
. Avril menyentuh dan menutupi pipinya yang mulai terasa panas.
"Apa yang kau lakukan Amel." Bentak Alvi lalu menghampiri, dan meraih wajah Avril. Avril menepis tangan Alvi.
"Hmppphh... jangan naif Avril. Didepanku, seakan kau menolak Alvi. tapi dibelakangku, kau nyaman-nyaman saja berpelukan dengan Alvi. Apa kau masih tidak tahu? Alvi itu milik--"
"Aku bukan milikmu. Camkan dan ingat itu. Aku sudah muak mendengar bahwa aku adalah milikmu Amel." Ucap Alvi begitu dingin.
"Alvi... kau..." lirih Amel. Amel menatap tajam pada Avril. "Aku benar-benar tidak menyangka Avril. Ternyata kau wanita murahan." Ucap Amel penuh emosi.
Dibandingkan tamparan tadi, mungkin lebih menyakitkan kata-kata ini. Avril tersentak, dan berlari keluar ruangan.
"Avril..." Alvi mengikuti dan terus memanggil Avril.
Namun karena Avril kalah kecepatan, Alvi berhasil meraih tangan Avril.
"Lepaskan Alvi. Aku tak ingin bertemu denganmu lagi." Berderai sudah air mata Avril. "Jangan pernah menemuiku lagi Alvi." Lanjut Avril menghempaskan tangan Alvi kasar.
"Avril" namun Avril dengan cepat menutup pintu lift.
Alvi kemudian sibuk mencari lift yang kosong, namun tidak ditemukan.
Tanpa pikir panjang Alvi berniat lewat tangga darurat, tapi baru beberapa langkah lift berdenting tanda ada yang sampai di lantai itu. Dengan cepat Alvi kembali dan memasuki lift. Karyawan yang melihatnya menundukan kepalanya tanda memberi hormat.
Setelah memastikan pintu lift tertutup, karyawan itupun saling berpandangan karena heran melihat presdirnya yang terburu-buru.
Sampai dibawah, pintu lift kembali terbuka. Alvi tidak menemukan Avril. Dengan cepat Alvi berlari menuju luar gedung. Alvi melihat mobil Avril yang melaju meninggalkan area perusahaannya.
"Sial." Cetusnya berlari menuju mobil.
Didalam mobil, Alvi menelpon seseorang.
"Ray gantikan aku mengurus perusahaan. Maaf tapi ini sangat genting. Apa kau bisa?" Ucap Alvi terengah.
"Apa tuan sedang berlari?" Tanya Ray dari sebrang.
"Apa kau bisa Ray? Aku sedang mengejar Avril."
"Ba-baik tuan. Saya akan segera ke perusahaan." Ucap Ray. Kemudian Alvi menutup telponnya. Kini mobil Avril mulai terlihat karena dirinya melajukan mobil begitu cepat.
Alvi menyalip dan berhenti tepat didepan mobil Avril.
Melihat mobil Avril yang ingin berbelok dan melewatinya, dengan cepat Alvi turun dan berdiri menghalangi jalan. Avril dengan kuat menginjak rem yang membuat kepalanya terbentur pada stir.
Alvi berlari dan memanggil Avril dari luar. Avril kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
"Sial. Aku dibodohi." Umpat Alvi mengacak rambutnya.
Alvi kembali berlari dan memasuki mobil. Melajukan mobil tak kalah cepat dari Avril.
Sampai dirumah, Avril segera masuk dan mengunci diri dikamar. Ayah yang menyadari ada yang salah pada putrinya, menghampiri kamar Avril dan mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.
"Avril.... kau baik-baik saja?"
Hening, dan membuat ayah khawatir. Tidak biasanya Avril tidak menjawab sahutan ayah.
Ayah menoleh kebawah dan mendapati Alvi yang berlari memanggil Avril.
"Apa terjadi sesuatu pada Avril?" Tanya ayah dari atas.
"Hanya salah faham ayah. Dan aku berusaha ingin menjelaskan padanya." Jawab Alvi mendongak.
"Apa yang terjadi Alvi?"
"Nanti aku ceritakan dengan rinci kepada ayah. Tapi saat ini aku ingin berbicara pada Avril." Alvi berlari menaiki tangga.
"Avril.... keluarlah nak. Ayah khawatir padamu." Ucap ayah mengetuk pintu beberapa kali.
Namun tetap tidak ada jawaban.
"Setidaknya jawab ayah, jika kau tidak mau keluar, tak apa. Tapi jangan membuat ayah gelisah seperti ini." Teriak ayah. Tetapi Avril tetap tidak menjawab.
"Avril...... keluarlah. Aku ingin bicara." Teriak Alvi.
"Pergi Alvi. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Samar namun masih terdengar.
"Avril.. jangan dengarkan apa yang dikatakan Amel." Teriak Alvi lagi.
"Aku bilang pergi...." ucap Avril disela isak tangisnya.
Ayah menoleh dan menatap Alvi.
"Apa maksudmu Alvi?"
"Ahhh... sepertinya Avril benar-benar tidak ingin bertemu denganku ayah." Ucap Alvi menoleh pada ayah.
"Jelaskan apa yang terjadi sekarang. Agar ayah bisa tahu apa yang membuat Avril sampai mengurung diri seperti ini."
Alvi menghela nafas panjang sejenak sebelum menjelaskan masalahnya pada ayah.
"Avril menyusulku ke perusahaan. Tapi saat itu, Amel tiba-tiba datang dan Avril berusaha menjelaskan apa yang dilihatnya tidak seperti yang dipikirkannya, tapi... Amel menampar dan menyalahkan Avril. Dan kemudian berkata yang tidak-tidak pada Avril hingga Avril bersikap seperti ini." Jelas Alvi.
"Apa yang kau lakukan pada Avril?" Ayah menatap tajam pada Alvi.
__ADS_1
"Tidak ada ayah. Aku hanya memeluknya saja." Jawab Alvi polos.
Ayah menarik telinga Alvi membuat Alvi meringis kesakitan.
"Kau berani memeluk anakku? Padahal kalian belum menikah."
"Adududuhh maafkan aku ayah. Aku hanya tidak ingin Avril pergi saja." Jawab Alvi memegang tangan ayah yang masih menarik telinganya.
"Dan sekarang, bagaimana caranya agar Avril tidak mengurung diri di kamar?" Tanya ayah melepaskan tangannya.
"Bagaimana dengan Galih ayah."
"Galih sedang sibuk sekarang."
"Nadia?"
"Ahh kau benar. Mungkin Nadia bisa."
"Tapi.... aku punya rencana ayah."
"Apa?"
Alvi berbisik pada ayah, dan ayah hanya mengangguk menanggapi.
"Avril.... jika kau tidak keluar, maka ayah akan mendobrak pintu agar terbuka." Tanpa berfikir panjang, Alvi dengan cepat menabrakan dirinya dengan keras pada pintu.
Dari dalam, Avril mulai merasa tidak tega, jika benar itu ayah yang mendobrak pintu.
Avril berjalan dan membuka kunci, kemudian menarik pintu sampai terbuka. Alvi yang tidak menyadari pintu sudah tidak terkunci, terjatuh tepat dibawah Avril.
Hidungnya berdarah membentur lantai.
"Sial... apa ini." Alvi menyentuh hidungnya dan mendapati cairan merah di tangannya.
"Alvi.." ayah meraih dan membantu Alvi berdiri.
Antara ingin menangis, kesal, dan ingin tertawa, Avril memalingkan wajahnya.
"ayah. Berikan jawaban padanya bahwa aku secara terang-terangan menolak lamarannya. Aku tidak ingin melihat wajahnya, dan aku tidak ingin lagi berhubungan dengan orang sepertinya. Aku bukan wanita murahan ayah... aku tidak mengganggu hubungan orang, aku tidak--"
"Hentikan nak. Ayah mengerti kau marah. Tapi jangan membuat ayah khawatir dengan tiba-tiba mengunci dirimu di kamar." Ucap ayah memperhatikan pipi Avril yang memerah bekas tamparan dari Amel.
Ayah menghampiri Avril dan memeluk lembut putri bungsunya itu.
Alvi masih menunduk menutupi hidungnya dan terdengar terisak. Tangannya kini sudah penuh dengan darah.
"Aku tak bisa Avril... aku tak bisa jika harus pergi darimu. Mana mungkin aku meninggalkan apa yang sudah menjadi tujuan hidupku."
"Aku tidak peduli Alvi." Avril membenamkan wajahnya pada ayah.
"Jika kau tidak menjauhiku, maka aku yang akan menjauhimu." Avril berlari kebawah dan mengurung diri di kamar Galih.
Saat Alvi hendak mengejar Avril, ayah menarik tangan Alvi.
"Lihatlah kondisimu. Bersihkan darahmu dan biarkan ayah yang berbicara pada Avril.
Alvi membersihkan wajahnya dikamar mandi Avril. Dan meletakkan jasnya di kasur Avril agar tidak terkena darah ataupun air. Setelah selesai, Alvi menyusul ayah menuju kamar Galih.
"Apa salahnya jika aku ingin berteman dengan Alvi?" Lirihnya.
"Tapi tak perlu berbicara seperti itu." Avril kembali terisak keras. Kata-kata Amel terus terngiang ditelinganya.
Ayah membuka pintu dan menghampiri Avril.
"Temuilah Alvi. Ayah tahu kau marah, tapi ini bukan sepenuhnya salah Alvi."
"Aku tidak mau ayah. Dan biarkan dia pulang. Aku tidak ingin ada dia disini." Avril mengusap air mata diwajahnya.
"Jangan begitu Avril..." ucap ayah berdiri disamping kasur.
"Lalu aku harus bagaimana? Bertemu dengannya saja sudah membuatku dimaki seperti itu, apalagi jika ada yang tahu Alvi selalu disini, mungkin makian itu akan lebih parah lagi." Isak Avril kembali menjadi.
"Kau yakin tidak mau menemuinya?" Avril menggeleng.
"Sudahlah ayah. Jangan memaksa Avril." Ucap Alvi tiba-tiba yang sudah berdiri di dekat pintu.
Ayah menghampiri Alvi dan mengajaknya ke ruang kerja.
Ayah duduk di sofa diikuti Alvi di depannya.
"Maafkan Avril. Ayah yakin ini hanya sementara saja."
"Tidak ayah. Akulah yang salah. Atas nama Amel, aku minta maaf." Ucap Alvi menunduk. "Tapi, aku serius ayah. Aku benar-benar mencintai Avril." Lanjut Alvi mendongak meyakinkan.
Ayah hanya terdiam menatap Alvi.
"Jadi? Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya ayah.
"Mungkin.... menunggu suasana hatinya membaik ayah. Setelah itu, aku akan kembali berbicara padanya." Ayah mengangguk menanggapi.
"Putra Ahmad atau bukan, aku tetap mempercayaimu Alvi." Ucap ayah bersandar pada sofa.
"Kenapa dengan papa?" Tanya Alvi menyernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Ayahmu adalah orang yang paling aku percayai. Dia sangat baik dalam bersikap, jujur dalam berkata, dan tidak pernah sekalipun menarik kata-katanya kembali. Jika dia berkata, maka dia akan melakukannya. Dan sekarang semuanya ada pada dirimu." Ucap ayah memerawang pada mata Alvi.
Alvi terdiam mencerna kata-kata ayah.
"Aku tidak sebaik papa. Bukankah ayah tahu dulu aku selalu menghabiskan waktu di club malam hingga lupa pulang. Dan kabar itu beredar di kalangan manapun. Dan sekarang aku hanya dikenal sebagai pria bajingan saja." Ucap Alvi memalingkan wajahnya.
"Tapi ayah tahu apa yang kau lakukan bukan? Biarkan saja orang akan berkata apapun tentang dirimu. Tapi ayah akan sepenuhnya percaya padamu." Alvi tersenyum menanggapi ayah.
"Terima kasih ayah."
Namun Alvi beranjak dan mencium tangan ayah.
"Aku pamit pulang ayah."
"Kau tidak kembali ke perusahaan? Dan bagaimana dengan lukamu?"
"Ayah tenang saja. Aku baik-baik saja. Dan aku sudah menyuruh Ray menghandle perusahaan." Jawab Alvi kembali tersenyum. Alvi berlalu meninggalkan ruang kerja ayah. Setelah menutup pintu, Alvi menoleh pada kamar Galih yang sudah tertutup dimana Avril masih ada didalam.
Kemudian Alvi berjalan keluar dan memasuki mobil, berlalu pergi meninggalkan rumah Avril.
. Avril menatap layar ponselnya, dan merasa sesak ketika melihat foto Alvi di riwayat chatnya.
Avril perlahan terlelap.
"Andai saja kau masih disini." Lirih ayah. "Lidya" lanjut ayah memejamkan matanya.
. Setelah memakan waktu diperjalanan, Alvi memasuki rumah dengan sedikit sempoyongan karena efek terbentur. Bu Rumi selaku kepala pelayan sekaligus pengasuh Alvi sedari masih kecil berjalan menghampirinya.
"Tuan tidak apa-apa?" Tanya bu Rumi terlihat khawatir.
"Aku ingin kekamar bu." Ucap Alvi melirik sejenak.
"Biar saya antar tuan." Alvi menoleh pada suara yang tiba-tiba terdengar di dekat tangga.
"Tidak Dina. Aku bisa sendiri." Dina kemudian menunduk sopan saat Alvi melewatinya dan perlahan menaiki tangga.
Alvi menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
. Sampai beberapa hari, Avril semakin membaik dan tidak lagi mengurung diri di kamar. Dengan usaha Galih dan Nadia yang membujuk Avril.
Namun tidak dengan Alvi. Kondisinya yang semakin memburuk. Berhari-hari Alvi menolak untuk makan, dan akhirnya selang infus tertancap di lengan kanannya. Disampingnya duduk seorang dokter muda. Menyuntikan cairan obat agar Alvi tidak terlalu lemah. Namun karena tidak ada asupan makanan yang cukup, Alvi terus berbaring di kasur, dan tidak membuka matanya.
Nama Avril terus terlontar saat Alvi tertidur.
Noah menghela nafas panjang menatap kondisi Alvi.
"Aku saja seorang dokter benar-benar tidak mengerti. Suhu tubuhmu kini sudah tidak terlalu panas, hanya tekanan darahmu saja yang menurun, Kau sampai tidak bisa bangun seperti itu. Dan bangun ketika saat kau mimisan, dan minum obat saja."
Pintu terbuka, dan terlihat Galih memasuki kamar Alvi.
"Bagaimana keadaannya?"
"Harusnya sudah membaik, tapi karena ini penyakit rindu, sepertinya obatku saja tidak akan menyembuhkannya. Aku membutuhkan bantuan Avril. Hanya kehadiran Avril yang bisa menyembuhkannya saat ini." Galih menatap nanar wajah Alvi yang pucat pasi. Galih berbalik, berjalan keluar dan kembali menutup pintu.
. Avril yang berjalan menuju parkiran kampus kembali bertemu dengan Aldi.
"Avril? Kemana saja kau? Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu. Apa Alvi sudah sembuh?" Avril menyernyitkan dahinya heran, menatap Aldi lekat dan mencoba mencerna ucapannya.
"Hei? Kau tidak mendengarku?" Aldi melambaikan tangannya didepan wajah Avril.
"Apa maksudmu?"
"kau tidak tahu Alvi sedang sakit?" Tanya Aldi. Dan Avril hanya menggeleng menanggapi.
"Apa kau serius? Bukankah kau sangat dekat dengan Alvi?"
"Sekarang tidak Aldi." Ucap Avril memalingkan pandangannya.
Aldi hanya terdiam mendengar jawaban Avril.
"Tapi aku dengar kondisinya sangat buruk. Bahkan temannya yang menjadi dokter itu datang sendiri dan merawat Alvi dirumahnya. Sampai saat ini belum ada yang tahu bagaimana kondisinya." Jelas Aldi. Rasa khawatir kini mulai menyelimutinya. Avril berjalan meninggalkan Aldi yang masih berdiri di tempat.
Avril melajukan mobilnya menuju rumah. Terlihat mobil Galih yang baru saja memasuki gerbang utama.
Avril sedikit berlari hendak mengejar Galih yang sudah memasuki ruang kerja ayah.
Avril meraih gagang pintu dan hendak membukanya, namun urung ketika mendengar percakapan Galih dan ayah yang samar terdengar karena sepertinya, keduanya sedang berada didekat pintu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya ayah.
"Sepertinya dia akan segera mati ayah." Jawab Galih datar membuat Avril mematung didepan pintu.
"Jaga ucapanmu Galih. Ini bukan lelucon." Ucap ayah kesal.
"Maaf ayah. Aku hanya becanda."
"Becandamu keterlaluan."
"Tapi aku serius ayah. Wajahnya pucat, suhu tubuhnya dingin, tidak mau makan, apa artinya itu jika bukan pertanda akan mati?"
Avril terduduk lemas didepan ruang kerja ayah.
Avril menangis dan menutupi wajahnya. Karena mendengar isak tangis diluar, Galih membuka pintu dan mendapati Avril yang sedang menangis.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
-bersambung