Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
08


__ADS_3

. Amel menatap lekat pada Alvi.


"Aku hanya menggandeng tanganmu Alvi? Apanya yang berlebihan?"


Alvi memalingkan wajahnya.


"Sampai kapan kau akan mengabaikanku seperti ini?" Tanya Amel yang berdiri di belakang Alvi.


"Maaf nona, tuan sedang sibuk. Silahkan anda kembali." Ucap Ray sopan.


"Kau mengusirku?" Amel menatap tajam pada Ray.


"Nona... hari ini jadwal tuan sangat padat. Beliau tidak akan sempat menemui anda meskipun anda menunggu seharian disini." Jelas Ray.


Amel menahan kesal, melirik Alvi yang tak mempedulikannya dari tadi.


"Baiklah. Aku mengerti." Amel berlalu kembali ke mobilnya. Setelah memastikan Amel tak terlihat, Ray mendekati Alvi yang mengepalkan tangannya menahan kesal.


"Tuan." Lirih Ray.


Alvi berjalan menuju ruangannya. Menutup pintu rapat-rapat seolah tak ingin ada orang yang mengganggunya.


Avril melirik jam ditangannya. Menghela nafas panjang dan melajukan mobil lebih cepat.


Sampai di parkiran kampus, Avril berjalan begitu santai melewati koridor-koridor vakultas lain.


"Avril." Panggil seseorang dari belakang. Avril menoleh, mendapati Sammy yang sedikit berlari mengejarnya.


"Ada yang bisa saya bantu kak?" Tanya Avril sopan. Sammy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Avril.


"Aku tidak sengaja melihatmu. Jadi, sekalian saja." Avril mengangguk pelan menanggapi Sammy.


"Apa kak Monic tak akan memarahi saya jika kak Sammy berjalan dengan saya.?" Sammy terdiam kemudian tertawa mendengar apa yang Avril tanyakan.


"Avril... Monic tak ada hak untuk memarahimu, dia bukan pacarku." Sammy melirik Avril dengan menahan tawa.


"Hmmmmm..." Avril menunduk. Dipikirannya kembali teringat pada Alvi, Avril semakin erat memeluk buku-buku di pelukannya. Entah ketakutan apa yang menyelimuti pikirannya.


"Ini perasaan yang sama seperti pada Aldi dulu. Takut kehilangan. Tapi aku tak mencintainya." Gumam Avril.


Sammy melirik heran ke arah Avril.


"Sepertinya kau sedang kesal. Apa ada sesuatu?" Tanya Sammy. Avril hanya tersenyum menanggapinya.


"Tidak ada." Sammy mengangguk meski tahu itu adalah senyum palsu.


Avril memasuki kelas, Bagas menghampiri Avril yang baru saja duduk di bangkunya.


"Sepertinya kau semakin dekat dengan kak Sammy?" Tanya Bagas menatap keluar.


"Tidak juga." Jawab Avril datar.


"Aku lebih setuju kau dengan Aldian, daripada dengan kak Sammy. Dia memanfaatkan wajahnya untuk menarik perhatian gadis-gadis." Ucap Bagas kesal. Entah kenapa kata 'memanfaatkan' terngiang begitu saja di kepala Avril.


Avril mengingat cerita tentang Alvi yang memanfaatkan keadaan untuk memikat gadis-gadis. Avril tersenyum menahan dagunya dengan tangan.


Bagas melirik dan terkejut heran. "K-kau tersenyum?"


"Hem? Apa? Tidak. Aku tidak tersenyum." Ucap Avril memalingkan wajahnya.


Lama, Avril dan Bagas saling diam, dan "brakkk" meja dipukul keras. Avril mendongak dengan santai. Melihat beberapa orang berdiri didepannya dengan tatapan kebencian. Bagas langsung berdiri ke samping Avril.


"Apa kau pengawalnya?" Tanya Nindi menatap Bagas.


"Siapa kau?" Mendadak tatapan Bagas begitu dingin.


"Kuperingatkan kau untuk tidak mendekati Sammy lagi." Tegas Monic menunjuk wajah Avril. Avril berdiri dan tersenyum ramah pada Monic.


"Bukankah kau menyaksikan sendiri, siapa yang mendekati siapa."


"Tak kusangka kau seberani ini Avril." Monic semakin dekat menghampiri Avril.


"Maaf kak. Tapi aku tak berniat membuat keributan." Ucap Avril kembali tersenyum.


"Plak" tamparan cukup keras mengenai pipi Avril membuat rambut Avril berantakan menutupi wajahnya.


Bagas mengepalkan tangannya, berjalan menghampiri Monic, namun Reno lebih gesit darinya. Ditariknya Monik keluar kelas, lalu dihempaskan dengan kasar. Monic sedikit terpental, dan geng nya berlarian menyusul Monic. Reno menatap Monic dengan tajam.


"Berapa lama kalian ingin di penjara? Aku bisa saja menghubungi ayahku sekarang, dan melaporkan kejahatan kalian."


"Jangan memanfaatkan kekuasaan ayahmu untuk mengancamku bocah." Monic tak kalah tajam menatap Reno.


"Apa? Memanfaatkan? Apa dengan bukti kau menampar Avril tidak memenuhi syarat? Coba kau pikirkan pakai ini." Reno menunjuk kepala Monic. "Kau lebih tua dariku, harusnya kau lebih mengerti." Lanjut Reno berbalik kembali ke dalam kelas.


Merasa dipermalukan, Monic bergegas pergi.


Di ujung koridor, Sammy dan kedua temannya menghalangi jalan Monic.


"Sammy.." Monic mendekati Sammy dan menggandeng tangannya. Namun Sammy menepis dengan kasar.


"Melihat teman Avril begitu marah sampai menyeretmu keluar, sepertinya kau baru saja membuat masalah." Ucap Sammy datar.


"T-tidak Sammy, ak-aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Monic gugup.


"Yaa sepertinya aku tak akan tahu jika tak melihat situasinya sendiri." Sammy melangkah dan melewati Monic yang terdiam mematung.


"Apa kau lebih peduli pada Avril?" Tanya Monic membuat Sammy terhenti dan menoleh.


"Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Sammy melanjutkan langkahnya meninggalkan Monic.


. Sampai di dalam kelas Avril, semua mahasiswa kelas itu sudah megerumuni Avril.


Mengetahui senior yang datang, sebagian mereka memberi jalan.


Sammy mendekati Avril dengan wajah bersalah.


"Avril.. apa Monic menyakitimu?.."


"Iya. Jelas dia menyakiti Avril. karena kau penyebabnya. Jika saja kau tak mendekati Avril, maka Monic tak akan melakukan ini pada Avril." Bagas memotong pembicaraan Sammy.

__ADS_1


"Sebaiknya kau jauhi Avril, dan jangan membuat Avril terseret kedalam masalahmu." Ucap Reno menimpali.


"Sudahlah Baren. Aku tak apa-apa." Ucap Avril tenang.


"Dan sebaiknya kakak-kakak segera kembali. Karena dosen kami akan segera datang." Tegas Avril tanpa menoleh.


"Kau marah?" Tanya Sammy lebih dekat ke wajah Avril. Namun Avril tak menghiraukannya dan tetap fokus pada buku di genggamannya.


Senior itupun pergi setelah tak mendapat respon dari Avril. Tak lama, dosenpun masuk dan terkejut mendapati mahasiswanya sedang berkumpul.


"Kalian sedang apa?" Tanya dosen seketika membuat semua berlarian kembali ke mejanya. Dosen memperhatikan Avril yang memalingkan pandangannya dengan santai dan menutupi pipinya dengan tangan.


"Avril. Kau baik-baik saja?" Avril melirik lalu mengangguk. Sudah biasa bagi para dosen mendapati sikap Avril yang dingin.


Setelah memastikan semua hadir, dosen menunjuk Avril.


"Presentasikan laporan tugas mu." Syifa menoleh panik.


"Aku baik-baik saja Syifa." Lirih Avril berjalan melewati Syifa.


Bagas menatap Avril, begitupun dengan Reno.


Seperti biasa, Avril tak terlihat gugup, atau gemetar. Presentasi tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemarahan Alvi dan Galih.


"Sial. Disaat presentasi pun Alvi selalu mengganggu." Gumam Avril memfokuskan otaknya pada presentasi.


"Hasyi..." Alvi menggosok hidung dengan jarinya.


"Apa pak Alvi sakit?" Tanya seorang karyawan wanita.


"Tidak. Aku baik-baik saja." Jawab Alvi dingin.


Karyawan itu hanya mengangguk pelan.


"Aku sedang meeting Avril. Kenapa kau selalu muncul di otakku?" Alvi menghela nafas berat.


"Dan untuk hasilnya,--------- Hasyi..." ditengah presentasi, Avril menutup wajahnya.


"Maaf." Ucapnya. Semua teman sekelasnya tak ada yang tak tertawa.


"Kau sakit?" Tanya pak dosen.


"Tidak pak." Jawab Avril santai, dan melanjutkan presentasinya.


. Alvi keluar dari ruang meeting. Diikuti Ray dibelakangnya.


"Ray... siapkan mobil." Ucap Alvi mempercepat langkahnya.


"Tapi.... sore ini ada pertemuan dengan perusahaan A." Ucap Ray. "Resmi tuan!" Lanjutnya menegaskan.


"Baiklah. Aku hanya ingin melihat keadaan Avril saja." Alvi melirik Ray malas.


"Tuannn... jika ada apa-apa dengan proyek ini, maka saya tidak ingin tanggung jawab." Tegas Ray.


"Saat serius, kau lebih menakutkan daripada aku Ray." Gumam Alvi merinding.


Ray menggelengkan kepalanya.


"Drrtttt" Avril menatap nama penelpon.


"Hmmmm" ucap Avril.


"Kau dimana?" Tanya Alvi.


"Aku di kampus." Jawab Avril.


"Maksudku kau ada dimana?" Geram Alvi.


"Aku di kampus Alviiii..." Bagas dan Reno menoleh seketika. Lalu saling tatap dan tersenyum. Avril merinding geli melihat tingkah laku temannya.


"Ayo Syifa. Aku tak tahan jika berlama-lama disini." Avril menarik tangan Syifa. Syifa hanya tertawa kecil menanggapi Avril.


"Pulang denganku." Ucap Alvi membuat Avril terhenti.


"Apa? Kau becanda? Aku bawa mobil sendiri. Dan aku apulang bersama teman-temanku." Jawab Avril terheran.


"Tak apa Avril. Hargai usahanya, entah kenapa aku setuju jika kau dengannya.." Ucap Reno yang muncul tiba-tiba.


"Tak perlu khawatir. Kita akan mengantar Syifa kerumahnya." Timpal Bagas.


"Mana kunci?" Keduanya mengulurkan tangan. Menatap kedua temannya itu, lalu Avril menjauhkan ponselnya.


"Aku malas bertemu dengannya." Ucap Avril.


"Aku tak apa Avril. Aku ada janji dengan dia." Syifa melemparkan senyuman paksa.


"Baiklah. Hati-hati." Berat hati Avril menatap kepergian Syifa.


Avril menghela nafas panjang sebelum menempelkan kembali ponselnya.


"Aku ikut denganmu." Ucap Avril pada Alvi yang sambungan telponnya masih tersambung.


"Baiklah. Jangan menungguku lebih lama." Tegas Alvi.


"Jika kau tidak mau menungguku lebih lama, mengapa kau menjemputku?" Ucap Avril kesal.


"Iya iya baiklah. Aku menunggumu." Geram Alvi.


Avril berlari menuju gerbang. Mendapati mobil Alvi yang terparkir disebrang. Melihat Avril yang berdiri disebrang jalan, Alvi keluar dan berdiri di samping pintu mobil.


Sammy melihat Avril yang hendak menyebrang.


"Mobilmu kemana Avril?" Tanya Sammy.


"Oh.. ada. Bagas dan Reno yang membawa." Jawab Avril melangkah menjauh dar Sammy.


"Kau akan menyebrang?" Tanya Sammy lagi. Avril hanya mengangguk.


"Biar aku bantu Avril. Berbahaya juga jika kau menyebrang sendirian." Ucap Sammy hendak meraih tangan Avril.

__ADS_1


"Tidak perlu. Dan terima kasih tawarannya. Aku yang akan menjaga Avril." Dengan cepat Alvi meraih tangan Avril.


"Kau? Bukankah kau di sebrang?" Avril menatap Alvi heran.


"Apa kau pikir aku akan diam saja melihatmu diganggu olehnya?" Alvi menarik tangan Avril menyebrangi jalan


Avril menunduk mengikuti langkah Alvi.


"Kau egois Alvi." Lirih Avril.


"Kau bicara sesuatu?" tanya Alvi membukakan pintu. Namun Avril hanya diam saja.


Alvi duduk di belakang kemudi. Menoleh, lalu menatap heran Avril yang terlihat murung.


"Apa kau baik-baik saja?" Alvi mendekat pada Avril. Avril masih diam.


"Avril... kau sudah mulai." Ucap Alvi menyalakan mobilnya.


"Kau egois Alvi." Lirih Avril.


"Apa?" Alvi menoleh heran pada Avril.


"Kau egois." Ucap Avril sedikit berteriak. "Kau tak mau ada yang mendekatiku, tapi kau sendiri begitu dekat dengan Amel. Apa itu adil?" Alvi menatap lekat wajah Avril.


"Kau kesal? Apa kau cemburu?" Tanya Alvi dengan senyum yang tersirat diwajahnya.


"Tidak. Aku tidak cemburu. Siapa kau? Kau sangat percaya diri bahwa aku akan cemburu padamu." Avril memalingkan wajahnya.


"Ayolah Avril. Lagi-lagi kau tak jujur padaku." Alvi melajukan mobilnya.


"Yaa... sepertinya memang kau masih mencintai Aldian. Dan kau benar, siapa aku? Aku sangat percaya diri bisa dicemburui olehmu." Ucap Alvi dengan santai.


Avril hanya terdiam. "Aku tidak mencintai Amel. Aku hanya...." ucapan Alvi terhenti, melirik Avril yang perlahan menoleh ke arahnya.


"Lupakan." Alvi memalingkan wajahnya.


Alvi membawa Avril ke perusahaan D. Avril meghela nafas berat setelah mobil diparkirkan.


Disaat yang bersamaan, Galih berdiri di depan Lobby kantor. Menoleh pada 2 orang yang berjalan ke arahnya.


Menatap lekat seorang gadis yang berjalan di belakang presdir perusahaan D.


"Kenapa kau membawa Avril?" Tanya Galih dengan santai menatap Alvi.


"Aku hanya merindukannya saja. Aku ingin lebih lama bersamanya." Jawab Alvi tak kalah santai.


"Tetap saja, saat kita rapat Avril akan kau tinggalkan di ruanganmu kan?" Galih menoleh pada Avril.


"Jangan khawatir. Ray akan menemaninya." Ucap Alvi menepuk pundak Galih.


"Ya... aku lebih mempercayai Ray daripada dirimu." Galih melirik tajam kearah Alvi.


"Terserah kau saja." Alvi mendelik mendahului Galih.


. Dilantai paling atas, Alvi terus menggenggam tangan Avril.


"Ehemmm. Uhuk uhuk." Sindir Galih.


"Lepaskan Alvi.." geram Avril berbisik pada Alvi.


"Tidak. Aku tak akan melepaskanmu." Ucap Alvi dengan tegas. Avril dan Galih bersamaan menghela nafas panjang.


Saat melihat seorang karyawan yang keluar dari ruangan, Avril menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Alvi.


"Alvi. Kau tak lupa pertemuan kita kan?" Galih menarik kerah bagian belakang kemeja Alvi.


"Iya kakak ipar. Aku tidak lupa." Alvi kembali mendelik.


"Seingatku Nadia tidak punya adik laki-laki." Ucap Galih datar.


"Mengapa harus kau yang jadi kakak Avril." Alvi berjalan menuju ruang pertemuan.


"Justru aku yang harus berbicara seperti itu. Mengapa kau yang terus menerus mengganggu Avril." Ucap Galih mengikuti.


"Ftffff" Galih dan Alvi menoleh pada Avril.


"Kau tertawa?" Tanya keduanya.


"Ehemm.. tidak. Aku hanya ingin bersin saja." Jawab Avril melirik ke arah lain.


"Baiklah. Tunggu aku, dan jangan kemana-mana." Ucap Galih mengusap kepala Avril.


"Kau kira aku anak kecil." Avril menggembungkan pipinya.


Alvi tersenyum melihat tingkah Avril. Avril menoleh pada Alvi, lalu mendelik dan pergi ke ruangan Alvi.


. Avril duduk di sofa dekat jendela. Menerawang jauh keluar, dan terkejut saat mendengar suara Ray di belakangnya.


"Apa nona ingin dibuatkan sesuatu?." Tanya Ray begitu sopan.


"Terimakasih Ray. Tapi nanti saja. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu." Ray menatap heran pada Avril.


"Apa yang ingin nona ketahui?" Tanya Ray.


"Apa hubungan antara Alvi dan Kak Amel?" Dengan santai Ray menjawab "tidak ada nona. Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Benarkah? Tapi kak Amel bilang...."


"Jangan salah faham nona. Amel memang menyukai tuan dari dulu, tapi tidak dengan tuan." Ray memotong ucapan Avril.


Avril hanya mengangguk pelan.


"Saya tidak berbohong nona, karena saya tidak berani. dan saya tahu kebenarannya." Jelas Ray.


"Baiklah Ray. Aku mengerti." Ray tersenyum menanggapi Avril.


"Tuan hanya mencintai nona saja." Gumam Ray.


"Ray. Apa kau tahu siapa yang Alvi sukai?" Tanya Avril tiba-tiba.

__ADS_1


"Tentu saja... Nona"


-bersambung


__ADS_2