
. "Bahkan kau masih menangis untuknya." Gumam Alvi menatap kepergian Avril.
"Alvi... apa maksudmu? Mengapa kau bicara bahwa aku menginginkan kematianmu?" Tanya Aldi dengan kesal karena merasa Alvi keterlaluan bicara seperti itu didepan Avril.
"Kau tak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?" Alvi tersenyum sinis dengan lirikan tak kalah sinis.
"Pak Adam adalah dalang dari semua kejadian yang menimpa tuan Alvi." Timpal Ray menjelaskan meskipun Aldi terlihat tak percaya.
"Apa tak ada alasan lain? Kau pikir aku percaya?" Aldi sama tertawa dengan sinis.
"Sudahlah Aldi.. aku tahu kau mengetahuinya kan? Dan di hadapanku kau berpura-pura tidak tahu apa-apa agar aku tidak curiga."
"Alvi! Ayahku tak mungkin melakukan itu. Setiap saat dia selalu memujimu. Bahkan ayah lebih mengagungkan mu daripada aku yang sudah jelas anak kandungnya. Jadi jangan membuat cerita palsu." Ucap Aldi mendadak terlihat frustasi.
"Apa? Cerita palsu? Kau pikir aku tak punya saksi dan bukti?"
"Aku yakin itu semua palsu. Karena kau tak ingin aku dekat dengan Avril, sampai kau menggunakan cara ini kan?"
"Kau kira aku pengecut? Aku tidak sepertimu Aldi."
"Benarkah? Tidak sepertiku? Lalu apa artinya kematian kakakku? Kau menyia-nyiakan dia yang mencintaimu sejak lama. Alvi! Kau tak berbeda dariku. Kita sama-sama meninggalkan seseorang yang mencintai kita dengan tulus." Tangan Alvi mengepal mendengar ucapan yang terlontar dari Aldi. Fakta, namun Alvi tak bisa menerimanya.
"Jika saja aku tak berpikir dia berselingkuh denganmu, saat ini Avil masih bersamaku Alvi." Ucap Aldi dengan lantang.
'Bugh...' Alvi tak bisa menahan diri lagi. Aldi sempoyongan karena serangan dadakan dari Alvi. Namun Aldi hanya tertawa mengejek.
"Mengapa? Mengapa kau memukulku? Apa perkataanku benar?" Alvi menghela nafas panjang untuk sekedar menenangkan dirinya.
"Pulanglah Al. Selagi kesabaranku masih ada." Alvi beranjak hendak memasuki rumah.
"Kedatanganku kesini untuk membawa Avil pulang. Aku tak akan pergi dengan tangan kosong."
"Kubilang pergi. Aku tak akan menempatkan Avril dalam bahaya." Kini suara Alvi kian meninggi.
"Tuan... tenangkan diri anda." Ray menarik lengan Alvi yang hendak kembali akan menghajar Aldi.
"Justru aku kemari menjemput Avil karena tak ingin ada apa-apa."
"Aku tunangannya. Tak ada alasan untukku membahayakan Avril. Justru aku yang khawatir jika Avril terus berdekatan dengan keluargamu. Ibumu seolah ingin menganggapnya anak namun sebenarnya ingin mencelakainya kan? Ayahmu baik padaku bahkan seperti menganggap ku sebagai anaknya tapi nyatanya dia juga yang menginginkan kematianku."
'Bugh' kini Alvi yang terdorong karena pukulan Aldi yang tiba-tiba.
"Kau jangan memfitnah orang tuaku seperti itu sialan."
"Cih.. hahah fitnah? Setelah pelaku nya tertangkap dan dia mengaku bahwa ayahmu yang menyuruhnya, kau masih bilang aku fitnah? Jangankan kau yang sebagai anak kandungnya, Reno saja merasa tidak percaya. Ya apalagi dirimu."
Aldi berdecih mengepalkan tangannya dan akhirnya berlalu begitu saja dari rumah Alvi.
Aldi melajukan mobilnya menuju taman dimana dia selalu habiskan waktu disana saat sedang seperti ini. Dirinya masih belum mempercayai dengan apa yang dikatakan Alvi. Meskipun memang sebuah kebetulan sudah Aldi curigai. Yaitu saat ayahnya bilang ada urusan keluar kota, dan disaat itu pula kecelakaan yang menimpa Alvi terjadi.
. Alvi menyadari bahwa bahunya semakin sakit. Lukanya kembali terbuka.
"Luka anda...."
"Tak apa Ray... aku ingin bicara dulu dengan Avril." Alvi kemudian berlalu meninggalkan Ray. Alvi berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamar Avril. Terlihat Avril sedang memeluk bantal dengan bersandar. Alvi menghampiri Avril yang memalingkan wajahnya.
"Kau marah?" Tanya Alvi yang duduk didepan Avril.
"Menurutmu?"
"Harusnya aku yang marah kan? Kau bermesraan dengan Aldi di depanku. Padahal kau tahu kau sudah lama menjadi tunangan ku." Avril menghela nafas panjang mendengar Alvi merajuk. Saat ini Avril harus merasa tenang sebelum menjelaskan kejadiannya.
"Jika aku menjelaskannya, apa kau akan dengar?" Avril menatap Alvi dengan tajam. Namun Alvi hanya mengedikan bahunya dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.
"Alvi...serius." Avril melemparkan bantal di pangkuannya pada Alvi. Alvi hanya terkekeh melihat Avril yang kesal karenanya.
"Jadi?" Alvi masih memasang wajah tak percaya meskipun Avril menjelaskan semuanya.
"Kau salah faham." Ucap Avril kesal sendiri.
"Salah faham nya?"
"Aku dan Aldi tidak seperti yang kau lihat."
"Lalu? Apa seperti yang aku pikirkan? Kau berpelukan sampai terjatuh dilantai dirumahku saat aku tinggal sebentar. Dan mungkin saja saat aku tinggal satu bulan, kau bahkan akan mengajak Aldi sampai ke kamar. Begitu?"
"Alvi..... bukan begitu." Rengek Avril menggoyangkan lengan Alvi.
"Sudahlah Avril. Jadi apa maumu sekarang?"
"Maksudmu?"
"Kau masih mencintai Aldi kan? Dan kau tidak benar-benar mencintaiku."
"Mengapa kau selalu seperti itu Alvi. Jika aku tak mencintaimu, untuk apa aku menerima malaranmu?"
"Bisa saja untuk pelampiasan agar Aldi menjauhimu karena kau tak enak pada Syifa."
"Mengapa kau berpikir kesana? Aku tak ada niatan seperti itu." Avril semakin menyernyit ketika menyadari ada luka lebam di pipi atas Alvi.
Avril meraihnya membuat Alvi sedikit menghindari tangan Avril.
"Kalian berkelahi?"
"Tidak." Jawab Alvi singkat namun membuat Avril merasa kesal.
"Kenapa kau selalu memakai kekerasan? Lihat wajahmu. Bisa tidak sekali saja kau tak membuatku khawatir?" Avril beranjak memukul lengan Alvi.
Avril berlalu keluar kamar dengan terburu-buru.
"Kau yang khawatir tapi kau juga yang memukulku." Alvi menggeleng pelan sambil menghela nafas berat.
. Avril kembali memasuki kamar dengan kotak medis dan menghela nafas malas ketika melihat Alvi tengah terbaring dengan mata tertutup.
Avril duduk lalu menempelkan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat.
"Aw." Alvi membuka matanya dan meraih tangan Avril.
"Sakit?" Avril ikut meringis melihat lebam yang pastinya sangat sakit.
__ADS_1
"Lebih sakit melihatmu dengan Aldi." Avril terdiam, matanya berkaca-kaca lalu membenamkan wajahnya di dada Alvi yang masih terbaring.
"Harus bagaimana agar kau percaya aku tidak melakukan apa-apa dengan Aldi." Avril terisak semakin keras.
"Untuk siapa kau menangis?" Tanya Alvi meraih kepala Avril dan mengusapnya.
"Untuk orang bodoh yang tak mau mendengar penjelasan ku."
"Ya sudah... ceritakan. Aku akan mendengarkan."
"Janji kau tak akan menyela?"
"Iya janji."
"Aldi kesini karena ingin mengajakku pulang. Tapi aku tak mau."
"Kenapa?"
"Kau bilang aku tak boleh kemana-mana tanpa izinmu."
"Istri yang baik." Alvi tersenyum menepuk pelan kepala Avril.
"Dan kau suami yang jahat."
"Hah? Jahat dimana nya?"
"Kau pasti memukul Aldi kan tadi?"
"Kau mengkhawatirkannya?"
"Tentu saja. Dia temanku."
"Teman hati?"
"Kau janji tak akan menyela kan?"
"Iya iya maaf."
"Aku dan Aldi terjatuh karena Siska bilang ada kecoa. Aku melompat dan tak bisa menyeimbangkan tubuhku."
"Mengapa kau tak terjatuh dengan Siska saja?"
"Kau pikir aku yang mau terjatuh dan menentukan dengan siapa?"
"Bisa saja kan?"
"Sudahlah percuma aku menjelaskan."
"Mengapa kau yang marah? Kau yang berselingkuh."
"Aldi bukan selingkuhanku."
"Ohh iya aku lupa. Aku yang selingkuhanmu."
"Alvi..... kau mau aku benar-benar pergi?"
"Tak boleh." Alvi beranjak lalu memeluk Avril dengan erat.
"Aku hanya melihat kenyataannya."
"Kau hanya melihat yang kau lihat. Tapi tak percaya dengan kebenaran yang aku jelaskan."
"Semua akan percaya dengan bukti dan tindakan yang terlihat. Alasan bisa saja di rekayasa kan?"
"Jadi kau mau aku bertindak tanpa mengutarakan alasan? Jadi jangan menyalahkan ku jika aku pergi tanpa bicara." Ucap Avril masih dalam dekapan Alvi.
"Kau tega akan meninggalkanku?"
"Kau juga tega tak mempercayaiku."
"Iya iya aku percaya. Maaf." Avril memejamkan matanya yang terasa panas. Itulah alasan Avril luluh pada Alvi. Alvi selalu meminta maaf meskipun Avril yang salah.
"Aku yang salah. Maaf Alvi." Avril membuka matanya dan teringat bahwa lengan Alvi yang tadi ia pukul masih terluka.
"Alvi..." lirih Avril.
"Hmmmm"
"Lepaskan dulu..."
"Tidak mau..."
"Jangan memelukku terus. Nanti ibu salah faham."
"Biarkan saja. Kita bisa menikah dalam waktu cepat jika ibu salah faham."
"Ku bilang lepaskan." Geram Avril dengan aura dingin yang menyengat. Alvi perlahan melepaskan pelukannya. Avril kemudian beranjak dan berdiri tepat didepan Alvi.
"Mau apa?" Tanya Alvi melihat sorot mata menakutkan dari Avril.
"Buka jaketmu."
"Avril... k-kau..."
"Apa yang kau pikirkan sialan." Avril mendorong wajah Alvi.
"Lalu? Mau apa?" Alvi menarik Avril hingga wajahnya saling berdekatan.
"Kau pikir mau apa?"
"Tidur bersama." Bisik Alvi dengan senyum licik. Tak biasanya, Avril kini menanggapi dengan senyum licik juga. Dan 'plak'.
"Dasar mesum." Geram Avril mengepalkan tangannya tepat didepan wajah Alvi.
"Kau membuat wajahku jadi lebih babak belur Avril." Ucap Alvi seraya mengusap kasar pipinya yang kian memanas. Tamparan Avril benar-benar keras.
"Buka jaketmu sekarang!" Tegas Avril setengah berteriak.
"Iya iya. Dasar harimau datang bulan." Ucap Alvi pelan sedikit bergumam sambil membuka jaketnya.
__ADS_1
"Kau mengatakan sesuatu sayang?" Avril mendekatkan wajahnya dengan sorot mata yang tajam.
"Hehe tidak sayang tidak." Alvi mengecup bibir Avril lalu tersenyum dengan kikuk.
Avril terkejut saat melihat bahu Alvi kembali berdarah.
"Tak apa Avril. Aku--"
"Buka bajumu.!"
"Eh?"
"Cepat!"
"Tapi jika kau menginginkan lebih, aku tak keberatan." Alvi terkekeh sambil membuka bajunya.
"Alvi... jangan becanda terus. Lihat kondisimu." Avril kesal sendiri saat melihat beberapa perban ditubuh Alvi. Lengannya, bahunya, pinggang, hampir semua dihiasi kain kasa. Yang lebih menarik perhatian Avril, yaitu bahu Alvi yang sudah berdarah.
Avril dengan sigap membuka perban dengan hati-hati.
"Jangan bergerak." Alvi tertegun melihat wajah Avril yang serius menanganinya.
"Alvi..."
"Iya sayang."
"Jangan pernah memamerkan tubuhmu didepan orang-orang. Apa lagi didepan gadis-gadis." Ucap Avril dengan wajah sedikit memerah. Namun kini Avril mengesampingkan rasa malunya karena melihat kondisi Alvi.
Setelah perban terbuka, Avril lebih terkejut betapa parahnya luka Alvi. Jahitan yang masih basah, darah yang masih keluar, dan bisa ditebak rasa sakitnya. Avril menoleh pada Alvi seolah bertanya apa ini? Alvi hanya tersenyum menanggapi.
"Berhenti tersenyum. Mengapa kau bersikap seolah kau baik-baik saja." Avril menyeka air matanya yang lagi-lagi keluar tanpa izin.
"Sudah ku bilang ini tak ada apa-apanya. Aku akan merasa sakit jika melihatmu dengan pria lain."
Avril hanya terdiam kemudian meraih obat untuk luka, dan mengganti perban dibahu Alvi. Sesekali Avril mengusap pipinya karena air matanya.
"Jangan menangis." Ucap Alvi ikut mengusap pipi Avril.
"Bagaimana aku tak menangis? Lukamu sangat parah."
"Yang penting aku masih hidup kan?"
"Siapa yang tega mencelakaimu. Meskipun tampangmu menakutkan, tapi aku yakin kau bijak dalam bisnis."
"Sepertinya bukan masalah bisnis."
"lalu? Masalah apa?"
"Mungkin pribadi."
"Kau sudah tahu?"
"Adam." Mendengar jawaban Alvi, seketika tubuh Avril menjadi membeku. Mengapa nama yang dilontarkan Alvi sama dengan nama ayah Aldi.
"A-Adam mana Al?" Tanya Avril terbata dengan menepis pikiran bahwa itu benar-benar ayah Aldi.
"Jika aku jelaskan pun kau tak akan percaya." Avril menoleh dan menatap pada Alvi.
"Alvi..."
"Adam. Mantan calon mertuamu." Seketika kain yang sedang digulung pun terjatuh. Untung saja Avril sudah selesai mengganti perban Alvi.
. Avril ambruk masih tak percaya dengan kenyataan itu, dan berharap bahwa ini hanya mimpi.
Alvi ikut terduduk dilantai meraih Avril yang terisak keras dengan menutup wajahnya.
"Alvi kau bohong kan?"
"Apa penjelasanmu saat dengan Aldi, itu juga bohong?" Avril menggeleng kasar sambil terus terisak.
"Jika kau jujur, mengapa aku berbohong?" Lanjut Alvi mengusap kepala Avril lembut.
Dari pintu, terlihat Dina membawakan susu coklat untuk Avril. Dirinya mematung melihat Alvi dengan lembut menenangkan Avril yang tengah menangis. Namun Dina merasa heran kenapa Alvi melepas bajunya? Dina mengetuk pintu berharap agar Alvi menoleh kearahnya. Dan benar, Alvi melihat Dina dengan segelas susu ditangannya. Alvi memberi kode untuk meletakkannya di meja. Dina dengan cepat kembali keluar dari kamar dengan menyisakan rasa penasaran dibenaknya apa yang dilakukan Alvi dan Avril berdua dikamar dengan Alvi yang tidak memakai baju.
. Ray berjalan menghampiri Dina yang nenuruni tangga sambil melamun.
"Apa Nona sudah tidur?" Tanya Ray membuyarkan lamunan Dina.
"Belum tuan. Nona masih menangis." Jawab Dina dengan sopan.
"Apa tuan masih dikamar nona?" Dina mengangguk menanggapi.
Ray kemudian berjalan menaiki tangga dan menemui Alvi.
"Tuan."
"Apa Ray?"
"Saya ingin bicara Tuan."
"Baiklah. Kau tunggu di ruang kerja saja."
Ray mengangguk dan kemudian berlalu kembali ke ruang kerja Alvi.
"Sudah.. tidurlah. Atau mau aku temani?" Avril memukul dada Alvi dengan kesal.
"Aduh......" Alvi kemudian bersandar pada ranjang dan memejamkan matanya. Avril mendongak dan menepuk pipi Alvi.
"Aku memukulmu pelan, tidak menyebabkan pingsan juga." Namun Alvi enggan membuka matanya.
"Kalau kau mati, aku akan punya suami baru loh." Barulah Alvi membuka mata dan langsung menarik Avril pada dekapannya.
"Ohhh jadi kau senang jika aku mati?"
Avril mengecup bibir Alvi sambil tersenyum.
"Hehe aku becanda tuan."
"Kau becanda di situasi yang salah sayang." Avril semula menyernyit, namun langsung mengerti ketika melihat senyum licik Alvi saat menatapnya.
__ADS_1
"Ray.... tolong...." teriak Avril mencoba kabur.
-bersambung.