Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
37


__ADS_3

. "Iya.. aku masih berharap pada Avil. Dan itulah kenapa aku berusaha memisahkan mereka. Kau puas?."


"Lalu? Mengapa kau berusaha mati-matian memisahkan mereka setelah kau tahu aku sekarat?" Kini tangis Amel sudah tak terbendung. Aldian terdiam mematung tak menjawab. Dan dirinya tak tahu harus menjawab apa.


"Sebenarnya kau memihak pada siapa? Apa kau hanya kasihan padaku? Apa karena permintaan terakhirku hanya ingin dengan Alvi, jadi kau baru membujuk Alvi agar menerima perjodohannya, dan apa kau pikir aku akan bahagia jika diakhir hayatku, aku hidup dengan orang yang aku cintai tapi tidak mencintaiku? Tidak Aldi. Itu menyakitkan. Aku tak akan bahagia."


"Lalu apa kau akan membatalkan acaranya begitu saja? Jangan bodoh kak. Aku sudah rela dibenci teman-temanku karena ini, dan kau akan membuat usahaku sia-sia? Kau tahu? Sejujurnya aku tak ingin membuat Avil seperti ini. Cukup aku saja yang menyakitinya. Orang lain jangan kak." Ucap Aldian putus asa.


"Kau tak perlu kasihan padaku Al. Aku tak apa..." ucap Avril yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Aldi. Avril melemparkan senyuman seakan menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Avil..." lirih Aldian.


"Terimakasih Al... dan kak... aku akan datang malam ini. Dan tenang saja aku tak akan mengacaukan acara kakak." Avril tertawa kecil. Benar-benar sandiwara yang sempurna, hatinya tersayat, namun masih sempat tertawa lepas tanpa beban.


. Siang telah berlalu, dengan susah payah Avril membujuk Noah, Galih dan ayahnya agar bisa pulang sore ini. Avril mengajak Demira ke sebuah salon kecantikan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Aldian, dimana acara pertunangan antara Alvi dan Amel diadakan.


Demira merasa heran, apa maksud dari sikap sahabatnya ini? Berdandan dengan cantik, dibalut gaun berwarna pink sweat yang menambah kesan manis pada wajah baby face nya. Demira sudah tahu seberapa besar perasaan Avril pada Alvian. Dengan tidak mungkin jika Avril begitu saja merelakan Alvi tanpa perasaan sesal. Senyumnya selalu terpancar setelah keluar dari rumah sakit.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan Avil?" Tanya Demira yang mulai tak tahan dengan sikap sahabatnya.


"Haha apa maksudmu? Aku hanya ingin datang di hari bahagia temanku. Apa itu salah?"


"Teman? Ahhh teman ya? Teman yang saling mencintai, dan saling berjanji tidak akan meninggalkan, dan mengikat satu sama lain dengan cincin pertunangan, lalu--"


"Lalu aku harus apa Demi? Aku hanya penghalang hubungan mereka."


"Tidak. Orang tuaku dan ego mu yang menjadi penghalangnya."


"Ahh ego ku ya? Ego ku memang besar ya? Dan aku sangat pintar saat membohongi orang. Begitu kan?" Meski sedang emosi, Avril melemparkan senyumnya pada Demira yang membuat Demira semakin kesal.


"Terserah kau saja." Delik Demira memalingkan wajahnya dari Avril.


Avril sendiri pun tak mengerti dengan dirinya. Disisi lain, dia ingin membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja jika Alvi memilih keputusannya. Tapi, disisi lain, dia pun tak kuasa menyaksikan Alvi menjadi milik orang lain.


"Jadi, aku harus bagaimana?" Gumam Avril yang tanpa disadari merubah ekspresi wajahnya menjadi murung.


Setelah menata penampilan, Avril dan Demi segera menuju rumah Aldian.


Ketika keduanya sampai, terlihat Alvi sudah stand by di sebuah podium acara utama.


Alvi tak sedikitpun memalingkan pandangannya bahkan seperti tak mengedipkan matanya dari Avril yang baru saja turun dari mobil Demi. Tatapannya sangat tajam bagaikan elang. Mata yang menakutkan, jelas ciri khas seorang yang dingin dan arogan.


"Kita lihat. Apa kau akan bertahan sampai acara selesai? Kau bersikap seolah kau baik-baik saja." Gumam Alvi mengikuti kemanapun arah Avril berlalu.


Hal itu disaksikan oleh Ray, yang sudah tak tahu harus berbuat apa.


Namun, terlihat Avril menghampiri Alvi yang sedari tadi tak ingin memalingkan pandangannya.


"Kau datang?" Tanya Alvi tanpa berkedip menatap tajam mata Avril yang hangat malam ini, riasan wajah dan balutan gaun simple yang membuat Alvi merasa gemas.


"Tak ada alasan untukku tidak datang." Jawab Avril dengan tatapan hangat.


"Baiklah. Aku pun tak ada alasan untuk membatalkan pertunanganku dan memilihmu lagi." Kini Alvi memalingkan wajahnya mencoba menahan sebuah senyuman yang hampir tersungging di bibirnya ketika menyadari bahwa kalung yang diberikan olehnya masih berada dileher Avril.


"Hei adik... cepat sekali kau sampai? Kau sudah sembuh?" Tanya Damian tiba-tiba merangkul pundak Avril dengan santai didepan Alvi.


Alvi melirik tajam menunjukan dirinya merasa kesal dengan pemandangan didepannya. Apalagi Avril yang seolah tidak masalah dirangkul oleh Damian. Padahal jelas Avril saat ini merasa risih. Namun untuk sebuah peran, Avril mengesampingkan ketidaknyamanannya.


"Ah.. kak. Aku kesana sebentar." Ucap Avril melepas tangan Damian kemudian berlalu kearah Tania dan Ray.


Ray terkejut, mengapa Avril ada didepannya, dan seperti sengaja Avril membelakangi Alvi.


"Nona? Mengapa nona disini? Apa nona sudah sembuh?"


"Jangan pikirkan kesehatanku Ray. Sekarang aku ingin meminta bantuanmu. Jangan biarkan Alvi kesini, dan jangan memasang wajah yang panik. Tetaplah disana, agar aku tidak memperlihatkan wajahku yang menyedihkan ini Ray." Ucap Avril perlahan menjatuhkan air matanya.


"Nona.." lirih Tania meraih lembut pundak Avril.


"Aku mohon kak. Tersenyumlah. Agar Alvi tidak curiga." Ucap Avril yang membiarkan air matanya jatuh.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin saya tersenyum disaat nona sedang sedih."


"Jangan memasang wajah seperti itu." Ucap Avril sedikit manja. Sontak membuat Ray dan Tania tertawa.


Dari jauh, Alvi terus memperhatikan rambut Avril yang terurai. Melihat Ray dan Tania tertawa, sudah dipastikan bahwa Avril benar-benar tidak bersedih karena ditinggal olehnya.


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu." Gumam Alvi yang masih enggan memalingkan pandangannya dari Avril.


Ray menoleh pada Alvi yang dirasanya lebih dingin dari biasanya.


"Tuan... andai tuan tahu bahwa nona sangat terluka." Gumam Ray menatap nanar pada Alvi.


Alvi seolah memberi kode bahwa Ray harus menghampirinya. Dengan sigap Ray mengikuti arahan Alvi dan berjalan kehadapan nya.


"Apa Avril baik-baik saja?" Meskipun tak diperlihatkan, namun Alvi sadar bahwa Ray sedikit terkejut mendapati pertanyaan tentang Avril.


"N-nona baik-baik saja tuan. Jika sedikit lemah, kemungkinan karena nona baru keluar dari rumah sakit." Jawab Ray sedikit terbata. Ray tahu pertanyaan Alvi mengarah kemana, yang tidak lain pada kondisi perasaan Avril. Namun dirinya memilih menjawab dengan kondisi kesehatan Avril.


"Kau tahu pertanyaan itu bukan yang ku maksud Ray."


"Ma-maaf tuan. Tapi...."


"Dari cara bicaramu, sudah jelas bahwa Avril tidak baik-baik saja kan?"


"Tidak tuan... nona--"


"Jujur Ray. Sejak kapan kau berbohong padaku? Bukankah aku memilihmu sebagai asisten pribadi sekaligus sekertaris ku karena kau orangnya jujur." Ray menunduk mendengar apa yang Alvi katakan. Memang benar, dirinya dipercaya oleh Alvi karena kejujurannya. Tapi kali ini, apa boleh Ray jujur pada Alvi bagaimana terlukanya Avril saat ini. Avril meminta dirinya untuk tidak memberitahu Alvi. Ray menghela nafas disela kebimbangannya.


"Nona... sangat terluka tuan. Nona begitu mencintai tuan. Sampai tak ingin memperlihatkan kesedihannya didepan tuan." Ucap Ray dengan nada pelan dan sedikit ragu.


"Begitu ya..." Alvi ikut menghela nafas berat.


. Waktu bergulir, sampai pada acara pertukaran cincin, Alvi kini tak mendapati Avril dimanapun. Hanya Galih dan Nadia yang berada didekat Ray.


Diliriknya Amel yang sudah berada disampingnya. Alvi tersenyum, dan dibalas senyum pula oleh Amel.


"Kau cantik Avril." Ucap Alvi pelan hingga Amel menarik kembali senyumnya.


"Ma-maaf Amel.."


Amel melirik jemari tangan Alvi. Disana masih terpasang sebuah cincin yang enggan ia lepas.


*Siang hari


. 'Plak' tamparan keras terdengar nyaring diseluruh ruangan.


"Apa kau mau mempermalukan keluargamu?" Hendar menampar Alvi beberapa kali.


"Ayah hentikan.." teriak Demira yang baru saja berbalik setelah melangkah menuju pintu.


"Alvi... mengapa kau begitu keras kepala? Malam ini kau akan resmi bertunangan dengan Amel. Lalu apa jadinya jika kau tak ingin melepas cincin itu? Lupakan Avril. Atau aku akan menarik semua aset mu." Geram Hendar menatap tajam Alvi yang tak bergeming sedikitpun.


Alvi berlalu ke ruang kerjanya dengan wajah dan tatapan dingin, dan tanpa bicara sepatah katapun.


Tak lama, Alvi membawa sebuah surat perjanjian yang sudah ia tandatangani, lalu memberikannya pada Hendar.


"Aku sudah setuju aset ku kau ambil, paman." Mata Hendar memerah semakin marah. Hendar kembali menampar Alvi dan merampas surat itu, lalu menyobeknya menjadi berkeping-keping.


"Kau benar-benar keterlaluan Alvi. Apa ini balasanmu setelah lelah aku didik dan ku kuliahkan di luar negeri."


"Tapi aku tidak berjanji dengan cara apa aku harus membalas budi mu paman."


"Kau terlalu di manja oleh ayahmu. Sampai kau berani menjawab ucapanku." Suara Hendar kian meninggi.


Alvi tersenyum sinis ketika membandingkan ucapan paman dan ayah Avril.


"Aku salut pada ayahmu Alvi. Ahmad benar-benar mendidikmu dengan sempurna. Kau menjadi pria baik, rendah hati, dan tidak semena-mena terhadap hartanya, dan tahta yang kau duduki sekarang. Kau menjadi pria hebat diusia mu yang masih terhitung muda. Aku bangga padamu." Begitulah apa yang dikatakan Andre pada Alvi beberapa waktu yang lalu.


"Inilah salah satu alasan mengapa aku bersikeras menolak perjodohan dengan keluarga Adam. Kau tahu paman, jika paman menjodohkan ku dengan keluarga Andre, aku tidak mungkin menolak. Selain aku mencintai putrinya, aku juga merasakan bagaimana mempunyai seorang ayah dan kakak yang mendukung di setiap langkahku." Ucap Alvi tanpa sadar kini air matanya menetes seketika.

__ADS_1


"Apa bedanya dengan keluarga Adam? Dia pun sama memiliki anak laki-laki meskipun lebih muda darimu."


"Paman tidak mengerti."


"Ya... paman memang tidak mengerti. Jadi terserah padamu saja. Jika kau masih bersikeras menolak perjodohan ini, akan aku pastikan perusahaan A terjatuh dalam waktu singkat." Seketika Alvi tercengang mendengar ucapan Hendar.


"Mengapa harus perusahaan A? Ini tak ada hubungannya dengan masalah ini. Jika paman ingin mengancam ku, aku lebih memilih menyerahkan semua aset ku pada paman."


"Itulah yang tak ingin aku dengar. Kau pasti akan menyetujui dengan mudah jika aku meminta aset mu. Tapi jika ini jaminan dan perjanjiannya, maka kau tak akan menolak." Tegas Hendar kemudian berlalu menuju pintu yang masih ada Demira yang mematung.


"Harusnya aku tak pulang dari rumah sakit. Mungkin aku tak akan menyaksikan ini." Gumam Demira yang ikut berlalu ke dalam mobil, lalu melajukannya kembali ke rumah sakit.


"Avil... maafkan aku dan keluarga ku..." tangis Demira pecah seraya menyeimbangkan kemudinya.


*acara malam.


Amel gemetar menggenggam cincin yang hendak ia pasangkan pada jemari Alvi. Alvi dengan santai menyodorkan tangannya pada Amel.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin aku memakai dua cincin kan?" Semua terkejut ketika Alvi menunjukan sebuah cincin yang terpasang di jemarinya. Padahal jelas cincin pertunangannya dengan Amel masih berada digenggaman Amel.


"Apa kak Alvi sengaja mempublikasikannya sekarang?" Tanya Famela berbisik pada Deyan.


"Dimana Avril?" Deyan sama berbisik.


"Aku tak melihatnya sekarang. Demira pun tak ada."


"Coba kau telpon." Famela mengangguk lalu memanggil nama Avril di kontaknya.


"Tidak aktif." Gelisah Famela kemudian mencoba memanggil lagi beberapa kali.


"Apa mungkin Avril bersama Demira ke London? Sebab malam ini keberangkatan Demira kembali kesana." Lanjut Famela dengan mata berkaca-kaca.


"Mengapa kau menangis? Dimana pun dia sekarang, Avril akan baik-baik saja." Deyan mendekap Famela yang mulai terisak.


. "Maaf. Tapi sepertinya aku tak bisa melanjutkan acaranya." Para tamu yang ada disana tercengang mendengar apa yang Amel ucapkan. Mereka menerka-nerka apa yang terjadi.


"Ada beberapa alasan. Bukan aku ingin mempermainkan publik, tapi lebih kepada, Aku ingin mengungkap beberapa kenyataan yang harus dipublikasikan. Aku dan Alvian memang dijodohkan oleh keluarga. Kalian tahu? Aku mencintainya sejak dulu, dan mungkin perjodohan ini termasuk ambisi ku yang ingin memiliki Alvi. Tapi, ada seseorang yang membuatku sadar bahwa perasaan ingin memiliki, dan bagaimanapun caranya, itu bukan cinta. Tapi keegoisan. Dan aku tak ingin menjadi egois karena aku mencintainya." Jelas Amel dengan senyum lega diwajahnya. Aldian terkejut lalu mengingat kembali kata-kata itu. Hatinya bertanya-tanya apakah Amel mendengar percakapannya dengan Avril saat di rumah sakit? Aldian menoleh kesana kemari mencari keberadaan Avril, namun tak di temukan.


"Syifa. Apa kau tahu dimana Avril?" Tanya Aldi pada Syifa disampingnya.


"Aku tidak bertemu dengannya."


"Ahh aku lupa. Kau baru saja datang."


"Aku akan menelponnya." Syifa mulai menghubungi Avril. Namun tak tersambung.


"Tidak aktif." Ucap Syifa khawatir.


"Kemana dia?" Aldi tak kalah khawatir menerawang jauh seraya berfikir kemana perginya Avril.


Didepan pintu masuk bandara, Avril melepas kepergian sahabat terkasihnya.


"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Demira ragu.


"Apa wajahku terlihat tak baik-baik saja?" Avril tertawa kecil.


"Avril hentikan... aku tak bisa meninggalkanmu."


"Sudahlah cepat. Nanti kau tertinggal pesawat."


"Berjanjilah kau jangan terus bersedih."


"Iya aku janji."


Dengan berat hati Demira berlalu meninggalkan Avril. Meskipun Demira sudah tak terlihat, Avril masih berdiri ditempatnya.


"Waktunya pulang nona."


"Aku tak ingin pulang mang." Ucap Avril berbalik dengan air mata yang berderai.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2