
. Avril hanya termangu. Terdiam menatap Alvi namun tidak mengatakan apa-apa.
Avril keluar dari mobil, dan menyebrang diantara barisan mahasiswa yang lain. Avril menoleh, lalu menatap sejenak pada Mobil yang masih terparkir di sebrang.
"Kenapa jadi mobilku yang dibawa?" Gumam Avril mengusap dahinya dan menggeleng pelan.
Alvi tersenyum menatap Avril yang berlalu berjalan semakin jauh. Kemudian melajukan mobil menuju perusahaan.
Saat tengah berjalan, Aldi menarik tangan Avril membuat Avril tak bisa mengendalikan langkahnya. Kakinya seperti terjerat sebuah tali dan membuatnya terjatuh menimpa Aldian dibawahnya. Tak sedikit dari semua orang disana yang terkejut dan menjerit.
"Kau baik-baik saja?" Aldi menatap Avril yang menatapnya dengan wajah yang memerah.
"Avril?" Panggil Reno lalu meraih Avril dan membantunya berdiri. "Apa yang kau lakukan?" Reno merapikan pakaian Avril yang terlihat kusut dan kotor.
"Aku tak tahu Reno." Lirih Avril.
Aldian bangun dan hendak menghampiri Avril. Dengan sigap Bagas menghalangi Aldi yang melangkah menatap Avril.
"Sebaiknya kau jangan mengganggu Avril lagi Aldi." Tegas Bagas menatap tajam pada Aldi.
"Apa maksudmu Bagas?" Aldi lebih tajam menatap Bagas.
"Apa kau tak sadar dengan di sekelilingmu?" Aldi menoleh ke semua arah. Benar, semua menatap kearahnya. Seolah bertanya 'apa yang terjadi?'
"Ahaa bisakah semuanya bubar? Temanku baik-baik saja." Ucap Reno meyakinkan dengan tertawa kikuk.
Mendengar apa yang Reno ucapkan, semua perlahan kembali berjalan meninggalkan keempat orang itu.
"Bagas. Kau belum menjawab pertanyaanku." Aldi semakin tajam menatap Bagas.
"Aku sudah muak Aldi. Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kau sudah bertunangan, tapi kau masih mengganggu Avril. Apa kau ingin melukai Avril lebih dalam?" Bagas mengacak kasar rambutnya sehingga menjadi berantakan.
"Kau tahu perasaanku pada Avril seperti apa." Bagas menyeringai mendengar apa yang Aldi ucapkan.
"Lalu? Apa maksudnya ini?" Bagas mengangkat tangan Aldi tepat didepan wajahnya. "Cincin yang bagus. Sangat cocok untuk orang yang penuh kejutan sepertimu." Bagas berdecih lalu berbalik menghampiri Reno dan Avril.
"Aku temanmu Bagas. Reno, aku ingin berbicara dengan Avil." Reno dan Bagas menatap Aldi dingin.
"Aku sudah lelah didiamkan tanpa alasan olehnya, jadi kau jangan membuatnya mengulangi hal itu lagi Aldi. Kau yang salah tapi aku dan Bagas ikut terkena imbasnya." Reno berbalik dan merangkul pundak Avril.
"Avil...." Aldi berlari dan menarik kembali tangan Avril. Avril menoleh, menatap sejenak lalu memalingkan kembali wajahnya.
Bagas menggenggam pergelangan tangan Aldi.
"Maaf Aldi. Aku tak mau kehilangan Avrilku lagi." Aldi menatap nanar mata dingin Bagas.
"Kalian benar-benar berubah."
"Kau lah yang merubahku sialan. Jika kau tidak menerima perjodohan itu, aku juga tak mungkin akan mati-matian melarangmu bertemu dengan Avril. Aku tahu kau sangat mencintai Avril, dan kau punya hak sepenuhnya untuk menemuinya dibandingkan aku dan Reno. Tapi tidak untuk sekarang. Kau sendiri yang memilih jalannya, Aldi."
Bagas menghela nafas panjang menahan kesal.
"Sudahlah Bagas. Aku baik-baik saja. Tak perlu sampai seperti itu." Ucap Avril dengan nada datar. Reno menatap gadis disampingnya itu. Berjalan perlahan diikuti Reno di belakangnya.
Bagas masih berdiri berhadapan dengan Aldi.
"Aku mengerti jika kau semarah ini. Tapi,....." Aldi memalingkan wajahnya.
"Apapun alasanmu, sudah jelas itu sangat menghancurkan perasaan Avril. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya, termasuk kau dan Alvian." Tegas Bagas berbalik dan melangkah hendak meninggalkan Aldi.
"Jika aku membatalkan pertunanganku, apa kau dan--"
'Brugh' belum sempat Aldi melanjutkan ucapannya, Bagas dengan keras memukul Aldi tepat di wajahnya. Reno menoleh ketika mendengar Aldi yang menahan nafas seketika. Melihat Di ujung bibir Aldi mengalir darah segar, Reno dengan cepat berlari dan meraih Aldi.
"Apa kau sudah gila? Bagaimanapun dia temanmu." Reno menarik kerah Bagas yang menatap Aldi tajam.
"Apa kau pikir dengan membatalkan pertunanganmu dengannya, semua akan berjalan sesuai hayalanmu? Jika sampai kau melakukan itu, Avril bukan malah menerimamu kembali, tapi dia akan lebih membencimu sialan." Reno melepas tangannya dari Bagas. Menoleh dan menatap Aldi dengan wajah kecewa.
"Apa yang akan kau lakukan Aldi? Jika seperti itu kau bukan saja menyakiti Avril, tapi Syifa juga." Reno beralih mencengkram baju Aldi.
"Hentikan Baren. Kenapa kalian begitu marah? Biar dia melakukan apa yang dia mau. Kau tak punya hak menghalangi keputusannya." Avril menatap sayu pada Reno.
Aldi menatap sorot mata Avril yang benar-benar berbeda. Sorot mata yang sayu, namun sangat dingin.
"Akulah yang merubah mata itu." Gumam Aldi mengepalkan tangannya.
"Maaf... Avil... aku benar-benar minta maaf." Lirih Aldi.
Avril menarik tangan Reno meninggalkan tempat itu.
"Kelas kita sebentar lagi. Jangan sampai terlambat." Ucap Avril terus menarik tangan Reno.
__ADS_1
Bagas mendelik dan menyusul Avril dan Reno yang berjalan dengan cepat.
Dibalik tembok, seseorang yang bersandar dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Memutar cincin di tangannya, lalu melapaskan dan mengusap wajahnya.
Menghela nafas panjang, lalu memasukan cincin itu kedalam tasnya. Melangkah meninggalkan tempat sandarannya.
. "Galih... kudengar Avril akan hadir ke acara pertunangan temannya?" Tanya Nadia yang fokus memilih barang didepannya.
"Bagaimana kau tahu?" Galih melirik pada Nadia yang memegang sebuah aksesoris rambut.
"Ahhh ini sangat cocok untuk Avril kan?"
"Apa sudah kebiasaanmu jika aku bertanya, kau tak pernah langsung menjawab." Galih memalingkan pandangannya.
"Hehehe maaf. Aku terlalu bersemangat jika memilih barang untuk Avril." Ucap Nadia menggandeng tangan Galih.
Pandangan Galih tertuju pada sebuah boneka kucing kecil. Diingatnya dulu Avril sangat menyukai kucing. Karena alerginya, Avril tak bisa memelihara kucing dirumah.
"kau mau beli itu? Hemmm sungguh kakak yang perhatian." Ejek Nadia mengambil salah satunya.
"Jika hanya boneka, tak apa kan?" Tanya Galih melirik Nadia.
"Hahaha jika bulunya dari bulu kucing sungguhan harusnya tidak boleh." Nadia memijit pelipisnya.
"Nadiaaaa...."
"Ahaha baiklah. Maafkan aku tuan." Nadia kembali merangkul lengan Galih.
Setelah membeli apa yang dibutuhkan, Nadia memasuki sebuah butik. Dilihatnya sebuah dress yang sangat cocok untuk Avril.
"Apa dia suka warna biru?" Tanya Nadia menoleh pada Galih.
"Yaaa sepertinya begitu." Galih terlihat berfikir sejenak.
"kalau begitu, aku ingin membelikan ini untuknya." Ucap Nadia sangat antusias.
"Nadia... sudahlah. Kau bilang hari ini kita hanya mencari untuk souvenir. Kenapa kau membeli untuk Avril semua?" Galih menatap kesal Nadia yang tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya.
"Galih. Avril adikku juga. Aku tak punya adik perempuan. Dan entah dorongan apa, aku sangat menyayanginya, dan... dan aku... ingin sekali memanjakannya. Karena setiap bersama dengan Avril, aku menjadi tenang. Dan juga--" Nadia berhenti berbicara saat Galih tiba-tiba memeluknya.
"K-kau menangis?" Nadia mengusap pundak Galih.
"Tidak." Jawab Galih menahan nafas agar tak terdengar terisak.
"Tidak." Galih menghembuskan nafas panjang lalu melepas pelukannya. "Terimakasih Nadia. Bukan hanya aku yang beruntung bersamamu." Nadia tersenyum haru mendengar ucapan Galih.
"Aku juga".
. Avril memperhatikan materi di depannya, namun pikirannya masih menggantung mengingat tadi pagi. Dimana Alvi yang tiba-tiba mencium keningnya. Tanpa sadar Avril tersenyum dan menyentuh dahinya.
Avril melirik ke arah Syifa yang terdiam dan berbeda dari biasanya.
"Aku tak bisa berlama-lama mendiamkannya. Bagaimanapun semuanya terjadi bukan karena kesalahannya." Gumam Avril.
. Avril menulis di sebuah kertas kecil dan diberikan pada Syifa. Syifa terkejut dan menoleh pada Avril disampingnya. Tersenyum dan lalu membacanya.
"Harusnya aku yang meminta maaf." Lirih Syifa. Avril hanya menggeleng lalu kembali fokus pada materinya.
. Bagas menatap Avril yang kembali menerima kehadiran Syifa, tersenyum dengan manis. "Avril.... kau benar-benar aneh" gumam Bagas.
. Di perusahaan D, Ray memasuki ruangan Alvi membawa sebuah kantong belanjaan.
"Jika Avril tidak menyukainya, kupotong gajimu!" Tegas Alvi menatap tajam pada Ray.
"Tuann kau sangat berlebihan." Gumam Ray menanggapi Alvi dengan senyuman.
"Tuan, bukankah acara itu bertepatan dengan acara pertunangan teman tuan?" Tanya Ray
"Aku tidak peduli Ray. Malam ini aku hanya ingin menemani Avril. Apa jadinya Avril yang menghadiri acara temannya sendirian.? Apa gunanya aku sebagai calon suaminya Ray?" Alvi yang menatap Ray dengan wajah layaknya anak SD yang mencoba membujuk ibunya.
"Jika disebut calon suami, itu terlalu berlebihan tuan. Nona Avril saja belum memberi jawaban atas perasaan tuan." Gumam Ray yang lagi-lagi menanggapi Alvi dengan senyuman.
"Setelah acaranya selesai, bagaimana jika tuan langsung melamar nona?" Alvi terkejut dan mentap tajam pada Ray.
"Maaf tuan atas kelancangan saya." Ray menundukan kepalanya.
"Kau sangat pintar Ray. Tidak salah jika aku memilihmu menjadi sekertaris sekaligus asistenku." Ucap Alvi santai.
"Eh?" Ray mendongak menatap Alvi yang tersenyum sendirian.
"Mungkin hanya aku yang tidak di untungkan disini tuan.." gumam Ray menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
. Waktu berputar begitu cepat, Avril dan Syifa berjalan menuju gerbang.
"Kau sudah dijemput yaa?" Tanya Syifa melirik Avril.
"Yaa... Alvi sudah menungguku diluar. Aku harus bergegas." Jawab Avril menatap layar ponselnya.
"Kau akan datang malam ini?" Syifa menatap Avril disampingnya.
"Tentu saja. Famela mengundangku secara langsung. Jadi, aku harus datang." Avril menoleh dan tersenyum pada Syifa.
"Aku akan menyusul jika kau sudah dirumah Famela." Ucap Syifa berhenti di ujung koridor.
Avril berhenti dan menatap Syifa.
"Aku masih ada urusan, kau duluan saja. Kasihan Alvi sudah menunggu lama." Syifa melemparkan senyumnya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu." Ucap Avril melanjutkan langkahnya.
Alvi berdiri disamping mobil.
"Alvi benar-benar memakai mobilku." Gumam Avril menggembungkan pipinya. Avril mengedarkan pandangan, dan mendapati beberapa kumpulan gadis-gadis yang berbisik dan memandang kearah Alvi yang sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa aku kesal." Avril mengepalkan tangannya.
Alvi mendongak dan tersenyum ketika melihat Avril disebrang. Avril dengan kasar memalingkan wajahnya dan masih menggembungkan pipinya. Alvi menyernyitkan dahinya dan mengedarkan pandangan, menatap dingin setiap gadis yang menatapnya. Avril menyebrang dan meraih pintu mobil yang tepat disamping Alvi. Alvi dengan cepat meraih tangan Avril dan Avril menoleh kearahnya.
"Pandanganku hanya tertuju padamu saja." Ucapnya sambil melemparkan senyuman membuat gadis yang ditatap dingin olehnya merasa iri.
Avril menunduk membiarkan Alvi membukakan pintu untuknya. Lalu masuk dan terdiam.
Alvi melajukan mobilnya sedikit cepat dan menepi disebuah hotel.
"Apa yang akan kau lakukan? Dasar mesum." Avril menyilangkan tangannya didepan dadanya sampai leher. Alvi hanya menyernyitkan dahinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Alvi menyentil dahi Avril. "Aku membawamu kesini bukan untuk macam-macam. Bukankah kau akan menghadiri acara? Dan apa kau akan memakai pakaian seperti ini?" Avril termangu dan berfikir sejenak. Alvi memberikan sebuah kantong yang tadi dibawa oleh Ray.
"Mandi dan pakailah ini. Dan aku akan menunggumu di loby." Alvi keluar dan menggandeng tangan Avril.
Avril menerima kunci yang diberikan resepsionist dan sedikit berlari menaiki anak tangga.
. Avril begitu terkejut, bagaimana bisa Alvi memilihkan dress yang pas untuknya. Dari model sampai warnanya pun Avril sangat menyukainya. Dan disana terdapat heals yang tak terlalu tinggi. Karena memang Avril tak menyukai heals yang tinggi.
Avril mandi dan berganti pakaian, lalu kembali menemui Alvi.
Alvi termangu melihat Avril yang benar-benar anggun.
"Kedipkan matamu tuan." Ejek Avril mendelik lalu duduk disampingnya.
Alvi melirik dan melepas ikat rambut Avril.
"Kau lebih manis saat rambutmu terurai" ucap Alvi tersenyum dan memasukan ikat rambut Avril ke saku jasnya. Avril baru menyadari bahwa warna dress nya senada dengan yang Alvi kenakan. Ya.. warna cream muda yang menambah manis aura mereka.
"Karena masih banyak waktu, apa yang harus kita lakukan sebelum menghadiri acara temanmu?" Alvi mendekatkan wajahnya pada Avril.
"Eh?" Avril menyernyitkan dahinya.
Alvi tersenyum lalu menarik tangan Avril kembali ke mobil dan membawa Avril ke sebuah salon.
"Padahal aku tak berfikir akan memakai make up malam ini. Cukup dengan dress saja, aku sudah merasa lebih baik." Gumam Avril menatap Alvi yang duduk di sebuah sofa dan fokus pada ponselnya.
. Avril berjalan kehadapan Alvi setelah selesai di make up. Alvi mendongak dan mendapati Avril yang benar-benar berbeda dimatanya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya nona?" Tanya Alvi menatap kagum pada Avril.
Avril menepuk pipi Alvi pelan. "Jangan becanda Alvi... jangan berlebihan sampai kau tidak mengenaliku." Avril menggembungkan pipinya.
Alvi beranjak dari duduknya lalu berbisik pada Avril.
"Jika kau bertingkah seperti itu, jangan salahkan aku jika aku menciummu disini sekarang." Avri lalu menutup wajahnya setelah mendengar bisikan Alvi.
"Alvi.... jangan becanda..... aku lapar..." Alvi terkekeh mendengar Avril yang begitu jujur didepannya.
"Baiklah... kita makan dulu." Alvi bertransaksi sebelum pergi meninggalkan salon.
. Disebuah restaurant, keduanya memesan makanan.
"Seperti sedang kencan ya?." Alvi menatap Avril dengan tangan di dagunya. Avril melakukan hal yang sama dan tersenyum. "Memang sedang kencan" Alvi tersentak dan menatap tak percaya pada Avril.
"Benarkah? Kau menerimaku?" Alvi meraih tangan Avril dan menatap harap pada Avril.
"Becanda...." Avril tertawa kecil, merasa bahagia karena sudah menjahili Alvi. Alvi kemudian menatap serius pada Avril.
__ADS_1
"Aku serius Avril. Apa selama ini kau selalu menganggapku main-main?" Avril menatap lekat wajah Alvi yang menatapnya seakan meyakinkan keseriusannya.
-bersambung.