
. Dering ponsel Avril berbunyi ditengah keheningan setelah Avril menasehati Alvi.
Avril menggeser tombol hijau yang tertera dilayar ponselnya.
"Hallo Dea." Sapa Avril
"Hallo Avril.. apa kau sibuk?" Tanya Dea dari sebrang
"Emmm tidak juga. Kenapa De?"
"Tak apa. Aku hanya ingin menelponmu. Apa aku mengganggu waktumu?."
"Tidak. Aku sedang senggang."
"Kau dirumah?"
"Hemm iya."
"Oh iya. Kebetulan aku bertemu Iqbal. Sepertinya dia ingin berbicara denganmu." Avril sedikit tersentak mendengar nama Iqbal. Jika Alvi tahu, dia mungkin akan salah faham.
"Siapa?" Tanya Alvi ketika Avril meliriknya.
"teman magangku." Jawab Avril menunjukan nama Dea di layar ponselnya.
"Ohh..." Alvi menanggapi santai dan kemudian membaringkan tubuhnya kembali dengan kepala dipangkuan Avril.
"Kau sedang bersama seseorang?" Tanya Dea menerka-nerka.
"Ah... iya." Jawab Avril ragu dan terus melirik kearah Alvi.
"Siapa? Apa pacarmu?"
"Tunanganku." Lagi-lagi Avril melirik Alvi yang menatapnya dengan tersenyum.
"Mengapa kau tak bilang ada tunanganmu?" Terdengar suara Dea sedikit meninggi.
"Memang kenapa? Jika kau yang menelpon, dia tak akan marah." Ucap Avril meyakinkan.
"Benarkah?."
"Tidak apa... dia akan mengerti. Iya kan?" Kemudian Avril menatap pada Alvi sesaat ketika melontarkan pertanyaan singkat itu. Alvi hanya mengangguk tersenyum tipis dan menepuk pelan pipi Avril. Avril yang mungkin tak sadar, dengan sendirinya mengelus dahi Alvi.
"Apa obatnya sudah diminum?" Tanya Avril yang khawatir melihat Alvi yang terus merasa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
"Panas.." ucap Alvi pelan.
"Siapa yang sakit Avril?" Tanya Dea menimpali.
"Tunanganku."
"Apa dia menginap dirumahmu?"
"Emm sepertinya begitu...."
Avril kembali berfikir ketika Dea tiba-tiba diam.
"Ehhh jangan berfikir yang aneh-aneh. Dia menginap karena sakit. Dan lagi pula aku tidak sendirian dirumah. Ada ayah, kakak, dan kakak iparku juga. Ditambah kamarku juga jauh dengan kamar tamu. Dan juga... banyak orang disini." Jelas Avril terdengar panik.
"Ahahaha memang siapa yang berfikir aneh-aneh Avril? Aku terdiam karena Iqbal sedang bicara disini."
"Apa dia masih disana?" Tanya Avril penasaran.
"Tidak. Dia sudah pergi."
"Dia kerumahmu?" Tanya Avril lagi.
"Tidak... kebetulan saja kita bertemu disini. Aku bosan menunggu teman kostku belanja. Jadi aku menunggu diparkiran saja. Dan bertemu dengan Iqbal."
"Ohh begitu..."
Alvi memberi kode menunjuk ke kepalanya. Semula Avril menyernyit tak mengerti. Tapi kemudian Avril memijit pelipis Alvi dengan lembut.
"Kau itu memijit atau mengelus?" Sontak Avril mengerahkan tenaganya hingga Alvi berteriak.
"Kau mau membunuhku?" Avril tertawa kecil sambil masih menempelkan ponselnya.
"Yang benar dong sayang!" Ucap Alvi setengah berteriak. Avril kemudian menutup rapat-rapat mulut Alvi lalu memelototinya. Takut jika Dea mengenali suara Alvi. Noah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan pasangan didepannya. Alvi melepaskan tangan Avril yang terus membekapnya.
"Kau ini ken-hmm.."
"Jangan bicara...." bisik Avril langsung ke telinga Alvi dan melepaskan tangannya kembali.
"Kenapa?" Tanya Alvi tanpa suara.
"Pokoknya sutt." Avril menempelkan jarinya di bibir. Alvi mengangguk kemudian memejamkan matanya.
"Avril... bolehkah aku tahu siapa calon suamimu? Rasanya aku pernah mendengar suaranya, tapi aku lupa dimana." Ucap Dea membuat Avril terbelalak.
"Sial... Dea benar-benar menyadarinya." Gumam Avril.
"Avril... kau masih disana?" Tanya Dea memastikan karena tak lagi mendengar suara Avril di sebrangnya.
"Ah.. Dea maaf. Aku melamun. Tadi kau bertanya apa?"
"Bolehkah aku tahu siapa calon suamimu?"
__ADS_1
"Maaf... tapi untuk sementara aku tak bisa mempublikasikannya."
"Oke.. baiklah aku mengerti. Emm yasudah... maaf sudah mengganggu. Aku mau pulang dulu. Sampai bertemu besok!"
"Oke.." Avril meletakkan ponselnya di meja setelah panggilan benar-benar terputus.
Noah menghampiri Avril dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Alvi.
"Apa dia mati?" Bisik Noah mendongak menatap Avril.
"Aku mendengarmu sialan." Ucap Alvi membuka satu matanya.
"Kukira kau mati Alvi." Noah terkekeh.
"Tidak lucu." Decih Alvi.
"Tapi istrimu tersenyum." Alvi lalu menoleh pada Avril yang tiba-tiba menarik senyumnya kembali.
"Ohhh jadi kau senang aku mati?" Tanya Alvi melirik tajam pada Avril.
"Jika kau tega membuatku sedih, silahkan saja jika kau mati tuan." Jawab Avril dengan tersenyum. Alvi terbangun lalu meraih kedua pipi Avril.
"Sampai kapanpun aku tak akan membuatmu bersedih." Avril terdiam menatap mata Alvi, memang keseriusannya tak harus diragukan lagi.
"Aku akan terus hidup membahagiakanmu, dan menepati janjiku itu." Lanjutnya meyakinkan Avril bahwa dirinya tak pernah becanda dengan perasaannya.
"Ehemmmmm. Jika kau sudah sembuh, sebaiknya aku pulang." Noah meraih tas medisnya.
"Kau tak kembali ke rumah sakit?" Tanya Avril dengan memainkan rambut Alvi yang kembali terbaring dipangkuannya.
"Jam berapa sekarang? Kau pikir aku robot? Aku juga butuh istirahat. Apa jadinya jika seorang dokter jatuh sakit?"
"Oh pak dokter kasihan sekali kau." Ejek Alvi terkekeh.
"Diam kau... sebaiknya kau tidur, lalu minum obatnya dengan teratur. Jangan lagi memakan pedas! Atau aku tak akan menolongmu lagi. Kau paham?"
"Tidak."
"Aku suntik mati juga kau presdir sialan." Noah berjalan cepat menghampiri Alvi yang terperanjat melihat kekesalan Noah.
"Ahaha oke oke pak dokter yang tampan. Aku belum siap meninggalkan istriku. Jadi maafkan aku... ahahaha"
"Kau benar-benar menyebalkan Alvi." Decih Noah berlalu meninggalkan ruang tengah itu.
"Hati-hati Noah." Ucap Avril berteriak ketika tubuh Noah sudah tak terlihat di balik tembok.
. Alvi meraih rambut Avril dan sedikit mengelusnya sampai ke ujung.
"Aw..." Avril meringis ketika tangan Alvi tak sengaja menarik pelan rambut Avril. Harusnya tak sakit, tapi Avril meringis seperti itu.
"Kenapa?"
"Kau sedang berbohong."
"Ti-tidak.. haha si-siapa yang berbohong. Sudah... seb-sebaiknya kau tidur..."
"Avril." Tegas Alvi.
"Apa ada yang menyakitimu? Katakan!" Avril hanya menggeleng dengan melemparkan senyuman.
"Ak-aku mengantuk. Takut terlambat lagi." Avril beranjak dari hadapan Alvi, lalu sedikit berlari menuju kamarnya.
. Esok hari, Alvi bersiap dan seperti biasa memakai stelan jas dengan rapi. Terlihat Avril menuruni tangga dengan merapikan plester di sikutnya.
"Masih sakit?" Tanya Alvi mengejutkan Avril.
"K-kau?"
"Mengapa kau selalu terkejut melihatku? Apa aku seperti hantu?" Tanya Alvi mendengus kesal.
"Ma-maaf..." Alvi menyernyit, sikap Avril sedikit berbeda sejak kemarin. Biasanya Avril selalu becanda dengannya meskipun hanya kata-kata.
"Kita sarapan di kantor oke?" Avril mengangguk menanggapi ajakan Alvi.
Nadia memanggil Avril ketika melihat Avril dan Alvi berjalan melewati ruang tamu.
"Kalian tidak sarapan?"
"Kita sarapan di kantor." Jawab Alvi.
"Avril... kakak agak gelisah. Kau baik-baik saja?" Lagi-lagi Avril hanya mengangguk.
"Baiklah... hati-hati. Alvi jaga adikku.!"
"Iya kakak ipar..."
. Alvi melajukan mobilnya meninggalkan Nadia yang terlihat khawatir menatap kepergian mobil Alvi.
"Kau sakit?" Tanya Alvi ditanggapi gelengan kepala oleh Avril.
"Kenapa? Kau jadi pendiam pagi ini? Apa aku ada salah?" "Tidak... mood ku hanya sedang tidak bagus saja."
"Baiklah... aku tak akan bertanya lagi."
. Sampai di parkiran, Avril seperti terburu-buru. Alvi dengan cepat menarik tangan Avril dan dengan dingin tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
"Ikuti kata presdirmu atau kau akan ku putus kontrak magangmu?" Avril terbelalak bertanya-tanya apa maksud Alvi.
"Kau masuk denganku." Alvi tak membutuhkan jawaban ataupun penolakan dari Avril, dengan langsung keluar dan membawa Avril berjalan di sampingnya.
"Ray." Satu kata itu yang hanya keluar saat ponselnya menempel, lalu kemudian diberikan pada Avril.
Saat di lobby, Avril terkejut melihat Beberapa atasan memberi salam padanya. Avril hanya menyapa lembut seraya tersenyum.
"Nyonya. Silahkan anda bergabung dengan bagian saya." Ucap Roby sang manager bagian manajemen pemasaran.
"Tap-tapi..."
"Semua bawahan saya saling menghargai dan tidak berbuat kekerasan. Dan saya bisa menutupi rahasia bahwa anda adalah nyonya besar kami." Jelas Roby sedikit menunduk.
"Ja-jangan bersikap seperti itu pak.. sa-saya hanya anak magang disini." Avril gelisah lalu menoleh pada Alvi yang santai mendelik darinya. Ingin rasanya Avril memukul kepala Alvi saat ini. Namun tidak mungkin jika didepan Roby.
"Roby.. jam 8 rapat di ruanganku. Seluruh manager dan orang yang bersangkutan." Ucap Alvi berlalu dan meninggalkan Avril yang terdiam dengan Roby disampingnya.
"Dimengerti tuan." Jawab Roby meskipun Alvi sudah berlalu.
"Ayo nona... anda akan saya antar ke bagian dimana anda ditempatkan." Lanjut Roby mulai melangkah.
"Anu... pak! Maaf. Tapi apa saya boleh bertanya?" Roby terhenti dan menoleh pada Avril yang sedari tadi merasa gelisah.
"Nona tenang saja. Saya akan berbicara pada Deri di rapat ini. Jadi nona tak perlu khawatir."
"Tidak tidak. Bukan itu. Tapi.... mengapa saya dipindahkan?" Roby tersenyum mendapati pertanyaan dari Avril.
"Nona pikir kami akan diam saja saat mendengar nona diperlakukan seperti itu. Kekerasan tak bisa di tolelir disini meskipun dia karyawan yang berbakat." Lanjut Roby menjelaskan.
Usianya tak jauh dari Avril sendiri, tapi dari suara dan ucapannya terasa sangat bertanggungjawab.
"Tapi... ini salah faham saja."
"Tetap saja nona. Salah faham atau bukan, itu dilakukan dalam keadaan sadar."
"Tapi...." melihat Roby yang tak lagi mendengarkan dirinya, Avril menutup mulut rapat-rapat.
"Anak buah dan bos sama-sama menyebalkan." Gumam Avril. Roby terhenti membuat Avril menabrak punggungnya.
"Pak!" Rengek Avril.
"Apa nona berbicara?"
"Hah?"
"Ohh mungkin hanya perasaanku saja." Roby kembali melangkah dan diikuti kembali oleh Avril yang terheran sendiri.
"Kenapa dengan semua orang disini? Apa sifat Alvi yang menyebalkan itu sudah menyebar ke seluruh penjuru perusahaan?" Gumam Avril mengedarkan pandangan dengan tatapan ngeri.
. Avril memasuki ruangan baru, dan benar yang dikatakan Roby, diruangan ini semua orang terlihat ramah. Tidak melihat siapa dan sebagai apa jabatannya, mereka memperlakukan setiap orang sama.
Sampai Avril mendengar sedikit pembicaraan ejekan, bahwa salah satu karyawan menyukai Alvi. Meskipun sebuah candaan namun Avril cukup cemburu ketika banyak karyawan yang mengidolakan calon suaminya itu.
. Semua manager dan pimpinan sudah berjejer rapi menghadiri rapat yang dijadwalkan Alvi. Namun rapat tak kunjung di mulai, meskipun semua manager bahkan Devia dan Rania pun ada disana. Terlihat wajah gugup mereka dengan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya. Tatapan Alvi sangat tajam cukup untuk mengintimidasi semua yang berada diruangan.
Ray berdiri sigap dibelakang kursi Alvi.
"Sejak kapan Ray? Sejak kapan kau menghianatiku?" Sontak semua pandangan tertuju pada Ray yang tak memperlihatkan keterkejutannya. Semua bertanya-tanya penghianatan apa yang Ray lakukan? Setahu mereka Ray adalah asisten dan sekertaris kepercayaan Alvi sejak lama. Ray tak menjawab, bahkan seperti tidak terlihat bernafas. Kedipan matanya tak menampakkan pergerakan. Bola mata yang tertuju fokus dalam satu titik.
"Pak Yusuf. Aku mengerti dengan yang bapak lakukan. Bapak tidak ingin kehilangan karyawan berbakat hanya karena kesalahfahaman ini. Tapi kupikir bapak mengerti siapa yang seharusnya dibela.?" Semua menunduk dengan hening, tak ada yang berani berbicara.
"Bapak membujuk calon istriku hanya untuk memaafkan karyawan kesayangan bapak? Jujur aku kecewa. Jika bukan bapak yang ikut andil dalam perusahaan ini, aku mungkin sudah mengusir bapak dengan cara yang tidak beradab. Tapi bapak sudah mengurusku sejak kecil, dan menjadi pengganti ayahku saat aku dewasa. Harusnya bapak tahu sebesar apa tanggungjawabku pada Avril. Bahkan bapak orang pertama yang mengakuinya sebagai nyonya besar perusahaan ini dan keluargaku.
Rania tercengang mendongak menatap pada sang penguasa perusahaan D.
"apa nona ingin menyampaikan sesuatu?" Rania kembali menunduk dan tak berani menjawab, bahkan sekedar menggerakkan bola matanya saja, dia cukup terintimidasi saat ini.
"Biar aku beritahu. Avril adalah calon istriku, dan itu berarti dia nyonya diperusahaanku. Siapa saja yang berani menyentuhnya, lihat apa yang akan terjadi padanya. Mungkin kau sudah tahu dengan konsekuensinya nona Devia?" Sontak semua mata tertuju pada Devia yang gemetar mematung dengan mencengkram ujung kemeja nya.
"Sesuai peraturan, aku sendiri yang mengeluarkanmu dari perusahaanku. Dan mulai sekarang, silahkan nona keluar dan jangan pernah menginjakan kakimu di perusahaanku lagi."
Derai air mata mulai membasahi kedua pipi Devia. Tubuhnya terlihat jelas sangat gemetaran mendengar pernyataan itu.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Alvi dengan wajah yang menatap angkuh pada gadis yang diketahui sangat mengidolakannya.
Devia ambruk dan berlutut dengan tangis yang tiada henti.
"Tuan.. mohon maafkan kekhilafan saya. Saya tidak bermaksud menyakiti nona Avril."
"Beraninya kau menyebut nama calon istriku dengan lancang." Tekanan aura diruangan itu terasa semakin mencekam.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika saja aku tahu nona Avril adalah calon istri tuan, mana mungkin aku melakukan itu."
"Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, silahkan!" Tatapan Alvi semakin tajam.
"Dan jika ada yang keberatan, silahkan temani dia keluar dari perusahaanku." Tegas Alvi lagi.
"Ray. Pastikan lagi kau tak membuatku kecewa. Dan kau Roby. Aku mempercayaimu mengawasinya."
"Dimengerti tuan." Jawab Ray dan Roby serentak.
"Aku tak pantas kau tinggikan seperti itu Tuan Alvian."
Ucap seseorang yang berjalan diantara barisan para pimpinan.
__ADS_1
"Bangunlah bu Devia. Aku tak mengambil hati dengan tindakanmu." Avril mensejajarkan tubuhnya dengan Devia.
-bersambung.