
. Avril berlari menuju pintu.
"Eh... mau kemana sayang?" Tanya Alvi yang menyusul Avril.
"Ray..." teriak Avril berharap Ray mendengar.
"Apa aku seperti hantu?" Tanya Alvi saat menarik Avril kembali masuk kamar.
"Kau mau apa?" Lirih Avril dengan rasa takut yang menyelimutinya.
"Tidurlah. Jangan berjalan-jalan di tengah malam. Nanti ada hantu yang menculikmu." Ucap Alvi membaringkan Avril dan menyelimutinya sampai pinggang. Wajah takutnya kian menghilang saat Alvi mengecup keningnya sebelum pergi.
"Oh aku lupa. Tadi Dina mengantarkan itu. Jangan lupa di minum." Alvi menoleh sejenak dan menunjuk ke arah meja.
"Kau mau kemana?"
"Ke ruang kerja. Ray menungguku."
"Bohong."
"Kenapa? Kau tak mau aku tinggalkan?" Alvi kembali melemparkan senyum liciknya.
"Menjauh dariku sialan." Avril menggeser beralih ke sisi yang lain dengan menutup tubuhnya dengan selimut. Alvi hanya tertawa sambil berjalan menjauh.
"Dasar gila." Cetus Avril membuat Alvi terhenti dan menoleh padanya.
"Ohhhh kau ya...." Alvi berjalan kembali menghampiri Avril.
"Eh... mengapa kau balik lagi? Sudah pergi sana! Siuh siuh..." Avril mengibaskan tangannya dan semakin ketakutan saat Alvi terhenti didekatnya.
"Kau mau aku membatalkan urusanku dengan Ray?" Bisik Alvi tepat ditelinga Avril.
"Mau aku hajar?" Alvi kembali tertawa dan berlalu meninggalkan Avril. Kali ini Avril tak berani memaki Alvi dan membiarkan Alvi benar-benar keluar dari kamarnya.
"Benar-benar gila." Cetus Avril lagi setelah memastikan Alvi tak terlihat.
"Apa?" Alvi bersandar diambang pintu.
"Pergi dari kamarku sialan. Bisa-bisa aku mimpi buruk malam ini." Avril mendelik melihat Alvi yang begitu puas menjahilinya.
"Kamarmu? Bukannya kamar kita? Setelah selesai urusanku dengan Ray, aku akan kembali lagi dan aku pastikan kau bermimpi indah malam ini." Senyum licik yang lagi-lagi Alvi perlihatkan membuat Avril kesal sendiri.
. Setelah memastikan Alvi sudah berlalu, Avril beranjak dan berlalu menutup pintu. Lalu segera menelpon Aldi. Avril gelisah karena sudah 3 kali Aldi tak mengangkat telponnya.
Avril lalu menelpon Bagas.
"Apa Avil?" Suara berat yang terdengar, bisa dipastikan bahwa Bagas sudah tidur.
"Bagas... Apa Aldi ke rumahmu?"
"Hmmm? Alvi? Aku belum bertemu dengannya. Bukankah dia di London?"
"Aldi Bagas Aldiiii...." Avril merasa gemas dan ingin mencubit Bagas saat ini.
"Hah? Aldi? Kenapa dengan Aldi?"
"Hmphhh sudahlah lupakan. Maaf mengganggu tidurmu." Avril menutup telponnya dan menghela nafas berat.
Bagas menatap ponselnya dengan heran.
"Aneh. Lanjut tidur ahhh."
"Hallo Vil?"
"Dih.. sejak kapan?"
"Apanya?"
"Panggilannya."
"Sejak dulu. Tapi Aldi selalu memarahiku jika aku memanggilmu seperti itu."
"Ohhhh.... aku lupa."
"Ada apa? Kau merindukanku?"
"Emm Ren. Apa Aldi ke rumahmu?"
"Aldi? Tidak. Dia tidak ke rumahku. Kenapa?"
"Tadi Aldi ke rumah Alvi, dan Alvi salah faham karena melihatku dan Aldi terjatuh."
"Terjatuh?"
"Emmm... kau ingat saat aku jatuh di kampus dengan posisiku menimpa Aldi?"
"Heemmmm... ohhh ya ya aku ingat. Terus?"
"Nah.. seperti itu."
"Apanya?"
"Jatuhnya.... dan Alvi salah faham."
"Ya jelas Alvi salah faham. Lagi pula kenapa kau pacaran dengan Aldi di rumah Alvi?"
"Aku tidak pacaran sialan. Aku saja tidak tahu kenapa Aldi ke sini."
"Avil... sebaiknya kau menjauhi Aldi. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Kalian ini kenapa? Tadi Alvi yang sudah jelas-jelas cemburu dan menyuruhku menjauhi Aldi. Dan sekarang kau juga. Apa memang benar om Adam yang ada dibalik semua kejadian ini?"
"Alvi sudah memberitahumu?"
"Ren ini tidak benar kan? Tidak mungkin--"
"Mungkin saja. Dan kita akan tahu alasannya saat ayah sudah cukup mengumpulkan bukti, lalu menangkap om Adam."
"Tapi Ren..."
__ADS_1
"Sudahlah Vil... aku tahu kau tak percaya. Aku juga tak percaya. Tapi aku mendengar kesaksian dari orang yang menggores dahimu itu. Dan jika tak ada siapapun, mungkin dia akan mati karena habis dipukuli Alvi."
"Dia memakai kekerasan lagi?" Lirih Avril.
"Iya. Dan kau tahu? Itu karena orang itu menyakitimu. Jika saat itu kau tak terluka, Alvi tak akan memukulinya."
"Dia memang gila." Avril menggeleng dengan memijit dahinya.
"Ya sudah.. aku tutup oke. Maaf mengganggu mu." Avril menutup panggilan telponnya lalu kembali menghubungi Aldi. Dan kali ini Aldi mengangkat panggilan dari Avril.
"Kau dari mana saja Al?"
"Maaf Avil.. ponselku tertinggal di mobil."
"Kau baik-baik saja? Apa Alvi menghajarmu juga?"
"Tak apa Avil.. hanya lebam sedikit. Alvi tak terlalu keras memukulku."
"Tapi tetap saja aku khawatir."
Avril terkejut saat mendengar pintu tertutup. Seingatnya pintu sudah tertutup sejak tadi. Avril meraih dan membuka pintu. Terlihat Alvi yang bersandar di samping pintu. Dan seketika Avril mematikan ponselnya.
"Al-Alvi... se-sejak kapan? Bu-bukankah kau--"
"Aku menyuruh Ray pulang. Sudah malam. Ini sudah lewat jam kerjanya. Ku pikir kau sudah tidur." Alvi tersenyum menatap Avril.
"Alvi..." Avril meraih tangan Alvi dan menggenggamnya kuat.
"Aku membuat kesalahan lagi." Ucap Avril menunduk.
"Sudahlah. Lebih baik kau tidur. Ini sudah larut malam."
"Alvi...."
"Apa lagi?"
"Maaf lagi."
"Aku maafkan." Lagi-lagi Alvi melempar senyumnya.
"Itupun jika pecahan perasaanku bisa kembali utuh." Lanjut Alvi dengan nada pelan sambil perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Avril. Avril menyadari bahwa Alvi sudah lelah dengan alasannya dan permintaan maaf darinya. Alvi memang baik, tapi bukan berarti Avril bisa seenaknya menyakiti hati Alvi.
"Kau marah?" Tanya Avril menghentikan langkah Alvi.
"Kau harus istirahat. Besok masuk kerja kan?"
"Bisakah kau menemaniku lagi. Sebentar saja. Aku tak bisa tidur." Avril menarik ujung baju Alvi. Alvi semula menyernyit dan langsung mengangguk menemani Avril. Alvi duduk di sofa dan membiarkan Avril tertidur, lalu setelah itu dia bisa pergi ke kamarnya.
Alvi terheran saat Avril ikut duduk di sofa dengan membawa selimut.
"Kau mau apa?"
"Memastikan kau tak pergi."
"Aku tak akan pergi. Sana tidur. Aku akan disini menjagamu."
"Kau marah kan?"
"Bohong."
"Aku serius." Avril menunduk dengan wajah merasa bersalah.
"Aku tahu mungkin terlalu sering aku meminta maaf. Dan mengulangi kesalahan ku lagi. Tapi setidaknya aku berharap kau tak marah dengan permintaan maafku."
Alvi kembali mendekap Avril dengan hangat.
"Gadis bodoh." Ucap Alvi mengusap kepala Avril dengan lembut.
Lama Avril bersandar didekapan Alvi, Alvi menyadari bahwa Avril sudah terlelap. Alvi tersenyum lalu ikut menyandarkan kepalanya di kepala Avril.
"Kau sampai berusaha keras membujukku untuk tak marah." Gumam Alvi menarik selimut sampai pundak Avril.
Alvi membawa Avril ke tempat tidur dan menyelimutinya kembali.
"Sebenarnya kau mencintai siapa?" Lirih Alvi menatap Avril yang terlelap. Kemudian Alvi berlalu keluar dari kamar Avril dan menutup pintu dengan pelan.
Alvi berjalan menuju taman milik Maya di balkon depan. Berbaring di sofa dan menatap beberapa bunga anggrek yang bermekaran berbagai warna.
"Apa papa dan mama tenang disana? Rasanya kalian terlalu terburu-buru meninggalkan Alvi sendiri. Alvi masih membutuhkan arahan papa. Alvi juga masih membutuhkan dukungan dan nasehat mama. Larangan mama, marah mama, senyum mama. Alvi rindu papa dan mama saat ini. Dan juga.. apa papa pernah ada di posisi Alvi saat mengejar cinta mama? Begitu rumit. Padahal hanya perihal perempuan. Mengapa begitu sulit untuk Alvi. Dia gadis baik, cantik, dan mama pasti menyukainya. Mama tahu? Mama adalah mertua yang beruntung mendapat menantu seperti Avril. Dan papa juga beruntung mendapat besan baik seperti ayah Andre. Tapi tidak dengan anak sulungnya. Dia menyebalkan pa... dan aku yakin papa juga tahu bagaimana Galih. Dia sangat menyebalkan ketika denganku." Gumam Alvi yang tanpa sadar air matanya sudah bercucuran.
Alvi beranjak dari tempatnya kemudian berlalu ke kamarnya. Siska yang tak sengaja melihat Alvi, merasa bersalah atas semua yang sudah ia perbuat. Meskipun itu tidak sengaja.
Alvi menoleh pada Siska yang melamun di lantai bawah.
"Siska sedang apa? belum tidur?" Tanya Alvi dari lantai atas.
"Saya kebetulan lewat tuan. Mengambil air minum."
"Ohh..." Alvi melanjutkan langkahnya.
"Em.. Tuan." Panggil Siska dengan ragu.
"Ya.. ada apa?"
"Anu... sa-saya ingin bicara sebentar."
Alvi menyernyit, namun meski begitu Alvi tetap menghampiri Siska.
"Kau mau cuti?" Siska menggeleng.
"Bu-bukan tuan."
"Terus?"
"Itu... anu.... emmm..."
"Jika berhenti kerja, jangan ya.. saya lihat kamu yang sangat dekat dengan Avril."
"Bukan itu juga tuan."
__ADS_1
"Lah... terus?"
"Sa-saya ingin meminta maaf karena kejadian tadi. I-itu karena kesalahan saya. Dan tuan jangan menyalahkan nona. Saya berniat memisahkan nona dari temannya, tapi malah itu yang terjadi." Siska menunduk takut jika Alvi akan memarahinya.
"Tak apa Siska. Melihat Avril mati-matian ingin menjelaskan yang sebenarnya saja, aku sudah tahu bahwa dia tidak sepenuhnya bersalah. Aku yang salah faham." Ucap Alvi dengan tenang. Siska mendongak dengan wajah tidak percaya.
"Eh? Tuan tidak marah?"
"Tidak.. berani mengakui kesalahan saja sudah cukup bagiku. Selama itu tidak membahayakan keselamatan Avril."
"Terima kasih tuan." Alvi mengangguk kemudian berlalu menuju kamarnya.
. Pagi harinya, Avril bangun dan menyadari bahwa dirinya sudah di tempat tidur. Alvi meninggalkannya? Dia benar-benar marah? Pertanyaan itu mulai bermunculan.
Avril berlalu ke kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi, Avril terkejut mendapati Alvi yang tengah duduk di ujung ranjang sambil merapikan lengan kemejanya.
"Belum ganti pakaian?" Tanya Alvi menoleh pada Avril.
"I-ini ma-mau ambil." Jawab Avril terbata sambil terus menghimpit ke tembok.
Avril membuka lemari dan mengambil kemeja putih dan celana hitamnya. Semua kebutuhan Avril sudah tersedia dikamar ini. Dari alat mandi, tidur, make up, skin care, dan semua kebutuhan lainnya.
"Al.. pakai jeans tak apa kan?" Tanya Avril setengah berteriak tanpa menoleh pada Alvi.
"Pakai apa saja boleh. Mau pakai ini saja juga boleh." Alvi memeluk Avril dari belakang membuat Avril terkejut lalu berbalik menatap Alvi.
"Kau pikir aku mau apa hanya pakai jubah mandi ke kantor?"
"Siapa bilang ke kantor? Kau temani aku disini. Sama kerja juga kan?" Dan 'plak' suara tamparan sangat nyaring terdengar di ruangan.
"Belum sah." Ucap Avril kemudian berlari menuju kamar ganti.
"Sah kan saja sekarang." Teriak Alvi.
"Kau gila." Avril tak kalah berteriak.
"Sudah selesai?" Tanya Alvi saat Avril baru keluar dengan pakaian magangnya.
"Kau belum pakai dasi?" Tanya Avril menyernyit saat menyadari ketika dasi Alvi masih dibiarkan tergeletak di tempat tidur.
"Pakaikan!" Pinta Alvi sedikit manja. Avril menghela nafas malas dan kemudian menghampiri Alvi.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku suruh Dina saja."
"Ohh... ya sudah sana." Delik Avril yang langsung berjalan menuju meja rias dengan sedikit menghentakkan langkahnya.
Alvi tersenyum saat Avril merias wajahnya dengan cemberut.
"Kau marah?" Tanya Alvi yang merangkulnya dari belakang kemudian mengecup pipinya.
"Tidak" jawab Avril dengan tetap fokus pada cermin.
"Harusnya kau tak memakai semua ini." Ucap Alvi terdengar kesal.
"Kenapa?" Tanya Alvi tak kalah kesal.
"Kau semakin cantik. Semua laki-laki yang melihatmu bisa langsung jatuh cinta padamu." Alvi melepaskan rangkulannya. Avril tersenyum melihat wajah cemburu Alvi.
"Satu sama." Ucap Avril tertawa kecil.
Selesai berias, Avril menghampiri Alvi dan meraih dasinya. Seperti biasa, Alvi melingkarkan tangannya di pinggang Avril.
"Kau selalu saja menggemaskan."
"Memang."
"Hemmm...."
"Jangan menggodaku. Atau dasi mu akan berantakan."
"Asal jangan perasaanku saja. Itu lebih sulit menata ulangnya. Bagus jika kembali rapi, jika masih berantakan bagaimana?"
"Kau masih mengungkitnya? Kau pikir aku tak hancur saat kau dan Dina begitu dekat."
"Dia sudah bersamaku dan menyiapkan keperluanku sedari dulu."
"Iya aku mengerti." Ucap Avril dengan memalingkan wajahnya.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tak akan berpaling." Alvi meraih wajah Avril agar menatap padanya.
"Harusnya kau berpikir begitu juga padaku." Lirih Avril menggigit bibirnya pelan.
Alvi menatap wajah Avril yang terlihat sendu. Mungkin memang Alvi juga terlalu berlebihan jika tak percaya pada Avril.
"Maaf." Lirih Alvi lalu menyandarkan kepalanya di bahu Avril.
"Untuk apa?" Tanya Avril yang menghentikan aktivitas menata dasi Alvi karena sulit dilakukan jika Alvi menunduk seperti itu.
"Untuk semuanya."
"Terlalu banyak kesalahanmu jika harus dengan kata maaf." Ucap Avril membuat Alvi mendongak dan menatapnya.
"Jadi aku harus apa?"
"Tetap di sampingku dan temani aku. Jangan pergi apalagi berpaling. Itu sudah cukup untuk membuktikan permintaan maaf mu. Dan aku pun akan seperti itu juga. Aku lebih banyak bersalah padamu. Jika dengan maaf, aku tak akan bisa mengembalikan semua pecahan perasaanmu yang sudah aku hancurkan beberapa kali. Tapi setidaknya aku akan memperbaiki meski tak utuh seperti dulu."
"Baiklah. Aku akan terus bersamamu. Dan berjanjilah bahwa kau juga tak akan meninggalkanku." Alvi meraih kedua pipi Avril dan mengusapnya lembut. Wajahnya yang semakin dekat sudah bisa ditebak bahwa Alvi akan mencium Avril. 'Drttt' Avril menarik keras dasi Alvi hingga Alvi terbatuk.
"Kau mau membunuhku?" Alvi sedikit mundur menjauh dan melonggarkan dasi nya.
"Dasar. Pagi-pagi sudah mau berulah." Umpat Avril dengan nada pelan.
"Kau jahat Avril."
"Nyinyinyinyi."
"Siapa yang mengajarimu?" Avril hanya mendelik dan berjalan melewati Alvi.
"Ciuman paginya mana?" Teriak Alvi membuat Avril terbelalak. Bagaimana jika ada yang dengar?
__ADS_1
-bersambung