Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
21


__ADS_3

. Galih terdiam tak percaya, dan Nadia berteriak kemudian meraih Avril yang baru saja tergeletak.


"Avril..." lirih Nadia membawa kepala Avril dipangkuannya.


"Nadia..." Galih hendak meraih Avril tapi ditepis kasar oleh Nadia.


"Jangan menyentuhnya." Tatapan Nadia kini menjadi tajam dan dingin, menatap Galih yang khawatir melihat Avril.


Reno turun dari mobil dan berlari menghampiri Alvi. Reno melangkah hendak ikut meraih Avril.


"Jangan mendekati adikku." Tegas Galih membuat Reno berhenti terdiam.


Galih membawa Avril memasuki mobil, meskipun Nadia sangat kesal pada Galih.


Mobil Galih melaju dengan cepat, ketiga pemuda itu dan supir taksi masih berdiri ditempatnya.


"Apa dia gila?" Reno masih menatap mobil Galih yang kian menjauh.


"Dia memang gila." Ujar Alvi datar.


"Tidak. Dia sangat gila." Lanjut Bagas yang sama menatap datar.


Ketiganya menghela nafas berat, lalu saling berpandangan, kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kalian tertawa?" Tanya Reno heran pada Bagas dan Alvi.


"Aku mengikutimu tertawa." Jawab Bagas polos.


"Dan kau? Mengapa kau tertawa.?" Tanya Alvi heran.


"Aku menertawaimu. Kau sangat lucu ketika babak belur Alvi." Reno kembali tertawa.


"Apa itu benar-benar lucu?" Alvi menatap aneh pada Reno. "Hishhhh ini benar-benar sakit." Lanjut Alvi merengek sambil mengusap wajahnya yang lebam.


. "A... anu...." ucap pak supir terbata.


"Ahh maaf pak. Emmm ini uangnya, dan terimakasih." Ucap Bagas menyodorkan sejumlah uang pada pak supir.


"Saya sampai sini saja." Lanjutnya tersenyum.


Supir taksi itupun berlalu meninggalkan tiga pemuda yang terlihat masih enggan meninggalkan tempat itu.


Reno menatap konyol pada Bagas, begitupun Alvi.


"Apa?" Tanya Bagas menatap Alvi dan Reno bergantian.


"Tidak." Alvi mendelik seraya menghela nafas pajang.


"Sebaiknya kau mengobati wajahmu yang babak belur itu." Ucap Reno melirik tajam pada Alvi.


"Aku mengkhawatirkan Avril." Alvi menatap lekat mata Reno seakan ucapannya benar-benar tidak berbohong.


"Siapa yang mengkhawatirkan siapa tuan Revano yang malang." Ucap Bagas santai dengan nada ejekan.


Reno terus menatap lekat Alvi yang terlihat lesu.


"Apa kau menyukaiku?" Tanya Alvi membalas tatapan Reno.


"Dihhhhhhh...... amit-amit-amit-amit.... daripada aku menyukaimu, sudah jelas lebih baik aku menyukai Avril." Ucap Reno terlihat geli dengan pertanyaan Alvi.


"Apa? Kau ingin bersaing denganku?" Alvi terlihat sangat kesal.


"Tidak juga. Bisa saja pada akhirnya aku yang menjadi pendamping Avril." Jawab Reno dengan santai.


"Akulah orang pertama yang menghancurkan acara pernikahanmu dengan Avril nanti." Alvi berbalik kembali berjalan menuju mobil.


"Hei supir.." panggil Alvi dari samping mobilnya. Baren menoleh bersamaan lalu saling pandang, dan menoleh kembali pada Alvi.


"Antar aku kerumah Avril sekarang!" Titah Alvi layaknya seorang majikan pada supirnya.


"Kau berbicara pada siapa?" Tanya Bagas heran.


"Bukankah saat aku memanggil supir, kalian berdua menoleh? Jadi, menurut kalian aku berbicara pada siapa?" Ucap Alvi santai memasuki mobil.


"Sialan kau... sejak kap--"


"Sudahlah Bagas. Jika kita tidak ikut dengan Alvi sekarang, kita tidak bisa pulang." Ucap Reno menyela dan berjalan mendahului Bagas.


"Ahh sial. Benar juga. Aku menyuruh taksinya untuk sampai disini saja." Umpat Bagas mengikuti Reno dan duduk dikursi depan samping Reno.


"Kau yakin akan kerumah Avril?" Tanya Reno terlihat tidak yakin.


"Apa aku pernah becanda?" Tanya Alvi dengan wajah serius.


"Tapi jika ada apa-apa padamu lagi, aku tak ingin menolongmu." Ucap Reno meyalakan Mobil.


"Tadi saja aku tak ada yang menolong." Cetus Alvi santai dengan nada sindiran.


"Ahahaha ak-akuuu.." Reno tertawa kikuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudahlah Reno.. lupakan." Alvi bersandar dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Jangan mati Alvi... aku belum siap melihat Avril depresi jika tahu kau sudah mati." Ucap Bagas membuat Alvi kembali membuka matanya.


"Jika aku mati pun, aku akan menghantuimu terlebih dulu." Ucap Alvi kesal.


. Galih memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah. Dengan cepat Galih kembali menggendong Avril dengan wajah bersalah, ditambah terlihat jelas bekas tamparannya yang merah dipipi Avril.


Nadia memanggil bibi dan menyuruhnya untuk membawa handuk dan air dingin. Sepanjang jalan, sampai dirumahpun Nadia tidak berbicara pada Galih.


Galih menidurkan Avril disofa ruang tengah.


"Nadia.. kenapa kau tak menjaga Avril." Lirih Galih berjongkok menyelaraskan wajahnya dengan Avril.


"Apa? Kau menyalahkanku? Bukankah kau tahu aku didalam mobil?" Ucap Nadia kesal.


"Aku tidak sengaja..." Galih menatap Nadia yang memalingkan wajahnya.


Nadia sangat membenci sikap Galih yang kasar, meskipun Nadia tahu ada alasan mengapa Galih bisa sekasar itu.


"Aku sangat suka saat kau bersikap lembut." Lirih Nadia menunduk. Galih hanya terdiam menanggapi Nadia dan membiarkan untuk menyalahkannya. Sekian lama Galih tak pernah berkata dan bersikap kasar pada siapapun kecuali Alvi dan Baren. Namun melihat adik satu-satunya dalam bahaya karena seseorang, emosinya tak bisa terkendali. Dan begitu melihat bekas tamparannya dipipi Avril begitu jelas, sudah tak diragukan lagi, ayah akan memarahinya.


Galih mengelus lembut pipi Avril dan menggenggam tangan Nadia.


"Maafkan aku..." Lirihnya tetap menatap wajah Avril dan lebih erat menggenggam tangan Nadia.


Bibi kembali dan membawa apa yang diminta Nadia. Dengan cepat Nadia mengambil dan beberapa kali menekapkan handuk pada pipi Avril.


"Aku tak bisa membayangkan rasa sakitnya." Ucap Nadia santai yang membuat Galih menoleh padanya.


"Berhenti menyindirku Nadia..."


"Aku tidak menyindirmu. Hanya saja suara tamparan itu masih terdengar jelas." Santainya masih fokus pada Avril tanpa menoleh pada Galih yang terus menatapnya.


"Awwww" rintih Avril saat handuk kembali ditekapkan.


"Avril..." panggil Galih yang berada tepat disamping wajahnya. Avril terbangun dengan wajah panik.


"Alvi dimana? Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya tidak parah?" Tanya Avril saat menoleh pada Galih.


"Siapa yang mengkhawatirkan siapa nona." Ucap Alvi tepat saat memasuki ruangan.


Avril terkejut melihat wajah Alvi yang memar, lalu menoleh tajam pada Galih. Galih hanya memalingkan pandangan sembari berdecih.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk tuan Revano?" Galih bangkit dan berbalik menghadap pada Alvi. Betapa terkejutnya Galih saat melihat siapa yang ada dibelakang Alvi.


"Apa kau yang melakukannya?" Tanya Ayah membuat Alvi dan Baren menoleh bersamaan.


"Maaf ayah." Ucap Galih menoleh kearah lain.


Avril memalingkan wajahnya untuk menutupi pipi yang merah dari pandangan ayah. Karena jika Avril memegangnya, ayah akan merasa curiga.


"Apa Noah benar-benar sudah menyuruhmu pulang?" Avril hanya mengangguk menanggapi.


"Apa kau benar baik-baik saja?" Avril kembali mengangguk.


"Kau tidak mau bicara? Tak seperti biasanya. Apa karena kau masih lemas?" Lagi-lagi Avril mengangguk.


"Kau tidak khawatir pada Alvi?" Avril mengangguk, lalu terdiam, menggeleng, dan kembali mengangguk.


"Ayahhhhh" Avril menoleh sepenuhnya pada ayah dengan menggembungkan pipinya, membuat ayah menyernyitkan dahinya melihat pipi Avril yang merah.


"Apa itu? Kemarin saat ayah menemuimu, tidak ada bekas benturan apa-apa."


"I-ini...."


"Aku yang menamparnya ayah." Sontak ayah menoleh pada Galih. Kemudian ayah menoleh bergantian pada Alvi dan putrinya.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya Ayah terdengar menahan marah.


"Apa?" Alvi dan Avril bersamaan merasa heran.


"Apa yang sudah kalian lakukan sampai Galih berani membuat kalian seperti ini?" Tanya Ayah yang kini melepaskan amarahnya. Semua terdiam, hanya Avril yang terlihat santai.


"Ayah tidak melarangmu dekat dengan pria manapun, asal kau bisa menjaga dirimu. Dan ayah juga tak pernah melarang siapapun untuk mendekati putriku, siapapun itu asalkan kau bisa menjaga putriku." Ucap Ayah menoleh pada Alvi.


"Apa ini ulahmu? Kau selalu memberi alasan menjaga Avril pada ayah setiap kali kau menemaninya?" Lanjut Ayah tegas dan menekan.


"Apa yang ayah pikirkan? Itu terlalu jauh ayah.... Alvi tak pernah menyentuhku, justru sekarang alasanku pulang diam-diam karena aku yang sedang ingin menjauhinya." Ucap Avril yang pada awalnya keras namun menjadi lirih ketika mengingat apa yang dilihatnya dirumah sakit.


"Nahhhhh kan... kau jujur sendiri mengapa kau kabur tiba-tiba. Dan membuat kami khawatir" Rajuk Bagas dengan kesal.


"Sudah kuduga. Kau salah faham Avril... aku tidak melakukan apapun dengan Amel." Ucap Alvi meyakinkan.


"Apa yang aku lihat, itu yang aku percaya Alvi." Avril memalingkan wajahnya.


"Sudah cukup." Bentak Galih membuat suasana hening kembali. "Ayah... aku memukuli Alvi karena aku tersinggung, dan aku menampar Avril karena aku tidak sengaja." Jelas Galih merasa bersalah. "Jangan menyalahkan mereka. Aku yang salah ayah... maafkan aku." Lanjut Galih menunduk.


Ayah berlalu keruang kerja tanpa berbicara apapun, hanya terdengar suara nafasnya yang berat menahan kesal.


Setelah terdengar ayah menutup pintu, semua menghela nafas berat bersamaan.


"Maaf Galih. Jika aku selalu membuat adikmu merasa tak nyaman." Lirih Alvi membuat Avril menoleh padanya.

__ADS_1


"Kau sudah tahu? Harusnya kau menjauhi adikku." Ucap Galih dengan nada dan tatapan dingin. Didepan Avril dan Galih, sorot mata Alvi sangat jauh dari kata dingin.


"Aku tak mau dan aku tak bisa." Jawab Alvi santai.


"Terserahlah." Galih berbalik dan menepuk kepala Avril sebelum berlalu kekamarnya.


"Maaf." Lirih Galih terdengar lesu.


"Ini sakit tau.." Avril menggembungkan pipinya terang-terangan meskipun tahu Alvi sangat gemas ketika melihatnya seperti itu.


Alvi tersenyum hangat pada Avril, hingga semua pandangannya gelap. Alvi ambruk begitu saja, dan Baren hanya menatapnya heran.


"Apa kau sedang becanda?" Tanya Bagas.


"Bagas... Dia pingsan Bagassss...." panik Reno meraih Alvi yang terlelap.


"Kupikir dia cukup kuat" Bagas tertawa kecil saat membopong Alvi dengan Reno disampingnya.


Avril beranjak berdiri dari sofa, namun "nyuttt" kakinya kembali perih dan terjatuh.


"Kau mau kemana?" Ucap Nadia terkejut lalu meraih lengan Avril untuk membantunya kembali berdiri.


"Sudahlah... Jangan mengkhawatirkan Alvi... dia akan baik-baik saja" lanjut Nadia.


"Jangan memaksakan Avril.. kondisimu belum pulih sepenuhnya." Ucap Reno menidurkan Alvi disofa yang lain.


"Mengapa saat mengejar kak Amel aku tidak merasa sakit. Bahkan kakiku seperti tidak pernah patah." Gumam Avril menatap kosong kedepan.


"Jangan melamun. Nanti kau kesurupan hantu air." ejek Bagas terkekeh dan terlihat senang menjahili Avril.


Ayah keluar dari ruangannya, kemudian menghampiri kumpulan anak muda yang tiba-tiba terdiam setelah mengetahui dirinya mendekat kearah mereka.


Ayah memberikan obat untuk luka memar pada Avril.


"Aku tidak memar Ayah..." Avril menyernyitkan dahinya menatap obat itu.


"Obati Alvi." Ucap Ayah singkat.


"Hah? Kenapa aku? Bukankah disini ada Reno dan Bagas." Gumam Avril melirik Bagas dan Reno bergantian.


"Jangan menyuruh mereka. Atau Alvi akan semakin babak belur." Ucap ayah dengan nada sindiran.


"Ehhhhhhh....." Bagas dan Reno bersamaan dan menoleh seketika kepada ayah.


"Aku tidak sejahat itu ayah...." rajuk Reno.


"Jika aku yang melakukannya, Alvi akan mengejarku ayah." Ucap Bagas ngeri.


"Apa maksudmu.?" Ayah terheran menyernyitkan dahinya.


"Ahaha tidak ayah... aku hanya becanda." Ayah mengangguk pelan meskipun masih merasa heran.


"Tapi ayah berterimakasih pada kalian, meskipun kalian sendiri tahu hubungan ayah dengan orang tua kalian yang kurang baik, tapi kalian masih memperlakukan Avril dengan baik, bahkan selalu menjaganya." Ucap ayah tersenyum tulus pada Baren.


"Avril teman kita dari kecil ayah... dan karena dulu ibu Lidia dan ayah selalu memperlakukan kita seperti anak sendiri, jadi aku merasa bahwa ayah bukan seperti apa yang ayahku tuduhkan." Ucap Reno menunduk mengingat betapa kerasnya kedua orang tuanya melarang Reno untuk berhubungan dengan ayah Avril.


Bagas menggaruk kepalanya mengumpulkan energi untuk bertanya.


"Emmm ayah.... seb-sebenarnya apa yang selalu ayah lakukan saat diclub? Aku harap jawabannya tidak sama dengan rumor dan cerita ayah dan ibuku."


Ayah tersenyum lalu duduk disamping Alvi yang terbaring.


"Ayah menemaninya" ayah mengelus kepala Alvi lembut dan menatapnya dengan nanar. "Dia kesepian, dia frustasi, hanya melampiaskan amarah dan kesedihannya disana. Dia anak yang baik, karena sebuah kehilangan, dia hampir kehilangan arah. Dan ayah tak bisa membiarkannya begitu saja." Jelas ayah membuat Reno dan Bagas semakin yakin pada apa yang dipikirkannya.


Avril beranjak perlahan mendekati Alvi, dan dengan hati-hati mengoleskan obat yang diberikan ayah.


"Kenapa tidak ayah saja yang mengobatinya?" Avril menggembungkan pipinya melirik tajam pada ayah.


"Jika nanti kalian sudah menikah, apa harus ayah yang mengurusnya jika dia sakit?" Ejek ayah.


"Cieee nikah cieeeee...." ejek Baren membuat Avril geram karena malu.


"Ayahhhh hentikan... jangan mengejekku terus. Lagipula siapa yang akan menikah dengan Alvi." Avril kembali menggembungkan pipinya.


"Haihhh jangan naif Avril. Katakan saja jika kau mencintai Alvi." Ucap Nadia membuat Avril semakin menunduk malu.


"Aku tidak mencintainya" tegas Avril membuat Nadia tertawa kecil.


"Benarkah? Hemmm berarti harusnya kau tetap dirumah sakit sekarang." Lanjut Reno.


"Ak-aku sudah pegal jika harus diinfus." Ucap Avril kaku memalingkan wajahnya.


"Hemmm benarkah? Bukankah kau cemburu? Jadi kau pulang diam-diam. Dan bukankah kau sendiri yang bilang pulang diam-diam dan sedang berusaha menjauhi Alvi...." ejek Bagas membuat wajah Avril semakin memerah.


"Diam....." geram Avril.


"Mengapa kau berisik sekali sayang." Ucap Alvi pelan membuka matanya sebelah. Avril menoleh dan terdiam menatap Alvi tanpa berkedip.


"Apa aku terlalu tampan saat babak belur?" Avril memukul lengan Alvi dengan wajah kesal.


"Jangan membuatku khawatir..."

__ADS_1


Alvi hanya tersenyum dan mengelus kepala Avril.


-bersambung


__ADS_2