Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
29


__ADS_3

. Demira tersenyum menanggapi kegugupan kedua sahabat yang diketahuinya masih menjalani hubungan.


"Demi... Bagaimana kau dengan Bagas?" Tanya Reno mengalihkan pembicaraan. Aldi dan Avril menghela nafas lega bersamaan.


"Tidak ada. Bukankah kalian tahu, itu hanya cinta anak SMA saja. Dan lagipula kita sudah putus saat sebelum aku pindah ke London."


"London?" Tanya Tiga sahabatnya bersamaan.


"Iya... London." Jawab Demira kembali menegaskan.


"Tidak Demi. Bukankah kau pindah ke Singapore?" Tanya Avril sedikit mengingat beberapa tahun yang lalu sebelum mereka berpisah.


"Ahhh ahaha aku lupa Avil..." Demira menutup wajahnya sebagian. "Aku pindah lagi. Dan itu kenapa sampai sekarang aku kesal pada ayahku."


"Jadi, siapa laki-laki yang berhasil membuat seorang Demira menerimanya sebagai calon suaminya? Apa aku mengenalnya?" Tanya Avril dengan ejekan.


"Jangan mengejekku Avil.. aku ingin melepas rindu dulu denganmu. Nanti aku akan kenalkan kau dengannya. Tapi, katanya dia juga datang kesini. Kemungkinan berarti dia sudah mengenal keluargamu. Aku tidak tahu pasti." Jawab Demira sedikit ragu.


"Ya... baiklah..."


"Hei... kalian belum menjawab pertanyaanku. Kapan kalian menikah? Aldi, kau jangan membuat Avil bersedih oke? Jika kau sampai membuat Avil menangis, aku orang pertama yang akan menamparmu." Ucap Demira melingkarkan tangannya di pinggang Avril.


"Aku merindukan suasana ini." Lirih Avril menatap bergantian ketiga sahabatnya. "Dan mengapa Bagas tidak datang Reno?" Lanjut Avril bertanya dengan wajah kesal.


"Ada sesuatu. Kau jangan khawatir, dia sudah meminta maaf padamu."


"Kapan?" Avril menyernyitkan dahinya heran. seingatnya, Bagas belum menemuinya atau menelponnya untuk sekedar meminta maaf.


"Sekarang. Dari kemarin dia memohon padaku untuk meminta maaf padamu. Yaa kau sendiri tahu dia tidak berani jika meminta maaf padamu secara langsung. Karena dia tahu kau pasti akan marah." Avril tersenyum konyol ketika mengingat bagaimana tingkah Bagas ketika memohon. Tanpa aba-aba keempat sahabat itu saling lirik, kemudian tertawa bersama mengingat konyolnya Bagas.


"Ahhh aku merindukan dia Avil.." ucap Demira bersandar dibahu Avril.


"Aku merindukanmu Demi."


"Aku juga..."


Ditengah perbincangan, seorang wanita yang sangat dikenal menghampiri mereka.


"Aldi... kau tidak bersama Anisa?" Tanya mama tiba-tiba saat menepuk pundak Aldi.


"Mama?" Ucap Avril, Aldi dan Reno bersamaan.


"Anisa?" Demira menyernyitkan dahinya tanda tidak mengetahui siapa Anisa. "Apa mama punya anak lagi setelah Aldi?" Lanjut Demira penuh penasaran.


"Ah... bukan.." jawab Mama terbata seraya menatap Demira lekat.


"Dia temanku." Ucap Avril menimpali.


"Ohhh... baguslah jika kau punya teman selagi aku tak ada Avil...." Avril hanya tersenyum menanggapi perkataan Demira.


Dalam senyumnya, Demira terus berfikir tentang apa yang terus mengganggu pikirannya.


"Mama masih mengingatku?" Tanya Demira pada Mama dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa?" Mama menyernyitkan dahinya, mengingat siapa gadis manis yang bersama dengan putranya.


"Aku Demira mama... mengapa mama lupa." Rengek Demira dengan manja.


"Demira?"


"Iya Demira. Anaknya mama Salma." Mama menutup mulutnya ketika mendengar nama teman lamanya terlontar.


"Ya ampun Demira... bukankah kau di London? Dimana ibumu sekarang?"


"Aku sendiri.... mama dan Ayah tidak ikut ke Indo."


"Dasar Salma. Apa dia tidak khawatir membiarkan putrinya pergi sendirian seperti ini. Lalu, kau menginap dimana nak?"


"Aku... emm... mungkin dihotel, jika tidak, mungkim saja dirumah sepupu ku."


"Mengapa kau tidak tinggal dirumah mama saja."


"Ahaha tidak ma... terimakasih... aku tidak mungkin tahan melihat wajah menyebalkan Aldi." Ejek Demira melirik kearah Aldi.


"Kau mengejekku?" Namun Demira hanya memalingkan wajahnya kesal.


"Demi akan bersamaku ma." Ujar Avril kembali menimpali.


"Ohh baiklah... mama mengerti. Ya sudah.. mama tinggal dulu. Kalian harus akur ya..." ucap mama kemudian meninggalkan kembali keempat sahabat itu.


Dibenaknya, Demira masih penasaran, siapa Anisa. Mengapa ketiga sahabat yang ada dihadapannya seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ohh iya sejujurnya, aku masih penasaran. Mengapa mama Dewi menanyakan temanmu Avil? I-ini mungkin pertanyaan yang tidak penting atau konyol. Tapi rasanya ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku." Ucap Demira menatap lekat wajah Avril yang perlahan memperlihatkan kepanikannya.


"Ah.. ahaha ti-tidak ada... i-itu mungkin perasaanmu saja." Jawab Avril kaku dengan bola mata yang berusaha menghindari tatapan pada Demira.


"Aku sahabatmu Avil... aku tahu sikapmu jika sedang menyimpan rahasia dariku. Jadi, katakan sekarang, atau aku akan marah padamu dan tidak akan menemuimu lagi." Ancam Demira membuat Avril terkejut kemudian mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Padahal hanya perlu mengungkap kenyataannya saja bahwa aku dan Aldi sudah tidak bersama lagi. Tapi mengapa? Maafkan aku Demi. Mungkin belum saatnya kau tahu." Gumam Avril memalingkan wajahnya berharap tidak memperlihatkan wajah sedihnya pada Demira.


"Jika kau ingin pergi dari kehidupanku, pergilah Demi. Aku sudah terbiasa dengan kesendirian." Ucap Avril kemudian berlalu dengan wajah sendu menjauh dari ketiga sahabatnya.


"Avil bukan begitu..." Reno menarik tangan Demira ketika dia hendak menyusul Avril.


"Biarkan dia. Percayalah dia tidak marah padamu." Ucap Reno meyakinkan. Demira menatap sendu kepergian Avril.


"Sejak kapan dia seperti itu?" Gumam Demira yang ikut dengan Reno. Aldi berpisah dengan keduanya, dan entah kemana.


Avril mencoba menelpon Alvi beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban.


"Dimana kau Alvi?" Lirih Avril seraya menatap layar ponselnya.


"Jangan berjalan sendirian nona. Jika tuan tahu, maka gaji saya akan dipotong." Ucap Ray yang tiba-tiba berada tak jauh dari tempat Avril berdiri.


"Jika tuanmu ada, aku tak akan sendirian Ray."

__ADS_1


"Jadi nona sedang mencari tuan?"


"Tentu saja. Kau tahu dia dimana sekarang?"


"Tu-tuan....."


"Ayolah Ray..."


"Tu-tuan se-sedang..."


"Sedang apa?"


"Sedang tidur."


"Apa?" Avril menyernyitkan dahinya heran.


"Sepertinya tuan kelelahan nona. Jadi saya menyuruhnya untuk beristirahat"


"Dimana dia Ray?"


"Di atap nona."


"Apa? Diatap? Apa dia sudah gila?"


"Sepertinya begitu nona." Ucap Ray dengan santai.


"Tuan memang sudah gila sejak lama." Gumam Ray memasang senyuman.


Tanpa bicara lagi, Avril berlalu meninggalkan Ray.


"Nona jangan pergi, sebentar lagi jadwal--"


"Lupakan jadwal Ray." Suaranya kian menghilang karena semakin jauh dan berlalu dibalik keramaian.


. Sampai diatap, Avril mendapati Alvi yang sedang duduk dikursi dengan mata terpejam, dan tangan yang menopang pipinya.


"Keras kepala." Ucap Avril kesal menghampiri Alvi.


Avril duduk didepan Alvi dengan ekspresi yang marah. Rasanya ingin memaki Alvi sekarang, namun Avril merasa luluh saat melihat Alvi yang benar-benar terlihat kelelahan.


Avril beralih dan duduk disamping Alvi. Menyandarkan kepala Alvi dibahunya.


"Sudah kubilang jangan memaksakan." Ucap Avril samar terdengar oleh Alvi yang enggan membuka matanya.


Setelah hampir 1 jam, Alvi membuka matanya mendapati gaun berwarna biru muda disampingnya. Dengan pelan, Alvi menoleh menatap wajah pemilik gaun itu.


"Sudah siuman?" Tanya Avril melemparkan senyuman manis namun dengan arti yang lain.


"Hehe mengapa kau disini?"


"Emmm aku ingin memarahimu nak."


"Apa? Nak? Ha ha kau... baiklah! Hemmm mama.. apa kesalahanku sehingga membuatmu ingin memarahiku?" Ejek Alvi dengan nada serius diiringi senyuman yang terlihat menahan sebuah tawa.


"Bukankah mama bilang jangan bekerja terlalu keras. Jadinya kau tidur saat acara sedang berlangsung kan?" Tegas Avril mengikuti jalan permainan konyolnya.


"Tidak semudah itu untuk memaafkanmu nak. Kau sangat bersalah. Kau membuat mama mengkhawatirkanmu." Avril menepuk pipi Alvi pelan.


Tingkah Avril membuat Alvi sangat gemas dan tak bisa menahan tawanya. Alvi meraih pundak Avril dan kini saling berhadapan.


"Terimakasih Avril. Aku sangat bahagia. Jangan pergi dariku oke?" Avril terdiam seketika dari tawanya. Mencoba mencerna maksud dari perkataan Alvi yang tiba-tiba.


"Sebaiknya kita kembali tuan Revano. Sudah saatnya kita--"


"Menikah?" Alvi memotong ucapan Avril sehingga Avril reflek memukul lengan Alvi.


"Ihhh bukan.. mengapa dipikranmu hanya menikah saja. Kita harus berfoto dengan kak Galih."


"Foto? Untuk apa?"


"Ya untuk kenang-kenangan."


"Tidak membuat foto pun, aku akan selalu ingat secantik apa dirimu hari ini. Matamu, rambutmu, senyummu. Semuanya akan aku ingat." Avril terdiam mematung ketika Alvi semakin dekat, jantungnya lagi-lagi berdegup lebih keras sampai terdengar olehnya.


Hanya beberapa cm jarak antara wajah Alvi dan Avril. Alvi tersenyum menatap mata Avril


"Kau gugup? Biasanya jika aku akan menciummu, kau selalu menamparku." Avril memalingkan wajahnya dan sedikit menggembungkan pipinya.


'Cup' kecupan hangat mendarat dikening Avril.


"Ayo. Kakakmu pasti sedang memaki ku sekarang." Ucap Alvi berdiri dari duduknya.


Keduanya kembali dengan tangan yang seakan tak ingin saling melepaskan.


Belum sampai diruang utama, Avril pergi ke toilet dan menyuruh Alvi untuk menunggunya.


Alvi bersandar dengan fokus pada ponsel Avril yang ada ditangannya.


Ketika kembali, Avril menghampiri Alvi yang masih asyik melihat foto-fotonya.


"Kau sedang apa tuan?" Tanya Avril mengejutkan Alvi.


"Sudah?"


"Jawab pertanyaanku!"


"Apa lagi sayang. Mengapa kau selalu kesal padaku."


"Kau sedang apa dengan ponselku?"


"Tidak... aku hanya penasaran dengan rahasia calon istriku ini." Alvi mencubit gemas pipi Avril.


"Awww sakit..." rengek Avril mengusap pipinya.


"Tidak keras juga." Ucap Alvi ikut mengusap pipi Avril.

__ADS_1


'Plak' dengan tiba-tiba Avril menampar Alvi.


"Awwww mengapa kau menamparku."


"Apa? Sakit? Tidak keras juga." Avril menirukan nada bicara yang dilontarkan Alvi tadi.


"Ohhhh jadi kau balas dendam?" Tanya Alvi dengan seringai menakutkan. Avril tahu akan arti senyum licik itu, dan sesegera mungkin menjauh dari Alvi.


"Uhhh aku takut....." ejek Avril seraya berjalan menjauhi Alvi.


"Mau kemana kau anak nakal?.."


"Aku akan meninggalkanmu."


'Deg' entah kenapa kata yang terlontar itu membuat Alvi terkejut. Dengan cepat Alvi menyusul lalu merangkul pundaknya.


"Jangan"


"Eh? Jangan apa?" Avril menoleh kebingungan dengan ucapan Alvi.


"Jangan meninggalkanku. Anak nakal!" Lirih Alvi, namun Avril hanya tersenyum menanggapinya.


. Ketika sampai diruang utama, Ray dengan cepat menghampiri Alvi dan menyuruh keduanya menemui Galih secepatnya.


"Apa aku tidur terlalu lama?" Tanya Alvi pada Avril. Avril hanya mengelak tanda tidak tahu.


"Kau benar-benar menyebalkan Avril."


"Seorang istri tidak akan menyebalkan jika suaminya tidak menyebalkan." Ucap Avril berlalu menuju tempat Galih.


"Apa? Katakan sekali lagi!" Alvi mengikuti Avril dari belakang.


"Apa? Aku tidak berkata apa-apa."


"Yayayaya..."


"Ehh kau meniruku tuan..." ucap Avril menoleh kebelakang.


"Perhatikan jalanmu nona, jangan sampai tersandung.!" Ejek Alvi membuat Avril kembali berbalik kedepan.


"Yayayayayaya."


Alvi menggeleng heran dengan tingkah gadis tersayang didepannya itu.


Disamping candaan dan kedekatan Alvi dan Avril, ada berbagai bisikan dan menjadi riuh diruangan itu. Apalagi saat Kedua pasangan berfoto bersama.


"Pasangan yang serasi. Apa Alvian kekasih nona Avril? Mengapa dia berfoto bersama?" Tanya salah satu nyonya yang duduk tidak jauh dari Demira.


Dengan hati-hati Demira mendengarkan obrolan dari beberapa sudut.


"Sepertinya bukan. Melihat wajah dinginnya, tidak mungkin mereka berpacaran. Setahuku Alvian sangat berjasa dalam acara ini. Dia yang mengatur semua persiapan dan kebutuhannya. Termasuk meminta kepala kepolisian Andara untuk mengawal Galih secara langsung." Jelas nyonya yang lain.


"Iya. Itu ayahku nyonya." Ucap Reno tersenyum yang sedari tadi menahan diri mendengarkan obrolan mereka.


"Kau putranya Andara?" Reno mengangguk menanggapi pertanyaan itu.


"Ahh maaf. Kami tidak bermaksud nak."


"Tidak apa nyonya.. saya memaklumi. Jangan segan, silahkan nyonya kembali menikmati acaranya."


Dari sisi lain Demira kembali mendengar gosip tentang sahabatnya itu. Didepannya masih standby Reno yang santai menatap Avril.


"Reno. Jelaskan padaku kebenarannya." Reno menyernyit heran dengan pertanyaan Demira.


"Kebenaran apa?"


"Siapa Anisa? Dan apa yang terjadi pada Avril? dan apa yang kalian sembunyikan dariku?"


"Ak-aku tak mengerti maksudmu Demi.."


"Reno... jangan mengelak." Delik Demira malas.


"Aku tak ada hak untuk mengatakannya Demi." Reno memalingkan wajahnya tanda tak ingin membahas apa yang bukan urusannya.


"Jadi benar ada yang kalian sembunyikan dariku? Dan apa hubungan Avil dengan Alvian?"


"Alvian. Kau mengenalnya?" Reno menyernyit heran.


"Tentu saja aku mengenalnya."


"Kau serius?"


Demira mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Reno. Tak lama setelah Reno hanya terdiam membisu, Demira terbelalak melihat pemandangan yang tak ingin dia lihat selama ini. Tak lain, melihat Aldi mengelus kepala Syifa. Terlihat jelas Aldi menoleh kesana kemari ketika berbincang dengan Syifa. Seakan tak ingin ada orang lain tahu apa yang dilakukannya.


Demira beranjak dengan wajah yang marah, dan Reno kebingungan karenanya. Reno menoleh kearah tatapan Demira dan mendapati Aldi dan Syifa disana. Mendadak hatinya gelisah tak beraturan.


"Sial... Demira pasti mengira bahwa Aldi mengkhianati Avril. Eh... memang begitu kan? Arghhhh benar-benar sial." Gumam Reno seraya mengikuti langkah Demira.


Demira menarik kemeja Aldi dan menyeretnya keluar gedung seolah tak mempedulikan sekitar. Syifa terkejut dengan sikap gadis yang tak diketahuinya.


Avril tak sengaja melihat adegan itu, dan dengan buru-buru berlari menyusul Demira.


"Aku akan kembali nanti." Ucap Avril pada Galih kemudian berlalu begitu saja.


Setelah sampai diluar gedung, 'Plak' Demira tiba-tiba menampar Aldi.


"Kau sudah lupa dengan ucapanku Aldi? Dan Siapa dia? Selingkuhanmu? Bukankah kau dan Avil--"


"Demi cukup!" Teriak Avril tak jauh dari mereka.


"Avil... apa kau tak marah?" Tanya Demi dengan heran pada sikap Avril. Avril beberapa kali menghela nafas panjang.


"Hubunganku dan Aldi sudah berakhir Demi."


"Apa maksudmu?" Demira seakan tak mempercayainya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2