Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
20


__ADS_3

. Avril mundur perlahan lalu diam-diam pergi menjauh dari ruangan. Entah kemana arahnya, Avril dengan menunduk menyusuri lorong-lorong rumah sakit.


Didalam ruangan, Reno gelisah karena keduanya tak kunjung kembali. Dengan bergegas, Reno hendak menghampiri Avril, namun pintu terlebih dahulu dibuka oleh Alvi dan Amel dibelakangnya.


"Dimana Avril?" Tanya Reno mendongak dan mencari dibelakang Amel.


"Apa maksudmu? Bukankah Avril didalam?" Alvi tak kalah heran.


"Apa? Kau tidak bertemu dengannya? Dia bilang ingin memastikan bahwa kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh karena dia tidak mempercayaiku." Jelas Reno semakin panik.


"Apa dia melihatku dan berfikir bahwa....." gumam Alvi dan "sial" cetusnya kembali keluar dan berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan diikuti Reno dan Bagas.


"Mengapa kalian membiarkan dia?" Ucap Alvi kesal.


"Kau. Ini gara-gara kau." Jawab Reno tak kalah kesal.


"Mengapa kau mengikutiku?" Alvi berhenti dan menatap pada Baren yang ikut berhenti.


"Aku juga khawatir pada Avril." Jawab Bagas polos.


. Diwaktu yang sama, Avril bertemu dengan Noah.


"Apa yang kau lakukan diluar?" Noah meraih bahu Avril dengan panik.


"Tolong lepaskan ini." Titah Avril menunjukan infusan ditangannya.


"Avril kau belum pulih."


"Aku ingin pulang Noah." Rengek Avril.


"Ada apa denganmu? Saat aku pergi, kau baik-baik saja." Noah menatap heran wajah Avril.


"Aku ingin pulang." Ucap Avril kesal.


"Tidak Avril."


"Kalau begitu aku yang akan melepaskannya sendiri." Avril hendak menarik jarum infus dari tangannya.


"Tidak tidak. Jangan. Biar aku yang melakukannya." Dengan cepat Noah meraih tangan Avril yang terasa dingin. Melirik wajahnya yang sedang kesal.


"Sudah puas?" Tanya Noah merebut peralatan infus yang dibawa Avril.


Avril berlalu begitu saja meninggalkan Noah yang terheran menatap kepergian Avril.


"Apa aku juga sudah gila?"


Saat hendak ingin kembali ke ruangannya, Terdengar ada yang memanggil namanya. Noah menoleh dan mendapati Alvi yang diikuti Baren dibelakangnya.


"Sejak kapan kau punya pengawal?" Tanya Noah tak bisa menyembunyikan ekspresi herannya.


"Ini bukan waktunya becanda Noah..." geram Alvi.


"Apa kau melihat Avril?" Tanya Reno panik.


"Avril?" Noah menyernyitkan dahinya.


"Iya... dia menghilang." Ucap Bagas menimpali.


"Apa yang terjadi.?" Noah semakin heran dengan situasinya.


"Dia--" dering ponsel menghentikan ucapan Alvi. Alvi merogoh saku jasnya lalu menerima panggilan dari Ray.


"Tuan.. saya melihat nona Avril memasuki taksi." Ucap Ray dari sebrang.


"Apa?" Alvi mencoba mencerna ucapan Ray. "Ikuti dia Ray." Ucap Alvi sedikit berteriak.


"Apa yang dia pikirkan?" Gerutu Alvi sambil berjalan dengan cepat. Noah hanya mematung lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi, siapa yang gila disini?" Gumam Noah seraya berbalik menuju ruangannya.


. Disisi lain, Galih dan Nadia sampai diruangan Avril. Namun, Galih heran bercampur terkejut ketika mendapati kamar itu tidak ada siapa-siapa.


Terdengar suara ponsel yang berbunyi lalu kembali diam beberapa saat tak jauh dari mereka berdiri, Galih mengambil dan melihat nama Bagas, Reno, dan Alvi di riwayat panggilan tak terjawabnya.


"Sial. Bukankah ini milik Avril?" cetus Galih kemudian mengajak Nadia ke ruangan keamanan untuk mengecek CCTV.


. Sementara Alvi dan Baren mengejar taksi yang dimaksud oleh Ray diantara kemacetan yang panjang disebuah lampu merah. Dan tidak terlalu jauh, Bagas menunjuk taksi yang terhalang beberapa mobil didepannya.


"Mengapa aku yang menyetir? Terlihat seperti aku yang menjadi supir mereka." Alvi bergumam seraya menatap sinis pada Baren.


"Apa?" Tanya Baren bersamaan menatap konyol pada Alvi.


"Kalian bersikap layaknya majikanku" ucap Alvi kesal.


"Jangan memikirkan itu Alvi. Sekarang waktunya mengejar Avril." Ucap Bagas membuat Alvi menghela nafas panjang.


"Tapi.. apa yang membuat Avril nekat pulang dengan kondisi seperti itu?" Reno terlihat berfikir menerawang jauh kedepan.

__ADS_1


"Kau benar, dan disaat yang bersamaan...." Bagas dan Reno menoleh kembali pada Alvi lalu menatapnya tajam. Alvi berdecih tapi tak lama tersimpul senyum dibibirnya.


"Aku tidak menyangka Alvi. Ternyata kau hanya mempermainkan Avril." Bagas menatap sinis pada Alvi yang kembali fokus kedepan. Suaranya terdengar berbeda dari biasanya jika sedang marah.


"Eh? Apa? Aku tidak mempermainkan Avril." Ucap Alvi santai.


"Sudahlah Alvi jangan mengelak. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat seenaknya pada Avril" Tegas Reno.


"Kalian kenapa? Bukankah kalian juga tahu usaha ku meyakinkan Avril bahwa aku mencintainya?. Sudah kubilang aku tidak mungkin mempermainkan perasaannya." Geram Alvi.


"Baru saja kau tersenyum puas saat tahu bahwa Avril cemburu padamu kan?" Bagas meninggikan suaranya.


"Justru itu yang membuatku senang. Kalian tahu artinya jika Avril cemburu?" Alvi kembali tersenyum lebar bertanya pada dua orang dibelakangnya.


"Tapi kau tak tahu bagaimana Avril jika sudah mencintai seseorang." Decih Bagas.


"Aku tahu. Dan karena itulah Avril pergi tanpa alasan setelah melihatku dengan Amel." Lirih Alvi


Alvi kembali melajukan mobilnya ketika lampu sudah hijau dan mobil didepannya sudah sedikit demi sedikit melaju perlahan.


Alvi menyalip taksi yang benar-benar ada Avril didalamnya. Seketika taksi itu berhenti dengan mendadak dan membuat Avril terbentur.


"Maaf nona. Saya tidak sengaja. Ada mobil yang berhenti didepan saya.!" Jelas supir taksi merasa bersalah.


"Biarkan saja pak. Berhentilah dulu." Avril terdiam meski mengetahui bahwa Alvi dan yang lain pasti mencarinya.


Bagas dan Reno keluar terlebih dahulu dan menghampiri Avril yang bersandar dengan tatapan dingin.


"Avril...."


"Aku ingin sendiri Bagas." Tegas Avril sebelum Bagas melanjutkan perkataannya.


"Kau kenapa Avril...?" reno terlihat khawatir.


Namun Avril hanya terdiam dan tidak menjawab. Ketidaknyamanan Avril semakin terlihat ketika Alvi menghampirinya. Avril memijit dahinya dengan wajah yang menahan kesal.


"Apa aku--" Alvi terhenti ketika Avril tiba-tiba menyela ucapannya.


"Pak jalan ya...!" Ucap Avril pada supir didepannya.


"Jangan dulu pak. Saya ada urusan dengannya." Ucap Alvi sedikit menunduk. Alvi meraih pintu mobil dan membukanya, kemudian menarik Avril yang berdecih melihatnya.


"Kau melihatku dengan Amel kan?" Alvi menatap Avril penuh harap.


"Iya. Dan aku melihat adegan itu."


"Lalu? Apa itu yang membuatmu tiba-tiba pulang?"


"Sudah jelas itu urusanku. Aku ini--"


"Kau bukan siapa-siapa Alvi. Sudahlah. Kau hanya seseorang yang lewat layaknya angin, dan tidak berarti apa-apa untukku!" Alvi terdiam menatap Avril yang tetap dingin mengatakan hal yang membuat Alvi merasa tertusuk panah tepat didadanya.


"Baiklah Avril. Kau benar aku bukan siapa-siapa. Jadi tak pantas ikut campur dalam urusanmu." Ucap Alvi menahan sesak, tidak percaya bahwa Avril akan berkata demikian.


"Jangan menemuiku setelah ini Alvi. Aku sudah muak melihat wajahmu. Jangan membawaku pada masa lalumu yang belum selesai." Ucap Avril dingin memalingkan wajahnya. Jika masih seorang anak kecil, mungkin saat ini Alvi sudah menangis didepan Avril. Kata-kata Avril jelas melukainya.


"Maaf jika aku mengecewakanmu Avril. Tapi itu tak seperti yang kau lihat."


"Apa menggenggam tangan dan membelai pipi tidak bisa menjelaskan bahwa kau dan kak Amel masih saling mencintai?"


Avril kembali memasuki taksi dan diikuti oleh Bagas yang ikut masuk disampingnya.


Taksi kembali melaju, namun Alvi masih terdiam ditemani Reno.


"Kau tidak ikut?" Tanya Alvi tanpa menoleh.


"Mengapa kau terdiam? Dimana Alvi yang selalu menunjukan rasa cintanya pada Avril? Kau seakan menyerah dengan tiba-tiba. Atau kau benar-benar masih mencintai Amel?"


"Aku tidak pernah mencintainya Reno." Kesal Alvi menoleh dan menatap tajam pada Reno.


"Lalu?"


"Reno apa kau bisa menyetir untukku? Kali ini saja bantu aku. Aku sedang tidak ingin membawa mobil." Reno hanya mengangguk seraya menghela nafas berat menanggapinya.


. "Alvi? Jelaskan padaku apa yang terjadi. Bukankah kau bilang kau hanya ingin ke toilet saja?" tanya Reno yang menyetir dan sesekali menoleh pada Alvi.


Alvi menghela nafas panjang sebelum memulai penjelasannya.


*flashback beberapa jam yang lalu.


. Alvi berjalan menuju toilet setelah memastikan Reno memasuki ruangan. Namun baru beberapa langkah, Alvi berpapasan dengan Amel. Meski Alvi mengabaikan, Amel dengan cepat menarik lengan Alvi. Sempat Alvi ingin menepis tangan Amel, Amel terlihat menunduk lesu dan terus meminta maaf atas kejadian yang menimpa Avril tempo hari. Baru kali ini Alvi melihat Amel menangis karena perbuatannya.


"Jangan meminta maaf padaku. Meminta maaflah pada Avril. Dia yang mengalami kecelakaan itu, bukan aku." Amel mengangguk pelan dan membiarkan air matanya membasahi kedua pipinya.


"Aku takut... jika Avril tidak memaafkanku." Lirih Amel sedikit serak khas orang yang sedang menangis, dan beberapa kali terisak menahan tangisannya.


Alvi tersenyum, terlihat rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Kemudian Alvi menepuk pelan pipi Amel lalu membalas genggamannya, namun tak menyadari bahwa ada seorang gadis yang menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Avril tidak seperti itu. Bahkan saat semua orang menyalahkanmu, Avril dengan polosnya menanyakan kabar dan kondisimu. Bukankah itu menyebalkan?" Alvi tertawa kecil melihat wajah Amel yang menatap datar padanya.


"Ahh kau benar. Tidak heran jika kau dan Aldi sangat mencintainya." Ucap Amel memalingkan wajahnya.


"Baguslah jika kau sudah mengerti." Alvi kemudian melepaskan genggaman tangannya dan kembali menuju ruangan inap Avril.


Saat membuka pintu, kembali Alvi mendapati Reno dihadapannya. Merasa tidak percaya bahwa Avril tidak ada diruangan itu, Alvi bergegas berlalu menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan diikuti Reno dan Bagas dibelakangnya.


*flashback end-


"Begitulah. Sebenarnya aku tidak melakukan apapun pada Amel." Ucap Alvi menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


"Jadi?"


"Apanya yang jadi?" Alvi menoleh heran pada Reno.


"Bagaimana meyakinkan Avril bahwa ini hanya salah faham." Jawab Reno masih terus fokus pada jalanan didepannya.


"Kau percaya padaku?" Alvi menyernyitkan dahinya.


"Aku tidak tahu..." Reno menggeleng pelan.


Alvi menghela nafas berat, lalu kembali memejamkan matanya.


"Kita ikuti Avril." Ucap Alvi tanpa membuka mata.


"Baik tuan Alvian Revano..." jawab Reno tersenyum paksa kemudian menunjukan ekspresi kesal.


"Kau tahu namaku?" Tanya Alvi heran seraya menatap Reno.


"Haihh... tentu saja aku mengenalmu pak presdir perusahaan D" Delik Reno.


Keduanya mengikuti taksi yang ditumpangi Avril dan Bagas.


Bagas terus menatap wajah Avril yang pucat.


"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Bagas khawatir. Avril mengangguk menanggapi.


"Sebenarnya apa yang membuatmu pulang dengan tiba-tiba seperti ini?" Bagas tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Tidak ada." Jawab Avril.


"Kita berteman sudah sangat lama. Tak perlu ada yang kau sembunyikan lagi dariku." Delik Bagas lalu menoleh keluar kaca. Avril pun memalingkan wajahnya ke sisi lain.


"Apa aku terlalu cepat membuka hati untuk orang lain? Menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang." Lirih Avril bersandar dan masih menatap bayangannya di kaca.


"Apa yang kau maksud? Kau membicarakan Aldi? Atau Alvi?" Bagas menoleh menatap lekat pada sahabatnya itu dengan dahi yang berkerut. Namun Avril tidak menjawab, dan hening untuk waktu yang lama.


"Aku benci saat kau sudah diam sepeeti ini. Jika memang ada masalah, harusnya kau bicara. Jika kau terus seperti ini, aku dan Reno tak akan bisa membantumu. Kita tak selamanya mengerti dan faham apa arti diammu itu." Ucap Bagas kesal tanpa melihat wajah Avril yang semakin sayu.


Tanpa disadari, sebuah mobil berhenti membuat taksi ikut berhenti.


Seseorang turun dari mobil dengan raut wajah yang jelas terlihat kesal. Membuka pintu taksi dengan kasar lalu menarik tangan Avril.


"Sakit kak." Rintih Avril dengan menggenggam tangan Galih yang mencengkram kuat pergelangan tangan Avril.


Bagas ikut turun dan hendak mengejar Avril yang kesakitan ketika akan memasuki mobil dengan paksa.


"Kak--"


"Diam kau!" Bentak Galih membuat nyali Bagas ciut seketika.


"Galih... apa yang kau lakukan?" Suara Alvi membuat amarah Galih semakin memuncak.


"Jauhi adikku atau perusahaanmu akan hancur ditanganku." Ucap Galih dingin dengan mata yang menatap tajam pada Alvi yang berdiri tak terlalu jauh darinya.


"Sejak kapan dia turun?" Reno kebingungan saat sadar Alvi sudah diluar.


"Tidak Galih. Lebih baik aku kehilangan perusahaanku daripada aku harus menjauhi Avril." Tegas Alvi tak kalah dingin.


"Cih.. kau mau terus menerus mempermainkan perasaan adikku?" Galih berdecih dengan nada menahan kesal.


"Aku tidak pernah mempermainkan perasaan Avril Galih. Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu." Alvi mulai terlihat putus asa.


"Ucapanmu tidak sesuai dengan apa yang kau lakukan Alvi. Sekalinya bajingan, kau tetap bajingan." Kini mata Galih mulai memerah menahan amarah yang ingin meluap.


"Sebelum kau menilaiku bajingan, lebih baik kau melihat dirimu sendiri." Galih memanas mendengar apa yang Alvi ucapkan. Galih mendekat dan tanpa pikir panjang memukul wajah Alvi tepat dipelipisnya. Perih, dan panas. itulah yang dirasakan Alvi saat ini.


Supir taksi itupun ikut keluar hendak melerai, namun Bagas menahan.


"Tolong bapak jangan ikut campur." Ucap Bagas lembut.


"Tapi..." tatapan paniknya tak tersembunyikan oleh bapak supir taksi itu.


"Percayalah pak. Jika ikut campur pun, bapak yang akan terkena imbasnya juga." Ucap Bagas meyakinkan. Supir taksi hanya mengangguk menanggapi sambil terus memperhatikan Alvi yang semakin sempoyongan.


Pukulan yang direncanakan Galih sebagai pukulan terakhir, tangannya tiba-tiba ditarik yang dipikirnya itu Bagas. Dengan tangan kirinya, Galih menampar wajah seorang yang menarik tangannya.

__ADS_1


Tepat ketika tangannya ditarik, terdengar teriakan yang sangat dikenalnya, dan tamparan itu sudah tak bisa dikendalikannya. Semua mata terbelalak menyaksikan Avril yang tumbang ditangan kakaknya sendiri.


-bersambung


__ADS_2