
. Dijalan, Avril masih memikirkan dengan yang dimaksud Alvi, dan alasan mengapa Alvi menyuruhnya pulang.
"Ray..." panggil Avril.
"Ya Nona! kenapa?" Tanya Ray tanpa menoleh pada Avril.
"Tak biasanya Alvi bersikap seperti itu." Ucap Avril menerawang jauh kedepan.
"Tuan hanya ingin menjaga jarak dengan nona."
"Kenapa Ray?"
"Apa tuan pernah mencium nona?" Avril terbelalak dan menatap tajam pada Ray.
"Itu aib Ray." Cetus Avril dengan polos.
"Haha saya serius nona."
"Pe-pernah." Jawab Avril setelah menghela nafas panjang. "Bahkan sering." Gumam Avril dengan ingatan yang berkecamuk.
"Apa nona merayunya?" Avril menoleh kasar pada Ray mendapati pertanyaan itu.
"Aku membujuk bukan merayu Ray. Kau pikir aku pelacur?" Avril memukul lengan Ray dengan kesal.
"Tidak nona. Bukan begitu maksudnya."
"Lalu apa?"
"Jika laki-laki tergoda, dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman." Ucap Ray membuat Avril menghimpit ke pintu.
"Kau mesum Ray." Cetus Avril lagi.
"Ti-tidak nona... saya hanya menjawab pertanyaan nona saja. Tuan tak ingin ada apa-apa pada nona. Jadi tuan menyuruh nona pulang malam ini."
"Mengerikan." Cetus Avril tak memalingkan pandangannya dari Ray. "Yasudah Ray. Kedepannya, jika Alvi marah akan kubiarkan saja. Aku tak akan membujuknya lagi." Ucap Avril dengan polos dan bergidik ngeri.
"Tidak seperti itu juga nona..." Ray tertawa kecil menanggapi Avril saat ini.
"Oh iya Ray. Kau tahu alasan Alvi mengusirku, berarti dia curhat padamu?" Ray mengangguk seraya kembali melempar senyum.
"Bukan mengusir, tapi--"
"Iya iya... kau mau bilang dia hanya menyuruhku pulang kan?" Tanya Avril menyela dengan ditanggapi anggukan lagi oleh Ray.
"Ishhh ada-ada saja." Ucap Avril menggelengkan seolah tak habis pikir.
Sampai di rumah, Avril langsung berlalu masuk dan Ray kembali ke apartemen miliknya.
"Aihh... katanya menginap?" Tanya ayah dari sofa diruang keluarga.
"Alvi menyuruhku pulang ayah." Jawab Avril ikut duduk disamping ayahnya.
"Kalian bertengkar?" Avril menggeleng menanggapi pertanyaan sang ayah.
"Lalu?"
"Emmm mungkin tak ingin terlibat gosip yang tidak enak didengar." Jawab Avril dengan santai.
Berhari-hari, Avril kembali dibuat heran oleh Alvi yang tak ada kabar. Pesan yang tak dibalas, telpon yang tak diangkat membuat Avril khawatir tak karuan.
"Isshhhh kemana dia?" Avril mondar-mandir di kamarnya dengan menggenggam ponsel sambil terus menelpon nomor Alvi. Avril melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul 10 pagi. Dirinya ada janji dengan Baren dan Syifa untuk sama-sama mengerjakan tugas akhir mereka. Avril bergegas pergi ke titik pertemuan mereka yang tak lain adalah taman kota. Dijalan, Avril mencoba menghubungi Syifa.
"Hallo Vil." Sapa Syifa dari seberang.
"Aih... panggilan mu jadi berubah?" Ejek Avril diiringi tawa kecil.
"Aku terbawa oleh Baren dan Aldi."
"Sudah kuduga. Kau berangkat dengan siapa?"
"Aku sendiri. Kau sudah sampai?"
"Belum. Aku masih dijalan."
"Ya sudah. Aku sudah di persimpangan sebentar lagi sampai."
"Baiklah Syifa... aku menyusul."
Sampai ditaman, terlihat Baren sudah standby di titik pertemuan.
__ADS_1
"Dimana Syifa?" Tanya Avril ikut duduk disamping Reno.
"Beli minum." Jawab Bagas sambil terus terfokus pada laptopnya.
"Dea tak ikut?" Tanya Avril beralih pada Reno.
"Dia ada acara. Katanya mau bertemu temannya saat magang." Jawab Reno yang menghisap sebatang rokok ditangannya.
"Kau masih saja merokok Ren. Kasihan paru-parumu." Avril mendelik kemudian membenahkan tempat untuk meletakkan laptopnya.
"Kau juga memaksakan melupakan Aldi. Kasihan hatimu." Ucap Bagas menimpali.
"Sesekali saja Vil... saat sedang stres saja." Jawab Reno.
"Stres kenapa kau Ren?" Tanya Avril lagi dengan mata terfokus pada laptop tanpa menoleh pada Reno.
"Stres punya sepupu seperti Anita." Cetus Bagas sama-sama fokus pada laptop didepannya. Syifa duduk didekat Avril lalu meletakan 2 botol minuman dingin.
"Terimakasih." Ucap Avril melemparkan senyuman.
"Sama-sama." Syifa membalas senyuman Avril tak kalah manis. Dari jauh, terlihat seseorang memperhatikan mereka dari dalam mobil.
"Apa tuan tak berniat menemui nona?" Tanya Ray yang ikut memperhatikan Avril.
"Nanti saja Ray. Dia sedang bersama teman-temannya." Jawab Alvi tersenyum tipis kemudian menutup kaca mobil.
"Kita pulang Ray. Nanti sore antarkan aku kerumah Avril."
"Baik tuan." Ray kembali melajukan mobil meninggalkan area taman. Avril menoleh kearah parkiran lalu melirik kesana kemari seolah merasakan ada seseorang disana.
"Ada apa?" Tanya Syifa.
"Tak apa." Jawab Avril yang terfokus kembali pada beberapa buku dan laptop didepannya. Sesekali Avril memukul Reno karena Reno hanya berleha-leha. Bagas tertawa melihat kegarangan Avril yang tak berubah dari dulu. Untungnya cuaca hari ini teduh namun tak hujan. Sampai akhirnya, mereka merasa kelelahan sendiri dan memutuskan untuk mencari makan dan setelah itu pulang. Seperti anak SD yang sedang diberi tugas kelompok.
Sebelum pulang, Avril sengaja mengajak Syifa untuk berjalan-jalan di mall. Avril terhenti disebuah gerai pakaian dan perlengkapan bayi.
"Cieee calon aunty." Ejek Syifa menyenggol lengan Avril.
"Aaa aku sudah tak sabar Syifaa..." rengek Avril gemas kemudian bersandar dipundak Syifa. Lalu, keduanya kembali berjalan-jalan melihat beberapa model baju dan aksesoris.
"Ehh Syifa... apa kau pernah berfikir siapa diantara kita yang akan menikah lebih dulu?" Tanya Avril tiba-tiba. Syifa mendadak terdiam, tatapannya menjadi sayu. Namun kemudian kembali melempar senyum pada Avril.
"Tentu saja kau." Jawab Syifa dengan antusias. "Dengan Aldi" lirih Syifa kemudian dan hampir tak terdengar. Yang Avril tangkap hanya nama Alvi saja.
"Kau mencintainya?" Tanya Syifa dengan nafas yang mulai sesak.
"Apa yang kau tanyakan itu Syifa. Kau bisa melihat sendiri. Aku sangat mencintainya. Aku banyak melakukan kesalahan dan selalu mematahkan hatinya, tapi kali ini, aku ingin memulai dengannya dari awal." Avril semakin sayu menatap cincin pertunangannya.
Syifa menahan diri agar tidak terbawa perasaan dengan jawaban Avril. Syifa berpikir bahwa obrolan mereka memang mengarah pada Aldi. Jantungnya berdegup kencang, hatinya terasa tersayat.
"Avril... ayo pulang. Aku ada urusan setelah ini." Ucap Syifa kemudian. Avril mengangguk menanggapi ajakan Syifa.
"Memang sebaiknya aku merelakan Aldi dengan Avril. Karena dari awalnya aku tak berhak masuk kedalam hidup mereka." Gumam Syifa menyeka air mata yang hampir terjatuh dari kelopak matanya dan berjalan sedikit dibelakang Avril.
. Keduanya berpisah di persimpangan menuju rumah Syifa. Namun Syifa tak langsung pulang, melainkan memutar arah menuju rumah Aldi.
Terlihat Aldi yang sepertinya akan pergi.
"Al... bisa bicara sebentar?" Tanya Syifa ketika keluar dari mobilnya dan menghampiri Aldi.
"Ada apa?" Tanya Aldi tak menjawab pertanyaan Syifa.
"Kau masih mencintai Avril?" Aldi menyernyit mendapati pertanyaan konyol yang dia anggap sudah berlalu itu.
"Apa yang kau tanyakan? Sudahlah Syifa.. kita sudah bertunangan. Jangan terlalu memikirkan orang lain. Masalah perasaanku pada Avril, biar aku sendiri yang menguburnya dalam-dalam. Aku tak ingin menyakitimu, dan aku juga tak ingin melibatkanmu dengan masalahku." Aldi meraih bahu Syifa yang terlihat gelisah dengan air mata berderai di pipinya.
"Apa yang kau tangisi?" Aldi mengusap air mata yang tak bisa dibendung oleh Syifa.
Syifa melepaskan cincin pertunangannya dengan Aldi, lalu memberikannya dengan tangis yang masih tak bisa tertahan.
"Maaf Al... aku tak bisa melanjutkan perjodohan kita. Aku akan bicara pada ayah agar tak ada kedalahfahaman." Ucap Syifa sebelum berbalik. Aldi menarik tangan Syifa yang kini membelakanginya dengan terus terisak.
"Kenapa Syifa? Apa karena sekarang aku tak punya apa-apa? Atau karena--"
"Avril masih mencintaimu Al..." Aldi tersentak mendapati penuturan dari Syifa.
"Avil? Tidak Syifa... kau pasti salah."
"Aku mendengar pengakuannya Al. Jadi untuk apa aku berada diantara hubungan kalian? Sejak awal harusnya aku tak masuk dalam cerita kalian. Hubungan yang terjalin lama dengan rasa tak pernah berujung. Sampai sekarang, meskipun aku menyaksikan Avril dengan Alvi, aku tak pernah menemukan titik ujung perasaannya padamu Al." Aldi perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Syifa dan membiarkan Syifa berlalu begitu saja meninggalkannya.
__ADS_1
"Bahkan kau tak mengejarku Al. Apa artinya semua yang sudah kau tunjukan keseriusanmu? Apa memang aku hanya menjadi tempat pelampiasanmu ketika merindukan Avril saja?" Gumam Syifa terus terisak dan tetap mengemudi semakin cepat.
Aldi menatap cincin yang dikembalikan oleh Syifa. Aldi masih tak paham dengan apa yang Syifa katakan. Melihat betapa Avril mencintai Alvi, mustahil jika benar Avril mengatakan bahwa dirinya masih mencintai Aldi didepan Syifa. Mengingat betapa Avril dengan suka rela dan berlapang dada menerima kenyataan bahwa Syifa lah yang menjadi pendamping Aldi dan memilih Alvi sebagai calon suaminya. Aldi menghela nafas dalam sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kediamannya.
Avril terdiam didalam mobil seakan enggan beranjak. Padahal bibi sudah berada di teras untuk menjemputnya dan membawakan barang-barang miliknya.
Dengan malas, Avril keluar dan bibi setengah berlari menghampiri lalu membawakan tas laptop Avril.
"Non ditunggu den Galih." Ucap bibi.
"Kakak ada?" Bibi mengangguk menanggapi pertanyaan Avril.
"Dengan kak Nadia?" Kali ini bibi menggeleng.
"Ada apa bi?"
"Bibi kurang tahu non."
"Ayah ada?"
"Tak ada non."
Avril berjalan pelan dengan rasa penasaran akan kedatangan kakaknya.
"Darimana kau?" Tanya Galih dengan suara yang membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.
"Aku.. dari taman." Jawab Avril kaku.
"Mulai sekarang, jangan pernah berhubungan dengan Aldi lagi."
"Tap-tapi.."
"Jangan membantah. Itupun jika kau masih menganggapku kakakmu. Dia hanya membawamu dalam bahaya saja. Jangan kira kakak tak tahu. Kakak diam hanya ingin tahu apa kau akan bicara jujur atau tidak. Tapi nyatanya, kau masih melindunginya dengan tidak bercerita apapun padaku. " Ucap Galih kemudian berjalan melewati Avril yang mematung.
"Jika saja saat itu kau dan Aldi terjadi kecelakaan, kau pikir aku akan diam saja? Sudah cukup aku kehilangan mama." Teriak Galih penuh amarah memekik telinga Avril.
Galih berlalu dengan mobilnya meninggalkan rumah. Tak lama, terdengar kembali suara mobil yang memasuki pekarangan rumah. Avril terduduk di sofa ruang tamu dengan memijit dahinya tanpa ingin tahu siapa tamu yang datang saat ini. Jika Alvi, sudah pasti Avril akan memeluknya dengan erat.
"Avil." Avril terkejut lalu mendongak mendengar suara siapa yang memanggilnya.
"Aldi? Ke-kenapa kau kesini?" Tanya Avril kemudian beranjak dari duduknya.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Aldi dengan serius.
"Duduklah. Akan ku buatkan minum." Avril hendak melangkah, namun Aldi meraih tangan Avril membuat Avril berhenti seketika.
"Tak usah. Aku hanya sebentar."
"Maaf Al..." Avril dengan sopan melepas tangan Aldi darinya.
"Ma-maaf." Lirih Aldi. Keduanya duduk berhadapan dan Avril meminta bibi untuk membawakan minum untuk Aldi.
"Jadi?" Avril memulai pembicaraan.
"Apa benar kau masih mencintaiku?" Avril menyernyit mendapati pertanyaan yang menurutnya sangat mengejutkan itu.
"Kau kenapa lagi Al? Sudah jelas kau dan Syifa sud--" Avril terhenti, lidahnya mendadak kelu ketika Aldi memperlihatkan cincin milik Syifa.
"Syifa mengembalikannya padaku. Syifa berkata bahwa kau masih mencintaiku. Bahkan kau mengakuinya didepan Syifa. Apa itu benar Avil?" Aldi menatap harap pada Avril dengan tatapannya yang sayu.
"Kapan? Al... aku tak gila. Sebesar apapun perasanku padamu itu hanya masa lalu. Kau sudah bersama Syifa. Dan aku dengan Alvi."
"Avil... sebelumnya aku minta maaf untuk kejadian tempo hari. Aku sedang kacau. Maaf aku sempat membencimu dan menyalahkan mu atas kepergian kakak dan ayahku. Harusnya aku tak berbicara seperti itu." Aldi menunduk tak berani menatap wajah Avril.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu Al." Aldi mendongak ketika Avril menghela nafas panjang sebelum melanjutkan bicara.
"Aku akan menikah dengan Alvi." Aldi mematung dengan menatap datar pada Avril yang kini terlihat serius. Secepat itu Avril melupakan perasaannya pada Aldi? Bahkan sudah memutuskan menikah. Aldi tersenyum getir dengan lirikan mata yang menghindari kontak dengan Avril. Matanya mulai berembun mendengar pernyataan yang diluar pemikirannya.
"Jadi kau sudah tak mencintaiku?" Tanya Aldi seakan memastikan sekali lagi.
"Untuk hubungan lima tahun meskipun tanpa kabar, aku masih mencintaimu. Tapi hanya mencintai saja itu sia-sia Al. Kita tak ditakdirkan bersama. Kau menemukan takdirmu, dan aku pun sama."
"Dan itu keputusanmu? Haha kupikir aku yang akan meninggalkanmu." Aldi menitikkan embun dari kelopak matanya dengan menatap dalam pada manik hitam milik Avril.sekali lagi Aldi ragu dengan apa yang Avril katakan. Meskipun Aldi menyadari bahwa tatapan Avril padanya sudah berbeda.
"Kau benar Avil.. percuma hanya mencintai saja. Jika tak ditakdirkan, bukan hanya perasaan yang menjadi sia-sia, tapi waktu juga akan terbuang percuma. Ujungnya hanya penyesalan saja yang tersimpan. Semoga kau bahagia Avil." Aldi beranjak diikuti Avril yang menghampiri Aldi dengan tatapan masih menyimpan rasa.
"Maaf...." lirih Avril.
"Bolehkah aku memelukmu. Untuk yang terakhir saja. Sebagai teman." Avril mengangguk dan Aldi dengan erat memeluk Avril melepas rasa kecewa dan rindu yang menjadi satu.
__ADS_1
Avril terbelalak ketika melihat Alvi yang tengah menyaksikannya dari ambang pintu. Avril melepas pelukan Aldi lalu berlari menghampiri Alvi.
-bersambung.