Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
12


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam, Alvi dan Avril sampai di tempat acara.


Avril mengedarkan pandangannya dan mendapati banyak teman kampusnya disana. Dan bahkan beberapa teman saat SMP nya. Tanpa Avril sadari, semua mata tertuju padanya. Tatapan kagum, bahkan sampai tatapan iri. Bagaimana tidak, malam ini Avril terlihat berbeda dari biasanya. Ditambah Avril yang berjalan disamping Alvi.


Avril menghampiri Famela sebelum acara benar-benar dimulai. Sedangkan Alvi lebih memilih menghampiri temannya yang menyapanya.


Namun disaat yang bersamaan, Aldi pun menghampiri Famela dan memberi selamat.


Tak bisa dipungkiri, semua temannya sudah mengetahui tentang hubungan Aldi dan Avril yang terjalin semenjak SMP. Hanya saja, sedikit dari mereka yang tahu kebenarannya.


Ketika menyapa keduanya, banyak yang mendoakan Aldi dan Avril bisa sampai menikah, namun mereka tak menyadari ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Aldi.


Malam ini pun, keduanya tampak serasi jika sedang berdampingan.


Membuat semua orang menjadi yakin bahwa kabar yang beredar tentang pertunangan Aldi itu hanya gosip saja. Dan seakan tak percaya kenyataannya bukan Avril gadis yang disandingkan dengan Aldi.


"Kalian datang bersama? Jadi, apa gosip itu salah? Hemmm sudah kuduga. Kalian dari dulu saling mencintai, tidak mungkin sampai tiba-tiba berpisah seperti itu." Ucap Famela dengan santai.


Avril hanya tersenyum menanggapi Famela.


"Aku juga berharap itu hanya sekedar gosip, tapi sayangnya itu benar. Dan aku hanya kebetulan bertemu dengan Aldi disini." Famela menatap Avril dan Aldi bergantian.


"Apa?" Tanya Avril pada Famela yang masih terlihat tak yakin.


"Apa kalian benar-benar putus?" Avril melirik Aldi lalu mengangguk pada Famela.


"Aku tidak percaya. Aku tahu sebesar apa cinta Aldi padamu Avril."


"Terserah jika kau tidak percaya. Tapi kenyataannya memang seperti itu." jelas Avril kesal.


Deyan terus memperhatikan Avril, sesekali tersenyum. Aldi terlihat tidak senang.


"Jaga pandanganmu." Tegas Aldi menatap Deyan membuat Famela dan Avril menoleh bersamaan.


"Apa maksudmu?" Famela menatap heran pada Aldi.


"Kau sudah bertunangan bersama Famela, bukankah tidak pantas jika kau terus memperhatikan Avril seperti itu."


"Dan kau cemburu?" Deyan tersenyum sinis. Aldi mengepalkan tangannya seakan bersiap memukul Deyan kapan saja.


"Bukankah kalian sudah putus? Jadi tak ada alasan untuk kau marah jika aku menatapnya." Entah mengapa ucapan Deyan membuat Ketiga orang didepannya merasa kesal.


"Dan mengapa kau salah faham?" Deyan menatap Famela dengan lembut. "Bukankah dia Avril Vania? Adik dari Galih Permana. Presdir perusahaan A yang terkenal dengan ketampanannya itu? Dan...." Deyan terdiam kemudian tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dan?" Famela dan Aldi bersamaan.


"Nona Revano. Dengan kata lain, Avril adalah pacar Alvian Revano. Dan satu-satunya wanita yang diinginkan oleh Alvian. Kau sangat beruntung Avril." Deg... Avril merasa heran dan tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Deyan. Namun dadanya tak henti berdegup.


"Dia tahu Alvi?" Gumam Avril.


"Dan tuan Aldian. Aku menatapnya bukan berarti aku menyukainya. Yaa memang hanya orang bodoh yang tidak tertarik pada gadis secantik Avril. Tapi aku sudah meyakinkan diriku pada Famela." Deyan merangkul Famela dan kemudian mengusap lembut kepalanya.


Aldian terdiam mendengar penjelasan Deyan.


Rasa marahnya hilang.


"Aku harap kalian akur-akur saja." Ucap Famela menggenggam tangan Avril.


Avril hanya tersenyum menanggapi Famela. Kemudian melangkah meninggalkan tempat Famela.


Aldi mengejar Avril lalu menarik tangannya.


"Apa kau masih mencintaiku?" Avril menoleh dan menyernyitkan dahinya.


"Aldi... ini bukan waktunya untuk becanda."


"Avril... siapa yang becanda disini?" Tegas Aldi menatap harap. "Kau bicara seolah kau masih mencintaiku, dan seakan kau tak bisa menerima kenyataan bahwa kita sudah tak lagi bersama." Lanjut Aldi semakin frustasi.


"Iya... aku masih mencintaimu." Ucap Avril setelah menghela nafas panjang beberapa kali. "Dan, memang aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah memilih yang lain daripada aku. Meskipun itu temanku sendiri."


"Sudah aku bilang, aku akan membatalkan pertunanganku jika kau masih mencintaiku. Dan, bukan aku yang memilihnya."


"Lalu siapa? Siapa Al? Apa aku? Bukankah keputusan ada ditanganmu? Katakan bahwa bukan kau yang memutuskannya." Lirih Avril.


"Jangan menganggap rendah hati perempuan. Meskipun terlihat tidak mencintai, namun siapa yang akan kuat jika berhadapan dengan perpisahan. Meskipun terpaksa, siapa yang mau jika harus melepaskan?." Lanjut Avril lirih.


Aldian terdiam menatap kaku gadis didepannya.


Dalam hatinya, Aldi terus menyalahkan diri. Memang benar, Aldi sendiri yang memutuskan, namun Aldipun tak bisa memungkiri bahwa sebenarnya hatinya masih mencintai Avril.


Ketika Avril yang tak sadar masih di genggam oleh Aldi, tiba-tiba sebuah tangan memisahkan keduanya.


"Meskipun kalian saling mencintai, aku harap kalian bisa tahu waktu dan tempat. Bukankah disini juga banyak teman-teman lamamu?" Amel menatap kearah Aldi yang terkejut karena dirinya.


"Avril... aku tahu kau gadis baik. Jadi aku tak pernah berfikir kau akan mendekati seseorang yang sudah menjadi milik orang lain." Tegas Amel menatap Avril.


"Maaf kak. Ini salah faham. Aku juga tahu batasanku dengan Aldi." Avril tersenyum terpaksa kemudian berbalik hendak menjauh dari kedua bersaudara itu.


"Yang ku maksud bukan Aldi. Tapi Alvi." Seketika langkah kaki Avril terhenti mendengar nama Alvi yang dilontarkan Amel.


Kini dadanya sesak, lebih sesak ketika berdiri didepan Aldi.


Seseorang menghampiri Avril yang terdiam mematung di tempatnya. Avril terkejut ketika mendapati Nadia tiba-tiba berada didepannya.


"Kak Nadia?" Tanya Avril heran.

__ADS_1


"Jangan heran. Deyan temanku saat SMA. Jadi, tak ada alasan lain untukku berada disini." Ucap Nadia.


"Apa kak Galih juga disini?"


"Jika Galih tidak disini, aku tidak mungkin ada disini. Kau tahu seberapa protektifnya kakakmu."


"Benar. Kak Galih tidak akan mengizinkan kak Nadia menghadiri acara seperti ini. Kecuali dia sendiri yang menemani kak Nadia." Gumam Avril.


"Avril..." panggil Aldi dari belakang. Nadia memasang wajah terkejut ketika menoleh dan menatap Amel. Padahal Nadia sudah mengetahui keberadaan Amel.


"Ohh Aldi. Apa kabarmu?." Tanya Nadia tersenyum. .


"Kabarku baik kak." Jawab Aldi pun tersenyum.


"Ah.. Nadia. Bisakah kau memberitahu adik iparmu untuk tidak mengganggu milik orang lain?" Ucap Amel melirik pada Nadia.


"Apa adikku mengganggumu Aldi?" Tanya Nadia menoleh pada Aldi.


"Bukan Aldi." Jawab Avril mendahului sebelum Aldi menjawab. Nadia menyernyitkan dahinya, dan tak lama lalu tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ah..... baiklah aku mengerti. Tapi asal kau tahu. Yang mendekati bukan adikku, tapi Alvi sendiri. Jadi, kau jangan menyalahkan adikku tentang ini." Jelas Nadia kemudian menarik tangan Avril.


Nadia menghampiri Galih yang berada jauh dari tempat utama.


"Kau kesal?" Bisik Galih pada Avril. Avril hanya menggeleng pelan.


"Lalu? Ada apa dengan wajahmu yang murung seperti itu?" Tanya Galih lagi.


"Kenapa kakak tidak memberitahuku?" Kesal Avril menatap Galih.


"Apa?" Galih mengusap lembut kepala Avril.


"Harusnya kakak bilang kakak juga akan kesini. Padahal kakak tahu aku akan pulang terlambat untuk menghadiri acara temanku."


Galih menatap lekat wajah Avril.


"katakan! Apa yang membuatmu begitu kesal. Karena tidak mungkin jika hanya karena aku tidak memberitahumu seperti ini, kau bisa sekesal ini. Dan apa kau menyebutkan tempat temanmu?" Avril hanya terdiam kemudian menunduk.


Galih kemudian melirik Nadia disampingnya. Dan Nadia hanya mengangkat kedua bahunya.


"Dimana dia?" Lagi-lagi Nadia melakukan hal yang sama.


Galih mengedarkan pandangan dan menatap lekat pada sekumpulan tamu yang tak jauh darinya.


Galih melihat Amel yang menghampiri Alvi yang tengah asyik mengobrol dengan temannya.


"Dimana pacarmu?" Seketika Avril menatap tajam mata Galih.


"Alvi bukan pacarku."


"Memang bukan. Dan maksudku bukan Alvi. Tapi Bagas." Avril menyernyitkan dahinya dan lalu memalingkan wajahnya yang memerah, antara kesal tidak mengerti mengapa Bagas yang dimaksud, atau malu kenapa tiba-tiba nama Alvi yang terlontar.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Galih mendekatkan wajahnya pada Nadia.


"Tentu saja tuan. Kau sangat lucu." Jawab Nadia tersenyum menyentuh kedua pipi Galih.


Avril memalingkan kembali wajahnya dan mendapati Aldi yang masih menatapnya dari jauh.


Mata yang sama, saat ketika Aldi menatap jauh Avril diantara teman-temannya. Sekilas Avril mengingat dimana Aldi yang diam-diam menatapnya kala itu, ketika Avril sibuk bertukar cerita dengan Demira saat dibangku SMP.


Aldi yang seakan mendengarkan Bagas, Reno, dan yang lain bercerita, namun matanya tetap tertuju pada gadis yang disukainya.


"Cih.. apa yang aku pikirkan." Gumam Avril berpaling dari pandangan Aldi.


Alvi menghampiri Avril yang terdiam disamping Galih.


"Kakak ipar. Kau disini?"


"Dan kau juga disini?" Tanya Galih dengan wajah datar.


"Tentu saja. Aku mengkhawatirkan adikmu. Aku tidak bisa membiarkan adikmu menghadiri acara seperti ini sendirian." Jelas Alvi.


"Dan aku disini untuk menjemput Avril. Dan kau tak perlu khawatir, aku dan Galih akan menjaganya." Ucap Nadia dengan wajah serius.


Galih menatap lekat mata Nadia yang tak sedang becanda saat ini.


"Ada apa ini? Tidak biasanya Nadia bersikap seperti ini pada Alvi." Gumam Galih.


"Aku akan menunggumu di mobil." Ucap Galih tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba?" Alvi menyernyitkan dahinya.


Avril berjalan mendahului Galih. Namun dengan cepat Galih menggendong Avril, membuat Avril terkejut dan berteriak.


"Apa yang kakak lakukan?"


"Ada kucing." Jawab Galih.


"Singkirkan kucing ini dari hadapanku." Tegas Galih dengan wajah dingin. Beberapa tim keamanan menghampiri dan meminta maaf pada Galih.


Benar-benar menakutkan. Dari ucapan Galih terselip sebuah kekesalan yang terluapkan.


"Turunkan aku kak." Avril melirik mengedarkan pandangannya. Kemudian Galih menurunkan Avril perlahan. Namun Avril tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Matanya sangat berat dan hidungnya mendadak gatal. Beberapa kali Avril bersin dan akhirnya terlelap dipangkuan Galih.


"Sial..." Galih berdecih dan kembali menggendong Avril.

__ADS_1


Alvi ikut berlari dibelakang Galih. Dan ikut memasuki mobil.


Alvi menghubungi Ray yang sedari tadi sudah berada di tempat.


"Bawa mobil Avril." Ucap Alvi.


"Baik tuan." Jawab Ray sigap.


--


Avril membuka matanya, mendapati seseorang yang sangat dikenalnya.


"Sedang apa kau?" Tanya Avril menyernyitkan dahinya.


"Sedang menunggumu." Jawab Alvi polos.


"Kenapa harus ditunggu? Aku baik-baik saja. Hasyiii..." Avril bersin beberapa kali dan menutup wajahnya dengan tangan.


"Kau ini aneh. Alergi pada kucing!" Ejek Alvi.


"Bukankah kau yang lebih aneh. Kau alergi pada Pedas." Cetus Avril kesal.


"Avil...." lirih Aldi yang berdiri dengan Syifa disampingnya. Dadanya mendadak sesak melihat apa yang tak ingin dilihatnya.


Avril tersenyum menanggapi Aldi.


"Apa aku terlalu lama tak sadar?" Syifa menggeleng


"Famela meminta maaf karena membiarkan kucingnya berkeliaran." Ucap Syifa.


"Itu bukan salahnya. Dan mengapa kau disini?" Tanya Avril heran menatap Syifa.


"Apa alergimu membuatmu menjadi amnesia? Famela juga mengundangku." Jawab Syifa.


"Ahh benar. Aku melupakan keberadaan Syifa." Gumam Avril menatap lurus kearah pintu.


Noah memasuki ruangan dan seperti biasa selalu menyuruh yang didalam untuk keluar.


Alvi yang tetap duduk disamping ranjang Avril membuat Noah berdecak kesal.


"Kau tidak dengar tuan Revano?"


"Aku heran mengapa kau selalu mengusirku jika akan memeriksa Avril. Jika kau ingin berkonsentrasi, aku bisa diam dan tidak mengganggumu." Ucap Alvi kesal.


Noah menghela nafas panjang "Terserah kau saja. Tapi aku sarankan kau keluar dahulu."


"Alvi.... apa kau bisa keluar dulu?" Tanya Avril dengan wajah datar.


Alvi berdecih dan berjalan menuju pintu. Kemudian menutup pintu sedikit keras.


"Apa dia benar-benar pacarmu?" Tanya Noah melirik pada pintu.


"Dia bukan pacarku. Hasyiiiii" Avril menggembungkan pipinya.


"Ohh aku lupa. Bukankah pacarmu yang bersama temanmu tadi?" Noah terlihat sedikit berfikir.


"Dia tunangannya." Ucap Avril.


"Benarkah? Hemmm kau benar-benar kuat Avril. Kau bisa menahan sakit didepan mereka."


"Aku tidak sakit."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Hasyii"


"Lalu? mengapa kau terus mencengkram selimut itu?" Noah menunjuk tangan Avril. Avril melepaskan cengkramannya dan lalu memalingkan pandangannya.


"Noah..." lirih Avril tak menoleh.


"Hemmm?" Noah yang fokus dengan alat medis ditangannya dan terus memeriksa Avril.


"Apa Alvi dan kak Amel benar-benar dekat?"


"Dan kau cemburu?" Tanya Noah melirik Avril.


"Harusnya kau lebih tahu daripada aku Avril. Kau berpacaran dengan adik Amel. Tapi kau masih bertanya. Perjodohan itu tidak menjamin kedekatan mereka, sama halnya dengan adik Amel dan temanmu yang sudah jelas melakukan pertukaran cincin, namun melihat sikap Aldian, sepertinya dia tidak menginginkan perjodohan ini. Dan juga, hatimu masih mengharapkan Aldian bukan?" Avril terdiam, matanya menatap sayu vas bunga disampingnya.


"Apa kau mencintai Alvi?" Tanya Noah menatap lekat Avril.


"Aku tidak tahu Noah. Rasanya aku sudah tidak bisa mencintai seseorang lagi. Tapi aku juga kesal ketika melihatnya dengan gadis lain." Jawab Avril menoleh pada Noah.


"Jika aku mencintaimu, apa kau akan menerimaku?" Avril terkejut menyernyitkan dahinya mendapati pertanyaan Noah.


"Ahahha becanda! Kau terlalu serius Avril." Noah terkekeh melihat Avril.


"Sialan kau." Avril mendelik.


"Gadis manis seharusnya tidak boleh berkata kasar seperti itu." Ucap Noah kembali membereskan alat medisnya.


"Ahaha maafkan aku dokter sialan....." Avril tertawa sebal pada Noah.


"Pantas saja kau menyuruhku keluar. Ternyata kau sedang asyik becanda dengan pasienmu Dokter." Ucap Alvi tiba-tiba berdiri diantara pintu dengan melipatkan tangannya.


Avril dan Noah menoleh bersama.

__ADS_1


"Dasar serangga pengganggu." Ucap Noah mendelik.


-bersambung.


__ADS_2