Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
70


__ADS_3

. Bagas memasuki mobil Aldi tanpa bicara.


"Jalan." Ucap Bagas tanpa menoleh. Aldi hanya menoleh sejenak kemudian mendelik lalu melajukan mobilnya.


"Kau mengikutiku?" Tanya Aldi dengan pelan.


"Tambah lagi kecepatannya." Bagas acuh tak menjawab pertanyaan Aldi.


"Aku bertanya padamu." Bentak Aldi melirik sesaat pada Bagas.


"Apa pedulimu hah?" Bagas tak kalah berteriak menoleh pada Aldi dengan sorot mata yang tajam penuh amarah.


"Apa yang kau pikirkan? Kau bilang mencintai Avil. Tapi kau sendiri yang membawanya dalam bahaya. Apa itu yang dinamakan mencintai? Kau sudah gila Aldi."


"Iya aku gila Gas. Aku gila karena Avil memilih Alvi, lalu kakakku pergi, dan ayahku juga. Mama depresi, dan aku.... argghhhh kau tak akan mengerti Bagas. Kalian punya keluarga yang utuh. Kalian punya tempat untuk pulang. Sedangkan aku? Avil yang dulu menjadi tempatku pulang disaat seperti ini, sekarang sudah memilih orang lain. Apa kau pikir semua itu tak membuatku gila?" Aldi menepikan mobilnya lalu terdiam.


"Kau bukan mencintai Avil. Tapi kau dendam padanya kan?" Aldi terdiam mendapati pertanyaan Bagas.


"Biar aku yang menyetir." Ucap Bagas lagi-lagi tak ditanggapi apapun.


"Al..." Bagas mulai berdecak kesal. Kemudian keduanya beralih menukar posisinya. Kini Bagas yang mengemudi.


"Aku tak ingin mati muda Al." Cetus Bagas kemudian kembali melajukan mobil dengan santai.


. "Avil..." panggil Reno.


"Kita ikuti Aldi Ren." Ucap Avril yang masih menenangkan dirinya.


"Mau apa?" Tanya Reno dengan ekspresi heran.


"Kita temani dia Ren. Dia pasti kesepian."


"Tapi Avil..." decak Reno kesal ketika menoleh pada Avril.


"Ren..." Avril tak kalah kesal menatap mata Reno.


"Setelah apa yang dia lakukan padamu, kau masih peduli padanya? Avil... hatimu terbuat dari apa? Aku heran mengapa kau selalu memperhatikan orang lain tapi dirimu sendiri tak kau pedulikan. Sekarang yang lebih butuh kehadiranmu itu Alvi, tunanganmu. Aldi hanya masa lalumu Avil."


"Lalu kenapa jika hanya masa lalu Ren? Apa aku tak boleh menjalin pertemanan dengannya?"


"Avil... sekuat apapun kau dan dia ingin saling melupakan, jika diantara kalian masih dengan terang-terangan menjalin kedekatan meskipun hanya teman. Aku tak menjamin kau akan benar-benar melupakannya Avil." Avril terdiam mendengar ocehan Reno.


"Aldi itu sudah ada Syifa. Jadi sia-sia saja jika kau ingin kembali dengannya."


"Kau pikir siapa yang ingin kembali Ren?" Avril menghela nafas berat sejenak. "Sudahlah. Antarkan aku pulang." Lanjut Avril menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.


. Sampai di pekarangan rumahnya, Avril berjalan pelan menuju teras. Terlihat Nadia keluar dengan Galih.


"Aih... kamu dengan Reno?" Avril menyernyit mendapati pertanyaan dari Nadia.


"Maksud kakak?" Avril menyernyit masih merasa heran.


"Kakak pikir kamu dengan Alvi. Dia baru keluar dari rumah sakit kan?" Nadia kembali melempar pertanyaan yang membuat Avril terdiam.


"Atau kau baru pulang? Rencananya sekarang kakak dan kak Nadia akan menyusulmu ke rumah Alvi." Lagi-lagi Avril terdiam.


"Kau bertengkar dengan Alvi?" Tanya Nadia pun tak ditanggapi oleh Avril.


"Aku belum bertemu dengannya kak." Lirih Avril.


"Kau itu kapan dewasanya? Apa-apa dibuat bertengkar." Galih menepuk kepala Avril dengan pelan.


"Aku tidak bertengkar kak."


"Lalu?" Nadia dan Galih saling pandang. Kemudian menatap pada Reno.


"Ehhh kenapa tatapan kalian seperti itu padaku?"


"Dari mana kalian?" Tanya Galih dengan tegas.


"Dari makam om Adam dan kak Amel." Jawab Reno polos.


"Apa adikku diikuti Amel? Mengapa dia diam saja?" Tanya Galih memiringkan kepala dan menatap pada Avril. Terlihat Avril mendadak gugup saat tatapan kakaknya mulai tajam.


"Katakan!" Ucap Galih masih menatap Avril.


"Apa?" Tanya Avril dengan bola mata yang terus menghindari tatapan Galih.


"Darimana kau?" Tanya Galih masih tegas.


"Aku dengan Baren dari makam." Jawab Avril berdecak kesal.


"Jujur."


"Aku sudah jujur." Avril sedikit meninggikan suaranya.


"Kau tak mungkin membentak kakak jika kau sedang tak menyembunyikan sesuatu."


"Dia pergi dengan Aldi kak." Timpal Reno. Avril menoleh pada Reno dengan menyernyit.


"Biarkan kakakmu tahu." Lanjut Reno melirik sesaat pada Avril.


"Ada apa Ren?" Tanya Galih dengan sedikit tenang.


"Wahhhh kakak bisa tenang juga?" Tanya Reno antusias.


"Apa maksudmu hah?" Galih kembali meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Yahhhh baru juga di puji. Singa nya sudah masuk lagi." Cetus Reno dengan nada pelan.


"Kau bilang sesuatu?"


"Ehehe tidak kak. Hanya becanda." Reno mengangkat kedua tangannya ketika Galih menatap tajam kearahnya.


"Apa yang Aldi lakukan?" Tanya Galih kemudian.


"Dia...." Reno melirik ragu kearah Avril yang memalingkan wajah darinya.


"Isshhh Ren...."


"I-iya kak.... aku menghela nafas dulu... ishhh istrinya yang ngidam, suaminya yang menyebalkan." Ucap Reno yang semakin pelan.


"Rennnnnnnnnn...." geram Galih lagi.


"Sudah.... yang penting Avril tak apa-apa kan?" Nadia mengusap lengan Galih mencoba menenangkan emosi Galih.


"Tapi anak ini mencurigakan." Galih kembali memasang wajah yang mengintimidasi Reno.


"Ya ampun kak. Apa wajahku seperti kriminal sampai kau selalu mencurigaiku?"


"Lebih dari kriminal."


"Wajah kakak saja lebih menakutkan dari pada hantu." Bisik Reno terlihat seperti bergumam.


"Apa yang kau katakan itu Ren?" Tanya Galih masih merasa waspada.


"Tidak kak tidak... sudahlah! Bukankah kalian akan ke rumah Alvi?"


"Iya... dan kau jangan ikut. Jauh-jauh dari adikku."


"Tidak. Aku takan ikut. Aku mau menyusul Bagas ke rumah Aldi." Mendengar itu, Avril sedikit tersentak lalu menoleh pada Reno. Takut-takut jika Reno kebablasan bicara tentang kejadian tadi. Reno hanya tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya pada Avril membuat Avril bergidik ngeri.


"Baguslah. Sana pergi." Usir Galih, Reno mendelik kemudian berjalan kembali menuju mobilnya.


"Sampai bertemu besok sayang..." ucap Reno melambaikan tangan pada Avril seraya tertawa kecil.


"Pergi... jangan menggoda adikku" Galih sedikit berteriak menatap tajam pada Reno. Reno berlalu meninggalkan kediaman Avril.


Sementara mereka bertiga pergi ke rumah Alvi. Kecurigaan Galih semakin dalam ketika memperhatikan Avril yang lebih banyak melamun. Kadang Avril terkejut sendiri ketika Nadia memanggilnya. Padahal suara Nadia begitu pelan.


. Sampai di rumah Alvi, Galih tak langsung kedalam bersama istri dan adiknya. Galih berjalan menuju taman yang berada di samping rumah Alvi.


"Selidiki apa yang terjadi pada adikku. Aku ingin kau melapor sore ini juga." Ucap Galih pada seseorang di seberang telpon. Tanpa menunggu jawaban, Galih memutus sambungan telponnya dan berlalu menyusul Nadia.


"Kupikir beruang kutub tidak ikut." Ucap Alvi dengan santai duduk di sofa.


"Wahhh seekor penguin terluka ternyata punya nyali pada beruang kutub yang sedang menahan marah ini." Balas Galih ikut duduk di sofa dengan berhadapan dengan Alvi.


"Apa salah jika aku ingin menjenguk adik iparku?" Galih balik bertanya dengan wajah angkuh.


"Ohhh kau menganggapku sebagai adik iparmu?" Alvi terkekeh kemudian memalingkan wajahnya. "Tapi adikmu tak menganggapku." Ucap Alvi pelan bahkan hampir tak terdengar.


"Tentu saja. Kalian akan menikah tahun ini kan?" Tanya Galih lagi seraya memastikan. Avril terbelalak menoleh kasar pada Galih.


"Kata siapa?" Tanya Avril tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Kau belum mengatakannya?" Galih beralih bertanya pada Alvi yang sangat santai.


"Adikmu sangat terkejut seperti itu Galih." Alvi kembali terkekeh lalu menatap dingin pada Avril. Avril terkejut mendapati tatapan Alvi yang tak biasa.


"Alvi..." panggil Avril.


"Hemmm" Alvi melemparkan senyum sekilas pada Avril lalu wajahnya kembali dingin.


"Kemana panggilan sayangnya?" Avril sedikit menggembungkan pipinya menatap tajam pada Alvi. Avril beranjak dengan kesal membuat Galih tersentak karena terkejut.


"Kau kenapa Avril? aku jadi curiga. Jangan-jangan kau benar-benar kerasukan arwah Amel." Cetus Galih dengan polos.


"Ish... jaga bicaramu." Nadia memukul lengan Galih seraya mendelik.


"Kau marah padaku kan?" Tanya Avril sedikit meninggikan suaranya dan tak mempedulikan ocehan kakaknya.


Alvi hanya tersenyum menanggapi lalu ikut beranjak kemudian menarik tangan Avril dan membawanya ke lantai atas.


"Mau kemana kau Alvi?" Tanya Galih dengan heran.


"Ke kamar lah... kemana lagi?" Avril terbelalak seraya menarik tangannya yang tak kunjung lepas di genggam Alvi.


"Ohhh kau cari mati?" Galih menyeringai kemudian kembali duduk dengan ditemani Ray sebagai pengganti Alvi.


Alvi melepaskan tangan Avril ketika berada di balkon milik ibunya.


"Al..." lirih Avril yang terdiam tak berani berbicara lebih jauh.


"Duduk." Ucap Alvi menepuk sofa disampingnya. Avril duduk ditempat yang ditunjukan Alvi. Alvi menyandarkan kepalanya pada bahu Avril seraya menghela nafas panjang beberapa kali.


"Apa aku berarti di hidupmu?" Tanya Alvi membuat Avril menyernyitkan dahinya.


"Kau ini bicara apa? Kau lebih dari berarti di hidupku Al." Jawab Avril tenang dengan senyuman yang menenangkan.


"Lalu kenapa kau masih dekat dengan Aldi?"


"Al.... kau cemburu?"


"Menurutmu bagaimana? Saat kau bilang akan pergi dengan Baren dan Aldi, lalu kau berpegangan tangan dengan Aldi, setelah itu kau pergi dengan Aldi." Alvi menghela nafas sejenak. "Dan saat kau melihatku dengan gadis lain, apa yang kau rasakan.?" Avril menunduk mendapati pertanyaan Alvi. Rasanya memang benar, dirinya pasti sangat cemburu jika melihat Alvi dengan gadis lain.

__ADS_1


"Jangan karena teman, kau mengabaikanku. Sabarku ada batasnya. Meskipun aku mencintaimu, tapi jika kau tak bisa menjaga jarak dengan teman lelakimu, aku bisa saja pergi tanpa pamit padamu." Avril menoleh pada Alvi yang enggan beranjak dan terus bersandar.


"Maaf..." lirih Avril meraih pipi Alvi.


"Aku maafkan. Tapi mungkin ini yang terakhir. Jika aku melihatmu dengan pria lain lagi, aku akan benar-benar pergi."


"Alvi... jangan berbicara seperti itu. Aku semakin merasa bersalah. Kumohon maafkan aku." Rengek Avril membuat Alvi mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajah datarnya. Kemudian Alvi meraih kedua lengan Avril dan tatapannya berubah menjadi sendu nan hangat.


"Kau mau menikah denganku?" Tanya Alvi menatap harap pada Avril seraya menggenggam kuat kedua tangan Avril.


"Al.. aku..."


"Masih kuliah?" Avril mengangguk menanggapi.


"Ya sudah jika kau tak siap. Lupakan lamaranku yang barusan." Alvi memalingkan wajahnya dengan rasa kecewa yang teramat dalam.


"Aku... tak siap jika kau pergi. Jadi aku mau." Alvi kemudian kembali menoleh pada Avril yang memasang senyuman kearahnya.


Alvi tersenyum penuh bahagia lalu memeluk Avril dengan erat. Air matanya berderai begitu saja. Alvi mengecup kening Avril dengan seraya memejamkan matanya yang tak henti-henti menitikan air mata.


"Terima kasih sayang." Ucap Alvi tak bisa menahan tangis dan senyumnya yang datang bersamaan.


"Kau menangis?" Ejek Avril yang tertawa kecil.


"Aku tidak menangis."


"Lalu itu apa?"


"Ini keluar tanpa ijin. Aku bahagia Avril..."


"Sudah Alvi... mengapa kau terus menangis?"


"Kau tahu Avril? Andai saja mama dan papaku melihatku menikah, mungkin kebahagiaanku akan sempurna."


"Al... sudah... papa, mama Maya, dan mama Lidya juga pasti melihat kita bahagia. Aku juga rindu mama." Avril ikut terisak didepan Alvi dengan menutup wajahnya. Alvi mendekap Avril pada pelukannya dan menenangkan meskipun dirinya masih ingin menangis.


Galih dan Nadia yang melihat keduanya dari jauh merasa ingin ikut menangis.


"Jangan ikut menangis." Bisik Nadia


"Aku merindukan mama Nad." Jawab Galih pun berbisik.


"Temuilah mereka." Ucap Nadia. Galih dengan langkah berat, melangkah menemui Alvi dan Avril.


Alvi melepaskan pelukannya dari Avril saat menyadari ada sebuah tangan yang menepuk bahunya.


"Kenapa kalian menangis?" Tanya Galih dengan wajah angkuh.


"Kau sendiri juga menangis sialan." Alvi mendelik seraya mengusap wajahnya yang berantakan.


"Sudah pacarannya?" Tanya Galih memangku tangan dengan wajah dingin.


"Belum. Baru pemanasan. Kau malah mengganggu." Decih Alvi kemudian mendorong Galih agar kembali memasuki rumah.


"Dasar beruang kutub pengganggu."


"Ehhh bicara apa kau?" Galih berbalik hendak kembali menyusul Alvi.


"Tidak tidak... sudah huss pergi kau. Aku mau pacaran dengan Avril." Ucap Alvi menutup pintu balkon.


"Sialan kau." Galih tak henti-henti memaki Alvi dari dalam.


"Sudah.... mengapa kau malah mengganggu mereka."


"Bukankah kau yang menyuruhku kesana?" Nadia menggeleng dan menghela nafas berat menghadapi Galih yang polos ini.


"Tapi untuk menenangkan mereka. Bukan mengganggu sayaannggg..." Nadia geram sendiri melihat sang suami yang menggemaskan.


"Wajahmu menyeramkan sayang.." Galih terkekeh mengusap wajah Nadia.


Tiba-tiba ponsel Galih berbunyi mengejutkan keduanya.


"Bagaimana?" Tanya Galih ketika menggeser tombol di layarnya.


"Nona dengan temannya, putra dari mendiang pak Adam ugal-ugalan dijalan tuan. Dan beberapa kali sempat hampir tabrakan dengan beberapa mobil." Jawab bawahan Galih. Seketika wajah Galih berubah menjadi garang, tatapannya tajam, dan aura menyeramkannya mulai mengerikan. Galih menutup panggilan kemudian berlalu meninggalkan rumah Alvi.


"Tapi Avril..." Nadia terhenti seketika saat melihat sorot mata Galih yang tajam menahan amarah.


Ray mengantarkan Galih sampai teras rumah, dan menatap datar kepergian Galih dari kediaman rumah Alvi.


Avril menyadari bahwa Galih meninggalkannya, sehingga dirinya beranjak dari dan hendak meninggalkan Alvi.


"Mau kemana?" Alvi menarik tangan Avril yang terlihat panik.


"Kakakku pergi Al..."


"Lalu kenapa? Bukankah sudah biasa kau disini tanpa kakakmu?"


"I-iya.. tapi, aku merasa tak tenang sekarang Al..."


"Biar Ray yang mengurus. Kau tenang saja." Avril kembali duduk dengan rasa khawatir dibenaknya.


Galih menemui Aldi dengan angkuh dan mengintimidasi Aldi.


"Jauhi Avril, atau aku hancurkan perusahaanmu."


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2