Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
74


__ADS_3

. Avril menatap dalam dan menarik jas milik Ray yang kini berdiri didepannya.


"Dimana Alvi Ray?" Tanya Avril kembali menunduk lesu.


"Tuan...."


"Dia sudah pergi?" Ray ikut menunduk lesu. Avril tersenyum kemudian beranjak dari duduknya.


"Nona... tuan tak bermaksud meninggalkan nona." Ucap Ray.


"Lalu ini apa Ray? Bahkan dia pergi tanpa berpamitan kepadaku. Jika memang dia tahu hanya salah paham, harusnya dia tak pergi Ray. Jika memang harus pergi, harusnya ada kata perpisahan sebelum dia pergi. Jika ingin memutuskan hubungan, jangan seperti ini."


"Maaf nona."


"Sudahlah Ray. Aku tak akan menanyakan tentangnya lagi. Dengan caranya seperti ini, sudah menunjukan bahwa dia ingin aku menyerah."


"Tidak nona.. saya mohon jangan memutuskan hubungan secara sepihak. Tuan benar-benar mencintai nona."


"Hentikan Ray. Kau bilang Alvi mencintaiku. Tapi apa? Kau bisa meyakinkanku atas apa yang kau katakan itu? Yang mencintai itu yang bagaimana Ray?" Ray terdiam tak menjawab pertanyaan Avril. Dirinya merasa tak berhak menjelaskan alasan Alvi pergi keluar negeri tanpa memberitahu Avril.


"Oke begini saja. Kau bilang Alvi pergi karena mencintaiku, jadi aku pun mencintai Alvi sepenuh hati dan kau jangan menghalangiku untuk pergi dari hidupnya." Lanjut Avril berbalik dan melangkah menjauhi Ray.


"Jadi semudah itu kau ingin melupakanku?" Avril terhenti, tubuhnya membeku, kemudian menoleh kebelakang dan matanya kembali berembun. Alvi berjalan menghampiri Avril dengan tatapan yang berbeda. Tatapannya begitu tajam dan dingin.


"Ternyata aku tak seistimewa yang kau katakan." Ucap Alvi dengan senyum sinis menatap Avril.


"Apa kau tak pernah mau mendengarkan penjelasanku?" Tanya Avril menahan agar embun yang sudah menggenang di kelopak matanya itu jatuh didepan Alvi. Meskipun Avril tahu embun itu kapan saja bisa terjatuh, Alvi pun tahu bahwa hati Avril tengah luluh lantah sekarang karena dirinya. Ingin rasanya memeluk dan menenangkan tangis yang tertahan agar Avril tak merasa sesak.


"Katakan. Aku tak punya waktu lama. Jika tak ingin ada yang kau bicarakan, silahkan pergi." Ucap Alvi yang masih mempertahankan egonya untuk membuat Avril merasa bahwa dirinya sudah membenci Avril. Meskipun sudah sekuat tenaga menahan diri, namun tetap saja embun itu kini berderai begitu saja. Avril menggeleng menatap mata Alvi yang tak berubah sedikitpun. Avril berlalu dengan air mata yang terus berderai. Bukan Avril tak ingin menjelaskan, namun ia merasa semua penjelasannya akan percuma ketika melihat raut wajah Alvi yang seakan sudah tak peduli lagi padanya.


"Kenapa aku terus menangis?" Gumam Avril mengusap wajahnya yang sudah berantakan.


Alvi menutup matanya yang ikut menitikkan embun ketika menatap kepergian Avril. Alvi berbalik menghampiri Ray, lalu duduk di kursi tunggu dengan tatapan yang sayu.


"Tuan..." lirih Ray menatap nanar pada Alvi.


"Jaga Avril selama aku tak ada Ray. Pastikan dia baik-baik saja. Sesekali temui dia dengan cara menurutnya hanya kebetulan. Jangan di sengaja, karena dia tak akan suka."


"Ba-baik tuan. Tapi, apa tuan yakin akan tetap pergi?"


"Ini untuk Avril juga Ray. Kau tahu kondisi perusahaan sekarang seperti apa. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankannya."


"Maafkan saya tuan yang tak bisa memprediksi akan ada hal seperti ini saat tuan sakit."


"Tak apa Ray. Aku mengerti. Wajar saja, karena pihak-pihak yang bekerja sama dengan kita, mereka juga butuh kepastian atas kontraknya. Dan aku yang sakit, secara tidak langsung memutus kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan. Bahkan proyek besar yang aku dan Galih siapkan juga ikut dibatalkan."


"Jika saja saya--"


"Sudah Ray. Jangan menyalahkan diri. Ini sudah jalannya." Alvi beranjak dari duduknya dan meraih koper besarnya.


"Aku berangkat Ray." Ucap Alvi kemudian berlalu dari hadapan Ray yang menunduk sopan.


"Hati-hati tuan." Lirih Ray.


"Kau tak berpamitan padaku?" Teriak seseorang menghentikan langkah Alvi. Alvi berbalik dan seperti biasa, tatapannya sangat dingin menatap Baren yang kini berdiri tak jauh darinya. Alvi menyernyit seakan bertanya mereka tahu dari mana bahwa Alvi di bandara.


"Tak penting aku tahu dari mana. Yang penting, apa sikapmu seperti ini pada teman-temanmu? Kau menghilang tanpa jejak, dan sekarang tiba-tiba pergi tanpa memberi alasan." Ucap Reno berjalan semakin dekat pada Alvi.


"Al... jika alasanmu pergi adalah Avril, aku harap kau berpikir ulang. Avril dan Aldi itu hanya masa lalu. Aku membela Avril bukan hanya karena dia temanku, tapi aku menyaksikan sendiri bagaimana dia menerima kehadiranmu. Dan aku juga menyaksikan bagaimana Aldi yang sudah mencintai Syifa. Jadi tak mungkin jika Aldi--"


"Aku tahu Ren. Aku sudah tahu. Tapi tak ada pilihan lain. Aku harus pergi." Alvi menyela sebelum Reno menyelesaikan bicaranya.


"Apa masalahmu Al? Mungkin kita bisa bantu." Ucap Bagas menimpali. Terdengar pemberitahuan bahwa sebentar lagi pesawat yang akan Alvi naiki akan berangkat.


"Maaf aku tak punya banyak waktu." Ucap Alvi kemudian berlalu tak menghiraukan panggilan Baren. Alvi tersenyum sambil terus berjalan.


"Aku harap ini hanya sebentar." Gumam Alvi.


Baren dan Ray berjalan beriringan keluar area bandara. Terlihat Galih bersandar didepan mobilnya menunggu Baren.


"Kak? Kau masih menunggu?" Tanya Bagas.


"Bawa mobil Avril." Galih melemparkan kunci mobil Avril pada Reno.


"Jika aku tahu mobil Avril akan dibawa Reno, aku tak akan membawa motor kak." Rajuk Bagas kemudian berjalan kearah moge kesayangannya.


Avril masih terdiam didalam mobil Galih. Kini dirinya benar-benar menutup diri kembali.

__ADS_1


Setiap malam, Avril selalu melakukan panggilan Video dengan Demira.


"Dem... kau sibuk?" Tanya Avril yang ragu karena perbedaan waktu mereka.


"Tidak. Aku baru selesai membantu mama memasak." Jawab Demira meletakkan ponselnya di tripod dan dirinya duduk di sofa.


"Dem... apa Alvi tinggal bersama kalian?" tanya Avril lagi. Semula Demira terdiam terlihat seolah tak mendengar pertanyaan Avril.


"Dem..." panggil Avril lagi.


"Eh.. apa Vil?"


"Ishh... kau tak mendengarku?"


"Maaf tadi mama memanggilku." Jawab Demira tersenyum kikuk. Demira tahu pertanyaan ini akan dilontarkan Avril, jadi ia hanya perlu menjawab sesuai yang dikatakan Alvi saja.


"Ayah memang menyuruhnya tinggal disini. Tapi... ya kau tahu dia keras kepala. Jadi...."


"Dia tak tinggal bersamamu ya?" Avril menyela dengan tatapan sayu.


"Eh Avil.. kau belum tidur? Disana sudah malam kan?" Tanya Demira mengalihkan pembicaraan.


"Aku belum mengantuk Dem."


"Ishhh Avil... harusnya jangan terus begadang. Kasihan tubuhmu"


"Aku masih banyak tugas Dem."


"Ahhh.... kau sudah sampai tahap mana Vil?"


"Aku baru seminar Dem. Belum penelitian, menyusun skripsi, lalu sidang. Hemmm rasanya aku ingin menyerah."


"Jangan seperti itu Avil... aku tahu kau pasti bisa. Semangat ya...." Avril tersenyum menanggapi Demira yang antusias.


"Dem... kau lihat hoodie ku tidak?" Teriak Alvi dari kamarnya. Demira sedikit terbelalak, apa lagi saat melihat ekspresi Avril yang seakan mengenali pemilik suara itu.


"Dem... itu Al--"


"Aihh kak Dami ini bagaimana? Jika tahu suka hilang, harusnya disimpan ditempat yang terlihat." Demira menyela lalu beranjak dan menghampiri Alvi yang kini berjalan mendekat kearahnya.


"Ap-- hmmmmmm" Demira membekap mulut Alvi saat Alvi hendak bicara.


"Avil.. maaf ya. kak Dami sangat menyebalkan"


"Dem... apa aku berhalusinasi?" Tanya Avril yang pasti terdengar oleh Alvi yang berada di belakang ponsel.


"Me-memangnya kenapa? Kau melihat mama Lidya?" Tanya Demira kemudian.


"Tidak Dem. Entah kenapa aku merasa suara kak Dami sama dengan Alvi. Semakin aku ingin berhenti memikirkannya, semakin jelas halusinasinya juga. Dem... mungkin ini memalukan, tapi aku sangat merindukannya Dem." Terlihat Avril menunduk di meja dan menopang kepalanya dengan tangan. Demira hanya membisu tak tahu harus menjawab apa. Demira menoleh dan menatap wajah Alvi yang sendu. Alvi berjalan sedikit jauh dari Demira hanya untuk melihat wajah Avril namun tak punya keberanian menampakkan dirinya pada Avril.


"Avil... hei... kau menangis?" Tanya Demira mendadak khawatir. Avril mendongak lalu melempar senyum sambil menyeka air matanya.


"Ahaha memalukan. Aku menangis karena merindukan seseorang selain mama."


"Avril..." lirih Demira. "Aku akan memukul kepala sepupuku itu karena telah membuatmu menangis." Lanjut Demira dengan wajah kesal. Alvi meraih kepalanya dan menatap sinis pada Demira. Namun Alvi tak bisa menahan senyumnya melihat Avril yang memikirkannya.


"Tunggu aku pulang sayang." Pesan yang sering ditulis di riwayat chatnya dengan Avril, namun tak sekalipun ada niat untuk mengirimnya. Alvi menggenggam ponselnya dan terus menatap poto yang Avril pasang yang tak diubah meskipun hubungan mereka terhitung sudah berpisah. Poto yang diambil saat pernikahan Galih, dengan Avril yang menggandeng tangannya dihiasi senyuman manis keduanya.


"Aku juga merindukanmu." Lirih Alvi kemudian melihat kembali ponsel Demira dan masih ada Avril disana. Namun terlihat Avril tertidur di meja belajarnya, poni yang kian memanjang kini menghalangi mata kirinya. Demira membiarkan panggilannya masih tersambung hanya untuk menemani Avril. Demira menoleh kearah Alvi yang menatapnya datar.


"Mau sampai kapan?" Tanya Demira dengan suara pelan.


"Sampai aku bisa menyetabilkan perusahaan ayahku." Jawab Alvi.


"Bagaimana dengan Avil? Kau tak takut dia menikah dengan orang lain?"


"Tak akan. Jika dia mencintaiku, dia pasti menungguku seperti dia menunggu Aldi dulu."


Waktu bergulir, Avril menjalani beberapa tahap-tahap akhir sebelum dirinya lulus dan resmi menjadi sarjana. Nadia yang tengah hamil kini tinggal dengan Avril. Terlebih Avril yang kesepian, ayah juga khawatir jika Galih dan Nadia hanya tinggal berdua saja. Meskipun keduanya sepakat.


"Bagaimana penelitianmu?" Tanya Nadia saat Avril baru pulang dengan langkah berat.


"Sungguh membuatku ingin menyerah kak." Jawab Avril menjatuhkan tubuhnya di sofa. Nadia ikut duduk di samping Avril dengan mengelus lembut perutnya.


"Hallo sayang.... kau sedang apa?" Avril ikut mengelus perut Nadia yang kian membesar.


"aku tak sabar kak ingin mengajaknya berlari."

__ADS_1


"Lari dari kenyataan?" Ejek Nadia membuat Avril menggembungkan pipinya.


"Tapi... perkiraannya kapan keponakanku ini lahir?"


"Kurang lebih 3 bulan lagi. Masih lama."


"Hemmmm jadi anak ini akan menjadi kado kelulusanku?"


"Itupun jika kau lulus."


"Kakak.... kau jahat. Aku harus lulus dan akan menjadi..."


"Menjadi apa?"


"Menjadi apa ya? Rasanya untuk mengikuti jejak ayah, pasti sangat membosankan."


"Ishhh kau ini. Kenapa tak merintis usaha sendiri saja?"


"Tapi aku ingin mendampingi Aldi kak."


"Kau mau menikah dengannya?" Tanya Nadia dengan wajah terkejut.


"Yaa jika tuhan menjodohkan ku dengan Aldi, kenapa tidak."


"Tapi Aldi kan sudah bertunangan dengan temanmu."


"Sudah batal kak."


"Dan kau akan merebutnya kembali? Bagaimana dengan Alvi?"


"Aduh.... bahan skripsi ku tertinggal di mobil Syifa. Kak bantu aku menyusun ya..." ucap Avril yang beranjak lalu pergi menuju kamarnya. Nadia hanya menghela nafas berat melihat Avril yang seakan ingin melupakan Alvi sepenuhnya.


Avril selalu mengajak Syifa untuk menyusun skripsinya bersama, entah itu di taman, cafe, ataupun tempat-tempat yang strategis untuk sekedar tenang. Sekarang mereka bertambah satu orang saat berkumpul bersama. Tak lain adalah Dea, pacar Reno.


Hari ini, Famela menemui Avril dan yang lain di taman.


"Hei Fam..." sapa Bagas.


"Kalian tak mengajakku?" Rajuk Famela duduk didekat Avril.


"Kau sibuk dengan kak Deyan." Jawab Bagas tak kalah merajuk.


"Ada apa sayang?" Tanya Aldi merangkul pundak Famela. Avril dan Syifa hanya saling lirik kemudian melirik sinis pada Aldi.


"Al... jangan menggodaku. Lihat 2 istrimu. Seperti ingin membunuhku saja." Ucap Famela membuat Aldi tertawa sambil melepaskan rangkulannya dari Famela.


"Aku kesini untuk memberikan ini pada kalian." Famela menyodorkan beberapa undangan pernikahannya. "Avril... kau ajak kak Al--"


"Bagas. Nanti kau jemput aku saja." Avril menyela dengan menatap harap pada Bagas. Famela sendiri tahu bahwa Avril tak akan datang bersama Alvi. Tatapan Avril menjadi datar ketika mendengar nama Alvi. Hubungannya dengan Aldi membaik, tapi malah renggang dengan Alvi.


"Yasudah... aku pergi..." ucap Famela dengan canggung dan kemudian beranjak hendak berlalu meninggalkan mereka.


"Jika kak Deyan dan Alvi memang berteman, bisakah kak Deyan membuat Alvi pulang?" Tanya Avril menghentikan langkah Famela. Famela berbalik mendapati Avril dengan menunduk dengan tatapan yang sayu.


"Avril..." lirih Famela. Avril mendongak dan tersenyum pada Famela.


"Sudah... katanya mau pergi." Ucap Avril kemudian.


"Kau mengusirku?" Famela menyernyit.


"Bukan... hanya menyuruhmu pergi saja." Jawab Avril tertawa kecil. Famela ikut tertawa melihat Avril yang kini bisa becanda meskipun hatinya tengah hancur. Aldi mengusap kasar wajah Avril yang masih memasang senyum palsu. Famela berlalu pergi meninggalkan sekelompok teman kecilnya itu.


"Aku benci senyuman palsumu." Ucap Aldi melirik sinis pada Avril.


"Kau ingin melihatku tersenyum?" Tanya Avril pada Aldi.


"Tentu saja." Jawab Aldi dengan menantang.


"Kalian menikah, maka aku akan tersenyum." 'Deg' kata-kata itu berhasil membuat Aldi dan Syifa mematung.


"Apa yang kau bicarakan?" Syifa menatap tajam pada Avril yang terlihat santai.


"Kenapa? Kalian tidak bisa?" Namun keduanya tak ada yang mau menjawab pertanyaan Avril.


"Kalau begitu, buat Alvi pulang, dan aku akan tersenyum dengan ikhlas." Lanjut Avril kini membuat semuanya terdiam.


"Tapi aku hanya ingin menikahimu." Ucap Aldi membuat semuanya menoleh bersamaan.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2