Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
18


__ADS_3

Amel berjalan menyusuri dermaga, lalu berbalik dan kembali menatap Avril yang masih berdiri sedikit jauh dari danau.


"Avril... aku tahu kau masih mencintai Aldi dan Aldipun begitu padamu. Jadi, sangat mudah untukku memisahkan Syifa dari Aldi." Ucap Amel.


"Tawaran yang bagus kak. Tapi aku tidak tertarik." Avril tersenyum menatap Amel. "Sebesar apapun perasaanku pada Aldi, tapi aku tidak pernah menginginkan perpisahan mereka. Dan maaf, tapi Alvi sudah melamarku pada ayah. Jadi, tak ada alasan untukku meragukan perasaan Alvi." Lanjut Avril membuat Amel mematung. Amel mundur dan semakin dekat keujung dermaga.


Avril yang menyadari bahwa Amel berjalan mundur dengan pikiran yang tidak sadar, berlari dan kini pikirannya yang kacau. Ketakutannya pada Air kini menghantuinya. Avril menutup matanya berlari menghampiri Amel, dan kembali membuka matanya saat Amel hampir terjatuh. Avril menarik tangan Amel dan memutar posisinya. Genggaman Avril terlepas membuatnya jatuh kedalam danau.


. Dari dalam mobil, Aldi dan Syifa terus memperhatikan Avril dan Amel.


Saat Avril berlari, Aldi dengan cepat turun dari mobil diikuti Syifa.


Aldi tahu bahwa Avril sangat takut pada air, dan tidak bisa berenang.


Air matanya mulai berderai saat menyaksikan Avril terjatuh. Dan tanpa mempedulikan kakaknya, Aldi langsung melompat kedalam.


Aldi menarik Avril sampai ketepi danau, dan memindahkannya ke area yang masih tersorot matahari.


"Avril.. bangunlah..." lirih Aldi yang masih menangis.


Amel menghampiri Aldi yang berusaha membangunkan Avril.


"Aldi... apa Avril baik-baik saja?" Lirih Amel merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan kak? Apa yang kau pikirkan? Aku tidak ingin kehilangan Avril untuk yang kesekian kalinya. Sudah cukup aku menderita karena mengkhianatinya kak. Dan sekarang, kau mencoba untuk membuatnya meninggalkanku." Teriak Aldi kemudian menunduk dengan terus terisak.


"Maafkan aku Aldi. Aku tidak berfikir akan seperti ini. Aku mengajaknya bertemu hanya untuk berbicara." Jelas Amel namun Aldi tidak mendengarkan apa yang Amel katakan.


Tanpa berfikir panjang, Aldi memberikan nafas buatan pada Avril namun tak berhasil. Tak peduli disana ada Syifa ataupun kakaknya, dipikirannya sekarang hanya kesadaran Avril.


"Sial ini tidak berhasil." Aldi membawa Avril kedalam mobil. Dan menunggu Syifa yang mengikutinya.


Syifa masuk dan menemani Avril di kursi belakang.


"Maaf Syifa..." lirih Aldi.


"Kau berkata sesuatu?" Tanya Syifa menatap Aldi dari belakang.


"Tidak... mungkin kau salah dengar." Jawab Aldi menyalakan mobilnya, lalu melajukannya sedikit cepat.


"Apa tidak masalah jika meninggalkan kak Amel?" Tanya Syifa menoleh keluar mobil.


"Biarkan saja. Dia membawa mobil sendiri." Jawab Aldi kesal.


Syifa menatap Avril yang terlelap dengan wajah pucat, dan kulitnya yang terasa dingin.


Syifa semakin ketakutan melihat kondisi Avril.


. Di perusahaan D, Alvi berbaring di sofa setelah menyelesaikan sebagian pekerjaannya yang sempat ditinggalkannya.


"Mengapa aku terus memikirkan Avril." Ucap Alvi memejamkan matanya....


. "Syifa.... tolong telpon perusahaan A dan beritahu Galih tentang ini." Aldi menyodorkan ponselnya pada Syifa.


Syifa mencari kontak yang dimaksud lalu menelpon nama perusahaan A yang tertera.


Syifa menjelaskan kondisinya setelah panggilan benar-benar tersambung pada Galih.


. Sampai di rumah sakit, Avril dibawa keruang UGD. Aldi terduduk lesu dilantai bersandar pada tembok. Berharap bahwa Avril baik-baik saja.


Tak lama, Galih datang. Yang pada awalnya Galih akan menyalahkan Aldi, namun niatnya urung ketika melihat Aldi terus menerus menangis.


"Dia belum sadar?" Tanya Galih pada Syifa. Syifa hanya menggeleng menerawang kedalam ruangan.


ponsel Galih berbunyi, dan terlihat Galih kesal melihat nama penelpon.


"Apa?" Galih memalingkan pandangannya.


"Apa Avril bersamamu? Aku beberapa kali menelponnya tapi tidak diangkat." Ucap Alvi dari sebrang.


"Apa kau khawatir?" Tanya Galih.


"Kau bertanya? Tentu saja aku khawatir." Jawab Alvi kesal.


"Baguslah. Avril sedang dirumah sakit sekarang." Ucap Galih dingin.


"Ohhhh.... hah? Apa?" Teriak Alvi. "Apa dia kecelakaan? Atau sakit demam? Atau--" Galih memutus panggilan sebelum Alvi selesai berbicara.


"Sialan kau Galih...." teriak Alvi memaki Galih. Tanpa berpikir lagi, Alvi bergegas menyusul Galih kerumah sakit.


Galih menatap nanar adik kesayangannya dari luar. Begitu tak berdaya, hatinya teriris, membiarkan air matanya jatuh seraya tetap berharab Avril akan baik-baik saja. Galih menghampiri Aldi yang masih terduduk lemas.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi." Aldi mendongak menatap mata dingin Galih.


"Aku saja tidak tahu apa yang terjadi kak." Sontak Galih menarik kerah baju Aldi dengan wajah yang seperti ingin menerkamnya.


"Apa maksudmu dengan tidak tahu? Bukankah Avril kesini bersamamu?" Geram Galih.


"Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya mengikuti Avril yang datang ke danau menemui kak Amel." Jelas Aldi. Galih melepaskan tangannya setelah mendengar nama Amel.


"Bukankah Amel itu kakakmu?" Aldi mengangguk menanggapi.


"Sudah jelas kakakmu ingin mencelakai adikku. Kau bilang tidak tahu apa-apa?" Galih kembali emosi.

__ADS_1


"Sungguh kak aku tidak tahu. Bahkan aku juga heran mengapa Avril bertemu dengan Amel, dan berani berlari diatas air yang dalam seperti itu, dan menggantikan posisinya dengan Amel sehingga Avril yang terjatuh. Aku tahu kak! Avril tidak bisa berenang dan takut pada air yang dalam." Ucap Aldi memalingkan wajahnya.


Galih frustasi dan mengacak rambutnya. Syifa hanya terdiam masih menatap Avril yang terbaring dengan selang infusan yang menempel ditangannya, dan oksigen yang terpasang di hidungnya.


"Bertahanlah Avril... aku mohon! Aku berjanji, jika kau selamat, aku akan menyerahkan Aldi kembali padamu. Aku tak ingin kehilanganmu Avril....." gumam Syifa mengusap air matanya.


. Alvi sampai dan berlari mencari Galih.


Alvi kembali menelpon Galih, dan pada akhirnya Alvi menemukan dimana Galih berdiam.


Melihat Aldi yang menunduk lesu, Alvi semakin heran dan penasaran dengan keadaan Avril.


"Dimana Avril?" Tanya Alvi panik dan terengah.


Galih menoleh pada ruangan dimana Avril berbaring.


Alvi terkejut melihat kondisi Avril.


"Apa yang terjadi Galih.?" Geram Alvi.


"Jangankan aku, Orang yang membawanya kesinipun tidak tahu apa yang terjadi." Jawab Galih.


"Apa maksudmu?" Alvi semakin heran.


"Dialah yang membawa Avril ke rumah sakit. Dan diapun tidak tahu apa apa." Ucap Galih menatap Aldi.


Alvi menghampiri Aldi lalu menarik kerah baju Aldi.


"apa yang kau lakukan pada Avril?" Aldi mendongak lalu menatap tajam pada Aldi.


"Kau. Ini semua gara-gara kau Alvi." Ucap Aldi dengan marah.


"Aku? Kau bilang aku?" Alvi semakin kesal.


"Iya... karena kau yang mendekati Avril, dan jika kau menerima perjodohan dengan kak Amel, ini mungkin tidak terjadi Alvi." Jelas Aldi mulai berkaca-kaca.


"Amel?" Alvi merasa heran. "Apa yang dilakukan Amel?" Alvi semakin kuat mencengkram baju Aldi.


"Avril tenggelam" jawab Syifa tiba-tiba. "Dan Aldi menolongnya." Lanjut Syifa.


"Sudahlah hentikan. Mengapa kalian bertengkar.? Ini dirumah sakit." Galih melerai Aldi dan Alvi.


Syifa menatap konyol pada Galih.


"Bukankah tadi diapun melakukan hal yang sama?" Gumam Syifa.


. Noah berjalan terburu-buru melewati mereka. Alvi menarik bagian belakang kerah jas Noah.


"Silahkan saja Alvi. Aku tidak takut." Noah kembali berjalan dan masuk kedalam. Begitu cekatan menangani Avril. Namun kondisi Avril melemah karena rasa trauma yang meningkat dan kedinginan yang berlebihan.


Galih semakin panik melihat Noah yang semakin sibuk dan mengusap wajahnya.


"Avril.... aku belum siap jika kehilnganmu." Gumam Galih seraya mengusap ujung matanya.


"Bukan hanya kau, tapi aku juga takut jika menghadapi situasi seperti ini. Karena hanya Avril satu-satunya alasan untukku bertahan sejauh ini pada kehidupan yang beberapa kali menjatuhkanku." Alvi menepuk pundak Galih.


Memang benar, nasibnya dengan Alvi sangat serupa. Kehilangan orang yang amat sangat dicinta. Namun mungkin Alvilah yang lebih menderita dibandingkan Galih. Kehilangan sosok ayah yang seharusnya berada disisinya saat Alvi terjatuh.


Galih tersenyum kala mengingat kembali nasibnya yang lebih beruntung dari Alvi karena masih mempunyai seorang ayah.


. Seorang perempuan menghampiri Aldi yang terdiam menatap kosong.


"Jangan seperti itu nak. Mama yakin Avril akan baik-baik saja." Mama memeluk Aldi yang kembali terisak mengingat kondisi Avril.


"Aku takut ma.... aku takut." Lirih Aldi semakin erat memeluk ibunya.


Alvi dan Galih bersamaan membalikan badannya membelakangi ibu dan anak itu.


Siapa yang tahu, keduanya menutupi air mata yang terus berderai karena merindukan seorang ibu.


"Kau lemah Alvi." Ucap Galih pelan.


"Kau pun sama Galih." Balas Alvi mengusap air matanya. Lalu keduanya tertawa membuat mama dan Aldi heran.


Syifa melangkah hendak meninggalkan area itu.


"Nak. Kemarilah..." ucap mama memanggil Syifa.


Syifa menoleh dan tersenyum. "Tidak ma... Annisa ingin sendiri dulu." Syifa kemudian berlalu dari pandangan mama.


"Apa kau masih mengabaikannya? Sampai kapan Aldi?" Mama menatap Aldi.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa. Dan sekarang aku juga tak tahu harus berbuat apa." Jawab Aldi memalingkan wajahnya dari tatapan mama.


. "Ma... maaf. Apa Amel tidak ikut?" Tanya Alvi. Mama hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Alvi.


"Atas nama Amel mama minta maaf. Dan mama harap jangan membawa masalah ini ke pihak kepolisian." Mohon mama pada Galih.


"jika itu menimpa Amel dan pelakunya adalah Avril, apa mama akan membiarkan Avril begitu saja sementara putri mama sedang sekarat?" Mama langsung terdiam mendapati pertanyaan dari Galih.


"Aku bisa saja membiarkan Amel begitu saja dan melupakan masalah ini, tapi aku tak yakin dengan perusahaan keluarga mama." Lanjut Galih menegaskan.


"Jadi, apa maumu Galih?" Mama sudah pasrah menerima keputusan Galih.

__ADS_1


"Apa mama tahu rasanya kehilangan? Dulu aku kehilangan ibu. Wanita pertama yang aku sayangi. Lalu, apa jadinya jika aku kehilangan kembali wanita yang teramat aku sayangi setelah ibu." Ucap Galih kembali mengusap pipi dan ujung matanya.


. Terlihat Noah keluar dari ruangan dan bersandar pada pintu. Menghela nafas panjang, dan memijat dahinya.


"Mengapa ekspresimu begitu?" Tanya Alvi kesal.


"Diamlah." Bentak Noah berkaca-kaca.


"Katakan Noah. Apa yang terjadi pada adikku?" Galih menghampiri Noah dan menatapnya tajam.


Namun Noah menunduk dan beberapa kali mengusap ujung matanya.


Semua lemas seakan tak percaya bahwa jika benar Avril tidak selamat.


"Aku sudah berusaha kan?" Lirih Noah disertai isakan. "Aku sudah berusaha kan Alvi? Pada awalnya kondisi Avril melemah, aku berusaha dan tetap berharap Avril baik-baik saja. Dan..." Noah menghela nafas. "Aku berhasil menyelamatkan Avril." Noah kembali terisak.


"Kau serius?" Alvi menatap harap pada Noah. Noah mengangguk. Dan semua yang terdiam disana menghela nafas lega.


"Sebentar lagi aku akan memindahkannya." Noah menoleh kedalam.


"Apa dia tenggelam dalam waktu yang lama?" Tanya Noah pada Aldi.


"Sepertinya tidak, karena pada saat dia terjatuh aku langsung membawanya kembali ke tepi." Jawab Aldi.


"Apa kau memberinya pertolongan pertama?" Tanya Noah lagi.


Seketika menjadi hening.


"Tu-tu-tu-tunggu... ma-ma-ma-maksudmu?" Alvi terbelalak setelah mengingat apa maksud pertolongan pertama.


"Iya. Aku melakukannya." Jawab Aldi.


"Jangan marah Alvi. Memang itu yang harus dilakukan pada orang yang tenggelam." Ucap Noah.


"Tapi itu namanya mencari kesempatan jika Aldi yang melakukannya." Ucap Alvi kesal.


"Lalu? Jika kau yang melakukannya, apa itu juga bukan mencari kesempatan?" Alvi terdiam melirik tajam pada Noah.


"Mau sampai kapan kalian bertengkar?" Ucap Galih kesal.


. Disisi lain, Syifa terdiam menatap kosong kedepan. Seseorang menghampirinya dan ikut duduk disampingnya.


"Tidak baik seorang perempuan diam sendiri dan melamun seperti itu. Apa pacarmu tidak menemanimu?" Ucapnya menoleh pada Syifa. Syifa hanya menyernyitkan dahinya, bertanya-tanya apakah dia mengenalnya atau tidak. Seingatnya, dirinya tidak pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya.


"Kebetulan aku sedang menunggu tunanganku disini." Jawab Syifa memalingkan wajahnya.


"Hemmm tapi kau tidak memakai cincin pertunangan." Ucapnya bersandar.


"Apa sebuah hubungan harus selalu dipublikasikan?" Syifa beranjak.


Sebuah tangan menggenggam tangan Syifa.


"Jangan pergi terlalu jauh. Aku akan sulit menemukanmu." Ucap Aldi kemudian melirik pada pria yang bersama Syifa.


"Inikah tunanganmu?" Tanyanya menatap Syifa dan Aldi bergantian. Syifa mengangguk menanggapi.


"Ahhh maaf. Aku hanya lewat saja, jadi kau jangan salah faham." Lanjutnya berlalu meninggalkan Syifa dan Aldi.


"Siapa dia?" Tanya Aldi melirik tajam pria yang menjauh.


"Aku tidak tahu." Jawab Syifa memalingkan wajahnya.


"Syifa, apa kau cemburu?" Syifa menoleh pada Aldi dan menatapnya heran.


"Jawab saja. Apa kau cemburu melihatku dengan Avril?" Syifa kembali memalingkan wajahnya mendapati pertanyaan Aldi.


"Tidak. Aku tidak ada hak untuk cemburu." Jawab Syifa tersenyum pada Aldi.


Syifa berlalu meninggalkan Aldi yang terdiam. Hatinya merasa sesak ketika mengatakan bahwa dirinya tidak cemburu.


. 3 hari berlalu, Avril membuka matanya dan mendapati Noah yang sedang berdiri disampingnya.


"Kau mengenalku?" Avril mengangguk. Avril beranjak dan mencoba untuk bangun.


"Jangan memaksakan." Ucap Noah membantu Avril.


"Aku baik-baik saja Noah." Lirih Avril.


Avril duduk bersandar, dan tiba-tiba Aldi memeluk Avril dengan erat. Avril terbelalak melihat Syifa yang berdiri dibelakang Aldi.


"Ap-" belum sempat Avril bicara, terdengar isakan dipundaknya.


"Kau menangis?" Tanya Avril melirik Aldi.


Aldi melepaskan pelukannya dan menatap tajam pada Avril.


"Bagaimana aku tidak menangis. Jika aku terlambat sedikit saja, mungkin bukan aku saja yang akan kehilanganmu."


Syifa berjalan dan meraih tangan Avril. Avril terkejut mendapati sebuah cincin yang Syifa simpan ditangannya.


"Apa maksudnya Syifa?"


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2