Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
77


__ADS_3

. Avril hanya membisu tak menjawab pertanyaan Alvi. Seakan dirinya enggan menjelaskan yang sebenarnya pada Alvi saat ini, dan membiarkan Alvi salah faham padanya untuk sementara waktu. Alvi perlahan berlalu menjauhi Avril yang masih memeluk Ravendra dan membiarkan Reifan memeluk kakinya. Avril menangis tersedu-sedu ketika memastikan Alvi sudah jauh dari pandangannya.


Aldi mengusap punggung Avril lalu meraih Reifan dan menggendongnya.


"Kenapa kau tak bicara?" Tanya Aldi dengan nada pelan.


"Untuk apa? Dia tak akan mendengarkan. Biarkan saja." Ucap Avril disela isakannya.


"Mommy..." rengek Reifan yang ikut menangis ketika melihat Avril menangis tiada henti.


"Avil... sudah..." ucap Aldi kembali menenangkan. Avril menyandarkan kepalanya pada bahu Aldi dan terus terisak. Ravendra memeluk Avril dengan erat sambil mengusap punggung Avril dengan lembut.


"aku ingin pulang Al" lirih Avril.


"Baiklah." Aldi mengantarkan Avril pulang kerumahnya.


. Sampai di rumah, Avril langsung ke kamar dan kembali menangis. Galih merasa heran dengan Avril yang tiba-tiba seperti itu.


"Ada apa dengan Avril?" Tanya Nadia pada Aldi.


"Dia bertemu dengan Alvi. Lalu Alvi kembali salah faham padaku." Jawab Aldi.


"memang dari dulu kau sangat hobby membuat Avril dan Alvi bertengkar." Ucap Galih menyusul Avril ke kamarnya.


"Apa Avril tak mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Nadia lagi. Aldi menggeleng menanggapi.


"Kalau begitu biar aku saja yang bicara dengan Alvi." Nadia hendak melangkah melewati Aldi, namun Aldi menahan Nadia untuk tidak pergi.


"Tidak kak. Aku tahu pasti Alvian bagaimana. Jika Avril saja sulit ia dengarkan, maka orang lain pun akan lebih sulit. Mungkin hanya beberapa orang saja yang ia percaya."


"Ku harap Ray memberitahu Alvi yang sebenarnya." Lirih Nadia


"Kak... maafkan aku. Karena aku, Avil..."


"Tidak Al. Sudah jangan bicara seperti itu lagi. Ini sudah di tentukan. Kau hanya perlu menjadi lebih kuat saja. Ingat putramu, dia sangat membutuhkan perhatian darimu. Avril pun melakukannya dengan suka rela. Aku pun tertegun melihat sikap keibuan dari Avril. Jadi, jangan terus mendiamkan putramu, dia tak punya salah apa-apa." Aldi mengangguk kemudian memeluk Reifan semakin erat.


"Syifa... andai saja." Gumam Aldi menunduk lesu.


. Malamnya, Avril kembali menuruni tangga dengan pakaian tidurnya. Kini wajahnya sudah terlihat lebih baik. Bukan hanya karena tangisnya yang sudah mereda, tapi karena memang Avril menahan dirinya untuk terlihat kuat. Apa lagi didepan Reifan.


"Mommy mommy....." Reifan kembali berjalan dan merentangkan tangannya ingin di gendong.


"Mommy bemmm..." ucap Reifan lagi seraya menunjuk mobil mainan berukuran kecil milik Ravendra ditangannya.


"Mommy nya istirahat dulu sayang...." ucap Aldi beranjak dari duduknya.


"Tak apa Al. Aku tidak lelah. Melihat senyumnya, aku merasa lebih baik." Avril menatap wajah menggemaskan Reifan yang kini memeluk lehernya.


"Eifan, sayang mommy tidak?" Tanya Avril dengan suara seperti bayi.


"Yayang. Yayang... daddy.... yayang.... mommy... " Reifan dengan polosnya mengulang kata dari Avril sambil bergumam ala-ala bayi yang sulit dimengerti oleh orang dewasa.


"Aaaa Al... aku ingin menangis lagi." Rengek Avril menahan air mata yang kian membendung di kelopak matanya.


"Sini biar aku gendong. Kau mengurusnya dari tadi. Sekarang giliran aku." Aldi menghampiri Avril dan hendak mengambil Reifan. Namun Reifan semakin erat memeluk Avril.


"Mau... mommy...." rengek Reifan seperti ketakutan pada Aldi.


"Ishh... kau ini. Jangan menempel terus pada mommy..." ucap Aldi kesal.


"Aku kan mommy nya." Ucap Avril dengan nada ejekan.


"Lalu aku siapanya Avil....." geram Aldi.


"Ahaha.... ayah angkat mungkin." Jawab Avril dengan ekspresi menerka-nerka.


"Wah... bicaranya sudah kelewatan."


"Hahaha becanda Al..."


. Esok harinya, Avril bersiap dengan stelan kerja yang sangat formal. Bukan hanya karena ini hari senin, namun karena hari ini ada perjanjian dengan pihak perusahaan D.

__ADS_1


"Mommy....." rengek Reifan saat Avril berlalu memasuki mobil. Nadia mencoba menenangkan Reifan agar tak terus menangis.


"Nanti mommy pulang... tunggu dengan kak Raven ya sayang." Ucap Avril menatap sayu pada Reifan.


"Al... bisakah aku tak berangkat kerja? Aku kasihan pada Reifan." Avril menoleh pada Aldi dengan tatapan memohon.


"Avil.... jika bukan karena kontrak itu, aku akan ijinkan kau untuk cuti hari ini."


"Tapi Al...." Avril menghela nafas berat kemudian menoleh pada Reifan yang dibawa masuk oleh Nadia.


"Maaf Avil... aku sudah egois." Lirih Aldi kemudian melajukan mobilnya.


"Tak apa Al... aku mengerti" Avril melemparkan senyuman pada Aldi untuk sekedar meyakinkan.


"Al... apa Alvi akan menerima kontraknya?" Tanya Avril setelah hening beberapa saat.


"Yang aku pikirkan bukan kontraknya. Tapi kesalah pahaman kalian berdua yang aku khawatirkan. Aku takut jika Alvi macam-macam atau mempermalukanmu."


"Aku rasa itu tidak mungkin Al. Aku tahu Alvi bagaimana."


"Aku antar saja."


"Tidak Al... biar aku saja sendiri. Lagi pula aku ingin menjelaskan masalah ini berdua dengannya. Maaf, aku butuh waktu untuk membicarakannya dengan serius."


"Baiklah tak apa..."


. Sampai di perusahaan D, Avril turun dan diantar oleh beberapa petugas karena memang Avril sudah membuat janji dengan pimpinan perusahaan. Semula Avril hanya membuat perjanjian dengan Pak Yusuf, namun tak diduga Alvi pulang dengan tiba-tiba. Dan bisa jadi, Alvi yang memegang keputusan kontrak ini. Avril menghela nafas panjang sejenak ketika keluar dari lift kearah ruangan yang sudah lama tak ia kunjungi. Ray terlihat terkejut mendapati Avril.


"No-nona.." sapa Ray menundukan pandangan.


"Apa kabar Ray?"


"Ba-baik nona... silahkan." Ray membukakan pintu untuk Avril. Terlihat Alvi duduk membelakangi meja kerjanya, dan seketika itu pula jantung Avril berdegup begitu keras.


"Maaf Tuan..." ucap Avril dengan ragu.


"Simpan saja proposalnya. Maaf saya sedang tidak menerima tamu." Ucap Alvi seakan menjelaskan bahwa dirinya tak ingin ada Avril lebih lama disana. Avril menyimpan proposal itu dimeja Alvi kemudian menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Jika urusan kontrak ini dianggap sudah selesai, dan tinggal menunggu keputusanmu, sekarang aku ingin berbicara denganmu sebagi Avril pribadi pada Alvi. Bukan dari perusahaan P pada presdir perusahaan D." Ucap Avril memberanikan diri. Alvi beranjak lalu berjalan memutari meja dan mendekati Avril.


"Kapan kau pulang? Mengapa kau tak mengabariku Al?"


"Bukankah jika aku mengabarimu kau juga tak akan peduli?"


"Al... kau masih marah dengan saat itu? Lalu kau pergi selama tiga tahun, kau tak memberiku kabar apapun."


"Lalu?"


"Aku khawatir padamu Al." Suara Avril sedikit meninggi dengan nafas tersenggal.


"Hentikan bualanmu Avril. Aku muak mendengarnya. Kau bicara seolah kau menungguku, tapi nyatanya kau menikah dengan Aldi. Hmmph Jadi benar, selama aku disisimu, aku hanya tempat pelampiasan saja. Aldi meninggalkanmu selama lima tahun, lalu mengkhianatimu, tapi kau tak sedikitpun berpaling darinya. Tapi saat aku meninggalkanmu hanya tiga tahun saja, bahkan aku yang masih memakai cincin pertunangan kita, tapi kau dengan mudah berpaling kembali pada masa lalumu. Dan kau masih bicara bahwa kau seakan menunggu kepulanganku. Cih... wanita macam apa kau?" 'Deg' air mata Avril berderai seketika mendapati kemarahan Alvi saat ini. Kata-kata Alvi yang terlontar seakan menyayat hati Avril.


"Sudahlah. Jangan menunjukan air mata palsumu. Sebaiknya kau pergi dari hadapanku, bahkan dari hidupku." Tegas Alvi membuat Avril tersentak lalu pergi keluar dari ruangannya dengan air mata yang masih berderai.


Ray yang tahu kebenarannya menyusul Avril sampai didepan lift.


"Nona..." panggil Ray menghentikan langkah Avril.


"Apa ini balasan kesetiaanku Ray? Alvi membenciku. Apa kau tak mengatakan yang sebenarnya? Semua orang tahu, tapi kenapa Alvi tidak."


"Maaf nona... tuan memutus komunikasi dengan saya dan pihak perusahaan. Beliau hanya mengirim dana untuk perusahaan saja, tapi untuk sekedar kabar pun saya kesulitan mencari tahunya."


Avril berlalu dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Dirinya pergi meninggalkan gedung perusahaan D dengan meninggalkan secercah harapan yang hancur.


Ray kembali dan membuka pintu ruangan Alvi, dan terkejut melihat Alvi yang kini tengah terduduk di bawah bersandar pada meja dengan frustasi.


"Tuan..." lirih Ray.


"Apa yang harus aku lakukan Ray?"


"Tuan tak harus melakukan apa-apa. Hanya perlu mendengarkan penjelasan nona Avril saja."

__ADS_1


"Untuk apa Ray? Semua sudah jelas. Avril sudah menjadi istri Aldi."


"Tidak tuan... tuan sebaiknya mendengarkan dulu nona Avril."


"Kau memihak pada siapa Ray? Kau sendiri tahu Avril sudah memiliki seorang anak dengan Aldi." Teriak Alvi.


"Tidak tuan. Itu bukan anak nona Avril." Alvi tersentak mendengar pernyataan yang Ray katakan.


"Apa? Apa maksudmu? Jelas-jelas anak itu memanggilnya mommy."


"Saya sarankan sebaiknya tuan menemui nona dan saya merasa tak berhak mengatakannya pada tuan."


"Sudahlah Ray. Jangan terus membela Avril. Dia sama saja dengan wanita lain."


"Baiklah.. memang ini salah tuan." Ucap Ray mendadak dingin membuat Alvi naik pitam lalu bangkit dan mencengkram kerah kemeja Ray.


"Apa maksud tatapanmu itu hah? Kau menyalahkanku? Tau apa kau hah? Kau mati-matian membela wanita ****** itu. Apa benar kau mencintainya?"


"Saya tidak mencintai nona. Tuan yang menutup diri dan memutus komunikasi dengan saya dan semua orang disini. Saya sudah mengatakan saat itu bahwa Aldi mengharapkan kehadiran tuan dihari pernikahannya. Tapi sampai tuan kembali, tuan tak sedikitpun memberi jawaban atas pesan saya."


"Salahkan aku sesukamu Ray." Alvi mendorong keras menghempaskan Ray dengan kasar.


"Nona Avril selalu menunggu tuan selama tiga tahun ini."


"Cukup Ray... jika kau bicara lagi, kau akan aku pecat. Kau tak berguna. Aku kecewa padamu Ray."


"Sampai datang beberapa lamaran padanya, tapi nona masih tetap memilih menunggu tuan."


"Diam Ray." Alvi melempar gelas dari meja pada dinding hingga pecahan kaca itu hancur berantakan.


"Pergi kau dari perusahaanku. Bereskan barang-barangmu dan jangan pernah kembali." Teriak Alvi memekik telinga Ray yang masih dingin diam ditempatnya.


"Sebelum saya pergi, tuan dengarkan apa yang saya katakan ini. Jangan sampai tuan menyesal kehilangan nona Avril." Ucap Ray tak ditanggapi apapun oleh Alvi.


"Nona Avril belum menikah dengan siapapun, nona dengan setia menunggu tuan pulang. Meskipun sempat putus asa karena tak bisa tahu bagaimana kabar tuan, namun nona pernah berkata pada saya bahwa nona tak akan berpaling dari tuan sebelum nona sendiri tahu tuan sudah memiliki kekasih yang lain ataupun masih setia pada nona. Kata itu juga yang nona katakan pada beberapa pria yang melamarnya saat itu. Dan Aldi menikah dengan nona Syifa tak lama beberapa bulan setelah acara aqiqah putra tuan Galih. Namun nona Syifa meninggal saat melahirkan putranya. Hingga nona Avril yang senantiasa menggantikan perannya sebagai ibu pengganti untuk Reifan. Keluarga nona Syifa pindah ke Kalimantan setelah sempat merawat Reifan, namun Reifan tak henti-henti menangis dan tak ada yang bisa menenangkan Reifan selain nona Avril." Ray menjelaskan dengan masih memasang wajah dinginnya. Ray menghela nafas sejenak berharap Alvi bicara sedikit saja.


"Kalau begitu saya pamit tuan. Terima kasih sudah berbaik hati mempercayai saya mendampingi tuan selama ini. Secepatnya saya akan mengajukan surat pengunduran diri saya. Permisi." Ray menunduk sopan lalu berbalik dan meraih gagang pintu.


"Ray..." lirih Alvi menghentikan langkah Ray.


"Maafkan aku.." ujarnya lagi. Ray menghela nafas dan tersenyum namun tetap membelakangi Alvi.


"Mengapa kau menganggap serius ucapanku. Bagaimana jadinya jika kau pergi Ray. Aku akan semakin hilang arah. Hanya kau yang bisa menjamin bahwa aku tak akan kembali ke arah yang tak seharusnya. Tetap disini Ray." Alvi terdengar mulai terisak kecil. Ray semakin tak tega mendengar Alvi mengatakan hal itu. Dirinya kembali berbalik dan menghampiri Alvi.


"Jangan pergi Ray... ini perintah!" Ucap Alvi dengan nada lemah.


"Dimengerti tuan." Jawab Ray tak kalah pelan.


"Avril dimana Ray?" tanya Alvi kemudian.


"Saya tidak tahu tuan... nona tidak berkata apa-apa." Jawab Ray dengan tenang. Alvi beranjak lalu pergi meninggalkan ruangannya.


. Di danau, Avril terduduk diam di salah satu kursi, menatap air danau yang tersibak angin namun terasa tenang. Avril mengambil ponselnya lalu menekan nama Aldi dalam panggilannya.


"Al.. maaf aku tak bisa masuk kerja hari ini. Kuharap kau bisa menerima alasanku. Kau potong saja gaji ku Al. Aku hanya ingin benar-benar menyendiri hari ini." Ucap Avril ketika panggilan tersambung.


"Baiklah Avil. Meskipun mungkin aku akan kesulitan tanpamu, tapi aku akan mencari orang yang akan menggantikanmu hari ini." Ucap Aldi dari seberang.


"Terima kasih. Dan maaf." Lirih Avril lalu mematikan panggilan teleponnya.


. Alvi mencoba menghubungi nomor Aldi, namun Aldi tak tahu Avril dimana.


"Dia tak mengatakan dia sedang dimana." Ucap Aldi meyakinkan.


"Aku tidak tahu Al. Kupikir Avil masuk kantor." Ucap Reno.


"Aku tidak tahu Al... bukankah Avil mengajukan rencana kontrak dengan perusahaan mu? Harusnya kau tahu dimana." ucap Bagas. Namun Alvi tak mengatakan sepatah katapun pada Bagas.


. Alvi menyusuri setiap tempat yang sering Avril kunjungi, mulai dari kedai kopi, cafe, dan taman. Alvi menuju danau dengan perasaan masih gelisah.


Sampai di danau, Alvi berlari lalu memeluk Avril dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang." Ucap Alvi terisak.


-bersambung.


__ADS_2