
. Avril keheranan dengan yang terjadi didepannya.
"Jadi, kalian berpacaran?" Tanya Aldi seolah tak puas dengan yang dikatakan Reno.
"Bukankah aku mengatakannya? Apa kurang jelas?" Reno tak henti-hentinya bersikap seolah menantang Aldi.
"Oh.. baiklah. Avil ayo pergi." Aldi menarik tangan Avril meninggalkan Reno dan Syifa dengan perasaan marah.
"Aldi... pelan-pelan." Ucap Avril mengikuti langkah Aldi.
"Dasar munafik." Decih Aldi yang tak tahu kemana dia melangkah.
"Aldi. Lepaskan aku." Avril berhenti dengan paksa dan menarik tangannya.
"Aku capek Al. Kau berjalan terlalu cepat." Ucap Avril menggembungkan pipinya sembari melipatkan tangan di dadanya.
"Maaf Avil..." lirih Aldi. "Tapi syukurlah kau baik-baik saja." Lanjut Aldi kemudian memeluk Avril.
"Eh? Memangnya aku kenapa?"
"Kau menghilang sejak malam itu. Kau juga tak bisa dihubungi. Kau pikir tak ada yang khawatir padamu?"
"Emm maaf. Dan bisakah kau melepaskanku? Nanti ada yang berpikir yang tidak-tidak tentang kita." Mendengar itu, Aldi melepaskan Avril dari pelukannya.
"Apa salah jika seorang teman mengkhawatirkan temannya?" Tanya Aldi yang masih menggenggam pundak Avril.
"Tapi jangan memelukku didepan umum." Avril kembali menggembungkan pipinya.
Aldi mengacak rambutnya dengan tertawa jahil.
Adegan itu dilihat oleh Syifa dan Reno dibalik tembok.
"Sepertinya perpisahan ini memang yang terbaik Ren." Lirih Syifa.
"Jangan fesimis. Percayalah Aldi sebenarnya sudah menyukaimu. Tapi egonya terlalu tinggi untuk jujur padamu. Aku mengenalnya sejak kecil, kau tenang saja, aku yakin sandiwara ini akan mengungkap isi hatinya." Ucap Reno masih fokus mengintip.
. Saat jam makan siang, kembali Avril bergurau ria dengan Aldi. Namun masing-masing hatinya hanya menganggap sebagai bahan pelampiasan kecemburuan saja. Sangat terlihat jelas ketika Reno sengaja merangkul pundak Syifa dan dengan santai berjalan melewati Aldi, Aldi kemudian bersikap manis kepada Avril, namun sangat jelas pula itu hanya pengalihan perhatiannya. Sorot matanya sedikit tajam, dan tersimpan sebuah amarah disana.
"Al..." panggil Avril pelan.
"Hmmm.. apa sayang?" Aldi melemparkan senyuman manis kepada Avril.
"Jujurlah Al..."
"Hmm? Jujur?" Seketika Aldi berfikir sejenak. "Ohhh baiklah. Ehemm... Avil. Aku masih mencintaimu."
"Bukan itu Al..."
"Lalu apa?"
"Kau mencintai Syifa. Tapi kenapa kau bersikap seperti tak mencintainya? Aku tahu kau selalu marah dan cemburu saat Reno sangat dekat dengan Syifa kan? Aku melihatnya Al..."
"Dan kau? Mengapa kau juga tak jujur bahwa kau sangat mencintai Alvi? Bahkan sekarang kau menjauhinya, dan kau menutup diri untuk tidak mengetahui tentangnya. Untuk apa itu. Alvi sangat mencintaimu."
"Percuma Al. Percuma aku mencintainya. Kau sendiri tahu dia sudah dengan kakakmu."
"Hah?" Aldi menyernyit heran. "Dia benar-benar menganggap bahwa Alvi dan kak Amel bertunangan." Gumam Aldi menggelengkan kepalanya.
"Kau tak dengar. Atau kau pura-pura tidak tahu hanya untuk menghiburku?" Tanya Avril kemudian dengan memasang wajah kesal.
"Terserah kau saja. Lanjutkan acara merajukmu itu." Aldi berlalu pergi meninggalkan Avril yang masih mematung heran.
"Dasar tukang pura-pura." Ucap Avril menggembungkan pipinya.
. Di samping itu, Alvi diam-diam berjalan melewati meja Ray.
"Ada jadwal presentasi yang harus anda hadiri tuan. 20 menit lagi, di ruang meeting. Dilanjutkan dengan rapat setiap pimpinan staf HRD dan manager" Ucap Ray membuat Alvi terhenti.
"Aku lelah Ray..." keluh Alvi kemudian bersandar di meja Ray.
"Hari ini saja tuan... besok silahkan jika tuan ingin menemui nona." Ucap Ray yang enggan beranjak dari duduknya dan masih fokus pada komputer.
Alvi menghela nafas ketika melihat Ray yang terlihat sibuk saat ini.
"Baiklah. Aku tak jadi pergi Ray." Ray mendongak dan seketika menghentikan jarinya yang sedari tadi sibuk dengan keyboard.
"Terimakasih atas pengertiannya tuan." Ray tersenyum saat Alvi berlalu dibalik pintu ruangannya.
"Maafkan saya yang sudah menutupi kenyataan bahwa nona kembali dekat dengan mantan pacarnya. Aldian." Gumam Ray seakan menahan kesedihan.
. Pagi di keesokan harinya, Aldi menjemput Avril untuk berangkat ke kampus.
__ADS_1
"Bukankah kau tak ada jadwal kelas?" Tanya Avril dengan wajah heran sambil berjalan di teras rumah menuju mobil Aldi, dengan beberapa buku di pangkuannya.
"Aku sengaja menjemputmu saja. Sekalian." Jawab Aldi.
"Sekalian?" Avril semakin heran.
"Iya. Sekalian ke rumah sakit." Jelas Aldian tersenyum. Entah kenapa kini senyum Aldi terlihat menyakitkan.
"Kak Amel ya?" Aldi mengangguk mendapati pertanyaan Avril.
"Mengapa kau melamun? Ayo berangkat." Ucap Aldi membuyarkan lamunan Avril yang isinya hanya Alvi saja. Berfikir bahwa kini Alvi sedang merawat Amel di rumah sakit.
Avril kemudian memasuki mobil Aldi, dan Aldi melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah Avril.
Disaat yang sama, sebuah mobil hendak berbelok ke gerbang, namun mendadak terhenti ketika mobil Aldi keluar dari gerbang. Kedua pengemudi yang berpapasan tidak menyadari satu sama lain. Aldi memecah sunyi jalanan dengan suara mobilnya yang khas.
. Sedangkan Alvi, langsung keluar dari mobil ketika sampai. Berlari ke teras rumah dan mengetuk lebih dulu pintu yang terbuka.
Terlihat bibi berlari kecil menghampiri Alvi.
"Loh Tuan Alvian kenapa masih disini?"
"Maksud bibi?". Bibi menatap heran pada Alvi.
"Bukankah nona di jemput oleh tuan?" Alvi menyernyit dan seketika berpikir. Siapakah tuan yang di maksud oleh bibi.
"Aku baru sampai bi."
"Lalu siapa yang menjemput nona?" Tanya bibi yang tiba-tiba terlihat khawatir.
Tanpa bicara, Alvi berlalu kembali memasuki mobil, lalu melajukannya sedikit cepat di jalanan.
Sesampainya di depan kampus, Alvi tak lagi menemukan sosok yang dicarinya.
Alvi kembali melajukan mobilnya dan menuju perusahaan.
. "Bukankah tuan tidak masuk hari ini? Apa ada kesalahan disini sampai tuan tidak jadi menemui nona?" Tanya Ray menundukkan pandangannya.
"Tidak Ray. Hanya saja rasanya nyaman berada disini. Avril sedang kuliah. Aku tak ingin mengganggunya." Ucap Alvi kemudian memasuki ruangannya.
"Dan satu lagi Ray. Hari ini aku sedang tak ingin menerima tamu, siapapun dan alasan apapun. Dan aku juga sedang tak ingin ikut meeting dengan siapapun dan tentang apapun." Kemudian Alvi menutup pintunya rapat-rapat.
"Ba-baik tuan." Jawab Ray.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berganti bulan. Keluarga Damian kini sudah kembali ke London. Dan Amel yang susah payah melawan penyakit mematikannya. Aldi yang semakin terpuruk ketika menyaksikan sang kakak yang terkulai lemah tak berdaya. Namun wajah Amel selalu terlihat ceria dan seperti sudah siap jika dirinya meninggal kapan saja.
Alvi dan Avril yang tak lagi bertemu namun enggan saling melepaskan sebuah pengikat antara keduanya.
Avril cs kini tengah sibuk menyambut acara magang yang sebentar lagi mereka hadapi. Sesuai penelitian dan bahan skripsi, masing-masing dari mereka sudah ditentukan untuk tempat magang dan penelitiannya. Namun yang aneh, Avril mengira bahwa dirinya akan magang di peruhahaan keluarga Syifa. Tapi, perusahaan D menjadi tempatnya untuk menambah pengalaman yang mungkin akan kembali menyayat hatinya, karena harus bertemu dengan Alvi.
"Masih beberapa minggu lagi." Ucap Avril menyemangati dirinya sendiri.
Sampai ketika, suatu hari Avril mendengar kabar bahwa presdir perusahaan D akan menjalani bisnis diluar negeri untuk waktu yang lama.
. Waktu bergulir begitu cepat. Avril kini berada di perusahaan D. Namun bukan sebagai calon istri dari presdir, melainkan sebagai barisan para mahasiswa magang.
"Memang memalukan. Tapi untungnya Alvi sedang tak disini. Dan ku harap Ray pun tak ada." gumam Avril yang memaki dirinya sendiri. Namun setelah bergumam seperti itu, Avril melihat Ray melewati barisannya.
"Jika Ray disini, lalu Alvi dengan siapa? Apa dia sendiri?" Avril menatap Ray dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Heran, khawatir, kesal, dan mungkin ingin menggoda Ray yang kini terlihat serius dan dingin. Bukannya Ray tak mengenali Avril, namun Avril sendiri yang bersikap seperti mahasiswa biasa yang tak kenal siapapun di perusahaan itu.
"Syukurlah nona baik-baik saja. Saya harap semoga tuan segera kembali." Gumam Ray tersenyum ketika menatap Avril. Semua heran dan menoleh pada Avril, sebagian berfikir bahwa Ray menyukai Avril.
Ada beberapa mahasiswa yang satu kampus dengan Avril dan santai merasa tak heran jika banyak lelaki yang mengagumi dan terpesona olehnya.
. Masing-masing mahasiswa mulai diarahkan di posisi yang ditunjukan oleh beberapa staff.
Avril dengan kebetulan masih bersama dengan teman satu kampusnya. Melihat dari sikapnya, dia terlihat sederhana dan tidak terlihat dari kalangan orang terpandang. Namun Avril tahu gadis itu sangat baik. Dea namanya. Satu mahasiswa lagi yang satu lingkungan dengannya, Iqbal. Teman baru dari beda kampus. Terlihat jelas sejak pertama pertemuannya dengan Avril, Iqbal langsung menaruh hati pada Avril.
Hari demi hari, kedekatan Avril dan Iqbal semakin terlihat oleh para karyawan diruangan itu. Bahkan tak jarang Avril selalu di ejek oleh seniornya karena terlalu jaim dekat dengan Iqbal yang terang-terangan menunjukan rasa sukanya pada Avril. Avril tak mengiyakan, bahkan tak menyangkal ketika ditanya apakah dirinya suka atau tidak pada Iqbal.
. Saat jam makan siang, Avril dan Dea sedang duduk dan asyik mengobrol sambil sesekali melahap makanannya.
"Bolehkah aku bergabung?" Tanya Iqbal duduk disebrang Avril. Avril mengangguk sambil tersenyum.
Ketiganya bergurau dan sesekali tertawa dalam perbincangan mereka. Dari jauh, Alvi menatap lekat meja mahasiswa itu.
"Siapa anak itu Ray?"
"Yang mana tuan?"
"Yang dekat dengan Avril. Dia Avril kan?" Alvi menunjuk Avril dengan menoleh pada Ray.
__ADS_1
"Namanya Dea tuan. Dia satu kampus dengan nona."
"Aku tanya yang laki-laki Ray." Ucap Alvi menghela nafas kesal.
"Ma-maafkan kesalahan saya tuan. Saya kira yang di maksud tuan itu Dea."
"Untuk apa aku menanyakan dia? Yang aku ingin tahu sekarang siapa laki-laki itu? Mengapa dia begitu berani mendekati calon istriku" Avril semakin geram.
"Hanya tuan yang menganggap seperti itu. Karena nona tak tahu tuan tidak jadi bertunangan dengan nona Amel."
"Singkirkan anak itu dari depan Avril Ray."
"Ba-baik tuan" "ayolah tuan jangan berlebihan." Gumam Ray berjalan mendekati meja Avril dengan di awasi oleh Alvi yang enggan memalingkan pandangannya dari Avril.
Tawa Dea seketika terhenti ketika melihat Ray yang kini berada dibelakang Avril.
Avril terheran lalu menoleh ke belakang. Sempat akan menyebut nama Ray karena terkejut, namun Avril hanya memalingkan wajahnya kasar. Dea terfokus pada seorang pria tampan yang berjalan santai dengan tangan dikedua saku celananya. Sangat tampan. Begitu pikir Dea.
"Sedang apa kau disini Ray?" Seketika Avril terbelalak meski tak menolehkan wajahnya pada pemilik suara yang sangat dikenalinya itu.
"Saya sedang lewat saja tuan. Apa ada sesuatu tuan?"
"Tak ada Ray. Ayo pergi."
"Baik tuan."
"Jangan lupa Ray. Singkirkan serangga yang mendekati istriku." Lanjut Alvi yang terhenti dari langkahnya. Dan kemudian berlalu meninggalkan Avril yang termangu mendengar kata "istriku" dari Alvi.
"Siapa dia? Tampan sekali." Dea terlihat terkagum-kagum dengan ketampanan Alvi.
"Dia presdir dan pemilik perusahaan ini." Ucap Avril datar. Hatinya masih terasa perih dan kata "istri" masih terus terngiang-ngiang ditelinganya.
"Apa? Kau serius? Dia Alvian Revano? Bagaimana kau tahu?" Tanya Dea antusias.
"Bukankah ada di internet tentang dirinya?"
"Ahhh ya tuhan... kebaikan apa yang sudah ku perbuat sampai kau mengizinkanku bertemu dengan Alvian Revano." Ucap Dea yang menepuk pipinya pelan.
"Tapi... dia sudah beristri ternyata. Pasti istrinya sangat cantik." Cetus Dea kemudian.
"Bahkan mereka sudah menikah." Gumam Avril yang tak sadar ada setetes air mata yang jatuh.
"Kau menangis?" Tanya Iqbal beralih menghampiri Avril.
Avril hanya menggeleng lalu beranjak dari duduknya.
"Aku duluan. Setelah dari loker, aku akan langsung ke ruangan." Tanpa ingin mendengar jawaban Dea dan Iqbal, Avril bergegas meninggalkan tempat makan.
Hatinya terasa hancur saat ini. Ingin sekali dirinya pergi ke atap atau pergi sejauh mungkin dari kota itu. Kenyataannya tak bisa ia terima.
. Hari ini, Alvi sengaja mengadakan gemba (keliling) ke seluruh isi gedung. Ruangan menjadi riuh saat mendengar kabar bahwa Alvi dan Ray akan keruangan kerja itu. Tak biasanya Ray dan Alvi turun keruangan staff.
"Sepertinya bos besar kita akan menyeleksi karyawan wanita untuk jadi istrinya." Canda Liya.
"Sut... si bos sudah punya tunangan." Ucap Manda.
Avril sangat kesal mendengar gosip itu. Hati dan telinganya mendadak panas sekarang.
Alvi dengan dingin berjalan dan terlihat Avril yang tiba-tiba terdiam ketika Alvi menatapnya dengan tajam dan berjalan perlahan kearahnya.
"Maaf bos. Apa ada kesalahan?" Tanya pak Deri dengan nada ketakutan. Pak Deri tahu bagaimana seramnya Alvi.
"Apa dia anak magang?" Alvi menunjuk Avril dengan menoleh pada pak Deri.
"Benar bos."
"Dia menabrakku dan menjatuhkan kopi milikku. Jadi aku hanya ingin memberikan sebuah hukuman padanya."
"Maafkan keteledoran bawahan saya bos."
"Ruanganku berantakan. Aku ingin dia membereskannya." Ucap Alvi tak menghiraukannya.
"Tapi bos..."
"Jika kau membantah, kau dan seluruh staf diruangan ini akan aku beri surat peringatan." Tegas Alvi.
"Ba-baik bos. Silahkan bawa dia." Ucap Deri menunduk.
"Surat peringatan terlalu berlebihan tuan." Gumam Ray.
Alvi semakin tajam menatap Avril yang terlihat menciut ketakutan karena tatapannya.
__ADS_1
Alvi memalingkan wajahnya dari pandangan Avril, lalu kembali pergi dengan Avril dibelakangnya.
-bersambung