Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
17


__ADS_3

. Alvi menghampiri Avril dan berjongkok didepan Avril.


"Aku tidak apa-apa Alvi. Sudahlah." Ucap Avril menepis tangan Alvi.


"Pakaianmu kotor." Alvi mendelik.


"Ma-maafkan saya. Sa-saya benar-benar tidak sengaja." Ucap Dina menunduk.


"Tak apa..." Avril tersenyum meyakinkan.


"Nona... saya benar-benar minta maaf." Ucap Dina menatap harap pada Avril.


"Sudahlah... sebelum aku pulang, aku ingin kekamar mandi." Avril beranjak dan melangkah menuju kamar mandi.


. Alvi menatap Avril yang berlalu meninggalkan ruang makan.


"Kau sedang memikirkan apa Dina?" Alvi kembali duduk dan menatap tajam pada Dina.


"Tidak tuan... sa-saya...." Dina menghela nafas sejenak.


"Apa kau terkejut karena Alvi memilih Avril?" Tanya Noah tiba-tiba. Dina tercengang, Alvi lalu menoleh pada Noah.


"Apa maksudmu?" Alvi menyernyitkan dahinya. "Tentu saja aku hanya memilih Avril. Tidak ada yang bisa menjadi pendampingku selain Avril." Tegas Alvi.


"Sebesar itukah cintamu?" Noah membalas tatapan Alvi. Alvi hanya mendelik dari pandangan Noah.


"Baiklah semua sudah jelas. Kau begitu mencintai Avril, dan seharusnya tak ada seorangpun yang meragukan cintamu dan keputusanmu memilih Avril." Ucap Noah dengan nada sindiran.


Avril keluar dari kamar mandi, dan kembali menghampiri meja makan namun hanya berdiri.


"Alvi karena sudah tahu keadaanmu, tidak salahnya aku pulang sekarang" ucap Avril memberi senyuman untuk membujuk Alvi.


"Apa karena kejadian ini?" Alvi menatap tajam pada Avril.


"Tidak Alvi, aku memang ingin pulang saja. Ayah juga sedang sakit, aku khawatir pada ayah." Ucap Avril.


"Benarkah? Kau tidak sedang mencari alasan untuk menghindariku?"


"Alvi... aku serius."


"Baiklah. Aku antar kau pulang." Ucap Alvi beranjak.


"Jangan becanda Alvi." Ucap Noah ikut beranjak. "Kondisimu masih belum pulih sepenuhnya. Jika terus memaksakan, tidak akan ada yang menjamin keselamatanmu. Karena kau bisa saja pingsan tiba-tiba." Jelas Noah dengan nada kesal.


"Aku sudah sembuh dokter...." Alvi mendelik.


"Tidak Alvi. Aku tidak akan membiarkan usahaku sia-sia." Noah memalingkan wajahnya.


"Noah benar Alvi. Sebaiknya kau istirahat dan pulihkan kondisimu." Ucap Avril menatap Alvi.


Alvi mengacak rambutnya. "Ahhh sial... aku masih merindukanmu Avril." Avril hanya tersenyum menanggapi sikap Alvi.


Avril berjalan keluar, lalu memasuki mobil dan berlalu meninggalkan rumah Alvi.


Dina yang mengantar kepergian Avril terus menatap mobil Avril yang semakin menjauh.


. Alvi memasuki ruang kerjanya.


"Noah apa menurutmu Avril bebar-benar menerimaku?" Tanya Alvi menyandarkan kepalanya.


"Entah. Aku tidak tahu." Jawab Noah.


"Aku serius Noah..." Alvi menatap tajam pada Noah.


"Aku juga ingin bertanya padamu. Apa kau benar-benar mencintai Avril?"


"Pertanyaan apa itu Noah? Sudah kubilang, aku sangat mencintai Avril."


"Tapi Aldianpun masih mencintai Avril."


"Lalu? Apa aku harus mengalah? Tidak Noah. Kali ini aku tidak ingin kehilangan Avril lagi."


"Itu egois Alvi. Bagaimana jika--"


"Aku tidak peduli Noah. Dan aku memang egois. Aku tidak ingin Avril menjadi milik orang lain." Tegas Alvi memejamkan matanya.


. Sampai dirumah, Avril berlari memasuki rumah dan menemui ayah diruang kerjanya.


"Ayah sudah baikan?" Tanya Avril duduk disofa.


"Sudah." Jawab ayah terfokus pada sebuah buku.


"Padahal minggu depan kak Galih menikah, kesehatan ayah harusnya dijaga. Jangan telat makan, tidur jangan terlalu malam, dan jangan terlalu kecapean." Ucap Avril menatap layar ponselnya.


"Semakin lama, kau persis seperti ibumu. Dia sangat banyak bicara jika ayah sakit." Ucap Ayah menoleh pada Avril.


"Ayah jangan seperti itu. Jika tiba-tiba ibu bangun dan menemui ayah karena ayah membicarakannya, ayah akan ketakutan?" Ejek Avril.


"Hahhhh kau benar-benar seperti ibumu."


"Karena aku anak ibu." Jawab Avril santai.


"Jadi, bagaimana dengan Alvi?" Tanya ayah tiba-tiba.


"Dia sudah baikan karena Noah setiap hari bersamanya." Jawab Avril.


"Emmmm ayah. Bisakah kau menceritakan tentang Alvi padaku?" Ucap Avril ragu.


"Mengapa kau begitu penasaran? Setelah menikah kau akan tahu semuanya." Jawab ayah tetap fokus pada bukunya.


"Ayahhh..... aku tidak becanda...." Avril menggembungkan pipinya.


"Kau sudah dewasa Avril... mengapa menggembungkan pipi menjadi kebiasaanmu jika kau kesal."


"Ini tidak bisa dihilangkan ayah...."


Ayah hanya menggeleng menanggapi Avril.

__ADS_1


"Ayahh... bagaimana pertemuan ayah dan ibu dulu?" Ayah terdiam tak menjawab.


"Ayaaaahhhhh...."


"Apa?" Ayah menoleh pada Avril.


"Aku bertanya pada ayah." Avril kembali menggembungkan pipinya.


"Apa yang kau tanyakan?."


"Ahhhh ayah tidak mendengarku. Sudahlah lupakan." Avril beranjak dan berlalu keluar ruangan.


"Ahh sial. Aku lupa bajuku kotor." Avril menepuk dahinya sambil terus berlari menaiki tangga lalu memasuki kamarnya. Avril kembali mengingat wajah Dina yang lebih murung dari sebelumnya. Dan memikirkan kembali keputusannya untuk menerima Alvi.


"Apa aku tidak salah dalam mengambil keputusan?" Lirih Avril.


. Setelah mengganti baju, Avril duduk di ujung kasurnya lalu memainkan ponselnya.


Sebuah pesan tertera dilayar. Avril mencoba melihat bio nomor baru itu, dan terkejut mendapati nama Amel.


"Temui aku didanau besok sore." Begitu isi pesan yang dikirim oleh Amel.


"Apa maumu?" Balas Avril.


"Besok kau pun akan tahu sendiri."


"Sial." Avril meletakkan kembali ponselnya.


"Aku bisa menemuinya besok sore." Gumam Avril dalam hati.


. Sesampainya dikampus, Avril berlari kecil menuju kelas.


Karena tidak fokus, Avril menabrak punggung Aldi yang tiba-tiba berhenti didepannya. Aldi berbalik dan mendapati Avril yang menutupi hidungnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aldi khawatir.


"Begitulahh.... justru punggungmu. Apa baik-baik saja? Aku menabraknya cukup keras." Ucap Avril mengusap pelan hidung dan dahinya.


"Aku tak apa. Aku mengkhawatirkanmu." Aldi meraih kedua lengan Avril. Terlihat Avril sangat tidak nyaman dan sedikit mendorong Aldi untuk menjauh darinya.


"Aldi. Jaga sikapmu. Syifa akan salah faham jika melihat kita seperti ini." Avril memalingkan wajahnya.


"Ahh maafkan aku." Aldi menggaruk kepalanya.


Baren kemudian menghampiri Aldi dan Avril yang tengah berbincang.


"Kalian sedang kencan?" Tanya Bagas merangkul pundak Avril. Aldi menatap tajam pada tangan Bagas.


"Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak suka? Kau ingin memukulku?" Ucap Bagas menantang Aldi.


"Apa yang kau lakukan Bagas?" Reno melepaskan tangan Bagas dari pundak Avril.


"Kau juga sama saja." Bagas melirik tajam pada Reno.


"Iya Bagas. Aku tidak suka melihatmu seperti itu pada Avril." Ucap Aldi membuat Avril dan Baren menoleh padanya.


"Apanya yang lucu?" Aldi menatap tajam kedua temannya itu.


"Aku sangat suka melihat ekspresimu yang seperti itu Aldi. Mengingatkanku pada 6 tahun silam. Kau masih ingat?" Reno menepuk-nepuk punggung Aldi.


"Ahhhh aku ingat!" Ucap Bagas antusias.


"Bukankah saat itu juga kau dan Avril hendak menuju kelas, berjalan berdua menyusuri koridor, lalu Bagas tiba-tiba datang dan merangkul pundak Avril. Dan--" ucapan Reno terhenti.


"Dan Aldi menatapku seperti yang baru saja dia lakukan. Ahahahah" Bagas melanjutkan penjelasan Reno.


Avrilpun ikut tertawa kecil mengingat kejadian itu.


"Bukankah ada Demira saat itu?" Tanya Avril kembali mengingat.


"Ahh kau benar Avril.." ucap Reno.


"Aku merindukannya" ucap Bagas menerawang menatap langit.


"Benar juga. Bukankah kalian juga berpacaran?" Aldi menatap Bagas dengan nada ejekan.


"Jangan mengingatkanku Aldi. Cintaku kandas saat dia pindah." Bagas menghela nafas berat.


"Aku turut berduka cita" Reno mengusap pundak Bagas.


"Tidak ada yang mati sialan." Bagas menatap kesal pada Reno.


"Bukankah hatimu?"


"Tidak. Hatiku baik-baik saja."


"Benarkah?"


"Iya. Untuk apa aku berbohong."


"Tapi aku tak percaya."


Avril dan Aldi hanya tertawa mengikuti langkah Baren di depan mereka.


"Nostalgia ya?" Aldi masih menatap Baren yang sedang bertengkar. Avril hanya tersenyum paksa menanggapi pertanyaan Aldi.


"Aku merindukan masa-masa itu." Ucap Aldi.


Reno menoleh dan berhenti, membuat Aldi dan Avrilpun ikut berhenti.


"Aku ingin kembali pada masa itu." Ucap Reno menatap Aldi. Aldi hanya terdiam menatap balik pada Reno.


"Aku juga." Jawab Avril tiba-tiba membuat Aldi menoleh padanya.


Aldi masih tak percaya dan pikirannya masih menyimpan pertanyaan yang sama. Apakah Avril masih mencintainya atau tidak.


Reno dan Bagas terus membahas masa lalu pertemanan mereka. Sesekali Avril menepuk lengan Aldi, serasa suasana itu masih saat mereka SMP. Kenangan itu membuatnya merasa kembali ke masa-masa itu. Dan tanpa ragu Aldi merangkul pundak Avril sama seperti saat mereka bersama dulu.

__ADS_1


Berjalan beriringan, dipenuhi canda tawa. Dan Aldipun kini merasa lega ketika melihat senyum dan tawa Avril yang lama menghilang.


Dari jauh, Syifa semakin erat memeluk buku dipangkuannya.


Meski dijodohkan, dan meski terpaksa untuk menjalin ikatan, namun jika melihat pemandangan seperti ini, hatinya merasa teriris. Dan jika tidak mengingat bahwa Avril adalah temannya, dan posisi sebenarnya adalah dirinyalah orang ketiga dalam hubungan Avril dan Aldi yang sudah terjalin lama, mungkin kini hatinya akan lebih hancur.


Entah Syifa harus senang atau terluka ketika melihat Avril dan Aldi yang tertawa lepas seperti tak ada masalah apapun pada hubungan mereka. Avril sangat jarang, bahkan tak pernah lagi tertawa dengan bahagia seperti sekarang.


Kini Syifa menyadari, bahwa Avril yang sebenarnya bukan saat bersamanya, yang selalu memasang tatapan dingin dan terkadang wajah tanpa ekspresi, tapi yang saat ini sedang disaksikannya. Avril yang sesungguhnya, yang ceria dan murah senyum. Hanya saja itu semua terlihat sebelum Aldi pergi dan meninggalkannya selama 5 tahun.


Senyum itu akan hilang ketika Avril mulai menyadari kenyataannya. Kenyataan bahwa Aldi bukan miliknya lagi.


--


. Alvi kembali menjalani rutinitasnya sebagai pimpinan tertinggi diperusahaannya. Ray menyerahkan semua laporan yang belum Alvi tandatangani.


"Apa kau mau membunuhku Ray? Aku baru sembuh." Ucap Alvi menatap tajam Ray.


"Heheh tapi itu laporan dan beberapa proposal yang harus anda periksa tuan." Ucap Ray sedikit lemas.


"Kau kelelahan?" Tanya Alvi.


"Sedikit tuan." Jawab Ray tersenyum.


"Istirahatlah Ray. Jangan memaksakan." Alvi membuka satu persatu berkas didepannya.


"Tapi tuan...."


"Jangan khawatirkan aku. Aku sudah sembuh." Jelas Alvi meyakinkan. "Wajahmu pucat. Aku tidak berniat mencari penggantimu." Tegas Alvi.


"Ba-baik tuan. Sebelumnya, terimakasih atas pengertian tuan."


"Harusnya aku yang berterimakasih padamu Ray. Kau banyak direpotkan olehku. Maafkan aku."


"Tidak tuan... tuan tidak merepotkan. Sudah menjadi tanggungjawab saya menjalankan perintah tuan."


"Terimakasih Ray. Sejak awal aku sudah merasa kau orang yang bisa aku percaya." Ray tersenyum lalu berbalik membuka pintu.


"Aku memberimu cuti satu minggu Ray." Ray berbalik dan terbelalak. "Te-terimakasih tuan." Ucap Ray terbata.


Ray berlalu dan menutup pintu.


"Kebaikan apa yang sudah aku lakukan Tuhan? Mengapa kau memberiku majikan yang begitu baik dan berhati lapang sepertinya." Gumam Ray terus berjalan menuju lift.


. Sesuai janji, Avril bergegas merapikan buku-bukunya.


"Avril aku ingin bicara sebentar." Ucap Syifa menarik lembut tangan Avril.


"Maaf Syifa. Tapi lain kali saja. Untuk sekarang aku sedang ada urusan mendesak. Maafkan aku." Ucap Avril merasa bersalah.


Syifa hanya tersenyum dan diam melihat Avril berlalu dengan terburu-buru.


Syifa berjalan keluar, dan mendapati Aldi yang sedang berbincang dengan Avril. Melihat keduanya terlihat bahagia, Syifa semakin yakin jika Avril dan Aldi masih saling mencintai.


Sudah lama Syifa melepas cincin pertunangannya, namun tak ada yang menyadarinya.


Syifa berlalu ke jalur yang lain.


-beberapa saat yang lalu-


. Sebelum Syifa keluar, dan melihat Avril dan Aldi berbincang, Avril kembali menabrak Aldi. Entah kenapa keduanya tertawa dan kembali menceritakan saat-saat dulu.


Namun kini Avril sudah terbiasa dengan pertemuannya dengan Aldi. Dadanya tidak sesak lagi, dan hatinya lebih tenang sekarang.


"Kau mau ke kelasku? Kebetulan Syifa masih didalam." Ucap Avril.


"Kau mau kemana? Sepertinya terburu-buru." Tanya Aldi sedikit curiga.


"Aku ada urusan." Avril melirikan matanya ke arah lain. Aldi hanya mengangguk seakan mengerti apa yang Avril maksud. Dan sebenarnya Aldi tahu bahwa Avril sedang menyembunyikan sesuatu.


"Firasatku buruk. Seperti akan terjadi sesuatu pada Avril." Gumam Aldi menatap Avril.


"Aku duluan Aldi... jaga Syifa baik-baik." Avril berlari kecil meninggalkan Aldi.


Aldi melihat Syifa yang berlalu jauh diujung jalan.


"Apa dia melihatku dengan Avril?" Aldi berlari cepat mengejar Syifa.


"Mengapa kau pergi begitu saja?" Tanya Aldi terengah.


"Mengapa kau kesini? Bukankah Avril..." Syifa menoleh kembali pada arah kelasnya.


"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak merencanakan sesuatu dengan Avril." Ucap Aldi dan Syifa hanya terdiam heran.


"Tapi aku merasa ada sesuatu pada Avril. Sebelum pulang, bisakah kau menemaniku mengikuti kemana Avril?entah kenapa aku sangat khawatir." Syifa hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Aldi. Karena Syifa pun merasa bahwa yang dikatakan Aldi itu sama persis dengan yang dirasakannya.


. Aldi mengikuti Avril sampai didanau dan heran ketika melihat Amel juga ada disana.


"Apa yang dilakukan kak Amel?"


"Apa ada sesuatu diantara mereka?" Tanya Syifa pada Aldi.


"Sepertinya tentang Alvi." Jawab Aldi menatap jauh pada Avril yang menghampiri Amel ditepi danau.


. "Kau datang Avril?"


"Bukankah kau memintaku untuk datang?" Avril menerawang jauh kepermukaan air.


"Kau tidak curiga ini sebuah jebakan?" Amel menoleh pada Avril.


"Aku sudah mengenal kakak. Tidak mungkin kakak menjebakku."


"Benarkah? Kau mengenalku? Jika kau mengenalku, mengapa kau masih mendekati Alvi?


Avril terkejut seketika menoleh dan menatap Amel.


"Aku bisa membuat Aldi kembali padamu, tapi dengan ganti, kau berhenti mendekati Alvi."

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2