
. Syifa tersenyum menanggapi Avril yang terkejut karenanya.
"Kaulah pemiliknya Avril."
"Ini tidak lucu Syifa"
"Dan aku tidak becanda." Tegas Syifa. "Aku tidak ingin terus berada diantara kalian berdua." Lanjut Syifa membuat Aldi merasa kesal.
"Sampai saat ini aku tidak mencintai Syifa, tapi melihatnya melepas cincin pertunangan, membuatku sesak nafas." Gumam Aldi memalingkan wajahnya.
"Maaf Syifa." Lirih Aldi menunduk.
"Kau bicara sesuatu?" Tanya Avril.
"Tidak..." jawab Aldi mendongak dan tersenyum.
Alvi berjalan menghampiri kumpulan orang yang terlihat serius itu, termasuk Noah yang menyimak ketiga orang dihadapannya.
Avril terkejut dan dengan cepat menyerahkan cincin itu ketangan Aldi.
"Apa itu?" Alvi melirik tangan Aldi yang mengepal.
"Bukan apa-apa." Aldi beranjak dan menarik tangan Syifa.
"Ada apa dengan mereka?" Alvi menatap Aldi yang berlalu keluar.
"Mereka serasi kan?" Avril pun sama menatap rambut Syifa yang hilang berlalu meninggalkan ruangan.
"Senyummu tidak manis hari ini. Aku lebih suka kau tersenyum dengan suka rela, bukan karena terpaksa." Ucap Alvi menatap datar pada Avril yang menoleh padanya.
"Noah? Apa kondisi Avril baik-baik saja? Sepertinya ada yang tidak beres dengan kepalanya." Noah menoleh mendapati pertanyaan Alvi.
"Bukankah orangnya sudah sadar? Mengapa kau tak bertanya langsung padanya?" Noah melipatkan tangan didadanya.
"Jika aku bertanya padanya langsung, dia selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja." Ucap Alvi kesal.
"Siapa? Siapa bilang aku baik-baik saja?" Avril menerawang jauh kedepan. "Dadaku terasa sesak, kepalaku juga terasa sakit." Lanjut Avril menoleh dan menatap Noah.
Noah membalas tatapan Avril dan tidak langsung menjawab.
"Itu penyakit hatimu saja Avril. Jangan tanya padaku." Noah berjalan meninggalkan Avril dan Alvi.
"Bersyukurlah kau bisa sadar. Rata-rata orang yang tenggelam kebanyakan tidak selamat." Lanjut Noah terhenti didekat pintu membuat keduanya terdiam.
"terimakasih Noah." Ucap Avril.
"Tidak. Aku tidak sepenuhnya menyelamatkanmu." Avril menyernyitkan dahinya mencoba mencerna ucapan Noah.
"Aldi yang menolongmu." Ucap Alvi santai.
Avril menoleh terkejut pada Alvi. Matanya seolah bertanya mengapa harus Aldi.
"Iya. Kau tidak percaya? Tanyakan sendiri pada Aldimu itu." Alvi memalingkan wajahnya kesal.
Noah menutup pintu dan meninggalkan ruangan Avril.
. Avril terdiam, begitupun dengan Alvi.
"Alvi--"
"Mungkin kau selamat karena berciuman dengan Aldi?" Alvi menyela.
"Hah?" Avril terbelalak. "Apa maksudmu? Kapan aku--"
"Saat kau tenggelam, Aldi menciummu kan?" Alvi tak bisa menahan kesal.
"Apa-apaan orang ini? Kapan aku berciuman dengan Aldi? Aku saja baru sadar." Gumam Avril melirik tajam pada Alvi.
"Kau cemburu?" Tanya Avril tiba-tiba.
"Tentu saja. Karena aku mencintaimu." Kesal Alvi.
"Kau sangat jujur." Ucap Avril.
"Hemmm begitulah rasanya saat aku melihatmu dekat dengan perempuan lain." Lirih Avril memalingkan wajahnya.
"Apa?" Alvi menyernyitkan dahinya.
"Apa?" Avril balik bertanya dengan melirikkan bola matanya tanda menyembunyikan sesuatu.
"Hufttt mengapa aku harus jatuh cinta pada gadis sepertimu." Ucap Alvi melirik heran pada Avril.
"Itu bukan salahku." Avril menggembungkan pipinya sebelah.
"Tapi melihat kondisimu kemarin, aku benar-benar khawatir setengah mati." Alvi mengacak rambutnya.
"Dan untung saja Aldi menyelamatkanku tepat waktu kan? Jika tidak, mungkin aku sudah mati sekarang." Avril tersenyum begitu senang melirik Alvi yang mulai kesal.
"Apa kau sengaja membuatku kesal padamu?" Avril tertawa mendengar ucapan Alvi.
"Aku selalu senang melihat ekspresi kesalmu tuan..." Avril tidak henti menertawakan Alvi.
"Iya karena kau lebih senang melihatku terluka kan?" Ucap Alvi memalingkan kembali wajahnya ke sisi lain.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan agar tuan memaafkan saya?" Ucap Avril dengan nada memelas.
"Cium aku." Ucap Alvi menoleh dan menatap Avril.
"Apa?" Avril menjauhkan wajahnya.
"Jika kau tidak mau, aku yang akan menciummu." Ucap Alvi semakin dekat pada Avril.
'Plak' pipi Alvi kembali terasa panas. "Menjauh dariku brengsek." Teriak Avril.
Alvi mengusap pelan pipi yang ditampar Avril.
"Kau menamparku? Padahal saat Aldi menciummu, kau tidak menamparnya kan?" Lirih Alvi membuat Avril menganga heran.
"Mana ada orang yang pingsan bisa menampar orang. Arrgghhh--" Gumam Avril mengatupkan mulutnya.
__ADS_1
"Benar-benar gila." Ucap Avril pelan melanjutkan gumamannya.
"Apa? Kau menamparku, dan sekarang kau menyebutku gila? Kau benar-benar membenciku?" Ucap Alvi semakin kesal.
"Ap-apa? K-kau salah faham. Aku tidak membencimu." Ucap Avril membuat Alvi terdiam.
"Kau serius?"
"Ayolah Alvi... jangan seperti anak kecil... jika aku membencimu, aku tak mung--" Avril terkejut kala Alvi tiba-tiba memeluknya.
"Aku lupa mengatakannya saat kau bangun tadi." Ucap Alvi terbenam di pundak Avril.
"Apa?" Avril menyernyitkan dahinya.
"Aku sangat khawatir padamu." Namun Avril terdiam mendengar apa yang Alvi katakan.
Pintu terbuka, dan seseorang menghampiri keduanya. Alvi hanya menghela nafas berat kala berfikir jika itu adalah Noah. Mata Avril terbelalak. Namun, Alvi masih tetap memeluk Avril.
"Alvi.. lepaskan aku." Bisik Avril dengan panik
"Noah... jangan mengganggu momen orang pacaran." Ucap Alvi kesal.
"Kau ingin mati dengan cara apa Alvi?" Tiba-tiba telinganya ditarik dan Alvi merintih kesakitan.
"*-*-*-t-t- apa yang kau lakukan?" Ucap Alvi memegang tangan yang menarik telinganya.
"Justru harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan pada putriku?".
Alvi terkejut ketika mendapati ayah Avril yang menarik telinganya.
"A-a-ayah me-mert-t-tua? T-t-tadi tidak ada. kapan ayah sampai? Ayah sehat? A-aku kira Noah hehehhe" Alvi memasang senyum kikuk didepan ayah. "T-tadi Avril kedinginan ayah. J-jadi lebih baik aku peluk agar lebih hangat." Jelas Alvi meyakinkan.
"Hemmmm? Kedinginan? Tapi aku lihat putriku tidak sedang kedinginan." Ayah melirik Avril yang menatap acuh pada jendela lalu melirik pelan pada ayah.
Ayah melepaskan tangannya dari telinga Alvi. Ayah beralih memeluk Avril.
"Syukurlah nak... ayah sangat mengkhawatirkanmu."
"Aku baik-baik saja ayah..." Avril menenangkan.
Alvi tersenyum melihat pemandangan yang membuatnya iri setengah mati.
Satu tangan ayah meraih kepala Alvi dan mengusapnya pelan. "Jangan karena aku mempercayaimu, kau bisa menyentuh Avril sesukamu." Ucap ayah menepuk pundak Alvi.
"Ak-aku hanya reflek saja ayah... melihat Avril baik-baik saja, membuatku tidak bisa menahan perasaan ingin memeluknya karena kegirangan. Bukankah itu juga yang dirasakan ayah?" Ayah terdiam. Memang benar, dirinyapun tidak menahan dirinya untuk memeluk Avril, hatinya lega karena Avril baik-baik saja.
"Baiklah.. aku mengerti." Ucap ayah menatap wajah Avril yang masih pucat.
. Disisi lain, Aldi terus menarik tangan Syifa keluar dari lorong rumah sakit, Lalu berhenti dan melepaskan genggamannya.
"Apa yang kau pikirkan Syifa? Mengapa kau memberikan cincin itu pada Avril?" Tanya Aldi menatap kesal.
"Mengapa kau kesal Aldi? Bukankah ini yang kau inginkan dari awal?"
Aldi menatap Syifa.
"Jawab Aldi." Ucap Syifa.
"Pakai ini. Dan ini milikmu." Tegas Aldi menaruh cincin itu ditangan Syifa.
"Aku ingin pulang." Ucap Syifa.
Aldi terdiam sejenak mengikuti Syifa dan bergegas mengantarkan Syifa pulang. Sebelum melajukan mobilnya, Aldi menatap lekat pada pintu utama dan menyadari bahwa Baren baru saja memasuki rumah sakit itu.
--
. Baren memasuki ruangan dimana Avril berada. Dan mendapati Avril yang terduduk di ranjang dan Alvi yang bersandar di sofa.
. "Avrilllll......" teriak Baren ketika membuka pintu.
"Untung tidak ada kak Galih dan Om Andre" Bagas menghela nafas lega.
"Kakakku sedang sibuk. Dan ayahku baru saja kembali ke kantor." Jawab Avril.
"Telingaku sakit jika ada kalian." Ucap Alvi kesal.
"Huuuu..." Bagas mendelik ketika melirik Alvi.
"Kau baik-baik saja?" Reno menyentuh dahi Avril. Dan Avril mengangguk menanggapi pertanyaan Reno.
"Kau tahu? Aku benar-benar ketakutan saat mendengar kabarmu." Ucap Reno duduk disamping Avril.
"Ahhhh tapi aku sudah tidak apa-apa. Dan besok sudah bisa pulang." Avril tersenyum meyakinkan kekhawatiran Reno.
"Syukurlah." Reno membalas senyuman Avril.
"Meskipun aku tak suka padamu, tapi aku berterimakasih sudah menjaga Avril." Ucap Bagas tanpa menoleh pada Alvi.
"Itu sudah tugasku." Jawab Alvi bersandar di sofa.
"Iya. Karena kau bodyguardnya sekarang." Ucap Bagas membuat Alvi terkekeh.
"Dan aku akan menjaga Avril dari gangguan kalian." Ucap Alvi puas.
"Kau pikir aku dan Reno itu setan?" Bagas menatap tajam pada Alvi.
"Menurutmu?" Balas Alvi.
"Apa kalian tidak bisa diam?" Reno melirik keduanya bergantian.
"Dia yang menyebalkan." Bagas menunjuk kearah Alvi.
"Apa? Mengapa menyalahkanku." Alvi ternganga.
"Memang kau yang salah. Apa kau kesal karena aku menolakmu untuk kencan waktu itu? Sampai kau selalu bersikap menyebalkan kepadaku." Ucap Bagas membuat Alvi menatap heran lalu mengatupkan mulutnya.
"Kau benar-benar sudah gila. Aku mengajak Avril, bukan mengajakmu sialan. Aku masih normal tidak seperti kau." Alvi memijit dahinya kesal.
"Hei... kau mengajakku ribut?" Bagas berniat menghampiri Alvi namun Reno dengan sigap menarik lengan Bagas.
__ADS_1
"Hentikan Bagas." Tegas Reno.
"Harusnya kau bersikap kalem seperti temanmu itu Bagas." Ucap alvi santai.
Bagas hanya melirik lalu memalingkan wajahnya.
. Pintu terbuka dan terlihat Ray masuk menyapa Avril.
"Ray... kemana saja kau? Aku merindukanmu." Ucap Avril antusias.
"Ahh sa-saya....." Ray menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu terkejut melirik Alvi. "Tu-tuan."
"Kupotong gajimu Ray." Ucap Alvi datar.
"Ehhhhh kenapa tiba-tiba?" Avril tertawa kecil melihat ekspresi Ray yang selalu teraniaya oleh Alvi.
. Dibelakang Ray muncul seorang gadis seumuran Nadia.
Avril menyernyitkan dahinya menatap gadis itu.
"Ahhh dia tunangan saya nona." Ray melirik pada Tania lalu menoleh kembali pada Avril.
"Ahhh aku cemburu Ray..." ucap Avril menahan dagu dengan kedua tangannya.
Tania hanya tersenyum melihat tingkah Avril yang berniat membuat Alvi kesal. Karena Tania tahu, Avril tidak serius mengucapkannya dan sangat suka melihat tingkah Alvi pada Ray ketika kesal.
"Kakak tidak cemburu aku berkata begitu?" Avril terkejut dan menatap Tania.
"Tentu saja tidak nona." Ucap Tania membuat Avril tercengang.
"Apa kakak tidak mencintai Ray?" Avril memiringkan kepalanya.
"Mencintaipun, saya belum sepenuhnya memiliki hak untuk melarangnya dekat dengan orang lain." Jawab Tania tersenyum.
. Avril menoleh pada Alvi yang menatap tajam pada Ray.
Rasanya ingin tertawa, namun hatinya merasa ada yang tak bisa diungkapkannya.
"Apa aku terlalu egois. Alvi bukan siapa-siapa, tapi mengapa aku selalu kesal jika dia dekat dengan perempuan lain. Apalagi dengan kak Amel." Gumam Avril masih menatap Alvi dan tak sadar kini Alvipun sama menatap dirinya.
"Apa aku terlalu tampan sampai kau menatapku seperti itu?" Tanya Alvi angkuh pada Avril.
"Dihhhh...." ucap Avril dan Baren bersamaan.
. Mama Dewi datang menarik perhatian semua yang ada disana.
"Aldi sudah pulang tante... aku melihatnya dengan Syifa." Ucap Bagas polos. Mama Dewi tersenyum menanggapi Bagas.
Mama Dewi berjalan menghampiri Avril lalu memeluk dengan erat. Avril terlihat terkejut lalu melirik Alvi yang menatapnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja nak."
Seketika Avril teringat pada Amel.
"Lalu, bagaimana keadaan kak Amel? Apa dia--"
"Untuk apa kau menanyakan orang yang sudah jelas ingin mencelakaimu." Alvi menyela ucapan Avril.
"Kau benar Alvi. Harusnya Avril tidak menanyakan Amel." Mama melepas pelukannya, lalu membelai lembut rambut Avril.
"Maafkan kedua anak mama." Ucap mama menatap hangat pada Avril. Avril hanya mengangguk, kemudian tersenyum pada Mama.
Alvi berlalu tanpa berbicara apapun. Ekspresinya terlihat kesal ketika menutup pintu dengan sedikit kasar.
Avril terdiam kemudian melirik Reno seperti memberi isyarat agar Reno memastikan bahwa Alvi tidak macam-macam, dan Reno mengangguk lalu pergi menyusul Alvi.
"Alvi..." Alvi menoleh kebelakang.
"Kau mengikutiku?" Alvi terheran.
"Kau mau kemana? Mengapa kau tiba-tiba pergi seperti itu." Reno berjalan mendekati Alvi.
"Aku mau--"
"Ayolah Alvi jangan bertindak macam-macam. Aku tak ingin melihat Avril bersedih karena kehilanganmu."
"Apa?" Alvi semakin tak mengerti.
"aku mohon. Jangan gegabah. Pikirkan masa depanmu."
"Aku mau ketoilet Renoo..." geram Alvi menahan kesal.
"Hah? Oh..." Reno melongo, lalu salah tingkah dan kembali kedalam ruangan.
. Reno dengan kesal menutup pintu.
"Apa yang terjadi?" Avril menatap Reno heran.
"Diam kau Avril. Sebenarnya apa yang kau khawatirkan?" Ucap Reno semakin kesal. Avril terlihat semakin heran.
"Hei komandan junior, mengapa kau sangat kesal?" Tanya Bagas melirik konyol.
"Avril bersikap seolah Alvi akan bunuh diri, ternyata Alvi hanya pergi ke toilet." Delik Reno pada Avril.
Suasana hening beberapa saat, dan akhirnya Avril dan Bagas tertawa mendengar apa yang Reno ucapkan.
"Apanya yang lucu?" Reno menatap tajam pada Avril.
"Tidak... aku hanya ingin tertawa saja." Ucap Avril perlahan menghentikan tawanya.
"Tertawalah sepuasmu jendral" Reno lalu mendelik pada Bagas yang tak henti tertawa.
Avril bangkit dari ranjangnya, dan membawa kantung infus berjalan menuju pintu.
"Mau kemana Avril?" Tanya mama menahan Avril.
"Aku tidak percaya pada Reno ma... jadi aku ingin memastikan sendiri bahwa Alvi tidak akan melakukan apa-apa."
"Ayolah Avril... Alvi tidak apa-apa. Kau tidak percaya padaku?" Namun Avril tidak mendengar apa yang Reno katakan. Hatinya terus terdorong ingin memastikan sendiri.
__ADS_1
Dan benar saja, saat Avril membuka pintu, Avril mendapati Amel yang sedang menangis sambil menggenggam tangan Alvi. Lalu Alvi menepuk pipi Amel dan membalas genggamannya.
-bersambung