Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
76


__ADS_3

. Kabar kelahiran putra Galih kian menyebar. Hingga Alvi pun mendengar kabar itu. Ingin sekali Alvi pulang dan berkumpul dengan keluarga Andre disaat bahagia itu, namun apalah daya, kondisi perusahaan yang membuatnya harus bekerja lebih keras dari biasanya dan meninggalkan kekasih dan tanah air.


"Oke ini hanya sebentar. Hanya butuh waktu sedikit lebih lama. Maka setelah itu aku akan pulang." Ucap Alvi menyemangati diri sendiri.


. Tak lama berselang, Galih mengadakan acara aqiqah untuk sang putra. Banyak orang datang untuk mengucapkan selamat. Mama Reno memeluk Avril dengan erat ketika bertemu, begitupun Mama Bagas. Namun berbeda dengan Dewi yang mengecup kening Avril sebelum memeluk. Aldi merasa terharu dengan perlakuan sang ibu pada mantan pacarnya.


Saat acara akan berlangsung, Avril dengan senang hati menggendong keponakan tersayang yang kini terlelap tidur.


"Aaa cucu mama... bagaimana perasaanmu menjadi seorang ibu nak?" Canda Mama Reno pada Avril...


"Ehhh bukan Avril. Tapi Nadia mamanya." Ucap para tamu dengan serentak hingga semuanya tertawa dengan candaan Mama Reno.


"Ishhh mama... Avil kan suaminya masih diluar negeri ma..." timpal Reno.


"Loh... bukannya sama kamu ya?".


"Ehhh Dea ma Dea...." ucap Reno menggeleng heran.


"Avil itu menantuku." Ucap mama Bagas.


"Nahhh betul itu." Imbuh Bagas dengan percaya diri.


"Wahhh ngajak ribut kau Gas." Geram Aldi ikut menimpali candaan itu.


Avril hanya tertawa kecil melihat kekonyolan keluarga teman-temannya. Seketika Avril berfikir, andai Alvi ada disini mungkin tak akan merasa kesepian sekarang. Avril beberapa kali melirik ponselnya, sekian lama Alvi pergi tak pernah ada satu panggilan pun yang tertera nama Alvi, bahkan diriwayat panggilannya pun tak ada nama Alvi, setidaknya hanya sekedar panggilan tak terjawab.


Acara resmi digelar, Avril masih menimang keponakan tersayang seakan enggan memberikannya pada siapapun. Bahkan teman-temannya sengaja mendekatkan Avril dan Aldi yang terlihat seperti pasangan muda yang baru dikaruniai seorang anak.


"Orang tua dari Ravendra itu Galih dan Nadia atau Avril dan Aldi?" Tanya para tamu yang ikut tersipu malu. Syifa yang menjadi tamu undangan disana, hanya tersenyum tipis melihat kedekatan Avril dan Aldi.


"Kalian cocok ya.. kapan menikah? Bukankah kalian sudah lulus?" Avril dan Aldi saling tatap mendapati pertanyaan yang mungkin sangat sulit untuk dijawab.


"Itu.... kami masih memikirkannya." Jawab Aldi seakan mereka benar-benar memiliki hubungan.


"Dew.... sepertinya kau yang akan menjadi mertua beruntung itu. Siapa yang menyangka bahwa Avril akan ditinggalkan oleh tunangannya." Ucap tamu yang lain. Mama Dewi hanya tersenyum menanggapi. Karena sejatinya Aldi lah yang akan menjalani hidup dengan siapapun itu. Dewi tak akan menghalangi ataupun menjodohkan lagi dengan siapapun yang tidak Aldi inginkan. Untung saja keluarga Syifa menerima keputusan Aldi dan Syifa untuk memutuskan ikatan pertunangan mereka tempo hari. Jadi tidak ada dendam dari mereka untuk keluarga Aldi.


Syifa pun akan menerima dengan hati lapang jika memang Aldi mencintai gadis lain.


#Tiga tahun telah berlalu.


. Avril berjalan menuju sebuah ruangan setelah keluar dari lift dengan membawa beberapa map ditangannya.


"Permisi pak. Ini dokumen yang anda minta." Ucap Avril ketika sudah berada didepan meja direktur.


"Tepat waktu sekali nona. Seperti biasa, anda selalu membuat saya terkagum dengan kinerja anda." Ucap Reno memutar kursi kebanggaannya.


"Sudah jam makan siang. Yu!" Ajak Avril melirik kearah jam ditangan kirinya.


"Aldi sudah selesai meeting?" Tanya Reno beranjak dari duduknya sambil mengancingkan jas hitamnya berjalan mendekati Avril dengan stelan kerja yang formal namun masih terlihat begitu anggun.


"Sudah. 15 menit yang lalu." Jawab Avril. Keduanya keluar dari ruangan menuju ruangan tertinggi diperusahaan P. Sudah jelas, kini Aldi sepenuhnya menjadi presdir di perusahaan peninggalan mendiang ayahnya.


Ketika memasuki ruangan Aldi, terlihat Bagas sudah duduk santai di sofa. Sementara Aldi tertidur lelap disamping Bagas. Avril menghela nafas berat sambil tersenyum lalu duduk disamping Aldi.


"Kau selalu memaksakan diri." Ucap Avril.


"Apalah daya jika sudah punya keluarga." Jawab Aldi dalam tidurnya.


"Eh.. kau dengar?" Avril menyernyit kemudian tertawa kecil.


"Avil... hari ini aku lembur. Ada pertemuan dengan klien diluar." Ucap Aldi membuka matanya.


"Apa aku boleh ikut?"


"Tidak usah... kau pulang saja."


"Hemm baiklah... tapi jangan pulang terlalu malam." ucap Avril kemudian membuka kotak bekal yang ia buat untuknya dan ketiga pria didepannya.


"Wah... semakin hari, kau semakin pandai memasak Vil." Ucap Bagas ikut meraih sendok dan mulai melahap masakan Avril.


Avril tersenyum lalu tertawa kecil melihat ketiga pria ini masih sama seperti dulu. Reno yang kalem, Aldi yang dingin, dan Bagas yang rusuh.


"Al... bagaimana dengan putramu, kudengar dia sedang sakit. Apa sudah sembuh?" Tanya Reno disela acara makannya.


"Dia sudah sembuh. Tapi... dia tak ingin jauh dari Avil." Jawab Aldi masih fokus melahap makanannya.


"Aku tak tega meninggalkannya dirumah Al..." ucap Avril merubah tatapannya menjadi sayu.


"Bagaimana lagi. Bukannya aku tak mengerti, tapi tak ada kau aku kelabakan Avil... maaf" ucap Aldi menepuk kepala Avril dengan pelan.


"Yaa iya lah... Avil kan sekertaris kesayangan pak presdir." Cetus Bagas. Avril menatap tajam pada Bagas yang semula tertawa kemudian menunduk takut.

__ADS_1


"Eh Ren... bagaimana keadaan Dea?" Tanya Avril beralih menatap Reno.


"Sudah baikan. Kata Noah itu hanya efek kehamilannya saja." Jawab Reno.


"Kapan kau pindah ke rumah baru?" Tanya Aldi.


"Yaaa mungkin bulan depan." Jawab Reno lagi.


"Kalian tidak bertanya padaku?" Bagas menatap harap ketiga temannya.


"Kapan menikah?" Tanya ketiganya serempak.


"Nanti jika gaji dan jabatanku naik." Jawab Bagas dengan percaya diri.


"Oke kau naik gaji besok." Ucap Aldi membuat Avril dan Reno terbelalak.


"Benarkah?" Tanya Bagas antusias.


"Iya benar. Tapi lusa kau tak boleh masuk lagi. Kau dipecat!" Tegas Aldi membuat Bagas mendelik kesal.


"Kau jahat Al."


"Kau yang mengada-ngada." Ucap Avril.


"Ishhh kalian memang teman yang tak bisa dipercaya." Ucap Bagas merajuk.


"Sudah.... kapan kalian selalu saja bertengkar." Reno menggeleng heran dengan sikap teman-teman masa kecilnya.


"Terimakasih. Kalian sudah berbaik hati membangun kembali perusahaan ini." Ucap Aldi mendadak merubah suasana menjadi sendu.


"Itu sudah menjadi tugas kita sebagai teman Al." Ucap Reno melempar senyuman manisnya.


Sesuai yang dikatakan Aldi, Avril pulang terlebih dahulu diantarkan oleh Reno. Dea yang tahu kedekatan Reno dengan Avril, merasa tak keberatan jika Reno mengantarkan Avril pulang.


Sampai di kediaman Aldi, Avril turun dan terlihat seorang anak laki-laki berumur 2 tahun berlari keluar dari balik pintu.


"Mommy...." teriaknya lalu memeluk Avril yang sudah berjongkok untuk meraih Reifan yang merengek karena pilek dan demam yang baru mereda.


"Jangan lari... nanti sakit lagi dadanya." Ucap Avril membawa Reifan pada pangkuannya.


"Mommy... hikss... Daddy... Eifan mau Daddy.. hikss hikss" rengek Reifan mulai terisak khas anak kecil.


"Vil... aku duluan ya..." ucap Reno yang kembali meninggalkan kediaman Aldi.


"Aldi mana?" Tanya Dewi yang khawatir pada sang cucu yang tak henti menangis dari siang.


"Aldi ada meeting dengan klien ma..."


"Ini sudah sore. Mau pulang jam berapa dia?" Dewi berdecak kesal dengan Aldi yang selalu sibuk sendiri seolah tak memperhatikan Reifan.


"Kasihan Rei... selalu ditinggalkan. Padahal apa salahnya jika dia memberikan sedikit waktu untuk Rei..." ucap Dewi yang merasa tak habis pikir dengan kesibukan Aldi.


"Sudah ma... Aldi bekerja keras untuk Rei juga." Avril mencoba menenangkan.


"Terimakasih Avril... jika tak ada kamu, mama tak tahu harus bagaimana menghadapi Aldi." Dewi mengelus pundak Avril seraya melemparkan senyum lega.


"Iya ma... ya sudah... aku bawa Rei ke kamarnya dulu." Ucap Avril kemudian membawa Reifan ke kamarnya.


"Rei tunggu sebentar. Mommy mau mandi dulu." Reifan mengangguk patuh mendengar ucapan Avril.


Avril bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, kemudian kembali fokus pada Reifan. Avril mengambil ponselnya dan menekan kontak Aldi.


"Al... bagaimana jika akhir pekan kita ke taman. Bawa Rei jalan-jalan." Begitu isi pesan yang Avril kirim pada Aldi.


"Iya." Jawab Aldi membuat Avril menggembungkan pipinya.


"Kau selalu saja seperti ini." Ucap Avril kesal sendiri.


"Mommy... gendong." Reifan merentangkan tangannya dan dengan cepat Avril kembali membawa Reifan pada pangkuannya. Dipeluknya dengan hangat sambil mengelus rambut Reifan dengan lembut.


"Mommy... kak Aven..." ucap Reifan tiba-tiba.


"Kenapa dengan kak Aven?" Tanya Avril yang terheran dengan masih menggendong Reifan.


"Mau main." Jawabnya polos.


"Tapi mau malam sayang... tunggu Daddy pulang ya..." ucap Avril membujuk dan menenangkan Reifan.


. Tak lama, Aldi pulang menjelang malam. Avril menyambut Aldi dengan masih memeluk Reifan.


"Panasnya sudah reda?" Tanya Aldi meraih dahi Reifan.

__ADS_1


"Daddy..." rengek Reifan yang beralih ingin digendong oleh Aldi.


"Daddy mau mandi sayang. Nanti ya.. sama Mommy dulu..." ucap Aldi mengecup pipi Reifan dengan gemas, dan berlalu begitu saja. Avril menggeleng tak habis pikir dengan sikap Aldi yang seakan mengacuhkan putranya sendiri. Terlihat wajah Reifan yang semakin menunjukan akan menangis.


"Ehhh sayang.... anak tampan tak boleh menangis..." Avril mencoba menenangkan kembali Reifan dengan berbagai cara.


"Daddy... Eifan mau Daddy..." rengek Reifan yang terdengar oleh Aldi dari kamar. Dirinya terdiam menunduk di samping ranjang. Kemudian menatap poto pernikahan yang terpasang didinding kamar. Air matanya kembali berderai begitu saja. Namun saat melihat Avril kembali, Aldi merasa dirinya mendadak kuat dengan menghadapi kenyataan.


. Malamnya, Reifan tertidur dipangkuan Aldi yang kini bersandar di sofa.


"Avil... tidurlah. Jangan memaksakan. Besok saja." Ucap Aldi ketika melihat Avril yang sibuk dengan laptopnya.


"Laporan kontrak ini harus selesai Al... bukankah hari senin sudah harus siap kita ajukan pada pihak perusahaan D."


"Beda ya... kalau menyangkut perusahaan D, kau menjadi bersemangat." Ucap Aldi menghentikan aktifitas Avril. Avril berdecak kesal kemudian mematikan laptopnya, dan bergegas ke dapur untuk mengambil minum.


Aldi menidurkan Reifan di kamarnya, kemudian menyusul Avril yang kini sedang memutar gelas didepannya.


"Maaf..." lirih Aldi.


"Tak apa." Ucap Avril dengan senyum tipis.


. Akhir pekan, seperti yang dijanjikan, Aldi dan Avril berjalan-jalan di taman dengan Reifan dipangkuan Aldi. Sedangkan Avril membawa Ravendra dan menuntunnya untuk berjalan. Memang keluarga yang harmonis.


"Pamerannya ramai ya?" Avril tertegun melihat sekeliling yang begitu banyak orang berlalu lalang.


"Iya. Jadi ingat waktu pacaran dulu ya?" Cetus Aldi ikut terkagum.


"Sut... sekarang sudah tua. Dan juga anak sudah dua ini." Ejek Avril kemudian keduanya tertawa.


Beberapa kali Ravendra terlepas dari jangkauan Avril dan berlari kesana-kemari membuat Avril harus mengejarnya.


"Aunty... Raven mau itu." Ravendra menunjuk pedagang permen kapas sambil menggenggam jemari Avril.


"Tak boleh... nanti gigi Raven sakit." Ucap Avril memperingatkan.


"Aaa Raven mau itu..." rengeknya lagi. Avril hanya menghela nafas berat menghadapi keponakannya.


"Dasar Galih junior." Cetus Avril.


"Galih iyoy Galih iyoy..." ucap Ravendra membuat Avril terbelalak.


"Eh... sut.. tak boleh menyebut seperti itu." Avril menutup mulut Ravendra dengan panik. Aldi tertawa terbahak-bahak mendengar Ravendra menyebut nama ayahnya dengan konyol.


"Tamat kau Avil... tunggu kak Galih murka..." ejek Aldi.


"Daddy... mau lihat... itu." Reifan menunjuk seorang pedagang ikan koi dengan berbagai warna.


"Al... aku beli permen kapas, setelah itu beli minum dulu ya... nanti aku menyusul." Ucap Avril membawa Ravendra menjauhi Aldi. Aldi berjalan mendekati pedagang ikan dengan santai. Memang kini banyak yang mengidolakan Aldi. Wajah tampannya memancar setelah menikah dan menjadi presdir perusahaan P.


"Aunty... mau warna itu." Ravendra menunjuk permen kapas berwarna biru yang berada tepat didepan Avril. Setelah membeli permen kapas, Avril bergegas mencari minum untuknya. Karena Ravendra sudah dibekali makan dan minum oleh Nadia.


Avril fokus memilih minuman apa yang akan ia beli, sampai ia tak sadar Ravendra hilang dari jangkauannya. Avril terkejut lalu bergegas mencari Ravendra.


"Raven..." panggil Avril terus menoleh kesana-kemari.


"Aunty....." panggil Ravendra dari arah belakang. Avril menoleh seketika mendengar suara Ravendra.


"Raven... kau dari ma--" Avril terbelalak dan seketika menjatuhkan minuman yang ia genggam ketika mendapati siapa yang membawa Ravendra.


"Hai... nona Avril Vania? Apa kabar?" Avril masih mematung, lidahnya kelu menatap sosok yang sekian lama ia tunggu kabarnya.


"A-Alvi?" Lirih Avril terasa sangat sulit mengucapkan nama itu.


"Ini anak Galih?" Tanya Alvi dengan senyum saat menoleh kembali menatap wajah Ravendra.


"Aunty..." Ravendra merentangkan tangannya ingin beralih pangkuan pada Avril. Avril membawa Ravendra pada pangkuannya.


"Avril..."


"Kau pergi tanpa memberi alasan padaku, tak memberi kabar, tak menjawab panggilan teleponku, tak membalas pesanku, kau menghilang selama 3 tahun ini, lalu sekarang tiba-tiba kau muncul di hadapanku dan bersikap seolah kau tak pernah meninggalkanku. Apa yang kau inginkan Al?" Jatuh sudah bulir bening dari kelopak mata Avril.


"Avril..." lirih Alvi.


"Aunty jangan menangis." Ravendra mengusap air mata Avril dengan lembut.


"Mommy...." panggil Reifan yang berlari kearah Avril.


"Mom-mommy?" Alvi terbelalak tak percaya menatap Avril.


"K-kau punya anak? Tanya Alvi kemudian

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2