
. Reno kembali berbaring di kasurnya dengan beberapa kali menghela nafas berat. Syifa yang mendengarnya menjadi tak nyaman. Apa Reno melihat adegan itu? Tapi dari suaranya jelas itu suara Bagas. Bagas masih menatap kesal pada Aldi karena pukulan dikepalanya.
"Apa lihat-lihat?" Aldi tak kalah menantang Bagas.
"Ini sakit sialan. Isssshhhh" Bagas merengek sambil meraih kepalanya yang sedari tadi terus berdenyut.
"Salah sendiri mengejekku." Cetus Aldi mendelik lalu menatap Syifa yang masih menahan rasa malu.
. Beberapa saat yang lalu, Bagas yang melihat mata elang milik Aldi langsung mundur dengan tatapan tak kalah ngeri.
"Wajahmu menakutkan sialan." Ucap Bagas mengusap kasar wajah Aldi.
"Kau mengatakan apa tadi?" Aldi semakin tajam menatap Bagas.
"Ren..... tolong aku Ren...." teriak Bagas lalu beralih ke belakang Reno.
"Gas.... katakan lagi. Atau aku akan membunuhmu." Ucap Aldi lagi. Reno hanya menghela nafas berat dan menggeleng pelan dengan tingkah keduanya.
"Jika pacaran jangan disini. Pesan hotel sana.." ucap Bagas dengan lantang dan tak mempedulikan Syifa yang semakin malu. Aldi kemudian memukul puncak kepala Bagas dengan keras.
"Duh..... kenapa kau memukulku sialan." Bagas terus meringis kesakitan sembari mengusap letak rasa sakit di kepalanya.
"Kau yang tak menjaga ucapanmu." Aldi tak ingin kalah berdebat dengan Bagas. Menurutnya, Bagas seperti perempuan yang banyak bicara.
. "Issshhhh... kalian mau sampai kapan bertengkar terus?." Tanya Reno dengan tertidur santai. "Al..." panggil Reno kemudian. Aldi hanya melirik tajam, berpikir bahwa Reno kembali menjahilinya.
"Al.... ishhhh kau tak dengar aku memanggilmu." Reno membuka mata lalau menoleh kearah Aldi.
"Apa? Kau mau menyicil namaku lagi?"
"Hehe..."
. Di kamar Avril, Alvi melirik Avril yang terlihat lelap tertidur. Kemudian Alvi menoleh pada Nadia yang asyik membaca majalah sesekali memainkan ponselnya. Saat ini hanya Nadia yang menunggu mereka, karena ayah dan Galih sibuk dengan bisnis dan membantu perusahaan Adam yang kini tak ada pimpinannya. Hingga Andre menyuruh Damian untuk mengurus dan menjadi presdir pengganti sebelum Aldi benar-benar siap memimpin perusahaan. Sedangkan Galih, Andre menyuruhnya untuk mengurus perusahaan Alvi.
Alvi sempat berpikir ulang dengan kedekatannya dengan Nadia sekarang. Gadis cantik yang menghabiskan waktu kosongnya di perpustakaan. Bahkan satu-satunya gadis di sekolahnya yang tak tertarik padanya. Sempat Alvi ingin mencari gara-gara, atau menarik perhatian Nadia agar menyukainya, namun tingkahnya malah semakin membuat Nadia menjauhinya. Sekarang, Nadia resmi menjadi kakak ipar Avril.
"Apa aku menyukainya saat itu? Tapi kelihatannya tidak juga. Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat saja." Gumam Alvi tersenyum dan kembali memalingkan wajahnya.
Nadia mendongak menyadari pergerakan Alvi.
"Kau tak tidur?" Tanya Nadia kembali fokus pada ponselnya.
"Nad... sejak kapan kita dekat?" Bukannya menjawab pertanyaan, Alvi malah melemparkan pertanyaan lain pada Nadia. Terlihat Nadia mendongak dan menyimpan ponselnya di meja.
"Sejak kau sering bolak-balik ke perpustakaan dan berusaha ingin mendekatiku." Jawab Nadia santai.
"Kau menyukaiku?" Nadia terdiam sesaat, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol Alvi.
"Mengapa tertawa? Benarkan? Seluruh siswi di SMA mati-matian mengejarku." Lanjut Alvi beranjak dan terduduk bersandar.
"Tapi aku tidak." Ucap Nadia polos.
"Aku sempat penasaran. Aku yang kaya, tampan, dan berkelas ini tak bisa membuatmu tertarik."
"Bukannya aku tak tertarik, tapi aku menjaga batasanku. Dan entah kenapa, aku merasa jika aku menyukaimu pun, aku tak akan bisa mendapatkanmu. Tapi, sekarang semuanya sudah jelas. Kita akhirnya menjadi ipar dan satu keluarga. Kau menjadi adikku, dan aku menjadi kakakmu."
"Tapi... Nad. Terimakasih, karena saat kepergian orang tuaku, kau orang pertama yang menenangkanku. Meskipun aku tak bisa menahan diri untuk pergi ke.... yaa kau tahu lah! Kenangan buruk. Bahkan sekarang aku menyesalinya pernah meminum minuman haram itu." Alvi berdecih dan kesal sendiri.
"Itu karena kau sedang terpuruk. Tapi, aku harap anakku bisa menjadi sepertimu." Nadia menunduk tersenyum dan menekap hangat perutnya yang masih rata.
"Ehh... jangan berharap sepertiku, kau mau aku dibunuh suamimu? Nanti dia mengira aku yang--".
"Apa yang kau pikirkan? Jika aku terlalu berharap anakku seperti ayahnya, bagaimana jadinya nanti? Di rumahku mungkin akan menjadi kutub yang dihuni satu beruang kutub dan bertambah pinguin lucu yang tak menyapa ibunya karena terlalu dingin." Nadia bersandar membayangkan bagaimana mengerikannya masa depan yang belum tentu terjadi seperti apa yang dia bayangkan.
"Kau berlebihan Nadia... anakmu tak akan seperti itu. Justru Galih itu orang hebat. Ya meskipun sikapnya menyebalkan." Alvi terkekeh mengingat wajah Galih yang kini muncul di pikirannya.
Alvi... terima kasih sudah menjaga Avril." Ucap Nadia lalu menghampiri dan mengusap kepala Avril dengan lembut.
"Itu sudah tugasku."
__ADS_1
"Aku tak menyangka kau akan menjadi adik iparku Al."
"Memangnya kenapa?"
"Yaa tak menyangka saja. Dan mengapa bisa kau datang di waktu yang tepat?"
"Maksudnya?"
"Kau datang saat Avril putus dengan Aldi."
"Yaa aku juga tidak tahu... mungkin sudah jalan takdir."
"Aihh... kau mendadak bijak?"
"Nad.... sudahlah... mengapa kau mengejekku terus..."
"Oke oke..." Nadia kembali tertawa kecil.
. Sore hari, terlihat Nadia menyuapi Avril. Sesekali Nadia menoleh pada Alvi yang menatap Avril dengan sayu.
"Kau mau disuapi juga?" Tanya Galih yang beranjak dan menghampiri Alvi. Alvi mendelik lalu meletakan makanannya.
"Aku tak bernafsu." Ucap Alvi memalingkan wajahnya.
"Baguslah. Mati sana! Mungkin nanti adikku menikah dengan pria lain." Galih menatap Alvi dengan tajam dan menekan.
"Apa maksudmu Galih?" Alvi tak kalah tajam menatap Galih.
"Kau tak mau makan, bukankah itu artinya kau tak mau sembuh dan ingin mati saja." Ucap Galih lagi.
"Bukan begitu Galih...."
"Lalu bagaimana?"
"Ck... yasudah... iya aku makan." Alvi berdecak sambil meraih kembali makanannya.
"Biar aku suapi Alvi..." ucap seorang gadis tiba-tiba terdengar dari arah pintu. Semula Avril tercengang dan bersiap akan merajuk pada Alvi, namun niatnya urung ketika melihat bahwa gadis itu adalah Demira.
"Kau sedang apa?" Tanya Noah mengejutkan Demira.
"Sedang menyuapi anak nakal." Jawab Demira polos dan terus menyuapi Alvi.
"Aku saja yang menyuapinya." Noah merebut makanan Alvi dari tangan Demira.
"Nafsu makanku hilang jika kau yang menyuapi." Cetus Alvi menatap tajam pada Noah yang membalas tatapannya dengan tajam juga. Terlihat Alvi pun sengaja bersikap manja pada Demira didepan Noah. Alvi tersenyum berhasil membuat Noah kesal. Namun saat melirik Avril, Alvi tersedak karena lirikan Avril yang begitu tajam.
"Apa sayang?" Tanya Alvi dengan wajah merayu. Namun Avril hanya menunduk tak menanggapi apapun. Avril masih merasa bersalah dengan kejadian ini. Mengapa Alvi sampai seperti itu berkorban untuknya.
. Pintu terbuka memperlihatkan Ray masuk dengan Roby dan Deri. Terlihat juga Feri ikut memasuki ruangan. Avril memalingkan pandangannya menghindari kontak dengan para karyawan Alvi itu. Tanpa ada yang bicara, semua anggota keluarga dan teman-teman pasien keluar satu persatu dari ruangan. Termasuk Noah.
Avril terlihat beranjak, namun Nadia memberi isyarat agar Avril tetap diam di tempatnya. Avril terlihat gelisah dan merasa canggung ketika semua meninggalkannya. Melihat Avril yang tak nyaman, Alvi hendak beranjak.
"Sebaiknya tuan jangan banyak bergerak." Ucap Ray yang menghampiri Alvi. Alat-alat medis ditubuhnya sangat membuatnya risih karena pergerakannya terbatas. Untuk menghampiri Avril saja sudah kesulitan, padahal hanya beberapa langkah saja.
"Mengapa kau terus terdiam. Tersenyumlah sedikit saja. Agar aku tak khawatir padamu." Ucap Alvi menatap Avril dengan berdecak kesal. Namun Avril hanya menatap Alvi dengan datar.
Deri dan yang lain menahan tawa melihat kepolosan Avril. Namun tidak dengan Feri. Kedatangannya ke rumah sakit pun karena ditakut-takuti oleh Deri cs. Yang tak lain jika Feri tidak meminta maaf, dalam waktu dekat, Feri akan di usir dari perusahaan dengan cara tidak sopan dan ia pun tak bisa mendapat pekerjaan diperusahaan lain setelah itu.
"Ray... apa kau bisa duduk disini?" Tanya Avril menatap harap pada Ray. Setidaknya jika Ray berada didekatnya, mungkin Avril tak akan terlalu canggung.
Ray menoleh pada Alvi, dan Alvi mengangguk pelan tanda mengizinkan. Dengan ragu, Ray duduk di dekat Avril yang kini membenahkan diri lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ray. Avril memejamkan matanya yang masih terasa berat. Ray terkejut dan menjadi kaku dengan keringat dingin mulai terasa tak nyaman. Ray melirik Alvi dengan wajah yang seakan memohon ampun karena berani begitu dekat dengan Avril. Namun Ray merasa heran dengan sikap Alvi. Biasanya Alvi selalu melemparkan tatapan menusuk jika Ray mendekati Avril. Kali ini Ray melihat tatapan sayu Alvi, mungkin Alvi masih merasa bersalah pada Avril. Seandainya Alvi lebih ketat menjaga Avril, mungkin tragedi ini tak akan terjadi.
"Jadi, apa yang membuat kalian kemari?" Pertanyaan konyol yang mungkin tak terpikirkan oleh Deri cs. Sudah jelas mereka kesana untuk menjenguk Alvi.
"Kita ingin melihat kondisi tuan." Jawab Roby.
"Kondisiku sangat parah." Cetus Alvi dengan santai membuat Avril membuka matanya.
"Maaf." Lirih Avril.
__ADS_1
"Kau berkata sesuatu?" Tanya Alvi menoleh kearah Avril yang menanggapinya dengan menggeleng kemudian melemparkan senyuman.
"Bahkan saat sakitpun, senyuman nona tetap manis." Gumam Ray mencuri-curi lirikan pada Avril.
"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Alvi merubah ekspresinya menjadi lebih dingin. Avril menarik senyumnya dan sedikit menggembungkan pipinya.
"Jangan pernah tersenyum lagi!" Tegas Alvi.
"Apa tuan sudah tidak waras? Melarang kekasihnya untuk tidak tersenyum? Ini benar-benar di luar logika." Gumam Roby menatap Alvi dan Avril bergantian.
"Jika kau tersenyum didepan mereka, aku juga akan tersenyum didepan gadis lain." Ucap Alvi lagi.
"Tersenyum saja sepuasmu." Cetus Avril merangkul lengan Ray. Alvi hanya menghela nafas berat.
"Apa tuan Alvi cemburu? Ahh jelas saja. Aku saja iri dengan mereka." Gumam Deri tersenyum kikuk.
"Kenapa tersenyum?" Tanya Alvi meninggikan suaranya ketika menatap tajam pada Deri. Deri terkejut kemudian menunduk dan masih menahan diri agar tidak tersenyum karena suasana diruangan itu.
"Ray... bulan ini kau tak dapat gaji." Cetus Alvi setelah menghela nafas panjang.
"Tap-tapi tuan.. sa-saya ti-tidak..."
"Lalu itu apa?" Alvi menunjuk lengan Ray yang masih dirangkul oleh Avril. Dengan sengaja Avril mempererat rangkulannya dengan bermanja pada Ray.
"Tuan..." rengek Ray membuat Deri cs merasa terheran. Di perusahaan, Ray begitu menakutkan. Tapi dihadapan Alvi, Ray tak lebih dari anak kecil.
"Benar-benar diluar nalar." Gumam Roby masih tertegun dengan sikap para pria dingin itu.
. "A-anu tuan..." Deri mengangkat tangannya dengan ragu sekalian melerai perdebatan Ray dan Alvi.
"Apa?" Alvi kembali menatap Deri dengan tajam.
"Ada yang ingin berbicara dengan tuan." Ucap Deri selanjutnya membuat Feri terkejut. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya.
"Apa yang harus aku katakan pada tuan Alvi? Sial... karena ketidaktahuanku, sekarang aku terjebak ditengah-tengah. Jika bicara, aku akan mendapat masalah dari tuan Alvi. Jika tidak pun, aku bahkan akan mendapat masalah yang lebih besar." Gumam Feri dengan kegelisahan yang tak bisa ia tepis.
"Ada apa? Bukankah untuk masalah cuti bisa kau tanyakan pada atasanmu?" Tanya Alvi yang menebak kemungkinan.
"Seb-sebelumnya saya ingin meminta maaf pada tuan dan nona Avril." Ucap Feri terbata membuat Alvi menyernyit heran. Mengapa Avril dibawa dalam masalah ini.
"Avril? Apa yang terjadi?" Alvi menoleh pada Avril dan Feri bergantian.
"Avril" panggil Alvi dengan nada tinggi. Avril menoleh pada Alvi dengan tatapan tak kalah kesal dari Alvi.
"Nona tak melakukan apapun tuan. Saya yang sudah kurang ajar dan tak sopan pada nona. Mohon ampuni kesalahan saya dan jangan memecat saya.. saya masih membutuhkan pekerjaan. Mungkin memang kesalahan saya sangat fatal, tapi saya benar-benar tak tahu bahwa nona adalah calon istri tuan Alvi." Ucap Feri menjelaskan dengan hati dan pikiran yang sudah berkecamuk.
"Mengapa kata 'tidak tahu' selalu menjadi. Padahal kalian sudah mengetahui konsekuensi berbuat kekerasan dan pelecehan itu apa. Dan apakah Roby atau atasan lain tidak memperingatkanmu?"
"Maaf tuan. Ini murni kesalahan saya." Feri semakin menunduk. Entah apa lagi yang harus ia jelaskan. Kesalahannya tetaplah murni dilakukan dalam keadaan sadar.
"Apa Avril terluka?" Feri semakin menunduk tak menjawab pertanyaan Alvi.
"Kutanya sekali lagi. Apa Avril terluka?" Kini suara Alvi kian meninggi dan "Ugh..." rasa sakit disekujur tubuhnya membatasi pergerakannya.
"Tuan..." Ray dengan cepat menghampiri Alvi dan membiarkan Avril sendiri.
"Alvi sudah... aku tidak terluka. Justru pak Feri yang hampir patah tulang karena kak Galih." Ucap Avril mencoba menenangkan. Terdengar suaranya yang gemetar.
"Itulah akibatnya jika kau tak mendengarkan aku. Sudah kubilang mereka harus tahu siapa kau sebenarnya agar tak terjadi hal-hal seperti itu. Mereka selalu beralasan 'tidak tahu.'"
"Kau marah?" Lirih Avril.
"Aku tak marah." Jawab Alvi mengusap wajahnya kasar.
"Lalu itu apa?" Rengek Avril.
"Aku marah jika kau terluka."
"Mengapa aku malah menyaksikan mereka bertengkar" gumam Roby menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Tak ada maaf untuk orang yang menyakiti Avril." Geram Alvi.
-bersambung.