
. Semua mata tertuju pada Alvi.
"Tuan?" Ray menundukan pandangannya ketika melihat Alvi yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Alvi. Kau mengabaikanku?" Amel yang mengejar dan menatap punggung Alvi dibelakangnya.
"Jika kau ingin pulang, aku yang mengantarmu." Ucap Alvi menatap Avril yang sama-sama membelakanginya.
"Alvi. Apa Avril lebih penting dariku?" Nada Amel semakin kesal.
"Diam!" Ucap Alvi dengan nada tinggi membuat semua karyawan menjadi terdiam, berjalanpun tanpa suara, menunduk diselimuti rasa takut.
Alvi menghampiri Avril yang mematung. Meraih tangannya, dan Alvi lalu terdiam menggenggam tangan Avril disampingnya.
"Gemetar? Apa dia ketakutan?" Gumam Alvi menatap sebagian wajah Avril yang tertutup rambutnya yang mengurai.
Alvi menarik tangan Avril menuju pintu keluar.
"Aku yang membawamu, maka aku juga yang harus mengantarmu." Tegas Alvi.
"Ray. Kau pasti tahu sesuatu." Amel menatap kesal pada Ray.
"Maaf nona. Saya sedang sibuk." Ucap Ray tersenyum lalu pergi meninggalkan Amel.
Amel melihat situasi sekitar, semua pasang mata tertuju padanya.
"Sial. Aku dipermalukan seperti ini." Gumam Amel yang berjalan menyusul Alvi.
Amel melihat mobil Alvi berlalu meninggalkan gedung.
"Sebenarnya apa yang terjadi saat aku pergi." Amel kembali ke mobil yang dipesannya, lalu melaju menuju rumah.
. "Kenapa kau tidak menungguku?" Tanya Alvi menoleh sejenak pada Avril.
"Kau lama." Jawab Avril tanpa menoleh.
"Aku rasa bukan itu jawabanmu." Ucap Alvi menghela nafas panjang.
"Lalu?" Avril masih tetap fokus ke samping jalanan.
"Karena Amel kan?" Avril menoleh mendapati ucapan Alvi.
"Kau cemburu kan?" Lanjut Alvi menatap Avril.
Avril memalingkan wajahnya.
"Untuk apa aku cemburu." Ucap Avril datar.
"Lalu? Kenapa kau terlihat kesal?" Alvi terdengar menahan kesal.
"Aku kesal karena menunggumu lama. Aku sudah membaca novel, sampai aku menghampiri Ray, menunggu diluar, tapi kau tidak datang." Jelas Avril semakin kesal.
"Jika kau tidak cemburu, kenapa kau pergi setelah ada Amel.?"
"Kenapa kau yang kesal? Aku-- aku pergi karena... yaa... aku menghargai Kak Amel yang ingin menemuimu." Ucap Avril memalingkan kembali wajahnya.
"Jadi, apa artinya itu Avril?" Alvi menepikan mobilnya. "Katakan Avril. Katakan bahwa kau mencintaiku." Alvi menatap harap pada Avril dengan sedikit membentak.
Avril terdiam menatap Alvi.
"Kau kenapa Alvi.? Aku tidak mengerti maksudmu. Dan aku tidak mencintaimu." Ucap Avril datar.
Alvi terkejut lebih lekat menatap Avril. Lalu mengangguk, menghela nafas, dan kembali melajukan mobilnya.
"Kau tidak berbohong. Maafkan aku Avril." Lirih Alvi yang terdengar samar oleh Avril.
Tak seperti biasanya, Alvi langsung mengantarkan Avril ke rumahnya. Tanpa masuk ke rumah, tanpa pamit pada ayah.
Setelah memastikan Avril keluar dari mobil, Alvi kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Avril.
"Apa tidak salah kau sudah pulang? Baru 2 jam kalian berangkat." Sindir Galih yang sedang bersandar di tiang rumah.
"Kak! Apa kau tau sesuatu tentang Alvi?" Tanya Avril ragu.
"Sepertinya kau sudah tertarik dengan Alvi." Ejek Galih.
"Aku tidak becanda kak." Avril menggembungkan pipinya.
"Ahaha baiklah. Jangan marah. Aku yang becanda." Galih mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak tahu pasti, tapi yang aku tahu Alvi adalah laki-laki yang suka mempermainkan perasaan perempuan. Yaaa... itu hanya anggapanku saja. Tapi sebaiknya kau tanya Nadia. Dia teman sekelasnya saat SMA." Galih melangkah kedalam rumah.
Avril masih terdiam memikirkan semua yang di saksikan dan didengarnya.
Apa benar Alvi dan Amel berpacaran? Tapi melihat sikap Alvi yang menakutkan tidak menjamin pertanyaan itu benar.
Semua pikiran tentang Alvi berkecamuk di benak Avril.
Saat Avril hendak melangkah kedalam, dering ponselnya berbunyi.
"Hallo. Siapa?" Avril menyernyitkan dahinya penasaran siapa yang menelpon.
"Avil..." seketika Avril mematung mendengar suara itu.
"Aldi?" Lirih Avril.
"Avil.. bisakah kita bertemu?"
"Dimana?" Tanya Avril tanpa berfikir.
"Kau tidak menolak?" Tanya aldi terdengar antusias.
"Katakan dimana, sebelum aku berubah fikiran." Tegas Avril.
"Baiklah. Aku tunggu di cafe B." Ucap Aldi kemudian Avril memutus panggilan telponnya.
Avril berlari menuju kamarnya lalu mengambil kunci mobil, dan berlalu pergi ke tempat perjanjian.
__ADS_1
. Sampai di cafe, Avril langsung membuka pintu. 'Ting' suara bel kecil di atas pintu terdengar setiap kali pintu dibuka.
Aldi menoleh dan mendapati Avril yang berjalan kearahnya.
Aldi tak berkedip menatap Avril dengan penampilan yang berbeda ketika terakhir bertemu.
Avril duduk tepat di depannya. Menatap, lalu memalingkan pandangannya dari Aldi.
"Katakan." Ucap Avril datar.
"Kau semakin cantik Avil." Aldi masih menatap Avril.
"Aldi... jangan membuatku semakin membencimu." Avril menatap tajam pada Aldi.
"Aku serius." Aldi meyakinkan.
"Ck." Avril mendelik.
"Apa kau benar-benar membenciku?" Tanya Aldi sedikit memelas.
"Menurutmu?" Avril melirik sinis pada Aldi.
"Tapi aku masih mencintaimu Avil." Lirih Aldi.
"Jangan becanda Al. Itu tidak lucu." Ucap Avril dengan tegas.
"Aku serius Avil. Aku benar-benar masih mencintaimu. Apa kau perlu bukti?" Avril menyernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Aldi.
"Aku akan membatalkan pertunangan ini, lalu aku akan melamarmu." Lanjut Aldi yang membuat Avril marah.
"Dengan senang hati aku akan menolakmu secara terang-terangan tuan Aldian. Kau pikir aku akan menerimamu setelah membatalkan pertunanganmu? Tidak. Aku justru akan membencimu lebih dari ini." Tegas Avril kemudian memalingkan pandangannya lagi.
Aldi terdiam. Lalu menundukan kepalanya pada meja.
"Aku harus bagaimana Avil? Kau satu-satunya tujuan kenapa aku kembali lagi ke kota ini." Aldi mendongak dan menatap Avril.
"Tapi kenyataannya bukan aku rumahmu." Avril menatap datar wajah Aldi.
"Jujurlah Avil. Jujurlah! Bahkan untuk terakhir kali, atau bahkan jika menyakiti kita berdua, aku ingin mendengarmu jujur pada hatimu sendiri." Tegas Aldi.
"Apa maksudmu? Apa kau pikir selama ini aku selalu berbohong?" Avril menatap Aldi kesal.
"Iya. Kau selalu bohong pada dirimu. Kau seakan membenciku, tapi aku tahu bahwa kau masih mencintaiku." Avril kembali memalingkan pandangannya, menahan air mata yang hampir terjatuh di kedua pipinya.
"Jika mencintaimu pun, aku sudah tak bisa apa-apa Al." Ucap Avril.
"Avril. Dengar aku! Jika kau benar-benar masih mencintaiku, aku serius bisa membatalkan pertunanganku, dan kita akan kembali bersama. Aku yakin ayahku dan temannya tidak akan keberatan. Aku akan membayar hutang budiku dengan cara lain. Asal aku bisa denganmu lagi." Aldi memohon meraih tangan Avril.
"Hentikan Al. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau membatalkan pertunanganmu." Avril melepas genggaman Aldi. "Aku tahu rasanya ditinggalkan, jadi aku tak ingin ada perempuan lain yang merasakan hal yang sama. Aku harap kau tidak membuatnya menangis." Akhirnya bulir itupun jatuh di kedua pipi Avril.
"Avil..." lirih Aldi menatap Avril.
'Ting' tanda pintu cafe terbuka. Aldi mendongak menatap pintu. Menatap seorang gadis, yang tak bergerak memegang gagang pintu. Menatap seseorang yang disukainya sedang duduk berdua dengan gadis lain. Gadis itupun tersenyum kemudian berbalik meninggalkan cafe.
Avril menoleh pada pintu yang perlahan menutup rapat.
"Avil... sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu." Ucap Aldi sebelum Avril berlalu meninggalkannya.
Aldi menatap rambut Avril yang terurai. Mengingat kejadian dulu, ketika Aldi selalu menjahili Avril menggulung-gulung rambutnya yang panjang.
Avril terdiam menatap kaca mobil yang memantulkan bayangannya.
"Sial. Aku lupa menanyakan tentang kak Amel." Gumam Avril membuka pintu mobil.
. Dikediaman keluarga Aldi, Amel memasuki pintu yang terbuka lebar. Berjalan mencari seorang yang sangat dirindukannya.
"Aku pulang!" Ucapnya sedikit berteriak.
Terlihat mama sedikit berlari menghampiri Amel.
"Amel? Bukankah 3 hari lagi kau pulang?" Tanya mama memeluk Amel.
"Kejutaannn" Amel terlihat girang.
"Iya. Mama benar-benar terkejut dengan kejutanmu." Mama memasang wajah kesal.
"Hmmm maafkan aku ma.. tapi aku merindukan seseorang, dan aku kecewa." Amel melepaskan pelukan.
"Kecewa? Kau kecewa bertemu mama?" Mama menyernyitkan alisnya.
"Bukan... bukan mama. Tapi Alvi." Ucap Amel merengek.
"Alvi? Haiihhh kau belum menyerah?" Tanya mama berbalik meninggalkan Amel. "Sudahlah Amel. Alvi tidak menyetujui perjodohannya. Biarkan dia menjalani hidupnya sendiri." Lanjut mama duduk di sofa.
"Tapi aku mencintainya ma..." Amel menghampiri dan duduk di samping mama.
"Cintamu itu cinta buta. Kau lebih tua dari Aldi, tapi sikapmu lebih kekanak-kanakan darinya. Aldi bisa mengendalikan perasaannya dengan sikap dewasa. Meski mama tau Aldi sangat depresi saat ini." Amel mendelik mendengar ucapan mama.
Sebelum pulang, Aldi mampir di kantor ayahnya.
Sedangkan Avril langsung pulang ke rumahnya.
Beberapa hari, Avril merasa heran. Tak ada pesan, bahkan tak ada kabar dari Alvi.
Avril menghampiri Galih yang sedang sibuk di kantornya.
"Kak! Apa kau tahu kabar Alvi?" Tanya Avril duduk di sofa ruangan Galih.
"Tidak." Jawab Galih singkat.
"Apa kau tahu no ponsel Ray?"
"Tidak."
"Apa dia tidak memberitahumu?"
"Hentikan Avril. Aku tidak bisa fokus. Jika kau merindukan Alvi, sebaiknya kau ke kantornya, maka kau akan tahu dia sedang apa." Bentak Galih membuat Avril terdiam.
__ADS_1
Nadia membuka pintu ruangan dan mendapati Avril yang menatap lekat keluar jendela, dan Galih yang kesal dengan berkas-berkas dihadapannya.
"Situasi macam apa ini? Apa kalian bertengkar?" Nadia berjalan mendekati Avril.
"Tidak." Jawab keduanya kesal.
"Ayolah. Aku sudah tahu sifat kalian berdua." Nadia duduk di depan Avril. "Apa kau tidak mau bercerita apapun padaku?" Nadia menatap lekat pada Avril.
Avril melirik pada Nadia, lalu kembali fokus keluar jendela.
"Hmmm baiklah jika kau tak ingin tahu situasi perusahaan Alvi." Nadia ikut menatap keluar.
Avril menoleh pada Nadia, membuat Nadia tersenyum.
"Jadi kau tertarik mendengar ceritaku?" Nadia menoleh pada Avril. Avril hanya terdiam. Tak lama lalu mengangguk pelan. Galih hanya memperhatikan dari jauh adik kesayangannya.
"Ku dengar perusahaan D memperketat informasi para tamu. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke perusahaannya sekarang. Jika tidak ada janji, maka tidak bisa masuk. Aku tak tahu alasannya apa, tapi ku dengar juga karena tempo hari ada seorang gadis yang dengan santainya masuk ke perusahaan D." Nadia menatap Avril. "Aku tahu Avril. Aku teman Alvi dan Amel dulu. Jadi aku juga tahu hubungan mereka." Avril menunduk kesal mendengar Nadia.
"Jangan salah faham. Alvi tidak menganggap Amel sebagai siapa-siapanya. Jadi, kau jangan cemburu berlebihan." Lanjut Nadia membuat Avril tercengang.
"Aku tidak cemburu." Bentak Avril.
"Benarkah? Tapi kurasa, dari nada bicaramu itu tak sama dengan ucapanmu." Ejek Nadia membuat Avril menggembungkan pipinya.
"Ahhh.... dan ku dengar Alvi tidak pulang beberapa hari ini. Aku penasaran kemana dia?" Nadia menoleh pada Galih.
"Aku tidak tahu Nadia.... jangan menoleh padaku. Paling dia sedang di club bersama perempuan-perempuan disana." Ucap Galih datar.
"Apa kau ingin menemuinya?" Tanya Nadia pada Avril.
Avril menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Bukankah kau merindukannya?" Nadia menyernyitkan dahinya.
"Aku tidak mencintainya kak!" Tegas Avril.
"Benarkah? Hmmm jika mencintainya pun aku tidak akan menentangmu. Aku bahkan mendukungmu." Ejek Nadia.
"Hentikan kak! Becandamu tidak lucu." Ucap Avril kesal.
Nadia tersenyum puas. Kemudian Nadia menghampiri Galih dan berbisik, sesekali menoleh pada Avril. Galih sempat terlihat kesal, namun Nadia membujuknya, dan Galih menganggukan kepalanya dengan terpaksa.
"Avril. Ayo!" Ucap Nadia melambaikan tangannya.
"Kemana?" Avril penasaran.
"Ikut saja. Nanti kau juga tahu."
Dengan terpaksa, Avril mengikuti Nadia.
Avril terkejut ketika sampai di tempat tujuan Nadia.
"Untuk apa kesini?" Avril memiringkan kepalanya.
"Mengobati rasa penasaranmu. Ayo turun." Nadia turun terlebih dahulu.
Avril mengikuti Nadia dari belakang.
Namun dipintu masuk, seorang security menghadang keduanya.
"Sudahlah kak! itu sia-sia. Kita pulang saja." Avril berbalik hendak melangkah pergi.
"Jangan kabur Avril." Nadia menarik tangan Avril.
"Katakan saya sudah ada janji dengan presdir siang ini." Ucap Nadia.
Security itu memberi isyarat pada rekannya lalu memperbolehkan keduanya memasuki gedung.
Tepat di depan ruangan presdir, Ray terkejut melihat Avril yang datang tanpa pemberitahuan.
"N-nona Av-Avril." Ucap Ray kaku.
"Kau seperti melihat hantu Ray." Ucap Avril datar.
"Ma-maaf nona. T-tapi, kenapa nona kesini? Tuan tidak bilang jika ada janji dengan nona." Ray masih terlihat kaku.
"Aku tak ada janji dengannya Ray. Tapi kakak ku yang menyeretku kesini." Avril memalingkan pandangannya.
Nadia hanya tersenyum menanggapi lirikan Avril.
"T-tapi tuan...." Ray terlihat ragu.
"Apa dia sedang meeting?" Tanya Nadia.
"Ti-tidak. Tu-tuan sedang ada tamu." Ucap Ray sedikit lirih.
Nadia membuka pintu ruangan Alvi. Nadia terkejut mendapati Alvi yang tertidur di sofa dengan berkas dan buku-buku yang berserakan.
Avril tanpa bicara membereskan ruangan Alvi.
Nadia menatap Alvi yang masih terlelap, lalu melirik Avril yang sibuk dengan buku-buku dan berkas. Nadia menghela nafas panjang.
"Tak jauh berbeda dengan Galih" gumam Nadia.
Perlahan Alvi membuka matanya, dan mendapati Avril yang sedang membaca salah satu novel.
Alvi terbangun dan menatap Avril yang fokus membaca.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Tanya Alvi menatap dingin. "Apa Ray masih tidak mengerti, tamu tak di undang dilarang masuk ke ruanganku. Tak terkecuali siapapun itu." Tegas Alvi lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
'Deg.' Avril terdiam, tanganya gemetaran menyentuh lembaran kertas ditangannya.
Sikap Alvi berubah drastis setelah pertemuan terakhirnya.
Nadia menatap kesal Alvi yang melewatinya begitu saja.
-bersambung
__ADS_1