
. Damian terhenti, dan masih menatap Amel yang kini memalingkan wajahnya.
Amel memalingkan wajahnya ketika tahu Damian kini menghampirinya. Tanpa basa-basi, Damian menarik tangan Amel meskipun ditengah banyak orang.
"Damian..." namun Damian tak mempedulikan Amel yang beberapa kali memanggilnya. Bahkan dari Avril dan Demira yang dilewatinya.
"Kau tak seharusnya disini Amel." Ucap Damian terus menarik tangan Amel.
"Lalu? Menurutmu aku harus kemana saat temanku menikah?" Tanya Amel memaksakan menarik kasar tangan yang digenggam Damian. Keduanya terhenti dan Damian terlihat menahan kekesalannya.
"Jika kau tidak dirumah sakit, kau akan lama untuk sembuh. Atau mung--"
"Mungkin aku akan mati? Aku tidak peduli Damian. Aku sudah siap." Amel berhenti menarik paksa tangan yang digenggam Damian.
"Apa kau belum menyerah pada Alvi?" Damian yang bertanya dengan sedikit menunduk namun tak menoleh sedikitpun.
Mendengar Amel tak menjawab, Damian melangkah berlalu meninggalkannya begitu saja tanpa berbicara apapun.
Demira menghampiri Amel yang terdiam mematung menatap punggung Damian.
"Kak. Kau baik-baik saja?" Tanya Demira penuh kekhawatiran.
"Menurutmu? Apa aku masih baik-baik saja ketika dalam kondisiku yang sekarat aku menyaksikan langsung bagaimana orang yang aku cintai bahagia dengan orang lain?" Jawab Amel kemudian melirik pada Avril.
Begitu menyesakkan saat mendapati wajah Alvi yang begitu dingin. Tak ada ekspresi apapun, namun tangannya tetap menggenggam erat tangan Avril.
"Maaf Demi.. aku pulang sekarang. Dan Avril, sampaikan maafku pada Nadia." Avril mengangguk menanggapi Amel yang berbicara padanya namun sorot matanya masih tertuju pada Alvi. Sesak. Pasti sesak. Melihat gadis lain memandang calon suaminya sampai seperti itu. Avril tanpa sadar mempererat genggamannya pada Alvi.
Amel berlalu meninggalkan acara.
"Sampai matipun aku tak akan bisa membuka hatimu Alvi." Gumam Amel yang terus berjalan.
"Ray.. pastikan Amel sampai rumah dengan selamat." Ucap Alvi dengan nada dingin pada ponsel ditelinganya.
Avril menoleh heran, dia tidak menyadari Alvi mengambil ponsel dari saku jas nya.
Setidaknya ada rasa khawatir melihat kondisi Amel yang begitu lemah. Namun Alvi tak mungkin memperlihatkan wajah cemasnya di depan Avril, apalagi mencemaskan orang lain.
"Ah... Avril... i-ini milikmu." Ucap Reno tiba-tiba dengan menyodorkan tangannya yang masih membawa kalung milik Avril. Avril menatap kalung itu, lalu menoleh pada Alvi. Wajahnya memerah karena malu, berpikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Demira.
"Bodohnya aku. Kenapa aku tak tahu jika Alvi dan Demi bersaudara." Gumam Avril memijit dahinya.
"Maaf" lirih Avril membuat Demira tertawa.
"Sudahlah lupakan Avil... aku yang salah karena dulu tidak memperkenalkan kalian." Ucap Demira.
Tiba-tiba dering ponsel Demira berbunyi.
"Hallo kak." Ucapnya setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Sekarang? Emmm baiklah..." Demira menghela nafas panjang setelah panggilan telpon terputus.
"Kak Dami?" Tanya Avril memiringkan kepalanya. Demira mengangguk malas.
"Aku harus menjemput ayah dan ibuku sekarang Avil... maaf." Ucap Demira merasa tak enak hati.
"Apa kau akan pulang juga?" Tanya Avril pada Alvi yang menghela nafas berat.
"Aku tidak berniat meninggalkanmu sendiri nak!" Alvi menepuk kepala Avril pelan.
Demira berlalu pergi sambil menarik tangan Noah.
"Kenapa hatiku mendadak tak tenang. Ah... mungkin perasaanku saja." Gumam Avril.
"Ada apa?" Tanya Alvi.
"Tidak ada." Jawab Avril tersenyum.
"Yahh... tinggal aku saja yang sendiri. Kalian nikmati saja pestanya. Aku akan menjaga kalian dari media." Ucap Reno berlagak seperti ayahnya.
"Kau sudah semakin mirip dengan ayahmu nak." Alvi menepuk bahu Reno. Reno hanya menatap konyol pada Alvi.
Kemudian Avril kembali pada tempat Galih. Sedangkan Alvi menghampiri beberapa kenalannya yang juga temannya saat SMA.
"Hei pak presdir. Kebetulan kita bertemu." Sapa Deyan yang berjalan digandeng oleh Famela.
"Kau datang?" Tanya Alvi.
"Tentu saja. Nadia juga temanku." Jawab Deyan malas.
"Ahh aku lupa kau pernah satu SMA denganku."
"Sialan kau Alvi." Ucap Deyan berlalu menuju tempat Nadia.
"Segera lamar dia kak. Atau Aldi akan menikungmu lagi." Bisik Famela pada Alvi.
__ADS_1
Tanpa bicara, Alvi menunjukan tangannya yang terdapat cincin yang melingkar. Famela tak bisa menahan rasa senangnya. Dia tersenyum haru ketika berjalan menghampiri Avril...
"Kapan kau akan menyusul kak Galih?" Tanya Famela tanpa basa-basi.
"Apa maksudmu? Sudah jelas kalian yang lebih dulu daripada aku." Jawab Avril melirik Famela dan Deyan bergantian.
"Kenapa kau tidak memberitahuku." Rajuk Famela cukup membuat Avril keheranan tak mengerti.
"Memberitahu apa?"
"Kau dan kak Alvi sudah bertunangan kan?" Tanya Famela mencoba memastikan.
"Kau? Mengapa--"
"Mengapa aku tahu? Ayolah Avril... kak Alvi sudah memberitahuku. Jadi kapan kau akan mengumumkannya?"
Avril menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Famela.
"Aku belum siap. Jika kabar ini tersebar, aku belum siap dengan apa yang akan terjadi nantinya. Biarkan ini mengalir dulu seperti biasa." Famela mengangguk pelan menanggapi jawaban Avril.
"Aku mengerti. Memang sulit diposisimu Avril. Tapi aku harap kau akan lebih bahagia dari saat-saat kemarin. Aku berharap kau tidak kembali kefase dimana aku tidak mengenalimu."
"Terimakasih dan maaf Famela."
Disamping haru Avril dan Famela, tepat di perkumpulan Alvi.
"Alvi.. diantara kita, hanya kau yang tidak membawa pasangan. Bahkan sekarang pun, yang lain membawa pendamping, tapi kau masih sendiri. Dimana Amel?" Tanya salah satu temannya.
"Mengapa kau menanyakan Amel? Kau tak tahu? Alvi tidak berpacaran dengan Amel. Benarkan Alvi." Timpal yang lainnya.
"Tapi apa kau tidak berencana memacari adik ipar Nadia? Aku lihat kalian begitu dekat."
"Mengapa kau menanyakan Dia?" Tanya Alvi memasang wajah kesal pada temannya yang kini merangkul pundaknya.
"Alvi... lihatlah! Dia sangat manis, bagaikan putri yang diturunkan dari langit. Siapa yang tidak jatuh cinta padanya? Jika kau tidak mau, biar aku saja yang memacarinya." Mendengar ini, seketika tangan Alvi mengepal erat. Emosinya mendadak memuncak, namun ia tak bisa bertindak kasar diacara ini. Alvi mengatur nafasnya agar emosinya mereda.
"Jangan sembarangan bicara. Kau akan mendapat masalah dari 2 pimpinan perusahaan ternama jika kau berani menyentuhnya. Dan bisa jadi dari kepala kepolisian akan turun tangan untuk menanganimu. Dan jika kau babak belur, aku pastikan takan ada satupun dokter yang membantumu." Tegas Alvi dengan wajah tenang. Karena memang Alvi seakan punya kendali didunia bisnis dan bahkan bisa bekerjasama dengan siapa saja.
Temannya langsung melepaskan rangkulan dipundak Alvi, bicaranya tenang, namun terdengar menekan.
"Bicaramu menyeramkan Alvi." Ucapnya menoleh pada Avril. Dibenaknya bertanya-tanya, siapa satu pimpinan lagi yang akan bertindak jika dirinya mendekati Avril.
Alvi menyunggingkan senyum puas saat melihat wajah temannya yang perlahan menjadi panik.
"Aku becanda sobat. Silahkan saja jika kau mau mendekatinya. Itupun jika dia mau kau dekati. Aku hanya menyarankan agar kau sebaiknya mengurungkan niatmu. Karena Avril bukan type wanita yang mudah didekati, dan terlebih pada orang sepertimu. Jangan menyalahkanku jika kau diabaikan olehnya." Ucap Alvi menepuk-nepuk punggung temannya.
"Ahhh iya... aku lupa mengapa aku banyak berbicara seperti ini? Haha. Tapi apa kau tahu bagaimana rasanya jika wanitamu hendak diganggu oleh serangga yang tak tau diri?" Kini raut wajah Alvi lebih memperlihatkan sebuah penekanan. Wajah yang dingin dan menakutkan, membuat disekelilingnya merasa terintimidasi.
"Mungkinkah kau?" Alvi mengangkat kedua bahunya mendapati pertanyaan itu.
"Aha ha ha... Alvi.... tenangkan dirimu. Sebaiknya kita minum." Salah satu teman yang lain menghampiri lalu menyodorkan gelas yang berisi minuman beralkohol.
"Aku tidak minum."
"Benarkah? Bukankah kau pemabuk berat? Kita pernah bertemu di club beberapa bulan lalu kan? Kau bahkan menghabiskan berapa botol Alvi? Aku lupa." Ucapnya tenang dengan nada sindiran bahkan sedikit menantang dan seakan memancing emosi Alvi.
"Apa kau tidak ada kegiatan lain selain memancing kemarahanku?" Alvi diam-diam menghela nafas panjang dan terlihat seolah dirinya tenang-tenang saja. Ingin rasanya menghajar beberapa teman yang dianggapnya tidak tahu diri itu.
"Kau bisa marah? Aku pikir kau hanya bisa memasang wajah dingin saja." Ucapnya seakan menantang Alvi.
"Hei hei hei.... apa kalian akan bertengkar ditengah acara bahagia orang?" Satu teman mencoba melerai. Alasannya mungkin karena Alvi bisa melakukan apa saja jika memang keduanya terlibat masalah.
"Cih... kalian membuatku gila." Decih Alvi.
"Baiklah maafkan aku sobat."
Alvi hanya mendelik mendapati perkataan maaf dari temannya itu.
Kembali Alvi menatap tajam pada Avril yang tengah berbincang dengan ayahnya.
"Sudah kubilang. Dia akan menjadi pusat perhatian." Gumam Alvi seakan memancarkan aura kebencian pada kecantikan Avril.
"Ayah.... apa ayah merasa aura disini berubah?" Tanya Avril menyentuh pundaknya.
"Tidak... itu mungkin hanya perasaanmu saja. Mungkin karena banyak orang." Ucap ayah menenangkan.
Avril menoleh pada Alvi dibalik kerumunan teman-temannya.
Sorot mata Alvi yang tajam membuatnya seketika memalingkan wajahnya kembali.
"Apa-apaan tatapan itu? Apa dia ingin membunuhku?" Gumam Avril mencuri-curi melirik Alvi.
"Avril.. jika kau lelah, jangan memaksakan." Ucap Ayah yang khawatir melihat tingkah putrinya yang sedikit aneh.
"Ti-tidak ayah... aku baik-baik saja..." ucap Avril mencoba meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah... bertahanlah sebentar lagi." Avril mengangguk menanggapi.
"Ayah tidak menemui rekan kerja ayah?" Tanya Avril menatap lekat wajah ayahnya.
"Siapa yang mau berteman dengan seorang pemabuk seperti ayah?" Tanya ayah balik.
"Ayah tidak seperti itu. Mereka saja yang tak tahu yang sebenarnya."
"Entahlah nak. Entah mereka yang tak tahu, atau dirimu yang belum mengerti."
"Eh? Maksud ayah?"
"Tidak.... tidak ada maksud apa-apa"
"Ayaaahhh..." rajuk Avril menggembungkan pipinya.
"Aku penasaran, sejak kapan Demi dan Noah dekat? Apalagi sekarang berpacaran." Gumam Avril yang penuh tanya dikepalanya.
. Setelah acara hampir selesai, Avril sudah merasa tak nyaman.
"Kak. Bisakah aku pulang lebih dulu?" Bujuk Avril menatap harap pada Galih.
"Tunggulah sebentar lagi." Jawab Galih.
"Tak apa Avril... pulanglah. Lagipula acara akan selesai sebentar lagi." Ucap Nadia melemparkan sebuah senyuman.
"Benarkah?" Nadia menanggapi dengan mengangguk.
"Terimakasih..." Avril memeluk nadia dengan erat.
"Sudah.... jangan memeluk kakak iparmu seperti itu. Sana cepat pulang." Galih yang kesal mencoba memisahkan adiknya dari Nadia.
"Sampai padaku saja kau cemburu? Padahal nanti kau akan setiap hari dengannya." Rajuk Avril berlalu meninggalkan Galih.
. Sampai diluar gedung, Avril mendapati pesan bahwa Alvi tak bisa mengantarnya pulang. Karena tugas dan tanggung jawabnya belum selesai dalam acara ini. Dan Ray lah yang akan mengantarnya pulang. Avril hanya bisa menghela nafas dan memaklumi kesibukan Alvi. senyum simpul yang manis kembali terlihat diwajah menggemaskan Avril. Tak bisa ia pungkiri lagi, kini dirinya benar-benar menerima Alvian sepenuhnya.
Ketika berjalan hendak kemobil Ray, Avril terkejut ketika Damian berhenti didepannya.
"Ayo. Akan kuantar pulang." Ucap Damian
"Kakak tidak menjemput mama?"
"Ada Demi dan Noah. Aku mengkhawatirkanmu dik."
"Tapi kak. Aku pulang dengan Ray." Ujar Avril menolak dengan halus tawaran Damian.
"Ray?" Damian menyernyit heran.
"Iya... asisten Alvi." Ucap Avril dengan tersenyum. Namun hatinya tak bisa membohongi dirinya. Terasa ada sesuatu yang menyayat terus menerus hingga rasa perih itu timbul setiap kali dirinya mengingat Alvi. Ada apa? Mungkin pertanyaan itu yang terus muncul dibenak Avril.
"Kau jangan sembarangan bersama orang asing." Ucap Damian sedikit kesal.
"Sudah jelas kau yang orang asing disini." Gumam Avril masih melemparkan senyuman.
"Nona..." panggil Ray yang kini berada disamping Avril.
"Ah... Ray! Apa aku membuatmu menunggu.?" Tanya Avril cemas.
"Ayo nona. Tak baik jika terlalu lama mengobrol dengan orang asing."
"Eh?" Avril menyernyit merasa heran dengan situasinya sekarang. Ada apa dengan mereka?
"Dia bukan orang asing Ray..." bisik Avril.
"Saya tahu nona. Dia putra sulung dari Tuan Hendar, kakak dari Tuan Ahmad. Yang artinya Tuan Damian adalah keponakan dari Tuan Ahmad dan sepupu dari tuan muda Alvian." Jelas Ray dengan lantang namun wajahnya begitu dingin.
"Aku terkesan kau masih mengenalku."
"Maaf tuan. Sebaiknya anda menjauhi nona Avril... karena nona Avril sudah resmi--"
"Bertunangan dengan sepupuku? Lalu? Aku harus menuruti ucapanmu? Bahkan orang-orang tidak tahu tentang hubungan mereka kan? Apa salahnya jika aku ingin dekat dengan calon menantu keluarga besar 'D'. Meskipun itu calon istri dari Alvi. Dia tidak punya hak untuk melarangku dekat dengan Avril." Ucap Damian yang santai memotong ucapan Ray. Kini jantung Avril berdetak lebih keras dari biasanya. Bahkan jika gugup atau dekat dengan Alvi pun, tidak berdetak sampai seperti itu.
Ray dengan dingin menarik tangan Avril menjauh dari mobil Damian, seakan tak peduli dengan apa yang dibicarakannya.
"Maaf dik... tapi kau harus menjauhi Alvi." Lirih Damian menyandarkan kepalanya.
Ray melajukan mobilnya dengan Avril yang duduk disamping kursi kemudi.
"Ray... hatiku tak tenang." Ucap Avril dengan menghela nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya. Namun Ray tidak menjawab dan tidak bicara apapun sampai dirumah Avril.
"Saya sarankan agar nona tidak keluar rumah malam ini. Karena kemungkinan Tuan besar dan Tuan Alvian tidak akan pulang cepat." Ucap Ray memperingatkan.
"Baiklah Ray. Aku mengerti. Terimakasih sudah mengantarku."
. Avril memasuki rumah, lalu kekamarnya. Membersihkan diri, dan mulai memainkan ponselnya. Beberapa pesan teks tertera dilayar. Salah satunya dari Demira "Jauhi Alvi."
__ADS_1
-bersambung.