
. "Turunkan aku tuan." Bisik Avril melotot kesal pada Alvi.
"Dimana? Dikamar?" Tanya Alvi sama berbisik. Avril terbelalak.
"Tolong..... bu..... tolong aku...." Avril setengah berteriak membuat para pelayan itu tersenyum malu dengan masih membelakangi Alvi.
"Alvi....." geram Avril menarik kasar rambut Alvi hingga Alvi sendiri berteriak lalu menurunkan Avril dan para pelayan pun kini berbalik menghadap pasangan itu. Avril menutup mulutnya penuh sesal.
"Sakit?" Namun Alvi masih merintih sembari meraih kepalanya.
"Alvi... jawab..." lagi-lagi Alvi tak menjawab hingga Avril ikut meraih kepala Alvi dengan hati-hati.
"Kau becanda terus..." lirih Avril.
Alvi mendongak dan tersenyum jahil pada Avril.
"Kau khawatir?" Avril mengangguk gemas.
"Kau ini kecil. Tapi kekuatanmu--"
"Apa?"
"Tidak...." Alvi tersenyum melihat sikap Avril yang menggemaskan itu. Kemudian Alvi duduk di ruang tamu diikuti Avril, dan memberikan tas milik Avril pada pelayannya.
"Malam ini kau tidur disini, aku sudah meminta izin pada ayah dan kakakmu." Ucap Alvi santai.
"Eh?" Avril tidak mengerti. Semudah itu ayah dan Galih mengizinkannya?
"Ta-tapi....." Avril memalingkan wajahnya.
"Tenang saja. Disini banyak orang, aku tidak akan macam-macam. Aku tidak akan sekamar denganmu." Ejek Alvi.
"Dih. Kau benar-benar ingin aku tampar!" Geram Avril mengusap telapak tangannya.
"Ahaha aku becanda sayang!" Alvi menggaruk punduknya yang tak gatal..
"Alvi... aku tidak bawa baju ganti...."
"Tenang saja, aku sudah menyuruh Ray membelikannya."
"Apa?" Teriak Avril. "Kau tidak tahu seleraku Alvi, aku..." Avril berhenti terpotong oleh ucapan Alvi.
"Tenang saja, aku sudah tahu. Dan Kau biasa memakai piyama panjang kan?" Avril hanya mengangguk. "Aku juga sudah tahu. Jadi aku menyuruh Ray membelikan mu piyama yang.... seksi" bisik Alvi.
'Plak' tamparan kerasa tepat dipipi Alvi.
"Kau memang gila, brengsek, mesum,.... hmmmb" Alvi menutup mulut Avril.
"Kau sangat berisik nona Revano." Alvi mengusap kasar telinganya.
Alvi menarik Avril kembali ke ruang keluarga. Alvi duduk di salah satu sofa, menunggu Ray datang membawakan baju ganti untuk Avril.
. Tak lama menunggu, Ray datang dengan sebuah kantong ditangannya dan memberikan pada Avril dengan sopan. Avril ragu-ragu menerimanya. Menyadari hal itu, Alvi tertawa.
"Kenapa ragu? Apa kau percaya ucapanku?" Alvi terus tertawa.
"Kau sangat lucu Avril. Apalagi melihat ekspresi ketakutanmu itu." Ejek Alvi.
"Tidak lucu Alvi." Ucap Avril kesal.
"Nona, itu tidak seperti yang nona pikirkan, nona bisa melihatnya sendiri." Ucap Ray sopan.
"Terimakasih Ray." Avril tersenyum pada Ray.
"Ehemmm. Senyum apa itu? Kau memberikan senyum manismu pada Ray, dan padaku hanya senyum paksa" Alvi menatap malas pada Avril.
Ray melihat pipi tuannya merah sebelah.
"Maaf tuan. Wajah anda....!" Ray sengaja tidak melanjutkan, membiarkan Alvi untuk menjawab.
"Ah ini?" Alvi menyentuh pipinya. "Sepertinya Avril sangat memperhatikanku Ray, melihat ada serangga di pipiku, dan yaaa kau pasti mengerti." Jelas Alvi, Ray hanya mengangguk mengerti.
"Apa tugas saya sudah selesai?" Tanya Ray.
"Apa kau ada acara?" Ray mengangguk. "Baiklah. Kau bisa pulang." Ucap Alvi.
"Terimakasih tuan. jika ada lagi yang tuan butuhkan, hubungi saya." Alvi mengangguk. Ray berlalu meninggalkan pasangan kekasih itu.
. "Aku akan mandi dulu." Alvi beranjak dari duduknya.
"Aku ikut." Reflek Avril ikut berdiri dan menarik baju Alvi. Alvi melongo tidak percaya, lalu tertawa melihat Avril menepuk dahinya berkali-kali.
"Hemmm apa nona Revano ini ingin mandi bersama denganku?" Ejek Alvi.
"Tidak lucu Alvi.. m-m-maksudku.. a-aku juga ingin mandi." Alvi tak kuasa menahan tawa melihat tingkah lucu Avril..
"Tertawalah tuan sampai kau puas." Avril melipatkan tangannya dan mengembungkan pipinya. 'Cup' Alvi mencium pipi Avril tiba-tiba.
"Jangan bertingkah seperti itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu karena gemas." Bisik Alvi. Avril hanya mematung. Hatinya benar-benar berantakan saat ini.
Bu Rumi menghampiri keduanya.
"Apa nona akan membersihkan diri?" Avril hanya mengangguk. "Kalau begitu saya akan mengantar nona." Bu Rumi sangat sopan menuntun Avril ke lantai 3, dimana terdapat sebuah kamar yang sangat besar namun seperti tidak pernah dihuni. Bersih, tapi sangat sedikit barang-barang disini.
__ADS_1
"Maaf nona, malam ini nona akan tidur disini." Ucap Bu Rumi
"Ini kamar siapa bu?" Avril tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Dulu bukan kamar siapa-siapa, tapi ini akan menjadi kamar nona dan tuan Alvi nanti." Jelas Bu Rumi.
Avril hanya mengangguk. Namun dalam hatinya, Avril terus memaki Alvi.
'Hasyi...' Alvi bersin tiba-tiba.
"Apa tuan sedang sakit?" Tanya salah satu pelayan,
"Tidak. Mungkin debu lewat." Alvi tersenyum dan menaiki anak tangga, lalu masuk ke kamarnya.
. Malam hari, Avril terlihat menuruni anak tangga, Alvi yang sedang duduk diruang tengah, menatap Avril tanpa berkedip. Avril memang lebih cantik saat rambutnya terurai.
Alvi seakan tidak percaya, Avril sangat berbeda saat rambutnya diikat.
Wajah Alvi memerah. Pelayan yang melihat Alvi tersenyum geli dan saling pandang dengan pelayan lain.
Dari dapur terdengar ada bisik-bisik para pelayan.
"Nona Avril memang cantik. Pantas tuan Alvi sampai terpesona seperti itu." Bisik Rina.
"Aku iri pada nona Avril. Sudah terlahir dari kalangan atas, memiliki paras yang menawan pula." Timpal Siska.
Ya rata-rata pelayan dirumah Alvi berusia yang terhitung muda. Hanya satu dua orang yang sudah berusia tua.
Bu Rumi mendengar percakapan para pelayan itu. Namun tidak dipedulikannya. Bu Rumi kembali menghampiri Alvi yang mematung memandangi Avril yang sedang berjalan kearahnya. Bu Rumi mengajak Alvi dan Avril makan malam. Avril hanya menurut, toh dia hanya tamu malam ini.
. Avril terkesiap melihat masakan yang tersaji di meja makan, ini tidak akan habis jika hanya Avril dan Alvi yang memakan. Avril melirik Alvi, lalu memanggil Bu Rumi.
"Apa Ibu tidak makan?" Avril mengerutkan dahinya.
"Tidak nona" jawab Bu Rumi tersenyum.
"Tapi aku ingin Ibu dan yang lain juga ikut makan." Ucap Avril memasang wajah sedih.
"Alvi, apa kau keberatan jika kita makan bersama pelayan-pelayanmu?" Bisik Avril pada Alvi.
Alvi tersenyum, tidak disangka Avril punya pemikiran yang sama dengannya.
"Tentu saja tidak sayangku! Aku tidak keberatan. Lagipula, jika hanya kita berdua, ini tidak akan habis." Avril tersenyum geli mendengar panggilan Alvi padanya. Ingin sekali Avril menampar bolak-balik pipi Alvi.
Karena kebiasaan, Avril menyajikan nasi dan lauknya untuk Alvi. Alvi tersenyum menatap Avril. Setelah memberikan makanan pada Alvi, Avril menyadari semua mata tertuju padanya.
"Nona Avril sangat romantis." Ucap salah satu pelayan.
"Sut kau ini. Kendalikan dirimu. Itu tidak sopan." Bisik pelayan disampingnya. Semua pelayan tersenyum pada Avril.
"Terimakasih." Alvi tersenyum pada Dina. Dari dulu senyuman Alvi memang sangat manis.
'Uhuk uhuk.' Tiba-tiba Avril tersedak melihat adegan itu.
Dengan reflek Alvi memberikan air yang diberikan Dina.
"Pelan-pelan. Jangan terburu-buru." Alvi meminumkan pada Avril. Avril yang hendak mengambil gelasnya, tidak di izinkan Alvi. Alvi menggenggamnya dengan kuat. Sebenarnya Alvi sudah menyadari bahwa Dina menyukainya. Maka, Alvi terus menunjukan perhatiannya pada Avril di depan Dina. Menegaskan bahwa hanya Avril satu-satunya wanita yang akan di akui oleh Alvi.
Semua pelayan terlihat panik, tapi Alvi meyakinkan bahwa Avril baik-baik saja.
Dina sengaja mengambil makan lebih sedikit, dan berlalu pergi terlebih dahulu dengan alasan ada pekerjaan yang belum diselesaikannya.
Avril merasa canggung dengan situasi ini.
Setelah makan, pandangan Avril tertuju pada sebuah album foto milik keluarga Alvi.
Dengan ragu Avril mengambil dan membawanya ke sofa.
Saat membuka halaman pertama, Avril mendapati Alvi yang masih kecil.
"Aku tampan ya." Suara yang mengejutkan Avril dari belakang.
"Iya... aku jadi jatuh cinta pada anak ini." Ucap Avril membuka satu persatu foto-foto itu. Sesekali Alvi menjelaskan tentang foto-foto yang dia ingat.
Terdengar gelak tawa diantara keduanya. Alvi kemudian duduk di samping Avril dan menggenggam kedua tangan Avril.
"Terima kasih." Ucap Alvi yang menurut Avril tiba-tiba ini.
"Untuk apa?" Avril menyernyit.
"Untuk semuanya." Avril semakin tak mengerti maksud Alvi.
"Kau sudah mau menemaniku, tidak meninggalkanku, bahkan kau mau memaafkan semua kesalahanku." Avril tersenyum mendengar kata-kata itu.
"Sudah seharusnya kan?" Alvi mengecup kening Avril karena senang.
. Avril tidur lebih dulu karena kelelahan. Walaupun sudah terlelap, Avril masih mendengar ada yang masuk dan menghampirinya. Duduk disampingnya, dan kembali mencium kening Avril. Lalu pergi dan menutup kembali pintu kamarnya.
Avril terbangun, aku menatap pintu lekat. Menggelengkan kepala dengan tingkah Alvi. Dan kembali terlelap. Alvi memasuki ruang kerja dan kembali sibuk dengan laptopnya.
. Pagi hari, Avril sudah bersiap dengan stelan magangnya. Namun saat sampai di lantai bawah, Avril tak mendapati Alvi. Biasanya Alvi selalu siap terlebih dahulu di banding dirinya. Bu Rumi menghampiri Avril.
"Tuan belum bangun?" Tanya bu Rumi.
__ADS_1
"Sepertinya begitu bu."
"Tak biasanya tuan Alvi bangun siang." Ucap Bu Rumi membuka ruang kerja Alvi. Dugaannya benar, Alvi masih tertidur di sofa.
"Biar aku yang membangunkannya bu." Ucap Avril ditanggapi anggukan oleh Bu Rumi. Avril menghampiri Alvi yang masih terlelap. Dan bu Rumi sendiri kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Kau begadang?" Avril menepuk pipi Alvi pelan, namun semakin keras karena Alvi yang tak kunjung bangun. Alvi terkejut dan membuka matanya, mendapati wajah Avril didepannya. 'Cup' Alvi mengecup bibir Avril dan kembali memejamkan matanya.
"Alvi..... bangun...." kini Avril berteriak tepat di telinga Alvi.
Alvi terperanjat dan mengusap kasar telinganya. Alvi hendak membalas Avril, namun terkejut melihat wajah marah dan tatapan tajam menusuk dari Avril di sampingnya.
"Bangun dan mandi!" Ucap Avril dingin. Entah kenapa, Alvi menurut saja tanpa berbicara. Rasanya pagi ini Avril seperti macan kelaparan.
Alvi beranjak dan memasuki kamar untuk bersiap bekerja.
Avril menghela nafas berat seraya melipat selimut Alvi.
"Kau bekerja terlalu keras." Avril keluar dari ruang kerja lalu melangkah ke kamar Alvi untuk meletakkan selimut.
"Biar saya saja nona." Ucap Dina hendak mengulurkan tangan.
"Tak apa... aku saja." Avril melempar senyum lalu melanjutkan langkahnya. Dina sedikit menunduk dan mengikuti Avril.
Dina dan Avril menyiapkan pakaian dan keperluan Alvi sambil menunggu Alvi selesai mandi. Keduanya tak ada yang bicara sampai Alvi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.
"Maaf saya permisi." Ucap Dina berlalu dari kamar Alvi meninggalkan Avril disana.
"Sedang apa nyonya?" Tanya Alvi bersandar menatap Avril yang kesal.
"Alvi.... sudah siang...." Avril berdecak menggembungkan pipinya.
"Ahaha baiklah." Avril berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Mau kemana?" Avril terhenti dan berbalik dengan wajah yang semakin kesal.
"Kau pikir aku wanita apa yang melihatmu mengganti baju didepan mataku?"
"Tetaplah disini." Avril menyernyit.
"Kau gila?" Alvi tak menanggapi kekesalan Avril, dan sengaja memakai kemejanya lama. Avril menghela nafas kesal melihat Alvi yang entah itu malas, ataupun santai. Avril kembali menghampiri Alvi lalu membantunya mengancingkan kemejanya sedikit cepat.
Alvi tersenyum penuh kemenangan, karena hal inilah yang Alvi inginkan. Mungkin jika mereka sudah menikah, Alvi menginginkan lebih dari momen ini.
Alvi melingkarkan tangan dipinggang Avril yang terlihat serius dari mengancingkan kemeja, hingga memasangkan dasi.
Beberapa kali Avril mendelik melihat Alvi yang tak menarik kembali senyum diwajahnya.
"Senyummu menakutkan tuan." Ucap Avril tanpa ekspresi becanda.
"Apakah akan seperti ini momen kita setelah menikah?" Avril menepuk kedua pipi Alvi
"Jangan merayuku tuan. Sudah siang, sebaiknya kita cepat-cepat berangkat.
"Kau menggemaskan sayang." Ucap Alvi mengecup kening Avril.
"Aku sedang kesal. Bukan sedang menggodamu" delik Avril kemudian melepaskan tangan Alvi dari pinggangnya.
Avril membawakan jas milik Alvi dengan diikuti Alvi di belakangnya. Alvi menarik tangan Avril menuju ruang makan untuk sarapan.
Dering ponsel Avril berbunyi, dan memperlihatkan nama yang tertera.
"Hallo Ren." Jelas itu dari Reno. Alvi mengambil ponsel Avril dengan wajah kesal.
"Avril sedang sibuk. Kau ke kantorku saja. Temui aku di ruanganku." Ucap Alvi lalu memutus sambungan telponnya. Reno terheran menatap layar ponselnya yang tiba-tiba terputus dengan diakhiri suara Alvi.
"Kenapa?" Tanya Bagas.
"Alvi" jawab Reno polos. Setelah diam beberapa saat, keduanya saling pandang lalu menganga.
"Avril dalam bahaya?" cetus Bagas mendadak khawatir.
"Sadar woy..." Reno mengusap kasar wajah Bagas.
"Alvi itu calon suaminya. Tak mungkin Avril dalam bahaya." Lanjut Reno dengan menutupi pemikirannya yang sama dengan Bagas.
"Mereka belum menikah Reno." Bagas semakin panik.
"Pantas saja dia tidak dirumahnya." Ucap Reno yang menatap kamar Avril dari luar dengan bersandar di mobilnya.
"Kita ke kantor Alvi sekarang." Reno mengangguk menyetujui.
Namun saat keduanya sudah memasuki mobil, Reno terdiam berfikir sejenak.
"Apa tidak terlalu pagi?" Tanya Reno polos menatap Bagas.
"Ya sudah kita cari sarapan saja dulu. Sekalian mengumpulkan stamina untuk menghajar Alvi."
"Memang kau berani?"
"Tidak." Jawab Bagas dengan santai.
. Suasana masih canggung, dari sarapan hingga didalam mobil, Alvi tak bicara sepatah katapun.
__ADS_1
"Apa kau bisa menjaga jarak dengan temanmu untuk sekedar menghargaiku?" Ucap Alvi tiba-tiba
-bersambung.