
. Avril kembali menghampiri Alvi lalu membekap mulutnya.
"Kau benar-benar gila Alvi. Bagaimana jika ada yang dengar?" Bisik Avril dengan wajah yang panik. Alvi melepas tangan Avril dengan mudah.
"Mengapa kau begitu panik sayang?"
"Tapi--hmm.." tak ingin mendengar Avril terus mengoceh, Alvi berhasil membuat Avril diam.
"Diam juga kan." Ucap Alvi tersenyum puas.
"Aku diam karena kau menciumku tiba-tiba."
"Mau lagi?" Avril memukul Alvi dan tak sengaja mengenai lengannya yang terluka.
"Aw..."
"Alvi... maaf..... sakit?" Alvi mengangguk manja saat Avril meraih tangannya.
"Mau cium lagi." Rengek Alvi membuat Avril menjadi kesal lalu memukulnya keras.
"Makan tuh ciuman. Dasar mesum." Avril terus mengumpat sambil berlalu meninggalkan Alvi yang tertawa puas.
. Ray menunduk saat Alvi berada didepannya.
"Selamat pagi tuan." Sapa Ray tersenyum melihat mood tuannya kini bersahabat.
"Pagi juga Ray." Alvi membalas sapaan Ray dengan tersenyum juga.
"Nona baik-baik saja?" Ray mendadak khawatir melihat Avril yang terlihat moodnya tidak bersahabat.
"Tak apa Ray." Jawaban itu cukup membuat Ray mengerti bahwa tuannya sudah menjahili Avril.
"Tuan, saya akan menunggu di mobil." Ucap Ray kemudian berlalu keluar rumah.
"Ayo sarapan." Ajak Alvi yang di tanggapi anggukan oleh Avril.
"Kau kenapa lagi?" Namun Avril hanya terdiam. Sudah tahu Avril marah karena Alvi yang tiba-tiba menciumnya.
"Sudah... maafkan aku." Alvi merangkul pundak Avril yang masih kesal menuju ruang makan. Keduanya sarapan dalam keheningan. Diam Avril memang membuat sepi. Alvi beberapa kali menghela nafas berat dengan sikap Avril yang kuat mendiamkannya sampai seperti itu.
Alvi meletakkan alat makannya dan menunggu Avril selesai. Biasanya Avril selalu bertanya mengapa tak habis? Sudah selesai? Tapi kini Avril masih sanggup diam.
Yang sebenarnya dipikiran Avril adalah luka Alvi yang sempat ia pukul. Apakah kembali terbuka? Avril merasa sudah terlalu malu untuk bertanya dan meminta maaf. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya diam.
"Bodohnya aku... Alvi akan marah jika terus aku diamkan. Tapi mau bicara pun harus bicara apa?" Gumam Avril yang ikut meletakkan alat makannya.
Bu Rumi merasa aneh dengan sikap kedua anak ini. Tak biasanya mereka saling diam.
"Sudah?" Tanya Alvi yang lagi-lagi ditanggapi anggukan oleh Avril. Alvi beranjak dan diikuti Avril dari belakang.
Ray membukakan pintu mobil untuk Alvi dan Avril. Tak biasanya juga, Avril tak melemparkan senyum pada Ray. Rasanya hampa jika tanpa senyuman Avril pagi ini.
Ray melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
. Di ruang makan, Siska menghampiri bu Rumi dan Dina yang sedang membereskan meja makan.
"Bu.. aku merasa seperti di kutub utara." Ucap Siska merinding.
"Kenapa memang? Kamu demam?" Tanya Dina menyentuh dahi Siska. "Tidak panas juga. Kamu mau bolos kerja ya?" Lanjut Dina mengejek Siska.
"Tidak mbak... mbak Dina itu selalu saja berburuk sangka sama Siska." Ucap Siska sembari memanyunkan bibirnya.
"Terus? Kenapa bilang seperti di kutub utara?" Tanya Dina dengan wajah curiga.
"Siska perhatikan, nona dan tuan diam-diam seperti sedang perang batin mbak. Eh maksudnya perang dingin. Dua-duanya tak ada yang berbicara." Jawab Siska.
"Iya.. ibu juga merasa begitu." Timpal bu Rumi.
"Atau jangan-jangan karena kejadian semalam? Jadi tuan marah pada nona. Aaaa bu... ini salahku.. aku sudah bilang pada tuan juga, dan tuan sudah memaafkanku dan nona." Siska mendadak panik sendiri.
"Kejadian apa?" Tanya bu Rumi dan Dina serentak.
__ADS_1
"Pokonya seperti itulah.. aku merasa bersalah jika menjelaskan.."
"Tuan marah tidak?" Tanya Dina yang semakin dekat pada Siska.
"Untungnya tidak."
"Syukurlah. Kau masih beruntung."
. Sampai di area parkir, Avril sengaja pergi lebih dulu. Melihat situasinya, masih sebagian karyawan yang mengetahui statusnya.
Saat di loby, layaknya kebetulan, Avril terhenti dan memberi salam mengikuti karyawan lain saat Alvi lewat. Saat hendak kembali melangkah, suara seseorang menarik perhatian seisi loby.
"Wah... Alvi. Kau sudah kembali nak." Sapa Adam menghampiri Alvi.
"Mengapa kau meninggalkan calon istrimu? Apa kau tidak mengakuinya?" Lanjut Adam menaikan amarah Alvi. Lagi-lagi terdengar suara desas-desus siapa calon istri Alvi.
"Apa yang om inginkan?" Tanya Alvi dengan dingin.
"Ah.. aku membuat keributan. Apa karyawanmu tidak tahu siapa calon istrimu? Atau kau malu mengenalkannya? padahal dia anak Andre sang pemilik perusahaan A. Bila perlu aku yang menunjukannya pada karyawanmu."
"Tak perlu om. Aku bisa mengenalkannya sendiri. Alvi berjalan dan meraih pundak Avril.
"Ini calon istriku." Pengakuan Alvi sontak mengejutkan sebagian karyawannya.
"Aku tidak mengenalkannya karena permintaan gadis bodoh ini. Dia tak mau jika diperlakukan berbeda. Dia ingin dikenal sebagai anak magang biasa saja." Kemudian Alvi tersenyum dan menarik tangan Avril menuju lift.
"Maaf om. Aku sedang sibuk." Ucap Alvi sebelum berlalu dari hadapan Adam. Adam hanya tersenyum sinis menanggapinya.
"Aku tak enak hati pada om Adam Alvi." Lirih Avril saat berada di dalam lift.
"Jangan dekat-dekat dengan dia. Nanti kau dalam bahaya." Ucap Alvi yang menutupi rasa khawatirnya dengan sikap dinginnya.
"Tapi..."
"Jangan berpergian tanpa ijinku selagi ayah tak ada." Lanjut Alvi.
Avril memasuki ruangan dan disambut hangat oleh seluruh team Roby.
"Selamat datang Nona Revano." Ucap mereka serentak.
Memang diruangan itu Avril merasa sangat nyaman. Dan entah kenapa membuatnya rindu pada Dea dan Iqbal.
Saat jam istirahat, Avril keluar perusahaan untuk menemui Aldi. Aldi memberinya pesan agar Avril menemuinya di luar perusahaan Alvi.
Hampir setengah jam Avril menunggu, namun Aldi tak kunjung tiba. Hingga sebuah mobil van menghampirinya dan membawanya secara paksa. Avril berteriak pada security yang dilewati oleh mobil itu. Seolah menyadari bahwa Avril dari perusahaannya, langsung melapor pada atasannya di office divisi keamanan.
"Tuan." Teriak Ray membuka ruang meeting dengan lancang dan wajah panik. Bisa dipastikan bahwa Alvi baru memulai pembahasannya.
"Ada apa Ray? Aku sedang meeting." Alvi tak kalah panik.
"Nona tuan..."
"Kenapa Avril? Dia terjatuh? Atau ada yang mengganggunya lagi?"
"Bukan tuan..." dengan susah payah Ray menjelaskan ulang dari laporan divisi keamanan. Ciri-ciri yang disebutkan memang mirip Avril apa lagi dengan perban yang menempel di dahinya.
. Avril histeris melihat kondisi Aldi di dalam mobil. Dirinya ikut di ikat di kursi lain. Avril tak bisa mengenali orang-orang yang berada di dalam mobil karena memakai masker dan topi yang sama. Avril tak bisa berteriak lagi karena mulutnya di tutupi lakban. Rasanya ingin memukul Aldi agar dia bangun. Tapi apalah daya, tubuhnya pun terikat sangat kuat. Ponselnya mati karena di rusak oleh orang-orang itu. Avril menebak bahwa kini Alvi tengah sibuk meeting dan tak tahu bahwa dirinya di culik.
"Mustahil jika om Adam pelakunya. Jika benar om Adam, tak mungkin Aldi juga menjadi korban disini."
Terdengar salah seorang menyebut nama Andre dan memintanya untuk segera menemui mereka di jembatan Biru yang Avril ketahui sudah jarang di lalui kendaraan besar. Karena bangunannya yang sudah rapuh.
"A**yah..." jerit Avril meskipun dalam hati.
Avril teringat pada Reno, semoga saja Reno bisa membawa om Andara bersama ayahnya. Namun lagi-lagi diluar dugaan Avril, Reno berada satu mobil dengannya. Kondisi mereka sama, terikat dan di lakban. Yang berbeda, Reno terlihat babak belur tapi masih sadar dan seolah berbicara pada Avril lewat matanya. Pantas saja Avril tak menyadari adanya Reno di belakang, ternyata dua orang sekaligus yang membuat Reno diam.
"Bagas... Bagas...." kini di pikiran Avril hanya Bagas. Reno menyadari dengan arah pikiran Avril lalu Reno menggeleng dan mengangguk pelan. Seketika Avril menghela nafas lega. Meskipun mereka bertiga mati, setidaknya Bagas masih selamat.
Di ruang meeting, selepas mendengar laporan Ray, Alvi dengan berat hati menunda pembahasan proyek yang sangat penting baginya.
Alvi menghubungi Andara yang ternyata sudah kehilangan Reno dari tempat magangnya juga.
__ADS_1
Alvi semakin khawatir saat ponsel Avril tak bisa di hubungi. Sampai akhirnya Alvi mendapat panggilan dari Andre bahwa mereka membawa Avril ke jembatan Biru.
Tanpa pikir panjang, Alvi berlalu menuju jembatan Biru dengan Ray. Ray melajukan mobilnya dengan cepat.
. "Ray... lebih cepat lagi." Alvi mengusap wajahnya kasar dengan frustasi.
"Tuan.. ini sudah cepat. Bisa bahaya jika lebih cepat lagi."
"Tapi Avril dalam bahaya Ray."
"Saya tahu tuan. Tapi saya juga memikirkan keselamatan tuan." Entah keberanian yang datang dari mana, Ray meninggikan suaranya dengan nada dingin seolah menyuruh Alvi untuk diam.
Benar saja, Alvi terdiam dalam frustasi dan kekhawatirannya. Berkali-kali Alvi menghela nafas berat dan sesekali menyeka air matanya.
Ray mencengkram kemudi seakan tak bisa terima menyaksikan tuannya menangis. Meskipun alasannya adalah Avril, tetap saja Ray sesegera mungkin ingin memberi pelajaran siapapun yang membawa Avril.
. Mobil Van yang membawa Avril cs berhenti disamping mobil Fortuner sport berwarna hitam. Seseorang turun dan beralih masuk ke mobil Van. Mata Avril terbelalak melihat siapa yang berada dihadapannya. Dia duduk tepat didekat Aldi.
"Kenapa nak? Kau terkejut?" Tanya Adam tersenyum sinis. Avril lalu melirik pada Aldi yang masih tak sadarkan diri. Rasanya Avril ingin menendang kaki Aldi yang terjulur tak jauh darinya, namun karena kakinya di ikat juga, Avril tak bisa apa-apa. Ingin berteriak, tapi tak bisa.
Adam menyadari apa yang dipikirkan Avril.
"Untuk mencapai tujuan, bukankah kita harus memperalat orang terdekat kan?" Avril menggeleng tak habis pikir dengan Adam. Anaknya sendiri dibuat alat, dan tega membuatnya babak belur seperti itu.
"Setelah ini, kalian yang akan ku bunuh." Ucap Adam menatap tajam pada bawahannya.
"Maaf tuan." Ucap mereka serempak.
"Siapa yang mengizinkan kalian bicara?" Kini mereka terdiam dan menunduk ketakutan.
"Dan siapa yang mengizinkan kalian membuat putraku babak belur seperti ini? Hah?" Teriak Adam benar-benar membuat nyali mereka menciut.
"Maaf tuan... kami tidak akan melakukan kekerasan jika tuan muda tidak berontak dan berniat kabur ke rumah Andara." Jelas salah seorang yang meringkus Reno.
"Dan kau..." Adam menunjuk Reno yang menatapnya tajam. "Kau tak perlu khawatir. Yang mati disini hanya dia." Adam menunjuk Avril dengan tertawa sinis.
Reno semakin berontak mencoba melepaskan diri dari dua orang yang dengan keras menahannya. 'Duk' seketika Reno berhenti memberontak karena punggungnya di sikut dengan keras. Kini Avril yang berontak.
"Mengapa kalian berisik? Bukankah sebentar lagi orang tua kalian akan kesini? Bahkan membawa para anggota kepolisian untuk menangkapku, atau langsung menembak mati jantungku. Ahhh apa mereka akan sanggup seperti itu jika aku menjadikanmu sebagai perisai?" Adam meraih dagu Avril dan mencengkramnya penuh kebencian.
"Mendengarmu mengkhianati Aldi, aku sudah mulai membencimu. Dan sekarang, kau membuat putriku pergi. Sungguh aku benar-benar membencimu. Mengapa istriku begitu menyukai gadis sepertimu." Adam menghempaskan wajah Avril tak kalah keras.
"Sepertinya kau ingin bicara nak?" Adam melepaskan lakban dimulut Avril.
"Bicaralah. Aku tahu kau akan memakiku bukan?" Avril terdiam membuat Adam semakin geram.
"Jika om membenciku, atau menginginkan kematianku, harusnya om tak melibatkan Aldi dan Reno."
"Gadis licik yang suka berpura-pura. Aku muak melihat kebaikanmu yang palsu itu."
Samar terdengar sebuah sirine semakin dekat. Adam menoleh pada sumber suara yang datang dan tersenyum lebar.
"Berapa mobil yang mereka bawa? Lihatlah nak, ayahmu, kakakmu, dan calon suamimu sangat cekatan membawa bala bantuan untuk menyelamatkanmu." Avril merasa heran mengapa Adam begitu santai menghadapi situasi yang bisa dibilang membahayakan untuknya.
"Lepaskan dia." Ucap Adam memberi kode pada bawahan yang mengikat Avril.
Dilepaskan tali yang mengikat kaki Avril namun tidak tangannya. Rasanya sudah pegal tangan terikat ke belakang dan tak bisa bergerak. Adam turun diikuti Avril yang dibawa oleh bawahannya. Terlalu santai untuk seorang penculik yang tengah dikepung polisi.
Galih dan Alvi selangkah maju, namun terhenti saat bawahan Adam mendorong tubuh Avril pada pembatas jembatan. Avril melirik arus sungai yang tidak terlalu deras, tapi cukup membuatnya mengingat kejadian yang tak ingin ia ingat lagi.
"Apa aku akan berakhir tenggelam lagi?" Gumam Avril memejamkan matanya.
"Adam. Apa yang kau lakukan pada putriku? Apa salahnya?" Andre berteriak tak berani mendekat.
Adam tersenyum kemudian mencekal leher Avril hingga Avril kesakitan dan menahan batuk.
"Bagaimana rasanya ditinggalkan putri kesayanganmu? Kau pasti kesepian kan Andre? Apa lagi dia pergi dalam kondisi menyakitkan. Aku hanya ingin kau merasakan seperti apa yang aku rasakan sekarang. Putrimu dan Alvian bisa tertawa lepas setelah kematian Amel. Kau pikir aku tak sakit hati melihatnya?"
"Jadi karena itu om ingin membunuhku saat di London?" Tanya Alvi menerka-nerka.
"Kau bajingan yang tak melihat putriku sedikitpun. Hingga putriku mati mengenaskan. Jadi aku ingin melihatmu hancur saat calon istri kesayanganmu ini mati tenggelam." Cekalan Adam semakin kuat membuat Avril seakan kehabisan nafas.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba satu tembakan mengenai pinggang Adam yang membuat Avril terdorong. Alvi berlari hendak meraih Avril sebelum jatuh, Alvi terbelalak menyaksikan Avril semakin jauh kebawah. Dan 'brusss'. Setelah Avril, dua orang ikut terjun kedalam air.
-bersambung.