
. Alvi menoleh seketika saat mendengar suara sang mertua.
"Ehhh ayah mertua." Ucap Alvi tersenyum kikuk. Ayah hanya meliriknya dengan tajam sambil melipatkan tangan.
"A-ayah sudah makan? Atau sudah--"
"Kau yang seharusnya makan. Wajahmu pucat seperti itu. Apa putriku tidak merawatmu?" Tanya ayah kemudian duduk di samping sofa yang Alvi duduki.
"Aku baik-baik saja ayah. Tak perlu merepotkan putrimu."
"Jika kau sadar pekerjaanmu sangat melelahkan, harusnya kau juga sadar, kesehatanmu bisa menurun kapan saja." Alvi menunduk mendengar nasehat ayah mertuanya.
"Noah juga bilang, aku terlalu kelelahan." Alvi mendongak menatap wajah ayah.
"Yasudah... kau istirahat saja disini, dan besok jangan dulu bekerja."
"Tapi..."
"Jangan membantah. Atau aku pecat kau jadi menantu. Kau sendiri tahu bukan banyak para ibu-ibu yang ingin menjadi mertuanya?"
"Ayah seperti berniat memisahkanku dengan Avril..."
"Kau ini... sudah mandi sana! Ayah tunggu di ruang kerja."
"Mau apa yah?"
"Mau menikahkanmu dengan Avril."
"Sekarang saja ayah." Alvi menatap ayah dengan semangat.
"Apanya yang sekarang?" Tanya Galih tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari mereka.
"Kenapa kau disini?" Tanya Alvi menyernyit.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Ini rumahku, aku bebas disini. Kau?"
"Aku menantu ayah. Jadi aku juga bebas disini."
"Ohhh menantu ya? Menantu ayah yang ini saja tidak sepertimu." Galih merangkul Nadia yang tersenyum sudah bisa ditebak bagaimana ributnya ketika Galih bertemu dengan Alvi.
"Dimana Avril?" Tanya Nadia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Dikamarnya." Jawab ayah.
Seketika wajah Alvi gugup melirik pada ayah. Apakah ayah melihat adegan itu?
"Kenapa kau melirik ayah seperti itu? Bukankah ayah menyuruhmu mandi?"
"Hehe iya ayah..." Alvi beranjak dan berlalu ke kamar tamu yang biasa dipakai olehnya ketika menginap.
"Ada apa? Tak biasanya kau pulang tanpa memberitahu ayah." Ucap ayah menatap Galih yang terlihat senang.
"Ada sesuatu yang ingin aku beritahu pada ayah." Jawab Galih yang kini terlihat lebih santai.
"Iya apa?"
"Tapi nanti saja. Kita menunggu Avril dan Alvi."
"Mengapa harus menunggu mereka?" Tanya ayah.
"Yaaa karena menyangkut masalah keluarga." Jawab Nadia menyela Galih yang sudah menarik nafas untuk berbicara.
"Sepertinya serius." Ucap ayah menebak-nebak.
"Sangat serius ayah." Jawab Nadia dengan wajah meyakinkan.
"Baiklah.. asalkan berita bahagia." Ayah beranjak dan kembali ke ruang kerjanya.
. Malam hari, seperti rencana Galih, semua anggota keluarga berkumpul meskipun hanya 5 orang saja termasuk Alvi.
"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Alvi memulai pembicaraan. Namun Galih dan Nadia hanya saling lirik dan tersenyum.
"Apa berita bagus? Sepertinya kakak sedang bahagia." Tebak Avril menerawang pada wajah Galih.
"Yaa sebaiknya kita makan dulu." Ucap Galih dengan santainya.
Masing-masing mengambil makanan dan makan dengan rasa penasaran yang tinggi pada Galih dan Nadia yang dengan santainya melahap beberapa masakan yang tersaji dengan masing-masing seleranya. Karena kesal terus melihat adegan romantis pasangan yang sudah sah itu, Alvi beralih menatap Avril disampingnya sambil melahap makanannya dengan perlahan.
"Jangan menatapku seperti itu tuan Revano." Ucap Avril memalingkan wajahnya pada ayah.
"Kau gugup?" Goda Alvi hingga Avril membalik dan melemparkan senyum lebarnya pada Alvi.
"Aku tidak gugup. Kau lihat?"
"Kau sangat manis."
"Hei tuan... lihat makananmu, apa kau tak khawatir jika kau salah makan?" Tegur Avril dengan kesal ketika Alvi melahap makanan Avril. Dengan santai, Alvi masih tersenyum menanggapi.
"Alvi." Avril terbelalak dan sedikit berteriak menyadari bahwa makanannya memakai sambal. Avril dengan cepat meraih tangan Alvi yang hampir kembali melahap makanannya.
"Jangan makan lagi... punyaku pedas." Alvi melirik makanan yang kini berada di sendoknya. Potongan cabai yang dilihatnya seakan menari-nari menakutinya.
Lehernya mulai terasa panas, Alvi meraih air yang di sodorkan Avril.
"Kau ini kenapa? Harusnya kau tidak memakan makananku." Rengek Avril kesal.
"Apa kau tidak merasa pedas?" Tanya Nadia dengan polos.
"Kau pikir saat melihat adik iparmu, aku akan merasa pedas?" Tanya Alvi dengan susah payah menahan panas di tenggorokan dan dadanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu.?" Tanya Galih terheran dengan pertanyaan Alvi.
"Adikmu sangat manis, melihatnya saja gula darahku menjadi naik." Ucap Alvi serius seakan tak ada nada becanda pada ucapannya.
"Alvi hentikan. Jangan terus becanda. Lihat kondisimu sekarang." Alvi menyernyit menatap Avril dan kepalanya terasa berat. Entah karena efek alergi, atau karena memang dirinya belum sembuh dari demam tadi pagi.
"Aku ser-ri-us" dan akhirnya Alvi terlelap bersandar dibahu Avril. Dengan cepat Galih menghampiri lalu meraih lengan Alvi dan membantunya berpindah setidaknya ke ruang keluarga dengan lengan Alvi di rangkulkan ke lehernya. Beberapa pelayan membantu memindahkan Alvi yang tak sadarkan diri.
"Alvi" lirih Avril mengikuti langkah kakaknya.
"Telpon Noah sekarang." Tegas Galih menoleh pada Avril. Avril kemudian meraih ponselnya yang diletakkan di meja komputer ruang tengah.
Panggilan tersambung namun Noah tak kunjung mengangkat telponnya.
Dengan gelisah, Avril terus menelpon Noah sampai akhirnya suara yang terdengar lelah itu bertanya pada Avril.
"Kemana saja kau?" Tanya Avril dengan suara kesal.
"Aku baru ke ruangan. Banyak pasien yang harus ku tangani Avril." Noah tak kalah kesal. Memang jika sedang lelah, rasanya emosi selalu naik dan merasa bahwa semua orang tidak bisa mengerti pada dirinya.
"Maaf Noah... tapi aku ingin kau kerumahku sekarang." Hati Noah melunak ketika mendengar suara Avril yang begitu gemetar.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Noah setelah menenangkan pikirannya sejenak.
"Iya." Jawab Avril dengan singkat yang jelas tak ingin menambah kesedihannya.
"Apa ayahmu?" Tanya Noah lagi.
"Bukan..."
"Kakakmu sedang dirumah? Atau Nadia? Tapi jika Nadia, itu hanya gejala kehamilannya saja. Jadi wajar jika dia mudah kelelahan, bahkan mual-mual sering terjadi di trimester awal. Kau jangan terlalu khawatir." Avril mematung seketika, pertanyaan yang sedari tadi muncul kini terjawab sudah. Dan sekarang, dirinya harus bahagia atau bersedih? Air matanya tak bisa dibendung ketika menatap Nadia dan Alvi bergantian. Noah tersenyum mendengar Avril terisak.
"Jangan menangis, sebentar lagi kau akan menjadi aunty ya?" Suara ejekan itu terdengar menyesakkan jika di ucapkan di situasi sekarang.
"Kerumahku sekarang, atau Alvi akan semakin parah." Kini isakannya semakin keras.
"Alvi?" Noah menjadi terheran mendengar nama Alvi.
"Dia... alerginya kambuh..."
"Apa dia memakan pedas?"
"Nanti saja wawancaranya. Pokoknya sekarang kau kerumahku..."
"Kau pikir aku reporter?" Gumam Noah menjauhkan ponselnya.
"Ba-baiklah... tapi aku ingin bernafas dulu sejenak." Lanjut Noah menghela nafas panjang.
"Noah... jangan lama-lama... nanti Alvi mati.." sontak semua yang sibuk membawa Alvi, terhenti seketika lalu menoleh bersamaan pada Avril. Avril mematung dan berhenti sesenggukan saat menatap satu persatu wajah yang menatapnya dengan datar.
"Aku tunggu dirumah sekarang Noah." Avril kemudian dengan wajah yang datar mematikan panggilan, lalu beranjak menghampiri Nadia. Wajah Avril kini lebih terlihat kesal.
Avril kembali menangis lalu memeluk Nadia.
"Alvi tak akan mati hanya karena alergi." Ucap Galih setelah membaringkan Alvi di sofa. Namun tangisan Avril semakin menjadi-jadi membuat seisi rumah lebih mengkhawatirkan Avril saat ini.
"Aku harus bagaimana?" Pertanyaan itu semakin mengherankan.
"Alvi baik-baik saja..."
"Avril... jangan berlebihan..." ucap Galih meraih punggung adiknya.
"Mengapa kau menangis seperti itu nak?" Tanya ayah dengan suara lembut.
"Sekarang aku sendiri tak tahu aku menangisi apa ayah." Avril melepas pelukannya pada Nadia, lalu berbalik menatap ayah dengan wajah yang ingin tersenyum namun tak henti menangis.
"Disisi lain, aku menangis karena takut ada apa-apa pada Alvi. Tapi disisi lain, aku bahagia." Lanjut Avril menutup wajahnya sambil masih sesenggukan.
"Apa yang membuatmu bahagia nak?" Tanya ayah kemudian memeluk Avril.
"Apa kau dan Alvi akan menikah?" Tanya Galih mencoba menebak jawaban yang akan Avril lontarkan.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau kesini untuk memberitahu kabar itu kan?" Tangis Avril kembali pecah saat membuka tangannya.
"Apa kau sudah... dari mana kau tahu?" Tanya Galih terbelalak heran.
"Tak heran jika dia tahu, sepertinya Noah yang memberitahumu barusan kan?" Timpal Nadia memijit dahinya.
"Apa? Ayah tak tahu apa yang sedang kalian bicarakan." Ayah melirik wajah anak-anak dan menantunya bergantian.
"Kak Nadia..."
"Biar aku saja Avril." Ucap Galih menyela.
"Ayah jangan marah jika tahun-tahun kedepan, rumah ayah ini mungkin akan berantakan, tidur ayah mungkin ada yang mengganggu, bahkan ayah sedang makan pun bisa jadi tidak tenang. Tapi percayalah, ayah tak akan marah dengan semua itu, karena yang melakukannya adalah cucu ayah sendiri." Semula ayah menyernyit dengan yang dikatakan Galih, namun kemudian ayah melirik Nadia yang melemparkan senyum pada ayah.
"Mengapa bertele-tele nak? Mengapa tak kau katakan saja bahwa Nadia sedang hamil." Mendengar itu, Galih hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehe... aku..."
"Kakak memang seperti itu. Untung saja kak Nadia mau dengan kak Galih." Delik Avril.
"Diam kau... rawat saja suamimu yang menyedihkan itu. Pada pedas saja dia kewalahan." Delik Galih.
"Diam kau presdir dingin. Aku mendengarmu." Ucap Alvi beralih posisi tidurnya.
"Sesama beruang kutub jangan saling mengejek sialan. Tapi Syukurlah jika kau mendengarku, jadi aku tak perlu khawatir kau mati."
"Jadi kau mengkhawatirkanku saat aku tak sadarkan diri? Dan apa kau juga yang memindahkanku kesini? Oh.. beruang kutub! Aku terharu."
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil beruang kutub hah.?"
"Bukankah kau tadi menyebut dirimu beruang kutub?"
"Kau juga sama dinginnya, bukan hanya aku."
"Maaf tuan Galih. Tapi aku lebih cocok menjadi pinguin dari pada beruang kutub. Ahh... sial... mengapa dadaku terus panas....." decih Alvi menekan dadanya dengan tangan.
"Rasakan..." ejek Galih. Keduanya memang seperti kucing dan anjing jika disatukan.
"Kakak diam.!" Ucap Avril dengan suara tegas. Tapi lebih tepatnya itu suara kesal. Avril semakin khawatir ketika melihat bintik merah mulai bermunculan ditangan dan lehernya.
"Sudah kubilang. Lihat yang kau makan. Jangan sembarangan." Ucap Avril menatap Alvi tajam dengan dahi yang berkerut menahan kesal.
"Aku baik-baik saja..." Alvi membalas tatapan Avril dengan tersenyum.
"Jangan becanda terus...." Avril memukul lengan Alvi dengan pelan.
"Siapa yang becanda? Aku selalu serius."
"Hentikan atau aku akan marah."
"Hentikan apa? Aku tak bisa berhenti mencintaimu."
"Ihhh Alviiii." Avril kembali memukul sedikit keras.
"Apa sayang?"
"Aku tidak memanggilmu." Alvi hanya terkekeh melihat Avril yang kembali menggembungkan pipinya.
"Kau ingin aku cium didepan keluargamu?" Bisik Alvi ke telinga Avril. 'Plak' Avril memukul tepat di pipi Alvi menimbulkan suara nyaring yang merdu jika Galih yang mendengar.
"Tamparanmu terdengar merdu adikku." Galih terkekeh merasa puas dengan yang dilakukan Avril.
"Kau tega menampar suamimu yang tengah sekarat?" Alvi mengusap kasar wajahnya.
"Kau yang menyebalkan." Ucap Avril memalingkan wajahnya ke sisi yang lain.
"Bisakah kau mengambilkan minum?" Avril tak menanggapi, namun tubuhnya seakan bergerak sendiri beranjak dari duduknya.
"Biar saya yang ambilkan nona." Ucap Bibi menahan Avril yang akan melangkah. Avril kembali mengangguk menanggapi ucapan bibi.
. Setelah lama menunggu, akhirnya Noah sampai di rumah Avril dengan santai.
"Dari mana saja kau?" Tanya Avril mendelik.
"Hei nona manis. Mengapa kau begitu padaku?" Goda Noah menghampiri Alvi.
"Hei dokter. Jangan berani kau menggoda istriku."
"Hei presdir dingin. Kau menakutkan."
"Obati aku cepat.!"
"Tidak mau..."
"Hei.. aku tak rela jika aku mati, Avril jadi janda, lalu kau menikahinya." Ucap Alvi beranjak dari tidurnya.
"Hahaha biarkan saja, palingan kau tak akan tenang nantinya." Noah dengan puas tertawa sambil menangani Alvi yang kembali berbaring.
"Kau sudah tahu alergi pada pedas, tapi kau malah memakannya." Ucap Noah
"Jika kau ada diposisiku, kau juga mungkin tak akan sadar jika kau sedang dalam bahaya." Noah menyernyit dengan yang dikatakan Alvi.
"Memang apa yang kau lakukan?"
"Aku tak melakukan apa-apa."
"Lalu?"
"Aku hanya memakan makanan itu sambil menatap Avril."
"Apa hubungannya dengan Avril?" Noah melirik Avril yang terdiam menyaksikan keduanya bertengkar.
"Kau jangan melihatnya." Alvi menutup mata Noah yang belum sempat melihat wajah Avril.
"Apa yang salah dengan istrimu?" Noah menghempaskan kasar tangan Alvi.
"Dia sangat manis. Jika kau melihatnya, kau juga akan jatuh cinta padanya."
"Otakmu benar-benar rusak Alvi." Ucap Noah menatap konyol pada Alvi yang memasang wajah serius.
"Nah kan Avril. Kau dengar sendiri?" Avril mendelik tak menanggapi pertanyaan Alvi.
"Ahahaha bahkan istrimu saja sudah tak kuat dengan sikapmu."
"Adududuuh.... dadaku sesak Noah." Ucap Alvi meraih dada bidangnya dan melirik kearah Avril yang membalas lirikan Alvi dengan tajam.
"Sayang? Apa kau marah?" Lagi-lagi Avril mendelik.
Alvi menghela nafas panjang lalu menghampiri Avril dan mendekatkan wajahnya membuat Avril terkejut.
"Apa yang membuatmu marah sayang?" Goda Alvi menatap bola mata Avril.
"Alvi... jangan terus bersikap seperti itu. Aku tahu kau sakit. Demam mu masih belum sembuh kan? Ditambah sekarang alergimu kambuh. Jangan banyak bergerak. Atau kau akan lama untuk sembuh." Ucap Avril menatap sayu mata yang tak berpaling sedikitpun darinya.
Alvi tertegun mendengar nasehat Avril.
"Baiklah nyonya. Aku akan menurut."
__ADS_1
-bersambung