
. Avril mendongak dan menatap pada Galih.
"Apa benar Alvi sedang sakit?" Tanya Avril kesal.
"Bukankah kau sudah tidak peduli lagi padanya?" Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak melihat Galih yang begitu dingin.
"Lalu? Kenapa kau peduli padanya?"
"dia rekan bisnisku. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja." Jawab Galih masih dengan nada dingin.
Avril memalingkan wajahnya.
"Dan kau? Gadis yang dicintainya, bahkan tidak tahu dirinya sedang tak berdaya. Tapi, kau mungkin akan merasa tenang karena sebentar lagi Alvi akan segera mati."
Avril terlihat semakin kesal. Avril beranjak dan berjalan keluar. Kemudian berhenti di dekat pintu.
"Aku tidak tahu rumah Alvi." Lirihnya.
Galih menghela nafas panjang, dan berjalan menghampirinya.
"Akan ku antar. Kau ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya bukan?" Avril hanya memalingkan wajahnya. Lalu Galih menarik tangan Avril memasuki mobil.
Diperjalanan, Galih melirik Avril yang bersandar pada kaca mobil. Terlihat Avril begitu cemas setelah mengetahui kabar Alvi.
"Apa dia percaya pada ucapanku? Percaya atau tidak, tapi cara ini berhasil membuat Avril kembali pada Alvi." Gumam Galih yang fokus menyetir.
"Jika ucapan kakak benar, mungkin aku yang lebih menyesal jika kehilangannya." Gumam Avril.
. Galih menepikan mobilnya di pekarangan rumah Alvi. Galih langsung turun dan mengajak Avril untuk masuk.
Avril merasa gugup ketika memasuki rumah Alvi. Setiap pelayan yang bertemu dengannya menundukan kepalanya dengan sopan.
Galih membuka pintu kamar Alvi dan menyuruh Avril untuk masuk dan melihat langsung bagaimana keadaan Alvi.
"Aku akan menunggumu dibawah." Ucap Galih berlalu kembali ke ruang tamu.
Avril berjalan perlahan menghampiri Alvi yang terbaring dengan infusan yang menempel ditangannya.
Wajahnya benar-benar pucat. Avril duduk disamping kasur Alvi.
"Alvi.." lirihnya. Alangkah terkejutnya ketika Avril mendengar namanya terus di gumamkan Alvi tanpa henti.
"Alvi... bangunlah. Ini aku. Avril" Ucap Avril dengan panik. Namun Alvi tidak membuka matanya, dan terus bergumam memanggil Avril.
"Alvi aku disini..." lirih Avril dan meraih tangan Alvi.
Avril semakin panik dan beralih duduk tepi kasur disamping Alvi.
"Maafkan aku Alvi.... kau menjagaku saat aku di rumah sakit, tapi sekarang keadaanmu seperti ini pun aku tidak tahu." Avril kembali terisak lalu memeluk Alvi.
"Jangan pergi.... cukup ibuku saja yang meninggalkanku. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi.... aku mohon Alvi bangunlah. Dan aku akan menerima lamaranmu jika kau bangun." Avril kembali terduduk dan menatap Alvi yang masih menutup matanya.
Seorang wanita paruh baya berdiri mematung tepat didekat pintu yang terbuka. Noah menepuk pundak Bu Rumi.
"Kenapa bu?" Bu Rumi hanya menggeleng dan tersenyum kemudian kembali menatap Avril yang masih belum menyadari kehadirannya.
Avril terus menangis menggenggam tangan Alvi.
Noah berjalan menghampiri Avril. Bu Rumi masih berdiri di tempat dan tidak berniat mendekati mereka.
"Avril..." panggil Noah. Avril menoleh dan sedikit mengerutkan dahinya.
"Kau Noah?"
"Iya. Ini aku. Apa kau tidak mengenaliku?" Tanya Noah heran. Avril melirik pakaian yang dikenakan Noah.
"Apa kau heran karena aku hanya memakai kaos saja?" Avril mengangguk menanggapi.
"Yaa... karena ini tidak termasuk jam kerja, tidak memakai snelli pun tak apa." Ucapnya.
Avril kemudian menunduk meraih tangan Noah.
"Apapun caranya, aku mohon sembuhkan Alvi." Ucap Avril disela isak tangisnya. Noah menatap Avril.
"Apa kau mencintainya?" Avril mendongak dan teringat ucapan kakaknya bahwa ini bisa jadi kali terakhir Avril melihat wajah Alvi.
"Iya Noah. Aku mencintainya. Jadi aku tidak ingin kehilangannya." Noah terkejut, Avril sendiri yang mengatakannya.
Noah duduk di depan Avril dan melepaskan genggaman Avril.
"Sebenarnya Alvi sudah membaik, namun ini penyakit yang langka. Jadi hanya cara tertentu yang bisa menyembuhkannya."
"Apa tuan bisa disembuhkan?" Bu Rumi kini mengampiri.
"Ibu tenang saja. Sebentar lagi Alvi akan bangun jika menyadari ada Avril disini." Jawab Noah santai.
Dan benar saja. Alvi membuka matanya, lalu melirik ke arah Avril dihadapannya.
"Avril... kau kah itu?" Lirih Alvi jelas terdengar begitu lemas. Avril mengangguk dan tersenyum. Dengan susah payah, Alvi terduduk dan bersandar dengan ditumpu beberapa bantal di punggungnya.
"Aku bermimpi Avril." Ucap Alvi menatap Avril dan tangannya meraih pipi Avril.
"Kau menerima lamaranku jika aku bangun sekarang." Lanjutnya meneteskan air mata.
"Tapi, mimpi hanya bunga tidur bukan? Sudah jelas kau menolakku saat itu. Dan sudah tak ingin bertemu denganku lagi." Alvi tersenyum terpaksa dengan mata yang dipaksa terbuka.
__ADS_1
Avril tak bisa lagi menahan air matanya, wajah pucat Alvi membuatnya takut kehilangan Alvi.
Avril memeluk erat Alvi, dan terus menangis.
Alvi merasa heran dengan sikap Avril saat ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alvi.
"Siapa yang mengkhawatirkan siapa. Dan itu bukan mimpi. Aku benar-benar menerima lamaranmu." Jawaban itu membuat Alvi terdiam lalu tersenyum dan mengusap lembut rambut Avril.
"Aku harap kali ini kau tidak berbohong Avril." Lirih Alvi.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau pergi Alvi." Avril memeluk semakin erat. Alvi hanya tersenyum, namun karena matanya yang terasa berat, Alvi kembali menutup matanya. Menyadari Alvi yang terdiam, Avril melepas pelukan dan menepuk pipi Alvi.
"Alvi? Apa kau tertidur?" Namun Alvi semakin melemah.
"Alvi. Jangan membuatku takut. Aku sudah menerimamu. Harusnya kau tetap hidup, Alvi...." entah kenapa Avril tak berhenti menangis kali ini.
Alvi menepuk kepala Avril tanpa membuka mata.
"Aku masih hidup sayang..." Avril menepuk dada Alvi membuat Alvi membuka satu matanya.
"Jangan menakutiku!"
"Aku mengantuk Avril." Avril terkejut lalu membantu Alvi membaringkan kembali tubuhnya.
"Apa dia akan baik-baik saja Noah?" Tanya Avril menatap nanar pada Alvi
"Kau tenang saja Avril? Sepertinya itu efek obat yang aku suntikkan." Ucap Noah meyakinkan.
Avril hanya terdiam mendengar ucapan Noah.
"Nona.. sebaiknya kita keluar. Biarkan tuan beristirahat." Avril menoleh lalu mengangguk dan tersenyum.
"Kau tak usah khawatir, dia akan baik-baik saja. Sebelum menikahimu, dia tidak akan mati begitu saja hanya karena demam." Ucap Noah kemudian duduk di sofa.
"Lalu, jika dia sudah menikahiku? Apa dia akan mati?" Tanya Avril dengan polos.
"Ahahahahaha.... Avril tidak begitu... maksudku.... ahhh sudahlah. Ahahaha kau ada-ada saja Avril..."
"Kau yang berkata seolah Alvi akan mati setelah menikah denganku dokter sialan." Avril kesal sendiri.
"Tapi aku senang Avril." Lanjut Noah menghela nafas lega.
"Aku tidak mau tahu. Sembuhkan Alvi seperti kau menyembuhkanku. Jika tidak Aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Avril berbalik hendak berjalan keluar.
"Kau pikir nyawa ada ditanganku?" Avril terhenti.
"Jangan menakutiku Noah. Berhenti berbicara seperti itu." Ucap Avril kesal lalu kembali berlalu meninggalkan kamar Alvi bersama Bu Rumi yang mengikutinya dari belakang.
"Nona sangat berbeda dengan wanita yang selalu mencari tuan kesini. Pantas saja jika tuan begitu mencintai nona." Avril terkejut lalu berhenti dan menatap Bu Rumi.
"Siapa?"
"Kalau tidak salah dia Amel. Putri.--"
"Tak usah dijelaskan bu. Aku sangat mengenalnya." Ucap Avril memotong ucapan Bu Rumi dan tersenyum dengan terpaksa.
"Ma-maafkan saya nona." Bu Rumi lalu menunduk menyadari Avril yang tidak nyaman membahas Amel.
"Tidak bu.." ucap Avril tersenyum ramah kali ini.
Avril berjalan menuruni tangga sambil berbincang dengan bu Rumi.
"Hemmm.... jadi ibu mengasuh Alvi sedari kecil?" Tanya Avril kembali.
"Benar nona. Dan baru kali ini tuan sangat mencintai seorang gadis sampai seperti itu." Ucap Bu Rumi.
"Apa.... sebelumnya Alvi pernah mencintai seseorang selain kak Amel?" Tanya Avril ragu.
"Seingat ibu, tidak pernah. Hanya pada nona tuan seperti ini." Jelas bu Rumi.
"Benarkah?" Tanya Avril tak percaya.
Bu Rumi hanya mengangguk. Tapi ketika akan menanyakan apakah ada yang mencintai Alvi, Avril hanya tersenyum kikuk. Wanita mana yang tidak menyukai Alvi.
"Sudah?" Tanya Galih yang masih duduk di sofa menunggu Avril. Avril hanya memalingkan wajahnya saja.
"Ayo pulang." Avril mengangguk lalu mencium tangan bu Rumi.
"Aku pamit bu. Dan sampaikan maafku pada Alvi karena pulang disaat dia sedang tidur." Bu Rumi mengangguk mengerti.
"Hati-hati di jalan nona." Ucap Bu Rumi ramah mengantar Avril keluar rumah. Terlihat beberapa pelayan lainpun mengikuti bu Rumi dan mengantar kepergian Avril.
Setelah mobil melaju, pelayan-pelayan muda itupun masih memandangi mobil Galih yang perlahan menghilang.
"Ah.... aku iri.... nona Avril begitu manis."
"Kau benar. Pantas saja tuan sangat mencintainya."
"Aku benar-benar berharap mereka bisa menikah dan nona Avril tinggal disini."
"Aku juga."
"Apa sudah selesai?" Tanya Bu Rumi menatap bawahannya itu.
__ADS_1
"Hehe maaf bu." Mereka kembali kedalam dengan sedikit berlari.
--
Malam hari, bu Rumi membuatkan makanan untuk Alvi. Lalu menyuruh Dina mengantarkannya.
Ketika sampai di kamar Alvi, Dina menatap Alvi lama lalu meletakkan makanan di meja.
"Tuan... waktunya makan. Agar tuan cepat sembuh." Ucap Dina berdiri di samping kasur.
"Avril..." lagi-lagi hatinya teriris ketika Alvi bergumam dalam tidurnya menyebut nama Avril didepannya.
"Avril tidak ada tuan" ucap Dina semakin kesal.
"Avril..." namun Alvi tidak kunjung terbangun. Dina hendak pergi, namun Alvi menarik tangannya. "Jangan pergi Avril. Aku masih merindukanmu." Dina melepas pelan tangan Alvi.
"Maaf tuan saya bukan Avril.." Dina dengan cepat keluar dan menutup pintu.
Diingatnya kembali dahulu, saat mereka dewasa bersama. Dina dibawa oleh Bu Rumi saat masih Smp.
Namun karena masih sangat muda, pak Ahmad tidak tega jika harus memperkerjakan Dina. Pak Ahmad memutuskan untuk menyekolahkan Dina di kota itu. Dengan ganti Dina harus mengurus semua keperluan Alvi. Namun Dina terlalu membawa perasaan, kebersamaannya dengan Alvi membuat Dina berharap lebih pada Alvi.
. Alvi terbangun dan mendapati makanan dimeja.
"Aku bermimpi Avril lagi." Alvi menatap jauh pintu kamarnya. Tekadnya untuk sembuh, kini mulai dirasakan Alvi. Alvi mengambil dan memakan makanan itu lalu meminum obat yang disediakan Noah.
"Benar kata Noah. Jika aku tidak sembuh, Avril akan dengan mudah dimiliki orang lain. Dan Aldipun akan dengan leluasa mendekati Avril." Gumamnya.
--
Keesokan harinya, Avril kembali datang kerumah Alvi. Dan masih mendapati Noah dikamar Alvi. Namun kali ini, kedua sahabat itu seperti orang lain yang belum pernah Avril kenal. Ya... sikap kekanak-kanakan keduanya. Alvi yang memain game, dan Noah yang menyaksikan tapi berisik mengomentari dan menyalahkan Alvi jika kalah.
Avril mematung di ujung kasur menatap keduanya.
Saat Noah sedikit menoleh, dan terkejut ketika melihat Avril.
"Ehemmm hemmmm" Noah kembali bersikap dingin seperti yang biasa Avril lihat. Namun Alvi masih fokus sibuk dengan game ditangannya.
"Secepat ini dia pulih? Bukankah kemarin dia sangat lemah." Gumam Avril menyernyitkan dahinya. Terlihat Noah berusaha menyadarkan Alvi. Namun Alvi tak mendengarkan Noah sedikitpun. Hingga akhirnya saat benar-benar selesai, Alvi berteriak "yahoooo... aku menang!" Namun Alvi mematung ketika melihat Avril berdiri didepannya.
"Kau sudah sembuh tuan?" Ejek Avril.
"Av-Avril? Sejak kapan kau disana?"
"Menurutmu?" Avril melipatkan tangannya.
Alvi melirik pada Noah. Menatap dan seakan menyalahkan Noah karena tidak memberitahunya.
"Sepertinya kau sudah sembuh." Ucap Avril masih menatap Alvi.
"Tentu saja dia sembuh. Karena kau kemarin menemuinya! Jika kau tidak menemuinya, mungkin saja sekarang Alvi sudah mati." Jawab Noah.
"Kau mendoakan aku mati?" Alvi memukul kaki Noah.
"Apa aku salah? Beberapa hari ini sebelum Avril kemari, apa kondisimu membaik? Tidak Alvi. Aku yang menyaksikan kondisimu memburuk, dan setiap saat kau menyebut nama Avril. Pada siapapun itu, termasuk aku dan bu Rumi. Aku sempat heran, yang kau alami itu penyakit rindu atau penyakit kejiwaan." Jelas Noah kesal menghela nafas berat.
Alvi mendelik kemudian menatap Avril.
Pintu diketuk, dan terbuka. Terlihat Dina memasuki kamar Alvi membuat ketiga orang didalam kamar menoleh padanya.
"Makanan sudah siap tuan." Dina menunduk sopan.
"Baiklah." Alvi beranjak lalu menarik tangan Avril.
"Ehhh apa yang kau lakukan?" Tanya Avril. Namun Alvi tidak menghiraukan pertanyaan itu.
"Kau tidak mengajakku? Aku juga lapar." Noah mengikuti Alvi yang tak melepaskan tangan Avril.
"Jangan mengganggu. Aku ingin makan berdua saja dengan Avril." Ucap Alvi melewati Dina yang masih menunduk. Noah melirik Dina yang menatap kosong, namun tetap berjalan mengikuti Alvi.
. Sampai di meja makan, Avril ragu untuk duduk.
"Nona tak usah sungkan." Ucap Bu Rumi. Avril hanya tersenyum dan duduk di dekat Alvi.
"Ibu tidak makan?" Tanya Avril menoleh pada bu Rumi.
"Tidak nona." Jawabnya tersenyum. Lalu semua pelayan berlalu meninggalkan ruang makan.
"Emmm Alvi. Dina itu yang mana?" Tanya Avril tanpa menoleh pada Alvi. Alvi tersedak mendengar pertanyaan Avril. Avril dengan cepat memberi Alvi segelas air.
"Hei... ayolah. Jangan beradegan romantis didepanku." Ucap Noah mendelik.
"Siapa yang beradegan romantis dokter?" Avril melirik tajam pada Noah.
"Kalian" jawab Noah.
"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan Dina?" Tanya Alvi menatap dingin pada Avril.
"Ak-aku hanya ingin tahu..."
Dina kembali dengan membawa segelas jus jambu permintaan Alvi.
"Ini Dina." Avril menatap Dina, dan tak sengaja menumpahkan jus ditangannya pada dress Avril.
"Apa yang kau lakukan Dina?" Ucap Alvi dengan nada marah.
__ADS_1
-bersambung