Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
30


__ADS_3

. Demira menoleh kembali pada Aldi yang tak menunjukan ekspresi apapun.


"Maaf." Hanya itu yang terlontar dari mulut Aldi.


'Plak.' Sekali lagi Demira menampar Aldi lebih keras.


"Maafkan aku juga Aldi. Rasanya menamparmu satu kali saja tidak cukup." Ucap Demira kemudian menunduk dan mengepalkan tangannya.


"Aku tahu Demi.. silahkan jika kau ingin menamparku berapa kalipun sampai kau puas." Ucap Aldi yang sudah pasrah dengan keadaannya.


"Katakan padaku sekarang kebenarannya. Atau aku benar-benar tidak akan pernah kembali ke negara ini lagi. Avil... apa kau masih menganggapku teman?"


"Demi..." lirih Avril yang tak bisa menahan tangisnya.


"Jangan menangis didepanku Avil..." ucap Demira dengan wajah yang dingin. Kini tak ada yang berani berbicara jika Demira mulai marah. Termasuk Syifa yang tak tahu harus apa.


"Pantas saja. Saat aku memanggil nama Avril dengan panggilan kesayangan Aldi, kau hanya diam. Bukankah kau selalu memarahiku jika aku memanggilnya Avil? Aku pikir ini hanya kebetulan karena kalian sudah lama bersama. Tapi ada kenyataan yang tidak aku tahu selama ini. Dan saat bertemu, kalian menjadi canggung, tidak seperti pasangan yang aku bayangkan selama ini. Aldi! Bukankah kau berjanji padaku untuk menjaga Avril jika aku pergi. Dan bukankah kau sendiri yang berjanji didepan Bagas dan Reno? Dimana janjimu Al.. Mengapa kalian berpisah?" Demira tersedu-sedu sambil memukul-mukul Lengan Aldi. Sakit! Aldi merasakan sakit dipipi dan lengannya, namun tak merubah ekspresi ataupun posisinya.


Tanpa disadari, Alvi menarik lengan Demira yang tak henti menangis. Avril yang menyaksikannya terdiam mematung tanpa bergeming.


Alvi membawa Demira pada dekapannya, memeluk, dan mengusap lembut lengan dan rambut Demira.


"Kendalikan dirimu. Lihat situasinya jika ingin meluapkan kemarahanmu." Ucap Alvi seakan tak mempedulikan keberadaan Avril.


Avril kembali mengingat apa tujuan Demira ke Indo. Yang tak lain, untuk menemui calon suaminya. Avril tak menyangka jika kenyataan bahwa Alvi lah laki-laki itu.


Reno menoleh pada Avril yang mematung dan menjatuhkan ponselnya. Reno merasa heran mengapa Avril begitu terkejut. Namun pertanyaannya terjawab ketika Reno sendiri mengingat ucapan Demira, dan berfikir sama dengan apa yang dipikirkan Avril.


"Sial." Decih Reno berlari menghampiri Avril.


Namun sepertinya Avril tak ingin lagi mendengar penjelasan apapun hari ini. Dengan cepat Avril meraih kalung pemberian Alvi dan melepaskannya, kemudian memberikan pada Reno.


"Jangan bicara dan berikan saja padanya." Ucap Avril mengambil ponselnya kembali dan berlalu dengan air mata yang tak terbendung.


"Avril..." panggil Alvi melepaskan Demira, kemudian berlari menyusul Avril.


Sambil mengusap air matanya, Demira merasa heran dengan situasi dan apa yang terjadi sekarang.


"Reno." Ucap Syifa ragu.


"Tak apa Syifa. Avril hanya salah faham."


"Aku tetap khawatir Reno. Jika Avril terus berlari seperti itu, kemungkinan..." Syifa tak melanjutkan ucapannya.


"Itu juga yang ku khawatirkan." Reno menoleh ke dalam gedung. Reno tersentak ketika menyadari kalung Avril masih berada ditangannya. Dilihatnya nama yang terukir pada cincin itu.


"Setidaknya beritahu aku siapa gadis ini, dan siapa Anisa." Tegas Demira sebelum menjauh dari Aldi.


"Dia dan Anisa adalah orang yang sama." Jawab Aldi dengan dingin.


"Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada kalian, tapi sepertinya percuma saja. Mungkin orang yang bisa kupercaya untuk menceritakan kebenarannya hanya Bagas." Ucap Demira kemudian berlalu kembali kedalam ruangan. Tak lupa, Demira pergi ke toilet untuk menata wajahnya yang berantakan karena menangis.


Dari balik tembok, Demira bersandar merdengar beberapa gadis yang sedang berbincang, bisa dikatakan itu teman dari Nadia.


"Kau lihat tadi? Betapa serasinya Alvian dengan Avril."


"Tentu saja aku lihat. Aku sendiri tak menyangka Alvi bisa sehangat itu pada perempuan. Padahal dia sangat dingin kepada siapapun setelah orang tuanya meninggal."


"Aku ikut senang jika benar Alvian dan Avril bersama, bukan hanya karena mereka cantik dan tampan, tapi keduanya saling melengkapi kesedihan satu sama lain."


"Kau benar. Alvian yang kesepian karena ditinggal orang tuanya, dan Avril yang ditinggal ibunya. Meskipun itu sudah lama."


"Ditambah lagi dengan kecelakaan saat itu. Kalian ingat? Aku dengar Avril bukan karena mabuk ataupun mengantuk. Tapi dia sengaja menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan karena tidak terima mengetahui bahwa pacarnya bertunangan dengan gadis lain."


"Avil kecelakaan?" Gumam Demira yang masih menguping pembicaraan.


"Iya aku juga mendengar rumor itu. Bukankah ada yang lebih menyakitkan untuknya?"


"Apa?"


"Selain dikhianati pacarnya, Avril dikhianati oleh temannya sendiri."


"Dulu aku sangat mengagumi Aldian, walaupun dia lebih muda dariku. Tapi setelah mendengar ini, aku merasa bahwa Aldian tidak lebih dari seorang yang tak punya hati. Dia bertunangan dengan teman dekat Avril. Benar-benar tak bisa dimaafkan."


"Kalau tak salah namanya Syifa kan?"


"Tidak. Bukan. Anisa."


"Syifa."


"Anisa."


"Namanya Anisa Syifa Almaira. Jadi kalian berdua sama-sama benar."


Demira mengepalkan tangannya, dan kembali menuju halaman belakang. Berharap Aldi masih ada disana.


Tak disangka, Noah sedang menunggu diujung jalan yang hendak dilewati Demira.


"Kau menangis?" Demira mengangguk pelan.


"Kau bertengkar dengan Alvi?" Demira terdiam tak menjawab.


"Sudahlah. Itu bukan salahmu." Demira membenamkan wajahnya didekapan Noah.


"Apa hubungan Avil dan Alvi?" Tanya Demira mendongak pada Noah.


"Alvi melamar Avril pada ayahnya. Menurutmu apa artinya?" Noah membalikan pertanyaan.


"Apa Avril tahu aku kesini untuk menemuimu?"

__ADS_1


"Kupikir tidak."


Lagi-lagi tangis Demira pecah dipelukan Noah.


"Hei... ini hari bahagia. Mengapa kau menangis? Nanti kau akan dianggap sebagai mantan yang ditinggal nikah oleh Galih."


. Disamping itu, salah satu pelayan menghampiri Galih dan ayah. Memberitahu bahwa ada keributan dihalaman belakang. Galih terkejut karena biang keributannya adalah adiknya sendiri.


"Amankan!. Jangan sampai ada media yang tahu." Pelayan itu mengangguk tanda mengerti dengan titah Galih.


. Di atap, Avril menatap kota dengan tatapan kosong.


"Apa kau akan mengambil Alvi juga dariku tuhan? Apa ibu dan Aldi saja tidak cukup?" Lirih Avril.


"Avril kau salah faham." Ucap Alvi yang berada dibelakangnya.


"Salah faham? Sudahlah Alvi. Semuanya sudah jelas. Selain menemuiku, Demi ke Indo untuk menemui calon suaminya. Dan aku tak pernah berfikir itu kau. Dan akhirnya kau dan Aldi sama saja. Apanya yang menyembuhkan? Apanya yang serius? Apanya yang cinta? Semua hanya omong kosong."


"Tidak Avril. Kau benar-benar salah faham. Memang benar Mira kesini untuk menemui calon suaminya, tapi bukan aku. Aku hanya.."


"Hanya apa? Hanya seseorang yang sangat dekat?"


"Ya.. aku dan dia dekat. Bahkan lebih dekat."


"Kau mengakuinya? Jadi apa lagi alasanku untuk mempercayaimu, dan menerima kehadiranmu."


"Avril..." panggil Reno dari belakang Alvi.


"Sudahlah Reno. Aku tahu apa yang ingin kau katakan."


"Jadi kau sudah tahu?"


"Yah... kau mungkin akan berkata bahwa kau tak punya hak untuk mengatakan kebenarannya bukan?"


"Hah?"


"Sudahlah Reno. Aku ingin sendiri. Kalian pergilah!"


"Sepertinya otakmu ingin dibedah lalu dicuci nona Revano." Teriak Noah tiba-tiba menimpali.


"Diamlah Noah. Sebaiknya kau juga pergi."


"Aku tak akan pergi sebelum aku memeriksa otakmu yang sepertinya tak sehat nona."


"Terserah kau."


"Avil.. maafkan aku." Ucap Demira yang kini berada disampingnya.


"Kau menyalahkan Aldi seperti itu, padahal kenyataannya kau sendiripun menyakitiku Demi."


"Tidak Avil. Apa kau tahu hubunganku dengan Alvi?"


"Baiklah. Memang benar yang dikatakan pacarku, sepertinya otakmu sedang tidak sehat." Kata pacar cukup membuat Avril menggeleng tak menyangka.


"Kau bahkan memacari dua orang dalam satu waktu"


"Aku tarik kata-kataku. Ternyata otakmu bukan hanya tak sehat, tapi kau benar-benar sudah gila. Kau gila Avil."


"Aku gila? Kau bilang aku gila? Jika aku gila, lalu kau apa Demi?"


"apa yang ada dipikiranmu Avil. Aku memang benar-benar gila jika aku dan Alvi pacaran. Aku tidak segila itu Avil. Aku tak mungkin berpacaran dengan sepupuku sendiri." Sontak Avril tersentak mendengar Demi.


"Se-sepupu?" Semua mengangguk ketika Avril berbalik.


Pandangannya mendadak kabur, kemudian gelap total.


Sebelum benar-benar terlelap, Avril mendengar semuanya memanggil namanya.


. "Apa yang kau lakukan pada adikku?" Delik Galih saat berada diruangan khusus. Dan tidak sembarangan orang bisa memasukinya.


"Adikmu yang salah faham terlalu melewati batas." Jawab Alvi.


"Kenapa lagi? Kalian tahu, ini hari bahagiaku. Aku tahu kalian membenciku, tapi setidaknya carilah waktu yang lain jika ingin mengganggu dan membuat masalah denganku.


"Dia baik-baik saja Galih." Ucap Noah melanjutkan.


Tak lama, Avril membuka matanya dan menoleh sekitar, menatap satu persatu wajah-wajah yang menatap datar dirinya.


"Kalian siapa?" Tanya Avril menyentuh dahinya.


"Hei dokter. Kau tidak bilang ada kerusakan di sistem otaknya kan?" Tanya Demira polos.


"Di otaknya tak ada kerusakan. Tapi aku baru sekarang menemukan kasus seperti ini. Sistem hati yang rusak, tapi berefek fatal pada otaknya. Bahkan sampai kehilangan memori hampir sepenuhnya." Jawab Noah tak kalah santai.


"Ganti saja hatinya." Ucap Alvi.


Avril terbangun, kemudian berjalan menjauhi orang-orang yang mengejeknya.


"Cuaca yang cerah... cocok untuk berkendara kan?" Delik Avril yang menghela nafas panjang.


"Apa aku bubarkan saja acaranya Galih?" Tanya Alvi dengan suara yang tinggi.


"Ya.... berhubung sudah tidak bisa ditolelir lagi, mengapa tak kalian hancurkan saja acaraku anak-anak sialan?" Sindir Galih tak kalah keras.


"Kau harus kembali tuan. Nona Nadia pasti menunggumu. Biarkan kita yang mencari adikmu." Timpal Reno


"Baiklah. Temukan dia dan berikan padaku." Ucap Galih


Galih beranjak dan berlalu melewati Avril yang masih terdiam. Avril menghela nafas malas ketika mengikuti Galih.

__ADS_1


Tak disangka, dikursi pelaminan duduk Nadia dan seorang pria yang sangat dikenal.


"Sedang apa kau ditempatku bajingan?" Tanya Galih dengan menatap tajam pria itu.


"Tempat ini kosong. Jadi aku duduk saja. Lagipula aku tak tega melihat wanita secantik ini duduk sendirian." Jawab Damian. Teman masa kecil Galih sekaligus kakak dari Demira.


"Kakak?" Pekik Avril kemudian berlindung dibelakang Galih.


"Hei.. adik. Kau sudah dewasa. Aku tak menyangka kau secantik ini." Ucap Damian yang mencoba meraih Avril, namun Avril terus menghindar dibalik tubuh kekar Galih.


"Ayolah adik. Aku bukan hantu..." lanjut Damian yang terus menerus mencoba mendapatkan Avril.


"Kau lebih menakutkan dari hantu kak." Ucap Avril polos.


"Kau jahat adik.." rajuk Damian.


"Aku bukan adikmu. Dan berhenti mengejarku."


"Aku ingin memelukmu sebentar. Aku merindukanmu adik."


"Aku tak mau dipeluk orang mesum sepertimu."


"Aku tidak mesum. Aku bersikap sebagai kakakmu saja."


"Aku tidak menganggapmu kakak."


"Ya sudah. Kau jadi istriku saja jika kau tak mau menganggapku kakak."


"Lebih baik aku mati kak."


"Jangan seperti itu adik.. bagaimana jika benar aku yang menjadi suamimu."


"Aku sudah punya calon. Dan dia lebih baik darimu."


"Benarkah? Aldi tidak ada apa-apanya denganku."


"Hei tuan Damian. Berhenti mengganggunya." Alvi ikut melindungi Avril dari kejaran Damian.


"Hei... hallo sepupu. Apa kabarmu? Menyingkirlah. Dia calon istriku." Damian menepuk bahu Alvi. Namun Alvi tetap tak bergeming dan menahannya untuk tidak menyentuh Avril.


"Maaf Damian. Tapi setahuku, seorang istri tidak mungkin begitu ketakutan melihat suaminya." Ucap Alvi dengan tatapan datar.


"Alvi... Galih... menyingkir. Atau aku akan mati karena rindu pada adikku." Rengek Damian seolah memohon untuk Alvi dan Galih menyingkir.


"Mati saja kau." Ucap Galih dan Alvi bersamaan.


"Kalian benar-benar kejam."


Terlihat Demira menyusul dengan Noah. Dengan santai Noah duduk disamping Nadia.


"Ada satu serangga pengganggu lagi." Decih Galih.


"Selanjutnya kita Demi." Ucap Noah mengabaikan Galih.


"Eh? Apa?" Demira terlihat salah tingkah dan kini pipinya memerah.


"Tidak Noah... Aku dan Avril dulu. Baru kau dan Demira." Timpal Alvi menoleh.


Melihat celah yang sangat besar, Damian menghampiri Avril lalu memeluk gemas.


"Kau masih saja kecil dik."


"Lepaskan aku kak... iiihhhh kau mesum."


"Mesum apa? Aku hanya memelukmu dik."


"Lepaskan dia atau kubunuh kau." Ucap Alvi dan Galih bersamaan seraya menarik telinga Damian.


"Aaaaargghhh sakit sialan." Teriak Damian.


Alvi meraih Avril dan masih menatap tajam pada Damian, seolah mengantisipasi dan waspada jika Damian tiba-tiba mendekati Avril.


"Kenapa kau disini kak?" Tanya Demira heran.


"Kau baru menanyakan itu sekarang? Kau tak sadar aku berada dibelakangmu sejak kemarin." Jawab Damian mendelik malas.


"Apa? Jadi kau satu pesawat denganku, tapi tidak menemuiku? Atau setidaknya kau memberitahuku."


"Tapi sekarang kau sudah tahu kan?"


"Iihhh menyebalkan... mengapa kakak laki-laki selalu menyebalkan."


"Aku juga tidak tahu Demi." Jawab Avril menimpali.


"Apa maksudnya itu Avril?" Tanya Galih melirik tajam pada adik perempuannya itu.


"Mengapa kau tidak mengerti Galih." Ucap Alvi merangkul pundak Avril.


Ditengah perbincangan dan candaan mereka, seketika terhenti lalu menoleh pada sekitar. Benar saja, semua pandangan tertuju pada kursi pelaminan yang dikerumuni beberapa pasangan anak muda itu.


"Bubar!" Tegas Galih yang kini didengar serius oleh mereka. Semua berjalan berlalu dengan masing-masing pasangannya. Tak peduli orang lain akan berkata apapun. Namun yang tragis, Damian berjalan sendiri mengikuti langkah adiknya dari belakang.


"Apa Mom and Dad ikut?" Tanya Demi yang tak menoleh kebelakang.


"Mereka bilang akan menyusul nanti." Jawab Damian.


Seolah bagai slowmotion, Damian bertatapan dengan Gadis yang ingin dia temui. Amel.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2