
. "Al... i-ini.."
"Tak seperti yang aku lihat? Kau akan berkata seperti itu kan sayang?" Alvi menyela sambil melemparkan senyum pada Avril yang kini mulai berkaca-kaca.
"Alvi... jangan salah faham. Aku dan Aldi tidak..." Avril menggantungkan kata-katanya, merasa bahwa menjelaskan pun akan sia-sia. Alvi pasti akan tetap meninggalkannya.
"Kenapa tak dilanjutkan? Bukankah kau mau menjelaskan?" Alvi mengelus kepala Avril kemudian membelai wajahnya. Perlakuan ini yang Avril benci. Alvi yang tengah marah, namun masih memperlakukan Avril dengan manis.
"Alvi... aku tak melakukan apapun. Aku hanya mengucapkan salam perpisahan saja dengannya." Ucap Aldi yang melewati Alvi dengan santai.
"Cih... apa harus sampai berpelukan seperti itu?" Tanya Alvi dengan dingin menatap datar mata Avril yang sayu.
Aldi berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang masih dalam kesalahpahaman karena dirinya.
Avril masih menarik jemari Alvi dan tak ingin melepaskannya. Seolah Avril tahu bahwa Alvi akan benar-benar meninggalkannya.
"Apa setelah 3 hari aku tak mengabarimu, kau lelah menunggu kabarku dan kembali pada masa lalumu?"
"Alvi tak seperti itu...."
"Lalu seperti apa? Aku harus memaklumi apa lagi? Apa kau harus menyaksikanku berpelukan dengan wanita lain agar kau merasakan bagaimana di posisiku?"
"Alvi...." rengek Avril membiarkan air matanya jatuh berderai.
"Kau masih ingat dengan yang aku katakan bukan?" Avril menggeleng menepis ingatan tentang Alvi yang mengatakan bahwa dirinya akan menyerah jika hatinya kembali hancur karena Avril.
"Maaf Avril. Aku tak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu." Ucap Alvi memaksa Avril untuk melepaskan genggamannya.
"Tapi aku hanya bahagia denganmu." Teriak Avril yang memeluk Alvi dengan erat. Tangisnya pecah seperti seorang anak yang tak ingin ditinggalkan oleh ibunya.
"Maaf..." Alvi sedikit mendorong tubuh Avril lalu beranjak dari hadapan Avril yang masih menangis.
Avril menarik tangan Alvi sekali lagi, namun kembali Alvi melepas tangannya dan membiarkan Avril menangis terduduk dilantai.
"Jangan menghalangiku Avril. Kau sendiri yang menginginkan kepergianku." Sebenarnya Alvi tak tega meninggalkan Avril dengan situasi seperti ini. Namun niat Alvi semakin bulat untuk meninggalkan kota ini. Semula ia masih ragu dengan keputusannya untuk pergi ke London lagi dalam waktu yang lama meninggalkan Avril. Alvi berniat tak akan pulang sebelum Avril lulus. Karena saat itu, saat dimana Avril lulus kuliah, Alvi akan pulang dan dengan resmi akan menikahi Avril.
Tapi sayang, Alvi menyaksikan kembali apa yang tak pernah ingin ia saksikan. Dengan berat hati, Alvi meninggalkan kediaman Avril dengan air mata yang ikut berderai.
"Apa keputusanku benar ma? Aku meninggalkan perempuan yang kucintai sepenuh hati, namun dia tak mencintaiku." Gumam Alvi dengan pikiran berkecamuk.
Avril terus menangis dipangkuan bibi. Menatap kepergian Alvi yang sangat ia takutkan.
"Bi... aku tak mengkhianati Alvi." Lirih Avril dengan masih terisak memeluk bibi.
"Bibi tahu non. Sudah... non jangan nangis lagi.. bibi yakin tuan Alvi tak akan meninggalkan nona. Mungkin tuan hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri." Ucap bibi tak henti menenangkan Avril.
Sampai Andre pulang menjelang malam, Avril masih terisak di kamarnya. Bibi memberitahu Andre atas apa yang terjadi tadi siang.
Andre berjalan menaiki tangga mencoba melihat Avril. Dibukanya pintu kamar sang putri, Andre mendapati Avril yang terisak di samping ranjangnya.
Andre meraih Avril lalu memeluk dan menenangkan Avril yang kini semakin keras terisak.
"Ayah..." lirih Avril membuat Andre ikut bersedih. Andre tahu apa yang Alvi lakukan selama berhari-hari dengan tanpa mengabari Avril.
"Sudah... ayah disini."
. Esok harinya, Avril berinisiatif datang ke rumah Alvi sendiri.
"Tuan sudah berangkat ke kantor non." Ucap Siska dengan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah Sis... terimakasih." Avril berbalik dengan rasa kecewa yang teramat. Avril menyeka air matanya yang kembali mengembun di kelopak matanya. Dirinya heran mengapa tak henti-hentinya terus menangis.
Avril memasuki mobil, kemudian menatap pada taman milik Maya di balkon. Tempat kecil yang indah dimana Alvi melamarnya untuk menjadi istrinya. Tapi sekarang, ingin bertemu dengannya saja Avril sudah kesulitan. Avril kembali berlalu meninggalkan kediaman Alvi menuju perusahaan D.
__ADS_1
Alvi menampakkan dirinya di ambang pintu dan menatap kepergian sang pujaan hati yang teramat ia cintai.
"Tuan... apa tak berlebihan? Nona sangat ingin bertemu dengan tuan." Ucap Siska memberanikan diri.
"Tidak Sis. Aku ingin melihat sampai mana usaha Avril mencari keberadaanku."
"Tapi tuan..." Siska tak melanjutkan dan menggantungkan kata-katanya ketika melihat setetes embun mengalir pelan dipipi Alvi.
"Bagaimana pun, tuan juga sangat mencintai nona."
Sampai di perusahaan D, lagi-lagi Avril tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Mereka mengatakan bahwa hari ini Alvi tak datang ke kantor. Bahkan Ray juga ikut tak masuk. Kemudian Avril kembali melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan D. Avril menyusuri jalanan berharap sebuah kebetulan datang padanya kembali mempertemukannya dengan Alvi. Namun, sampai lelah Avril mencari, tak juga menemukan sehelai rambut pun milik Alvi. Dan seharian itu juga, Avril sampai tak ingat untuk sekedar makan.
Avril turun dari mobil ketika sampai di rumah. Langkahnya sempoyongan, kepalanya pusing, dan pandangan matanya kabur. Avril menyadari ada sebuah mobil yang berhenti dibelakangnya, namun enggan menoleh untuk sekedar memastikan siapa yang datang. Avril menopang tubuhnya pada mobil agar tak jatuh. Namun kepalanya terasa berat membuat Avril kehilangan kesadarannya.
Dengan cepat Alvi meraih Avril agar tak terjatuh.
"Kau sampai sekeras ini mencariku." Ucap Alvi pelan menatap wajah Avril yang sedikit berbeda. Terlihat sedikit mata panda yang Alvi yakini bahwa Avril tak henti-henti menangis.
"Maafkan aku Avril..." lirih Alvi tak kuasa melihat Avril yang begitu lelah mencarinya.
Bibi terkejut melihat Avril yang berada dipangkuan Alvi.
"No-nona..." pekik bibi setengah berlari menghampiri Alvi. Alvi menidurkan Avril di sofa dan dirinya dengan lembut mengusap kepala dan rambutnya.
"Bi.. dahinya hangat. Sepertinya Avril akan sakit." Ucap Alvi menoleh pada bibi yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Tuan dari mana saja? Nona tak henti-hentinya mencari tuan. Semalaman tak tidur dan hanya menangis di kamarnya. Saya dan Tuan besar pun tak bisa membuat nona tenang." Alvi diam tak berniat menjawab pertanyaan bibi. Alvi mengecup dahi Avril dengan rasa bersalah kemudian beranjak dan menghampiri bibi.
"Jika bangun, langsung beri obat agar demamnya tak semakin parah. Aku yakin dia pasti belum makan. Dan jika dia tak tahu aku datang, maka bibi jangan memberitahunya. Tapi jika dia tahu aku datang, sampaikan maaf ku padanya bi." Ucap Alvi melangkah melewati bibi yang masih termangu.
"Tuan mau kemana lagi? Bukankah tuan melihat sendiri bagaimana usaha nona mencari tuan?" Namun Alvi enggan menjawab pertanyaan bibi dan memilih berlalu meninggalkan kediaman Avril.
Bibi menatap nanar kepergian Alvi yang dirasanya sangat menyesakkan. Mengingat betapa hangatnya Alvi saat di rumah dan seperti sudah menjadi bagian dari keluarga Andre. Tak lama, Avril membuka mata dengan menyernyit. Kepalanya benar-benar pusing sekarang. Avril menyadari dirinya berada di ruang tengah. Seingatnya, sebelum pingsan Avril masih diluar.
"Bi. Siapa yang membawaku kesini?" Tanya Avril yang masih heran. Bibi menghela nafas dengan pertanyaan Avril. Bibi ingat pesan dari Alvi. Avril tak menyadari bahwa Alvi datang menemuinya.
"Alvi." Avril menoleh lalu menatap tajam pada bibi. "Alvi kesini kan bi? Parfum. Parfumnya, iya ini parfum Alvi. Bi... dimana Alvi bi?" Avril beranjak seketika membuat kepalanya semakin berputar. Avril menopang tubuhnya kembali, dan berlari kecil menuju pintu. Avril meraih gagang pintu dan menjadikannya sebagai pegangan agar dirinya tak ambruk.
"Sial.. kepalaku pusing" gumam Avril memijit dahinya sambil terus memaksa membuka mata.
"Non... nona tak boleh pergi. Nona sedang demam." Ucap bibi yang menyusul Avril.
"Bibi kenapa membiarkan Alvi pergi? Bibi tahu aku mencarinya kemana-mana. Tapi Alvi datang bibi tak membangunkanku." Rengek Avril yang perlahan terduduk di dekat pintu. Menatap pada gerbang utama berharap Alvi akan kembali menemuinya saat Avril sadar.
Avril beranjak kembali dan berjalan sempoyongan kearah mobil.
"Nona mau kemana? Nona sedang sakit. Bahaya jika nona mengemudi." Bibi meraih tangan Avril dengan wajah cemasnya.
"Bi... aku ingin bertemu dengan Alvi." Rengek Avril yang kembali memijit dahinya.
"Tapi non..." bibi tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Avril. Semula Avril tersenyum namun melihat siapa yang keluar dari mobil, Avril kembali menarik senyumnya. Noah menghampiri lalu meraih dahi Avril yang kian bertambah panas. Kemudian Noah menepuk dahi Avril sambil melemparkan tatapan sinis padanya.
"Kau mau kemana saat kondisimu seperti ini?" Tanya Noah.
"Dan siapa yang menyuruhmu datang kesini? Alvi yang menyuruhmu kan? Katakan Noah. Dimana Alvi?" Noah menatap nanar pada Avril yang mencengkram kerah bajunya.
"Avril tenangkan dirimu." Noah meraih bahu Avril yang lagi-lagi terisak keras.
"Kau tahu dimana Alvi kan? Noah... aku ingin bertemu dengannya. Biarkan aku pergi."
"Tidak Avril. Kondisimu sangat buruk. Aku tak ingin jika terjadi apa-apa padamu."
"Lalu aku harus apa Noah?" Avril kembali terduduk di samping mobil.
__ADS_1
"Non... jangan seperti ini..." bibi meraih Avril dengan masih berusaha menenangkan.
"Apa yang dipikirkan Alvi? Dia bilang Avril sudah tak mencintainya, tapi ini apa? Ishhh dia juga datang memintaku memeriksa kondisi Avril." Gumam Noah berdecih kesal memalingkan wajahnya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti tepat didekat Avril terduduk. Noah mendelik ketika Galih turun dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa dia?" Tanya Galih saat mendapati Avril yang terduduk bersandar pada pintu dengan masih berderai air mata. Matanya sembab menandakan bahwa Avril sudah menangis dalam waktu yang lama.
Galih membawa Avril kedalam dengan menggendongnya. Nadia terkejut saat meraih wajah Avril. Suhu tubuhnya sangat panas.
"Noah cepat tangani Avril. Kenapa kau diam saja?" Nadia menarik jas Noah sampai kedalam rumah.
"Kak. Itu penyakit cinta. Jika Alvi datang, pasti dia sembuh." Cetus Noah dengan kesal.
"Kenapa kau kesal?" Nadia melirik sinis wajah Noah yang mengherankan.
Galih hanya melirik dan memperhatikan Noah dari ekor matanya. Galih sempat berpikir Alvi harusnya bisa menjaga Avril seperti yang dijanjikannya. Namun sekarang, Alvi malah meninggalkan Avril tanpa memberinya sebuah alasan yang logis.
Galih membawa Avril sampai dikamar Galih. Karena untuk ke lantai 2, mungkin Galih enggan menaiki tangganya.
"Sekarang tangani Avril." Ucap Galih dengan nada dingin. Dengan tanpa merespon, Noah memeriksa kondisi Avril yang kini terlelap karena tubuhnya yang lemah. Avril tak pingsan, namun hanya tertidur saja.
"Berapa hari anak ini tak makan?" Tanya Noah yang entah pada siapa.
"Kak. Ini obat penurun panas, sakit kepala, dan vitamin untuk menambah nafsu makan." Noah memberikan beberapa resep pada Galih setelah selesai memeriksa Avril.
"Kalau begitu aku pamit kak. Kabari saja jika ada apa-apa." Ucap Noah kemudian berlalu pergi dari kediaman Avril.
Galih menatap datar pada Avril yang masih tertidur lelap.
"Nad.. apa Alvi menemuimu?" Nadia menggeleng dan menunduk lesu di samping Galih.
Hari berganti, namun Galih tak bisa menemukan kabar Alvi yang tiba-tiba menghilang dari hadapan keluarganya. Avril masih terdiam di kamarnya dan sesekali menatap keluar dengan tatapan sendu.
Galih menghela nafas berat melihat sang adik yang sangat mengkhawatirkan. Sampai Galih menerima sebuah panggilan telpon dengan pemilik nama seseorang yang sangat ia pikirkan sekarang.
"Kemana saja kau Alvi?" Tanya Galih tanpa perlu menyapa lebih dulu ketika menggeser tombol dilayar ponselnya.
"Galih... maafkan aku. Aku tak bisa menemui adikmu. Sampaikan kata maafku padanya."
"Mudah sekali kau bicara maaf setelah kau membuat adikku sakit demam dan selalu menyendiri. Katakan kau dimana sekarang." Suara Galih kian meninggi.
"Aku di bandara. Satu jam lagi aku--"
"Kau mau kemana sialan? Setelah menghilang dari adikku dan tak memberi kabar, sekarang kau meneleponku dan bilang bahwa kau di bandara. Apa kau gila Alvi. Jika dari awal kau tak serius dengan adikku, harusnya kau tak meyakinkan keluargaku atas janjimu."
"Apa? Alvi di bandara?" Galih terkejut mendapati Avril yang kini di belakangnya. Galih lalu memutus sambungan telponnya.
"Avril kau..." Galih terbata melihat tatapan tajam dari sang adik.
"Kakak tahu Alvi dimana? Tapi selama ini kakak diam saja. Kakak senang melihatku seperti ini?" Teriak Avril semakin putus asa.
"Bukan begitu Avril..." Avril berlalu tanpa menghiraukan Galih.
"Mau kemana Avril?" Tanya Galih dengan lantang. Suaranya menciutkan nyali Avril seketika. Avril terhenti namun tak membalikan tubuhnya.
"Untuk apa mengejar yang sudah pergi?"
"Terserah kakak. Aku tetap akan menyusul Alvi." Ucap Avril berlalu keluar rumah dan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Apa dia gila? Adik siapa kau Avril?" Decih Galih yang berlalu menyusul Avril.
Sampai dibandara, Avril menyusuri setiap sudut tempat yang mungkin ada Alvi, namun meskipun sudah mencari kesana-kemari Avril tak menemukan tanda-tanda keberadaan Alvi. Avril terduduk putus asa disebuah kursi tunggu dan menutup wajahnya.
__ADS_1
"Mau tissue?" Avril mendongak mengenali pemilik suara yang menyodorkan tissue kearahnya.
-bersambung.