi terbelalak mendengar apa yang Aldi katakan.


"Apa yang kau bicarakan? Jangan becanda dengan hal seperti itu Aldi. Aku tadi bertemu dengannya dirumah sakit, dan dia terlihat baik-baik saja. Aku tidak akan percaya padamu Aldi." Ucap Alvi dengan menunjuk wajah Aldi dengan penuh amarah.


"Kau pikir aku juga percaya? Jika saja bukan karena ada bukti rekam medisnya, aku bahkan akan menyalahkan Amel. Tapi kenyataannya memang seperti ini Alvi.. dia ingin bersamamu disaat-saat terakhirnya. Jadi, aku mohon-"


"Tidak Aldi. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin sepertimu yang tega mengkhianati Avril dengan mudah." Ucap Alvi berbalik menghadap jendela ruangannya.


"Apa kau benar-benar tak bisa hanya untuk sekedar menemaninya saja?" Tanya Aldi dengan nada sedikit lebih tinggi.


"Aku ingin bertanya padamu Aldi. Saat kau melihatku dengan Avril, apa yang kau pikirkan?" Tanya Alvi tanpa menoleh, Aldi hanya terdiam tak menjawab. Pikirannya kacau berfikir bahwa Avril telah berpaling darinya.


"Seperti itulah nantinya yang Avril pikirkan tentangku. Dia akan berfikir bahwa aku dan Amel benar-benar memiliki hubungan. Dan juga aku tak ingin memberi sebuah kebohongan pada Amel." Lanjut Alvi berbalik dan menatap Aldi, sehingga kedua pemuda itu saling bertatapan.


"Kau ingin aku menemaninya disisa umurnya? Jangan becanda Aldi. Kalaupun aku menemaninya, situasi tidak akan membaik, penyakitnya tidak akan tiba-tiba sembuh karena ada aku disisinya. Pikirkan baik-baik, kau merendahkan dirimu hanya untuk sesuatu yang sia-sia." Aldi mengepalkan tangan merasa tersinggung dengan apa yang baru saja Alvi ucapkan. Rasanya ingin mendaratkan pukulan pada wajah Alvi saat itu juga. Namun, apa daya, ucapan Alvi ada benarnya.


"Baiklah. Maaf sudah mengganggu." Aldi berbalik dan kemudian berlalu menjauh dari Alvi. Aldi membuka pintu dan menutupnya kembali dengan tanpa suara.


. Aldi melajukan mobilnya dengan tanpa arah. Sekilas mengingat kejadian saat Avril kecelakaan saat pertama mereka bertemu kembali. "Pertemuan yang menyedihkan." Ucapnya berdecih dengan seringai yang tersungging disudut bibirnya. Sejenak Aldi berfikir, apa seperti ini yang dirasakan Avril. Pikiran yang kacau, tapi hati harus dipaksa untuk kuat.


Aldi merubah arah tujuannya, yang semula menuju rumah, kini berubah haluan ke tempat dimana dia akan mencurahkan kesedihannya, sekaligus meminta maaf atas pengkhianatannya. Tidak lain, Aldi melaju kerumah Avril.


Dengan ragu, Aldi memasuki gerbang pekarangan rumah Avril.


Aldi keluar dari mobilnya, kemudian melangkah kedepan pintu lalu memberi salam.


Bibi menghampiri Aldi yang menanyakan keberadaan Avril. Bibi mengajaknya masuk, namun Aldi memilih untuk diam menunggu Avril diluar. Rasanya sudah asing dengan rumah ini. Padahal 5 tahun lalu, dirinya hampir setiap hari mampir untuk sekedar mengantarkan Avril pulang.


Tak lama dirinya menunggu dengan berdiri diluar menatap taman yang benar-benar terlihat berbeda dari saat masih sekolah. Avril menghampirinya, dan menepuk pundaknya pelan. Aldi menoleh, mendapati Avril yang terlihat masih anak SMA dimatanya. Tangannya mengepal menahan agar tak memeluknya karena rindu.


"Ada apa?" Tanya Avril menatap hangat pada Aldi. Tatapan itu masih sama meskipun 5 tahun telah berlalu.


Dirinya tak bisa menahan diri untuk memeluk Avril, kini dipeluknya sang pujaan hati yang sudah dikhianatinya, namun tak menanamkan kebencian untuknya.


"Aku merindukanmu." Lirih Aldi. Avril menyernyit seraya berusaha ingin menoleh pada Aldi yang memeluknya begitu erat.


"Bukankah tadi kita sudah bertemu?"


"Aku senang kau baik-baik saja." Ucap Aldi bergumam seperti berbisik dan semakin erat memeluk Avril.


"Aldi... aku tak bisa bernafas." Avril menepuk lengan Aldi beberapa kali, hingga Aldi melepaskan pelukannya.


"Maaf." Ucap Aldi polos.


"Apa kau menangis?" Tanya Avril menatap lekat mata Aldi yang sedikit sembab. Aldi hanya menunduk membuat Avril mengerti apa yang sedang terjadi pada Aldi.


"Apa kau tidak dibelikan mainan oleh mama?" Tanya Avril mengejek namun dengan nada serius. Aldi mengangguk lalu menyentil dahi Avril. Avril meringis sambil memegangi dahinya.


"Ini sakit tahuuu...." rengek Avril. Aldi memegang kepala Avril lalu meniup dahi Avril yang kesakitan. Avril terdiam, membiarkan kehangatan Aldi kini bersamanya. Namun ketika mengingat pada Syifa, Avril mendorong Aldi dan kemudian mundur beberapa langkah.


"Aku baik-baik saja Alvi." Ucap Avril memalingkan wajahnya.


"Aku Aldi Avil... apa kau sudah lupa? Beberapa kali kau selalu salah memanggilku." Ucap Aldi dengan nada kesal.


"Maaf Aldi. Aku salah lagi. Nama kalian hampir sama." Avril menggigit bibir bawahnya dan menaikkan alisnya sebelah.


"Jadi, saat dengan Alvi, kau selalu menyebut namaku?" Tanya Aldi berbinar penuh harap.


"Emm tidak juga." Jawab Avril santai.


"Sudah kuduga. Kau sudah melupakanku." Aldi menunduk lesu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Aldi. Mengapa kau kesini?" Tanya Avril memiringkan kepalanya heran.


"Aku... aku merindukanmu." Jawab Aldi tersenyum. Senyum yang manis, namun menyimpan sesuatu yang tak ingin Avril tahu.

__ADS_1


"Katakan dengan jujur Aldi...." ucap Avril kesal menatap Aldi. Aldi menarik kembali sengumnya, kemudian menunduk memperlihatkan semua kesedihannya. Aldi menundukan kepalanya dibahu Avril, perlahan terisak, dan tangannya mengepal.


"Aldi...." lirik Avril tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Amel...." lirih Aldi.


"Am-Amel? Ada apa dengan kak Amel Al... apa dia sakit? Atau--"


"Dia sekarat." Jawab Aldi singkat hingga Avril terdiam tanpa berniat untuk bicara. "Dia menyembunyikan penyakitnya. Dia pergi ke London bukan untuk menghindari perasaannya pada Alvi, tapi untuk menemui temannya yang menjadi dokter disana, tapi..... malah semakin parah. Dan sekarang sudah mustahil untuk sembuh." Lanjut Aldi menjelaskan. Avril terdiam mendengar kalimat yang memperjelas mengapa Aldi begitu terpukul.


Tubuh Avril mendadak lemas, namun ia harus kuat untuk menguatkan Aldi. Avril perlahan menepuk punggung Aldi, lalu membenamkan wajahnya di kepala Aldi.


"Aku mengerti perasaanmu." Lirih Avril, diingatnya rasa sakit ketika akan ditinggalkan oleh orang tersayang untuk selamanya.


"Aku tahu kak Amel wanita yang kuat." Ucap Avril menitikan air mata.


"Sudahlah.. kuatkan dirimu." Avril kembali menyemangati.


"Terimakasih..." lirih Aldi kemudian beranjak lalu mengusap wajahnya yang dibasahi air mata.


"Masuklah... aku akan membuatkan minum untukmu." Ajak Avril seraya melangkah mendahului. Namun Aldi enggan melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Avril.


"Kenapa?" Tanya Avril menyernyitkan dahinya menatap mata Aldi yang begitu sayu.


"Apa kau mencintai Alvi?" Avril terdiam dengan mata yang tak berkedip menatap Aldi, kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Aldi dengan lembut.


"Kau mau minum apa? Kau ingin bertemu ayah? Kebetulan ayahku sedang dirumah. Jadi kalian bisa bermain mengobrol bersama." Ucap Avril memaksakan senyumnya. Sangat jelas, bahwa Avril tidak ingin membahas masalah itu sekarang.


Aldi mengangguk pelan dan mengikuti Avril memasuki pintu rumah, kemudian duduk di ruang tamu. Canggung, rasa yang kini menyelimutinya.


Avril berlalu kedalam, dan tak lama kemudian, ayah menghampiri Aldi yang tiba-tiba beranjak dari duduknya ketika melihatnya masuk.


"Kau seperti melihat hantu saja Aldi." Ucap ayah duduk berhadapan dengan Aldi, namun Aldi tak langsung ikut duduk, melainkan menghampiri ayah dan mencium tangannya.


"Bagaimana kabarmu nak.? Ayah harap kau baik-baik saja meskipun terlihat sebaliknya." Ucap ayah menepuk pundak Aldi. Aldi menanggapi hanya dengan tersenyum, menjelaskan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mengapa kau tidak menemui ayah saat kau pulang? Malah membuat Avril patah hati dan berniat bunuh diri?" Tanya ayah membuat Aldi menunduk.


"Maaf ayah... aku pikir Avil sudah--"


"Dia benar-benar menungguku." Gumam Aldi menatap kearah dalam rumah.


Avril berjalan menghampiri ayah dan Aldi dengan membawa 2 cangkir kopi yang berbeda.


"Apa kalian membicarakanku?" Tanya Avril seraya meletakan kedua cangkir dimeja.


"Tidak... untuk apa membicarakanmu." Jawab ayah menyadarkan tubuhnya pada sofa.


"Ya sudah." Avril kembali kedalam rumah untuk meletakan kembali nampan yang dibawanya.


"Jadi, ada apa nak?" Tanya ayah mengambil dan menyeruput kopinya.


"Aku ingin bertemu saja dengan ayah dan Avril. Sudah lama aku tidak mampir." Jawab Aldi yang sedikit menunduk namun tatapan mata yang seperti menahan beban yang sangat berat.


"Benarkah?" Tanya ayah ragu menatap lekat pada Aldi. Aldi hanya mengangguk kemudian sedikit mendongak menyelaraskan wajahnya dengan ayah dan melemparkan senyuman untuk meyakinkan ayah.


"Bicaralah nak. Kau tak perlu menanggungnya sendiri." Ucap ayah membuat Aldi menarik senyumnya.


"Apa ayah merestui hubungan Avril dengan Alvi?" Tanya Aldi dengan sungguh. Ayah mengangguk tanda mengiyakan.


"Jika aku melamarnya, apa ayah akan merestui hubungan kami?" Ayah menyernyit mendapati pertanyaan Aldi.


"Bukankah kau sudah bertunangan? Dan apakah ayahmu merestuinya? Ayah rasa hanya ibumu saja yang akan menerima Avril. Sedangkan kakak dan ayahmu tidak." Ucap ayah dengan penuh penekanan.


Aldi terdiam mengingat ayahnya yang melarang Aldi untuk berhubungan dengan keluarga Avril.


Mengingat gosip yang beredar bahwa ayah Avril adalah seorang yang kerap menghabiskan malamnya untuk mabuk. Yang tidak mereka tahu ialah, kenyataan bahwa ayah Avril hanya mencari penghiburan atas kepergian istri yang amat disayanginya. Karena ayah tak ingin memperlihatkan kesedihannya pada keluarga, rekan kerja, bawahan, ataupun temannya. Sehingga ayah mengahbiskan malamnya untu sekedar tidur diruang VIP.


Hingga akhirnya, ayah menemukan seorang anak yatim piatu yang menghabiskan beberapa alkohol meskipun dirinya tak menginginkannya. Anak itu adalah Alvi, yang tepat saat kelulusan SMAnya mendapat kabar bahwa orang tuanya pulang dengan hanya nama saja. Jasad keduanya tidak ditemukan, sehingga Alvi tak bisa menemui keduanya untuk yang terakhir kali. Setiap malamnya ayah menemani Alvi bicara sepanjang malam.


Namun yang orang lain pikirkan berbeda dengan kenyataannya. Yang dikira menghabiskan banyak alkohol, tapi nyatanya tak setetespun disentuh oleh ayah. Dan begitupun Alvi sekarang.


"Ayah tidak marah nak. Jika kau masih ingin berteman dengan Avril, silahkan. Tapi jika untuk melamarnya tanpa restu keluargamu, maaf ayah tidak bisa merestuimu." Ucap ayah tenang dan kebetulan didengar oleh Avril.


"Tapi jika seandainya keluarga Aldi merestui, apakah ayahpun akan merestui?"

__ADS_1


"Seandainya kan? Tapi kau sudah tahu kenyataannya." Ucap ayah seakan menegaskan.


"Ayah hentikan..." ucap Avril tegas ditutupi dengan nada candaan yang baru saja kembali menghampiri mereka.


"Ahhh maafkan ayah... ayah masih ada pekerjaan, jadi kalian ayah tinggal. Jangan berniat untuk kawin lari oke!" Ejek ayah beranjak dan membawa cangkir kopinya, kemudian berlalu meninggalkan Avril dan Aldi.


Avril menggeleng dan memijit dahinya pelan.


"Lagipula siapa yang akan kawin lari, menghadapi Alvi saja sudah membuatku gila, apalagi melawan restu ayahnya Aldi." Gumam Avril menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa?" Tanya Aldi heran.


"Hemm? Apa?" Avril tak kalah heran.


"Kau. Kenapa kau tersenyum?" Tanya Aldi penasaran.


"Apa salahnya aku tersenyum?"


"Tapi itu membuatku penasaran."


"Benarkah? Apa sekarang tuan Aldian menjadi orang yang selalu ingin tahu tentang orang lain?"


"Avril.... jangan mengejekku."


"Aku tidak mengejekmu. Bukankah itu kenyataan?"


"Tidak. Bukan itu kenyataannya."


"Lalu? apa?"


"Aku masih mencintaimu" tegas Aldi


"Jangan becanda Aldi. Aku tak suka."


"Aku tidak becanda." Avril terdiam tak bisa menjawab. Padahal Avril bisa menunjukan bukti bahwa Alvi sudah melamarnya.


"Maaf...." lirih Aldi.


"Tidak apa... memang benar, sangat sulit menghilangkan perasaan yang sudah lama dibiarkan ada. Jadi saat kehilangan, sangat sulit untuk melupakan orangnya juga." Ucap Avril tersenyum dengan memalingkan wajahnya.


"Kapan terakhir aku melihatmu tersenyum?" Tanya Aldi yang sedari tadi menatap Avril begitu dalam.


"Sekarang." Avril menoleh dan melemparkan senyum manisnya pada Aldi.


"sial. Kau lebih manis dari 5 tahun yang lalu." Aldi mengacak rambutnya dan memalingkan wajahnya, berusaha tidak menyimpan ingatan senyuman manis yang baru saja dilihatnya. Avril menarik senyumnya, dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Haihhhh kau masih menyebalkan seperti dulu." Aldi menggelengkan kepalanya, lalu mendekatkan wajahnya pada Avril.


"Jangan memancingku untuk menciummu nak." Seringai tersungging disudut bibir Aldi membuat Avril bergidik ngeri.


Avril menggeser tubuhnya menjauh dari Aldi.


"Jangan macam-macam Aldi." Ucap Avril sedikit berteriak.


Aldi hanya terkekeh melihat tingkah Avril yang membuatnya gemas ingin memeluknya.


Aldi meraih lalu meminum kopi yang disuguhkan Avril.


"Kau yang membuatnya?" Tanya Aldi melirik pada Avril.


"Tentu saja." Jawab Avril dengan wajah angkuh.


"Pantas saja, terasa istimewa. Sepertinya kau membuatnya dengan cinta." Ucap Aldi terkekeh.


"Aldi.. terimakasih kau sudah menyelamatkanku." Ucap Avril setelah hening beberapa saat. Aldi terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjawab ucapan Avril.


"Aku akan menyesal seumur hidup jika menyaksikanmu pergi." Aldi beranjak setelah meletakan kembali kopinya dimeja.


"Avil... aku harus pulang, maaf sudah merepotkanmu. Dan terimakasih." Aldi berjalan keluar rumah diikuti Avril dibelakangnya.


"Hati-hati. Jangan berakhir sepertiku." Ejek Avril.


"Aku berbeda denganmu nak".


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2