
. Menyadari ketiadaan Avril, Galih bergegas meninggalkan tempat acara.
Disusul Baren, Aldi, Syifa, Famela dan Deyan.
Mereka bersamaan melaju menuju bandara. Galih kemudian membelokkan mobilnya menuju sebuah apartemen tanpa disadari teman-teman Avril.
Sampai di apartemen x, Nadia dan Galih berlari menuju sebuah kamar ketika lift sampai. Saat terdengar pintu terbuka, terlihat seorang gadis menoleh pada dua orang yang baru masuk keruangan. Wajah yang menyedihkan, mata sembab, dan tangis yang tak bisa dihentikan. Nadia bergegas menghampiri, lalu memeluknya seraya menenangkan gadis itu.
"Sudah... kau menangis karena apa? Harusnya kau senang jika tahu kenyataannya." Ucap Nadia mengusap lembut rambut Avril di pangkuannya.
"Kakak tidak tahu rasanya jika seandainya kak Galih menikah dengan wanita lain." Ucap Avril kesal membenamkan wajahnya di pelukan kakak iparnya.
"Terserah kau saja Avril... salahmu sendiri karena pulang sebelum acara selesai." Galih menepuk kepala Avril.
"Kakak tak mengerti perasaanku."
"Apa kau tahu yang terjadi saat kau tak ada di acara itu?" Tanya Galih lagi.
"Sudah jelas Alvi dan kak Amel sudah resmi bertunangan." Ucap Avril semakin kesal.
"Sudah... lebih baik kau beristirahat. Bukankah besok kau kuliah?" Nadia mencoba melerai perdebatan kakak beradik yang menyebalkan itu.
"Kak... bolehkah aku meminta sesuatu?" Avril menyeka air matanya seraya melepas pelukan dari Nadia.
"Apa?" Tanya Nadia dan Galih.
"Rahasiakan keberadaanku. Dan jika boleh, untuk sementara waktu aku tak masuk kuliah dulu." Semula Galih hanya terdiam menatap Avril dengan tatapan konyol. Namun tak lama, Galih tertawa dengan permintaan adiknya.
"Jadi ceritanya, kau ingin menghilang, dan tak ingin ada orang yang tahu, kemudian kau muncul tiba-tiba dengan mengejutkan semua orang. Begitu? Ahaha Avril... dewasalah nak. Tunjukan kau itu gadis kuat. Jika kau seperti ini, jelas sekali kau ingin menghilang untuk dicari kan? Padahal kau sendiri tahu bahwa Alvi kini sudah milik gadis lain."
"Galih... sudah.. Avril sedang terpuruk, kau malah menceramahinya seperti itu."
"Yaa baiklah.. aku yang salah Nadia.." Galih mendelik.
"Tidurlah.. aku yang akan mengurus semuanya. Kau tenang saja. Aku mengerti perasaanmu." Lanjut Galih beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Nadia mendadak khawatir.
"Menyelesaikan masalah yang tertinggal." Ucapnya kemudian berlalu di balik pintu.
. Sampai di bandara, Aldi cs menelpon Avril beberapa kali namun masih tak tersambung.
"Aku khawatir.." lirih Famela
"Tak apa... kita cari Avril sampai ketemu." Famela mengangguk dan mengikuti Deyan memasuki area bandara. Semua berpencar berharap Avril masih disana atau setidaknya menemukan petunjuk.
"Kau menyusahkan Avril.." geram Bagas menatap foto Avril di ponselnya.
"Hasyi..." Avril menggosok hidungnya yang mendadak gatal.
"Kau sakit?" Tanya Nadia, Avril hanya menggeleng seraya tersenyum.
. Ditengah pencarian, Bagas teringat akan sesuatu.
"Dimana kak Galih? Bukankah tadi mobilnya dibelakang mobilmu?" Tanya Bagas menepuk lengan Reno.
"Aku baru menyadarinya."
"Huuu"
"Coba kau telpon!" Titah Reno yang langsung ditanggapi oleh Bagas. Bagas menekan panggilan pada kontak Galih. Tak perlu menunggu lama, panggilan sudah tersambung.
"Kak... kau dimana? Kau sudah menemukan Avril?"
"Sudah." Jawab Galih santai.
"Ah... syukurlah." Bagas menghela nafas lega seraya menyentuh dadanya.
"Lalu? Dimana dia?" Lanjut Bagas penasaran.
"Tak akan ku beri tahu."
"Ayolah kak.. aku juga adikmu kan?"
"Aku tidak punya adik berandalan sepertimu."
"Berkaca dulu kak sebelum kau berbicara."
"Apa? Kau bicara apa?"
"Tidak kak. Aku tunggu informasi lebih lanjut darimu."
"Kau sudah seperti ayahmu nak." Terdengar Galih terkekeh diseberang sana sebelum menutup panggilan.
. "Jadi, Avril tak ada disini?" Bagas mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Famela setelah mereka kembali berkumpul.
"Lalu, dimana Avil?" Tanya Aldi dengan panik.
"Kak Galih tidak memberitahu. Sepertinya, Avril butuh waktu untuk sendiri. Walaupun sebenarnya Alvi dan kakakmu tidak jadi bertunangan." Ucap Bagas.
"Kau benar. Avril sudah tak ada dirumah Aldi saat kak Amel membatalkan pertunangannya. Jadi mungkin dia hanya tahu semuanya sudah berakhir seperti yang dipikirkannya." Timpal Syifa.
"Aku harus menemuinya." Ucap Aldi seraya hendak pergi, namun dengan cepat dihentikan oleh Reno.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan sialan?." Tanya Reno menahan emosi. "Apa kau tak sedikitpun memikirkan Syifa? Bukankah kalian sudah lama bertunangan? Apa kau sudah gila?" Lanjut Reno membuat Aldi berbalik lalu memukul keras wajah Reno.
"Apa maksudmu? Aku gila?" Tanya Aldi menahan amarah.
"Iya. Kau gila Aldi. Dan itu membuatku semakin membencimu. Kau bersikap seolah Syifa milikmu, tapi kau juga mengabaikannya dan selalu mengejar Avril. Jadi apa artinya itu?" Namun Aldi terdiam mendapati pertanyaan Reno.
"Kau memukulku demi siapa dan untuk apa? Apa kau menemukan tempat pelampiasan atas penyesalanmu? Ingat Aldi. Mau bagaimanapun usahamu, Avril tak akan pernah kembali lagi padamu. Hargai Syifa, atau kau akan kehilangan keduanya?" Reno berdecih menyimpulkan senyum sinis pada Aldi.
"Jika kau tak bisa menghargai Syifa, lepaskan cincin itu, dan lepaskan dia. Biarkan dia menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa terikat olehmu." Kini sorot mata Reno menjadi tajam seketika.
"Kau menyukainya?" Tanya Aldi melirik Reno dan Syifa bergantian.
"Menurutmu?" Tanya Reno seolah menantang Aldi.
"Jika kau mencintainya, mengapa kau tak mengambilnya dariku?"
"Aldi, Reno. Cukup! Mengapa kalian bertengkar?" Famela mencoba melerai keduanya.
"Mengambil? Kau pikir Syifa barang? Hahah tapi baiklah. Aku akan menjaganya." Reno dengan cepat meraih tangan Syifa dengan tatapan yang masih menatap tajam pada Aldi. Syifa terkejut dan hanya biasa menoleh pada Aldi dengan terdiam. Reno melepas cincin Syifa dan memberikannya pada Aldi.
"Waktumu akan sia-sia jika bersama pria brengsek sepertinya." Kemudian Reno menarik Syifa berlalu meninggalkan bandara, dan disusul oleh Bagas di belakangnya.
Aldi hanya terdiam melihat Syifa yang tak menyangkal apapun, dan menurut saja ketika Reno membawanya pergi.
Sakit. Rasa itu kini mulai terasa di ulu hatinya. Padahal selama ini yang dirasakannya hanya perasaan yang hambar, datar, dan tak ada yang istimewa, ataupun membuatnya bisa merasakan sakit seperti ini.
"Aldi..." lirih Famela.
"Sebaiknya kita pulang." Ucap Aldi berlalu meninggalkan Famela dan Deyan.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Deyan pada Famela yang menatap nanar Aldi yang terus berjalan.
"Entahlah. Aku tak yakin." Jawab Famela menoleh pada Deyan.
. Di acara yang sedang berlangsung, Amel meminta para tamu yang datang agar pembatalan acara ini tidak diketahui publik. Biarkan publik tahu bahwa Amel dan Alvi bertunangan.
Kini Alvi dan Amel telah berada diruang kerja ayahnya, hanya berdua.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Alvi pelan dengan penuh kewaspadaan. Namun Amel hanya tersenyum.
"Aku tidak ingin kepergianku meninggalkan bekas luka. Agar aku bisa tenang meninggalkanmu." Alvi hanya tersenyum sinis.
"Sepertinya Avril mengantar Demira ke bandara. Kemungkinan dia tak tahu pertunangan ini dibatalkan. Tapi bukankah Nadia dan suaminya tahu? Jadi aku pikir Avril pun akan mengetahuinya juga." Lanjut Amel.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Alvi menyernyitkan dahinya.
"Jadi dia pergi karena mengantar Demira? Bukan karena tak ingin melihatku bersama Amel? Ternyata benar dia tidak mencintaiku." Gumam Alvi menebak-nebak perasaan Avril.
"Aku ingin memastikannya sendiri." Meskipun sudah tahu Avril tak ada di rumahnya, namun Alvi tetap bergegas kesana. Jelas saat sampai, hanya ada ayah dan para pelayannya saja di rumah. Dan terlihat bahwa ayah seperti baru sampai.
"Kau mau bertanya dimana Avril?" Alvi mengangguk menanggapi.
"Jika kau ragu Avril tak ada di sini, silahkan kau cari ke semua ruangan." Ucap ayah menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Alvi berlari menaiki tangga, dan kemudian membuka pintu kamar Avril.
"Avril." Teriaknya berharap orang yang ia cari berada di ruangan itu. Namun ia tak menemukan siapa pun. Pandangannya tertuju pada sebuah jas hitam yang masih tergantung di samping lemari baju. Seperti sengaja Avril memajangnya disana. Yang tak lain adalah jas milik Alvi yang tertinggal saat dirinya tak sengaja menyimpannya di tempat tidur Avril (flash back eps 14.)
"Bahkan kau tak mengembalikannya padaku. Kau benar-benar bodoh." Ucap Alvi berbalik dan berlalu kembali ke hadapan ayah.
"Ayah..."
"Kau tanya saja pada Galih."
"Galih akan sulit ayah...."
"Kau punya anak buah dimana-mana. Tapi hanya menemukan Avril saja kau tak bisa." Ucap ayah menggeleng heran.
"Tapi..." Alvi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudahlah.. biarkan dia sendiri dulu. Ayah yakin saat dia mulai bosan berdiam diri, dia akan keluar dengan sendirinya."
"Mengapa ayah begitu santai?"
"Dan mengapa kau begitu panik?"
"Aku khawatir ayah...."
"Dia ada di apartemen x." Ucap ayah setelah menghela nafas panjang.
"Mengapa kau begitu baik ayah?" Ayah tersenyum kemudian menepuk pundak Alvi.
"Kau juga anakku."
"Terima kasih. Sejak kepergian mama dan papa, hanya ayah yang peduli padaku lebih dari paman Hendar."
"Kau tak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana pun, dialah keluargamu saat ini."
"Apa artinya keluarga? Mereka hanya ingin memperalatku saja."
"Tidak. Ayah yakin Hendar tidak seperti itu."
"Aku beruntung jika saja ayah menjadi mertuaku."
__ADS_1
"Bukankah sudah? Ini menjadi buktinya kan?" Ayah menunjuk cincin milik Alvi.
"Kau pria bodoh dan keras kepala Alvi. Di acara pertunanganmu dengan seorang gadis pilihan keluargamu, kau malah menghancurkan harapannya dengan masih memakai cincin tunangan dengan wanita pilihanmu. Dan sekarang kau malah kesini, meninggalkan acara itu tanpa kau tahu keadaan disana seperti apa sekarang."
"Aku juga tak tahu ayah. Dan aku juga tidak peduli"
"Sudah kuduga kau disini Alvian." Ucap Galih ketika memasuki rumah.
"Galih... kau sendiri?" Tanya Alvi
"Kau mau bertanya dimana Avril? Takan ku beritahu Alvi."
"Tapi aku sudah tahu." Galih terdiam lalu menoleh pada ayahnya. Ayah dengan santai menyeruput kopinya seakan acuh pada perbincangan Alvi dan Galih.
"Ayah... mengapa ayah memberitahunya?"
"Memberitahu apa?"
"Sia-sia aku menyembunyikannya ayah." Ucap Galih memijit pelipisnya.
"Kau tenang saja. Aku tak akan menemuinya sekarang. Biarkan dia tahu sendiri kebenarannya."
"Baiklah.. aku juga akan kembali ke apartemen. Aku tak bisa berlama-lama meninggalkan mereka." Kini Galih beranjak hendak kembali pergi.
Galih berlalu meninggalkan rumah menuju apartemen milik Nadia.
"Kita lihat Avril... permainan apa yang akan kau mainkan." Gumam Alvi tersenyum puas.
"Ayah... sebaiknya aku pulang."
"Mengapa kau tidak menginap saja? Ayah sendiri disini. Kau tahu sendiri Galih dan Avril meninggalkan ayah."
"Apa boleh?"
"Mengapa tidak. Kau anakku."
Alvi tersenyum bahagia mendengar setiap pernyataan dari ayah mertuanya.
. Seminggu berlalu, Avril menutup telinga tentang keadaan dan kabar Alvi. Dia tidak masuk kuliah, dan tidak pulang ke rumah.
Penampilannya kembali diubah seperti sesaat setelah ditinggalkan Aldian. Tak lain dengan outfit kemeja, celana jeans, atau sweater.
Rambutnya setiap hari selalu di ikat, poni nya di ubah menjadi lurus sejajar dengan alis.
Namun meski begitu, keanggunannya tak hilang walaupun penampilannya berubah total.
Avril kembali masuk kuliah dengan penampilan itu. Kini dirinya sedang duduk di taman kampus bersama Famela. Famela menatap sedih pada Avril yang kembali sedingin dulu.
"Jangan menatapku seperti itu." Avril menyadari tatapan Famela, dan masih fokus membolak-balik halaman novel ditangannya.
"Kau bukan dirimu Avril..." Avril seketika terdiam, lalu menutup bukunya.
"Aku yang diriku itu seperti apa Fam? Ini aku."
"Bukan. Avril yang kukenal bukan seperti ini."
"Lalu seperti apa? Sudahlah Fam. Aku malas ribut denganmu." Avril pergi dengan kesal meninggalkan Famela yang masih duduk di taman kampus.
"Bahkan kau menjadi lebih emosional." Gumam Famela kesal.
Avril terhenti di ujung jalan taman ketika melihat Reno dan Syifa berjalan berdampingan dengan perbincangan dan tatapan yang berbeda. Seperti sepasang kekasih.
"Ren? Kau dan Syifa? Dimana Aldi?" Tanya Avril ketika berada di depan keduanya dengan mencari-cari keberadaan Aldi.
"Hei.. kau Avril?" Pertanyaan Reno membuat Avril semakin kesal.
"Avril sudah mati Ren. Mati bersama perasaannya yang dikhianati oleh kekasihnya." Avril hendak pergi, namun lengannya ditarik oleh Reno.
"Maaf Avril.. tapi aku hanya becanda. Aku belum terbiasa dengan penampilanmu yang sekarang." Avril menepis kasar genggaman Reno kemudian berlalu meninggalkannya.
"Avril..." panggil Syifa yang kemudian menyusul Avril, dan diikuti Reno.
"Aku ingin sendiri Syifa.."
"Tidak. Aku tak akan membiarkanmu sendiri." Avril sedikit terkejut ketika menyadari tak ada lagi cincin di jemari Syifa.
"Kemana cincinmu?" Avril meraih tangan Syifa.
"Aku yang melepaskannya." Ucap Reno merangkul pundak Syifa.
"Apa maksudnya ini?" Avril semakin heran.
"Aku tak tega melihat Syifa yang terus diabaikan oleh Aldi. Jadi, aku yang ingin menjadikannya seorang yang paling berharga. Bukan yang terabaikan." Syifa tersenyum merasa dirinya benar-benar beruntung jika benar Reno menjadi pendampingnya. Namun sayang, ini hanya sebuah sandiwara dan kesepakatan keduanya untuk berpura-pura pacaran. Tujuannya hanya ingin mengetahui apakah Aldi mencintai Syifa atau tidak. Dan mempermudah Aldi dan Avril untuk kembali bersama jika keduanya masih saling mencintai.
"Jadi, kau dan Aldi..." ucap Avril ragu.
"Iya.. mungkin hubunganku dengan Aldi memang tak bisa bersama." Jawab Syifa tanpa beban apapun dimatanya.
"Syifa.. aku ingin bicara." Suara Aldi tiba-tiba menyela perbincangan mereka.
"Maaf tuan Aldian. Tapi dia sekarang pacarku." Ucap Reno menyeringai sinis pada Aldi. Begitupun Aldi dengan tajam menatap Reno dengan penuh Arti.
-bersambung
__ADS_1