Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
55


__ADS_3

. Ray menghampiri Alvi yang tengah asyik kejar-kejaran dengan Avril.


"Ada apa Ray?" Tanya Alvi saat menyadari Ray terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Pak Andara." Ray sengaja tak melanjutkan namun Alvi mengangguk mengerti ketika nama itu disebutkan.


"Avril.. aku ada urusan dulu." Ucap Alvi membuat Avril menghampirinya.


"Kau mau kemana Alvi?"


"Ayah Reno ingin bertemu sebentar."


"Ohh oke... jangan pulang terlalu malam!"


"Baiklah! Jangan pergi tanpa izinku oke."


"Kau juga hati-hati..." .


"Iya nyonya." Ejek Alvi mengedipkan matanya membuat Avril tersenyum geli.


Sepeninggal Alvi, Avril tetap diam ditempat.


"Nona mau membersihkan diri?"


"Bu... sejak kecelakaan itu, aku selalu khawatir jika Alvi berpergian." Avril menerawang jauh tanpa menjawab bu Rumi.


"Berdoa saja nona." Rumi mengusap pundak Avril seraya tersenyum.


"Bu... boleh aku memeluk ibu?" Avril menatap harap pada bu Rumi yang mendadak heran dengan permintaan Avril.


"Rasanya saya kurang sopan jika harus...."


"Sebentar saja bu." Avril menatap bu Rumi dengan tatapan memohon.


"Nona..." lirih bu Rumi. Tanpa pikir panjang, Avril memeluk bu Rumi dengan erat. Merasakan Avril yang terlihat merindukan kasih sayang ibunya, bu Rumi dengan ragu membalas pelukan Avril dan tanpa sadar bu Rumi memberikan beberapa kecupan hangat di ujung kepalanya layaknya seorang ibu dan anak yang sudah lama tak berjumpa. Bu Rumi mengusap rambut Avril dengan rasa sayang yang tak bisa di artikan. Avril terbenam dalam hangatnya perasaan yang bu Rumi berikan.


"Sebaiknya nona membersihkan diri. Ibu akan temani."


"Aku sudah besar bu..." Avril masih memeluk bu Rumi. Tangannya mengunci tak ingin di lepaskan.


"Nona..." lirih bu Rumi. Setelah menghela nafas panjang Avril melepaskan pelukannya dengan wajah yang sudah berderai air mata.


"Nona baik-baik saja?" Bu Rumi meraih wajah Avril dengan panik.


"Aku rindu mama bu..." lagi-lagi Avril tak bisa menahan tangisnya.


"Sudah sudah... ibu disini..." kini bu Rumi yang memeluk Avril duluan. Bu Rumi merasa tangis Avril yang tertahan dan nafas yang sedikit tersenggal.


"Jangan di tahan, itu akan lebih sakit dan sesak. Tak apa jika nona ingin menangis." Mendengar itu, seketika tangis Avril menjadi pecah lebih keras.


Terlihat beberapa pelayan berlari menghampiri asal suara tangisan yang mereka dengar.


"Bu..." belum sempat dilanjutkan, pertanyaan Siska terhenti saat bu Rumi meletakkan telunjuk di bibirnya.


Avril menangis dipangkuan bu Rumi, dan mereda sendirinya. Siska menemani Avril ke kamar atas tempat dirinya menginap.


"Apa sudah baikan nona?"


"Hem..." Avril menoleh merasa bingung maksud dari pertanyaan Siska.


"Luka nona..." Avril melirik ke atas dan baru menyadari bahwa dirinya masih terluka.


"aku lupa." Avril hendak meraih kain kasa yang sudah sedikit terkena obat luka itu.


"Biar saya bantu nona." Dengan hati-hati, Siska perlahan melepaskan pelekat berwarna coklat itu.


"Aw..." Avril meringis saat rasa ngilu seakan menjalar di sepanjang goresan itu.


"Ma-maaf nona..." lirih Siska dengan wajah menahan takut.


"Tak apa Siska..." ucap Avril tersenyum tanda dirinya memang tak apa-apa.


"Sis... bisakah kau menunggu disini?" Avril menghentikan langkah sesaat sebelum benar-benar memasuki kamar mandi.


"Iya nona... bisa." Jawab Siska. Mendengar itu, Avril merasa tenang dan melanjutkan acara mandinya.


Ditempat Andara, Alvi melihat jelas wajah orang yang melukai Avril saat itu.


"Siapa dia?" Tanya Alvi pada Andara yang berdiri bersandar di meja.


"Menurutmu siapa? Aku tak mungkin mengamankan seseorang tanpa alasan."


Bugh. Tanpa menahan diri, Alvi melayangkan pukulan tepat di wajah pria itu.


"Berani-beraninya kau menyakiti Avril." Namun ia enggan menampik atau menjawab untuk sekedar membela diri.


"Alvi.... tenang...." Andara meraih Alvi yang terlihat masih menahan diri.


"Siapa yang menyuruhmu sialan?" Alvi benar-benar tak bisa menahan diri dan kembali memukul wajahnya.


"Bogem terussssss..." sindir Reno yang tengah bersandar di ambang pintu. "Boleh ikutan?" Lanjutnya melangkah menghampiri.


"Reno... jangan ikut-ikutan." Andara melotot pada Reno untuk memperingat anaknya itu.


"Ahaha aku becanda ayah...." Reno menggaruk kepalanya kikuk. Andara beralih menatap Alvi.


"Alvi... jika kau bertidak gegabah, kau sendiri juga yang akan terseret hukum karena kekerasan. Disini system kita introgasi. Bukan menghakimi." Tegas Andara. Bagaimanapun Alvi tetap mendengarkan apa yang di ucapkan Andara.


"Tuan... biarkan dia menjawab dulu." Ucap Ray menenangkan Alvi dan menariknya sedikit menjauh dari pria itu. Alvi mengusap kasar wajahnya lalu menggeram kesal.


"Nahh kan kesurupan harimau lapar lagi." Ejek Reno.


"Renoo..."


"Iya ayah..... hehe." Andara hanya mendelik dari Reno.


"Katakan siapa yang berharga dihidupmu.!" Alvi sedikit tenang. Seperti biasa, jika cara paksa tak bekerja, maka cara negosiasi harus berhasil. Namun tetap saja, pria itu enggan untuk bicara.

__ADS_1


"Ku tanya sekali lagi siapa yang paling berharga di hidupmu?"


Andara memberikan sebuah foto gadis kecil yang sangat menggemaskan.


"Apa yang akan anda lakukan pada adik saya?" Teriaknya terbelalak ketika ikut melihat poto itu.


"Ternyata kau bisa bicara juga." Decih Alvi.


"Jangan libatkan adik saya tuan..." ucapnya memelas lalu berlutut dihadapan Alvi.


"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Atau adikmu akan aku jadikan--"


"Jangan tuan.... saya rela mati demi apapun asal jangan melibatkan adik saya."


"Katakan sekarang!" Tatapan dan nada bicara Alvi kini penuh penekanan. Menakutkan.


"P-pak A-Adam tuan."


"Adam?" Semua bersamaan dan saling lirik.


---


. Ketika selesai, entah berapa lama Avril mandi, Avril tak mendapati Siska, yang ada hanya piyama yang sudah disediakan Siska.


"Siska tidak lucu... katanya akan menungguku." Gerutu Avril saat mengganti pakaian. Lalu menutup luka dengan kain kasa yang baru.


Dengan cepat Avril berlari menuju lantai bawah untuk menemui bu Rumi.


"Bu... Siska dimana?" Tanya Avril saat menghampiri bu Rumi di dapur.


"Tadi ibu suruh ke depan sebentar non. Ke mini market di ujung jalan."


"Hemmm... pantas saja." Avril berlalu kembali ke ruang keluarga dan meraih laptop Alvi di meja.


"Untung aku sudah meminta izin memakai laptopnya." Avril sibuk dengan layar dan keyboard mengetik cepat dan sesekali mengedit dari slide ke slide lainnya.


"Cepatlah berakhir.... aku paling malas jika membuat laporan" rengek Avril entah pada siapa


dengan masih sibuk sendiri.


Sudah lelah Avril bergelut dengan tugas untuk laporannya, Avril merasa gelisah sendiri saat melihat jam sudah menunjukan pukul 8 malam lebih. Avril menoleh pada pintu besar yang sudah tertutup rapat itu.


"Mengapa Alvi belum pulang? Katanya sebentar? Apa aku telpon saja?" Gumam Avril seraya mengambil ponselnya. Beberapa kali memanggil namun tak juga di angkat. Begitupun Reno.


Bayang-bayang insiden dan upaya pembunuhan itu mulai berputar-putar dikepala Avril.


"Non... sudah selesai? Makanan sudah siap sedari tadi." Ucap bu Rumi.


"Aku ingin menunggu Alvi bu."


"Tapi...." belum selesai bu Rumi melanjutkan, ponsel Avril berbunyi dan tertera nama mantan pacarnya itu.


"Iya Al.."


"Kau dimana?"


"Sedang apa?" Terdengar Aldi sangat terkejut.


"Menginap." Jawab Avril polos.


"Apa?" Avril menjauhkan ponselnya karena teriakan Aldi.


"Avil jangan becanda."


"Aku tidak becanda."


"Aku akan kesana."


"Mau apa?" Kini Avril yang terkejut.


"Menyusulmu."


"Ck.. jangan becanda." Delik Avril berdecak kesal saat panggilan terputus tanpa kata apapun lagi.


Avril mendadak gelisah sendiri mendengar Aldi akan menyusulnya. Bagaimana jika Alvi salah faham lagi? Avril mondar-mandir tak karuan hingga panggilan bu Rumi pun tak terdengar.


"Bu kalau Alvi pulang beritahu aku. Aku makan nya setelah Alvi pulang saja."


"Tapi nona..." lagi-lagi bu Rumi tak melanjutkan ucapannya karena Avril berlari menaiki tangga.


. Tak lama berselang, Siska datang mengetuk pintu kamar Avril.


"Ada apa Sis?" Tanya Avril setelah membuka pintu.


"Anu non... ada yang mencari nona."


"Alvi?"


"Bukan non. Katanya teman nona." Avril terbelalak karena menyadari siapa yang dimaksud Siska.


"Baiklah. Aku akan turun." Siska mengangguk lalu kembali meninggalkan Avril di kamarnya.


"Apa Aldi sudah gila? Dia benar-benar kesini? Untung saja Alvi belum pulang." Avril mengumpat sendiri sebelum akhirnya turun menemui Aldi.


Aldi beranjak saat Avril berjalan menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Avril mendelik.


"Pulang."


"Apa?"


"Ku bilang pulang."


"Apa hak mu menyuruhku pulang?"


"Aku...." Aldi sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Apa? Kau siapa?" Aldi menghela nafas kesal menatap Avril.


"Sudahlah Aldi. Tak ada yang penting. Lebih baik kau pulang sebelum Alvi berpikir yang tidak-tidak padamu." Avril mendorong punggung Aldi yang ia putar tubuhnya.


Saat di teras rumah, Aldi masih enggan meninggalkan Avril disana.


"Kenapa?" Tanya Avril lagi. Aldi menarik paksa tangan Avril hingga ke dekat mobil.


Siska berlari membawa sapu dan memukulkannya pada Aldi.


"Apa-apaan?" Bentak Aldi meringis kesakitan dan melepaskan genggamannya pada Avril.


"Penculik." Jawab Siska tak kalah tinggi nada suaranya.


"Penculik apa?" Aldi mendelik geram melihat pelayan Alvi begitu cekatan melindungi Avril.


"Apa artinya ini jika bukan mau menculik?" Avril tertawa kecil melihat Siska yang melindunginya dari Aldi.


"Aku ini temannya."


"Dan nona Avril itu nyonya kami..." terlihat Aldi semakin geram dengan Siska.


"Oke kalau begitu, aku bicara disini saja. Tapi kau harus menjauh karena ini urusan pribadi."


"Kau pikir aku bodoh? Meskipun aku hanya pelayan, tapi aku mengerti situasi. Kau bicara seperti itu agar aku lengah kan?"


"Hissshhhh hei Avil... katakan pada dia aku tak akan macam-macam." Pinta Aldi yang melihat Avril begitu menikmati perdebatan Aldi dengan Siska.


"Kau sendiri yang salah karena menarik tanganku dengan paksa, jadi dia tak akan percaya padamu." Avril menahan tawa dengan memalingkan wajahnya dari Aldi.


"Nona..." Siska mendadak terkejut saat menoleh pada Avril.


"Apa Sis?" Avril tak kalah terkejut.


"Anu... itu...." Siska menunjuk dahi Avril dengan ragu.


"Kenapa?" Avril merasa heran sendiri. Dahinya tak apa-apa, bahkan Avril tak merasakan sakit di lukanya itu.


Aldi kembali menghampiri dan meraih kain kasa yang ternyata sedikit terlepas.


"Mungkin itu terlepas karena tadi aku buru-buru." Ucap Avril saat Aldi fokus pada plester yang melekat pada rambut Avril.


"Diam dulu... atau kau akan kesakitan." Avril mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Tak sengaja, tangan Aldi sedikit mengenai luka Avril hingga Avril meringis kesakitan.


"Nona." Ternyata Siska ikut terkejut dan seakan merasakan rasa sakit yang sama dengan Avril. Terlihat dari ekspresi wajahnya dan ikut meringis saat Avril menyentuh dahinya.


Tanpa bicara, Aldi langsung meniup dengan pelan pada luka Avril.


"Mengapa jantungku seperti ingin meledak? Tidak mungkin jika aku jatuh cinta lagi pada Aldi." Gumam Avril kemudian menggeleng kasar dengan perkiraannya.


"Bisa diam tidak?" Tegas Aldi semakin kuat memegang kepala Avril.


"Sakit sialan." Avril hendak melepaskan diri dari Aldi, namun Aldi masih memegangi kepalanya.


"Alvi kemana?" Tanya Aldi yang masih meniup dahi Avril.


"Bertemu om Andara." Jawab Avril polos.


"Mau apa?"


"Tak tahu."


Siska mendadak canggung dengan situasinya. Dia masih tak mengerti dengan yang disaksikannya. Teman tapi sangat romantis. Ingin menegur tapi takut jika Avril tersinggung. Jika di tinggalkan, nanti akan ada gosip tak mengenakan tentang Avril. Siska menjadi berpikir untuk memisahkan Avril dan Aldi sekarang.


"Nona... kecoa..." teriak Siska dengan melihat kearah kaki Avril. Sontak Avril melompat mencari keberadaan hewan yang sangat menggelikan itu. Tanpa sadar, kaki Avril tersandung dan menabrak Aldi didepannya hingga keduanya terjatuh dan Avril berada di atas Aldi (lagi).


Siska menutup wajahnya karena adegan itu.


"Aku malah memperburuk suasana." Gumam Siska merasa bersalah.


Lampu mobil yang kian mendekat menyilaukan ketiganya. Avril terbelalak saat Alvi turun dengan wajah yang terlihat jelas menahan emosi. Avril bangkit lalu meraih lengan Alvi yang kini enggan menoleh padanya. Pandangannya lurus menatap tajam pada Aldi yang bangkit dari rebahannya.


"Alvi... ja-jangan salah faham. I-ini tid--"


"Tidak seperti yang aku lihat? Begitu? Lalu bagaimana caramu menjelaskannya sayang? Harus bagaimana nantinya aku mempercayai penjelasanmu setelah aku melihat apa yang sama sekali tak ingin aku lihat." Kini Alvi menoleh pada Avril yang masih memegangi tangannya. Avril merasa sesak mendapati tatapan dingin dan tajam dari Alvi.


"Hanya sebentar aku tinggal. Bahkan kau berani mengadakan acara pertemuan dengan mantan pacarmu di rumahku. Apa seperti ini juga saat aku tinggal satu bulan ini?" Lanjut Alvi saat menyadari Avril yang akan bicara.


"Alvi... dengarkan dulu..." lirih Avril.


"Apa lagi? Dia menginginkan kematianku agar bisa bebas bersamamu." Avril menyernyit mendadak bingung apa yang Alvi katakan.


"Alvi.. apa maksudmu?" Alvi tertawa sinis mendapati pertanyaan dari Aldi.


"Kau tak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?" Alvi menepis pegangan Avril lalu berjalan semakin dekat dengan Aldi.


"Tuan..." lirih Ray menyadari kemarahan tuannya.


Melihat tangan Alvi yang mengepal, Avril memeluk dengan erat Alvi dari belakang.


"Lepaskan Avril." Tegas Alvi yang tak dihiraukan Avril.


"Ku bilang lepaskan." Teriak Alvi menusuk telinganya hingga Avril melepaskan Alvi yang menahan kemarahannya.


"Alvi... Aldi tidak---"


"Diam Avril. masuk atau aku akan pergi?." Avril tersentak dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Siska! Bawa Avril masuk dan antarkan ke kamarnya.!" Titah Alvi dengan penuh penekanan.


"Alvi..."


"Avril. Apa kau tidak dengar?" Bentak Alvi menyesakkan pernapasan Avril.


Avril berlari memasuki rumah dan Alvi menyadari bahwa Avril menangis.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2