Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
53


__ADS_3

. "Lagi-lagi kau gagal. Jika kau tak bisa membunuh Alvi, setidaknya kau bunuh gadis itu. Dengan begitu Alvi akan hancur sendiri jika melihat gadis itu mati."


"Ja-jadi apa saya akan dipenjara di negara ini?" Tanya pria itu dengan pasrah.


"Kita ubah rencana."


---


. Avril memilih beristirahat di sofa kamar Alvi.


"Ayah..." lirih Alvi yang masih menyadari keberadaan Andre disana.


"Ada apa nak?" Andre menghampiri dan duduk di kursi samping ranjang Alvi.


"Apa ayah masih menerimaku sebagai menantu jika kondisiku seperti ini?"


"Aku akan memukul Avril jika dia tak mau lagi denganmu." Ayah terkekeh diikuti Alvi yang ikut tertawa.


"Avril dimana ayah?" Tanya Alvi yang menyadari keheningan dikamar itu.


"Dia tertidur. Mungkin karena luka nya yang masih terasa sakit."


"Dia kenapa ayah?"


"Ayah belum tahu cerita detail nya, tapi Demira bilang Avril mencoba menggagalkan rencana seseorang yang berniat membunuhmu."


"Kenapa dia tak membiarkan aku mati saja?"


"Jika ini terjadi sebaliknya, apa kau akan membiarkan pembunuh itu membunuh Avril didepan matamu?"


"Mengapa ayah bertanya? Lebih baik aku yang mati"


"Itulah yang dipikirkan Avril saat itu. Dia sangat ceroboh."


"Memang. Dan aku selalu bertanya-tanya. Mengapa bisa aku mencintainya?" Tanya Alvi yang entah pada dirinya atau pada mertuanya itu. Keduanya hanya tertawa kecil seolah tanpa beban.


"Ayah tahu? Ayah saja yang bisa membuatku merasa tenang. Meskipun aku tak bisa melihat wajah ayah, tapi aku bisa menebak pasti wajah ayah sangat konyol saat ini."


"Kau mengejekku?" Alvi menutup telinganya dan berpikir bahwa Andre akan menarik telinganya.


"Kau kenapa?" Tanya Andre heran.


"Ehhh... ayah tidak menarik telingaku?"


"Kau mau?"


"Ehhh tidak tidak.. aku becanda ayah..."


. Tak lama berselang, Ray dan pak Yusuf memasuki ruang Alvi.


"Tuan... maafkan saya tuan." Ucap Ray pelan.


"Kau tak perlu meminta maaf Ray."


"Saya akan segera menemukan pelakunya dan menyembuhkan tuan."


"Terima kasih Ray... dan bagaimana dengan kondisi perusahaan?"


"Masih stabil tuan. Tak ada tanda-tanda pihak yang mencoba menjatuhkan perusahaan D. Karena tuan Galih turun tangan langsung atas tanggungjawab kestabilan semua hal mengenai perusahaan." Jelas pak Yusuf.


"Galih?"


"Ya tuan." Jawab Ray dan pak Yusuf serentak.


"Dan mohon maaf. Untuk hari senin nanti, saya dan pak Yusuf meliburkan para karyawan karena alasan kami ingin menemui tuan." Lanjut Ray.


"Apa di Indo tahu kabar tentangku?"


"Ya tuan... banyak media yang tengah memberitakan insiden kecelakaan tuan."


"Apa mereka juga tahu aku tak bisa melihat?"


"Sepertinya tidak tuan."


"Baiklah..."


"Emmm maaf tuan jika lancang. Apa tuan Andre dan nona Avril benar-benar kesini?"


"Iya... Avril sekarang sedang di check up ulang."


"Nona?"


"Dia terluka karena aku Ray. Aku ingin segera kau menemukan pelakunya. Dia sudah melukai Avril."


"Maksud tuan?"


"Demira bilang Avril mencoba mencegah orang yang ingin membunuhku. Tapi malah Avril yang terkena sayatan pisaunya. Dahinya terluka. Dan mengapa aku malah tidur saat dia dalam bahaya Ray?"


"Dalam kondisi seperti ini tuan masih memikirkan nona. Dan nona selalu saja ceroboh. Tapi aku bersyukur keduanya baik-baik saja sekarang." Gumam Ray menatap lega wajah Alvi. Kini tak ada yang mengejeknya lagi jika dirinya menatap Alvi seperti itu.


"Kau menangis Ray?" Alvi menyipitkan matanya mendengar isak pelan dari arah depan.


"Ti-tidak tuan..." Ray tertawa kecil sambil mengusap matanya.


"Aku masih hidup Ray... mengapa kau menangis?"


"Saya hanya merindukan tuan."


"Ray... aku sudah punya calon istri, dan kau juga. Aku masih normal Ray..."


"Bukan itu maksud saya tuan..."


Pak Yusuf tersenyum melihat keduanya. Terdengar pintu dibuka, dan terlihat Avril dan Andre memasuki ruangan.


"Ray?"


"Nona..." Ray terbelalak melihat perban dikepala Avril.


"Maaf pak. Saya tidak masuk kerja kemarin." Ucap Avril menunduk dihadapan pak Yusuf.


"Tak apa nona.. saya memaklumi."


"Alvi... ayah dan Avril akan kembali ke Indonesia hari ini. Mungkin Galih yang akan menemanimu disini."


"Ayah.... lebih baik Avril saja yang disini. Aku tak tahu apa yang akan Galih lakukan jika dia yang menemaniku." Ucap Alvi memejamkan matanya.


"Ohhh jadi kau tak mau ditemani olehku? kau mau ku pecat jadi adik ipar hah?" Timpal Galih.


"Iblis nya sudah disini kan ayah..." Alvi membuka matanya.

__ADS_1


"Wahhh adik iparku menjadi kurang ajar setelah kecelakaan."


"Galih..." lirih Alvi.


"Hemmm"


"Maafkan aku oke."


"Mengapa kau mendadak baik?"


"Karena aku sedang sakit. Jika aku sembuh, aku akan jahat lagi padamu."


"Sudah aku duga." Terdengar suara langkah kaki Galih menghampiri semakin dekat.


"Kau jadi tak menarik. Kau tak bisa melihat lagi kecantikan adikku." Ejek Galih.


"Tapi aku bersyukur... aku tak bisa melihat wajah jelekmu."


"Wahhh kau benar-benar berani. Mau aku pukul?" Tak menunggu jawaban dari Alvi, Galih memeluk erat sembari menepuk punggung Alvi.


"Syukurlah kau masih hidup. Aku akan kesepian jika kau mati."


"Terimakasih Galih.. upss maksudku kakak." Galih terkekeh melepaskan pelukannya.


"Kau mau bicara?" Tanya Galih menoleh pada Avril.


Dengan tak menjawab, semua mengerti dan satu persatu keluar dari ruangan dan menyisakan Avril dan Alvi saja.


Avril terduduk diranjang tepat dihadapan Alvi.


"Kau mau pergi?" Tanya Alvi. Avril meraih tangan Alvi dan meletakkan di pipinya.


"Tapi aku tak meninggalkanmu." Ucap Avril lirih.


"Sayangnya aku tak bisa melihat wajah menggemaskan mu itu sekarang."


"Wajahmu sangat jelek tuan." Ejek Avril.


"Sudah buta, jelek, apa kau masih mau?"


"Aku tak mau..."


"Mengapa kau tak segera meninggalkanku saja?" Alvi dengan paksa melepaskan genggaman Avril. Dadanya mendadak sesak mendengar jawaban itu. Avril meraih kedua pipi Alvi dan menepuk pelan.


"Aku tak mau jika kau terus seperti ini. Setidaknya kau sembuh dan pulang itu sudah lebih dari bahagia untukku."


"Tapi..."


"Alvi. Apa kau akan meninggalkanku jika kondisiku sama dengan yang kau tanyakan tadi?" Alvi terdiam dan menyentuh tangan Avril yang masih dipipinya.


"Aku akan pulang. Tapi aku tak berjanji lagi. Aku takut tak bisa menepatinya." Ucap Alvi.


"Janjimu adalah pulang dengan selamat. Dan aku akan menunggumu."


"Kau juga harus jaga kesehatanmu. Aku tak mau pulang dengan melihat kondisimu tak baik."


"Yaa... aku janji." Avril kembali meletakkan tangan Alvi di pipinya.


"Kau tak memberikan salam perpisahan?" Avril menyernyit. Namun Avril kemudian mencium Alvi sebelum dirinya pergi.


Setelah beberapa langkah meninggalkan Alvi, Avril kembali berlari dan memeluk Alvi seakan tak ingin melepaskan.


"Janji kau pulang? Jangan tergoda oleh perawat disini. Atau aku akan membencimu." Rengek Avril dengan manja.


"Janji?"


"Aku janji."


"Janji apa?"


"Janji saat aku pulang akan langsung menikahimu."


"Alviiiiiii...."


"Apa sayang? Kau akan berkata bahwa kau tak memanggilku?"


"Aku mencintaimu" Avril mengecup kening Alvi dengan hangat.


"Aku juga."


"Juga apa?"


"Mencintaimu."


"Serius?"


"Lima rius."


"Aku semakin tak ingin meninggalkanmu Alvi..."


"Ya sudah. Tetap disini saja."


"Tapi magangku?"


"Hemm baiklah... jaga dirimu. Kau harus profesional dengan pekerjaan. Dan aku tak akan egois karena aku mencintaimu."


"Janji sembuh ya..."


"Iya sayang..."


"Janji pulang."


"Ahaha iya iya..."


"Janji tak akan tergoda oleh gadis lain?"


"Mengapa kau semakin menggemaskan sayang. Rasanya aku ingin melihat wajah menggemaskan mu yang nyata itu."


"Tentu saja. Pipiku menggembung sekarang."


"Kau menggodaku?"


"Tapi kau tak bisa menciumku." Avril tertawa kecil dengan ejekannya.


"Ohhh benarkah?" Karena tangannya masih dipipi Avril, Alvi seakan tahu dimana bibir Avril lalu menciumnya lembut. Dan tak lupa memberi kecupan dikening Avril.


"Tunggu salam pertemuannya oke." Ejek Alvi tak tahu bahwa kini wajah Avril begitu merona. Jika Alvi melihatnya, mungkin dirinya tak akan melepaskan Avril.


Dengan berat hati, Avril berlalu meninggalkan Alvi yang tak bisa menatap langsung kepergiannya. Sebelum menutup pintu, kepala Avril kembali menjulur dan berteriak.

__ADS_1


"Istrimu menunggu suaminya pulang loh." Alvi hanya terkekeh dengan candaan Avril.


Andre dan Avril bergegas ke bandara. Sedangkan Andara masih menyelidiki sosok yang hampir ia dapatkan identitasnya, namun dirinya kehilangan jejak.


Sampai di Indonesia, baru sekarang Avril merasa kelelahan.


Andre tak langsung tidur, karena mendapati kabar bahwa pelakunya kini berada di Indonesia. Bawahan Andara sedang menyelidiki.


Bagaimana bisa Andre tidur dengan tenang. Andre mengesampingkan rasa lelahnya untuk ikut andil dalam penyelidikan.


Tak bisa dipungkiri, Avril tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bahkan didepan Baren. Ketiganya sama-sama senggang jadi menyempatkan untuk berkumpul sebentar.


"Kau masih ingat bagaimana wajahnya?" Tanya Reno seperti seorang detektif yang sedang mengintrogasi korban.


"Dia pakai masker." Avril mencoba mengingat dan sesekali meneguk jus didepannya.


"Bagaimana jika kau ditusuk sampai mati, atau di mutilasi?" Cetus Bagas.


"Aku tak memikirkan keselamatanku Gas... aku hanya berpikir aku tak ingin kehilangan Alvi saja..."


"Yaa... kau selalu membahayakan hidupmu." Decih Bagas.


Karena diluar, Avril mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kota yang ia lihat. Beberapa kali Avril melihat polisi yang berlalu lalang.


"Mengapa ada polisi? Apa sedang ada operasi zebra atau ganjil genap?" Tanya Avril.


"Tidak... mereka sebenarnya sedang mengawasi seseorang yang menjadi pelaku insiden kecelakaan Alvi dan dirimu. Dipastikan, pelakunya sama." Jawab Reno.


"Apa ayahmu sudah menemukannya? Kemarin om Andara tidak ikut pulang."


"Iya ayahku sudah menargetkan orang itu. Tqpi mereka belum menangkapnya karena bukti belum kuat. Kerusakan mobil kak Damian pun seolah tak bisa diungkap alasannya." Lanjut Reno menjelaskan.


"Kau tiba di Indo hari kemarin kan?" Avril mengangguk.


"Lukamu sudah kering?" Namun Avril hanya menggeleng.


"Akhir-akhir ini kau sering berurusan dengan rumah sakit nak." Ejek Bagas menepuk pundak Avril dengan terkekeh.


"Aku lapar. Tapi kau yang traktir." Ucap Avril menatap angkuh pada Bagas.


"Oke... asal kau sembuh." Jawab Bagas kemudian memanggil pelayan cafe dan memesan makanan untuk Avril.


. Ditempat kerja, Avril merasa di anak bawangkan karena luka nya. Dea sengaja menemui Avril saat makan siang.


"Bagaimana keadaan pak presdir?" Tanya Dea ragu.


"Mengapa bertanya padaku?" Avril dengan santai memakan makanannya. Dan berpikir bahwa Dea tak tahu mengenai hubungannya dengan Alvi.


"Aku sudah tahu Avril... jangan berpura-pura lagi." Avril terdiam sesekali melirik kearah Dea.


"Tahu apa?"


"Kau itu tunangan pak presdir kan?" Dea sedikit berteriak membuat semua yang ada disana menoleh pada mereka. Sudah bisa ditebak bahwa mereka bertanya-tanya dengan kebenarannya.


"Dea...." Avril terbelalak dengan menepuk dahinya.


"Aw...." Avril terlupa bahwa dahinya sedang terluka.


"Alvii... mengapa rahasia nya bocor?" Gumam Avril.


Namun Avril terheran ketika tiba-tiba semua yang mendengar itu tertawa.


"Bagaimana mungkin dia tunangan pak presdir."


"Aku saja yang memenuhi kriterianya tidak bermimpi terlalu tinggi."


"Tunangan pak presdir itu adik tuan Galih."


"Wah... anak magang ini cukup kurang ajar juga. Jangan karena kau dekat dengan tuan Alvi, kau pikir tuan Alvi akan menjadikanmu tunangan?" Kali ini Avril tahu siapa yang bicara.


"Maaf pak. Saya permisi." Ucap Avril beranjak dengan wajah malas melihat wajah Feri.


"Hei mau kemana? Urusan kita yang waktu itu belum selesai kan?" Feri menarik tangan Avril. Avril mencoba melepaskan genggaman Feri yang semakin kuat.


"Pak.. Sakit..." Avril merintih sambil mencoba terus melepaskan tangannya.


"Sayang? Kau mau kemana?"


"Dia pacarmu Fer?" Tanya salah satu karyawan di meja yang sedikit jauh.


"Sepertinya dia malu punya pacar sepertimu dan bermimpi menjadi tunangan pak presdir." Timpal yang lainnya. Betapa hati Avril sangat sesak sekarang, rasanya perih melebihi lukanya. Andai saja dirinya tidak sedang magang, mungkin Avril bisa membungkam mulut-mulut kasar mereka.


"Kenapa kau menangis sayang?" tanya Feri dengan nada ejekan.


"Lepaskan saya pak." Lirih Avril yang tak ada tenaga lagi untuk menarik pergelangan tangannya.


"Feri..." teriak Deri dari jauh.


"Lepaskan dia." Timpal Roby tak kalah berteriak.


"Kalian lagi." Feri mendelik kesal melihat Roby dan Deri menghampirinya dengan wajah emosi.


"Apa kebiasaan kalian hanya mengganggu kesenanganku?" Tanya Feri ketika keduanya sudah tepat didepan wajahnya.


"Kesenangan?" Decih Deri.


'Bugh' sebuah pukulan tepat mengenai wajah Feri dari samping.


"Irfan?"


"Hei... kau melakukan kekerasan diarea perusahaan pak Irfan. Kau bisa turun jabatan, atau PHK." Ejek Feri dengan seringai yang menjengkelkan.


"Aku tak peduli. Serangga sepertimu yang seharusnya di keluarkan dari perusahaan." Ucap Irfan menyembunyikan Avril dibelakangnya.


"Ahh... aku ingat. Kau mengenalnya kan?" Feri menunjuk pada Avril.


"Dia adik kelasku. Dan kau akan berurusan dengan 2 pimpinan perusahaan sekaligus jika kau berani menyentuhnya." Tegas Irfan membuat semua orang terheran.


"Perusahaan mana saja hemmm?"


"A dan D. Bahkan dengan Andara dari kepolisian yang akan mengurusmu langsung." Namun Feri hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan Irfan.


"Presdir kita tuan Alvi, dan presdir perusahaan A tuan Galih. Aku mendengar rumor ketegasan dan semenakutkan apa tuan Galih. Dia sudah menikah kan? Apa kau simpanannya nona?" Lagi-lagi Irfan memukul wajah Feri.


"Kak Irfan... sudah." Ucap Avril menenangkan Irfan.


"Wah.... pertunjukan yang seru." Semua mata tertuju pada sosok yang disegani di kota itu. Ia berjalan dengan terus bertepuk tangan.


"Kakak" pekik Avril.

__ADS_1


Semua serentak berdiri dan menunduk mendapati Galih disana.


-bersambung


__ADS_2