
. Ray bersandar pada dinding dengan mata tertutup. Seseorang tiba-tiba duduk disampingnya dan berhasil mengejutkannya.
"Tuan.." ucap Ray terperanjat lalu menunduk sopan. "Kapan tuan sampai? Mengapa tak mengabari saya?" Lanjut Ray hendak beranjak dari duduknya.
"Duduklah!" Ucap Hendar menahan agar Ray tetap duduk.
"Maaf tuan.." lagi-lagi Ray menunduk dengan sopan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Tuan Alvi belum sadar kembali. Setelah operasi, beliau belum siuman sampai sekarang. Dan belum ada yang diizinkan untuk melihat langsung kedalam." Jawab Ray menjelaskan.
"Lalu? Avril?"
"Nona masih menjalani pemeriksaan. Dan tuan Galih yang menunggu nona."
"Andre tak ada?"
"Tuan Andre sedang ada urusan dengan para petinggi perusahaan P, ditemani tuan Damian. Karena sepeninggal pak Adam, perusahaan P akan di anggap remeh oleh beberapa pihak. Jadi, tuan Andre membuat perjanjian kerjasama agar tak terjadi hal yang tak di inginkan."
"Begitu ya? Andre memang cepat bertindak. Pantas saja Alvi mati-matian mempertahankan hubungannya dengan Avril. Bahkan Alvi pernah membandingkanku dengan Andre." Ray hanya tersenyum menanggapi ucapan Hendar.
"Demira?"
"Emm... nona Demira sedang berada di ruangan dokter Noah."
"Apa?" Teriak Hendar.
"Nona tidak melakukan apa-apa dengan dokter Noah tuan... hanya menemani mengobrol saja." Jelas Ray. Hendar menghela nafas panjang yang bagi Ray sulit di artikan.
"Terima kasih Ray.... kau sudah menemani Alvi selama ini." Ucap Hendar kemudian.
"Ini sudah menjadi tugas saya tuan. Tuan Alvi adalah peran penting dalam hidup saya. Tanpa beliau, saya tak ada apa-apanya."
"Dan tanpa kau juga, Alvi bisa apa?" Hendar tertawa menepuk pundak Ray dan kemudian berlalu meninggalkan tempat. "Kabari aku jika Alvi sadar." Lanjut Hendar sebelum benar-benar berlalu dan menghilang dari pandangan Ray.
. Waktu terus bergulir, Avril yang menunjukan peningkatan atas kesehatannya, dan Alvi yang masih terbaring di ruang intensif dan jelas kini terpisah dengan Avril. Galih menerawang dari kaca menatap dalam pada Alvi yang dipenuhi luka.
"Padahal kemarin kau sudah membaik. Apa itu hanya pura-pura?" Tanya Galih pada diri sendiri yang tak menemukan jawabannya.
"Jika ingin menemuinya, silahkan! Aku tak melarang." Ucap Noah tiba-tiba yang sudah berada di samping Galih.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Galih menoleh pada Noah.
"Detak jantung dan darahnya sudah normal. Kita tunggu dia sadar saja."
"Sembuhkan dia. Bagaimanapun caranya." Tegas Galih membuat Noah enggan menjawab.
Noah memasuki ruangan tanpa mempedulikan Galih yang terus terdiam. Saat tengah mengecek kembali kondisinya, terlihat dahi Alvi berkerut.
"Kau sadar juga." Ucap Noah tersenyum.
Perlahan Alvi membuka matanya, dan kembali merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya yang terluka.
"Avril dimana?" Tanya Alvi sambil meringis kesakitan.
"Haih... kau sudah ada tenaga untuk menanyakan Avril?" Tanya Noah mengabaikan pertanyaan Alvi.
"Noah.." delik Alvi lalu menatap pada Galih yang sedari tadi tak beranjak sedikitpun.
Pandangan dingin mereka bertemu seakan ada sebuah perang batin diantara keduanya. Tatapan kebencian yang saling di lemparkan, padahal dibaliknya Galih sangat bersyukur bahwa Alvi tersadar dari tidurnya.
Galih memalingkan wajahnya, kemudian berlalu meninggalkan area ruangan itu. Alvi tersenyum tipis melihat betapa kakunya Galih.
"Beruang kutub." Cetus Alvi.
"Kau berkata sesuatu?" Tanya Noah.
"Beruang kutub." Noah menyernyit tak mengerti apa maksud Alvi.
"Mengapa kau memanggil dirimu sendiri?" Tanya Noah lagi dengan wajah polos.
"Aku itu lebih cocok jadi penguin." Ucap Alvi seakan mengikuti ejekan Noah.
"Ohhh penguin yaa... apa jalanmu juga seperti ini?" Tanya Noah seraya memperagakan jalan penguin.
"Itu lebih cocok jadi monster penguin." Alvi sedikit tertawa dengan ekspresi peragaan Noah. Lalu dengan tiba-tiba Noah terdiam ketika pandangannya bertemu dengan Demira yang mematung memegangi gagang pintu yang baru ia buka.
Bibirnya mengatup melihat tingkah Noah yang menurutnya menggelikan. Alvi menahan tawa melihat ekspresi Demira. Bisa dipastikan Demira terkejut melihat tingkah terbaru dari Noah.
"Ugh...." rintih Alvi disela tawanya.
__ADS_1
"Nah.. kan... itulah... kualat kau." Ucap Noah membalas ejekan Alvi.
Demira hanya tertawa kecil. Seingatnya dulu mereka jarang sekali bercanda seperti ini. Mungkin benar, kehadiran Avril mengubah diri Alvi. Bahkan Hendar sendiri perlahan berpikir bahwa Alvi benar-benar sudah bersikap dewasa dan bertindak dengan tanggung jawab.
"Demi... apa Avril baik-baik saja?" tanya Alvi menoleh pada Demira yang kini melangkah mendekati kedua pria yang menyebalkan itu.
"Dia baik-baik saja." Jawab Demira seraya melemparkan senyum meyakinkan.
"Serius?" Alvi menyernyit tak percaya.
"Apa aku terlihat berbohong?" Demira tak ingin kalah berdebat.
"Ya ya ya... aku percaya." Alvi memejamkan matanya dan menjauhkan pikiran buruk tentang Avril.
. Hari kembali berganti. Sudah 3 hari berlalu, Avril masih berada di ruangan yang dirasanya sangat menyesakkan. Hari ini Dea dan Iqbal datang menjenguk.
Dea melemparkan pertanyaan beruntun tentang kejadian yang menimpa Avril.
"Bagaimana dengan tuan Alvi?" Tanya Iqbal menyela antara pertanyaan Dea. Avril terdiam dan perlahan menundukan pandangannya.
"Aku belum bertemu lagi dengannya." Jawab Avril lirih.
"Hai... Avil..... aku datang... Reno dan Aldi sudah sem-- ehhh ada tamu woy..." Bagas memutar badannya dan mendorong Reno kembali keluar.
"Bagas... masuklah. Tak apa." Panggil Avril membuat Bagas memperlihatkan kepalanya dibalik pintu. Dea dan Iqbal menatap heran pada Bagas. Dengan sengaja Reno mendorong Bagas dengan keras. Hingga Bagas terjatuh ke lantai.
"Kau gila Ren. Bagaimana jika aku mati." Teriak Bagas menatap sinis pada Reno yang dengan wajah tanpa dosanya terus berjalan melewati Bagas, dan diikuti Aldi di belakangnya.
Syifa membantu Bagas berdiri dan merapikan pakaian Bagas yang sedikit berantakan.
"Terimakasih sayang." Ucap Bagas dengan keras membuat Aldi terhenti lalu menoleh kasar pada Bagas.
"Apa kau?" Tanya Bagas seakan menantang Aldi.
"Berani kau memanggilnya sayang, kau tahu akibatnya." Tegas Aldi dengan tatapan menusuk.
"Uuuu aku takut......" ejek Bagas menutup mulutnya.
"Sudah.... apa kalian akan terus bertengkar?" Syifa mencoba melerai perdebatan antara Aldi dan Bagas.
. Reno duduk di sofa dan tatapannya terus mengarah kepada Dea yang menunduk. Aldi kemudian duduk di samping Reno, sementara Bagas menghampiri Avril dan menepuk kepalanya.
"Iya iya..." jawab Avril menggembungkan pipinya. Namun tak lama, Avril kembali terdiam dan menggigit bibirnya pelan.
"Jika Alvi melihat, pasti dia langsung mencium pipiku." Gumam Avril menghela nafas berat.
"Avril..." lirih Dea.
"Iya.. kenapa?" Avril menatap dalam pada Dea yang terlihat menjadi pendiam.
"Aku... maaf.. sepertinya aku harus pergi." Ucap Dea kemudian.
"Tapi kenapa?" Tanya Avril terheran ketika Dea beranjak dari duduknya.
"Iya kenapa De? Bukankah kau sendiri yang merengek ingin menemui Avril?" Tanya Iqbal yang ikut terheran.
"Anggap saja aku tak ada disini." Ucap Reno menimpali membuat Iqbal dan Avril menoleh pada Reno. Sedangkan Dea menjadi semakin menunduk.
"De..." lirih Avril ketika menoleh kembali pada Dea. Avril terkejut saat melihat Dea menitikan air matanya begitu deras, bahkan tanpa suara.
Reno memalingkan wajahnya, kemudian beranjak dan menarik tangan Dea. Jelas itu membuat semua yang ada disana merasa heran dengan apa yang mereka lihat. Bertanya-tanya tentang kedua orang yang dianggapnya tak saling mengenal.
Reno menutup pintu sedikit keras membuat Avril terkejut.
"Ketiga orang itu teman Avril yang suka menjemputnya saat itu kan?" Gumam Iqbal.
"Ada apa dengan Reno. Ehh Avil... bukankah gadis itu teman magangmu? Tapi sepertinya tak asing." Ucap Aldi kemudian menoleh pada Avril.
"Jelas kau tak merasa asing. Namanya Dea kan?" Avril mengangguk menanggapi pertanyaan Bagas. Meskipun dipenuhi rasa penasaran yang tinggi pada Dea.
"Dia pacar Reno. Tapi sekarang aku tak tahu apa hubungannya masih berjalan baik atau tidak." Lanjut Bagas membuat Avril terdiam.
"Maksudmu?" Tanya Aldi menyernyit lalu menoleh pada Syifa dan Avril bergantian.
"Saat Reno mengatakan bahwa dia dan Syifa berpacaran, Dea menganggapnya serius. Dan sempat meminta putus pada Reno kemudian meninggalkan Reno tanpa kabar. Saat di kampus pun, sikap Dea menjadi acuh pada Reno." Bagas menghela nafas sejenak dengan menunjukan raut wajah yang sedih.
"Terus?" Ucap semuanya serentak.
"Yang aku tahu, Reno berhasil meyakinkan Dea bahwa dirinya tak ada apa-apa dengan Syifa. Tapi saat Reno membawa Dea untuk bertemu dengan mamanya, sepupu Reno mengatakan hal yang tidak-tidak pada Dea."
"Sepupu maksudmu? Anita?" Tanya Aldi antusias
__ADS_1
"Iya... siapa lagi. Kalian tahu sendiri dia bagaimana. Dia berkata bahwa Dea mendekati Reno hanya ingin memeras hartanya saja. Padahal aku lihat Dea anak yang baik. Dan mama juga menyukainya. Tapi Anita beranggapan lain. Huuuhhh dasar wanita ular." Ucap Bagas dengan kesal sendiri.
Iqbal hanya terdiam mendengar percakapan mereka. Pantas saja Dea menolak saat Iqbal ingin lebih dekat dari sekedar teman. Jadi, Dea sudah memiliki pacar, meskipun hubungannya sedang tidak baik-baik saja.
"Oh iya Gas, Al.. ini Iqbal. Teman magangku." Ucap Avril memperkenalkan Iqbal yang terlihat terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Hai bro.. aku Bagas. Teman Avril.. tapi kadang aku suka jadi pacarnya, selingkuhannya, kakaknya, dan kadang juga jadi--"
"Musuhnya." Timpal Aldi menyela ucapan Bagas.
"Hei apa maksudmu Al.... mentang-mentang kau mantan pacarnya. Kau masih cemburu karena aku selingkuhannya kan? Ingat Syifa Al..." Ucap Bagas kesal mendelik pada Aldi.
"Sudah.... mengapa kalian bertengkar. Aldi memang milik Syifa." Ucap Avril menyela.
"Dia mantan pacar Avril? Tapi dia berani membawa pacarnya menjenguk Avril" Gumam Iqbal dibalik senyumnya yang menyapa satu persatu teman Avril.
. Diluar, Reno terus berjalan entah kemana dengan masih menarik tangan Dea.
Di lobby, Reno terhenti saat berpapasan dengan sang ibu dan ayahnya. Dea melepaskan tangan Reno dengan paksa. Mama menyadari bahwa Dea mencoba menghindar dari keluarganya.
Mama kemudian mendekat membuat Dea gemetar ketakutan. Mengingat ayah Reno adalah seorang polisi.
"Kemana saja kamu nak? Mengapa tak pernah ke rumah lagi? Apa mama membuatmu tak nyaman di kesan pertama pertemuan kita?" Dea terbelalak mendengar rentetan pertanyaan sang ibu mertua.
"Apa Reno tidak bercerita bahwa kita sudah putus? Mengapa mamanya seolah menganggap kita masih pacaran?" Gumam Dea masih merasa tak percaya.
"Mama selalu menunggumu untuk main ke rumah nak. Hanya saja, Reno selalu memberi alasan bahwa kau sibuk. Nanti, jika kau tak sibuk lagi, berkunjunglah ke rumah." Ucap Andara melemparkan senyuman hangat pada Dea. Tak disangka, orang tua yang Dea anggap akan membencinya, ternyata begitu mengharapkan kedatangannya. Lalu apakah yang dikatakan Anita saat itu tidaklah benar? Dea menggeleng sambil memijit dahinya.
"Apa kau sakit?" Tanya mama meraih pundak Dea.
"Tidak ma.. Dea baik-baik saja." Jawab Dea tersenyum meyakinkan.
"Ya sudah... mama ke ruangan Avril dulu. Ren... jangan jahil. Jaga Dea ya!" Ucap mama kemudian berlalu meninggalkan kedua anak muda itu.
"Maaf..." lirih Dea setelah mama dan ayah Reno tak lagi terlihat.
"Untuk?" Tanya Reno berpura-pura tak tahu.
"Untuk kesalah fahamanku."
"Tentang?"
"Mama dan keluargamu. Sepupumu bilang..."
"Jangan dengarkan dia. Aku juga membencinya. Dia selalu bicara yang tidak-tidak. Keluargaku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku menyukaimu tidak memandang siapa dirimu. Dan aku harap kau menyukaiku juga tidak memandang siapa aku, dan siapa orang tuaku. Yang harus kau tahu, diriku adalah orang yang selalu menyayangimu." Ucap Reno meraih kedua tangan Dea. Dea menatap haru wajah sang kekasih, dengan tanpa sadar kembali menitikan air matanya.
"Mengapa menangis? Apa kau sesakit itu saat bersama denganku?" Tanya Reno yang mengusap air mata Dea dengan sentuhan hangat. Dea menggeleng sembari melemparkan senyumnya lagi.
"Tidak Ren... aku bahagia... kebaikan apa yang sudah ku perbuat sampai tuhan mengirimku sosok malaikat sepertimu."
"Aku tidak sebaik itu jika di bandingkan dengan malaikat. De... maafkan aku yang sudah melukai perasaanmu." Lagi-lagi Dea menggeleng dan melemparkan senyum hangatnya.
"Tidak Ren. Justru aku yang minta maaf."
"Jadi? Kita tak berpisah kan?" Reno menatap harap pada mata Dea.
"Tidak Ren." Seketika senyum manis tersimpul dibibir Reno. Sempat ingin memeluk Dea, namun Dea memberi isyarat bahwa ini di rumah sakit. Lalu Reno merangkul pundak Dea dan berlalu menuju parkiran.
"Kita kencan hari ini." Ucap Reno dengan wajah bahagianya.
. Andara dan istrinya memasuki ruangan Alvi lebih dulu.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Andara.
"Seperti yang anda lihat. Saya sedang tidak baik-baik saja.
"Lekas sembuh nak..." Andara tersenyum melihat kondisi Alvi yang bisa dibilang cepat dalam masa penyembuhannya.
"Aku jadi merindukanmu Ahmad." Gumam Andara tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Alvi.
"Hendar... bagaimana dengan keadaan Aldi?" Tanya Andara yang ikut duduk di samping Hendar.
"Kata teman Alvi yang menjadi dokter itu, sekarang dia dan putramu sudah boleh pulang." Jawab Hendar.
"Iya.. tadi aku sudah bertemu dengan Reno. Tapi maksudku keadaan psikis nya. Apa dia benar baik-baik saja?" Andara kini memperlihatkan wajah khawatirnya.
"Kita jadi ayah pengganti saja untuknya. Dan dukung dia dalam setiap langkahnya."
"Iya... kupikir begitu." Andara menghela nafas berat. Dirinya adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas kepergian Adam.
-bersambung.
__ADS_1