Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
26


__ADS_3

. Raka pergi dengan emosi, dan menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. Kemudian Sammy menarik Avril menjauh dari Aldi dan cs nya.


"Lepaskan kak. Aku tak ingin ini menjadi masalah lagi." Ucap Avril mencoba menarik tangannya.


"Masalah apa? Monic? Sudahlah aku tak ada apa-apa dengannya." jelas Sammy berhenti namun tidak melepaskan tangan Avril.


"Kak Sammy, lepaskan tanganku. Ini sakit." Avril sedikit meringis ketika tangan Sammy menggenggamnya sedikit kuat.


Dari arah yang saling berlawanan, Monic cs melihat Sammy dan Avril.


"Bukankah dia baru masuk kuliah lagi? Aku dengar dia tenggelam didanau." Ucap Nindy mencoba mengingat tentang gosip yang ia dengar.


"Baru masuk, sudah mencari masalah lagi." Decih Monic menyeringai.


Semakin dekat, Monic mulai mengerti bahwa Avril tidak mendekati Sammy. Melihat tangannya yang ditarik secara paksa, namun Sammy tak ingin melepaskan. Tapi tetap saja, rasa marahnya seakan hanya kepada Avril saja.


Samar-samar mulai terdengar suara Sammy dan Avril.


Sampai akhirnya Avril berteriak "lepaskan. Aku sudah bertunangan." Sontak membuat Monic terhenti, dan Sammy perlahan melepaskan genggamannya.


"Kau serius? Tidak ada bukti bahwa kau sudah bertunangan Avril." Ucap Sammy tersenyum puas ketika melihat tak ada cincin dijari Avril. "Apa kau mau mempermainkanku? Ayolah Avril, jangan beralasan bahwa kau sudah--"


"Kau tidak melihat ini?" Avril menunjukan cincin dikalungnya. "Apa ikatan pertunangan harus dengan cincin yang melingkar dijari manis saja?" Tanya Avril kini dengan wajah dan tatapan dingin, bahkan suhu disana pun terasa ikut dingin, yang membuat disekitarnya menjadi membeku.


Aldi yang mendengarnya berjalan mendekati Avril, lalu terdiam mematung.


Dan pada akhirnya, keduanya harus mengakui masing-masing dari jalannya, meskipun terkadang membutuhkan keberanian untuk melupakan masa lalu yang jelas masih akan terus dilihat setiap waktu. Memberikan ruang untuk orang baru, dan seakan menyingkirkan nama dan orang yang sangat dicintai pada masa tertentu. Masa indah saat sekolah menengah, kini terasa memudar dipandangan keduanya.


"Kau serius Avil? Apa karena aku mengakui bahwa Syifa adalah tunanganku" Gumam Aldi yang enggan membuka mulut untuk berbicara langsung.


Avril melirik Aldi yang memasang wajah tak percaya dan mengepalkan tangannya.


"Kita benar-benar berbeda jalan Aldi." Gumam Avril dengan wajah dingin namun sebenarnya genangan dikelopak matanya semakin menghalangi pandangannya. Avril berbalik kemudian berjalan cepat menuju kelasnya.


Sampai dikelas, Avril terduduk dengan pandangan dingin, dan suasana kelas seakan mencekam bagi kedua temannya, Baren. Reno sudah berada dikelas ketika Avril masuk, dan langsung menghampiri Avril begitu dia duduk.


"Avril... aku ingin memberikan kunci mobil padam-- hiiiiii" belum menyelesaikan bicara, Reno merasa ngeri dan seram melihat ekspresi Avril yang tiba-tiba sangat dingin.


"Kau kenapa lagi Avril? Apa Alvi berbuat sesuatu yang buruk padamu?" Avril hanya melirik pada Reno yang bertanya setengah berteriak padanya.


Reno meletakkan kunci mobil didekat tas Avril yang disimpan dimeja.


"Terimakasih tumpangannya" Reno memeluk kepala Avril yang jelas menginginkan sebuah sandaran.


"Aku tahu kau ingin menangis kan?"


Diam, diam, dan diam. Namun tak berapa lama, suara isakan dan senggukan terdengar dipinggang Reno. Reno mengelus kepala Avril dengan lembut.


"Kau selalu seperti ini Avril... aku tak mengerti lagi padamu. Didepan orang, kau bisa sedingin itu. Tapi didepanku dan Bagas, kau sama seperti anak kecil." Ucap Reno yang membuat Avril memukul pinggangnya.


"Aku becanda." Ucap Reno terkekeh.


Entah tangisan apa itu, bukankah alasan ini yang ditunggu Avril, Aldi yang mengakui keberadaan Syifa. Namun disisi lain, hatinya terasa teriris melihat Aldi dengan Syifa.


"Aku mengharapkan kebahagiaan Syifa dan Aldi, tapi aku sendiri yang merasa tak bahagia saat menghadapi kenyataannya." Ucap Avril disela isakannya.


"Hah? Aldi? Bukan Alvi?" Teriak Reno.


"Heh sialan! Apa yang sedang kau lakukan?" Bagas yang datang tiba-tiba dan menarik telinga Reno.


"Woyyy sakit." Reno mengusap kasar telinganya dan mendelik ketika Bagas duduk dibangku Syifa.


"Hei... tuan putri Revano? Kau menangis? Apa tuan Revano membuatmu sakit hati lagi?" Avril mengusap wajahnya dan melirik dengan tajam pada Bagas.


"Kau menakutkan Avril." Bagas bergidik ngeri memalingkan wajahnya, dan memutar tubuhnya.


"Kau pikir aku hantu?" Avril melemparkan buku didepannya.


"Hei itu buku penting." Bagas memungut buku tebal yang jatuh dibawahnya.


"Aku tidak peduli." Kembali Avril memalingkan wajahnya kesisi lain.


"Bahkan Aldi tidak mengejarku." gumam Avril menatap lekat pada pintu kelas yang terbuka.


"Bawa lagi mobilku." Ucap Avril menggeser kunci mobil seakan memberi isyarat pada Reno untuk mengambilnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa?" Reno menyernyit heran.


"Aku ingin dijemput Alvi." Jawab Avril tersenyum paksa.


Reno tak banyak bicara, hanya mengangguk untuk sekedar membuat Avril tenang.


Kemudian Avril merogoh tasnya mengambil ponsel, lalu mencari nama yang kendak dihubunginya.


Setelah menemukan, Avril menempelkan ponsel itu ditelinganya. 1 panggilan tidak terjawab, Avril menelpon lagi dengan sedikit kesal.


"Halo... Alvi. Dari mana kau?" Ucap Avril kesal ketika panggilan sudah terhubung.


"Nona ini saya Ray. Tuan sedang rapat nona. Tidak bisa diganggu. Apa yang ingin nona katakan, biar saya yang menyampaikan nona." Ucap Ray disebrang.


"Baiklah Ray... tak apa." Lirih Avril.


"Apa nona baik-baik saja? Jika nona masih sakit, lebih baik nona istirahat sampai pulih." Ucapan Ray seakan sangat mengkhawatirkan Avril.


"Kau mengkhawatirkanku?" Tanya Avril


"Tuan.... tuan sangat mengkhawatirkan nona" . Ucap Ray kemudian.


"Hemmm jadi kau tak mengkhawatirkanku?" Ejek Avril.


"Sa-saya juga mengkhawatirkan nona." Ucap Ray terbata sedikit memelankan suara.


"Bulan ini kau tak dapat gaji Ray." Sayup terdengar suara Alvi tak jauh dari Ray dengan tiba-tiba.


"T-tuan. Ka-kapan tuan dibelakang saya?" Kini suara terkejut Ray membuat Avril tertawa kecil.


"Aku menyuruhmu untuk memberitahunya aku sedang sibuk, bukan menggodanya Ray! Pantas saja hatiku tidak tenang saat memberikan ponselku"


"Eh?" Singkat namun membuat Ray berfikir sejenak.


"Kau pun sama Avril. Selalu menggoda Ray." Ucap Alvi tanda ponsel sudah berada ditanganya.


"Siapa? Aku tidak menggodanya." Ucap Avril mengelak.


"Issshhhh sudahlah. Katakan sayang! Mengapa kau menelponku dijam ini? Apa kau merindukanku?"


"Emmm jam 4 kan? Sebenarnya aku ada pertemuan dengan--"


"Ah... kau sesibuk itu. Tak apa Alvi... jangan memaksakan. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu." Ucap Avril menyela, jika alasannya sudah terucap seperti itu, untuk apa dirinya berharap lebih. Dan yang terpenting, Avril tak ingin mengganggu waktu Alvi.


"Jika seseorang sedang bicara, dengarkan dulu.! Jangan seenaknya menyela! Aku bisa menyempatkan menjemputmu. Tapi aku mungkin tak bisa menemanimu lebih lama." Ucap Alvi tak sedikitpun merasa kesal.


"Tidak Alvi. Sungguh, tak apa." Ucap Avril meyakinkan.


"Jangan bicara lagi. Aku akan menjemputmu jam 4 sore didepan gerbang seperti biasa. Dan maaf aku harus melanjutkan rapatku. Dan satu lagi..." Alvi menggantungkan ucapannya membuat Avril menyernyitkan dahinya. Apakah ada masalah jaringan diponselnya, atau memang Alvi tiba-tiba terdiam.


"Apa?" Tanya Avril penasaran.


"Aku mencintaimu. Ingat dan selalu ingat itu." Seketika membuat senyum tersimpul disudut bibir Avril. Avril terdiam membiarkan panggilan terputus oleh Alvi. Mood yang semula hancur, mendadak menjadi berbunga.


Avril menoleh bergantian pada Baren yang menatap konyol padanya.


"Ehemmmm" Avril kembali memasang wajah dingin didepan Baren yang jelas menyaksikannya Dari menangis sampai tertawa, dan kini kembali menjadi dingin lagi.


"Melihatmu sudah tidak waras, aku pastikan kau benar-benar sedang jatuh cinta Avril." Ucap Bagas memalingkan wajahnya lalu melamun seakan sedang berfikir keras.


"Aku setuju. Tadi, kau menangis dipelukanku, lalu tiba-tiba kau tertawa seperti tak terjadi apa-apa, dan sekarang kau mendadak dingin seperti es. Kupikir, saat kau tenggelam, kau benar-benar dirasuki hantu air." Ucap Reno dengan wajah kesal.


Namun Avril hanya melemparkan senyum paksa kemudian memasang kembali wajah datarnya.


. Diperusahaan D, Alvi mendelik pada Ray sesaat sebelum kembali memasuki ruang rapat.


"Apa ada sesuatu? Ini tidak biasanya. Rasanya ada yang aneh." Gumam Alvi mengingat Avril yang seperti tak biasanya. Tapi apapun itu, dirinya tak ingin terus berfikir buruk tentang Avril. Mungkin Avril sendiri tahu batasannya, ditambah sekarang keduanya sudah resmi bertunangan.


"Baiklah saatnya mengesampingkan Avril saat ini. Aku hanya perlu meluangkan waktuku sore nanti saja kan?" Gumam Alvi kembali duduk dikursi kebanggaannya sebagai orang yang menduduki jabatan tertinggi digedung itu.


Singkat saja, saat jam makan siang, Alvi bersandar dikursi ruangannya. Ray sendiri membawakan secangkir mocca dan diletakkan dimeja sofa.


"Ray... menurutmu, Avril benar-benar mencintaiku atau tidak?"


"Eh? Sa-saya...."

__ADS_1


"Jangan bilang tidak tahu Ray." Tegas Alvi membuka matanya.


"Yang saya lihat, sikap nona sudah mulai membuka hatinya untuk tuan." Jawab Ray tersenyum.


"Benarkah?" Avril beranjak lalu duduk disofa dan mulai menyesap mocca didepanya.


"Tapi, bukankah tuan sudah melamar nona? Mengapa tuan tidak memakai cincinnya?" Ray menatap heran boss besar kesayangannya itu.


"Aku memberikannya bersama dengan kalung itu Ray." Jawab Alvi kembali bersandar.


"Dan bagaimana dengan nona Amel? Dia benar-benar sakit. Dan kondisinya semakin memburuk." Tanya Ray dengan menjelaskan seolah Alvi harus menemani Amel saat ini.


"Aku tak berniat membuat Avril salah faham Ray. Dan aku juga tak tahu harus bicara apa padanya." Alvi mengusap kasar wajahnya.


"Saya rasa, nona Avril bisa mengerti jika tuan berbicara baik-baik."


"Kau seperti menyuruhku berpisah dengan Avril saja Ray."


"Ti-tidak tuan. Bukan begitu maksud saya."


"Terserahlah Ray. Yang pasti saat ini aku hanya ingin membuktikan pada Avril bahwa aku tak main-main."


"Apa perlu saya membuatkan cincin untuk tuan dengan nama nona?" Tawar Ray membuat Alvi menyernyit.


"Terserah kau saja Ray... apa saja yang membuat Avril tidak bersedih, lakukan sesukamu." Ucap Alvi santai dan Ray pun tersenyum lega.


--


. Setelah melewati hari yang melelahkan pikirannya, Alvi melirik jam yang melingkar ditangan kanannya.


"Masih satu jam lagi. Tak biasanya Avril memintaku untuk menjemputnya. Apa ada sesuatu? Tapi apapun itu, aku tak ingin membuat Avril menungguku saat dia selesai dengan kuliahnya." Ucap Alvi beranjak dari duduknya. Alvi berlalu keluar ruangan dan berhenti tepat didepan meja Ray.


"Ray, temui pak Yusuf dan minta dia untuk menghandle perusahaan saat aku tak ada." Ucap Alvi sebelum melanjutkan langkahnya.


"Baik tuan." Jawab Ray dengan sopan.


Alvi memasuki lift menuju parkiran, kemudian memasuki mobilnya dan melajukan dengan pelan berlalu meninggalkan gedung perusahaannya.


Kini Alvi melajukan mobil dengan santai, menikmati kemacetan mengiringinya. Sekaligus mengulur waktu untuk sampai dikampus.


Suasana hatinya masih terasa hambar. Tidak sedih, dan tidak senang. Kadang kedua perasaan itu bisa dirasakan bersamaan. Sedih, bahkan marah pada kenyataan bahwa Avril masih mencintai Aldi. Dan senang, karena usahanya untuk mendapatkan Avril kini telah terjawab manis. Meskipun Alvi sadar bahwa Avril hanya meminjam dirinya untuk melampiaskan kecemburuannya pada Aldi.


Namun, itu tak masalah bagi Alvi. Karena seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya Avrilpun akan mengakui keberadaannya. Dan Alvi tak tahu jika Avril sudah mulai mencintainya.


. Seperti biasa, Alvi menunggu Avril disebrang gerbang kampus dengan bersandar pada mobilnya dengan satu tangan disaku, dan tangan yang lain sibuk dengan ponselnya. Dan seperti biasa juga, semua mata gadis yang melihatnya, tak henti menatapnya. Siapa yang tidak tertarik pada lelaki dengan tampang yang rupawan, bos muda, meskipun dengan hanya memakai kemeja saja, daya tariknya bagai magnet yang menarik logam. Wajah dinginnya menjadi ciri khas seorang Alvian Revano. Tak bisa dipungkiri, pesonanya benar-benar membuat para gadis luluh seketika.


. Setengah jam lebih menunggu, akhirnya Avril muncul disebrang. Melihat Alvi yang masih fokus pada ponselnya, dan pandangan gadis-gadis masih tertuju padanya, Avril menggembungkan sedikit sebelah pipinya. Berjalan dengan pandangan kesal menyebrang jalan dan menghampiri Alvi yang mendongak dengan senyum manisnya ketika melihat Avril berdiri didepannya.


Tak disangka senyuman itu membuat semua para gadis berteriak histeris.


"Ohh tidak... aku diabetes." Begitulah teriakan para fans berat Alvian.


"Sudah lama?" Tanya Avril memaksa senyumnya meskipun masih terlihat sedang kesal.


"Senyummu menakutkan sayang." Alvi mengusap wajah Avril yang membuat para fans kembali histeris. Dan menjadikan hari ini sebagai hari patah hati nasional bagi para fans Alvian Revano yang dikenal sangat dingin pada perempuan, dan Avril berhasil meluluhkan dan menarik perhatian Alvi.


Avril melirik satu persatu kumpulan-kumpulan fans dari Alvi.


"Sepertinya kau menikmati suasananya tuan?" ucap Avril sinis.


"Dan sepertinya calon istriku ini sedang cemburu sayang." Goda Alvi kemudian mencubit pipi Avril.


"Tidak lucu Alvi." Avril merajuk kesal.


"Baiklah maafkan aku." Alvi beranjak membukakan pintu untuk Avril, dan kemudian dirinya memasuki mobil tepat dibelakang kemudi.


"Kenapa Ray tidak ikut?" Tanya Avril menatap Alvi yang mulai menyalakan mobil.


"Ada pekerjaan yang harus dia tangani." Jawab Alvi. Avril mengangguk dengan seakan mengatakan 'ohhh'.


. Disebrang, seseorang yang menyaksikan adegan romantis itu, terdiam diantara mahasiswa lain yang melewatinya. Tangannya mengepal menahan kekesalan dihatinya.


"Aku hargai keputusanmu Avil... aku yang meninggalkanmu, tapi justru aku yang tak rela melihatmu dengan yang lain." Ucap Aldi tersenyum paksa.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2